Movie Synopsis:
Dalam sebuah dunia yang sedang dihantam oleh wabah infeksi virus ganas, yang mengubah korbannya menjadi makhluk menyeramkan, Alice melanjutrkan petualangannya untuk mencari orang yang selamat dan membimbingnya ke tempat aman. Pertarungan mautnya melawan Umbrella Corporation mencapai babak baru, namun Alice mendapat bantuan tak terduga dari seorang teman lama. Ia mengatakan tentang adanya tempat yang aman dari serbuan makhluk-makhluk ganas itu di Los Angeles, namuns aat tiba di sana, justru para musuh tersebut telah menanti dan siap mengirim Alice dan teman-temannya menuju maut.
Saya tidak habis pikir mengapa Resident Evil harus dibuat sampai episode keempatnya? Menurut saya, satu sebetulnya sudah cukup menjelaskan petualangan Alice.menghadapi invasi virus-virus yang mengubah manusia menjadi zombie itu. Maksimal dua deh tetapi ini lanjut terus. Demi keuntungan semata? Sepertinya begitu. Hal tersebut hanyalah menghancurkan image yang sudah dibangun sejak awal.
Ya lagi-lagi Alice harus menelusuri masa lalunya untuk kesekian kali dan membuatnya berhadapan dengan zombie-zombie mematikan itu, belum lagi mantan bosnya yang masih menyimpan dendam dan berbagai macam senjata rahasia untuk melenyapkan Alice. Namun bukan Alice namanya jika dapat disingkirkan begitu saja. Sekali lagi (berkali-kali tepatnya) Alice mampu mengatasi semua tantangan itu dengan kreatif, mulai dari mengkloning dirinya hingga menggunakan senjata yang lebih mutakhir untuk ofensifnya.
Hanya itulah yang disuguhkan dalam Afterlife. Membosankan dan membuat saya terkantuk-kantuk mengikutinya terutama paruh pertama film yang sedikit absurd itu. Memang nyaris tidak ada yang baru karena kita sudah tiga kali menyaksikan hal serupa sebelumnya. Yang membedakan hanyalah konsep 3D yang dibebatkan pada film ini sehingga beberapa scene dengan stop motion akan cukup memanjakan anda. Selebihnya? Milla Jovovich rasanya masih dengan cool membawakan tokoh Alice. Semoga ia sendiri sadar untuk tidak melanjutkan sekuel ini semata-mata hanya karena bayuran saja.
Dipenuhi oleh berbagai special effect yang dilakukan untuk mencapai perolehan terbaik dari teknologi 3D yang diterapkan sutradara Paul W. S. Anderson selama proses pengambilan gambar, Resident Evil: Afterlife tetap saja tidak mampu menyembunyikan fakta bahwa naskah film ini memiliki banyak kekurangan yang membuatnya berjalan datar, cenderung membosankan pada beberapa bagian dan sama sekali tidak berkesan. Pujian khusus diberikan atas komitmen Anderson untuk menggunakan teknologi 3D secara sebenarnya, dan bukan melalui konversi seperti yang banyak dilakukan oleh sutradara lain. Selebihnya, Resident Evil: Afterlife hanyalah sebuah film yang dibuat untuk para penggemar serial ini. Tidak menawarkan lebih dari itu.
Milla Jovovich adalah satu-satunya alasan untuk menonton film ini, oh ya 3D-nya keren
More boring than watching water boils.....
bagus kok......gak ketiduran saya di bioskop...jadi saya anggap film ini layak untuk di tonton bagi kamu pria...kalo wanita sepertinya gak suka deh....tapi yah tonton aja deh... :)
Begitu banyak film yang saya tertarik untuk nonton dibioskop oleh karena kesibukan saya di 2 minggu terakhir berpergian, saya memutuskan untuk menonton satu film satu hari di bioskop sampai film2 yang saya miss, smua bisa saya tonton di bioskop karena terus terang, di tanah air kita ini, menonton di bioskop sangatlah murah bila dibandingkan dengan negara lain.
Setelah kemarin dengan film legend of the guardian, hari ini saya menonton film sequel Resident Evil yang kali ini kembalinya sang sutradara original nya dan tentu saja suami dari aktris Milla Jovovich (saya sangat senang dengan kesetiaan pemain ini untuk terus membintangi resident evil saga ini). Kali ini dengan tentu saja versi 3d juga tersedia untuk memanjakan mata anda.
Dikisahkan berlanjut dari sequel sebelomnya, Alice yang 'slalu' masih survived di dunia dimana manusia sudah makin punah hari demi hari sedangkan zombie yang makin hari makin lapar dan membanyak. Dalam segi cerita, saya rasa tidak ada yang special dan cukup anda saja yang menontonnya. Dalam segi kualitas, tentu saja ini cukup baik mengingat sutradara original yang kembali berturun tangan, ditambah pemain dari sequel sebelomnya selain Milla Jovovich, Ali Larter kembali bermain disini namun tetaplah saya lihat hanyalah sebagai pemain pembantu saja, penambahan pemain yang dikenal sebagai jagoan dari prison break juga bermain disini namun tetaplah hanyalah sebagai pemanis dan pendamping Alice (Jovovich) yang karakternya dari awal seri sangat kuat.
Speciality yang juga tersedia selain efek 3d yang ditampilkan, action2 ditampilkan meskipun kelihatan sudah sering kali kita lihat dari film2 berbau action yang keren, agak bullshit dan bermodalkan Alice bermain dengan pistolnya, tetaplah menarik, ada adegan dimana Alice bertarung melawan banyak zombie yang saya berkata dalam hati, 'this is awesome', belom lagi ada karakter2 yang baru seperti manusia besar bertopeng karung yang tidak jelas entah dari mana namun ini menjadi suatu tambahan hiburan yang menyenangkan. Bila anda seseorang yang mencari film action yang tidak memikirkan logika, pure action in bullshit way, ini saya rekomendasikan untuk anda, sejujurnya, Milla Jovovich menampilkan performa yang paling kuat dibandingkan dengan seri sebelomnya dan tentu saja lebih cantik dan cool.
Buang jauh2 pikiran logika anda, just watch and enjoy the show, u might ended up to love this movie...,mr Paul Anderson....bring on another sequel, with many more zombies and umbrella people!
Alice kembali!!…bukan di dunia ajaib bernama wonderland tapi masih di bumi dan masih dengan para zombie. “Resident Evil: Afterlife”, menambah satu seri lagi dalam daftar franchise adaptasi game survival-horror yang dimulai tahun 2002 ini. Bukan suatu kejutan jika pada akhirnya franchise ini akan berlanjut ke film ke-4 tahun ini, bermodal kepercayaan diri karena kesuksesan secara komersil—dengan bujet dibawah $50 juta, film-film “Resident Evil” selalu mencuri perhatian penonton dan meraih untung berlipat ganda—tentu saja zombie-zombie ini akan kembali tergiur wangi uang, walau mendapat kritikan pedas dari para kritikus dan pecinta game-nya. Lalu, selain Alice siapa lagi yang “lolos” dari kejaran mayat hidup dan kembali untuk “survive” di film terbaru? ternyata Paul W. S. Anderson juga kembali turun tangan menyutradarai film yang dimulainya 8 tahun yang lalu. Dia memang tidak duduk di kursi panas sutradara di 2 sekuel berikutnya namun tetap menulis naskahnya merangkap sebagai produser. Jadi apakah dengan nasib Alice dan kawan-kawannya berada di tangan Mr. Anderson (lengkap dengan cara bicara agent Smith di The Matrix), film ini akan jauh lebih baik dari pendahulu-pendahulunya?
Alice diceritakan sudah mengetahui bahwa dirinya dikloning oleh perusahaan Umbrella, musuh bebuyutannya. Dipicu oleh balas dendam, dia pun memanfaatkan saudara-saudara se-DNA-nya untuk ikut bergabung menyerang markas perusahaan berlogo payung merah ini. Alice disini akan mengingatkan kita dengan “Neo”, superior, tak terkalahkan, punya kekuatan super dan ditambah dia juga punya pasukan kloning yang akan membuat agent Smith cemburu. Namun usaha Alice menghabisi perusahaan pencipta T-virus ini tidak sesuai rencana, semua kloningnya terbunuh dan Alice sendiri kehilangan kekuatannya. Sepertinya Anderson belajar dari kesalahannya di Resident Evil: Extinction, menciptakan Alice layaknya superhero ketimbang fokus pada heroine yang berjuang dengan kekuatan manusia biasa. Setelah menjadi normal, Alice terbang dengan pesawatnya menuju tempat bernama Arcadia di Alaska, satu-satunya kota yang dipercaya tidak terjangkit virus. Tapi yang ditemukan oleh Alice hanya pantai kosong tak bertuan, dia justru bertemu dengan teman lamanya dari film sebelumnya Claire Redfield (Ali Larter) yang amnesia. Bersama dengan Claire, mereka terbang menuju Los Angeles, disana mereka menemukan orang-orang yg selamat dan juga ribuan zombie…serta makhluk besar bernama Axeman.
Mr. Anderson (lagi-lagi dengan gaya bicara agent Smith :p) benar-benar memanfaatkan dengan baik “Resident Evil: Afterlife” untuk menumpahkan semua egonya, termasuk mengemasnya dalam bentuk 3D, bukan konversi seperti film-film 3D kebanyakan tapi memanfaatkan teknologi yang dikembangkan oleh sutradara favoritnya, James Cameron, lewat Fusion Camera System (teknologi yang sama yang digunakan Avatar). Tapi ketika Anderson terlalu sibuk mempersiapkan filmnya untuk tampil maksimal dengan kacamata 3-D, hasilnya adalah film ini justru terlihat berlebihan, plotnya terlupakan dan bergantung pada ceritanya yang pintar berbicara lewat adegan action. Dari sekian banyak adegan-adegan aksi yang ditawarkan pun, tidak semua dikemas dengan intensitas hiburan yang maksimal, kadarnya ringan hanya untuk bersorak-sorai sejenak (seperti pemandu sorak yang kelelahan). Anderson hanya cukup menambahkan adegan-adegan action yang sudah kadaluarsa, klise, lalu mendaur-ulangnya dan me-make-overnya sedikit untuk terlihat seperti baru. Formula “basi”nya pun diracik dengan slow motion yang berlebihan.
Adegan-adegan action yang banyak meniru apa yang sudah dilakukan trilogi The Matrix ini memang tidak dipungkiri mampu memukau mata tapi nol besar dalam misi utamanya mengajak adrenalin saya untuk berdecak kagum, kegirangan berlari dari kejaran zombie. Plotnya mudah-ditebak-membosankan-datar-tak-karuan, ditambah dengan barisan adegan gerak lambat yang berlebihan, film ini mengerti sekali untuk membuat saya diam dan sesekali menghela nafas tanda bahwa film ini mulai membawa saya ke titik bosan. Film ini seperti mengajak kita menaiki roller coaster yang tidak pernah berhasil menanjak ke puncak, apalagi mengajak kita terjun bebas dari ketinggian. Momen-momen survival-nya pun hanya sanggup mengajak saya sebentar untuk merasakan “girang” lewat beberapa adegan pertempuran dengan zombie dan monster besar bernama Axeman, tapi sekali lagi gagal untuk mengajak saya untuk sampai ke titik klimaks. Apalagi Anderson senang sekali menyelipkan adegan percakapan dan konflik tidak penting yang parahnya sengaja untuk dipanjang-panjangkankan untuk menghabiskan durasi.
“Resident Evil: Afterlife” yang anehnya seperti film ke-empat The Matrix di awal, makin terlihat seperti film yang berdiri sendiri apalagi ketika Anderson tampaknya lupa dengan apa yang di tuliskannya di film ketiga. Jika pada film ketiga diceritakan T-virus sudah menyebar ke seluruh belahan dunia dan merubah wajah bumi yang biru menjadi gersang, air sungai kering lalu daratan ditutupi oleh padang pasir. Di film ini, lucunya bumi masih hijau, pohon-pohon masih hidup seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan kota Los Angeles, belum tertimbun padang pasir dan justru tampak seperti baru saja terjadi zombie outbreak dengan gedung-gedung yang masih terbakar. Nilai plus disini untuk Anderson dan semua orang dibalik layar yang sanggup menghadirkan dunia post-apocalyptic yang benar-benar memperlihatkan kehancuran total. Walau meng-anaktirikan zombie dengan menjadikan mereka sepasukan figuran tetapi saya mengacungkan jempol dengan kemunculan adanya Axeman (The Executioner), monster yang satu ini cukup didesain menakutkan ketika filmnya sendiri tidak menakutkan sama sekali. Anderson telah berhasil menciptakan virus yang lebih mematikan daripada T-virus sendiri, yaitu virus bosan, menginfeksi 90 menit durasinya tanpa menawarkan sedikitpun obat penawar.
Saya tidak habis pikir mengapa Resident Evil harus dibuat sampai episode keempatnya? Menurut saya, satu sebetulnya sudah cukup menjelaskan petualangan Alice.menghadapi invasi virus-virus yang mengubah manusia menjadi zombie itu. Maksimal dua deh tetapi ini lanjut terus. Demi keuntungan semata? Sepertinya begitu. Hal tersebut hanyalah menghancurkan image yang sudah dibangun sejak awal.
Ya lagi-lagi Alice harus menelusuri masa lalunya untuk kesekian kali dan membuatnya berhadapan dengan zombie-zombie mematikan itu, belum lagi mantan bosnya yang masih menyimpan dendam dan berbagai macam senjata rahasia untuk melenyapkan Alice. Namun bukan Alice namanya jika dapat disingkirkan begitu saja. Sekali lagi (berkali-kali tepatnya) Alice mampu mengatasi semua tantangan itu dengan kreatif, mulai dari mengkloning dirinya hingga menggunakan senjata yang lebih mutakhir untuk ofensifnya.
Hanya itulah yang disuguhkan dalam Afterlife. Membosankan dan membuat saya terkantuk-kantuk mengikutinya terutama paruh pertama film yang sedikit absurd itu. Memang nyaris tidak ada yang baru karena kita sudah tiga kali menyaksikan hal serupa sebelumnya. Yang membedakan hanyalah konsep 3D yang dibebatkan pada film ini sehingga beberapa scene dengan stop motion akan cukup memanjakan anda. Selebihnya? Milla Jovovich rasanya masih dengan cool membawakan tokoh Alice. Semoga ia sendiri sadar untuk tidak melanjutkan sekuel ini semata-mata hanya karena bayuran saja.
Dipenuhi oleh berbagai special effect yang dilakukan untuk mencapai perolehan terbaik dari teknologi 3D yang diterapkan sutradara Paul W. S. Anderson selama proses pengambilan gambar, Resident Evil: Afterlife tetap saja tidak mampu menyembunyikan fakta bahwa naskah film ini memiliki banyak kekurangan yang membuatnya berjalan datar, cenderung membosankan pada beberapa bagian dan sama sekali tidak berkesan. Pujian khusus diberikan atas komitmen Anderson untuk menggunakan teknologi 3D secara sebenarnya, dan bukan melalui konversi seperti yang banyak dilakukan oleh sutradara lain. Selebihnya, Resident Evil: Afterlife hanyalah sebuah film yang dibuat untuk para penggemar serial ini. Tidak menawarkan lebih dari itu.
Milla Jovovich adalah satu-satunya alasan untuk menonton film ini, oh ya 3D-nya keren
More boring than watching water boils.....
bagus kok......gak ketiduran saya di bioskop...jadi saya anggap film ini layak untuk di tonton bagi kamu pria...kalo wanita sepertinya gak suka deh....tapi yah tonton aja deh... :)
RATE THIS MOVIE