Setelah delapan tahun berlalu sejak kemunculan film Arisan! (2003), penonton Indonesia dapat menikmati sequelnya yaitu Arisan! 2 yang mulai 1 Desember 2011. Kehidupan sahabat-sahabat Sakti (Tora Sudiro), Meimei (Cut Mini), Andien (Aida Nurmala) berlanjut. Bahkan, Lita (Rachel Maryam), sepupu Sakti dari Medan yang pernah dijodohkan keluarganya dengan Sakti, kini sudah menetap di Jakarta. Nino (Surya Saputra) kekasih Sakti pun sudah menjadi bagian dari kehidupan para sahabat ini
Perubahan penting tak terhindarkan, seperti kematian suami Andien, perceraian Meimei, penolakan Lita terhadap institusi perkawinan, walaupun dirinya memilih untuk membesarkan anak yang dikandungnya. Sampai pada stagnansi hubungan sesama jenis Sakti dan Nino yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk berpisah dulu
Kemunculan dokter Joy (Sarah Sechan), ahli bedah plastik dengan financier nya Ara (Atiqah Hasiholan), menjadi obat bagi ibu-ibu Arisan Jakarta. Bahkan penulis yang dulu suka mengkritisi ibu-ibu ini, Yayuk Asmara (Ria Irawan) sekarang berubah haluan, justru mengeruk keuntungan dengan menulis biografi mereka. Kemunculan Octa (Rio Dewanto), sebagai pria muda tampan juga meramaikan 'social scene' Jakarta
Sampai suatu titik, Sakti, Andien, Lita dan Nino, dihadapkan pada kenyataan bahwa Meimei menutupi kanker yang menggerogoti dirinya, ia tidak sekedar berlibur di pulau. Lalu... berkumpullah mereka, untuk mengatur strategi mendatangi Meimei dan membongkar rahasianya. Namun, along the way... rahasia-rahasia lain ternyata ikut terbongkar... dan mereka harus menentukan pilihan
Sex 'n the city versi Indonesia. lucu, gaul dan nakal. sebuah tontonan yang sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan. sequel yang tidak mengecewakan dan pantas ditunggu. satu lagi karya Nia Dinata yang patut dipuji. namun saya punya sedikit kritik. naskah film ini terlalu banyak menampilkan adegan gay dan lesbi yang terlalu vulgar. terutama adegan komedi yang dilakukan Tora Sudiro dan Pong Harjatmo diranjang, yang kendati lucu namun terlihat memalukan. ditambah dengan kedok yang terbuka diseperempat akhir film yang menampilkan suasana lesbi Sarah Sechan dan Atikah Hasiholan. membuat kita merasa berada dan berputar2 diantara kaum gay dan lesbi. sedikit mengejutkan namun cukup bagus. celetukan penuh komedi Rachel Maryam cukup membuat penonton rileks dengan semua masalah serius yang ada difilm ini. penampilan Aida Nurmala membuat film ini tambah gorgeus dan gaya banci Rio Dewanto patut dipuji. yang terakhir, Cut Mini selalu bermain bagus di semua film-filmnya. termasuk di film ini. ia berhasil menampilkan akting wanita penyakitan yang tegar namun tetap terlihat rapuh.
[Warning: May content spoilers] Buat saya “Arisan! 2” is a much needed slap in the face (tamparan realitas di wajah yang sangat diperlukan). Film ini lebih dari sekedar sebuah film yang menghibur, ia mengandung potret nyata kehidupan ibukota yang lengkap dengan berbagai jenis dilema dan masalah pribadi maupun tekanan sosial yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta.
Di film ini, sekelompok sahabat kembali dipertemukan setelah 8 tahun lewat. Banyak hal sudah berubah; pernikahan yang berakhir, putusnya hubungan cinta, lahirnya anak tanpa kejelasan siapa ayahnya, dan tentu saja kematian seorang pemberi nafkah. Semua ini, mau tak mau harus dialami oleh mereka, dan bisa saja dialami oleh kita semua yang ada di kehidupan nyata.
Cara-cara seperti apa yang mereka lakukan untuk menghadapi pahitnya dunia inilah yang menjadikan “Arisan! 2” sebuah tontonan menarik dan sekaligus pembelajaran serta refleksi diri mengenai apa yang kira-kira bisa dilakukan jika *amit-amit* kita yang ada di posisi mereka.
Dibalut dalam sebuah komedi drama, Nia Dinata menjabarkan masalah-masalah tersebut dengan sangat detil hingga ke akar-akarnya. Lihat saja masalah Nino (Surya Saputra) dan Sakti (Tora Sudiro) yang dulu susah payah jadian, entah kenapa kini sudah pisah. Sakti akhirnya dipiara om-om dan Nino sendiri miara brondong berumur 21 tahun. Meski konteks yang dijelaskan adalah percintaan antara pria dengan pria, tak ayal kita pun bakal membandingkan gambaran ini dengan keadaan psikososial pria-wanita yang juga mengenal adanya sebutan ‘Ayam’ (wanita muda piaraan om-om), Oom-Oom senang (yang miara ‘ayam’), tante-tante girang (yang miara brondong), dst.
Ada pula masalah Lita (Rachel Maryam) yang harus menjadi seorang ibu rumah tanggal tunggal alias single parent dan mengurusi anaknya Talu. Tanpa mau menyebutkan siapa ayah biologisnya kepada siapapun, termasuk keluarga dan sahabat dekatnya, Lita tetap tegar menghadapi masalah yang diakibatkan oleh pilihannya untuk membesarkan anak tanpa adanya ikatan pernikahan tersebut.
Selain mereka, si bintang utama Andien (Aida Nurmala) juga harus melawan efek buruk penuaan kulit terhadap kecantikannya (sehingga harus melakukan prosedur eye-lift yang terlihat menyakitkan sekali), mengurusi dua anak perempuannya yang masih remaja, dan menjaga agar dirinya tetap eksis di kalangan socialite meski kini tak lagi punya duit sebanyak ketika suaminya masih hidup. Coret embel-embel socialite dari cerita ini dan saya berani bertaruh banyak perempuan yang merasa senasib dengan Andien. Entah itu karena merasa tak berdaya melawan masalah penuaan, ataupun kesulitan mengurusi anak tanpa kehadiran ayah mereka.
Yang terakhir tentunya kisah Meimei (Cut Mini) yang berusaha untuk tetap tegar dan aktif meski mengidap penyakit kanker dan hanya punya waktu beberapa bulan lagi saja untuk bisa hidup dan menikmati hangatnya pelukan Talu dan sahabat-sahabatnya. Dalam waktu yang sangat singkat itu, Meimei terus melakukan berbagai kegiatan positif dan melakukan apa yang bisa dilakukan untuk memperpanjang masa kadaluarsanya di dunia ini lewat pengobatan alternatif dan terapi true happiness dengan tinggal di sebuah pulau.
Sungguh, siapapun yang menyempatkan diri untuk menonton film ini, pasti bakal keluar dari bioskop dengan penghargaan baru terhadap hidup. Dengan melihat refleksi yang ditawarkan oleh “Arisan! 2” kita bisa tahu posisi diri kita ada di mana, dan apa yang bisa kita lakukan dengan posisi tersebut. Kalaupun tidak, setidaknya kita bisa menikmati kelucuan-kelucuan sarkastik yang ditampilkan oleh para pemeran di “Arisan! 2”.
Oh ya, salut untuk Sarah Sechan yang berhasil mencuri semua scene yang menampilkan karakter Dokter Joy yang diperankannya. Selain lucu, Dokter Joy juga memberikan komentar-komentar sinis yang dijamin bakal membuat penonton tertawa geli.
Pelajaran yang saya dapat dari film ini: Life life to the fullest, karena kita tak akan pernah tahu kapan kita dipanggil sang pencipta.
Terima kasih Nia Dinata, karena sudah menyajikan sebuah tontonan yang tidak hanya menghibur, tapi juga mendidik. (@veryluckylady88)
[Warning: May content spoilers] Buat saya “Arisan! 2” is a much needed slap in the face (tamparan realitas di wajah yang sangat diperlukan). Film ini lebih dari sekedar sebuah film yang menghibur, ia mengandung potret nyata kehidupan ibukota yang lengkap dengan berbagai jenis dilema dan masalah pribadi maupun tekanan sosial yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta.
Di film ini, sekelompok sahabat kembali dipertemukan setelah 8 tahun lewat. Banyak hal sudah berubah; pernikahan yang berakhir, putusnya hubungan cinta, lahirnya anak tanpa kejelasan siapa ayahnya, dan tentu saja kematian seorang pemberi nafkah. Semua ini, mau tak mau harus dialami oleh mereka, dan bisa saja dialami oleh kita semua yang ada di kehidupan nyata.
Cara-cara seperti apa yang mereka lakukan untuk menghadapi pahitnya dunia inilah yang menjadikan “Arisan! 2” sebuah tontonan menarik dan sekaligus pembelajaran serta refleksi diri mengenai apa yang kira-kira bisa dilakukan jika *amit-amit* kita yang ada di posisi mereka.
Dibalut dalam sebuah komedi drama, Nia Dinata menjabarkan masalah-masalah tersebut dengan sangat detil hingga ke akar-akarnya. Lihat saja masalah Nino (Surya Saputra) dan Sakti (Tora Sudiro) yang dulu susah payah jadian, entah kenapa kini sudah pisah. Sakti akhirnya dipiara om-om dan Nino sendiri miara brondong berumur 21 tahun. Meski konteks yang dijelaskan adalah percintaan antara pria dengan pria, tak ayal kita pun bakal membandingkan gambaran ini dengan keadaan psikososial pria-wanita yang juga mengenal adanya sebutan ‘Ayam’ (wanita muda piaraan om-om), Oom-Oom senang (yang miara ‘ayam’), tante-tante girang (yang miara brondong), dst.
Ada pula masalah Lita (Rachel Maryam) yang harus menjadi seorang ibu rumah tanggal tunggal alias single parent dan mengurusi anaknya Talu. Tanpa mau menyebutkan siapa ayah biologisnya kepada siapapun, termasuk keluarga dan sahabat dekatnya, Lita tetap tegar menghadapi masalah yang diakibatkan oleh pilihannya untuk membesarkan anak tanpa adanya ikatan pernikahan tersebut.
Selain mereka, si bintang utama Andien (Aida Nurmala) juga harus melawan efek buruk penuaan kulit terhadap kecantikannya (sehingga harus melakukan prosedur eye-lift yang terlihat menyakitkan sekali), mengurusi dua anak perempuannya yang masih remaja, dan menjaga agar dirinya tetap eksis di kalangan socialite meski kini tak lagi punya duit sebanyak ketika suaminya masih hidup. Coret embel-embel socialite dari cerita ini dan saya berani bertaruh banyak perempuan yang merasa senasib dengan Andien. Entah itu karena merasa tak berdaya melawan masalah penuaan, ataupun kesulitan mengurusi anak tanpa kehadiran ayah mereka.
Yang terakhir tentunya kisah Meimei (Cut Mini) yang berusaha untuk tetap tegar dan aktif meski mengidap penyakit kanker dan hanya punya waktu beberapa bulan lagi saja untuk bisa hidup dan menikmati hangatnya pelukan Talu dan sahabat-sahabatnya. Dalam waktu yang sangat singkat itu, Meimei terus melakukan berbagai kegiatan positif dan melakukan apa yang bisa dilakukan untuk memperpanjang masa kadaluarsanya di dunia ini lewat pengobatan alternatif dan terapi true happiness dengan tinggal di sebuah pulau.
Sungguh, siapapun yang menyempatkan diri untuk menonton film ini, pasti bakal keluar dari bioskop dengan penghargaan baru terhadap hidup. Dengan melihat refleksi yang ditawarkan oleh “Arisan! 2” kita bisa tahu posisi diri kita ada di mana, dan apa yang bisa kita lakukan dengan posisi tersebut. Kalaupun tidak, setidaknya kita bisa menikmati kelucuan-kelucuan sarkastik yang ditampilkan oleh para pemeran di “Arisan! 2”.
Oh ya, salut untuk Sarah Sechan yang berhasil mencuri semua scene yang menampilkan karakter Dokter Joy yang diperankannya. Selain lucu, Dokter Joy juga memberikan komentar-komentar sinis yang dijamin bakal membuat penonton tertawa geli.
Pelajaran yang saya dapat dari film ini: Life life to the fullest, karena kita tak akan pernah tahu kapan kita dipanggil sang pencipta.
Terima kasih Nia Dinata, karena sudah menyajikan sebuah tontonan yang tidak hanya menghibur, tapi juga mendidik. (@veryluckylady88)
Sex 'n the city versi Indonesia. lucu, gaul dan nakal. sebuah tontonan yang sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan. sequel yang tidak mengecewakan dan pantas ditunggu. satu lagi karya Nia Dinata yang patut dipuji. namun saya punya sedikit kritik. naskah film ini terlalu banyak menampilkan adegan gay dan lesbi yang terlalu vulgar. terutama adegan komedi yang dilakukan Tora Sudiro dan Pong Harjatmo diranjang, yang kendati lucu namun terlihat memalukan. ditambah dengan kedok yang terbuka diseperempat akhir film yang menampilkan suasana lesbi Sarah Sechan dan Atikah Hasiholan. membuat kita merasa berada dan berputar2 diantara kaum gay dan lesbi. sedikit mengejutkan namun cukup bagus. celetukan penuh komedi Rachel Maryam cukup membuat penonton rileks dengan semua masalah serius yang ada difilm ini. penampilan Aida Nurmala membuat film ini tambah gorgeus dan gaya banci Rio Dewanto patut dipuji. yang terakhir, Cut Mini selalu bermain bagus di semua film-filmnya. termasuk di film ini. ia berhasil menampilkan akting wanita penyakitan yang tegar namun tetap terlihat rapuh.
[Warning: May content spoilers] Buat saya “Arisan! 2” is a much needed slap in the face (tamparan realitas di wajah yang sangat diperlukan). Film ini lebih dari sekedar sebuah film yang menghibur, ia mengandung potret nyata kehidupan ibukota yang lengkap dengan berbagai jenis dilema dan masalah pribadi maupun tekanan sosial yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta.
Di film ini, sekelompok sahabat kembali dipertemukan setelah 8 tahun lewat. Banyak hal sudah berubah; pernikahan yang berakhir, putusnya hubungan cinta, lahirnya anak tanpa kejelasan siapa ayahnya, dan tentu saja kematian seorang pemberi nafkah. Semua ini, mau tak mau harus dialami oleh mereka, dan bisa saja dialami oleh kita semua yang ada di kehidupan nyata.
Cara-cara seperti apa yang mereka lakukan untuk menghadapi pahitnya dunia inilah yang menjadikan “Arisan! 2” sebuah tontonan menarik dan sekaligus pembelajaran serta refleksi diri mengenai apa yang kira-kira bisa dilakukan jika *amit-amit* kita yang ada di posisi mereka.
Dibalut dalam sebuah komedi drama, Nia Dinata menjabarkan masalah-masalah tersebut dengan sangat detil hingga ke akar-akarnya. Lihat saja masalah Nino (Surya Saputra) dan Sakti (Tora Sudiro) yang dulu susah payah jadian, entah kenapa kini sudah pisah. Sakti akhirnya dipiara om-om dan Nino sendiri miara brondong berumur 21 tahun. Meski konteks yang dijelaskan adalah percintaan antara pria dengan pria, tak ayal kita pun bakal membandingkan gambaran ini dengan keadaan psikososial pria-wanita yang juga mengenal adanya sebutan ‘Ayam’ (wanita muda piaraan om-om), Oom-Oom senang (yang miara ‘ayam’), tante-tante girang (yang miara brondong), dst.
Ada pula masalah Lita (Rachel Maryam) yang harus menjadi seorang ibu rumah tanggal tunggal alias single parent dan mengurusi anaknya Talu. Tanpa mau menyebutkan siapa ayah biologisnya kepada siapapun, termasuk keluarga dan sahabat dekatnya, Lita tetap tegar menghadapi masalah yang diakibatkan oleh pilihannya untuk membesarkan anak tanpa adanya ikatan pernikahan tersebut.
Selain mereka, si bintang utama Andien (Aida Nurmala) juga harus melawan efek buruk penuaan kulit terhadap kecantikannya (sehingga harus melakukan prosedur eye-lift yang terlihat menyakitkan sekali), mengurusi dua anak perempuannya yang masih remaja, dan menjaga agar dirinya tetap eksis di kalangan socialite meski kini tak lagi punya duit sebanyak ketika suaminya masih hidup. Coret embel-embel socialite dari cerita ini dan saya berani bertaruh banyak perempuan yang merasa senasib dengan Andien. Entah itu karena merasa tak berdaya melawan masalah penuaan, ataupun kesulitan mengurusi anak tanpa kehadiran ayah mereka.
Yang terakhir tentunya kisah Meimei (Cut Mini) yang berusaha untuk tetap tegar dan aktif meski mengidap penyakit kanker dan hanya punya waktu beberapa bulan lagi saja untuk bisa hidup dan menikmati hangatnya pelukan Talu dan sahabat-sahabatnya. Dalam waktu yang sangat singkat itu, Meimei terus melakukan berbagai kegiatan positif dan melakukan apa yang bisa dilakukan untuk memperpanjang masa kadaluarsanya di dunia ini lewat pengobatan alternatif dan terapi true happiness dengan tinggal di sebuah pulau.
Sungguh, siapapun yang menyempatkan diri untuk menonton film ini, pasti bakal keluar dari bioskop dengan penghargaan baru terhadap hidup. Dengan melihat refleksi yang ditawarkan oleh “Arisan! 2” kita bisa tahu posisi diri kita ada di mana, dan apa yang bisa kita lakukan dengan posisi tersebut. Kalaupun tidak, setidaknya kita bisa menikmati kelucuan-kelucuan sarkastik yang ditampilkan oleh para pemeran di “Arisan! 2”.
Oh ya, salut untuk Sarah Sechan yang berhasil mencuri semua scene yang menampilkan karakter Dokter Joy yang diperankannya. Selain lucu, Dokter Joy juga memberikan komentar-komentar sinis yang dijamin bakal membuat penonton tertawa geli.
Pelajaran yang saya dapat dari film ini: Life life to the fullest, karena kita tak akan pernah tahu kapan kita dipanggil sang pencipta.
Terima kasih Nia Dinata, karena sudah menyajikan sebuah tontonan yang tidak hanya menghibur, tapi juga mendidik. (@veryluckylady88)
RATE THIS MOVIE