Movie Synopsis:
Jayden Valarao, seorang musisi yang mempunyai impian untuk menjadi seorang Rockstar kerap mempunyai kehidupan yang tidak menentu. Suatu malam setelah terjadi perkelahian di sebuah Karaoke di Manila City, Filipina, Jayden (Christian Bautista) menemukan barang-barangnya berserakan didepan kontrakan karena tunggakan sewa kontrakan yang belum dia bayar. Dengan berat hati, ia meninggalkan Manila untuk sementara dan berangkat ke Jakarta. Setelah bertemu dengan Ibunya yang telah lama berpisah, Marlina Anasazar (Ira WIbowo), akhirnya Jayden mengetahui kalau ia sudah menyiapkan rencana besar untuk dirinya.
Seseorang yang bermimpi untuk menjadi rockstar harus menghadapi tantangan yang belum pernah dia sangka sebelumnya. Di tempat ini selain murid-murid itu, Jayden juga bertemu dengan beberapa karakter unik seperti Bu Rinjani (Ira Maya Sopha) yang tegas dan demokratis, Pak Dimas (Verdi Solaiman) yang sinis dan beberapa karakter lainnya. Disinilah Jayden mendapat pelajaran hidup dari anak-anak berkebutuhan khusus. Akankah Jayden berhasil mengajarkan anak-anak itu lebih dari sekedar bernyanyi?
Sebenarnya wajar saja jika Simfoni Luar Biasa ingin tampil sebagai sebuah film yang sentimental. Sayangnya, naskah cerita dan cara Awi Suryadi mengeksekusinya membuat kandungan emosional tersebut menghilang dan menjadikan Simfoni Luar Biasa terasa datar. Awi juga terkesan tidak begitu mempedulikan detil pengarahan cerita dan lebih mementingkan untuk segera menampilkan hasil akhir cerita daripada proses untuk menuju kesana. Tidak ada yang istimewa dari departemen akting dan tata produksi. Christian Bautista tidak mengecewakan dalam debut akting internasional perdananya, walaupun chemistry yang ia hasilkan bersama para lawan mainnya cukup kurang dapat terasa. Masih cukup dapat dinikmati.
http://tinyurl.com/3kvhk93
Simfoni Luar Biasa bener2 film yang super luar biasa, sangat wajib untuk ditonton karena ceritanya sungguh luar biasa
SIMFONI LUAR BIASA : HEARTS THAT CREATE A HARMONY
Here’s a little story. Being in a music school when I was a kid, I joined the students ensemble in a program called Bina Musika. Tak hanya dari sekolah musik itu, ensembel yang seperti orkestra mini ini juga berkolaborasi dengan mahasiswa sebuah universitas musik negeri sampai murid-murid asing dari Belgia, negara asal pemilik sekolahnya. Selain kompetisi, sesekali kami juga mengadakan konser persahabatan ke sekolah-sekolah musik di daerah lain. Until once, konser persahabatan itu diadakan di sebuah SLB (Sekolah Luar Biasa) di Padang Panjang. There I asked my late mom, yang juga aktif bersama yayasan sekolah musik itu di tugas-tugas sosial, salah satunya di YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat), yang sekarang lebih diperhalus dengan sebutan kebutuhan khusus (special needs), setelah menyaksikan konser yang digelar oleh SLB tadi. Tak hanya penderita retardasi mental yang sekarang dibedakan dengan penderita autisme, tapi juga penderita cacat fisik dari tunanetra, tunarungu bahkan anak-anak tanpa kelengkapan organ tubuh, mereka memainkan partitur musiknya dengan begitu indah. Bahkan tanpa cacat. It was her answer that I kept in my heart until now. That you might not need skills or else. As music is the most universal language, you just need sense to create its harmony. So then it hit me back when I saw a movie trailer. Film berjudul ‘Simfoni Luar Biasa’, yang kabarnya muncul dari inspirasi seorang Delon Tio setelah menyaksikan seorang konduktor dari sebuah ensembel musik di Cina, yang pemainnya semua adalah orang-orang dengan kebutuhan khusus ini. Bahwa disabilitas bukan halangan untuk sebuah persembahan. I might love Christian Bautista’s music dari budaya pop Filipina yang mendewakan sekali lovesongs tahun 80-90an, but most of all, these brought the memory of mom, when we watched that beauty of harmony together. Now let’s go to the movie.
Kegagalan demi kegagalan usahanya menjadi musisi terkenal di negara asalnya membuat Jayden (Christian Bautista) menyerah pada keinginan bibinya (Maribeth in her guest appearance) mengirimkan Jayden ke Jakarta untuk tinggal bersama sang ibu (Ira Wibowo) yang tak lagi dikenal Jayden sejak ia kecil atas permasalahan di keluarga mereka. Disana, ia harus beradaptasi dengan keluarga barunya termasuk adik tirinya, Carissa (Valerie Thomas), dan sekolah untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus yang dikelola ibunya. Jayden yang mengundang perhatian saat menyanyikan lagunya di sebuah kelas membuat kepala sekolah, ibu Rinjani (Ira Maya Sopha) meminta pertolongannya mengajar musik disana. Awalnya tak mudah. Meski didukung oleh guru olahraga (Stanly Saklil) dan Laras (Gista Putri) yang menarik perhatian Jayden, pertentangan dari seorang guru yang juga mantan penderita disabilitas, Pak Dimas (Verdi Soelaiman) membuatnya menyerah. Namun saat melihat anak-anak paduan suara bernyanyi di sebuah taman, niat Jayden berubah. Ia kembali ke anak-anak itu dan melatih mereka menjadi ensembel choir untuk diikutsertakan dalam kompetisi regional. Keinginannya awalnya ditentang ibu Rinjani yang tak mau memberi tekanan pada murid-murid, tapi ketika Jayden berhasil menemukan bakat luarbiasa pada dua leadnya, Zaky (Octavian K Putra), anak dari sebuah keluarga yang kurang memberinya perhatian, dan Amelia (Paramitha Pradestina), putri seorang ibu single parent (Sophie Navita) yang justru memberi perhatian berlebih, panitia kompetisi secara resmi mengundang mereka atas video yang diunggah Laras ke youtube. Menjelang kompetisi, sebuah masalah kembali datang dari orangtua Zaky yang membuat ibu Rinjani harus memilih antara Jayden dengan Zaky. Di saat kalah atau menang tak lagi jadi berarti, Jayden yang terlanjur mencintai anak-anak dengan bakat tersembunyi ini akhirnya memutuskan untuk kembali mengejar impiannya menjadi musisi di negaranya, tapi hatinya bukan berarti sama.
Sama dengan themesong dengan alunan indah yang ditulis Satrio Alexa dan menjadi hit single Bautista di Filipina, dimana filmnya juga diputar duluan dengan hasil cukup meyakinkan disana, ‘I’m Already King’, sebuah niat baik dari para pembesutnya juga sudah mencuri hati sejak trailer itu diluncurkan. An uplifting story yang sangat menggugah hati terhadap anak-anak dengan special needs dalam membangun suatu harmoni dibalik bahasa universal musik. Oke, Octavian yang memerankan Zaky mungkin memang sudah punya bakat musik dari grupnya yang bernama SuperKidz dan sudah punya basis fans di Jakarta, begitu juga Paramitha yang memerankan Amelia. Namun sebagian dari pemeran anak-anak ini memang diaudisi dari penderita disabilitas itu sendiri, berikut syuting yang dilakukan di sekolah asli YPAC. Dramatisasinya berjalan baik tanpa harus merengek-rengek seperti banyak film sejenis. As cliché-ness bukan harus jadi sesuatu yang ditakuti tapi disiasati, sutradara Awi Suryadi yang menulis skenario bersama Maggie Tiojakin plus editing Yoga Krispratama juga terlihat sekali berusaha menghindari klise-klise yang biasanya mengakhiri genre sama di sebuah konser dengan kemenangan gemilang dan berpanjang-panjang. Sempalan komedi cultural gap yang disempalkan ke tengah-tengah dramatisasi dan dialog tiga bahasanya juga cukup berhasil bersama pemilihan lagu yang kabarnya tak mudah mendapatkan izin termasuk lagu ‘Imagine‘ yang harus meminta langsung persetujuan jarak jauh Yoko Ono, juga dibesut dengan aransemen ala anak-anak yang cukup juara. Dan pastinya, barisan cast yang rata-rata bermain baik dengan notifikasi lebih ke Ira Maya Sopha, Gista Putri dan Verdi Soelaiman. Sophie Navita dan Stanly Saklil juga lumayan dalam part komikalnya. Christian Bautista yang baru memulai debut layar lebarnya di produksi kita ini mungkin masih terlihat canggung di beberapa adegan tapi penerjemahan emosinya sebagai seorang superstar debutan dalam dunia film tak lantas jadi over.
Namun bukan berarti Simfoni Luar Biasa/A Special Symphony ini tak punya kekurangan, bahkan diantaranya ada yang sangat mengganjal. Kita mungkin harus mengerti bahwa tetap, dalam sisi komersial jualannya sebagai sebuah produk, nama Christian Bautista yang diimpor jauh-jauh dari Filipina tak mungkin tersia-sia begitu saja. Namun pembagian dramatisasinya justru jadi sedikit blur antara konflik pribadi karakter Jayden dengan plot disabilitas anak-anak dengan special needs yang seharusnya bisa jauh lebih diselami lebih dalam ini, sama seperti saat kita ingin lebih tahu siapa pemeran semua anak-anak yang hebat ini dan latar belakang masing-masing dari search engine, yang kita dapat justru nama-nama artis terkenal pendukungnya plus Bautista sebagai titik nilai jualnya. Akibatnya, sebagian konflik yang sudah dimulai tak semua bisa terselesaikan dengan baik, beberapa turnover karakternya juga jadi sulit menghindari tampilan klise yang secepat kilat dan proses pembentukan ensembel serta penelusuran bakat musik mereka juga jadi serba terburu-buru. Sebagian emosi yang harusnya terbangun lebih baik juga sering hilang dengan skor yang terputus-putus di editingnya. But however, mari tak usah bicara jauh-jauh ke pesan moral ini dan itu. Sebuah disabilitas yang tetap bisa menciptakan harmoni, itu cukup. Along with its ups and downs, niat baik untuk mengangkat tema anak-anak dengan special needs dan usaha mereka yang tak berhenti untuk menggugah hati saja is already a king, dan patut mendapat apresiasi lebih. So let’s have a heart and watch it with the one you hold dear. May we all can be king in our own empire. (dan)
danieldokter.wordpress.com
Register or Login to be the first one to rate this movie
Sebenarnya wajar saja jika Simfoni Luar Biasa ingin tampil sebagai sebuah film yang sentimental. Sayangnya, naskah cerita dan cara Awi Suryadi mengeksekusinya membuat kandungan emosional tersebut menghilang dan menjadikan Simfoni Luar Biasa terasa datar. Awi juga terkesan tidak begitu mempedulikan detil pengarahan cerita dan lebih mementingkan untuk segera menampilkan hasil akhir cerita daripada proses untuk menuju kesana. Tidak ada yang istimewa dari departemen akting dan tata produksi. Christian Bautista tidak mengecewakan dalam debut akting internasional perdananya, walaupun chemistry yang ia hasilkan bersama para lawan mainnya cukup kurang dapat terasa. Masih cukup dapat dinikmati.
http://tinyurl.com/3kvhk93
Simfoni Luar Biasa bener2 film yang super luar biasa, sangat wajib untuk ditonton karena ceritanya sungguh luar biasa
SIMFONI LUAR BIASA : HEARTS THAT CREATE A HARMONY
Here’s a little story. Being in a music school when I was a kid, I joined the students ensemble in a program called Bina Musika. Tak hanya dari sekolah musik itu, ensembel yang seperti orkestra mini ini juga berkolaborasi dengan mahasiswa sebuah universitas musik negeri sampai murid-murid asing dari Belgia, negara asal pemilik sekolahnya. Selain kompetisi, sesekali kami juga mengadakan konser persahabatan ke sekolah-sekolah musik di daerah lain. Until once, konser persahabatan itu diadakan di sebuah SLB (Sekolah Luar Biasa) di Padang Panjang. There I asked my late mom, yang juga aktif bersama yayasan sekolah musik itu di tugas-tugas sosial, salah satunya di YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat), yang sekarang lebih diperhalus dengan sebutan kebutuhan khusus (special needs), setelah menyaksikan konser yang digelar oleh SLB tadi. Tak hanya penderita retardasi mental yang sekarang dibedakan dengan penderita autisme, tapi juga penderita cacat fisik dari tunanetra, tunarungu bahkan anak-anak tanpa kelengkapan organ tubuh, mereka memainkan partitur musiknya dengan begitu indah. Bahkan tanpa cacat. It was her answer that I kept in my heart until now. That you might not need skills or else. As music is the most universal language, you just need sense to create its harmony. So then it hit me back when I saw a movie trailer. Film berjudul ‘Simfoni Luar Biasa’, yang kabarnya muncul dari inspirasi seorang Delon Tio setelah menyaksikan seorang konduktor dari sebuah ensembel musik di Cina, yang pemainnya semua adalah orang-orang dengan kebutuhan khusus ini. Bahwa disabilitas bukan halangan untuk sebuah persembahan. I might love Christian Bautista’s music dari budaya pop Filipina yang mendewakan sekali lovesongs tahun 80-90an, but most of all, these brought the memory of mom, when we watched that beauty of harmony together. Now let’s go to the movie.
Kegagalan demi kegagalan usahanya menjadi musisi terkenal di negara asalnya membuat Jayden (Christian Bautista) menyerah pada keinginan bibinya (Maribeth in her guest appearance) mengirimkan Jayden ke Jakarta untuk tinggal bersama sang ibu (Ira Wibowo) yang tak lagi dikenal Jayden sejak ia kecil atas permasalahan di keluarga mereka. Disana, ia harus beradaptasi dengan keluarga barunya termasuk adik tirinya, Carissa (Valerie Thomas), dan sekolah untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus yang dikelola ibunya. Jayden yang mengundang perhatian saat menyanyikan lagunya di sebuah kelas membuat kepala sekolah, ibu Rinjani (Ira Maya Sopha) meminta pertolongannya mengajar musik disana. Awalnya tak mudah. Meski didukung oleh guru olahraga (Stanly Saklil) dan Laras (Gista Putri) yang menarik perhatian Jayden, pertentangan dari seorang guru yang juga mantan penderita disabilitas, Pak Dimas (Verdi Soelaiman) membuatnya menyerah. Namun saat melihat anak-anak paduan suara bernyanyi di sebuah taman, niat Jayden berubah. Ia kembali ke anak-anak itu dan melatih mereka menjadi ensembel choir untuk diikutsertakan dalam kompetisi regional. Keinginannya awalnya ditentang ibu Rinjani yang tak mau memberi tekanan pada murid-murid, tapi ketika Jayden berhasil menemukan bakat luarbiasa pada dua leadnya, Zaky (Octavian K Putra), anak dari sebuah keluarga yang kurang memberinya perhatian, dan Amelia (Paramitha Pradestina), putri seorang ibu single parent (Sophie Navita) yang justru memberi perhatian berlebih, panitia kompetisi secara resmi mengundang mereka atas video yang diunggah Laras ke youtube. Menjelang kompetisi, sebuah masalah kembali datang dari orangtua Zaky yang membuat ibu Rinjani harus memilih antara Jayden dengan Zaky. Di saat kalah atau menang tak lagi jadi berarti, Jayden yang terlanjur mencintai anak-anak dengan bakat tersembunyi ini akhirnya memutuskan untuk kembali mengejar impiannya menjadi musisi di negaranya, tapi hatinya bukan berarti sama.
Sama dengan themesong dengan alunan indah yang ditulis Satrio Alexa dan menjadi hit single Bautista di Filipina, dimana filmnya juga diputar duluan dengan hasil cukup meyakinkan disana, ‘I’m Already King’, sebuah niat baik dari para pembesutnya juga sudah mencuri hati sejak trailer itu diluncurkan. An uplifting story yang sangat menggugah hati terhadap anak-anak dengan special needs dalam membangun suatu harmoni dibalik bahasa universal musik. Oke, Octavian yang memerankan Zaky mungkin memang sudah punya bakat musik dari grupnya yang bernama SuperKidz dan sudah punya basis fans di Jakarta, begitu juga Paramitha yang memerankan Amelia. Namun sebagian dari pemeran anak-anak ini memang diaudisi dari penderita disabilitas itu sendiri, berikut syuting yang dilakukan di sekolah asli YPAC. Dramatisasinya berjalan baik tanpa harus merengek-rengek seperti banyak film sejenis. As cliché-ness bukan harus jadi sesuatu yang ditakuti tapi disiasati, sutradara Awi Suryadi yang menulis skenario bersama Maggie Tiojakin plus editing Yoga Krispratama juga terlihat sekali berusaha menghindari klise-klise yang biasanya mengakhiri genre sama di sebuah konser dengan kemenangan gemilang dan berpanjang-panjang. Sempalan komedi cultural gap yang disempalkan ke tengah-tengah dramatisasi dan dialog tiga bahasanya juga cukup berhasil bersama pemilihan lagu yang kabarnya tak mudah mendapatkan izin termasuk lagu ‘Imagine‘ yang harus meminta langsung persetujuan jarak jauh Yoko Ono, juga dibesut dengan aransemen ala anak-anak yang cukup juara. Dan pastinya, barisan cast yang rata-rata bermain baik dengan notifikasi lebih ke Ira Maya Sopha, Gista Putri dan Verdi Soelaiman. Sophie Navita dan Stanly Saklil juga lumayan dalam part komikalnya. Christian Bautista yang baru memulai debut layar lebarnya di produksi kita ini mungkin masih terlihat canggung di beberapa adegan tapi penerjemahan emosinya sebagai seorang superstar debutan dalam dunia film tak lantas jadi over.
Namun bukan berarti Simfoni Luar Biasa/A Special Symphony ini tak punya kekurangan, bahkan diantaranya ada yang sangat mengganjal. Kita mungkin harus mengerti bahwa tetap, dalam sisi komersial jualannya sebagai sebuah produk, nama Christian Bautista yang diimpor jauh-jauh dari Filipina tak mungkin tersia-sia begitu saja. Namun pembagian dramatisasinya justru jadi sedikit blur antara konflik pribadi karakter Jayden dengan plot disabilitas anak-anak dengan special needs yang seharusnya bisa jauh lebih diselami lebih dalam ini, sama seperti saat kita ingin lebih tahu siapa pemeran semua anak-anak yang hebat ini dan latar belakang masing-masing dari search engine, yang kita dapat justru nama-nama artis terkenal pendukungnya plus Bautista sebagai titik nilai jualnya. Akibatnya, sebagian konflik yang sudah dimulai tak semua bisa terselesaikan dengan baik, beberapa turnover karakternya juga jadi sulit menghindari tampilan klise yang secepat kilat dan proses pembentukan ensembel serta penelusuran bakat musik mereka juga jadi serba terburu-buru. Sebagian emosi yang harusnya terbangun lebih baik juga sering hilang dengan skor yang terputus-putus di editingnya. But however, mari tak usah bicara jauh-jauh ke pesan moral ini dan itu. Sebuah disabilitas yang tetap bisa menciptakan harmoni, itu cukup. Along with its ups and downs, niat baik untuk mengangkat tema anak-anak dengan special needs dan usaha mereka yang tak berhenti untuk menggugah hati saja is already a king, dan patut mendapat apresiasi lebih. So let’s have a heart and watch it with the one you hold dear. May we all can be king in our own empire. (dan)
danieldokter.wordpress.com
RATE THIS MOVIE