Film indonesia yang sederhana tetapi sarat makna dan sangat menyentuh.
Donny Damara menghadirkan penampilan akting memukau sebagai seorang transgender yang membuatnya memang sangat pantas untuk memenangkan Aktor terbaik di Ajang sebesar Asian Film Awards 2012.
Chemistrynya dengan Raihaanun sangat 'melebur' dan meyakinkan sebagai sosok bapak dan anak yang saling menemukan 'jati diri' dan menyimpan rahasia masing-masing.
Setting kota Jakarta pada malam hari dengan segala "aktivitas" nya juga dapat di-capture dengan sempurna oleh Teddy Soeriaatmadja.
LOVELY MAN adalah salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Dengan segala kesederhanaannya, film ini mampu berbicara banya. Salut!
DARK SHADOWS seperti yang menjadi "kekurangan" film-film Tim Burton saat ini adalah filmnya hanya unggul di visual.
Tim Burton sepertinya terlalu sibuk untuk memoles tampilan gothic di film ini menjadi "cantik" sampai-sampai lupa memikirkan kualitas penceritaan dan naskah dari film ini yang begitu lemah.
Akting Johnny Depp -pun tidak se-memikat dan iconic seperti karakter-karakternya yang sebelumnya. Begitupun dengan jajaran cast lainnya yang juga ternyata tidak istimewa.
Humor yang juga 'kering' menambah kesan membosankan dari film ini.
Film Summer dan sekaligus kolaborasi Burton dan Depp paling mengecewakan sejauh ini.
THE WITNESS adalah sebuah thriller yang sangat menjanjikan di awal durasinya. Menyajikan rentetan adegan pembantaian yang cukup realistis dan memancing rasa penasaran serta ketegangan dan misteri yang harus dipecahkan oleh Penontonnya di setengah awal durasinya bagai Puzzle.
Tetapi kemudian saat dipertengahan filmnya berubah menjadi drama dan pengungkapan tentang asal mula semua kejadian mengerikan di awal yang ternyata "biasa saja" dengan twist yang juga tidak menarik, maka THE WITNESS saat itu juga langsung kehilangan "pesona" nya.
Adegan di pertengahan sampai akhir hanya diisi oleh pengungkapan yang terlalu dipanjang-panjangkan yang mengarah kepada drama penguras air mata yang membosankan.
Sebagai sebuah film yang "berhadapan" dengan MODUS ANOMALI dan dibuat oleh 2 negara (Indonesia dan Filipina), film ini gagal memenuhi ekspektasi saya yang sudah cukup lama menantikan dan berharap banyak kepada filmnya.
Sudah lama rasanya saya tidak tertawa terbahak-bahak di dalam gedung bioskop seperti pada saat menyaksikan film 21 Jump Street ini.
Adegan komedi dan Joke yang ditawarkan memang terbilang vulgar, sarkastik, dan cenderung rasis. tetapi percayalah, jika MOOviers nyaman dengan semua hal itu, maka MOOviers akan larut dalam 'kegilaan' yang dihadirkan oleh film ini.
Tatum dan Hill menghadirkan penampilan komedik yang kocak dan show great chemistry.
Belum lagi dengan hadirnya cameo di akhir kisah yang menambah semarak 21 Jump Street.
Film komedi paling gila, liar, dan menyenangkan tahun ini (sejauh ini). Recommended!
Disebut-sebut sebagai film penerus "Harry Potter" dan "Twilight Saga", The Hunger Games ternyata tampil cukup memuaskan. Jauh lebih baik dari Twilight Saga, tetapi masih dibawah Harry Potter dari segi kualitas film adaptasi novel laris.
Kisahnya juga terbilang tidak terlalu orisinil sebenarnya, karena cukup mirip dengan film Jepang BATTLE ROYALE yang sudah dirilis jauh-jauh hari sebelum film (dan bahkan novel THE HUNGER GAMES) diedarkan.
Banyak adegan di filmnya yang seperti sengaja dibuat lebih "halus" sehingga masih bisa masuk di rating PG-13, padahal jika film ini diberikan Rating-R, mungkin esensi dari "permainan mematikan" di Hunger Games yang sadis dan berbahaya (seperti juga di novelnya) mungkin akan lebih terasa.
Akting Jennifer Lawrence sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia masih mampu menampilkan kualitas akting seorang nominator Oscar. Sesuatu yang tidak mampu ditampilkan oleh Kristen Stewart dalam Twilight Saga nya.
Dengan muatan sindiran terhadap reality show, negara yang diktator, dan kultur masyarakat saat ini, Hunger Games sebenarnya telah menunjukan bahwa film ini bukan sekedar film fantasi"ringan" remaja lainnya.
Semoga saja di sekuelnya kelak "CATCHING FIRE" filmnya bisa tampil lebih baik dan menarik lagi (dan semoga dibuat dengan Rated-R)
Harry Potter kali ini harus berhadapan dengan sosok hantu... dan hasilnya ternyata sama sekali tidak mengecewakan.
James Watkins mampu membangun tensi di film ini dengan menegangkan lewat adegan-adegan yang sebenarnya sangat predictable dan sudah sering dimunculkan di film horor lain, tapi toh tetap saja hasil racikan adegannya bisa membuat saya terlonjak dari kursi saya beberapa kali.
Sosok Woman In Black yang ditampilkan dalam siluet juga menambah kesan angker tersendiri.
Sayangnya naskahnya tidak menawarkan sesuatu yang baru dan masih terjebak pada tipikal film-film horor berhantu lainnya.
dan Daniel Radcliffe? tetap saja masih belum bisa melepas image nya sebagai Harry Potter di film ini.
Intinya sebagai sajian horor, film ini cukup berhasil dan layak tonton! :)
JOHN CARTER bisa dibilang (sejauh ini) sebagai film paling mengecewakan tahun ini! Sangat jauh dibawah ekspektasi Saya pribadi.
Berbujet $250 Juta dan disutradarai oleh Andrerw Stanton yang sudah memenangkan 2 Piala Oscar ternyata tidak mampu 'menyelamatkan' JOHN CARTER menjadi sebuah film yang gagal.
Durasinya yang lebih dari 2 jam juga menambah filmnya menjadi terkesan 'membosankan'. Andrew Stanton memang terbilang unggul dalam stoty-telling untuk film animasi, tetapi rupanya dalam urusan menggarap live-action, Statnton sepertinya masih terasa sangat terbata-bata dalam mengeksekusinya.
Belum lagi penampilan dari Taylor Kitsch yang terbilang sangat standar dan tidak mampu mencuri perhatian sebagai tokoh besar 'John Carter' yang kemudian mempengaruhi sejarah film science fiction selama berpuluh-puluh tahun terakhir ini.
Efek 3Dnya juga bahkan tidak banyak membantu dan sama sekali tidak istimewa.
SAFE HOUSE menghadirkan akting dan penampilan yang bagus dan menarik dari Denzel Washington dan Ryan Reynolds.
Adegan-adegan aksi yang disajikan secara non-stop dari awal hingga akhir terlihat cukup keren dengan konsep yang aksi yang realistis sehingga tensi filmnya terasa lebih menegangkan.
Tetapi aksi 'non-stop-aksi' ini juga sekaligus menjadi kelemahan film ini, karena disajikan secara terus menerus dan beruntun sehingga di beberapa adegan justru terasa membosankan karena terjadi pengulangan-pengulangan adegan aksi tersebut. Selain itu pengembangan cerita juga kurang tergali sebab Sutradaranya sepertinya terlalu memfokuskan pada adegan aksi belaka.
Tetapi sebagai sajian film aksi, film ini sangat menyenangkan dan menegangkan untuk ditonton.
Sajian film yang paling memukau yang hadir (di bioskop indonesia) tahun ini.
Dalam sajian hitam-putih, film ini berhasil tampil dengan visual yang sangat memukau dan ditampilkan dalam style film bisu menambah nuansa brilian pengalaman sinematik film-film di era 20-an.
Akting menajubkan dari Jean Dujardin dan Berenice Mijo, naskah yang cerdas, dan penyutradaraan yang sangat solid. Tidak salah memang jika lantas film ini menjadi film terbaik di Oscar 2012.
The Artist is Magic... Instant-Classic dan very recommended untuk siapapun yang mencintai film :)
Pernah membayangkan bagaimana mengerikannya jika suatu hari MOOviers selamat dari sebuah kecelakaan pesawat dan kemudian malah terdampar di sebuah hutan bersalju dengan serigala buas yang siap memangsa?
Ya, lolos dari maut yang satu tetapi kemudian harus menghadapi "maut" lainnya yang tidak kalah menyeramkan. Hal itulah yang coba ditampilkan dalam film survival thriller THE GREY yang dibintangi Liam Neeson.
Setting filmnya yang nyaris 100% bersalju, berhasil 'dihantarkan' oleh Sutradara Joe Carnahan dengan sangat baik sekali sehingga aura "dingin" dari filmnya bisa "tertular" ke penonton.
Carnahan juga dengan gemilang menghadirkan rentetan teror dari sosok serigala ganas yang merambat perlahan, sosok serigala ganas yang diperlihatkan dengan sekilas dan tidak terlalu di ekspos justru menghadirkan kengerian tersendiri dan membuat 'geregetan'.
Carnahan juga mengeksekusi teror serigala disini dengan unik dan tidak seperti film yang menampilkan "beast" pada umumnya. Carnahan menggunakan camera-works yang seolah-olah saat serigala tersebut menyerang karakter di filmnya, seolah-olah penonton merasakan hal yang sama.
Liam Neeson juga berakting apik dengan gesture yang muram yang pada akhirnya harus melakukan fight-back untuk menyelamatkan nyawanya.
Walaupun naskahnya masih cenderung tipikal survival thriller pada umumnya, tetapi Carnahan mampu menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam penggarapannya dan rentetan adegan teror di film ini berhasil dihadirkan dengan sangat baik dan menegangkan.
Ditengah film bergaya mockumenter dengan tema horror yang itu-itu saja, CHRONICLE hadir dengan konsep baru yang fresh, mengambil gaya mockumenter ala Paranormal Activity atau Cloverfield, Chronicle menghadirkan tema Superhero yang menggebrak.
Tema sederhana tentang 'pemberontakan remaja' ala 'revenge of nerds', konsekuensi akan sebuah kekuatan super, dan persahabatan yang digarap dengan apik. Jajaran pemain barunya juga berakting dengan sangat meyakinkan.
Walaupun ber-bujet minim, Chronicle mampu memaksimalkan departemen visual efek sehingga efek yang ditampilkan terasa rapih (walaupun di beberapa bagian masih terasa berlebihan dan out of placed dengan konsep mockumenternya).
Overall, film ini adalah film dengan konsep baru yang 'nendang' di awal tahun 2012, sangat menghibur, dan untuk penggemar film bertema Superhero 'Rebel' ala Kick Ass dan konsep mockumenter ala Cloverfield....it's Highly Recomended. Bosan dengan Superhero dari Marvel atau DC? Chronicle adalah jawabannya :)
Nyaris tidak ada pengembangan dari seri sebelumnya jika dilihat dari segi cerita maupun akting pemain.
Tetapi film ini sangat tertolong oleh penampilan efek visual yang walaupun masih jauh dari sempurna tetapi terlihat cukup memukau apalagi jika disaksikan dalam format 3D.
Visualisasi 'Mysterious Island' beserta makhluk-makhluk penghuninya yang sangat unik seperti kadal raksasa, burung, lebah, dan belut listrik raksasa kelihatan cukup 'halus' dan keren.
Film dengan kisah yang dangkal tetapi akan sangat menghibur dan menyenangkan ditonton khususnya bersama anak-anak...
Apalagi di akhir kisah akan ada petunjuk untuk cerita di film ketiganya nanti... ya, selanjutnya kita akan diajak untuk berpetualang ke bulan... errr.... apakah masih patut ditunggu?
Saya tidak menyangka bahwa film komedi seburuk ini ternyata ditulis oleh penulis naskah film komedi brilian The Devils Wears Prada.
Menghadirkan plot yang basi dan tidak menarik, garing, dan Sarah Jessica Parker... tetaplah menjadi SJP yang memang selalu menjadi template nya di Sex in the City.
just skip it! kecuali untuk MOOviers yang benar-benar penggemar RomCom, seburuk apapun RomCom tersebut :)
Film ini membawa nostalgia kembali akan kejayaan serial dari The Muppets.
Menghadirkan joke-joke yang sangat lucu, fresh, lagu-lagu yang sangat indah dan sekaligus kocak, penampilan cameo-cameo yang mencuri perhatian, dan momenn menyentuh yang bisa membuat penontonnya terharu (dan mungkin saja) menangis.
Film yang wajib ditonton (bukan hanya) oleh fans dari The Muppets! highly recomended :)
Film terbaik dan yang paling menegangkan dari seri Paranormal Activity (so far). Henry Joost dan Ariel Schulman yang sebelumnya mengarahkan film dokumenter brilian 'CATFISH' berhasil mengeksekusi film ini dengan ketegangan perlahan tetapi intens.
Pergerakan 'kamera kipas angin' nya suskes menciptakan beberapa 'boo-moment' yang berhasil. dan belum lagi kejutan di akhir kisah yang menjelaskan mengenai penyebab teror makhluk supranatural yang selama ini menghantui sejak film pertamanya.
Recomended (untuk MOOviers yang menyukai 2 film pertamanya dan menyukai film bergenre found footage). Tetapi jika tidak, berarti film ketiga ini memang bukan untuk MOOviers :)
Film ini meng-capture dengan cukup sempurna sosok anak muda yang telah menjelma menjadi 'milyuner' berkat usaha snack rumput lautnya tersebut. filmnya sederhana, tetapi memiliki cukup banyak momen yang menyentuh tentang perjuangan seorang anak muda yang 'happy go lucky' untuk jadi 'something' dan membuktikan ke keluarganya.
Walaupun dibanding film Thailand lain yang lebih 'berwarna' dan 'ceria', film ini memang tergolong lebih serius dan tidak terlalu banyak humor yang ditawarkan. Tetapi overall Filmnya masih menghibur dan sekaligus sangat inspiratif . Recomended! :)
Dari Sutradara yang sama yang menggarap film RomCom terlaris di Thailand tahun 2010 yaitu Crazy Little Things Called Love, apa yang ditampilkan di film ini ternyata hasilnya terbilang sangat mengecewakan.
Kisahnya terlalu standar, dipenuhi dengan adegan-adegan klise dan juga joke-joke yang sudah tergolong 'basi' dan slapstick.
Dua lead-actors nya gagal memberikan chemistry yang baik untuk karakter mereka, berbeda dengan pasangan di RomCom Thailand lainnya seperti Bangkok Traffic Love Story ataupun Hello Stranger yang terasa begitu 'manis' dan serasi.
Untunglah film ini masih diselamatkan oleh sosok sidekick wanita berwajah konyol (yang juga tampil sebagai ibu guru di film Crazy Little Things Called Love) yang masih bisa membuat penonton tertawa dengan penampilannya yang selalu mencuri perhatian.
Film yang cukup mengecewakan untuk para penikmat film komedi romantis Thailand pastinya. Sayang sekali...
Secara mengejutkan filmnya tampil dengan efek 3D yang sangat keren! adegan martial-arts yang memukau dan Jet Li tetap menunjukan kualitas terbaiknya dan pesonanya sebagai "bintang besar" di film ini. Plotnya memang tergolong tidak terlalu istimewa, tetapi menyaksikan film ini membawa Nostalgia tersendiri menyaksikan film-film 'wuxia' jaman dulu yang sangat menyenangkan... recomended :)
Menjanjikan premis yang cukup menjanjikan tentang sosok alien gaya baru yang 'tidak kelihatan', tetapi ternyata filmnya hanya berakhir menjadi film tentang alien yang membosankan, predictable, dan tidak menawarkan sesuatu yang baru sama sekali dari jalinan kisahnya. Kisah invasi Alien yang dangkal yang ternyata tidak 'segelap' judulnya.
Tidak ada perkembangan sama sekali dari seri Alvin and the Chimunkis terbaru ini. Sama seperti film-filmnya sebelumnya, film ini hanya mengandalkan 'pesona' dari ketiga chipmunks lucu di filmnya yang mungkin hanya akan masih dirasa lucu dan kocak oleh anak-anak... tetapi akan sangat menyebalkan ditonton oleh orang dewasa karena terlalu dangkal. tetapi walau bagaimanapun dipastikan akan ada film-film selanjutnya lagi... ohhh... holy crap!
The Worst SPY KIDS Movie of all... semoga setelah ini tidak akan pernah ada lagi film SPY KIDS selanjutnya ya, Mr. Rodriguez! 4-D aroma scope nya juga tidak works anyway... totally disappointed.
Animasi 3D nya secara mengejutkan kelihatan sangat memukau, lengkap dengan banyak sekali scene 3D yang eye-popping. Sayangnya tidak ada yang spesial dari kisahnya yang terlalu simple dan tidak terlalu menarik. Tetapi sebagai sajian film 3D, Arthur Christmas bisa dikatakan berhasil. Menghibur namun tidak terlalu berkesan.
Thrilling and Twisted. Film Suspense Thriller yang lumayan 'mengejutkan' untuk sebuah film produksi Indonesia. Standing Ovation untuk Akting dari Bella Esperance sebagai Madam Rita. Diantara film-film Indonesia yang semakin tidak karuan, 'The Perfect House' adalah contoh film yang diproduksi dengan niat dan berhasil mengantarkan genre yang berbeda dari film Indonesia lain dengan cerdik dan dengan hasil yang menegangkan. Recomended!
Lebih bagus dan lebih menyeramkan dari versi asli film tahun 1973 nya... quite creepy (khususnya di setengah jam ahir), akting yang meyakinkan dari karakter anak yang diperankan Bailee Madison,. Satu hal yang disayangkan justru terletak pada visualisasi 'makhluk' penebar teror di film ini yang kurang menyeramkan. secara keseluruhan horor yang cukup memuaskan.
Dengan 'menjual' nama dan foto besar Irfan Bachdim di posternya, mungkin sebagian penonton akan menjadi tertarik dan berbondong-bondong untuk menyaksikan filmnya. Tetapi sebagian lagi, mungkin akan langsung skeptis dan berekspektasi filmnya akan mengecewakan dan pure sebagai film komersial semata.
Saya terus terang termasuk penonton yang kedua. Tetapi ternyata setelah menyaksikan filmnya Saya mengaku salah. TENDANGAN DARI LANGIT sesuai judulnmya cukup 'nendang' saat disaksikan.
Mengangkat tema sepakbola yang memiliki fans fanatik yang sangat banyak di Indonesia, filmnya mengangkat tema sepakbola tersebut ke dalam jalinan naskahnya yang terbilang berhasil. Jalinan kisahnya memang tidaklah terlalu istimewa, "from zero to hero' yang mungkin sudah banyak diangkat di film-film lainnya. Namun bagaimana filmnya dikemas, membuat kisah yang sebenarnya tidak terlalu istimewa tersebut menjadi tontonan yang sangat asyik untuk diikuti.
Akting dari bintang baru Yosie Kristianto cukup meyakinkan dan natural. Sepertinya untuk perannya disini, tim audisi yang mengadakan 'pencarian talent' untuk peran Wahyu disini terbilang berhasil mencari sosok yang tepat.
Highlight utama film ini menurut saya pribadi adalah sinematografinya yang sangat bagus sekali. Salut untuk Faozan Rizal yang dengan sempurna meng-capture pemandangan di Bromo dengan sangat indah, lengkap dengan angle-angle yang sangat keren dan sangat memanjakan mata.
Film ini memang memiliki kelemahan beberapa plot dan beberapa adegan yang terasa kurang detail dan missed, namun hal tersebut masih belum dalam tahap yang mengganggu.
Irfan Bachdim? Ehm.. Ia tidak berdialog sama sekali di film ini. So, anggap saja Ia sebagai bonus saja di film ini dan tidak usah terlalu 'diambil pusing'
Overall Recommended sebagai tontonan di Libur Lebaran Tahun ini...
Po dan The Furious Five kembali di sequel film KUNG FU PANDA (2008) dengan aksi yang lebih seru dan sukses mengocok perut Saya (dan semua penonton) dari awal sampai akhir!
Naskahnya semakin menarik. Mengangkat tema yang lebih besar dan heroik dibanding seri sebelumnya. Joke-joke yang dihadirkan juga semakin fresh dan menyenangkan. Namun kisah mengenai asal-usul keluarga Po adalah memang yang paling mendapat kredit lebih di film ini. Rahasia yang selama ini belum dijelaskan di film pertamanya akhirnya terjawab sudah mengenai ayah dan ibu kandung Po dan 'musuh besar' nya di sequel ini.
Dari segi teknik animasi juga sangat berkembang dari seri sebelumnya. Di salah satu adegan flashback, terlihat beberapa scene yang diambil dari film pertamanya dan darisini sangat terlihat perbandingannya dengan animasi di film keduanya ini. Karakter-karakternya lebih terlihat nyata dan backgroundnya juga terlihat lebih mengagumkan. Belum lagi deretan adegan aksi yang cukup menegangkan sekaligus menyenangkan dan membuat Saya tidak berhenti terbahak-bahak sampai akhir (Yeah.. we talk about Po here...:D )
3D nya sangat keren, impresif dan 'works' di film ini.
Film yang sangat menyenangkan ditonton bersama keluarga. Salah satu kandidat kuat best animated OSCAR tahun depan, walaupun saingannya sepertinya cukup berat, ada RIO, RANGO, dan akhir tahun nanti TIN-TIN.
Pasca LASKAR PELANGI dan GARUDA DI DADAKU Tahun 2009 lalu, memang belum ada lagi film Indonesia tentang anak-anak yang mendapat perhatian masyarakat dan mencapai kesuksesan saat dirilis. Libur lebaran Tahun ini akhirnya diisi oleh salah satu film Indonesia bertema pramuka dengan karakter anak-anak berjudul LIMA ELANG.
Saat menyaksikan filmnya, terus terang saya sangat terhibur dari awal sampai akhir. Filmnya memang ditujukan sebagai film keluarga dengan cerita yang ringan, namun film ini tidak meninggalkan misi besarnya untuk mengangkat tema Pramuka dan memperkenalkan kegiatan Pramuka yang sekarang mulai ditinggalkan khususnya oleh kaum muda.
Akting anak-anak di film ini yang cukup mendapat highlight dari Saya pribadi. Mereka rata-rata baru pertama berakting di sebuah film, namun aktingnya terlihat meyakinkan dan natural. Sesuai dengan usianya dan tidak dipaksakan untuk menjadi 'dewasa' seperti yang kebanyakan muncul di film Indonesia lainnya.
naskahnya bisa dibilang sangat 'Salman Aristo'. Berisi dialog-dialog yang simple, namun cukup berisi, lengkap dengan joke-joke spontan dari karakter-karakter anak-anak disini yang sukses membuat penonton tertawa.
Intinya sebagai film keluarga, LIMA ELANG berhasil dengan misinya yaitu menghibur untuk seluruh keluarga dengan pesan film yang tersampaikan dengan baik.
Mudah-mudahan film ini kelak bisa bersaing dengan film Indonesia lain yang rilis bersamaan tahun ini dan memperoleh kesuksesan seperti halnya film GARUDA DI DADAKU.
Awalnya Saya pribadi cukup terkejut saat filmnya dirilis di US dan mendapat review yang sangat positif dari para kritikus. Dan perolehan Box Officenya juga sangat luar biasa. Apa istimewanya seri kelima ini? Lantas setelah menyaksikannya sendiri saya akhirnya membuktikan sendiri bahwa FAST FIVE memang adalah seri terbaik dari franchise FAST & FURIOUS sejauh ini.
Berbeda dengan Transformers DOM yang juga menampilkan aksi non-stop dengan efek luar biasa namun hasilnya malah membosankan, FAST FIVE menampilkan non-stop action extaravaganza tapi karena dieksekusi dengan sangat baik, hasilnya menjadi sebuah sajian film action yang breath-taking dan super-fun! beberapa adegan action dan kebut-kebutannya memang terasa agak over-the-top, namun karena Lin merancang adegan-adegan aksi tersebut dengan sangat piawai, maka penonton sejenak bisa memaafkan soal logika dan plot-hole di beberapa bagian (Adegan kebut-kebutan di akhir itu sangatlah JUARA)
Naskahnya memang tidak terlalu istimewa, namun Kisahnya terlihat semakin berkembang dari seri-seri sebelumnya. dan tentu saja highlight utama adalah kehadiran THE ROCK (Dwayne Johnson) dalam seri ini yang membuat filmnya semakin 'berwarna' dan semakin seru.
Tidak sabar rasanya menantikan FAST SIX dan FAST SEVEN!
Note : Jangan Keluar Bioskop sampai credit tittle habis, karena ada adegan tembahan berupa kejutan untuk sequel selanjutnya. COOL! :)
3D nya memang tidak terbantahkan lagi : SUPER-AWEEESOOME! Sejauh ini menurut Saya pribadi, film ini adalah film live-action dengan efek 3D terbaik. Semua action-sequencesnya bnr2 membuat mata nyaris tidak bisa berkedip.
Sayangnya filmnya terjebak seperti juga standar film Michael bay yang lain, juara di visualisasi tapi sangat lemah di naskah. Film ini dipenuhi semua template khas film michael bay : ledakan. ledakan. ledakan. slow-motion. dan tidak ketinggalan sederet product placement yang errr... cukup mengganggu (tidak terlalu mengganggu kalau saja product placementnya tidak diucapkan juga sebagai dialog oleh para karakternya)
Durasinya yang terlalu panjang membuat film ini banyak memiliki momen-momen yang membuat penonton merasa bosan. Padahal sejak awal Bay dengan royal memberikan 'hujanan" spesial efek maha dahsyat, tapi ya itu tadi... karena terlalu sering jadinya malah kelihatan membosankan.
Tapi sebagai film hiburan seri terakhir ini berhasil dgn tujuannya itu yaitu sebagai film yang MENGHIBUR. itu saja...
Wajib tonton di 3D! naskahnya memang payah, tapi kalau boleh mengutip kalimat Joker 'Why so serious?' So, Nikmati saja pengalaman visualnya yang memang sangat keren itu...
Speechless... Film ini adalah Penutup yang SEMPURNA untuk Saga Harry Potter. Film terbaik dari semua seri HARRY POTTER. Lebih dari 10 Tahun, Saya pribadi 'tumbuh' bersama novel dan film Harry Potter sejak kecil, sangat berat tapi memang harus diucapkan : Bye, Harry! T_T
Tahun ini sepertinya banyak Aktor dan Aktris papan atas Hollywood yang kembali ingin mengasah dan membuktikan kemampuannya selain dalam berakting, yaitu keahliannya dalam Meyutradarai sebuah film.
Belum lama ada THE BEAVER, sebuah film drama yang menyentuh yang Disutradarai oleh Aktris Jodie Foster yang sukses membuktikan bahwa Foster memang tidak hanya piawai dalam berakting tetapi juga sangat menjanjikan dalam menyutradarai sebuah film.
Menyusul Foster, kali ini Aktor Peraih 2 Piala OSCAR yaitu Tom Hanks (Philadelphia, Forrest Gump) yang mencoba kembali menyutradarai film. Kali ini adalah usaha keduanya dalam bidang Penyutradaraan setelah 15 Tahun lalu Ia juga telah menyutradarai film berjudul THAT THING YOU DO.
Terus terang Saya cukup surprise saat menyaksikan filmnya. Berangkat dari ekspektasi Saya yang kurang untuk film ini (dan membaca beberapa review negatifnya), ternyata filmnya tampil dengan sangat menyenangkan dan hugely entertaining.
Kisah dan naskahnya memang tidaklah terlalu istimewa, tetapi Hanks mampu 'mangantarkan' kisahnya menjadi sebuah sajian film yang begitu asyik untuk diikuti dan jauh dari kata membosankan. Bahkan bisa dibilang, aura komedi memang sepertinya lebih kental untuk film ini, ketimbang sebuah Drama. dan nyaris semua momen-monem komedi nya menurut Saya fresh dan berhasil memancing tawa.
Akting dari Hanks memang tidaklah terlalu istimewa di film ini, begitupun dengan Akting dari Julia Roberts. Karena karakter mereka disini, memang tidak se-unik dan se-'berat' karakter-karakter di film mereka sebelumnya. Tetapi chemistry mereka berdua masih terasa pas, begitupun dengan deretan cast lainnya yang sangat membantu menceriakan film ini. Karakter Talia, Kekasihnya dan geng Motor nya yang begitu Hilarious. Belum lagi para teman-temannya di Kampus yang juga tidak kalah kocak dan sangat menyegarkan.
Overall bukan film yang sangat Istimewa memang, tetapi melihat usaha bagaimana Hanks membintangi, menulis Naskahnya, dan juga menyutradarainya sendiri, Film ini bisa dikatakan sebagai output yang berhasil dari hasil kerjanya tersebut.
Dan pesan film ini juga tersampaikan dengan baik tanpa terkesan 'ceramah' mengenai ' Tidak ada kata terlambat untuk meneruskan pendidikan... dan memulai sesuatu yang baru'.
Yah, lagipula sudah lama juga kan Kita tidak melihat 2 Bintang besar dan 'senior' Hollywood bermain dalam satu film dalam sebuah ...drama romantis... :)
Beralih dari Anthology Horror, Thailand mulai melirik ke Anthology bergenre RomCom. Tetapi yang satu ini, sayangnya hasilnya Failed.
Trailer dan Posternya yang begitu menarik dan terlihat menjanjikan ternyata tidak terbukti saat menyaksikan filmnya. Tidak ada satupun dari 4 kisahnya yang menarik dan membuat penonton peduli untuk mengikuti kelanjutannya.
Biasanya dalam film Anthology ada satu film yang lebih menonjol daripada yang lain, tapi sayangnya tidak di film ini. Semuanya sama flat dan sama tidak menariknya.
Flat. Datar. dan Membosankan. Hal ini juga semakin diperparah dengan penampilan para Aktor mudanya yang berakting sangat standar. Jauh dibawah yang pernah ditampilkan oleh Aktor-aktor muda di film Thailand sebelumnya yang sukses mencuri perhartian penonton Indonesia.
Film Anthology RomCom yang gagal. Film Anthology Teen RomCom asal Thailand "HORMONES" menurut saya masih jauh lebih bagus dan solid dari yang satu ini...
Saya sebagai Penikmat Film Thailand terus terang sangat kecewa saat menyaksikannya...
Film yang sudah sangat Saya nantikan sejak Tahun lalu begitu mengetahui bahwa Film asal Spanyol ini sukses memenangkan Best Horror Film dan juga Best Director di salah satu Ajang Film Genre terbesar FANTASTIC FEST 2010. Beruntunglah kemudian Blitzmegaplex menayangkannya baru-baru ini, sehingga akhirnya Saya bisa menyaksikannya.
Entah karena ekspektasi Saya yang sudah terlalu tinggi sehingga saat menyaksikan film ini ternyata tidak terlalu sesuai dengan harapan Saya.
Teknis filmnya memang harus diakui sangat juara dan saya bilang cukup breakthru. Saya sangat menyukai setiap kali film menampilkan adegan yang berjalan paralel dan layar menampilkan angel kamera yang unik. Longshot nya juga sangat mengagumkan.
Ditambah dengan akting para jajaran cast-nya yang solid, beruntunglah film ini hanya memiliki beberapa karakter utama sehingga terasa lebih fokus. Baik heroine maupun villainnya berakting sangat meyakinkan.
Sayangnya adegan gore/bloody yang menjadi ciri khas pemenang Fantastic Fest terasa kurang terlihat di film ini. Tidak seperti buzz yang selama ini telah beredar di media.
Dan satu yang paling Saya sayangkan justru adalah kisah dan naskahnya sendiri. Terasa sangat standar dan tidak menampilkan kejutan yang berarti.
Saya merasa film ini seperti film Hollywood "THE STRANGERS" hanya saja dalam versi yang lebih realistik dan art.
Overall filmnya cukup menegangkan dan masih menarik untuk disaksikan asal saja Anda tidak terlalu berekspektasi seperti Saya. Sebagai film pemenang Fantastic Fest, jujur filmnya masih masuk kategorti "standar". walaupun seperti yang Saya bilang tadi, harus diakui teknisnya memang sangatlah keren dan juara, soal eksekusi memang sudah tidak diragukan lagi, hanya sayangnya film ini terbentur di naskahnya yang sangat standar.
Saya sudah menyaksikan 2 film pemenang lain di Fantastic Fest 2010, yaitu Film pemenang BEST FILM dalam kategori "New Wave" berjudul WE ARE WHAT WE ARE (Mexico) yang menurut saya masih jauh lebih brilian dari ini, dan terutama film drama/thriller jempolan asal Korea yang langsung menjadi favorit Saya "BEDEVILLED" yang memangkan Audience Choice di Ajang yang sama.
Lewat film ini Jodie Foster membuktikan diri jika selain menjadi seorang Aktris Ia juga ternyata sangat berbakat menjadi Sutradara yang sangat handal!
Penyutradaraan Jodie Foster yang benar-benar tepat dan sesuai dengan mood film ini juga sangat terbantu dengan jalinan cerita dan naskahnya yang memang sangat unik dan bisa dibilang cukup orisinil. Dialog-dialog keseharian yang natural dan tentunya kisah yang menyentuh.
Chemistry antar para karakternya harus diakui sangat juara. Keluarga Jodie-Gibson sangat dysfunctional namun terlihat sangat meyakinkan sebagai keluarga yang seolah memang benar-benar nyata dan ada di keseharian kita. yang terpenting adalah mereka berhasil membuat Saya sebagai penonton merasa perduli dengan nasib mereka dan merasa sangat relate.
Highlight film ini tentu saja adalah Akting Mel Gibson dengan boneka "Beaver" nya yang sukses mempermainkan emosi penonton. Di satu sisi kita akan tertawa, tapi di sisi lain kita juga akan bersimpati kepadanya.
Tidak ketinggalan film ini juga memberikan klimaks yang cukup 'disturbing' (Terhadap Mel Gibson)
Overall ini merupakan film drama yang menyentuh dan sebuah penyutradaraan terbaik dari Jodie Foster sejauh ini (2 Film dan 1 serial tv sebelumnya). Saya jadi tidak sabar ingin menyaksikan karyanya yang selanjutnya, bukan lagi sebagai Aktris saja tentu saja... tetapi juga sebagai Sutradara di film-film berikutnya. Recomended!
Dari Penulis naskah yang sama yang menggarap naskah salah satu thriller jempolan "IDENTITY", pun masih mengusung tema yang sama dengan naskahnya sebelumnya yaitu mengenai "Personal Identity Disorder"
Cerita dan Naskahnya cukup menarik, walaupun dibanding IDENTITY masih beberapa tingkat dibawahnya. Penggarapan dari duo sutradaranya masih terasa draggy dengan durasinya yang kelewat panjang. Sehingga ketegangan tidak terasa merata di sepanjang film.
Akting Julianne Moore juga tidak terlalu menonjol. Justru yang cukup mencuri perhatian adalah Akting Jonathan Rhys yang meyakinkan dengan beberapa karakter kepribadian yang harus ditampilkannya di film ini.
Bukan thriller yang menegangkan, namun masih cukup menarik untuk disaksikan, terutama dengan endingnya yang terasa lumayan 'disturbing'.
Diproduseri oleh Sutradara film-film Komedi Inggris Jempolan Edgar Wright seperti "Shaun Of The Dead" dan "Hot Fuzz" (dua film favorit Saya) tentu saja hal ini membuat film ini terasa sangat menjanjikan buat Saya.
Ternyata filmnya memang sangat menegangkan dan sekaligus menyenangkan. Entah berapa kali Saya sukses terlonjak dari kursi saat pemunculan sang Alien. Aliennya juga digambarkan dengan sangat unik dan orisinil. Simple dengan efek yang tidak berlebihan tapi sukses membangun ketegangan.
Joke-joke dan dialognya mungkin cukup segmented, namun berhasil membuat tertawa dengan punchline nya yang kocak dan konyol dan hal ini tentu saja sangat terbantu dengan akting para bintangnya yang meyakinkan dan 'polos'.
Walaupun terus terang Saya cukup kecewa dengan kisahnya secara keseluruhan yang terkesan terlalu sederhana dan ending yang terlalu 'gampang'.
Tapi Overall Film yang sangat menghibur dan menyenangkan untuk disaksikan! Recomended!
Cha Ta Hyun memang seakan menjadi Aktor Korea yang menjadi jaminan film-film laris.Tahun 2008 filmnya "SPEED SCANDAL" aka SCANDAL MAKERS sukses menjadi film terlaris no.1 di Korea.
Tahun 2010, Ia kembali dengan HELLO GHOST yang juga kembali sukses masuk kedalam list TOP 10 film terlaris di Korea Tahun lalu.
Horror-Komedi adalah sesuatu yang cukup riskan untuk diangkat, karena salah eksekusi hasilnya akan "serem..enggak... lucu juga enggak". Namun Kim Yeong Tak sang Sutradara berhasil meramu komedi di film ini dengan cukup pas.
HELLO GHOST memang pure-komedi sebenarnya. 'Horror' hanya karena film ini berhubungan dengan hantu, padahal hantunya pun tidak menyeramkan sama sekali dan memang digambarkan secara konyol dengan sikapnya masing-masing yang memang ditujukan sebagai komedi. Tidak semua sajian komedi-nya berhasil memang, ada juga momen yang terasa cukup garing. Tetapi overall tertutupi dengan penampilan para bintangnya yang sangat meyakinkan (Terutama interaksi dan kejadian-kejadian janggal dan juga kocak antara Tokoh Sang man dengan 'para hantu' yang selalu sukses memancing tawa).
Film ini sebenarnya masih tergolong film komedi yang so-so sampai tiba di ending yang sangat menohok saya. Tentu saja saya tidak akan ber-spoiler disini, tapi endingnya sukses membuat Saya... errr... yeah... meneteskan air mata.
Mengejutkan dan sekaligus sangat menyentuh.
Urusan seperti ini memang yang menjadi kehebatan para sineas Korea. Mereka tidak perlu menjadikan filmnya sebuah tear-jerker movie dimana tokohnya digambarkan menangis dari awal sampai habis untuk memancing tangisan penonton. Kim Yeong Tak sukses menggiring penonton untuk peduli dengan karakter-karakternya sejak awal. Menyajikan momen-momen komedi dari awal sampai menuju akhir, sehingga saat film tiba-tiba berbelok dan 'momen kejutan' itu muncul, penonton akan langsung 'terperanjat' dan merasakan 'kejutan' dan kesedihan seperti yang dirasakan oleh Sang-Man...
Film yang lucu dan sangat menyentuh (di ending). Recomended!
Note : Satu lagi, jangan keluar sampai credit title benar-benar habis ya! :)
Aura Sinetron dan Film-film tahun 80-an sepertinya sangat kental sekali dengan film ini. Lengkap dengan scoring music "jeng-jeng-jeng" khas sinetron yang cukup mengganggu.
Saya terkadang jadi merasa bahwa film ini seharusnya dirilis 30 Tahun yang lalu.
Saya tidak bisa membandingkan film ini dengan novelnya karena memang saya belum membaca Novel dari Mira. W. Tetapi setelah menyaksikan film ini jujur saja saya semakin tidak tertarik untuk membaca novelnya.
Alur kisah yang seakan tidak jelas mau dibawa kemana, karakter-karakter dewasa di film ini yang lebih labil dari ABG (sebentar marah-marah, lantas berbaikan lagi tanpa alasan yang jelas, lalu marah-marah lagi, begitu seterusnya sampai film berakhir).
Sang Sutradara Dedi Setiadi yang telah memenangkan sederet penghargaan melalui Sinetron-sinetronnya seperti "Keluarga Cemara" dsb sepertinya masih belum bisa melepaskan style sinetron dalam menggarap film ini, padahal sinetron dan film adalah dua media yang sangat-sangat berbeda sekali.
Namun, bagi Anda yang menyukai novel-novel Mira.W sepertinya tidak ada salahnya menyaksikan film ini...
Film ini memuat elemen yang sangat lengkap untuk disebut sebagai summer blockbuster bagi perfilman Indonesia. Kapan lagi kita bisa melihat film Indonesia yang memiliki adegan balapan di Bunderan HI dengan mobil BMW yang di ekseskusi dengan sangat keren! Walaupun hal itu memang bukan main-course nya, tapi adegan tersebut terasa cukup memorable karna memang hampir belum pernah di temui di film Indonesia sebelumnya.
Chemistry antar cast nya yang sangat memukau, cerita dan skenario yang sangat fresh, dan teknis film nya yang sangat profesional dan juara.
Debut yang sangat menjanjikan bagi Sutradara Putrama Tuta! Film ini akan dan wajib sukses. Keren bgt, ciiiiiinggg!
Pasca kesuksesan luar biasa film Anthology horror PHOBIA (2008) dan sequelnya PHOBIA-2 (2009), Film Anthology horror sepertinya memang menjadi salah satu genre yang paling diminati di Thailand. namun kebanyakan para film 'pengikutnya' ini hasilnya bisa dibilang sangat mengecewakan, sebut saja HAUNTED UNIVERSITY (2009) dan DIE A VIOLENT DEATH (2010). Walaupun dari segi Box Office kedua film itu sangat berjaya di Thailand dan menjadi salah satu film terlaris disana, namun sayangnya kualitasnya tidak mampu menandingi Dwilogy Phobia yang bisa disebut sebagai pioneer film seperti ini. Tahun 2011 ini kembali muncul film anthology horror terbaru produksi Sahamongkol Media Channel berjudul LUD 4 LUD (DI Indonesia tayang dengan judulFOUR).
FOUR bisa disebut sebagai sebuah projek film anthology yang memang sudah Saya antisipasi sejak awal. Tentu saja karena deretan Sutradara yang terlibat didalamnya bisa disebut sebagai Sutradara 'papan atas' Thailand dengan karya-karya filmnya yang sudah tidak asing lagi tidak hanya di Thailand tapi juga di perfilman Internasional seperti 13 BELOVED (Chookiat Sakveerakul) , Ekkasith Thairath (Penulis Naskah BODY #19), Kongkiat Khomsiri(SLICE), dan Phawat Panangkasiri(SHADOWS OF THE NAGA). 4 film, 4 cerita, 4 Sutradara, sepertinya memang terlihat sangat menjanjikan.
Segment pertama dibuka dengan film berjudul CLEAN-UP DAY, di sutradarai oleh Ekkasith Thairathyang sebelumnya sukses menulis naskah film-film horror laris seperti 13 BELOVED, BODY #19 dan WHO R U. Segment ini menceritakan tentang seorang remaja yang hang-out di suatu mall bersama teman-temannya dan membicarakan tentang global warming dan virus yang bisa melakukan 'pemusnahan masal' terhadap manusia. Mereka asyik bercanda tentang betapa kerennya kalau serangan virus itu sampai terjadi, dan tanpa mereka sadari darah mulai keluar dari hidung mereka... dan obrolan iseng-iseng mereka tiba-tiba menjadi kenyataan dan teror yang menyeramkan.
Dari segi cerita memang tidak terlalu spesial, namun satu hal yang patut di highlight dari segment pembuka ini yaitu penggarapannya. Saya cukup dibuat terkejut dengan eksekusi one take long shot nya yang terlihat sangat keren. Hanya disatu lokasi dan satu kali take saja. Tentu saja teknik penggarapan film seperti ini sangat riskan, karena sekali saja melakukan kesalahan, sang Sutradara dan semua crew harus mengulang semua dari awal lagi. Untungnya untuk yang satu ini Ekkasith Thairathterbilang sangat berhasil dalam melakukannya, sinematografinya juga sangat lincah dan tidak terjebak dengan adegan 'membosankan' padahal hanya ber-setting di satu lokasi saja. Ditutup dengan adegan akhir yang sangat menarik yang mungkin akan membuat penonton menyesal tidak melakukan 'sesuatu' sebelum masuk ke bioskop dan menyaksikan film ini.
Segment kedua berjudul THE GIFT SHOP FOR THE ONES YOU HATE, disutradarai oleh Kongkiat Khomsiri, yang sebelumnya sukses menyutradarai film SLICE dan turut menangani film ART OF THE DEVIL. Segment ini menceritakan tentang seorang karyawan yang baru saja dipromosikan menjadi seorang manager, ia kemudian mendapat banyak sekali kado yang ternyata tidak semuanya berisi sesuatu yang ia inginkan. Terutama kado-kado yang dikirimkan oleh seseorang yang berasal dari sebuah Toko misterius bernama 'GIFT SHOP FOR THE ONES YOU HATE' yang menyediakan berbagai macam kado 'mengerikan' yang dapat membahayakan jiwa penerimanya. Hidupnya pun seketika berantakan dan dilanda paranoid ketika kado-kado tersebut mulai menampakkan 'wujud' aslinya.
Sejak awal saya mengetahui film ini dan membaca sinopsis segment satu ini, Saya sudah menyangka jika segment ini akan menjadi yang terbaik dari keseluruhan segment di FOUR, dan ternyata hal itu terbukti. Kisahnya begitu unik, inovatif, dan sangat orisinil. Begitupun dengan penggarapan yang sangat pas dari Kongkiat Khomsiriditambah akting akting yang meyakinkan dari bintang utamanya Pakorn Chatborirak. Belum lagi endingnya yang simply brilliant. Setelah menyaksikan segment ini, saya jadi penasaran dan sangat tertarik membeli beberapa barang dari Toko tersebut untuk diberikan ke beberapa 'teman'. Sangat Menarik!
Segment ketiga ini berjudul EERIE NIGHTS, disutradarai oleh Phawat Panangkasiriyang sebelumnya menyutradrai film Thailand bergaya noir yang berjudul SHADOW OF THE NAGA. Kali ini ia menggandeng aktorAnanda Everinghamdari film horror fenomenal SHUTTER. Segment ini menceritakan tentang seorang penjahat yang lari dari kejaran polisi. Ia berhasil kabur dari kejaran Polisi tersebut... tetapi tidak dari kejaran “karma” yang akan diterimanya.
Tak ada gading yang tak retak, Jika THE GIFT SHOP FOR THE ONES YOU HATE adalah yang terbaik, maka EERIE NIGHT ini bisa dibilang sebagai yang terburuk. Phawat Panangkasiriseperti kebingungan membawa segment satu ini kerah mana. Diawali dengan crime-thriller, lalu dipertengahan menjurus ke sesuatu yang sepertinya mengindikasikan adegan supranatural dengan beberpa 'penampakkan', dan lalu berubah lagi menjadi so-called slasher ala SAW. Sebenarnya jika digarap menarik hal seperti itu sah-sah saja. namun mengingat durasinya yang pendek, segment satu ini menjadi sangat tidak fokus dan membosankan. Bahkan Ananda Everingham yang beberapa waktu lalu baru saja menerima penghargaan sebagai Aktor Terbaik lewat ETERNITY tidak mampu memberikan performa terbaiknya disini. Segment satu ini bisa dibilang gagal dan cukup 'mengganggu' ke-solidan segment lainnya.
Segment Terahir berjudul HOO AA GONG, Disutradari oleh Chookiat Sakveerakulyang sebelumnya menghasilkan film-film sukses seperti 13 BELOVED dan LOVE OF SIAM. Segment ini menceritakan tentang keluarga yang agak 'sinting' yang berjanji kepada arwah dari kakek mereka untuk mempertahankan mayat sang kakek dirumah mereka sampai suatu kejadian tiba-tiba membuat semuanya malah menjadi kaca, saat sang kakek mulai 'meneror' para cucu dan semua anggota keluarga disfunctional ini.
Segment terakhir ini adalah horror-komedi, yang memang sepertinya wajib ada sebagai pemanis dari kengerian di segment lainnya. Mungkin jika di film PHOBIA ada di segment “IN THE MIDDLE” dan PHOBIA-2 di segment “IN THE END” yang sangat Hilarious itu. Terus terang sebagai film penutup, film ini sangat menyenangkan, segar, dan sukses membuat seisi bioskop menjerit dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Sesuatu yang Saya sebut sebagai "Pengalaman menonton film horror yang sebenarnya". Ibarat Dessert, segment satu ini adalah dessert yang sangat lezat. Saya dan nyaris seluruh penonton tidak berhenti tertawa saat menyaksikannya karena karakter-karakternya yang 'nyentrik' memang sangat menggemaskan dan piawai dalam memancing tawa. Belum lagi beberapa adegan horror-komedi yang bisa dibilang begitu fresh dan belum pernah ditampilkan di film sejenis sebelumnya. Pujian tertinggi tentu saja harus ditujukan kepada pemeran 'mayat kakek' yang sangat mengerikan tapi sekaligus selalu mengundang jeritan dan lalu tawa saat melakukan penampakannya. Walaupun ending dari segment satu ini tidak sesuai dengan ekspektasi Saya dan terasa sedikit absurd, namun semuanya tertutupi dengan hiburan yang sangat menyenangkan dari awal film ini sampai menjelang akhir.
FOUR memang bukanlah film anthology dengan tujuan menakuti-nakuti seperti horror anthology Thailand lainnya. Tetapi film satu ini memang sedang mencoba 'bermain-main' (dalam artian yang positif) dalam mengeksplore sebuah sajian horror. Hasilnya? Cukup berhasil menjadi sajian horror yang sangat menyenangkan untuk disaksikan. Perhatikan saja karakter di ending film pertama dan film terakhir yang sengaja dibuat tersenyum menghadap penonton dan seolah 'mengisaratkan sesuatu' ke seluruh penonton di Bioskop ala film FUNNY GAMESMichael Haneke. Tinggal MOOviers yang harus artikan sendiri, apa maksud dari senyuman itu. Recomended!
Hampir setipe dengan film pertama dan keduanya, begitupun formula yang dihadirkan. Jika MOOviers menyukai film pertama dan keduanya dan menganggapnya sebagai film yang lucu, silahkan saksikan film ini.
dan jika sebaliknya, ya.. terserah anda :).
Yang cukup di highlight di film ini adalah love-interest baru dari film ini yang dipernkan oleh Olivia Jensen yang tampil berbeda dan menawan dengan rambut panjangnya.Untuk urusan akting sih so-so saja, terutama para Changcuters yang masih menampilkan akting yang tipikal dengan film sebelumnya, mengandalkan kelucuan yang komikal dan tidak terlalu banyak perkembangan.
beberapa momen masih mampu memancing tawa, tapi tidak sedikitpula yang garing. Semua sepertinya memang tergantung selera humor.
Keunggulannya adalah dari teknis filmnya bisa dibilang lebih baik dari 2 film sebelumnya. Dari segi teknis inilah memang film TARIX JABRIX terbaik. Adegan kebut-kebutan di hutan, dan beberapa landscape indah di kawah putih di-capture dengan baik dengan sinematografi yang indah.
Biar bagaimanapun para Changcut-Ranger dipastikan akan menonton film ini jika tidak mau ketinggalan seri terakhir dari trilogy ini. Cheers!
Memang hanya ada 3 trend dalam film horror Hollywood belakangan ini : Remake , Remake, dan Remake! Bosan? Sudah pasti!
Entah sudah berapa puluh film yang dihancurkan saat dibuat versi remake nya oleh Holliwood. Untunglah Hollywood masih punya James Wan (Yeah..walaupun tidak bisa disebut sebagai Sutradara Hollywood juga, karena ia adalah kelahiran Malaysia).
Wan selalu tetap berhasil menghasilkan film dengan ide yang orisinil seperti yang ia hasilkan di film SAW pada awal-awal karirnya, yang kemudian film ini menjelma menjadi salah satu franchise horror raksasa sampai 7 sequel (Walaupun jujur menurut Saya pribadi hanya SAW pertama karya Wan itu yang benar-benar bagus dan sisanya yang dikerjakan oleh Sutradara lain kurang menarik lagi).
Dan yang terbaru, tahun ini ia melahirkan INSIDIOUS (yang mendapat banyak sekali pujian dari kritikus) dan setelah menyaksikannya ternyata semua itu memang terbukti. Kolaborasinya dengan Produser yang 'menggebrak' dengan karya fenomenalnya 'PARANORMAL ACTIVITY' ini tampil sebagai film yang mencekam.
Tidak bisa dipungkiri, sebagai Sutradara kelahiran Asia, sangat terasa sekali nuansa horror Asia di film ini. Lengkap dengan sosok hantu nya yang ber-citarasa Asia (hantu nenek berkerudung membawa lilin itu sangat juara!). Itulah yang membedakan INSIDIOUS dengan horror hantu-hantuan Hollywood lainnya. Khususnya Kita yang tinggal di Asia, pasti akan lebih relate dengan horror ber-gaya Asia, dibanding horror Hollywood yang lebih sering tampil konyol daripada seram.
Wan sukses meracik adegan-adegan horror 'penggedor-jantung' dengan perlahan namun seluruhnya sukses tampil menyeramkan.Naskah yang dikerjakan Leigh Whannell juga begitu menarik, simple, namun tepat sasaran. mereka berhasil menempatkan adegan-adegan horror yang sebenarnya tipikal film horror lain, namun tetap terasa segar dan berbeda.
Mungkin yang kurang Saya sukai hanya adegan-adegan menuju ending yang mulai terasa sangat Hollywood, sehingga mengurangi kengeriannya. Namun untungnya hal tersebut masih dalam taraf yang tidak terlalu mengganggu.
Intinya film ini adalah salah satu horror terbaik tahun ini. Seperti yang selalu saya bilang, horror yang berhasil adalah horror yang sesuai dengan 'misi dari film horror' itu sendiri yaitu menimbulkan suasana yang mencekam dan menularkan ketakutan sang karakter dalam film ke penonton, dan untuk hal itu film ini sangat berhasil.
Ada yang menganggap Twilight Saga sebagai mimpi terburuk film-film romantis remaja bergaya fantasy?
sebaiknya jangan dulu menarik kesimpulan seperti itu sebelum menyaksikan BEASTLY.
BEASTLY bahkan masih beberapa tingkat dibawah Twilight dalam segala hal. Kisahnya yang begitu dangkal, Akting yang flat, dan skrip yang begitu tipis dan membosankan.
Tidak ada usaha dari filmmakernya untuk membuat kisah yang memang sudah sangat familiar ini menjadi kisah yang berbeda dan menarik. Semuanya terasa datar.
Overall, ini adalah jenis film yang mungkin akan langsung dilupakan oleh penonton beberapa menit setelah keluar dari Bioskop.
Dan sayang sekali Alex Pettyfer dan Vanessa Hudghes gagal menjadi 'Edward-Bella' baru seperti yang mungkin mereka harapakan karena filmnya terbukti flop...
Dengan membawa nama besar John Carpenter, filmnya menurut saya terasa sangat mengecewakan...
Apalagi film ini merupakan comeback Carpenter setelah bertahun-tahun sebagai "Master Of Horror" yang sudah sangat dinantikan oleh para fans film horror di seluruh dunia.
Naskahnya terlalu standar, klise, cukup banyak plot-hole, dan akting dari jajaran pemainnya juga terasa standar dan kurang meyakinkan. Amber Heard juga kurang 'nendang' sebagai tokoh utama. Begitupun dengan ketegangan yang coba dihadirkan, terasa sangat flat... dan errr... membosankan dan gagal membuat penonton ketakutan.
Diakhiri dengan twist ending yang bisa dibilang sangat basi, yang membuat saya berteriak sendiri dalam hati.. " Ohh... C'Mon.. Tahun 2011 masih jaman ya gunain twist ending seperti ini? sudah terlalu generik!"
Overall, comeback yang sayang sekali kurang berhasil untuk Sutradara yang dijuluki Master Of Horror ini... duh.. sayang sekali Mr. Carpenter!
Inilah sequel film slasher yang memang paling saya tunggu tahun ini, secara saya memang adalah fans berat franchise ini sejak awal. dan ternyata setelah 10 tahun lebih vakum sejak seri terakhirnya SCREAM 3 (2000) Wes Craven dan SCREAM-gank tetap tidak berkurang ke-solid-annya...
Mungkin yang membedakan seri ini dengan seri-seri sebelumnya adalah banyaknya dialog cerdas yang berisikan 'sentilan' atau sindiran ke pakem film-film horror saat ini (khususnya horror remake) yang sukses membaut saya terbahak-bahak, karena memang dialognya sangat lucu dan menurut saya sangat pintar dan 'nendang'. Skenario dari Kevin Williamson tidak try-too-hard-to-be-smart, namun jalinan kisahnya sangat menarik dan tidak pernah kehilangan momen-momen terbaiknya (even itu momen komedi ataupun momen horror nya).
Wes Craven juga kembali bisa menunjukan kemampuan terbaiknya, setelah beberapa filmnya belakangan terasa sangat payah (yang terburuk adalah film terakhirnya yang rilis tahun lalu MY SOUL TO TAKE's so fuckin' sucks). Ia berhasil menghadirkan kengerian di setiap momen-momen pembantaian dan kemunculan Ghostface yang masih sukses membuat merinding, maupun momen-momen komedi horror yang satir.
dan Twist endingnya juara dan masih tetap kreatif seperti seri sebelumnya.
Semoga SCREAM 5 dan SCREAM 6 bisa segera diproduksi ya, Oom Craven!Can't hardly wait... :)
Dari salah satu penulis naskah film horror Thailand fenomenal SHUTTER dan ALONE. Film ini memang sudah seharusnya tampil menjanjikan.
Walaupun film pertama sang Sutradara yang sukses memenangkan audience choice di INAFFF yaitu COMING SOON, menurut saya pribadi tidak terlalu bagus, namun tetap saja filmnya berhasil tampil menyeramkan.
Ternyata film ini walaupun ternyata masih dibawah ekspektasi Saya sebagai "Film Horror Terlaris Thailand" Tahun ini, namun masih mampu menghadirkan momen-momen horror yang mencekam.
Kisah urban-legend mengenai rumah berhantu sebenarnya sangat standar dan memang jujur saja tidak ada yang terlalu istimewa dari naskahnya, namun kemampuan sang Sutradara mengolah adegan-adegan horror yang superior membuat kelemahan dalam naskah dan beberapa plot-hole di film ini masih dalam tahap yang tidak terlalu menggangu.
Porsi drama dan horror nya pun cukup seimbang, walaupun seperti film Thailand kebanyakan, durasi filmnya masih terasa terlalu panjang, sehingga masih terasa kurang solid dan cenderung di panjang-panjangkan.
Namun scene-scene horrornya dan terutama penampakan hantu nya yang menyeramkan, sukses membuat saya -dan hampir semua penonton- berteriak dan melompat dari kursi.
Bukankah memang misi utama dan esensi dari film horror seperti itu? Penonton ikut merasakan kengerian dan atmosfir dari filmnya, berteriak dan terlonjak dari kursinya. Seperti itulah pengalaman menonton horror yang sesungguhnya. Dan LADDA LAND terbilang sukses dengan hal itu!
Rasanya komen di Posternya memang tidak terlalu berlebihan... LADDA LAND "REALLY SCARY". Ditengah sepi nya film horror Thailand setahun belakangan yang lebih didominasi oleh film RomCom ini, LADDA LAND sangat Recomended! Selamat menonton!
Saya suka eksekusi sang Sutradara saat membedakan tone saat Bradley Cooper "In High" dan pada saat dy lepas dari pengaruh obat itu. Cool, n sinematografinya juga lincah dan keren..
yang jelas setelah nonton film ini saya begitu mupeng se-mupeng2nya buat minum pill NZT itu... bisa dibeli dimana ya?
memang harus diakui film ini berisikan adegan-adegan template khas slasher. Namun naskah dan terutama joke-joke yang dihadirkan terasa cukup menyenangkan dan tepat sasaran. Ditambah dengan efek gore yang meyakinkan.
Namun jika harus disandingkan dengan SHAUN OF THE DEADnya Edgar Wright seperti komen di posternya, saya jelas kurang setuju. SHAUN tentu saja msih beberapa tingkat diatas lebih keren dan dahsyat dibanding film ini.
Namun untuk para fans slasher (Seperti Saya contohnya) pastinya akan sangat terhibur dan enjoy menyaksikannya... :)
Premis yang ditawarkan sebenarnya menarik, sayangnya tema besar yaitu "BATAS" dan konflik perbatasan yang seharusnya akan sangat menarik jika di-eksplore lebih mendalam, terpinggirkan dengan adegan-adegan yang hampir 90% di dominasi oleh sosok Jaleswari dan segala problematikanya, sehingga porsi aktor maupun sub-plot lain tidak ada yang tergarap dengan tuntas dan nanggung. Saya pribadi merasa naskahnya terlalu pretensius dan cenderung membosankan (pendapat saya pribadi dan beberapa teman yang juga menyaksikannya)
Namun harus diakui akting para aktor/tris di film ini memang patut diberikan pujian, begitupun dengan teknisnya (lengkap dengan handheld camera di beberapa scene khas Rudi yang untungnya di film ini tidak terlalu mengganggu). Bukan yang terbaik untuk tahun ini, namun film ini pantas diapresiasi.
Film yang membuat Saya merinding saat menyaksikannya.
Film ini lebih light dari INCEPTION tapi memiliki unsur kejeniusan yang sama dgn film dari Nolan tersebut. Naskahnya begitu cerdas dan orisinil. dan Sang Sutradara Duncan Jones mampu mengemas adegan yang menegangkan, adegan drama, dan bahkan adegan romantis dengan sangat pas dan wah.
di salah satu scene saya bahkan nyaris berkaca-kaca dan freezing scene menjelang akhir itu sangat keren dan menggetarkan.
Kandidat terkuat Film terbaik tahun ini tentu saja... LOVE IT! Duncan Jones did it again, stelah debutnya yang mendapat pujian luar biasa lewat MOON! Bravo!!!
Film thriller yang cukup menarik. Menampilkan comeback Kevin Costner dan penampilan terbaru dari Ivana Baquero pasca perannya sebagai Ofelia dalam Pans Labyrinth.
Ketegangan berlangsung merambat dan jalinan kisahnya cukup sukses membuat penasaran terutama transformasi yang terjadi pada diri sang anak yaitu Louisa. Filmnya juga diakhiri dengan ending yang cukup mengejutkan.
Akting Costner standar, begitupun yang ditampilkan Ivana yang cenderung so-so saja (jauh sekali dengan penampilannya di PAN'S LABYRINTH) tapi overall filmnya masih layak untuk disaksikan dan cukup menegangkan...
FTV dalam versi layar lebar... itulah Purple Love! Dihiasi dengan soundtrack lagu UNGU yang berjumlah 12 track, menyaksikan film ini seperti menyaksikan VCD Video Clip UNGU, hanya saja kali ini ditampilkan dalam layar yang lebih besar.
Semua elemen dalam film ini nyaris seperi FTV rutinan yang hampir tiap malam tayang di tv. Teknis standar, dan terlebih lagi akting dari band UNGU terlihat kaku dan mengerikan. Joke-joke yang dihadirkan juga hampir semuanya gagal, pun momen-momen sedih yang coba dihadirkan juga terasa 'kering' dan tak bernyawa.
Film ini sedikit diselamatkan dengan Akting Nirina Zubir yang cukup meyakinkan.
Yeah.. intinya film ini hanya disarankan untuk fans-fans UNGU yang mungkin akan berteriak-teriak histeris memanggil-manggil nama Pasha sepanjang film. Yeah.. Unyuuu -___-
Filmnya cukup terbantu dengan nama besar James Cameron...
Terus terang kisahnya terlalu dangkal, dan karakter-karakternya gagal membuat penonton bersimpati sehingga kita tidak peduli lagi dengan nasib dan bahaya yang akan mereka alami kelak.
Keunggulannya hanya dari segi pemandangan bawah laut dalam gua itu yang terlihat cukup menakjubkan. Sayangnya hal itu tidak didukung oleh skrip yang menarik. dan soal ketegangan juga sayang sekali film ini gagal dalam eksekusinya.Saya jadi merasa sepertinya Alister Grierson sepertinya harus belajar banyak dari Neil Marshall yang sebelumnya dengan luar biasa berhasil menggedor jantung dalam menebar teror dalam setting yang sama dengan film ini (clausthropobic dalam gua.. (tanpa laut memang di film Neil Marshall)) lewat filmnya THE DESCENT yang begitu mencekam atmosfirnya dan dengan kisah yang jenius...
MY SASSY GIRL (korea) is one of my most fave korean movie of all time! tapi seperti biasa Hollywood slalu menghacurkan nya di remakenya.
Padahal dengan "Girl Next Door" Elisha Cuthbert sebagai Sassy Girl dan Yann Samuel sutradara keren yang sudah menyutradarai RomCom jempolan LOVE ME IF YOU DARE harusnya film ini jadi keren dan menjanjikan. Tapi sayangnya terlalu banyak kisah di versi asli-nya yang diacak-acak, dan bukannya malah jadi bagus, tapi malah berantakan. Poin-poin penting di versi aslinya justru tidak ditampilkan di remakenya ini.
Dan chemistry Jesse Bradford dan Elisha Cuthbert gak nampol sama skali. sangat berbeda jauh dengan apa yang ditampikan Gianna Jun dan Cha Ta Hyun di film aslinya.
SUCKSEED sukses membuat saya tertawa terbahak2 dari awal film sampai ending tanpa kendor!
karakter2nya sangat Hilarious, lovable, n totally crazy! joke2 n skripnya sangat fresh.sbagai sebuah debut bagi sang Sutradara di film layar lebar, film ini luar biasa berhasil menjadi film yang memorable, mengangkat dengan porsi yang pas tentang persahabatan dan kisah cinta yang sweeeet dan pastinya LOL funny! Tidak heran film ini menjadi film terlaris di Thailand tahun ini...
Thai RomCom kembali berhasil mencuri perhatian Saya setelah BANGKOK TRAFFIC LOVE STORY, HELLO STRANGER, dan terakhir CRAZY LITTLE THINGS CALLED LOVE! Can't hardly wait 4 next Thai RomCom Hits! :)
Salah satu film terlaris di HK ini Penggarapan dari sang sutrdara Eva Jin mengingatkan saya akan film Perancis AMELIE arahan Jean Pierre Jeunet. Karakter Zang Ziyi sbagai wanita nyentrik dibuat mirip dengan kepolosan Audrey TauTou di Amelie. Tapi tentu saja film ini tidak se-brilian Amelie.. jauh sekali dibawahnya bahkan.
Tapi overall filmnya menghibur, dan saya suka dekorasi set dan sinematografinya yang unik... sangat eye-catchy, namun sayangnya kisahnya standar RomCom dan kurang menarik. Kelucuannya juga standar saja... tapi at least entertaining lah dibanding film2 RomCom lain yang kadang try-too-hard...
Awalnya Saya tertarik menyaksikan film ini sekedar membuktikan sederet pujian dari para tokoh besar di trailer filmnya. Tapi saat sudah menyaksikannya saya jadi ragu apa sebenarnya tokoh2 besar itu sudah menyaksikan filmnya saat memberikan pujian-pujian itu, ya?
Filmnya berjalan dengan datar dan luarbiasa membosankan dari awal sampai akhir. Skrip dan penyutradaraan Damien yang 'bisa segalanya ini '-maaf sekali- sangat kacau. Dengan Skrip yang ditulis sendiri olehnya seharusnya akan memudahkan Damien untuk mengekspolre naskahnya sendiri. Tapi Ia seperti kehilangan arah dan 'kebingungan' ingin dibawa kemana film ini.
Banyak adegan-adegan yang benar2 pointless, dan tidak jelas sebenarnya mau diarahkan kemana. Tidak berkesinambungan antara satu adegan dengan adegan lainnya .Ibaratnya Menonton film ini seperti menyaksikan sebuah slideshow yang berantakan di sebuah presentasi. Tentu saja departemen editing yang harus disalahkan untuk hal ini. Oh.. ternyata Demian juga yang bertindak sebagai Editornya! Baiklah...
Scoring musicnya juga sangat mengganggu. Tidak pas dan out-of-place sekali. Sepertinya tidak setiap adegan harus ada music nya deh. Dan belum lagi lagu yang diulang-ulang. Tentu saja untuk hal ini Departemen Penata Musik yang harus disalahkan. Dan ternyata Music Director film ini adalah Damien juga! Ok.. baiklaaahh...
Dari segi akting juga seluruh pemainnya benar2 gagal mengekspresikan karakternya masing2. Datar,flat, boring, dan nyaris tanpa emosi sama sekali. flaaattttttt. Mereka gagal membuat penonton bersimpati atau merasa peduli dengan para tokohnya. Tidak ada chemistry sama sekali antar semua karakternya.
Seharusnya film yang mengambil tema anak-anak seperti ini even memiliki cerita yang standar saja misalnya, tapi at least menghibur saat ditonton. Tapi sayangnya unsur "menghibur" pun juga gagal ditampilkan dalam film ini. Teman2 Fi'i yang seharusnya bisa jadi unsur yang bisa membuat film ini 'meriah', juga malah kelihatan annoying.
Dan lagi-lagi kesalahan utama tentu saja harus diarahkan ke Damien Dematra. Di film ini ia menjabat 6 Departemen sekaligus : Produser, Sutradara, Penulis Naskah, Director of Photography, Editor dan bahkan Music! Duh.. gimana bisa fokus toh? Sekedar saran semoga saja next film Damien bisa lebih bijak dengan fokus di satu departemen saja supaya filmnya bisa lebih baik lagi.
Semoga Damien bisa memperbaiki kekurangan2 nya di sequenya SI ANAK PANAH! Baiklaaaahhhhh...
Sudah lama saya tidak tertawa terbahak-bahak di bioskop saat menyaksikan sebuah film, dan ternyata kemarin saya mendapatkan experience itu lagi ketika menyaksikan film ini di Festival Sinema Perancis. Film ini memang menjadi salah satu highlight di FSP tahun ini, dan film ini memang menjadi salah satu film terlaris di Perancis tahun lalu.
Kesamaan ide memang seringkali terjadi di dunia perfilman (Entah disengaja atau tidak). Bahkan ide film ini langsung mengingatkan Saya akan film Indonesia HEARTBREAK.COM (beruntung HBDC ini tayang lebih dulu sehingga tidak dituduh plagiat blablabla) dan film Korea CYRANO AGENCY yang juga memiliki ide yang sama.
Tapi terus terang saja dari contoh 2 film yg ide nya mirip HEARTBREAKER ini, film Perancis ini paling unggul dari semuanya. Naskahnya sangat rapih, joke-joke dan scene comedy nya sangat fresh, dan Akting para Aktor/Tris nya sangat belivable dan pas dengan karakternya masing2.
Pascal Chaumeil begitu cerdas merangkai semua momen2 komedi yang mungkin memang sudah beberapa kali muncul di film Rom-Com lainnya menjadi sesuatu yang baru, fresh, dan sukses membuat penonton tertawa terbahak-bahak! Penggabungan komedi yang Hilarious dan romansa yang sweeeeet yang begitu PAS!
Kandidat Film Rom-Com Terbaik Tahun ini di List Saya. Highly Recomended!
Dalam beberapa tahun terakhir Luc Besson sepertinya lebih fokus ke film2 bertema fantasy. Setelah sukses dengan trilogy animasi ARTHURnya (2007-2010). Ia kembali dengan Adele Blanc Sec. Sebuah film ala2 indiana jones namun dengan tokoh wanita cantik yg 'nyentrik'.
Tidak ada yang spesial sama sekali dari naskahnya, berisikan hal2 cukup klise dari film2 eksplorer sejenis, dan komedi yang dihadirkan pun masih sangat komikal dan (errr... slapstick!). Poin plus mungkin adalah dari special effect nya yang tergolong sangat baik (khususnya untuk film non-hollywood). Effect seperti dinosaurus terbang, mumi-mumi yang hidup cukup terlihat smooth dan belivable.
Overall, Adelle masih cukup fun untuk dintonton, biarpun setelah keluar dari bioskop mungkin penonton akan cepat melupakan cerita filmnya yang terlalu ringan..Yeah...Terlalu ringan untuk Sutradara yang pernah menghasilkan film2 keren seperti LEON dan THE FIFTH ELEMENT!
Jujur, TANDA TANYATidak se-fenomenal dan se-wah yang saya bayangkan saat membaca sinopsisnya. Tapi harus diakui idenya memang menarik n sangat berani. Dengan mengangkat tema yang 'besar', Sayangnya di beberapa adegan yang mengangkat 'keragaman umat beragama' ini masih terasa kurang maksimal dan kurang 'mengena'. Salah satu contohnya adalah Plot Agus Kuncoro sebagai aktor yg beragama muslim yang memerankan peran sebagai Yesus itu kalau di-eksplore lebih baik lagi seharusnya bisa jadi part paling menarik di film ini. Pergolakan bathin Agus Kuncoro justru tidak terlalu ditonjolkan, padahal kalau ini dilakukan pasti akan sangat 'nendang' dan emosionil, tp sayangnya plot paling menarik di film ini itu hanya terkesan 'selewat' saja, dan kurang diperdalam.
Dari segi Akting semua bermain aman terutama Reza Rahardian yg memang semakin membuktikan kalau dia adalah aktor muda paling berbakat di Indonesia, Satu-satunya yang cukup mengganggu saya hanya penampilan dari Endhita yang errr.. jujur saja tampil dengan tidak meyakinkan, padahal ia salah satu karakter penting disini.
Tapi saya akui film ini sangat unggul dari segi teknis dan sinematografinya yang sangat baik dan menawan, dan pesan dari filmnya sendiri lumayan mengena dan tersampaikan dengan cukup baik. dan kredit lebih untuk Hanung yang Adil dalam memberikan porsi untuk agama-agama di film ini, sehingga tidak terasa berat sebelah dan hanya menyorot lebih banyak ke salah satu agama saja.
Jika naskahnya digarap lebih baik lagi (dan konflik antar tokohnya lebih dibenahi supaya tampil lebih menarik dan menyentuh) seharusnya film ini bisa tampil lebih baik lagi. Tapi salut untuk keberanian mengangkat tema yang cukup sensitif tentang isu SARA yg memang pasti akan mengundang kontroversi di negara kita ini. 'Tamparan' yang cukup 'dalem' dari Hanung untuk orang2 munafik di negeri ini. Recomended!
Film dengan tema balas dendam memang selalu menarik minat saya. Film dengan tema seperti ini mnurut saya sejauh ini masih dijuarai oleh sineas Korea. Tahun lalu ada 2 film korea dengan tema revenge yg sangat brilian dan langsung menjadi film favorit saya yakni I SAW THE DEVIL dan BEDEVILLED. dan kenapa saya membahas film korea? ya, karena film TEBUS ini mengusung tema yang sama yakni "balas dendam yang berdarah" Woohoo..it's gonna be bloody cool! -pikir saya sebelum menontonnya- tapi setelah menontonnya ternyata... errrrrr...
TEBUS sebenarnya memiliki premis yg menarik. naskahnya juga harus diakui cukup oke. saya suka beberapa twist-twist dalam ceritanya (predictable sih jujur saja), alur kisahnya yang dibuat tidak linear, itu cukup keren. sayangnya, sekali lagi eksekusi...eksekusi...eksekusi... yang menentukan segalanya. Film ini benar-benar kedodoran di eksekusi dari sang sutradara. Filmnya masih terjebak beberapa elemen -lagi2- sinetronisme yang berlebihan yang saat saya mulai menikmati filmnya, tapi kemudian langsung turn-off seketika begitu elemen sinetronisme itu muncul (dan berulang).
Tensi ketegangan yang ingin dibangun juga gagal, khususnya untuk saya penikmat genre seperti ini yang mengharapkan jump-scare momen dan perasaan 'gregetan' saat menyaksikan para protagonis dalam situasi terjepit, merasa flat-flat saja saat menyaksikannya.
Teknisnya untuk sajian layar lebar menurut saya juga kurang cinematic. Dan saya cukup terganggu dengan efek fake-blood dan brutal-scene nya yang terlihat sangat tidak meyakinkan. Tyo Pakusadewo tampil prima (seperti biasa), Revaldo (dia berperan sebagai pemadat, so, itu berarti dia gak akting kan disini?hehe), selebihnya so-so. yang cukup mencuri perhatian menurut saya justru Aktor cilik Dayat. karakternya seperti apa, saya tidak bisa bocorkan takut spoiler...
Sayang sekali sebenarnya, padahal jika di eksekusi lebih matang dan serius lagi padahal film ini bisa berpeluang untuk jadi something dan bukan tidak mungkin akan mengikuti jejak kesuksesan PINTU TERLARANG di ajang Festival Film bergenre fantastic di mancanegara. Tapi overall, film ini masih layak tonton ketimbang film2 Indo crap yang rilis belakangan ini... selamat menonton! :)
Scene komedi yg slapstick (dan terlalu bodoh untuk diketawain), joke2 yg crunchy as hell, akting yang poor n super annoying...
Ohh.. C'Mon.. MR. Rob Scneider... Anda mungkin cukup berbakat sbagai Aktor Komedi.. tapi Anda sama skali gak berbakat utk menyutradarai film... jgn serakah deh!
spanjang screening seisi bioskop mengheningkan cipta... doh... ini film komedi atau apa sih sbenernya??? -_____-
Scene opening film ini sbenernya langsung mebelalakan mata saya... scene Uli Auliani masturbasi di bathtub dengan backsound rintihan2 menggairakhan itu sangat menarik sekali dan langsung membuat saya berfikir akan menyukai film ini..
tapi sperti kbanyakan 'penyakit' film indonesia, semakin ketengah smakin kdodoran dr segi cerita dan eksekusi, yg malah mulai menjurus ke "sinetronisme". padahal ide perselingkuhan ini jika digarap dengan serius dari segi naskah pasti akan menarik skali sbenernya.. sexy n hot.. tp sayangnya gagal di visualisikan di film ini.
uli auliani berakting aman (salut utk totalitasnya naikin berat badan sampe terlihat sperti 'wanita dewasa') akting bitchy n seductive nya ok. mario lawalata berperan sbagai dirinya sendiri(playboy, hahaha) so ga usah dibahas.
Selain scene2 ML nya yang cukup menggoda :D (thanks utk LSF yang kali ini tidak terlalu over-acting dalam membabat smua adegan2 yg mnurut mereka melanggar norma2... for the f*ck shake atas nama MORAL), klebihan film ini adalah kamera yg digunakannya RED One Camera (yang kata Sutradaranya Jose Purnomo) pertama kali digunakan di film Indonesia (seingat saya film Indonesia SEPULUH pernah menggunakan kamera yyg sama sebelumnya). tp sudahlah ya... saya akui kualitas gambarnya memang juara.
sayang sekali kualitas gambar yang juara itu tidak diimbangi dengan naskah dan eksekusi yang juara pula. tp usaha untuk membangkitkan kembali "Film-film dewasa 21+" (pure film bertema dewasa.. bukan film esek-esek berkedok komedi atau horor konsumsi remaja) patut diapresiasi... :)
Cuma satu kalimat : "Khas film Nayato". sepertinya udah menjelaskan smuanya.
Sinematografi -yang maunya- stylish (tapi hasilnya bikin kepala yg nonton pusing), lengkap dengan nayato-universe yg emang udah jadi template nya slama ini (gak peduli genre film apapun film buatannya): hujan, gelap, settingan wong-kar-wai wannabe, n yess.. pastinya scene cewe2 ganti baju yg sperti biasa di-shoot berlebihan.
ceritanya? familiar sekali... seperti THE HANGOVER ( hangover versi KW 15 ) cuma ini dalam versi cewek2 binal. dan jangan lupa tambahkan isu "human trafficking" supaya filmnya kelihatan berisi dan BERBEDA dari film2 indo2 kbanayakan.. sangat jenius!
so, moral of the story is... SATU MALAM BISA MERUBAH SEGALANYA, LHO...
Sutradara film ini Banjong pisanthanakun sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara film horror. Bersama rekannya Parkpoom wongpoom ia sudah menghasilkan horror fenomenal SHUTTER (yang seperti biasa project remake nya di buat hancur-lebur jadi jelek luar biasa oleh Holliwood), dan kemudian diikuti pula dengan kesuksesan film horror kolaborasi kedua mereka yang berjudul ALONE.
Baru pada saat membuat anthology horror yang juga sukses besar "Phobia" , mereka mulai bekerja sendiri-sendiri. Parkpoom setia dengan pakem horror nya, sedangkan Banjong mulai menunjukkan passion nya yg sesungguhnya dibidang komedi dengan menghasilkan segmen horror-comedy berjudul IN THE MIDDLE yang sukses paling mencuri perhatian dari semua segment dalam film Phobia.
Kemudia Ia pun mengulangi kesuksesannya lagi saat menggarap segment IN THE END dalah sequel film itu Phobia-2, yang jujur saja menurut Saya pribadi jika tayang terpisah dengan film lain dalam anthology ini, IN THE END bisa saja disebut sebagai salah satu film pendek terbaik yang pernah saya tonton. Totally Hilarious, tapi dilain sisi juga sangat satir menyindir pakem film horror saat ini. Sungguh Brilliant!
Maka pada saat mengetahui kalau Banjong akan menggarap film non-horror pertamanya dengan genre romantic-comedy, Saya jadi salah satu yang paling tidak sabar menunggu karya terbarunya ini.
HELLO STRANGER bercerita tentang seorang cowok annoying ( yang mungkin akan jadi salah satu cowok paling tidak ingin ditemui di dunia nyata oleh para cewek) saat ikut tour ke Korea, tanpa sengaja bertemu dengan seorang cewek asal Thailand juga yang begitu menggilai serial tv Korea. Karena kejadian yang tidak mereka duga, ahirnya mereka dengan terpaksa menghabiskan liburan di Korea itu bersama, melewati rentetan kejadian gila-gilaan, dan sepakat untuk tidak saling mengenalkan nama masing-masing. Yeah.. sampai ahir cerita penonton tidak diberitahu nama kedua tokoh kita ini.
Sudah bisa ditebak, timbul cinta diantara dua karakter yang sangat berbeda ini. Lantas apakah hubungan mereka akan happy ending? Tunggu kejutan di ahir kisah... :)
Kalau dilihat dari plot nya, sepertinya tidak ada yang istimewa dalam film ini, plot nya khas RomCom. Boys meet girls, they fallin love, and then... happy ending? .
Tapi tunggu dulu, film ini ternyata tidaklah se-simple itu.
Hello Stranger punya keunggulan yaitu muatan satir yang sangat kental. Film ini sangat jelas ‘menampar' kultur para masyarakat Thailand (khususnya anak-anak muda Thailand) sekarang yang terlalu meng-agung kan dan ter-invasi pop-kultur dari Korea dan nyaris melupakan kultur asli dari Negara mereka sendiri.
Jika di Indonesia sendiri, tayangan televisi kita di-invasi oleh sinetron-sinetron busuk, pertelevisian di Thailand sendiri lebih beruntung, saat ini gencar di invasi oleh serial televisi dari Negara Korea, yang jika dibandingkan dengan sinetron kita tentunya seperti langit dan bumi dalam hal production value.
Tapi karena kadar nya sudah telalu berlebihan, dan nilai-nilai tradisi di Thailand juga nyaris bergeser digantikan oleh kultur Korea, Menurut kabar yang Saya dengar, Sutradara film ini punya kegelisahaannya sendiri dan dengan berhasil ‘menyindir' dan ‘menampar' keras dengan dialog-dialog maupun adegan di Hello Stranger yang benar-benar membuat penonton (khususnya yang paham akan issue ini) terbahak-bahak tapi dilain sisi juga ‘tertampar'.
Karakter yang pro serial korea diwakili oleh sang cewek, dan yang apatis akan hal tersebut diwakili oleh sang cowok. Complete! Serial Korea hits seperti Coffe Prince, Princess Hours, dan Winter Sonata, tidak luput kena sindiraan dan jadi joke segar di film ini.
Kelebihan dari Banjong adalah dia mampu membuat joke2 yang benar-benar fresh dan orisinil. Nyaris semua adegan yang memang ditujukan untuk komedi, berhasil membuat Saya dan penonton lain terbahak-bahak di tiap menit nya. Tunggu sampai kalian lihat adegan saat sang cowok memparodikan serial Winter Sonata di patung actor korea terkenal Bae yong Jun. Saya nyaris tidak bisa berhenti tertawa saat melihat scene itu. Dan menyebut beberapa scene komedi yang memorable di film ini buat Saya sangat susah disebutkan... saking banyaknya.
Kelebihan lain dari film ini tentunya juga terletak pada acting dua karakter sentralnya. Sang cowok ("Ter" Chantavit Thanasevi dari film horror sukses Coming Soon) dan sang cewek ( aktris pendatang baru "Noonaa" Neungtida Sophon) menunjukkan chemistry yang luar biasa. Akting mereka sangat meyakinkan, dan tabrakan keuda karakter ini sungguh menggemaskan sehingga kita sebagai penonton sanggup terhanyut dalam emosi mereka berdua. Melihat kegemilangan acting mereka bukan mustahil mereka akan menjadi next rising star di Thailand.
Selain unsur happy-happy-joy-joy tadi, layaknya RomCom lain, film inipun punya momen-momen yang memancing airmata, khususnya seperempat durasi ahir. Cukup berhasil, tapi untuk part yang satu ini, Thailand sepertinya masih perlu belajar banyak dari sineas korea yang memang paling handal dalam memeras airmata penontonnya.
Satu lagi, entah mengapa Saya merasa film ini sangat mirip dengan RomCom masterpiece "My Sassy Girl". Saya malah merasa film ini seperti My Sassy Girl dengan karakter gender yang dibalik. Plot karakter yang ‘tanpa nama' , dan bahkan beberapa adegan sangat mirip, tantangan-tantangan sang cewek, scene gila-gilaan di bar, sepatu high heels, mabuk di hotel, its so... My Sassy Girl!
Entah itu ditujukan Banjong untuk homage, atau memang Banjong juga begitu ter-influence dengan film yang jadi benchmark di dunia sinema RomCom Korea itu, tapi seperti yang selalu Saya bilang sebuah homage selama berhasil diramu dengan fresh dan malah bisa dibuat lebih baik dari objek homage nya, Saya sebagai penonton sama sekali tidak merasa terganggu karena nya.
Ditengah keringnya RomCom yang fresh dan berkualitas dan generic dari segi tema, HELLO STRANGER adalah paket lengkap contoh sebuah RomCom yang berhasil, sangat berhasil malah menurut Saya. Plot nya tidak melulu berfokus pada cinta-cintaan karakternya saja, tapi juga ada message yang ingin disampaikan. Sukses menggabungkan romansa yang sweet dengan sindiran issue yang update. Joke-joke nya fresh dan dengan sukses sangat-sangat menghibur penontonnya.
Jika tahun lalu saya memilih (500) Days of Summer sebagai Romantic-Comedy terbaik dan favorit Saya di tahun 2009. Tahun ini Hello, Stranger sepertinya bisa menjadi kandidat terkuat untuk posisi yang sama.. :)
Dan melihat ending film ini membuat Saya sepertinya tidak sabar menunggu sequelnya...
Sejak THE EYE dan sequelnya THE EYE 2 memang nyaris smua film Pang Brothers jeblok dari segi kualitas...
diperparah dengan 'hijrah' nya mereka ke Holiwood dengan bikin "The Messengers" dan "Bangkok Dangerous" yang ternyata juga ga bisa bicara apa2...
dan setelah mentok dengan variasi film2 yg udah dibuatnya.. mereka back to basic ke nama besar THE EYE... dan ternyata seri terbaru THE EYE ini adalah yang TERBURUK mnurut saya (THE EYE 1 the best... THE EYE 2 lumayan... THE EYE 10 (seri ketiganya) lumayan fun) tapi CHILD'S EYE ini benar2 'sampah'
gak jelas mau dibawa kmana filmnya.. akting sucks.. plot amburadul... dan bahkan gak serem sama skali.. dan sebagai film yang memang ditujukan untuk 3D.. film ini bnr2 gagal!
EPIC FAIL buat film horror asia! bakat mereka saat bikin THE EYE (Hongkong) yang dulu sukses bikin saya merinding sepertinya skarang udah menguap entah kmana... payah!
Dari Sutradara yang sama yang menggarap film yg sukses luar biasa di Thailand MY GIRL (FAN CHAN-2003), lahirlah film ini. Sutradaranya sudah vakum cukup lama pasca kesuksesan film My Girl, tapi ternyata kemampuannya dalam mengolah adegan2 komedi2 yg segar dan joke2 yang 'nampol' yang sukses bikin saya ga berhenti ngakak2 spanjang film masih tetap bisa disaksikan disini.
Karakter anak2 juga masih menjadi fokus utamanya (seperti juga MY Girl). Tapi kalau di My Girl pure kisah cinta anak2, kali Kisah cinta yang diangkat agak unik yaitu antara seorang anak kecil yg jatuh cinta dgn wanita yg lebih tua terus terang mengingatkan saya akan film fave saya MALENA (tentunya disini dalam versi yang lebih soft, gak hardcore sperti MALENA pastinya :D)
konflik dgn keluarga jg dibangun dgn cukup menyentuh. Trus terang salah satu kekuatan komedi dari film ini memang dari karakter sang ayah dengan kelompok komedinya.dan pastinya karakter sang adik yg totally hilarious!Belum lagi banyak2 'surprise' yang sangat sweet... dan pemeran Dr. Ice itu cantik pisan :)
Recomended!
FYI, Film sang sutradara sebelumnya FAN CHAN (MY GIRL) bahkan pernah di 'remake' di Indonesia dengan Sutradara Rizal Mantovani dgn mendubbing semua dialog dan mengganti soundtrack nya dengan lagu2 indonesia.. filmnya berjudul CINTA PERTAMA :)
The King’s Speech bisa disebut sebagai film ‘macan’ festival untuk tahun ini. Mendapat 7 nominasi di Golden Globe dan memenangkan Penghargaan Aktor Terbaik, jelas bukanlah prestasi sembarangan dari sebuah film. Prestasi itu semakin dipermanis dengan menjadi film dengan perolehan nominasi terbanyak di penghargaan film paling bergensi di dunia Oscar 2011 dengan 12 nominasi. WOW!
Sebuah Biopic tentang Raja Inggris George VI (Colin Firth) yang ahirnya ‘terpaksa’ menjadi raja inggris berikutnya, karena Sang Ayah mangkat, dan Kakak nya Pangeran Edward ( Guy Pearce) karena suatu alasan enggan menggantikan Sang Ayah menjadi Raja. Bukan hal mudah bagi seorang Albert, karena ternyata ia punya suatu kekurangan yang cukup langka, yaitu ia adalah seorang yang gagap ketika berbicara. Menjadi gagap untuk orang lain mungkin tidak terlalu masalah, tapi untuk seorang nomer satu di satu Negara jelas merupakan masalah besar. Saat hampir putus asa karena beberapa terapis yang mencoba menyembuhkan penyakit gagap nya tidak ada yang cocok dan berhasil, ia kemudian oleh Sang istri Ratu Elizabeth (Helena Bonham Carter) dipertemukan dengan seorang terapis Lionel Logue (Geoffrey Rush ) yang memiliki metode terapi yang unik.
Lantas berhasilkah sang terapis menyembuhkan sang raja dari kegagapannya?
Tidak bisa dipungkiri, Highlight dari film ini siapa lagi kalau bukan pemeran sang King George VI, Colin Firth. Akting Firth dijamin akan memukau siapapun yang menyaksikannya perannya disini. Gesture gagap nya, kikuk, dan kadang temperamental, benar-benar ditampilkan dengan sempurna oleh Firth. Membuat penonton jadi ‘gregetan’ melihatnya. Rasa nya memang tidak berlebihan ia dianugrahi actor terbaik tahun ini di Golden Globe kemarin, dan penghargaan yang sama di Oscar juga sudah tidak terbantahkan lagi pasti akan disabet olehnya.
Akting yang tak kalah menawan juga ditampilkan oleh Sang Terapis Geoffrey Rush dan juga Ratu Elizabeth Helena Bonham Carter. Khusus untuk Helena, setelah tahun ini memainkan peran sebagai karakter-karakter yang ‘nyeleneh’ seperti menjadi Queen heart di Alice in Wonderland dan menjadi tokoh paling dibenci Belatrix Lestrange di Harry Potter ke-7, cukup mengejutkan menyaksikannya dalam peran sebagai sosok ‘biasa’ seperti ini. Tapi ternyata ia tidak kalah berhasil mencuri perhatian seperti 2 tokoh ‘nyeleneh’ yang ia mainkan di film sebelumnya itu. Ini membuktikan kalau ia memang aktris berbakat yang mampu memainkan peran apapun.
Tom Hooper sang sutradara mampu merangkai kisah yang sangat unik ini, menjadi sebuah sajian film yang mempesona dan di lain sisi juga terasa cukup menegangkan. Seluruh departemen dapat dimaksimalkan dengan baik, Scoring yang menghanyutkan, sinematografi yang sangat indah, acting yang mencengangkan, dan tentu saja muatan pesan yang dalam dari karakter utamanya.
Dengan segala kelebihannya itu, The King’s Speech dengan mudah menjadi salah satu film terbaik yang hadir tahun ini. Tapi apakah juri-juri Oscar akan berpendapat yang sama? Atau kah mungkin akan ada kejutan lain? Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya… :)
The King’s Speech bisa disebut sebagai film ‘macan’ festival untuk tahun ini. Mendapat 7 nominasi di Golden Globe dan memenangkan Penghargaan Aktor Terbaik, jelas bukanlah prestasi sembarangan dari sebuah film. Prestasi itu semakin dipermanis dengan menjadi film dengan perolehan nominasi terbanyak di penghargaan film paling bergensi di dunia Oscar 2011 dengan 12 nominasi. WOW!
Sebuah Biopic tentang Raja Inggris George VI (Colin Firth) yang ahirnya ‘terpaksa’ menjadi raja inggris berikutnya, karena Sang Ayah mangkat, dan Kakak nya Pangeran Edward ( Guy Pearce) karena suatu alasan enggan menggantikan Sang Ayah menjadi Raja. Bukan hal mudah bagi seorang Albert, karena ternyata ia punya suatu kekurangan yang cukup langka, yaitu ia adalah seorang yang gagap ketika berbicara. Menjadi gagap untuk orang lain mungkin tidak terlalu masalah, tapi untuk seorang nomer satu di satu Negara jelas merupakan masalah besar. Saat hampir putus asa karena beberapa terapis yang mencoba menyembuhkan penyakit gagap nya tidak ada yang cocok dan berhasil, ia kemudian oleh Sang istri Ratu Elizabeth (Helena Bonham Carter) dipertemukan dengan seorang terapis Lionel Logue (Geoffrey Rush ) yang memiliki metode terapi yang unik.
Lantas berhasilkah sang terapis menyembuhkan sang raja dari kegagapannya?
Tidak bisa dipungkiri, Highlight dari film ini siapa lagi kalau bukan pemeran sang King George VI, Colin Firth. Akting Firth dijamin akan memukau siapapun yang menyaksikannya perannya disini. Gesture gagap nya, kikuk, dan kadang temperamental, benar-benar ditampilkan dengan sempurna oleh Firth. Membuat penonton jadi ‘gregetan’ melihatnya. Rasa nya memang tidak berlebihan ia dianugrahi actor terbaik tahun ini di Golden Globe kemarin, dan penghargaan yang sama di Oscar juga sudah tidak terbantahkan lagi pasti akan disabet olehnya.
Akting yang tak kalah menawan juga ditampilkan oleh Sang Terapis Geoffrey Rush dan juga Ratu Elizabeth Helena Bonham Carter. Khusus untuk Helena, setelah tahun ini memainkan peran sebagai karakter-karakter yang ‘nyeleneh’ seperti menjadi Queen heart di Alice in Wonderland dan menjadi tokoh paling dibenci Belatrix Lestrange di Harry Potter ke-7, cukup mengejutkan menyaksikannya dalam peran sebagai sosok ‘biasa’ seperti ini. Tapi ternyata ia tidak kalah berhasil mencuri perhatian seperti 2 tokoh ‘nyeleneh’ yang ia mainkan di film sebelumnya itu. Ini membuktikan kalau ia memang aktris berbakat yang mampu memainkan peran apapun.
Tom Hooper sang sutradara mampu merangkai kisah yang sangat unik ini, menjadi sebuah sajian film yang mempesona dan di lain sisi juga terasa cukup menegangkan. Seluruh departemen dapat dimaksimalkan dengan baik, Scoring yang menghanyutkan, sinematografi yang sangat indah, acting yang mencengangkan, dan tentu saja muatan pesan yang dalam dari karakter utamanya.
Dengan segala kelebihannya itu, The King’s Speech dengan mudah menjadi salah satu film terbaik yang hadir tahun ini. Tapi apakah juri-juri Oscar akan berpendapat yang sama? Atau kah mungkin akan ada kejutan lain? Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya… :)
Trend film Horror di Thailand sepertinya sudah mulai bergeser dan perlahan digantikan dengan genre romantic-comedy yang saat ini sedang digemari disana. Terbukti 2 Film Romantic Comedy tahun 2010 lalu sukses merajai Box Office Thailand dan menjadi film terlaris sepanjang tahun 2010. Posisi pertama diduduki oleh HELLO STRANGER yang beberapa waktu lalu juga sempat tayang di Indonesia, dan posisi kedua ditempati film yang akan Saya bahas kali ini Crazy Little Things Called Love (First Love).
Bercerita tentang Nam (Pimchanok Luevisetpaibool) seorang siswi “buruk rupa” yang berusaha menarik perhatian cowok yang disukainya, binatang sekolah bernama Shone (Mario Maurer). Nam berusaha merubah penampilannya, memutihkan kulitnya yang hitam, melepas behel di giginya, mengikuti pertunjukan drama, berlatih marching band, semuanya ia lakukan demi merebut perhatian Shone. Tapi saat penampilannya telah berubah dari seorang ‘itik buruk rupa’ menjadi sosok ‘angsa yang cantik’, rupanya tidak membuat segalanya lebih mudah. Masih ada rivalnya di Sekolah, cewek paling cantikdan popular Pin, yang juga menyukai Shone, dan sahabat sejak kecil Shone, Top yang ternyata juga menaruh hati ke Nam sejak dulu…
Bisa dibilang tema dan plot diangkat memang sangat familiar dan tidak menawarkan sesuatu yang baru dalam sajian Romantic Comedy. Tapi para aktornya cukup mampu membuat cerita yang “mainstream” dan beberapa adegan klise yang baisa kita jumpai di film Romantic Comedy lain ini menjadi sajian yang tetap menyenangkan untuk disimak.
Bintang paling bersinar di Thailand saat ini Mario Maurer (LOVE OF SIAM) masih tampil pas dan meyakinkan berakting menjadi anak sekolahan lagi, padahal usianya saat ini sudah 21 tahun. Pimchanok sang pemeran karakter Nam juga berhasil menjadi pusat perhatian, transformasi nya dari cewek nerd menjadi wanita anggun terlihat sangat belivable, membuat Saya cukup terkejut dan hampir tidak mengenali saat melihat perubahan fisiknya. Salut untuk teknis dan team make up nya.
Overall, Film ini memang tidak semenggelitik dan sedewasa BANGKOK TRAFFIC LOVE STORY atau berisi sindiran akan culture-shock yang cerdas seperti HELLO STRANGER, tapi untuk Anda yang ingin mengenang masa-masa indah ‘cinta monyet’ disekolah, persahabatan, cinta segitiga, kecerian dan pahit-getir nya kehidupan Sekolah dulu, film ini akan membawa Anda ke memori itu. Mungkin tidak ada salahnya Anda menyaksikannya dengan para teman sekolah Anda dulu sebagai ajang reuni? Sepertinya akan menyenangkan… :)
Movie Reviews
Film indonesia yang sederhana tetapi sarat makna dan sangat menyentuh.
Donny Damara menghadirkan penampilan akting memukau sebagai seorang transgender yang membuatnya memang sangat pantas untuk memenangkan Aktor terbaik di Ajang sebesar Asian Film Awards 2012.
Chemistrynya dengan Raihaanun sangat 'melebur' dan meyakinkan sebagai sosok bapak dan anak yang saling menemukan 'jati diri' dan menyimpan rahasia masing-masing.
Setting kota Jakarta pada malam hari dengan segala "aktivitas" nya juga dapat di-capture dengan sempurna oleh Teddy Soeriaatmadja.
LOVELY MAN adalah salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Dengan segala kesederhanaannya, film ini mampu berbicara banya. Salut!
DARK SHADOWS seperti yang menjadi "kekurangan" film-film Tim Burton saat ini adalah filmnya hanya unggul di visual.
Tim Burton sepertinya terlalu sibuk untuk memoles tampilan gothic di film ini menjadi "cantik" sampai-sampai lupa memikirkan kualitas penceritaan dan naskah dari film ini yang begitu lemah.
Akting Johnny Depp -pun tidak se-memikat dan iconic seperti karakter-karakternya yang sebelumnya. Begitupun dengan jajaran cast lainnya yang juga ternyata tidak istimewa.
Humor yang juga 'kering' menambah kesan membosankan dari film ini.
Film Summer dan sekaligus kolaborasi Burton dan Depp paling mengecewakan sejauh ini.
THE WITNESS adalah sebuah thriller yang sangat menjanjikan di awal durasinya. Menyajikan rentetan adegan pembantaian yang cukup realistis dan memancing rasa penasaran serta ketegangan dan misteri yang harus dipecahkan oleh Penontonnya di setengah awal durasinya bagai Puzzle.
Tetapi kemudian saat dipertengahan filmnya berubah menjadi drama dan pengungkapan tentang asal mula semua kejadian mengerikan di awal yang ternyata "biasa saja" dengan twist yang juga tidak menarik, maka THE WITNESS saat itu juga langsung kehilangan "pesona" nya.
Adegan di pertengahan sampai akhir hanya diisi oleh pengungkapan yang terlalu dipanjang-panjangkan yang mengarah kepada drama penguras air mata yang membosankan.
Sebagai sebuah film yang "berhadapan" dengan MODUS ANOMALI dan dibuat oleh 2 negara (Indonesia dan Filipina), film ini gagal memenuhi ekspektasi saya yang sudah cukup lama menantikan dan berharap banyak kepada filmnya.
Sayang sekali...
Sudah lama rasanya saya tidak tertawa terbahak-bahak di dalam gedung bioskop seperti pada saat menyaksikan film 21 Jump Street ini.
Adegan komedi dan Joke yang ditawarkan memang terbilang vulgar, sarkastik, dan cenderung rasis. tetapi percayalah, jika MOOviers nyaman dengan semua hal itu, maka MOOviers akan larut dalam 'kegilaan' yang dihadirkan oleh film ini.
Tatum dan Hill menghadirkan penampilan komedik yang kocak dan show great chemistry.
Belum lagi dengan hadirnya cameo di akhir kisah yang menambah semarak 21 Jump Street.
Film komedi paling gila, liar, dan menyenangkan tahun ini (sejauh ini). Recommended!
Disebut-sebut sebagai film penerus "Harry Potter" dan "Twilight Saga", The Hunger Games ternyata tampil cukup memuaskan. Jauh lebih baik dari Twilight Saga, tetapi masih dibawah Harry Potter dari segi kualitas film adaptasi novel laris.
Kisahnya juga terbilang tidak terlalu orisinil sebenarnya, karena cukup mirip dengan film Jepang BATTLE ROYALE yang sudah dirilis jauh-jauh hari sebelum film (dan bahkan novel THE HUNGER GAMES) diedarkan.
Banyak adegan di filmnya yang seperti sengaja dibuat lebih "halus" sehingga masih bisa masuk di rating PG-13, padahal jika film ini diberikan Rating-R, mungkin esensi dari "permainan mematikan" di Hunger Games yang sadis dan berbahaya (seperti juga di novelnya) mungkin akan lebih terasa.
Akting Jennifer Lawrence sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia masih mampu menampilkan kualitas akting seorang nominator Oscar. Sesuatu yang tidak mampu ditampilkan oleh Kristen Stewart dalam Twilight Saga nya.
Dengan muatan sindiran terhadap reality show, negara yang diktator, dan kultur masyarakat saat ini, Hunger Games sebenarnya telah menunjukan bahwa film ini bukan sekedar film fantasi"ringan" remaja lainnya.
Semoga saja di sekuelnya kelak "CATCHING FIRE" filmnya bisa tampil lebih baik dan menarik lagi (dan semoga dibuat dengan Rated-R)
Recommended.
Harry Potter kali ini harus berhadapan dengan sosok hantu... dan hasilnya ternyata sama sekali tidak mengecewakan.
James Watkins mampu membangun tensi di film ini dengan menegangkan lewat adegan-adegan yang sebenarnya sangat predictable dan sudah sering dimunculkan di film horor lain, tapi toh tetap saja hasil racikan adegannya bisa membuat saya terlonjak dari kursi saya beberapa kali.
Sosok Woman In Black yang ditampilkan dalam siluet juga menambah kesan angker tersendiri.
Sayangnya naskahnya tidak menawarkan sesuatu yang baru dan masih terjebak pada tipikal film-film horor berhantu lainnya.
dan Daniel Radcliffe? tetap saja masih belum bisa melepas image nya sebagai Harry Potter di film ini.
Intinya sebagai sajian horor, film ini cukup berhasil dan layak tonton! :)
JOHN CARTER bisa dibilang (sejauh ini) sebagai film paling mengecewakan tahun ini! Sangat jauh dibawah ekspektasi Saya pribadi.
Berbujet $250 Juta dan disutradarai oleh Andrerw Stanton yang sudah memenangkan 2 Piala Oscar ternyata tidak mampu 'menyelamatkan' JOHN CARTER menjadi sebuah film yang gagal.
Durasinya yang lebih dari 2 jam juga menambah filmnya menjadi terkesan 'membosankan'. Andrew Stanton memang terbilang unggul dalam stoty-telling untuk film animasi, tetapi rupanya dalam urusan menggarap live-action, Statnton sepertinya masih terasa sangat terbata-bata dalam mengeksekusinya.
Belum lagi penampilan dari Taylor Kitsch yang terbilang sangat standar dan tidak mampu mencuri perhatian sebagai tokoh besar 'John Carter' yang kemudian mempengaruhi sejarah film science fiction selama berpuluh-puluh tahun terakhir ini.
Efek 3Dnya juga bahkan tidak banyak membantu dan sama sekali tidak istimewa.
Sayang sekali...
SAFE HOUSE menghadirkan akting dan penampilan yang bagus dan menarik dari Denzel Washington dan Ryan Reynolds.
Adegan-adegan aksi yang disajikan secara non-stop dari awal hingga akhir terlihat cukup keren dengan konsep yang aksi yang realistis sehingga tensi filmnya terasa lebih menegangkan.
Tetapi aksi 'non-stop-aksi' ini juga sekaligus menjadi kelemahan film ini, karena disajikan secara terus menerus dan beruntun sehingga di beberapa adegan justru terasa membosankan karena terjadi pengulangan-pengulangan adegan aksi tersebut. Selain itu pengembangan cerita juga kurang tergali sebab Sutradaranya sepertinya terlalu memfokuskan pada adegan aksi belaka.
Tetapi sebagai sajian film aksi, film ini sangat menyenangkan dan menegangkan untuk ditonton.
Sajian film yang paling memukau yang hadir (di bioskop indonesia) tahun ini.
Dalam sajian hitam-putih, film ini berhasil tampil dengan visual yang sangat memukau dan ditampilkan dalam style film bisu menambah nuansa brilian pengalaman sinematik film-film di era 20-an.
Akting menajubkan dari Jean Dujardin dan Berenice Mijo, naskah yang cerdas, dan penyutradaraan yang sangat solid. Tidak salah memang jika lantas film ini menjadi film terbaik di Oscar 2012.
The Artist is Magic... Instant-Classic dan very recommended untuk siapapun yang mencintai film :)
Pernah membayangkan bagaimana mengerikannya jika suatu hari MOOviers selamat dari sebuah kecelakaan pesawat dan kemudian malah terdampar di sebuah hutan bersalju dengan serigala buas yang siap memangsa?
Ya, lolos dari maut yang satu tetapi kemudian harus menghadapi "maut" lainnya yang tidak kalah menyeramkan. Hal itulah yang coba ditampilkan dalam film survival thriller THE GREY yang dibintangi Liam Neeson.
Setting filmnya yang nyaris 100% bersalju, berhasil 'dihantarkan' oleh Sutradara Joe Carnahan dengan sangat baik sekali sehingga aura "dingin" dari filmnya bisa "tertular" ke penonton.
Carnahan juga dengan gemilang menghadirkan rentetan teror dari sosok serigala ganas yang merambat perlahan, sosok serigala ganas yang diperlihatkan dengan sekilas dan tidak terlalu di ekspos justru menghadirkan kengerian tersendiri dan membuat 'geregetan'.
Carnahan juga mengeksekusi teror serigala disini dengan unik dan tidak seperti film yang menampilkan "beast" pada umumnya. Carnahan menggunakan camera-works yang seolah-olah saat serigala tersebut menyerang karakter di filmnya, seolah-olah penonton merasakan hal yang sama.
Liam Neeson juga berakting apik dengan gesture yang muram yang pada akhirnya harus melakukan fight-back untuk menyelamatkan nyawanya.
Walaupun naskahnya masih cenderung tipikal survival thriller pada umumnya, tetapi Carnahan mampu menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam penggarapannya dan rentetan adegan teror di film ini berhasil dihadirkan dengan sangat baik dan menegangkan.
Recommended!
Ditengah film bergaya mockumenter dengan tema horror yang itu-itu saja, CHRONICLE hadir dengan konsep baru yang fresh, mengambil gaya mockumenter ala Paranormal Activity atau Cloverfield, Chronicle menghadirkan tema Superhero yang menggebrak.
Tema sederhana tentang 'pemberontakan remaja' ala 'revenge of nerds', konsekuensi akan sebuah kekuatan super, dan persahabatan yang digarap dengan apik. Jajaran pemain barunya juga berakting dengan sangat meyakinkan.
Walaupun ber-bujet minim, Chronicle mampu memaksimalkan departemen visual efek sehingga efek yang ditampilkan terasa rapih (walaupun di beberapa bagian masih terasa berlebihan dan out of placed dengan konsep mockumenternya).
Overall, film ini adalah film dengan konsep baru yang 'nendang' di awal tahun 2012, sangat menghibur, dan untuk penggemar film bertema Superhero 'Rebel' ala Kick Ass dan konsep mockumenter ala Cloverfield....it's Highly Recomended. Bosan dengan Superhero dari Marvel atau DC? Chronicle adalah jawabannya :)
Nyaris tidak ada pengembangan dari seri sebelumnya jika dilihat dari segi cerita maupun akting pemain.
Tetapi film ini sangat tertolong oleh penampilan efek visual yang walaupun masih jauh dari sempurna tetapi terlihat cukup memukau apalagi jika disaksikan dalam format 3D.
Visualisasi 'Mysterious Island' beserta makhluk-makhluk penghuninya yang sangat unik seperti kadal raksasa, burung, lebah, dan belut listrik raksasa kelihatan cukup 'halus' dan keren.
Film dengan kisah yang dangkal tetapi akan sangat menghibur dan menyenangkan ditonton khususnya bersama anak-anak...
Apalagi di akhir kisah akan ada petunjuk untuk cerita di film ketiganya nanti... ya, selanjutnya kita akan diajak untuk berpetualang ke bulan... errr.... apakah masih patut ditunggu?
Saya tidak menyangka bahwa film komedi seburuk ini ternyata ditulis oleh penulis naskah film komedi brilian The Devils Wears Prada.
Menghadirkan plot yang basi dan tidak menarik, garing, dan Sarah Jessica Parker... tetaplah menjadi SJP yang memang selalu menjadi template nya di Sex in the City.
just skip it! kecuali untuk MOOviers yang benar-benar penggemar RomCom, seburuk apapun RomCom tersebut :)
Film ini membawa nostalgia kembali akan kejayaan serial dari The Muppets.
Menghadirkan joke-joke yang sangat lucu, fresh, lagu-lagu yang sangat indah dan sekaligus kocak, penampilan cameo-cameo yang mencuri perhatian, dan momenn menyentuh yang bisa membuat penontonnya terharu (dan mungkin saja) menangis.
Film yang wajib ditonton (bukan hanya) oleh fans dari The Muppets! highly recomended :)
Film terbaik dan yang paling menegangkan dari seri Paranormal Activity (so far). Henry Joost dan Ariel Schulman yang sebelumnya mengarahkan film dokumenter brilian 'CATFISH' berhasil mengeksekusi film ini dengan ketegangan perlahan tetapi intens.
Pergerakan 'kamera kipas angin' nya suskes menciptakan beberapa 'boo-moment' yang berhasil. dan belum lagi kejutan di akhir kisah yang menjelaskan mengenai penyebab teror makhluk supranatural yang selama ini menghantui sejak film pertamanya.
Recomended (untuk MOOviers yang menyukai 2 film pertamanya dan menyukai film bergenre found footage). Tetapi jika tidak, berarti film ketiga ini memang bukan untuk MOOviers :)
Pernah makan snack rumput laut Tae Koe Noi?
Film ini meng-capture dengan cukup sempurna sosok anak muda yang telah menjelma menjadi 'milyuner' berkat usaha snack rumput lautnya tersebut. filmnya sederhana, tetapi memiliki cukup banyak momen yang menyentuh tentang perjuangan seorang anak muda yang 'happy go lucky' untuk jadi 'something' dan membuktikan ke keluarganya.
Walaupun dibanding film Thailand lain yang lebih 'berwarna' dan 'ceria', film ini memang tergolong lebih serius dan tidak terlalu banyak humor yang ditawarkan. Tetapi overall Filmnya masih menghibur dan sekaligus sangat inspiratif . Recomended! :)
Dari Sutradara yang sama yang menggarap film RomCom terlaris di Thailand tahun 2010 yaitu Crazy Little Things Called Love, apa yang ditampilkan di film ini ternyata hasilnya terbilang sangat mengecewakan.
Kisahnya terlalu standar, dipenuhi dengan adegan-adegan klise dan juga joke-joke yang sudah tergolong 'basi' dan slapstick.
Dua lead-actors nya gagal memberikan chemistry yang baik untuk karakter mereka, berbeda dengan pasangan di RomCom Thailand lainnya seperti Bangkok Traffic Love Story ataupun Hello Stranger yang terasa begitu 'manis' dan serasi.
Untunglah film ini masih diselamatkan oleh sosok sidekick wanita berwajah konyol (yang juga tampil sebagai ibu guru di film Crazy Little Things Called Love) yang masih bisa membuat penonton tertawa dengan penampilannya yang selalu mencuri perhatian.
Film yang cukup mengecewakan untuk para penikmat film komedi romantis Thailand pastinya. Sayang sekali...
Secara mengejutkan filmnya tampil dengan efek 3D yang sangat keren! adegan martial-arts yang memukau dan Jet Li tetap menunjukan kualitas terbaiknya dan pesonanya sebagai "bintang besar" di film ini. Plotnya memang tergolong tidak terlalu istimewa, tetapi menyaksikan film ini membawa Nostalgia tersendiri menyaksikan film-film 'wuxia' jaman dulu yang sangat menyenangkan... recomended :)
Menjanjikan premis yang cukup menjanjikan tentang sosok alien gaya baru yang 'tidak kelihatan', tetapi ternyata filmnya hanya berakhir menjadi film tentang alien yang membosankan, predictable, dan tidak menawarkan sesuatu yang baru sama sekali dari jalinan kisahnya. Kisah invasi Alien yang dangkal yang ternyata tidak 'segelap' judulnya.
Tidak ada perkembangan sama sekali dari seri Alvin and the Chimunkis terbaru ini. Sama seperti film-filmnya sebelumnya, film ini hanya mengandalkan 'pesona' dari ketiga chipmunks lucu di filmnya yang mungkin hanya akan masih dirasa lucu dan kocak oleh anak-anak... tetapi akan sangat menyebalkan ditonton oleh orang dewasa karena terlalu dangkal. tetapi walau bagaimanapun dipastikan akan ada film-film selanjutnya lagi... ohhh... holy crap!
The Worst SPY KIDS Movie of all... semoga setelah ini tidak akan pernah ada lagi film SPY KIDS selanjutnya ya, Mr. Rodriguez! 4-D aroma scope nya juga tidak works anyway... totally disappointed.
Animasi 3D nya secara mengejutkan kelihatan sangat memukau, lengkap dengan banyak sekali scene 3D yang eye-popping. Sayangnya tidak ada yang spesial dari kisahnya yang terlalu simple dan tidak terlalu menarik. Tetapi sebagai sajian film 3D, Arthur Christmas bisa dikatakan berhasil. Menghibur namun tidak terlalu berkesan.
Thrilling and Twisted. Film Suspense Thriller yang lumayan 'mengejutkan' untuk sebuah film produksi Indonesia. Standing Ovation untuk Akting dari Bella Esperance sebagai Madam Rita. Diantara film-film Indonesia yang semakin tidak karuan, 'The Perfect House' adalah contoh film yang diproduksi dengan niat dan berhasil mengantarkan genre yang berbeda dari film Indonesia lain dengan cerdik dan dengan hasil yang menegangkan. Recomended!
Lebih bagus dan lebih menyeramkan dari versi asli film tahun 1973 nya... quite creepy (khususnya di setengah jam ahir), akting yang meyakinkan dari karakter anak yang diperankan Bailee Madison,. Satu hal yang disayangkan justru terletak pada visualisasi 'makhluk' penebar teror di film ini yang kurang menyeramkan. secara keseluruhan horor yang cukup memuaskan.
Dengan 'menjual' nama dan foto besar Irfan Bachdim di posternya, mungkin sebagian penonton akan menjadi tertarik dan berbondong-bondong untuk menyaksikan filmnya. Tetapi sebagian lagi, mungkin akan langsung skeptis dan berekspektasi filmnya akan mengecewakan dan pure sebagai film komersial semata.
Saya terus terang termasuk penonton yang kedua. Tetapi ternyata setelah menyaksikan filmnya Saya mengaku salah. TENDANGAN DARI LANGIT sesuai judulnmya cukup 'nendang' saat disaksikan.
Mengangkat tema sepakbola yang memiliki fans fanatik yang sangat banyak di Indonesia, filmnya mengangkat tema sepakbola tersebut ke dalam jalinan naskahnya yang terbilang berhasil. Jalinan kisahnya memang tidaklah terlalu istimewa, "from zero to hero' yang mungkin sudah banyak diangkat di film-film lainnya. Namun bagaimana filmnya dikemas, membuat kisah yang sebenarnya tidak terlalu istimewa tersebut menjadi tontonan yang sangat asyik untuk diikuti.
Akting dari bintang baru Yosie Kristianto cukup meyakinkan dan natural. Sepertinya untuk perannya disini, tim audisi yang mengadakan 'pencarian talent' untuk peran Wahyu disini terbilang berhasil mencari sosok yang tepat.
Highlight utama film ini menurut saya pribadi adalah sinematografinya yang sangat bagus sekali. Salut untuk Faozan Rizal yang dengan sempurna meng-capture pemandangan di Bromo dengan sangat indah, lengkap dengan angle-angle yang sangat keren dan sangat memanjakan mata.
Film ini memang memiliki kelemahan beberapa plot dan beberapa adegan yang terasa kurang detail dan missed, namun hal tersebut masih belum dalam tahap yang mengganggu.
Irfan Bachdim? Ehm.. Ia tidak berdialog sama sekali di film ini. So, anggap saja Ia sebagai bonus saja di film ini dan tidak usah terlalu 'diambil pusing'
Overall Recommended sebagai tontonan di Libur Lebaran Tahun ini...
Po dan The Furious Five kembali di sequel film KUNG FU PANDA (2008) dengan aksi yang lebih seru dan sukses mengocok perut Saya (dan semua penonton) dari awal sampai akhir!
Naskahnya semakin menarik. Mengangkat tema yang lebih besar dan heroik dibanding seri sebelumnya. Joke-joke yang dihadirkan juga semakin fresh dan menyenangkan. Namun kisah mengenai asal-usul keluarga Po adalah memang yang paling mendapat kredit lebih di film ini. Rahasia yang selama ini belum dijelaskan di film pertamanya akhirnya terjawab sudah mengenai ayah dan ibu kandung Po dan 'musuh besar' nya di sequel ini.
Dari segi teknik animasi juga sangat berkembang dari seri sebelumnya. Di salah satu adegan flashback, terlihat beberapa scene yang diambil dari film pertamanya dan darisini sangat terlihat perbandingannya dengan animasi di film keduanya ini. Karakter-karakternya lebih terlihat nyata dan backgroundnya juga terlihat lebih mengagumkan. Belum lagi deretan adegan aksi yang cukup menegangkan sekaligus menyenangkan dan membuat Saya tidak berhenti terbahak-bahak sampai akhir (Yeah.. we talk about Po here...:D )
3D nya sangat keren, impresif dan 'works' di film ini.
Film yang sangat menyenangkan ditonton bersama keluarga. Salah satu kandidat kuat best animated OSCAR tahun depan, walaupun saingannya sepertinya cukup berat, ada RIO, RANGO, dan akhir tahun nanti TIN-TIN.
Sangat Recomended di tonton di 3D!
Pasca LASKAR PELANGI dan GARUDA DI DADAKU Tahun 2009 lalu, memang belum ada lagi film Indonesia tentang anak-anak yang mendapat perhatian masyarakat dan mencapai kesuksesan saat dirilis. Libur lebaran Tahun ini akhirnya diisi oleh salah satu film Indonesia bertema pramuka dengan karakter anak-anak berjudul LIMA ELANG.
Saat menyaksikan filmnya, terus terang saya sangat terhibur dari awal sampai akhir. Filmnya memang ditujukan sebagai film keluarga dengan cerita yang ringan, namun film ini tidak meninggalkan misi besarnya untuk mengangkat tema Pramuka dan memperkenalkan kegiatan Pramuka yang sekarang mulai ditinggalkan khususnya oleh kaum muda.
Akting anak-anak di film ini yang cukup mendapat highlight dari Saya pribadi. Mereka rata-rata baru pertama berakting di sebuah film, namun aktingnya terlihat meyakinkan dan natural. Sesuai dengan usianya dan tidak dipaksakan untuk menjadi 'dewasa' seperti yang kebanyakan muncul di film Indonesia lainnya.
naskahnya bisa dibilang sangat 'Salman Aristo'. Berisi dialog-dialog yang simple, namun cukup berisi, lengkap dengan joke-joke spontan dari karakter-karakter anak-anak disini yang sukses membuat penonton tertawa.
Intinya sebagai film keluarga, LIMA ELANG berhasil dengan misinya yaitu menghibur untuk seluruh keluarga dengan pesan film yang tersampaikan dengan baik.
Mudah-mudahan film ini kelak bisa bersaing dengan film Indonesia lain yang rilis bersamaan tahun ini dan memperoleh kesuksesan seperti halnya film GARUDA DI DADAKU.
Recomended!
Awalnya Saya pribadi cukup terkejut saat filmnya dirilis di US dan mendapat review yang sangat positif dari para kritikus. Dan perolehan Box Officenya juga sangat luar biasa. Apa istimewanya seri kelima ini? Lantas setelah menyaksikannya sendiri saya akhirnya membuktikan sendiri bahwa FAST FIVE memang adalah seri terbaik dari franchise FAST & FURIOUS sejauh ini.
Berbeda dengan Transformers DOM yang juga menampilkan aksi non-stop dengan efek luar biasa namun hasilnya malah membosankan, FAST FIVE menampilkan non-stop action extaravaganza tapi karena dieksekusi dengan sangat baik, hasilnya menjadi sebuah sajian film action yang breath-taking dan super-fun! beberapa adegan action dan kebut-kebutannya memang terasa agak over-the-top, namun karena Lin merancang adegan-adegan aksi tersebut dengan sangat piawai, maka penonton sejenak bisa memaafkan soal logika dan plot-hole di beberapa bagian (Adegan kebut-kebutan di akhir itu sangatlah JUARA)
Naskahnya memang tidak terlalu istimewa, namun Kisahnya terlihat semakin berkembang dari seri-seri sebelumnya. dan tentu saja highlight utama adalah kehadiran THE ROCK (Dwayne Johnson) dalam seri ini yang membuat filmnya semakin 'berwarna' dan semakin seru.
Tidak sabar rasanya menantikan FAST SIX dan FAST SEVEN!
Note : Jangan Keluar Bioskop sampai credit tittle habis, karena ada adegan tembahan berupa kejutan untuk sequel selanjutnya. COOL! :)
Recomended!
3D nya memang tidak terbantahkan lagi : SUPER-AWEEESOOME! Sejauh ini menurut Saya pribadi, film ini adalah film live-action dengan efek 3D terbaik. Semua action-sequencesnya bnr2 membuat mata nyaris tidak bisa berkedip.
Sayangnya filmnya terjebak seperti juga standar film Michael bay yang lain, juara di visualisasi tapi sangat lemah di naskah. Film ini dipenuhi semua template khas film michael bay : ledakan. ledakan. ledakan. slow-motion. dan tidak ketinggalan sederet product placement yang errr... cukup mengganggu (tidak terlalu mengganggu kalau saja product placementnya tidak diucapkan juga sebagai dialog oleh para karakternya)
Durasinya yang terlalu panjang membuat film ini banyak memiliki momen-momen yang membuat penonton merasa bosan. Padahal sejak awal Bay dengan royal memberikan 'hujanan" spesial efek maha dahsyat, tapi ya itu tadi... karena terlalu sering jadinya malah kelihatan membosankan.
Tapi sebagai film hiburan seri terakhir ini berhasil dgn tujuannya itu yaitu sebagai film yang MENGHIBUR. itu saja...
Wajib tonton di 3D! naskahnya memang payah, tapi kalau boleh mengutip kalimat Joker 'Why so serious?' So, Nikmati saja pengalaman visualnya yang memang sangat keren itu...
Speechless... Film ini adalah Penutup yang SEMPURNA untuk Saga Harry Potter. Film terbaik dari semua seri HARRY POTTER. Lebih dari 10 Tahun, Saya pribadi 'tumbuh' bersama novel dan film Harry Potter sejak kecil, sangat berat tapi memang harus diucapkan : Bye, Harry! T_T
Tahun ini sepertinya banyak Aktor dan Aktris papan atas Hollywood yang kembali ingin mengasah dan membuktikan kemampuannya selain dalam berakting, yaitu keahliannya dalam Meyutradarai sebuah film.
Belum lama ada THE BEAVER, sebuah film drama yang menyentuh yang Disutradarai oleh Aktris Jodie Foster yang sukses membuktikan bahwa Foster memang tidak hanya piawai dalam berakting tetapi juga sangat menjanjikan dalam menyutradarai sebuah film.
Menyusul Foster, kali ini Aktor Peraih 2 Piala OSCAR yaitu Tom Hanks (Philadelphia, Forrest Gump) yang mencoba kembali menyutradarai film. Kali ini adalah usaha keduanya dalam bidang Penyutradaraan setelah 15 Tahun lalu Ia juga telah menyutradarai film berjudul THAT THING YOU DO.
Terus terang Saya cukup surprise saat menyaksikan filmnya. Berangkat dari ekspektasi Saya yang kurang untuk film ini (dan membaca beberapa review negatifnya), ternyata filmnya tampil dengan sangat menyenangkan dan hugely entertaining.
Kisah dan naskahnya memang tidaklah terlalu istimewa, tetapi Hanks mampu 'mangantarkan' kisahnya menjadi sebuah sajian film yang begitu asyik untuk diikuti dan jauh dari kata membosankan. Bahkan bisa dibilang, aura komedi memang sepertinya lebih kental untuk film ini, ketimbang sebuah Drama. dan nyaris semua momen-monem komedi nya menurut Saya fresh dan berhasil memancing tawa.
Akting dari Hanks memang tidaklah terlalu istimewa di film ini, begitupun dengan Akting dari Julia Roberts. Karena karakter mereka disini, memang tidak se-unik dan se-'berat' karakter-karakter di film mereka sebelumnya. Tetapi chemistry mereka berdua masih terasa pas, begitupun dengan deretan cast lainnya yang sangat membantu menceriakan film ini. Karakter Talia, Kekasihnya dan geng Motor nya yang begitu Hilarious. Belum lagi para teman-temannya di Kampus yang juga tidak kalah kocak dan sangat menyegarkan.
Overall bukan film yang sangat Istimewa memang, tetapi melihat usaha bagaimana Hanks membintangi, menulis Naskahnya, dan juga menyutradarainya sendiri, Film ini bisa dikatakan sebagai output yang berhasil dari hasil kerjanya tersebut.
Dan pesan film ini juga tersampaikan dengan baik tanpa terkesan 'ceramah' mengenai ' Tidak ada kata terlambat untuk meneruskan pendidikan... dan memulai sesuatu yang baru'.
Yah, lagipula sudah lama juga kan Kita tidak melihat 2 Bintang besar dan 'senior' Hollywood bermain dalam satu film dalam sebuah ...drama romantis... :)
Recomended!
Beralih dari Anthology Horror, Thailand mulai melirik ke Anthology bergenre RomCom. Tetapi yang satu ini, sayangnya hasilnya Failed.
Trailer dan Posternya yang begitu menarik dan terlihat menjanjikan ternyata tidak terbukti saat menyaksikan filmnya. Tidak ada satupun dari 4 kisahnya yang menarik dan membuat penonton peduli untuk mengikuti kelanjutannya.
Biasanya dalam film Anthology ada satu film yang lebih menonjol daripada yang lain, tapi sayangnya tidak di film ini. Semuanya sama flat dan sama tidak menariknya.
Flat. Datar. dan Membosankan. Hal ini juga semakin diperparah dengan penampilan para Aktor mudanya yang berakting sangat standar. Jauh dibawah yang pernah ditampilkan oleh Aktor-aktor muda di film Thailand sebelumnya yang sukses mencuri perhartian penonton Indonesia.
Film Anthology RomCom yang gagal. Film Anthology Teen RomCom asal Thailand "HORMONES" menurut saya masih jauh lebih bagus dan solid dari yang satu ini...
Saya sebagai Penikmat Film Thailand terus terang sangat kecewa saat menyaksikannya...
Film yang sudah sangat Saya nantikan sejak Tahun lalu begitu mengetahui bahwa Film asal Spanyol ini sukses memenangkan Best Horror Film dan juga Best Director di salah satu Ajang Film Genre terbesar FANTASTIC FEST 2010. Beruntunglah kemudian Blitzmegaplex menayangkannya baru-baru ini, sehingga akhirnya Saya bisa menyaksikannya.
Entah karena ekspektasi Saya yang sudah terlalu tinggi sehingga saat menyaksikan film ini ternyata tidak terlalu sesuai dengan harapan Saya.
Teknis filmnya memang harus diakui sangat juara dan saya bilang cukup breakthru. Saya sangat menyukai setiap kali film menampilkan adegan yang berjalan paralel dan layar menampilkan angel kamera yang unik. Longshot nya juga sangat mengagumkan.
Ditambah dengan akting para jajaran cast-nya yang solid, beruntunglah film ini hanya memiliki beberapa karakter utama sehingga terasa lebih fokus. Baik heroine maupun villainnya berakting sangat meyakinkan.
Sayangnya adegan gore/bloody yang menjadi ciri khas pemenang Fantastic Fest terasa kurang terlihat di film ini. Tidak seperti buzz yang selama ini telah beredar di media.
Dan satu yang paling Saya sayangkan justru adalah kisah dan naskahnya sendiri. Terasa sangat standar dan tidak menampilkan kejutan yang berarti.
Saya merasa film ini seperti film Hollywood "THE STRANGERS" hanya saja dalam versi yang lebih realistik dan art.
Overall filmnya cukup menegangkan dan masih menarik untuk disaksikan asal saja Anda tidak terlalu berekspektasi seperti Saya. Sebagai film pemenang Fantastic Fest, jujur filmnya masih masuk kategorti "standar". walaupun seperti yang Saya bilang tadi, harus diakui teknisnya memang sangatlah keren dan juara, soal eksekusi memang sudah tidak diragukan lagi, hanya sayangnya film ini terbentur di naskahnya yang sangat standar.
Saya sudah menyaksikan 2 film pemenang lain di Fantastic Fest 2010, yaitu Film pemenang BEST FILM dalam kategori "New Wave" berjudul WE ARE WHAT WE ARE (Mexico) yang menurut saya masih jauh lebih brilian dari ini, dan terutama film drama/thriller jempolan asal Korea yang langsung menjadi favorit Saya "BEDEVILLED" yang memangkan Audience Choice di Ajang yang sama.
Recomended!
Lewat film ini Jodie Foster membuktikan diri jika selain menjadi seorang Aktris Ia juga ternyata sangat berbakat menjadi Sutradara yang sangat handal!
Penyutradaraan Jodie Foster yang benar-benar tepat dan sesuai dengan mood film ini juga sangat terbantu dengan jalinan cerita dan naskahnya yang memang sangat unik dan bisa dibilang cukup orisinil. Dialog-dialog keseharian yang natural dan tentunya kisah yang menyentuh.
Chemistry antar para karakternya harus diakui sangat juara. Keluarga Jodie-Gibson sangat dysfunctional namun terlihat sangat meyakinkan sebagai keluarga yang seolah memang benar-benar nyata dan ada di keseharian kita. yang terpenting adalah mereka berhasil membuat Saya sebagai penonton merasa perduli dengan nasib mereka dan merasa sangat relate.
Highlight film ini tentu saja adalah Akting Mel Gibson dengan boneka "Beaver" nya yang sukses mempermainkan emosi penonton. Di satu sisi kita akan tertawa, tapi di sisi lain kita juga akan bersimpati kepadanya.
Tidak ketinggalan film ini juga memberikan klimaks yang cukup 'disturbing' (Terhadap Mel Gibson)
Overall ini merupakan film drama yang menyentuh dan sebuah penyutradaraan terbaik dari Jodie Foster sejauh ini (2 Film dan 1 serial tv sebelumnya). Saya jadi tidak sabar ingin menyaksikan karyanya yang selanjutnya, bukan lagi sebagai Aktris saja tentu saja... tetapi juga sebagai Sutradara di film-film berikutnya. Recomended!
Dari Penulis naskah yang sama yang menggarap naskah salah satu thriller jempolan "IDENTITY", pun masih mengusung tema yang sama dengan naskahnya sebelumnya yaitu mengenai "Personal Identity Disorder"
Cerita dan Naskahnya cukup menarik, walaupun dibanding IDENTITY masih beberapa tingkat dibawahnya. Penggarapan dari duo sutradaranya masih terasa draggy dengan durasinya yang kelewat panjang. Sehingga ketegangan tidak terasa merata di sepanjang film.
Akting Julianne Moore juga tidak terlalu menonjol. Justru yang cukup mencuri perhatian adalah Akting Jonathan Rhys yang meyakinkan dengan beberapa karakter kepribadian yang harus ditampilkannya di film ini.
Bukan thriller yang menegangkan, namun masih cukup menarik untuk disaksikan, terutama dengan endingnya yang terasa lumayan 'disturbing'.
Diproduseri oleh Sutradara film-film Komedi Inggris Jempolan Edgar Wright seperti "Shaun Of The Dead" dan "Hot Fuzz" (dua film favorit Saya) tentu saja hal ini membuat film ini terasa sangat menjanjikan buat Saya.
Ternyata filmnya memang sangat menegangkan dan sekaligus menyenangkan. Entah berapa kali Saya sukses terlonjak dari kursi saat pemunculan sang Alien. Aliennya juga digambarkan dengan sangat unik dan orisinil. Simple dengan efek yang tidak berlebihan tapi sukses membangun ketegangan.
Joke-joke dan dialognya mungkin cukup segmented, namun berhasil membuat tertawa dengan punchline nya yang kocak dan konyol dan hal ini tentu saja sangat terbantu dengan akting para bintangnya yang meyakinkan dan 'polos'.
Walaupun terus terang Saya cukup kecewa dengan kisahnya secara keseluruhan yang terkesan terlalu sederhana dan ending yang terlalu 'gampang'.
Tapi Overall Film yang sangat menghibur dan menyenangkan untuk disaksikan! Recomended!
Cha Ta Hyun memang seakan menjadi Aktor Korea yang menjadi jaminan film-film laris.Tahun 2008 filmnya "SPEED SCANDAL" aka SCANDAL MAKERS sukses menjadi film terlaris no.1 di Korea.
Tahun 2010, Ia kembali dengan HELLO GHOST yang juga kembali sukses masuk kedalam list TOP 10 film terlaris di Korea Tahun lalu.
Horror-Komedi adalah sesuatu yang cukup riskan untuk diangkat, karena salah eksekusi hasilnya akan "serem..enggak... lucu juga enggak". Namun Kim Yeong Tak sang Sutradara berhasil meramu komedi di film ini dengan cukup pas.
HELLO GHOST memang pure-komedi sebenarnya. 'Horror' hanya karena film ini berhubungan dengan hantu, padahal hantunya pun tidak menyeramkan sama sekali dan memang digambarkan secara konyol dengan sikapnya masing-masing yang memang ditujukan sebagai komedi. Tidak semua sajian komedi-nya berhasil memang, ada juga momen yang terasa cukup garing. Tetapi overall tertutupi dengan penampilan para bintangnya yang sangat meyakinkan (Terutama interaksi dan kejadian-kejadian janggal dan juga kocak antara Tokoh Sang man dengan 'para hantu' yang selalu sukses memancing tawa).
Film ini sebenarnya masih tergolong film komedi yang so-so sampai tiba di ending yang sangat menohok saya. Tentu saja saya tidak akan ber-spoiler disini, tapi endingnya sukses membuat Saya... errr... yeah... meneteskan air mata.
Mengejutkan dan sekaligus sangat menyentuh.
Urusan seperti ini memang yang menjadi kehebatan para sineas Korea. Mereka tidak perlu menjadikan filmnya sebuah tear-jerker movie dimana tokohnya digambarkan menangis dari awal sampai habis untuk memancing tangisan penonton. Kim Yeong Tak sukses menggiring penonton untuk peduli dengan karakter-karakternya sejak awal. Menyajikan momen-momen komedi dari awal sampai menuju akhir, sehingga saat film tiba-tiba berbelok dan 'momen kejutan' itu muncul, penonton akan langsung 'terperanjat' dan merasakan 'kejutan' dan kesedihan seperti yang dirasakan oleh Sang-Man...
Film yang lucu dan sangat menyentuh (di ending). Recomended!
Note : Satu lagi, jangan keluar sampai credit title benar-benar habis ya! :)
Aura Sinetron dan Film-film tahun 80-an sepertinya sangat kental sekali dengan film ini. Lengkap dengan scoring music "jeng-jeng-jeng" khas sinetron yang cukup mengganggu.
Saya terkadang jadi merasa bahwa film ini seharusnya dirilis 30 Tahun yang lalu.
Saya tidak bisa membandingkan film ini dengan novelnya karena memang saya belum membaca Novel dari Mira. W. Tetapi setelah menyaksikan film ini jujur saja saya semakin tidak tertarik untuk membaca novelnya.
Alur kisah yang seakan tidak jelas mau dibawa kemana, karakter-karakter dewasa di film ini yang lebih labil dari ABG (sebentar marah-marah, lantas berbaikan lagi tanpa alasan yang jelas, lalu marah-marah lagi, begitu seterusnya sampai film berakhir).
Sang Sutradara Dedi Setiadi yang telah memenangkan sederet penghargaan melalui Sinetron-sinetronnya seperti "Keluarga Cemara" dsb sepertinya masih belum bisa melepaskan style sinetron dalam menggarap film ini, padahal sinetron dan film adalah dua media yang sangat-sangat berbeda sekali.
Namun, bagi Anda yang menyukai novel-novel Mira.W sepertinya tidak ada salahnya menyaksikan film ini...
Film Indonesia Terbaik Tahun Ini (So Far)
Film ini memuat elemen yang sangat lengkap untuk disebut sebagai summer blockbuster bagi perfilman Indonesia. Kapan lagi kita bisa melihat film Indonesia yang memiliki adegan balapan di Bunderan HI dengan mobil BMW yang di ekseskusi dengan sangat keren! Walaupun hal itu memang bukan main-course nya, tapi adegan tersebut terasa cukup memorable karna memang hampir belum pernah di temui di film Indonesia sebelumnya.
Chemistry antar cast nya yang sangat memukau, cerita dan skenario yang sangat fresh, dan teknis film nya yang sangat profesional dan juara.
Debut yang sangat menjanjikan bagi Sutradara Putrama Tuta! Film ini akan dan wajib sukses. Keren bgt, ciiiiiinggg!
Pasca kesuksesan luar biasa film Anthology horror PHOBIA (2008) dan sequelnya PHOBIA-2 (2009), Film Anthology horror sepertinya memang menjadi salah satu genre yang paling diminati di Thailand. namun kebanyakan para film 'pengikutnya' ini hasilnya bisa dibilang sangat mengecewakan, sebut saja HAUNTED UNIVERSITY (2009) dan DIE A VIOLENT DEATH (2010). Walaupun dari segi Box Office kedua film itu sangat berjaya di Thailand dan menjadi salah satu film terlaris disana, namun sayangnya kualitasnya tidak mampu menandingi Dwilogy Phobia yang bisa disebut sebagai pioneer film seperti ini. Tahun 2011 ini kembali muncul film anthology horror terbaru produksi Sahamongkol Media Channel berjudul LUD 4 LUD (DI Indonesia tayang dengan judul FOUR).
FOUR bisa disebut sebagai sebuah projek film anthology yang memang sudah Saya antisipasi sejak awal. Tentu saja karena deretan Sutradara yang terlibat didalamnya bisa disebut sebagai Sutradara 'papan atas' Thailand dengan karya-karya filmnya yang sudah tidak asing lagi tidak hanya di Thailand tapi juga di perfilman Internasional seperti 13 BELOVED (Chookiat Sakveerakul) , Ekkasith Thairath (Penulis Naskah BODY #19), Kongkiat Khomsiri (SLICE), dan Phawat Panangkasiri (SHADOWS OF THE NAGA). 4 film, 4 cerita, 4 Sutradara, sepertinya memang terlihat sangat menjanjikan.
Segment pertama dibuka dengan film berjudul CLEAN-UP DAY, di sutradarai oleh Ekkasith Thairath yang sebelumnya sukses menulis naskah film-film horror laris seperti 13 BELOVED, BODY #19 dan WHO R U. Segment ini menceritakan tentang seorang remaja yang hang-out di suatu mall bersama teman-temannya dan membicarakan tentang global warming dan virus yang bisa melakukan 'pemusnahan masal' terhadap manusia. Mereka asyik bercanda tentang betapa kerennya kalau serangan virus itu sampai terjadi, dan tanpa mereka sadari darah mulai keluar dari hidung mereka... dan obrolan iseng-iseng mereka tiba-tiba menjadi kenyataan dan teror yang menyeramkan.
Dari segi cerita memang tidak terlalu spesial, namun satu hal yang patut di highlight dari segment pembuka ini yaitu penggarapannya. Saya cukup dibuat terkejut dengan eksekusi one take long shot nya yang terlihat sangat keren. Hanya disatu lokasi dan satu kali take saja. Tentu saja teknik penggarapan film seperti ini sangat riskan, karena sekali saja melakukan kesalahan, sang Sutradara dan semua crew harus mengulang semua dari awal lagi. Untungnya untuk yang satu ini Ekkasith Thairath terbilang sangat berhasil dalam melakukannya, sinematografinya juga sangat lincah dan tidak terjebak dengan adegan 'membosankan' padahal hanya ber-setting di satu lokasi saja. Ditutup dengan adegan akhir yang sangat menarik yang mungkin akan membuat penonton menyesal tidak melakukan 'sesuatu' sebelum masuk ke bioskop dan menyaksikan film ini.
Segment kedua berjudul THE GIFT SHOP FOR THE ONES YOU HATE, disutradarai oleh Kongkiat Khomsiri, yang sebelumnya sukses menyutradarai film SLICE dan turut menangani film ART OF THE DEVIL. Segment ini menceritakan tentang seorang karyawan yang baru saja dipromosikan menjadi seorang manager, ia kemudian mendapat banyak sekali kado yang ternyata tidak semuanya berisi sesuatu yang ia inginkan. Terutama kado-kado yang dikirimkan oleh seseorang yang berasal dari sebuah Toko misterius bernama 'GIFT SHOP FOR THE ONES YOU HATE' yang menyediakan berbagai macam kado 'mengerikan' yang dapat membahayakan jiwa penerimanya. Hidupnya pun seketika berantakan dan dilanda paranoid ketika kado-kado tersebut mulai menampakkan 'wujud' aslinya.
Sejak awal saya mengetahui film ini dan membaca sinopsis segment satu ini, Saya sudah menyangka jika segment ini akan menjadi yang terbaik dari keseluruhan segment di FOUR, dan ternyata hal itu terbukti. Kisahnya begitu unik, inovatif, dan sangat orisinil. Begitupun dengan penggarapan yang sangat pas dari Kongkiat Khomsiri ditambah akting akting yang meyakinkan dari bintang utamanya Pakorn Chatborirak. Belum lagi endingnya yang simply brilliant. Setelah menyaksikan segment ini, saya jadi penasaran dan sangat tertarik membeli beberapa barang dari Toko tersebut untuk diberikan ke beberapa 'teman'. Sangat Menarik!
Segment ketiga ini berjudul EERIE NIGHTS, disutradarai oleh Phawat Panangkasiri yang sebelumnya menyutradrai film Thailand bergaya noir yang berjudul SHADOW OF THE NAGA. Kali ini ia menggandeng aktor Ananda Everingham dari film horror fenomenal SHUTTER. Segment ini menceritakan tentang seorang penjahat yang lari dari kejaran polisi. Ia berhasil kabur dari kejaran Polisi tersebut... tetapi tidak dari kejaran “karma” yang akan diterimanya.
Tak ada gading yang tak retak, Jika THE GIFT SHOP FOR THE ONES YOU HATE adalah yang terbaik, maka EERIE NIGHT ini bisa dibilang sebagai yang terburuk. Phawat Panangkasiri seperti kebingungan membawa segment satu ini kerah mana. Diawali dengan crime-thriller, lalu dipertengahan menjurus ke sesuatu yang sepertinya mengindikasikan adegan supranatural dengan beberpa 'penampakkan', dan lalu berubah lagi menjadi so-called slasher ala SAW. Sebenarnya jika digarap menarik hal seperti itu sah-sah saja. namun mengingat durasinya yang pendek, segment satu ini menjadi sangat tidak fokus dan membosankan. Bahkan Ananda Everingham yang beberapa waktu lalu baru saja menerima penghargaan sebagai Aktor Terbaik lewat ETERNITY tidak mampu memberikan performa terbaiknya disini. Segment satu ini bisa dibilang gagal dan cukup 'mengganggu' ke-solidan segment lainnya.
Segment Terahir berjudul HOO AA GONG, Disutradari oleh Chookiat Sakveerakul yang sebelumnya menghasilkan film-film sukses seperti 13 BELOVED dan LOVE OF SIAM. Segment ini menceritakan tentang keluarga yang agak 'sinting' yang berjanji kepada arwah dari kakek mereka untuk mempertahankan mayat sang kakek dirumah mereka sampai suatu kejadian tiba-tiba membuat semuanya malah menjadi kaca, saat sang kakek mulai 'meneror' para cucu dan semua anggota keluarga disfunctional ini.
Segment terakhir ini adalah horror-komedi, yang memang sepertinya wajib ada sebagai pemanis dari kengerian di segment lainnya. Mungkin jika di film PHOBIA ada di segment “IN THE MIDDLE” dan PHOBIA-2 di segment “IN THE END” yang sangat Hilarious itu. Terus terang sebagai film penutup, film ini sangat menyenangkan, segar, dan sukses membuat seisi bioskop menjerit dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Sesuatu yang Saya sebut sebagai "Pengalaman menonton film horror yang sebenarnya". Ibarat Dessert, segment satu ini adalah dessert yang sangat lezat. Saya dan nyaris seluruh penonton tidak berhenti tertawa saat menyaksikannya karena karakter-karakternya yang 'nyentrik' memang sangat menggemaskan dan piawai dalam memancing tawa. Belum lagi beberapa adegan horror-komedi yang bisa dibilang begitu fresh dan belum pernah ditampilkan di film sejenis sebelumnya. Pujian tertinggi tentu saja harus ditujukan kepada pemeran 'mayat kakek' yang sangat mengerikan tapi sekaligus selalu mengundang jeritan dan lalu tawa saat melakukan penampakannya. Walaupun ending dari segment satu ini tidak sesuai dengan ekspektasi Saya dan terasa sedikit absurd, namun semuanya tertutupi dengan hiburan yang sangat menyenangkan dari awal film ini sampai menjelang akhir.
FOUR memang bukanlah film anthology dengan tujuan menakuti-nakuti seperti horror anthology Thailand lainnya. Tetapi film satu ini memang sedang mencoba 'bermain-main' (dalam artian yang positif) dalam mengeksplore sebuah sajian horror. Hasilnya? Cukup berhasil menjadi sajian horror yang sangat menyenangkan untuk disaksikan. Perhatikan saja karakter di ending film pertama dan film terakhir yang sengaja dibuat tersenyum menghadap penonton dan seolah 'mengisaratkan sesuatu' ke seluruh penonton di Bioskop ala film FUNNY GAMES Michael Haneke. Tinggal MOOviers yang harus artikan sendiri, apa maksud dari senyuman itu. Recomended!
SCORE :
CLEAN UP DAY : 7/10
THE GHIFT SHOP FOR THE ONES YOU HATE : 8/10
EERIE NIGHTS : 5/10
HOO AA GONG : 8/10
OVERALL : 7/10
Hampir setipe dengan film pertama dan keduanya, begitupun formula yang dihadirkan. Jika MOOviers menyukai film pertama dan keduanya dan menganggapnya sebagai film yang lucu, silahkan saksikan film ini.
dan jika sebaliknya, ya.. terserah anda :).
Yang cukup di highlight di film ini adalah love-interest baru dari film ini yang dipernkan oleh Olivia Jensen yang tampil berbeda dan menawan dengan rambut panjangnya.Untuk urusan akting sih so-so saja, terutama para Changcuters yang masih menampilkan akting yang tipikal dengan film sebelumnya, mengandalkan kelucuan yang komikal dan tidak terlalu banyak perkembangan.
beberapa momen masih mampu memancing tawa, tapi tidak sedikitpula yang garing. Semua sepertinya memang tergantung selera humor.
Keunggulannya adalah dari teknis filmnya bisa dibilang lebih baik dari 2 film sebelumnya. Dari segi teknis inilah memang film TARIX JABRIX terbaik. Adegan kebut-kebutan di hutan, dan beberapa landscape indah di kawah putih di-capture dengan baik dengan sinematografi yang indah.
Biar bagaimanapun para Changcut-Ranger dipastikan akan menonton film ini jika tidak mau ketinggalan seri terakhir dari trilogy ini. Cheers!
Memang hanya ada 3 trend dalam film horror Hollywood belakangan ini : Remake , Remake, dan Remake! Bosan? Sudah pasti!
Entah sudah berapa puluh film yang dihancurkan saat dibuat versi remake nya oleh Holliwood. Untunglah Hollywood masih punya James Wan (Yeah..walaupun tidak bisa disebut sebagai Sutradara Hollywood juga, karena ia adalah kelahiran Malaysia).
Wan selalu tetap berhasil menghasilkan film dengan ide yang orisinil seperti yang ia hasilkan di film SAW pada awal-awal karirnya, yang kemudian film ini menjelma menjadi salah satu franchise horror raksasa sampai 7 sequel (Walaupun jujur menurut Saya pribadi hanya SAW pertama karya Wan itu yang benar-benar bagus dan sisanya yang dikerjakan oleh Sutradara lain kurang menarik lagi).
Dan yang terbaru, tahun ini ia melahirkan INSIDIOUS (yang mendapat banyak sekali pujian dari kritikus) dan setelah menyaksikannya ternyata semua itu memang terbukti. Kolaborasinya dengan Produser yang 'menggebrak' dengan karya fenomenalnya 'PARANORMAL ACTIVITY' ini tampil sebagai film yang mencekam.
Tidak bisa dipungkiri, sebagai Sutradara kelahiran Asia, sangat terasa sekali nuansa horror Asia di film ini. Lengkap dengan sosok hantu nya yang ber-citarasa Asia (hantu nenek berkerudung membawa lilin itu sangat juara!). Itulah yang membedakan INSIDIOUS dengan horror hantu-hantuan Hollywood lainnya. Khususnya Kita yang tinggal di Asia, pasti akan lebih relate dengan horror ber-gaya Asia, dibanding horror Hollywood yang lebih sering tampil konyol daripada seram.
Wan sukses meracik adegan-adegan horror 'penggedor-jantung' dengan perlahan namun seluruhnya sukses tampil menyeramkan.Naskah yang dikerjakan Leigh Whannell juga begitu menarik, simple, namun tepat sasaran. mereka berhasil menempatkan adegan-adegan horror yang sebenarnya tipikal film horror lain, namun tetap terasa segar dan berbeda.
Mungkin yang kurang Saya sukai hanya adegan-adegan menuju ending yang mulai terasa sangat Hollywood, sehingga mengurangi kengeriannya. Namun untungnya hal tersebut masih dalam taraf yang tidak terlalu mengganggu.
Intinya film ini adalah salah satu horror terbaik tahun ini. Seperti yang selalu saya bilang, horror yang berhasil adalah horror yang sesuai dengan 'misi dari film horror' itu sendiri yaitu menimbulkan suasana yang mencekam dan menularkan ketakutan sang karakter dalam film ke penonton, dan untuk hal itu film ini sangat berhasil.
Recomended!
Ada yang menganggap Twilight Saga sebagai mimpi terburuk film-film romantis remaja bergaya fantasy?
sebaiknya jangan dulu menarik kesimpulan seperti itu sebelum menyaksikan BEASTLY.
BEASTLY bahkan masih beberapa tingkat dibawah Twilight dalam segala hal. Kisahnya yang begitu dangkal, Akting yang flat, dan skrip yang begitu tipis dan membosankan.
Tidak ada usaha dari filmmakernya untuk membuat kisah yang memang sudah sangat familiar ini menjadi kisah yang berbeda dan menarik. Semuanya terasa datar.
Overall, ini adalah jenis film yang mungkin akan langsung dilupakan oleh penonton beberapa menit setelah keluar dari Bioskop.
Dan sayang sekali Alex Pettyfer dan Vanessa Hudghes gagal menjadi 'Edward-Bella' baru seperti yang mungkin mereka harapakan karena filmnya terbukti flop...
Dengan membawa nama besar John Carpenter, filmnya menurut saya terasa sangat mengecewakan...
Apalagi film ini merupakan comeback Carpenter setelah bertahun-tahun sebagai "Master Of Horror" yang sudah sangat dinantikan oleh para fans film horror di seluruh dunia.
Naskahnya terlalu standar, klise, cukup banyak plot-hole, dan akting dari jajaran pemainnya juga terasa standar dan kurang meyakinkan. Amber Heard juga kurang 'nendang' sebagai tokoh utama. Begitupun dengan ketegangan yang coba dihadirkan, terasa sangat flat... dan errr... membosankan dan gagal membuat penonton ketakutan.
Diakhiri dengan twist ending yang bisa dibilang sangat basi, yang membuat saya berteriak sendiri dalam hati.. " Ohh... C'Mon.. Tahun 2011 masih jaman ya gunain twist ending seperti ini? sudah terlalu generik!"
Overall, comeback yang sayang sekali kurang berhasil untuk Sutradara yang dijuluki Master Of Horror ini... duh.. sayang sekali Mr. Carpenter!
Inilah sequel film slasher yang memang paling saya tunggu tahun ini, secara saya memang adalah fans berat franchise ini sejak awal. dan ternyata setelah 10 tahun lebih vakum sejak seri terakhirnya SCREAM 3 (2000) Wes Craven dan SCREAM-gank tetap tidak berkurang ke-solid-annya...
Mungkin yang membedakan seri ini dengan seri-seri sebelumnya adalah banyaknya dialog cerdas yang berisikan 'sentilan' atau sindiran ke pakem film-film horror saat ini (khususnya horror remake) yang sukses membaut saya terbahak-bahak, karena memang dialognya sangat lucu dan menurut saya sangat pintar dan 'nendang'. Skenario dari Kevin Williamson tidak try-too-hard-to-be-smart, namun jalinan kisahnya sangat menarik dan tidak pernah kehilangan momen-momen terbaiknya (even itu momen komedi ataupun momen horror nya).
Wes Craven juga kembali bisa menunjukan kemampuan terbaiknya, setelah beberapa filmnya belakangan terasa sangat payah (yang terburuk adalah film terakhirnya yang rilis tahun lalu MY SOUL TO TAKE's so fuckin' sucks). Ia berhasil menghadirkan kengerian di setiap momen-momen pembantaian dan kemunculan Ghostface yang masih sukses membuat merinding, maupun momen-momen komedi horror yang satir.
dan Twist endingnya juara dan masih tetap kreatif seperti seri sebelumnya.
Semoga SCREAM 5 dan SCREAM 6 bisa segera diproduksi ya, Oom Craven!Can't hardly wait... :)
Dari salah satu penulis naskah film horror Thailand fenomenal SHUTTER dan ALONE. Film ini memang sudah seharusnya tampil menjanjikan.
Walaupun film pertama sang Sutradara yang sukses memenangkan audience choice di INAFFF yaitu COMING SOON, menurut saya pribadi tidak terlalu bagus, namun tetap saja filmnya berhasil tampil menyeramkan.
Ternyata film ini walaupun ternyata masih dibawah ekspektasi Saya sebagai "Film Horror Terlaris Thailand" Tahun ini, namun masih mampu menghadirkan momen-momen horror yang mencekam.
Kisah urban-legend mengenai rumah berhantu sebenarnya sangat standar dan memang jujur saja tidak ada yang terlalu istimewa dari naskahnya, namun kemampuan sang Sutradara mengolah adegan-adegan horror yang superior membuat kelemahan dalam naskah dan beberapa plot-hole di film ini masih dalam tahap yang tidak terlalu menggangu.
Porsi drama dan horror nya pun cukup seimbang, walaupun seperti film Thailand kebanyakan, durasi filmnya masih terasa terlalu panjang, sehingga masih terasa kurang solid dan cenderung di panjang-panjangkan.
Namun scene-scene horrornya dan terutama penampakan hantu nya yang menyeramkan, sukses membuat saya -dan hampir semua penonton- berteriak dan melompat dari kursi.
Bukankah memang misi utama dan esensi dari film horror seperti itu? Penonton ikut merasakan kengerian dan atmosfir dari filmnya, berteriak dan terlonjak dari kursinya. Seperti itulah pengalaman menonton horror yang sesungguhnya. Dan LADDA LAND terbilang sukses dengan hal itu!
Rasanya komen di Posternya memang tidak terlalu berlebihan... LADDA LAND "REALLY SCARY". Ditengah sepi nya film horror Thailand setahun belakangan yang lebih didominasi oleh film RomCom ini, LADDA LAND sangat Recomended! Selamat menonton!
Film yang menampilkan Akting yang sangat memukau dari Nicole Kidman.
Saya jadi berpikir, seandainya saja tidak ada Natalie Portman di list nominasi Oscar tahun ini, mungkin Kidman akan mendapatkan Piala itu...
Kisahnya sendiri sebenarnya tidak terlalu spesial, namun film ini mampu melibatkan emosi penonton saat menyaksikan karakter-karakternya...
Overall, good movie with strong act! recomended!
Film yang sangat fun dan entertaining!
Saya suka eksekusi sang Sutradara saat membedakan tone saat Bradley Cooper "In High" dan pada saat dy lepas dari pengaruh obat itu. Cool, n sinematografinya juga lincah dan keren..
yang jelas setelah nonton film ini saya begitu mupeng se-mupeng2nya buat minum pill NZT itu... bisa dibeli dimana ya?
Nice and fun slasher! :)
memang harus diakui film ini berisikan adegan-adegan template khas slasher. Namun naskah dan terutama joke-joke yang dihadirkan terasa cukup menyenangkan dan tepat sasaran. Ditambah dengan efek gore yang meyakinkan.
Namun jika harus disandingkan dengan SHAUN OF THE DEADnya Edgar Wright seperti komen di posternya, saya jelas kurang setuju. SHAUN tentu saja msih beberapa tingkat diatas lebih keren dan dahsyat dibanding film ini.
Namun untuk para fans slasher (Seperti Saya contohnya) pastinya akan sangat terhibur dan enjoy menyaksikannya... :)
Premis yang ditawarkan sebenarnya menarik, sayangnya tema besar yaitu "BATAS" dan konflik perbatasan yang seharusnya akan sangat menarik jika di-eksplore lebih mendalam, terpinggirkan dengan adegan-adegan yang hampir 90% di dominasi oleh sosok Jaleswari dan segala problematikanya, sehingga porsi aktor maupun sub-plot lain tidak ada yang tergarap dengan tuntas dan nanggung. Saya pribadi merasa naskahnya terlalu pretensius dan cenderung membosankan (pendapat saya pribadi dan beberapa teman yang juga menyaksikannya)
Namun harus diakui akting para aktor/tris di film ini memang patut diberikan pujian, begitupun dengan teknisnya (lengkap dengan handheld camera di beberapa scene khas Rudi yang untungnya di film ini tidak terlalu mengganggu). Bukan yang terbaik untuk tahun ini, namun film ini pantas diapresiasi.
Film yang membuat Saya merinding saat menyaksikannya.
Film ini lebih light dari INCEPTION tapi memiliki unsur kejeniusan yang sama dgn film dari Nolan tersebut. Naskahnya begitu cerdas dan orisinil. dan Sang Sutradara Duncan Jones mampu mengemas adegan yang menegangkan, adegan drama, dan bahkan adegan romantis dengan sangat pas dan wah.
di salah satu scene saya bahkan nyaris berkaca-kaca dan freezing scene menjelang akhir itu sangat keren dan menggetarkan.
Kandidat terkuat Film terbaik tahun ini tentu saja... LOVE IT! Duncan Jones did it again, stelah debutnya yang mendapat pujian luar biasa lewat MOON! Bravo!!!
Film thriller yang cukup menarik. Menampilkan comeback Kevin Costner dan penampilan terbaru dari Ivana Baquero pasca perannya sebagai Ofelia dalam Pans Labyrinth.
Ketegangan berlangsung merambat dan jalinan kisahnya cukup sukses membuat penasaran terutama transformasi yang terjadi pada diri sang anak yaitu Louisa. Filmnya juga diakhiri dengan ending yang cukup mengejutkan.
Akting Costner standar, begitupun yang ditampilkan Ivana yang cenderung so-so saja (jauh sekali dengan penampilannya di PAN'S LABYRINTH) tapi overall filmnya masih layak untuk disaksikan dan cukup menegangkan...
FTV dalam versi layar lebar... itulah Purple Love! Dihiasi dengan soundtrack lagu UNGU yang berjumlah 12 track, menyaksikan film ini seperti menyaksikan VCD Video Clip UNGU, hanya saja kali ini ditampilkan dalam layar yang lebih besar.
Semua elemen dalam film ini nyaris seperi FTV rutinan yang hampir tiap malam tayang di tv. Teknis standar, dan terlebih lagi akting dari band UNGU terlihat kaku dan mengerikan. Joke-joke yang dihadirkan juga hampir semuanya gagal, pun momen-momen sedih yang coba dihadirkan juga terasa 'kering' dan tak bernyawa.
Film ini sedikit diselamatkan dengan Akting Nirina Zubir yang cukup meyakinkan.
Yeah.. intinya film ini hanya disarankan untuk fans-fans UNGU yang mungkin akan berteriak-teriak histeris memanggil-manggil nama Pasha sepanjang film. Yeah.. Unyuuu -___-
Filmnya cukup terbantu dengan nama besar James Cameron...
Terus terang kisahnya terlalu dangkal, dan karakter-karakternya gagal membuat penonton bersimpati sehingga kita tidak peduli lagi dengan nasib dan bahaya yang akan mereka alami kelak.
Keunggulannya hanya dari segi pemandangan bawah laut dalam gua itu yang terlihat cukup menakjubkan. Sayangnya hal itu tidak didukung oleh skrip yang menarik. dan soal ketegangan juga sayang sekali film ini gagal dalam eksekusinya.Saya jadi merasa sepertinya Alister Grierson sepertinya harus belajar banyak dari Neil Marshall yang sebelumnya dengan luar biasa berhasil menggedor jantung dalam menebar teror dalam setting yang sama dengan film ini (clausthropobic dalam gua.. (tanpa laut memang di film Neil Marshall)) lewat filmnya THE DESCENT yang begitu mencekam atmosfirnya dan dengan kisah yang jenius...
MY SASSY GIRL (korea) is one of my most fave korean movie of all time! tapi seperti biasa Hollywood slalu menghacurkan nya di remakenya.
Padahal dengan "Girl Next Door" Elisha Cuthbert sebagai Sassy Girl dan Yann Samuel sutradara keren yang sudah menyutradarai RomCom jempolan LOVE ME IF YOU DARE harusnya film ini jadi keren dan menjanjikan. Tapi sayangnya terlalu banyak kisah di versi asli-nya yang diacak-acak, dan bukannya malah jadi bagus, tapi malah berantakan. Poin-poin penting di versi aslinya justru tidak ditampilkan di remakenya ini.
Dan chemistry Jesse Bradford dan Elisha Cuthbert gak nampol sama skali. sangat berbeda jauh dengan apa yang ditampikan Gianna Jun dan Cha Ta Hyun di film aslinya.
Remake yang gagal sayang sekali. huh!
SUCKSEED sukses membuat saya tertawa terbahak2 dari awal film sampai ending tanpa kendor!
karakter2nya sangat Hilarious, lovable, n totally crazy! joke2 n skripnya sangat fresh.sbagai sebuah debut bagi sang Sutradara di film layar lebar, film ini luar biasa berhasil menjadi film yang memorable, mengangkat dengan porsi yang pas tentang persahabatan dan kisah cinta yang sweeeet dan pastinya LOL funny! Tidak heran film ini menjadi film terlaris di Thailand tahun ini...
Thai RomCom kembali berhasil mencuri perhatian Saya setelah BANGKOK TRAFFIC LOVE STORY, HELLO STRANGER, dan terakhir CRAZY LITTLE THINGS CALLED LOVE! Can't hardly wait 4 next Thai RomCom Hits! :)
Salah satu film terlaris di HK ini Penggarapan dari sang sutrdara Eva Jin mengingatkan saya akan film Perancis AMELIE arahan Jean Pierre Jeunet. Karakter Zang Ziyi sbagai wanita nyentrik dibuat mirip dengan kepolosan Audrey TauTou di Amelie. Tapi tentu saja film ini tidak se-brilian Amelie.. jauh sekali dibawahnya bahkan.
Tapi overall filmnya menghibur, dan saya suka dekorasi set dan sinematografinya yang unik... sangat eye-catchy, namun sayangnya kisahnya standar RomCom dan kurang menarik. Kelucuannya juga standar saja... tapi at least entertaining lah dibanding film2 RomCom lain yang kadang try-too-hard...
Awalnya Saya tertarik menyaksikan film ini sekedar membuktikan sederet pujian dari para tokoh besar di trailer filmnya. Tapi saat sudah menyaksikannya saya jadi ragu apa sebenarnya tokoh2 besar itu sudah menyaksikan filmnya saat memberikan pujian-pujian itu, ya?
Filmnya berjalan dengan datar dan luarbiasa membosankan dari awal sampai akhir. Skrip dan penyutradaraan Damien yang 'bisa segalanya ini '-maaf sekali- sangat kacau. Dengan Skrip yang ditulis sendiri olehnya seharusnya akan memudahkan Damien untuk mengekspolre naskahnya sendiri. Tapi Ia seperti kehilangan arah dan 'kebingungan' ingin dibawa kemana film ini.
Banyak adegan-adegan yang benar2 pointless, dan tidak jelas sebenarnya mau diarahkan kemana. Tidak berkesinambungan antara satu adegan dengan adegan lainnya .Ibaratnya Menonton film ini seperti menyaksikan sebuah slideshow yang berantakan di sebuah presentasi. Tentu saja departemen editing yang harus disalahkan untuk hal ini. Oh.. ternyata Demian juga yang bertindak sebagai Editornya! Baiklah...
Scoring musicnya juga sangat mengganggu. Tidak pas dan out-of-place sekali. Sepertinya tidak setiap adegan harus ada music nya deh. Dan belum lagi lagu yang diulang-ulang. Tentu saja untuk hal ini Departemen Penata Musik yang harus disalahkan. Dan ternyata Music Director film ini adalah Damien juga! Ok.. baiklaaahh...
Dari segi akting juga seluruh pemainnya benar2 gagal mengekspresikan karakternya masing2. Datar,flat, boring, dan nyaris tanpa emosi sama sekali. flaaattttttt. Mereka gagal membuat penonton bersimpati atau merasa peduli dengan para tokohnya. Tidak ada chemistry sama sekali antar semua karakternya.
Seharusnya film yang mengambil tema anak-anak seperti ini even memiliki cerita yang standar saja misalnya, tapi at least menghibur saat ditonton. Tapi sayangnya unsur "menghibur" pun juga gagal ditampilkan dalam film ini. Teman2 Fi'i yang seharusnya bisa jadi unsur yang bisa membuat film ini 'meriah', juga malah kelihatan annoying.
Dan lagi-lagi kesalahan utama tentu saja harus diarahkan ke Damien Dematra. Di film ini ia menjabat 6 Departemen sekaligus : Produser, Sutradara, Penulis Naskah, Director of Photography, Editor dan bahkan Music! Duh.. gimana bisa fokus toh? Sekedar saran semoga saja next film Damien bisa lebih bijak dengan fokus di satu departemen saja supaya filmnya bisa lebih baik lagi.
Semoga Damien bisa memperbaiki kekurangan2 nya di sequenya SI ANAK PANAH! Baiklaaaahhhhh...
*PEACE!*
Sudah lama saya tidak tertawa terbahak-bahak di bioskop saat menyaksikan sebuah film, dan ternyata kemarin saya mendapatkan experience itu lagi ketika menyaksikan film ini di Festival Sinema Perancis. Film ini memang menjadi salah satu highlight di FSP tahun ini, dan film ini memang menjadi salah satu film terlaris di Perancis tahun lalu.
Kesamaan ide memang seringkali terjadi di dunia perfilman (Entah disengaja atau tidak). Bahkan ide film ini langsung mengingatkan Saya akan film Indonesia HEARTBREAK.COM (beruntung HBDC ini tayang lebih dulu sehingga tidak dituduh plagiat blablabla) dan film Korea CYRANO AGENCY yang juga memiliki ide yang sama.
Tapi terus terang saja dari contoh 2 film yg ide nya mirip HEARTBREAKER ini, film Perancis ini paling unggul dari semuanya. Naskahnya sangat rapih, joke-joke dan scene comedy nya sangat fresh, dan Akting para Aktor/Tris nya sangat belivable dan pas dengan karakternya masing2.
Pascal Chaumeil begitu cerdas merangkai semua momen2 komedi yang mungkin memang sudah beberapa kali muncul di film Rom-Com lainnya menjadi sesuatu yang baru, fresh, dan sukses membuat penonton tertawa terbahak-bahak! Penggabungan komedi yang Hilarious dan romansa yang sweeeeet yang begitu PAS!
Kandidat Film Rom-Com Terbaik Tahun ini di List Saya. Highly Recomended!
Dalam beberapa tahun terakhir Luc Besson sepertinya lebih fokus ke film2 bertema fantasy. Setelah sukses dengan trilogy animasi ARTHURnya (2007-2010). Ia kembali dengan Adele Blanc Sec. Sebuah film ala2 indiana jones namun dengan tokoh wanita cantik yg 'nyentrik'.
Tidak ada yang spesial sama sekali dari naskahnya, berisikan hal2 cukup klise dari film2 eksplorer sejenis, dan komedi yang dihadirkan pun masih sangat komikal dan (errr... slapstick!). Poin plus mungkin adalah dari special effect nya yang tergolong sangat baik (khususnya untuk film non-hollywood). Effect seperti dinosaurus terbang, mumi-mumi yang hidup cukup terlihat smooth dan belivable.
Overall, Adelle masih cukup fun untuk dintonton, biarpun setelah keluar dari bioskop mungkin penonton akan cepat melupakan cerita filmnya yang terlalu ringan..Yeah...Terlalu ringan untuk Sutradara yang pernah menghasilkan film2 keren seperti LEON dan THE FIFTH ELEMENT!
Jujur, TANDA TANYA Tidak se-fenomenal dan se-wah yang saya bayangkan saat membaca sinopsisnya. Tapi harus diakui idenya memang menarik n sangat berani. Dengan mengangkat tema yang 'besar', Sayangnya di beberapa adegan yang mengangkat 'keragaman umat beragama' ini masih terasa kurang maksimal dan kurang 'mengena'. Salah satu contohnya adalah Plot Agus Kuncoro sebagai aktor yg beragama muslim yang memerankan peran sebagai Yesus itu kalau di-eksplore lebih baik lagi seharusnya bisa jadi part paling menarik di film ini. Pergolakan bathin Agus Kuncoro justru tidak terlalu ditonjolkan, padahal kalau ini dilakukan pasti akan sangat 'nendang' dan emosionil, tp sayangnya plot paling menarik di film ini itu hanya terkesan 'selewat' saja, dan kurang diperdalam.
Dari segi Akting semua bermain aman terutama Reza Rahardian yg memang semakin membuktikan kalau dia adalah aktor muda paling berbakat di Indonesia, Satu-satunya yang cukup mengganggu saya hanya penampilan dari Endhita yang errr.. jujur saja tampil dengan tidak meyakinkan, padahal ia salah satu karakter penting disini.
Tapi saya akui film ini sangat unggul dari segi teknis dan sinematografinya yang sangat baik dan menawan, dan pesan dari filmnya sendiri lumayan mengena dan tersampaikan dengan cukup baik. dan kredit lebih untuk Hanung yang Adil dalam memberikan porsi untuk agama-agama di film ini, sehingga tidak terasa berat sebelah dan hanya menyorot lebih banyak ke salah satu agama saja.
Jika naskahnya digarap lebih baik lagi (dan konflik antar tokohnya lebih dibenahi supaya tampil lebih menarik dan menyentuh) seharusnya film ini bisa tampil lebih baik lagi. Tapi salut untuk keberanian mengangkat tema yang cukup sensitif tentang isu SARA yg memang pasti akan mengundang kontroversi di negara kita ini. 'Tamparan' yang cukup 'dalem' dari Hanung untuk orang2 munafik di negeri ini. Recomended!
Film dengan tema balas dendam memang selalu menarik minat saya. Film dengan tema seperti ini mnurut saya sejauh ini masih dijuarai oleh sineas Korea. Tahun lalu ada 2 film korea dengan tema revenge yg sangat brilian dan langsung menjadi film favorit saya yakni I SAW THE DEVIL dan BEDEVILLED. dan kenapa saya membahas film korea? ya, karena film TEBUS ini mengusung tema yang sama yakni "balas dendam yang berdarah" Woohoo..it's gonna be bloody cool! -pikir saya sebelum menontonnya- tapi setelah menontonnya ternyata... errrrrr...
TEBUS sebenarnya memiliki premis yg menarik. naskahnya juga harus diakui cukup oke. saya suka beberapa twist-twist dalam ceritanya (predictable sih jujur saja), alur kisahnya yang dibuat tidak linear, itu cukup keren. sayangnya, sekali lagi eksekusi...eksekusi...eksekusi... yang menentukan segalanya. Film ini benar-benar kedodoran di eksekusi dari sang sutradara. Filmnya masih terjebak beberapa elemen -lagi2- sinetronisme yang berlebihan yang saat saya mulai menikmati filmnya, tapi kemudian langsung turn-off seketika begitu elemen sinetronisme itu muncul (dan berulang).
Tensi ketegangan yang ingin dibangun juga gagal, khususnya untuk saya penikmat genre seperti ini yang mengharapkan jump-scare momen dan perasaan 'gregetan' saat menyaksikan para protagonis dalam situasi terjepit, merasa flat-flat saja saat menyaksikannya.
Teknisnya untuk sajian layar lebar menurut saya juga kurang cinematic. Dan saya cukup terganggu dengan efek fake-blood dan brutal-scene nya yang terlihat sangat tidak meyakinkan. Tyo Pakusadewo tampil prima (seperti biasa), Revaldo (dia berperan sebagai pemadat, so, itu berarti dia gak akting kan disini?hehe), selebihnya so-so. yang cukup mencuri perhatian menurut saya justru Aktor cilik Dayat. karakternya seperti apa, saya tidak bisa bocorkan takut spoiler...
Sayang sekali sebenarnya, padahal jika di eksekusi lebih matang dan serius lagi padahal film ini bisa berpeluang untuk jadi something dan bukan tidak mungkin akan mengikuti jejak kesuksesan PINTU TERLARANG di ajang Festival Film bergenre fantastic di mancanegara. Tapi overall, film ini masih layak tonton ketimbang film2 Indo crap yang rilis belakangan ini... selamat menonton! :)
GARING to the MAX!
Scene komedi yg slapstick (dan terlalu bodoh untuk diketawain), joke2 yg crunchy as hell, akting yang poor n super annoying...
Ohh.. C'Mon.. MR. Rob Scneider... Anda mungkin cukup berbakat sbagai Aktor Komedi.. tapi Anda sama skali gak berbakat utk menyutradarai film... jgn serakah deh!
spanjang screening seisi bioskop mengheningkan cipta... doh... ini film komedi atau apa sih sbenernya??? -_____-
Scene opening film ini sbenernya langsung mebelalakan mata saya... scene Uli Auliani masturbasi di bathtub dengan backsound rintihan2 menggairakhan itu sangat menarik sekali dan langsung membuat saya berfikir akan menyukai film ini..
tapi sperti kbanyakan 'penyakit' film indonesia, semakin ketengah smakin kdodoran dr segi cerita dan eksekusi, yg malah mulai menjurus ke "sinetronisme". padahal ide perselingkuhan ini jika digarap dengan serius dari segi naskah pasti akan menarik skali sbenernya.. sexy n hot.. tp sayangnya gagal di visualisikan di film ini.
uli auliani berakting aman (salut utk totalitasnya naikin berat badan sampe terlihat sperti 'wanita dewasa') akting bitchy n seductive nya ok. mario lawalata berperan sbagai dirinya sendiri(playboy, hahaha) so ga usah dibahas.
Selain scene2 ML nya yang cukup menggoda :D (thanks utk LSF yang kali ini tidak terlalu over-acting dalam membabat smua adegan2 yg mnurut mereka melanggar norma2... for the f*ck shake atas nama MORAL), klebihan film ini adalah kamera yg digunakannya RED One Camera (yang kata Sutradaranya Jose Purnomo) pertama kali digunakan di film Indonesia (seingat saya film Indonesia SEPULUH pernah menggunakan kamera yyg sama sebelumnya). tp sudahlah ya... saya akui kualitas gambarnya memang juara.
sayang sekali kualitas gambar yang juara itu tidak diimbangi dengan naskah dan eksekusi yang juara pula. tp usaha untuk membangkitkan kembali "Film-film dewasa 21+" (pure film bertema dewasa.. bukan film esek-esek berkedok komedi atau horor konsumsi remaja) patut diapresiasi... :)
Cuma satu kalimat : "Khas film Nayato". sepertinya udah menjelaskan smuanya.
Sinematografi -yang maunya- stylish (tapi hasilnya bikin kepala yg nonton pusing), lengkap dengan nayato-universe yg emang udah jadi template nya slama ini (gak peduli genre film apapun film buatannya): hujan, gelap, settingan wong-kar-wai wannabe, n yess.. pastinya scene cewe2 ganti baju yg sperti biasa di-shoot berlebihan.
ceritanya? familiar sekali... seperti THE HANGOVER ( hangover versi KW 15 ) cuma ini dalam versi cewek2 binal. dan jangan lupa tambahkan isu "human trafficking" supaya filmnya kelihatan berisi dan BERBEDA dari film2 indo2 kbanayakan.. sangat jenius!
so, moral of the story is... SATU MALAM BISA MERUBAH SEGALANYA, LHO...
Sutradara film ini Banjong pisanthanakun sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara film horror. Bersama rekannya Parkpoom wongpoom ia sudah menghasilkan horror fenomenal SHUTTER (yang seperti biasa project remake nya di buat hancur-lebur jadi jelek luar biasa oleh Holliwood), dan kemudian diikuti pula dengan kesuksesan film horror kolaborasi kedua mereka yang berjudul ALONE.
Baru pada saat membuat anthology horror yang juga sukses besar "Phobia" , mereka mulai bekerja sendiri-sendiri. Parkpoom setia dengan pakem horror nya, sedangkan Banjong mulai menunjukkan passion nya yg sesungguhnya dibidang komedi dengan menghasilkan segmen horror-comedy berjudul IN THE MIDDLE yang sukses paling mencuri perhatian dari semua segment dalam film Phobia.
Kemudia Ia pun mengulangi kesuksesannya lagi saat menggarap segment IN THE END dalah sequel film itu Phobia-2, yang jujur saja menurut Saya pribadi jika tayang terpisah dengan film lain dalam anthology ini, IN THE END bisa saja disebut sebagai salah satu film pendek terbaik yang pernah saya tonton. Totally Hilarious, tapi dilain sisi juga sangat satir menyindir pakem film horror saat ini. Sungguh Brilliant!
Maka pada saat mengetahui kalau Banjong akan menggarap film non-horror pertamanya dengan genre romantic-comedy, Saya jadi salah satu yang paling tidak sabar menunggu karya terbarunya ini.
HELLO STRANGER bercerita tentang seorang cowok annoying ( yang mungkin akan jadi salah satu cowok paling tidak ingin ditemui di dunia nyata oleh para cewek) saat ikut tour ke Korea, tanpa sengaja bertemu dengan seorang cewek asal Thailand juga yang begitu menggilai serial tv Korea. Karena kejadian yang tidak mereka duga, ahirnya mereka dengan terpaksa menghabiskan liburan di Korea itu bersama, melewati rentetan kejadian gila-gilaan, dan sepakat untuk tidak saling mengenalkan nama masing-masing. Yeah.. sampai ahir cerita penonton tidak diberitahu nama kedua tokoh kita ini.
Sudah bisa ditebak, timbul cinta diantara dua karakter yang sangat berbeda ini. Lantas apakah hubungan mereka akan happy ending? Tunggu kejutan di ahir kisah... :)
Kalau dilihat dari plot nya, sepertinya tidak ada yang istimewa dalam film ini, plot nya khas RomCom. Boys meet girls, they fallin love, and then... happy ending? .
Tapi tunggu dulu, film ini ternyata tidaklah se-simple itu.
Hello Stranger punya keunggulan yaitu muatan satir yang sangat kental. Film ini sangat jelas ‘menampar' kultur para masyarakat Thailand (khususnya anak-anak muda Thailand) sekarang yang terlalu meng-agung kan dan ter-invasi pop-kultur dari Korea dan nyaris melupakan kultur asli dari Negara mereka sendiri.
Jika di Indonesia sendiri, tayangan televisi kita di-invasi oleh sinetron-sinetron busuk, pertelevisian di Thailand sendiri lebih beruntung, saat ini gencar di invasi oleh serial televisi dari Negara Korea, yang jika dibandingkan dengan sinetron kita tentunya seperti langit dan bumi dalam hal production value.
Tapi karena kadar nya sudah telalu berlebihan, dan nilai-nilai tradisi di Thailand juga nyaris bergeser digantikan oleh kultur Korea, Menurut kabar yang Saya dengar, Sutradara film ini punya kegelisahaannya sendiri dan dengan berhasil ‘menyindir' dan ‘menampar' keras dengan dialog-dialog maupun adegan di Hello Stranger yang benar-benar membuat penonton (khususnya yang paham akan issue ini) terbahak-bahak tapi dilain sisi juga ‘tertampar'.
Karakter yang pro serial korea diwakili oleh sang cewek, dan yang apatis akan hal tersebut diwakili oleh sang cowok. Complete! Serial Korea hits seperti Coffe Prince, Princess Hours, dan Winter Sonata, tidak luput kena sindiraan dan jadi joke segar di film ini.
Kelebihan dari Banjong adalah dia mampu membuat joke2 yang benar-benar fresh dan orisinil. Nyaris semua adegan yang memang ditujukan untuk komedi, berhasil membuat Saya dan penonton lain terbahak-bahak di tiap menit nya. Tunggu sampai kalian lihat adegan saat sang cowok memparodikan serial Winter Sonata di patung actor korea terkenal Bae yong Jun. Saya nyaris tidak bisa berhenti tertawa saat melihat scene itu. Dan menyebut beberapa scene komedi yang memorable di film ini buat Saya sangat susah disebutkan... saking banyaknya.
Kelebihan lain dari film ini tentunya juga terletak pada acting dua karakter sentralnya. Sang cowok ("Ter" Chantavit Thanasevi dari film horror sukses Coming Soon) dan sang cewek ( aktris pendatang baru "Noonaa" Neungtida Sophon) menunjukkan chemistry yang luar biasa. Akting mereka sangat meyakinkan, dan tabrakan keuda karakter ini sungguh menggemaskan sehingga kita sebagai penonton sanggup terhanyut dalam emosi mereka berdua. Melihat kegemilangan acting mereka bukan mustahil mereka akan menjadi next rising star di Thailand.
Selain unsur happy-happy-joy-joy tadi, layaknya RomCom lain, film inipun punya momen-momen yang memancing airmata, khususnya seperempat durasi ahir. Cukup berhasil, tapi untuk part yang satu ini, Thailand sepertinya masih perlu belajar banyak dari sineas korea yang memang paling handal dalam memeras airmata penontonnya.
Satu lagi, entah mengapa Saya merasa film ini sangat mirip dengan RomCom masterpiece "My Sassy Girl". Saya malah merasa film ini seperti My Sassy Girl dengan karakter gender yang dibalik. Plot karakter yang ‘tanpa nama' , dan bahkan beberapa adegan sangat mirip, tantangan-tantangan sang cewek, scene gila-gilaan di bar, sepatu high heels, mabuk di hotel, its so... My Sassy Girl!
Entah itu ditujukan Banjong untuk homage, atau memang Banjong juga begitu ter-influence dengan film yang jadi benchmark di dunia sinema RomCom Korea itu, tapi seperti yang selalu Saya bilang sebuah homage selama berhasil diramu dengan fresh dan malah bisa dibuat lebih baik dari objek homage nya, Saya sebagai penonton sama sekali tidak merasa terganggu karena nya.
Ditengah keringnya RomCom yang fresh dan berkualitas dan generic dari segi tema, HELLO STRANGER adalah paket lengkap contoh sebuah RomCom yang berhasil, sangat berhasil malah menurut Saya. Plot nya tidak melulu berfokus pada cinta-cintaan karakternya saja, tapi juga ada message yang ingin disampaikan. Sukses menggabungkan romansa yang sweet dengan sindiran issue yang update. Joke-joke nya fresh dan dengan sukses sangat-sangat menghibur penontonnya.
Jika tahun lalu saya memilih (500) Days of Summer sebagai Romantic-Comedy terbaik dan favorit Saya di tahun 2009. Tahun ini Hello, Stranger sepertinya bisa menjadi kandidat terkuat untuk posisi yang sama.. :)
Dan melihat ending film ini membuat Saya sepertinya tidak sabar menunggu sequelnya...
" Nama Saya adalah... " :)
Sejak THE EYE dan sequelnya THE EYE 2 memang nyaris smua film Pang Brothers jeblok dari segi kualitas...
diperparah dengan 'hijrah' nya mereka ke Holiwood dengan bikin "The Messengers" dan "Bangkok Dangerous" yang ternyata juga ga bisa bicara apa2...
dan setelah mentok dengan variasi film2 yg udah dibuatnya.. mereka back to basic ke nama besar THE EYE... dan ternyata seri terbaru THE EYE ini adalah yang TERBURUK mnurut saya (THE EYE 1 the best... THE EYE 2 lumayan... THE EYE 10 (seri ketiganya) lumayan fun) tapi CHILD'S EYE ini benar2 'sampah'
gak jelas mau dibawa kmana filmnya.. akting sucks.. plot amburadul... dan bahkan gak serem sama skali.. dan sebagai film yang memang ditujukan untuk 3D.. film ini bnr2 gagal!
EPIC FAIL buat film horror asia! bakat mereka saat bikin THE EYE (Hongkong) yang dulu sukses bikin saya merinding sepertinya skarang udah menguap entah kmana... payah!
Dari Sutradara yang sama yang menggarap film yg sukses luar biasa di Thailand MY GIRL (FAN CHAN-2003), lahirlah film ini. Sutradaranya sudah vakum cukup lama pasca kesuksesan film My Girl, tapi ternyata kemampuannya dalam mengolah adegan2 komedi2 yg segar dan joke2 yang 'nampol' yang sukses bikin saya ga berhenti ngakak2 spanjang film masih tetap bisa disaksikan disini.
Karakter anak2 juga masih menjadi fokus utamanya (seperti juga MY Girl). Tapi kalau di My Girl pure kisah cinta anak2, kali Kisah cinta yang diangkat agak unik yaitu antara seorang anak kecil yg jatuh cinta dgn wanita yg lebih tua terus terang mengingatkan saya akan film fave saya MALENA (tentunya disini dalam versi yang lebih soft, gak hardcore sperti MALENA pastinya :D)
konflik dgn keluarga jg dibangun dgn cukup menyentuh. Trus terang salah satu kekuatan komedi dari film ini memang dari karakter sang ayah dengan kelompok komedinya.dan pastinya karakter sang adik yg totally hilarious!Belum lagi banyak2 'surprise' yang sangat sweet... dan pemeran Dr. Ice itu cantik pisan :)
Recomended!
FYI, Film sang sutradara sebelumnya FAN CHAN (MY GIRL) bahkan pernah di 'remake' di Indonesia dengan Sutradara Rizal Mantovani dgn mendubbing semua dialog dan mengganti soundtrack nya dengan lagu2 indonesia.. filmnya berjudul CINTA PERTAMA :)
The King’s Speech bisa disebut sebagai film ‘macan’ festival untuk tahun ini. Mendapat 7 nominasi di Golden Globe dan memenangkan Penghargaan Aktor Terbaik, jelas bukanlah prestasi sembarangan dari sebuah film. Prestasi itu semakin dipermanis dengan menjadi film dengan perolehan nominasi terbanyak di penghargaan film paling bergensi di dunia Oscar 2011 dengan 12 nominasi. WOW!
Sebuah Biopic tentang Raja Inggris George VI (Colin Firth) yang ahirnya ‘terpaksa’ menjadi raja inggris berikutnya, karena Sang Ayah mangkat, dan Kakak nya Pangeran Edward ( Guy Pearce) karena suatu alasan enggan menggantikan Sang Ayah menjadi Raja. Bukan hal mudah bagi seorang Albert, karena ternyata ia punya suatu kekurangan yang cukup langka, yaitu ia adalah seorang yang gagap ketika berbicara. Menjadi gagap untuk orang lain mungkin tidak terlalu masalah, tapi untuk seorang nomer satu di satu Negara jelas merupakan masalah besar. Saat hampir putus asa karena beberapa terapis yang mencoba menyembuhkan penyakit gagap nya tidak ada yang cocok dan berhasil, ia kemudian oleh Sang istri Ratu Elizabeth (Helena Bonham Carter) dipertemukan dengan seorang terapis Lionel Logue (Geoffrey Rush ) yang memiliki metode terapi yang unik.
Lantas berhasilkah sang terapis menyembuhkan sang raja dari kegagapannya?
Tidak bisa dipungkiri, Highlight dari film ini siapa lagi kalau bukan pemeran sang King George VI, Colin Firth. Akting Firth dijamin akan memukau siapapun yang menyaksikannya perannya disini. Gesture gagap nya, kikuk, dan kadang temperamental, benar-benar ditampilkan dengan sempurna oleh Firth. Membuat penonton jadi ‘gregetan’ melihatnya. Rasa nya memang tidak berlebihan ia dianugrahi actor terbaik tahun ini di Golden Globe kemarin, dan penghargaan yang sama di Oscar juga sudah tidak terbantahkan lagi pasti akan disabet olehnya.
Akting yang tak kalah menawan juga ditampilkan oleh Sang Terapis Geoffrey Rush dan juga Ratu Elizabeth Helena Bonham Carter. Khusus untuk Helena, setelah tahun ini memainkan peran sebagai karakter-karakter yang ‘nyeleneh’ seperti menjadi Queen heart di Alice in Wonderland dan menjadi tokoh paling dibenci Belatrix Lestrange di Harry Potter ke-7, cukup mengejutkan menyaksikannya dalam peran sebagai sosok ‘biasa’ seperti ini. Tapi ternyata ia tidak kalah berhasil mencuri perhatian seperti 2 tokoh ‘nyeleneh’ yang ia mainkan di film sebelumnya itu. Ini membuktikan kalau ia memang aktris berbakat yang mampu memainkan peran apapun.
Tom Hooper sang sutradara mampu merangkai kisah yang sangat unik ini, menjadi sebuah sajian film yang mempesona dan di lain sisi juga terasa cukup menegangkan. Seluruh departemen dapat dimaksimalkan dengan baik, Scoring yang menghanyutkan, sinematografi yang sangat indah, acting yang mencengangkan, dan tentu saja muatan pesan yang dalam dari karakter utamanya.
Dengan segala kelebihannya itu, The King’s Speech dengan mudah menjadi salah satu film terbaik yang hadir tahun ini. Tapi apakah juri-juri Oscar akan berpendapat yang sama? Atau kah mungkin akan ada kejutan lain? Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya… :)
The King’s Speech bisa disebut sebagai film ‘macan’ festival untuk tahun ini. Mendapat 7 nominasi di Golden Globe dan memenangkan Penghargaan Aktor Terbaik, jelas bukanlah prestasi sembarangan dari sebuah film. Prestasi itu semakin dipermanis dengan menjadi film dengan perolehan nominasi terbanyak di penghargaan film paling bergensi di dunia Oscar 2011 dengan 12 nominasi. WOW!
Sebuah Biopic tentang Raja Inggris George VI (Colin Firth) yang ahirnya ‘terpaksa’ menjadi raja inggris berikutnya, karena Sang Ayah mangkat, dan Kakak nya Pangeran Edward ( Guy Pearce) karena suatu alasan enggan menggantikan Sang Ayah menjadi Raja. Bukan hal mudah bagi seorang Albert, karena ternyata ia punya suatu kekurangan yang cukup langka, yaitu ia adalah seorang yang gagap ketika berbicara. Menjadi gagap untuk orang lain mungkin tidak terlalu masalah, tapi untuk seorang nomer satu di satu Negara jelas merupakan masalah besar. Saat hampir putus asa karena beberapa terapis yang mencoba menyembuhkan penyakit gagap nya tidak ada yang cocok dan berhasil, ia kemudian oleh Sang istri Ratu Elizabeth (Helena Bonham Carter) dipertemukan dengan seorang terapis Lionel Logue (Geoffrey Rush ) yang memiliki metode terapi yang unik.
Lantas berhasilkah sang terapis menyembuhkan sang raja dari kegagapannya?
Tidak bisa dipungkiri, Highlight dari film ini siapa lagi kalau bukan pemeran sang King George VI, Colin Firth. Akting Firth dijamin akan memukau siapapun yang menyaksikannya perannya disini. Gesture gagap nya, kikuk, dan kadang temperamental, benar-benar ditampilkan dengan sempurna oleh Firth. Membuat penonton jadi ‘gregetan’ melihatnya. Rasa nya memang tidak berlebihan ia dianugrahi actor terbaik tahun ini di Golden Globe kemarin, dan penghargaan yang sama di Oscar juga sudah tidak terbantahkan lagi pasti akan disabet olehnya.
Akting yang tak kalah menawan juga ditampilkan oleh Sang Terapis Geoffrey Rush dan juga Ratu Elizabeth Helena Bonham Carter. Khusus untuk Helena, setelah tahun ini memainkan peran sebagai karakter-karakter yang ‘nyeleneh’ seperti menjadi Queen heart di Alice in Wonderland dan menjadi tokoh paling dibenci Belatrix Lestrange di Harry Potter ke-7, cukup mengejutkan menyaksikannya dalam peran sebagai sosok ‘biasa’ seperti ini. Tapi ternyata ia tidak kalah berhasil mencuri perhatian seperti 2 tokoh ‘nyeleneh’ yang ia mainkan di film sebelumnya itu. Ini membuktikan kalau ia memang aktris berbakat yang mampu memainkan peran apapun.
Tom Hooper sang sutradara mampu merangkai kisah yang sangat unik ini, menjadi sebuah sajian film yang mempesona dan di lain sisi juga terasa cukup menegangkan. Seluruh departemen dapat dimaksimalkan dengan baik, Scoring yang menghanyutkan, sinematografi yang sangat indah, acting yang mencengangkan, dan tentu saja muatan pesan yang dalam dari karakter utamanya.
Dengan segala kelebihannya itu, The King’s Speech dengan mudah menjadi salah satu film terbaik yang hadir tahun ini. Tapi apakah juri-juri Oscar akan berpendapat yang sama? Atau kah mungkin akan ada kejutan lain? Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya… :)
malem minggu nonton film ini ... dan gw dengan sukses ketiduran ditengah2.. :D
joke2nya banyak yang berhasil, tapi lebih banyak lagi yang failed alias garing...
sungguh nge-drop ngeliat akting Natalie Portman disini... (mungkin karna sbelumnya gw uda ntn akting briliannya di BLACK SWAN duluan) jadi ngerasa Portman disini keliatan annoying dan corny banget aktingnya...
tp harus diakui scene Ashton Kutcher terbangun dengan nude di apartemen dengan teman2 nya Emma ngebohongin dia itu cukup Hilarious! :)
intinya bukan Romantic Comedy yang bagus untuk tahun ini...
Trend film Horror di Thailand sepertinya sudah mulai bergeser dan perlahan digantikan dengan genre romantic-comedy yang saat ini sedang digemari disana. Terbukti 2 Film Romantic Comedy tahun 2010 lalu sukses merajai Box Office Thailand dan menjadi film terlaris sepanjang tahun 2010. Posisi pertama diduduki oleh HELLO STRANGER yang beberapa waktu lalu juga sempat tayang di Indonesia, dan posisi kedua ditempati film yang akan Saya bahas kali ini Crazy Little Things Called Love (First Love).
Bercerita tentang Nam (Pimchanok Luevisetpaibool) seorang siswi “buruk rupa” yang berusaha menarik perhatian cowok yang disukainya, binatang sekolah bernama Shone (Mario Maurer). Nam berusaha merubah penampilannya, memutihkan kulitnya yang hitam, melepas behel di giginya, mengikuti pertunjukan drama, berlatih marching band, semuanya ia lakukan demi merebut perhatian Shone. Tapi saat penampilannya telah berubah dari seorang ‘itik buruk rupa’ menjadi sosok ‘angsa yang cantik’, rupanya tidak membuat segalanya lebih mudah. Masih ada rivalnya di Sekolah, cewek paling cantikdan popular Pin, yang juga menyukai Shone, dan sahabat sejak kecil Shone, Top yang ternyata juga menaruh hati ke Nam sejak dulu…
Bisa dibilang tema dan plot diangkat memang sangat familiar dan tidak menawarkan sesuatu yang baru dalam sajian Romantic Comedy. Tapi para aktornya cukup mampu membuat cerita yang “mainstream” dan beberapa adegan klise yang baisa kita jumpai di film Romantic Comedy lain ini menjadi sajian yang tetap menyenangkan untuk disimak.
Bintang paling bersinar di Thailand saat ini Mario Maurer (LOVE OF SIAM) masih tampil pas dan meyakinkan berakting menjadi anak sekolahan lagi, padahal usianya saat ini sudah 21 tahun. Pimchanok sang pemeran karakter Nam juga berhasil menjadi pusat perhatian, transformasi nya dari cewek nerd menjadi wanita anggun terlihat sangat belivable, membuat Saya cukup terkejut dan hampir tidak mengenali saat melihat perubahan fisiknya. Salut untuk teknis dan team make up nya.
Overall, Film ini memang tidak semenggelitik dan sedewasa BANGKOK TRAFFIC LOVE STORY atau berisi sindiran akan culture-shock yang cerdas seperti HELLO STRANGER, tapi untuk Anda yang ingin mengenang masa-masa indah ‘cinta monyet’ disekolah, persahabatan, cinta segitiga, kecerian dan pahit-getir nya kehidupan Sekolah dulu, film ini akan membawa Anda ke memori itu. Mungkin tidak ada salahnya Anda menyaksikannya dengan para teman sekolah Anda dulu sebagai ajang reuni? Sepertinya akan menyenangkan… :)
salah satu film paling bikin merinding di tahun 2010! akting Portman disini bener2 MAUT!!! :)
Twist endingnya cukup surprising...
walaupun jujur eksekusinya masih agak berlarat-larat untuk sebuah sajian horror , jd dibeberpa part malah terkesan draggy dan jadi agak membosankan...
tp overall ok lah buat sekedar jerit2an di bioskop. beberapa scene gore nya cukup sadis n disturbing, so be ware yah guys :D