Let me ask you a simple question. Apa sih yang Anda harapkan ketika menonton sekuel-sekuel Final Destination selama ini, sejak instalmen pertamanya jadi trend baru di tahun 2000 dulu? Say anything, dari cara penggambaran kematian yang nyeleneh tapi sering hi-tech, atau bahkan pemerannya yang selalu harus manis-manis sekalipun. Tapi kalau alasannya untuk melihat akting bagus atau plot yang serba mencerahkan secara sinematis, itu berarti kesalahannya pada diri Anda sendiri. ‘Final Destination’ (2000) memang melahirkan trend di saat teenage slasher yang melambung dari ‘Scream’ sudah mulai jadi membosankan dengan twist-twist ‘whodunit’. Dengan pintar, skenario yang dimotori James Wong, seorang sineas yang lama melintang di sci-fi teve termasuk ‘The X-Files‘ dan ‘Millenium‘ memberi penokohan baru pada sosok pembunuhnya yang bukan manusia atau hantu. Ini berjalan hingga ke sekuel-sekuelnya dengan desain premis yang terus sama. Highlight yang ditunggu-tunggu penonton bukan lagi tetek-bengek lain kecuali satu. Bagaimana cara satu-persatu karakternya menemui ajalnya. A painful one. Tapi pengulangan selalu ada batasnya. Untunglah kebosanan yang mulai mewarnai komentar penonton lantas bertabrakan dengan teknologi 3D di instalmen keempatnya yang cukup dibandrol judul ‘The Final Destination’. Aha. Satu celah yang bisa membuat gambaran ajal itu jadi semakin menarik, dan jelas pantas buat dilanjutkan dengan teknologi 3D yang semakin membaik serta bukan konversi. So now comes the 5th installment. Mari tak menggerutu mempersoalkan plot sampai aktingnya. Ini masih sama kok, dan para penggagasnya tetap setia mengakomodir kemauan para penontonnya, yang seakan belum puas memicu adrenalin dengan 1001 cara mati menyakitkan itu digelar lagi dan lagi.
Sebuah insiden di jembatan kali ini menyelamatkan delapan orang karyawan atas visi Sam Lawton (Nicholas D’Agosto) dalam bus yang bertolak untuk sebuah gathering perusahaan. Ada Molly (Emma Bell), kekasih Sam yang baru saja memutuskannya, sahabatnya Peter (Miles Fisher) dan pacarnya, Candice (Ellen Wroe), sekretaris seksi Olivia (Jacqueline MacInnes Wood), staf pabrik Isaac (P.J. Byrne) dan Nathan (Arlen Escarpeta) serta pimpinan mereka Dennis (David Koechner). Setelah selamat dari insiden itu, satu-persatu pun menemui ajalnya dengan mengerikan. Survivor-survivor ini kembali harus mencari pola dari visi awal Sam dan menghindari maut sejauh mana mereka bisa dengan cara masing-masing. Bumped in, bumped out, it’s still a same concept.
Now enter step one. Silahkan pilih adegan pembuka favorit Anda dari kelima instalmennya. Kalau selama ini banyak yang memilih film kedua yang mengejutkan serta rollercoaster ride di film ketiga yang seru lebih dari opening scene lintasan sirkuit di film keempat, face this ultimate one. Don’t know about you, tapi saya akan dengan mudah memilih opening scene instalmen kelima ini untuk jadi santapan paling lezat dari semua sekuelnya. Then step two, silahkan pilih WTF death scene dari semua yang ada. Ah, ini susah sepertinya, karena tiap instalmennya masih terus terasa fresh mencari inovasi baru yang bakal memaku penontonnya sambil menahan adrenalin mereka. Bukan hanya karena darah yang memuncrat kemana-mana, tapi lebih ke adu intrik para korban dengan maut yang siap mengincar mereka dibalik sosok misterius Bludworth yang diperankan oleh Tony ’Candyman’ Todd, yang selalu seliweran di tempat kejadian. Todd yang absen di instalmen keempat kini muncul lagi sebagai trademarknya. Step three, adalah sebuah keunggulan teknologi 3D yang tak lagi membuat Anda berpikir kesana-kemari. Dalam konsep paling primitif, tak perlu jauh-jauh ke ‘Avatar‘ atau ‘Transformers 3‘ yang super canggih, kalau akrab dengan teknologi 3D era jadul, instalmen kelima ini sudah melakukan semuanya dengan efektif. 3D-nya bukan sekedar jualan tapi memang disiapkan untuk menambah pacuan adrenalin itu dengan absurditas yang pas. Satu yang sering terlupa dalam film-film 3D sekarang, mereka memanfaatkannya dengan konsep klasik. Banyak sekali gerakan-gerakan yang sengaja diarahkan ke depan muka penonton untuk memicu excitement penonton, sampai-sampai banyak kritikus super serius yang biasa menganggap remeh balutan 3D tak mampu lagi menampik kesenangan mereka. And right, konsep klasik ini adalah salah satu tujuan kita rela mengeluarkan kocek lebih untuk menonton versi 3D-nya.
Oke, mungkin ada beberapa logika yang tak sesuai dengan gambaran kenyataan yang bisa mengusik beberapa profesi seperti beberapa spesialisasi kedokteran di instalmen kelima ini, berikut akting yang kurang pas dari pendukungnya. Salah satunya adalah Miles Fisher yang punya tampang serta gestur yang diakui sangat mirip dengan Tom Cruise sampai muncul di ‘Superhero Movies‘ sebagai dirinya, yang seharusnya jadi penekanan di bagian konfliknya. Ketimbang masuk ke karakter Peter, Fisher malah terlihat sama seperti tengah memparodikan akting Tom Cruise. But then again, ini adalah Final Destination. Just skip those thoughts dan nikmati sajiannya. Rancangan tipu-menipu karakternya dengan maut tetap asyik buat dinikmati, apalagi dengan sebuah twist yang bisa membuka kemungkinan lebih besar lagi kelanjutannya ke depan atau justru sebaliknya. Ah, sudahlah. Right before the end credits rolled, masih ada remix death scenes dari instalmen-instalmen sebelumnya. Yup, more pain, more fun, ain’t it just right? (dan)
No, Luc Besson, meskipun tampilan banyak film di awal-awal karirnya dan sedikit masih tersisa sampai sekarang, terkesan beda dari mainstream blockbusters Hollywood, bukanlah seorang sutradara arthouse. Awal karirnya sebagai pionir dalam gerakan new wave sinema Perancis medio 80an yang dikenal sebagai ‘cinema du look’, yang lebih meng-Amerika dan banyak mengadopsi gaya videoklip dalam visualisasinya, justru banyak dicerca kritikus negaranya. However, Besson sudah menghadirkan budaya pop baru yang membuka jalan bagi sinema Perancis yang cenderung absurd itu untuk lebih mendunia. Style Eropa-nya sebenarnya tak sepenuhnya ditinggalkan, namun kombinasi yang diracik Besson dengan budaya Hollywood menghasilkan sesuatu yang beda. Salah satunya adalah narasi film noir dalam karya monumentalnya, ‘La Femme Nikita’ (1990). Selain jadi salah satu awal baru, walau sebelumnya bukan tak ada, Nikita jadi salah satu dedengkotnya tema-tema lady assassins. Remake Hollywood-nya pun terus masih berlanjut dengan serial teve yang dibintangi Maggie Q tahun lalu. Lonjakan karir seorang Jean Reno juga salah satu yang lahir dari sana. Lantas, Besson mulai merambah Hollywood. Kesuksesannya dalam ‘The Fifth Element’ mendorong Besson untuk mendirikan Europa Corp, sebuah media untuk melebarkan ekspansinya membesut film-film Eropa bercitarasa Hollywood, tapi tetap tak melupakan akarnya dari negara asal Besson, Perancis. Name it. ‘Kiss Of The Dragon’, ‘The Transporter’, ‘Taken’, sampai ‘From Paris With Love’, adalah beberapa diantaranya. Dan kekuatan lain di sebagian besar karya Besson adalah penulis Robert Mark Kamen, kreator ‘The Karate Kid’ yang sudah berkolaborasi dengan Besson sejak di ‘The Professional’ dan ‘The Fifth Element’. Persepsi banyak orang terhadap Besson memang bisa terpecah dua. Di saat sebagian menganggap karya-karyanya di bawah bendera Europa Corp, baik yang semi Hollywood maupun yang asli Perancis tak lebih dari jualan komersil yang hampir melulu menjual aksi, sebagian masih mendewakannya dengan racikan inovatif yang selalu muncul dalam filmnya. So now, it’s time for ‘Colombiana’, lagi sebuah lady assassin dengan judul sangat catchy itu.
Cataleya kecil (Amandla Stenberg) sudah dipersiapkan ayah ibunya atas keterlibatan mereka dengan Don Luis (Beto Benites), seorang druglord di Kolombia. Ketika waktunya tiba, Cataleya yang sudah dibekali data yang diinginkan CIA sebagai paspornya di-eksodus-kan ke AS pun melarikan diri setelah menyaksikan Marco (Jordi Molla), tangan kanan Don Luis, membunuh orangtuanya. Sampai di AS sebagai saksi mata yang dilindungi, Cataleya kembali raib menuju kediaman nenek serta pamannya, Emilio (Cliff Curtis). Sia-sia Emilio mencoba mengirimkan Cataleya ke sekolah public untuk menjauhi traumanya. Cataleya pun beranjak dewasa (Zoe Saldana) menjadi seorang pembunuh bayaran atas order yang diterima Emilio. Namun dendamnya tak bisa membuat Cataleya bekerja sesuai dengan profesionalisme dan keahliannya yang luarbiasa. Sambil menjalani kehidupan dobelnya menjadi kekasih misterius seorang pelukis, Danny Delanay (Michael Vartan), korban-korbannya ditandainya dengan lukisan anggrek serupa namanya untuk memancing Marco dan Don Luis. Emilio yang mencoba mengingatkan pun tak bisa berbuat apa-apa ketika agen-agen FBI dibawah pimpinan Ross (Lennie James) mulai melacak jejaknya, sementara pancingannya juga mulai membawa Marco kembali untuk melenyapkan sang pembunuh misterius itu. Bagi Cataleya cuma ada satu tujuan, walau harus menyerang atau diserang dua pihak ini. Menuntaskan dendam atas kematian kedua orangtuanya.
Lady assassin atau undercover heroine yang licin tak kepalang namun masih punya hati, itu sudah kita saksikan berkali-kali sejak ‘La Femme Nikita’ sampai yang masih melekat di gelaran summer blockbuster tahun lalu, ‘Salt’nya Angelina Jolie. Sekilas, meski penelusuran plotnya tak sama, Colombiana memang kelihatan tak jauh berbeda. Ada intrik, twist-twist ringan, pameran device, love interest, agen baik dan jahat, sampai cat and mouse chase serta adegan-adegan aksi untuk menggambarkan keahlian taktis sang jagoan. Dalam konteks jualan, seperti lagu yang catchy dan bisa cepat lengket di benak banyak orang, resepnya pun rata-rata sama. Colombiana juga tak perlu berjalan jauh bait demi bait untuk menggelar reff-nya. The boom-bang action sudah muncul dalam beberapa menit film berjalan dengan peningkatan intensitas terjaga rapi sampai ke klimaks, dalam genre ‘girls with guns’ ini, one-woman-show. Namun pilihan Besson yang lagi-lagi menulis ceritanya bersama Mark Kamen pada sosok karakter utamanya yang afroamerika inilah yang jadi inovasi mereka untuk menghadirkan sesuatu yang beda.
Ada sedikit tribute ke trend blaxploitation yang dulu sempat marak di era ‘70an, namun tak harus tergelincir jauh dari style Besson biasanya. Ini jadi tugas Olivier Megaton, sutradara yang dua karyanya sebelum ini, ‘Red Siren’ dan ‘The Transporter 3’ sudah menyiratkan erotisme yang padu dengan gelaran action-nya. Tanpa perlu set-set vintage atau bersadis ria, Besson bersama Megaton melakukannya cukup dengan mengeksploitasi black beauty-nya Zoe Saldana sama dengan intensitas adegan-adegan aksinya yang membuat penontonnya sama-sama menahan nafas. Body language-nya di tiap adegan muncul dengan pas, begitu juga koreografi aksi-aksian yang diterjemahkan dengan cantik olehnya. Oh yeah. Saldana adalah pilihan tepat dengan postur tinggi semampainya dibandingkan dua aktris afroamerika sekelasnya, Rosario Dawson yang bakal susah jumpalitan dengan onderdil depannya atau Thandie Newton yang kelewat mini dan bertampang melankolis. Dan lagi, karakter-karakter sampingannya, semua ikut menyumbangkan scenestealing potensial yang nyaris sama dengan La Femme Nikita dulu. Lennie James bermain menarik sekali sebagai agen Ross, Jordi Molla sebagai Marco yang beringas, sementara Cliff Curtis juga cukup intens sebagai Emilio yang keras namun protektif terhadap Cataleya. Dan pemeran Cataleya kecil, Amandla Stenberg juga patut diberikan kredit dengan ekspresinya yang sempurna mengantarkan bait-bait awal Colombiana, walau dengan durasi sebatas hitungan menit itu. Ok, don’t get me wrong. I wouldn’t put you in any suggestions bahwa ini sama bagusnya dengan ‘La Femme Nikita’ yang fenomenal itu, namun seperti karya-karya Besson lainnya, let’s say ‘Taken’ atau ‘From Paris With Love’, ini adalah sajian seru sekaligus lezat untuk disantap sebagai hiburan dengan bombastisme cukup eksplosif namun tetap pakai otak. In French, I shall say, ‘Tout Simplement Magnifique!’. Just beautiful. (dan)
Everybody might know Smurf as a charming little blue creatures. Cara mereka mengganti kata-kata dengan istilah ‘smurf’, juga. Bahkan arch-nemesis mereka, penyihir mbalelo bernama Gargamel dengan kucing siriknya, Azrael. Tapi baca semua komik, tahu karakter-karakter dan semua yang ada di Smurf universenya, itu belum tentu. Apalagi setelah trend komik Eropa dihajar habis oleh komik Jepang disini. Smurf yang di Perancis dikenal dengan ‘Les Schtroumpfs‘, adalah kreasi komikus Pierre Culliford yang populer dengan nama Peyo di komik-komik legendarisnya termasuk ‘Johan & Pirlouit‘ (dimana Smurf lahir dari salah satu serialnya, ‘The Six Smurfed Flutes‘), ‘Steven Sterk‘ dan ‘Spirou & Fantasio‘ yang dulu juga beredar di Indonesia medio 80an. Belakangan, serial animasi tevenya semakin meneruskan keberhasilan smurf-smurf ini menjadi karakter animasi legendaris yang dikenal anak-anak seluruh dunia. So now comes the movie, silahkan kembali membolak-balik lembaran kanak-kanak Anda. Ini adalah pure children stuffs, jadi jangan harapkan adaptasinya tampil dengan bergelap-gelap ala trend sekarang. Dan karena itu juga, pemilihan Raja Gosnell, sutradara mantan editor (termasuk di ‘Home Alone‘ 1-2 dan ‘Pretty Woman‘) yang memulai debutnya di ‘Home Alone 3‘ kemudian sukses mengadaptasi ‘Scooby Doo‘ live action, rasanya cukup tepat karena visi family movie dan comics universe-nya memang kental sekali. Once again, ini sajian semua umur Smurf dengan semua universe-nya, yang dibesut dengan CGI dan tambahan penggabungan ke karakter-karakter live action. Bidikannya adalah penonton belia atau belahan hati penonton dewasa yang pernah menyukainya dulu atau sekarang. Mau cara berbahasa ala smurf sampai ke themesong serial animasinya, boleh-boleh saja dianggap garing atau serba annoying. Tapi itu justru sekaligus highlightnya. If you don’t like a thing about it, then just back off. Ada karakter smurf baru, namun pastinya bukan smurf psycho.
Visi yang didapat Papa Smurf (Jonathan Winters, pengisi suara asli serial animasinya) di Blue Moon festival, salah satu perayaan paling penting di tempat asal para Smurf, akhirnya terbukti kala Clumsy Smurf (Anton Yelchin) tak sengaja membuka jalan bagi penyihir Gargamel (Hank Azaria) ke dimensi mereka. Di tengah kerusuhan itu, Papa Smurf, Smurfette (satu-satunya Smurf cewek hasil kreasi Gargamel yang dulu di Indonesia dinamakan Smurfin, disuarakan penyanyi Katy Perry), Grouchy (George Lopez), Brainy (Fred Armisen), Gutsy (Alan Cummings) dan Clumsy Smurf terjebak ke sebuah gua rahasia yang mengharuskan mereka melompat ke pusaran raksasa yang kemudian mengantarkan mereka ke hiruk-pikuk New York. Gargamel dan kucingnya Azrael (Frank Welker, juga pengisi suara asli animasinya) lantas mengikuti para Smurf yang melarikan diri ke apartemen pasangan muda Patrick (Neil Patrick Harris) dan Grace (Jayma Mays). Patrick, pegawai sebuah perusahaan kosmetik pimpinan Odile (Sofia Vergara) yang tengah dikejar deadline iklan kemudian membantu Papa Smurf menemukan mantera untuk mendatangkan bulan biru agar mereka bisa kembali ke asal mereka, sementara Gargamel justru mendapatkan tongkat sihir bernama dragonwand sebagai jalan untuk menghabisi makhluk-makhluk kecil seterunya ini.
To some and mostly serious critics, Raja Gosnell boleh saja dianggap sutradara kacangan untuk sekedar urusan komersil-komersil belaka. Namun penelusuran penulis ‘Shrek’ 2 dan 3, David Stern dan David Weiss, bersama penulis ‘The Zookeeper‘ Jay Scherick dan David Ronn di bawah CEO Sony, Michael Lynton, yang merupakan penggemar Smurf sejak kecil jelas tak membawa karakternya jauh dari yang ada di komik. Gosnell yang sudah membuktikan visinya ke genre family movies juga membesut petualangan ini se-simpel komik yang memang jadi konsumsi anak-anak ini. Jadi naif sekali kalau penilaiannya harus memakai standar film-film serius yang mengutamakan plot, akting dan segala tetek-bengek filmis lainnya karena source aslinya toh bukan seperti itu. Dibalik semua kritikan pedas ala dewasa itu, mereka dengan efektif sudah bisa menuangkan penjelasan tentang smurf universe bagi pemirsa yang belum pernah menelusuri benar-benar komik atau animasinya, hanya dalam beberapa adegan dan line dialog, sampai ke asal-usul Smurfette. Cukup sekilas namun jelas. Overly childish, annoying dan slapstick-slapstick itu? Ya memang begitulah kreasi Peyo menggelar hiburan untuk pembacanya. Dan poin terpenting adalah bagaimana hasil tim CGI yang katanya bekerja keras selama 350 ribu jam lebih untuk menghidupkan para smurf ini ke layar lebar dengan treatment 3D yang lebih dijual ketimbang 2D-nya, which is very charming, trust me, serta, note this, how this could brighten your smile just like the comics did. Kedengaran kelewat segmental? Yes, it might be, tapi juga adalah suatu kenyataan bahwa sejak kita semua pasti sudah tahu bisa sejauh mana adaptasi karakter komik anak-anak terkenal ini dibawa. Just unlock that childhood side of yours kalaupun sudah merasa kelewat dewasa untuk mencintai smurf-smurf yang sekali waktu dulu pernah menghias masa kecil Anda, and you’re going to love it. As for me, I smurf these smurfs and this is Smurf! (dan)
DON'T BE AFRAID OF THE DARK : JENGLOTS IN THE BASEMENT
Bersama ‘The Debt’-nya Sam Worthington, horor terbaru produksi Guillermo del Toro ini sempat mengalami penundaan rilis atas status akuisisi Miramax dari Disney ke perusahaan investor baru bernama Filmyard Holdings. Padahal, trailernya yang hadir menjelang penghujung tahun lalu sudah banyak mengundang ekspektasi, apalagi, remake dari film teve berjudul sama di tahun 1973 ini merupakan ambisi pribadi del Toro yang begitu menyukai kengerian yang ada di film aslinya, meski ia menyerahkan kursi penyutradaraan pada Troy Nixey, pelukis komik ‘The Matrix’ yang baru menghasilkan satu film pendek, ‘Latchkey’s Lament’ (2007). However, ini adalah horor-nya del Toro, yang punya atmosfer beda dengan horor biasanya. Persepsi seram ke sebuah horor kuno mungkin sekarang sudah bergeser dengan trend horor Asia yang merebak sampai ke Hollywood. Rumah ala kastil kuno, makhluk menyeramkan dengan karakter ala film-film horor Vincent Price zaman dulu boleh jadi tak terasa se-menakutkan seperti era -70an dulu, tapi siapa tahu. Deretan sukses del Toro termasuk di ‘The Devil’s Backbone’, ‘Julia’s Eyes’, sampai ‘Pan’s Labyrinth’ yang lebih ke fantasi ketimbang horor itu, sudah membawa kembali suasana eerie yang mengedepankan set-set beratmosfer horor kuno rumah-rumah dengan basement, taman rindang, ornamen klasik dan efek spesial creatures-nya yang sangat berkesan gothic. So welcome to Guillermo del Toro’s world of horror.
Sebuah flashback tentang pelukis Emerson Blackwood (Garry McDonald) yang tengah diliputi ketakutan akan makhluk-makhluk kecil mengerikan di basement rumahnya dan mengorbankan pengurus rumah Miss Winter (Edwina Ritchard) untuk diambil giginya demi mendapatkan kembali anaknya yang ditawan makhluk-makhluk itu, mengantarkan kita ke karakter Alex Hirst (Guy Pearce), seorang duda pialang restorasi rumah kuno di zaman sekarang. Bersama Kim (Katie Holmes), desainer interior yang dipacarinya, Alex yang baru kedatangan putrinya, Sally (Bailee Madison), tengah merenovasi rumah Blackwood yang telah disegel puluhan tahun setelah insiden itu. Sally yang baru memulai adaptasi bersama Alex dan Kim dengan trauma karena merasa dicampakkan sang ibu mulai mendengar suara-suara aneh seiring ditemukannya basement rumah yang tersegel itu. Keingintahuan Sally akhirnya membawa kembali makhluk-makhluk mengerikan itu, yang telah menunggu lama dengan satu tujuan tersembunyi. Setelah mandor bangunan Harris (Jack Thompson) yang mengetahui insiden dulu menjadi korban, Kim akhirnya mati-matian berusaha melindungi Sally, sementara Alex menganggap semuanya hanya fantasi dari keadaan psikologis Sally.
Dimulai dengan opening scene yang gory, versi baru horor ini sudah dengan mantap menancapkan tajinya, tetap dalam koridor style del Toro yang seperti biasa, selalu remarkable. Bahkan nama Troy Nixey pun tenggelam seakan film ini dibesut oleh del Toro sendiri. Sebagian desain set-nya yang menggunakan properti ‘Pan’s Labyrinth’ ditambah sedikit polesan beda seakan ikut bicara membangun atmosfer gothicnya yang serba eerie bersama sinematografi Oliver Stapleton yang sudah berpengalaman membesut film-film berset kuno serta isolated (karya Stapleton diantaranya ‘Casanova’, ‘Ned Kelly’, dan ‘The Cider House Rules’). Iringan skor oleh Marco Beltrami juga terdengar semakin sinergis membangun suasana menyeramkan dibalik set itu. Namun adalah Bailee Madison, aktris cilik yang belum lama ini kita lihat dalam ‘Just Go With It’-nya Adam Sandler serta ‘Letters To God’ yang sangat berjasa membawa kengeriannya ke puncak. Madison yang punya wajah depresif dibalik gestur dan potongan poninya yang menggemaskan ini dengan sukses memerankan Sally yang penuh masalah, lengkap dengan kepolosan childish yang diwarnai gaya sok dewasa-nya. Katie Holmes juga menghadirkan akting cukup berbeda dari sederetan film-film kecilnya selama ini, sementara Guy Pearce, sayangnya dibatasi skenario untuk akting tipikal seorang ayah yang mencoba selalu terlihat realistis. Sinergisme ini bekerja dengan baik untuk menyelamatkan plot yang sekilas seperti punya plothole krusial namun sebenarnya terjelaskan meski kelewat singkat. So how about the CGI effects? Pastinya, del Toro tak akan meninggalkan kebiasaannya membesut makhluk-makhluk fantasi yang menyeramkan. The goblin-like creatures which they described as fairies, yang tersimpan cukup lama itu, menampilkan teknik CGI yang cantik dengan pergerakan dinamis, walau kesannya kelewat modern dan menurunkan tensi seram yang dibangun dengan meyakinkan sejak awal. Tapi bagaimanapun, seperti restorasi rumah kuno yang penuh perhitungan, Don’t Be Afraid Of The Dark sudah membuktikan sekali lagi visi fantastis seorang Guillermo del Toro. Some may called those hairy little creatures as fairies, while kids who just watched smurf may called it bad smurf. But with almost the same description, here in Indonesia, we named it Jenglot. Tapi tak usah khawatir, tak seperti ‘Jenglot Pantai Selatan‘ yang kebablasan dengan pameran paha dan dada, ini film Jenglot yang bagus. (dan)
Let’s talk about Taylor Lautner. He’s one of the highest paid teenage actor in Hollywood now. Mengawali karir sebagai bintang cilik diantaranya dalam ‘Cheaper By The Dozen‘ (oh yes, look at that dvd cover again and you’ll find him) dan ‘The Adventures of Sharkboy and Lavagirl‘-nya Robert Rodriguez, Lautner meraih puncak ketenarannya sebagai werewolf hunk, Jacob Black, dalam Twilight Saga. Sebagian boleh-boleh saja menganggapnya overrated dengan tampang eksotis dan postur sixpack penuh otot yang diperjuangkannya demi mempertahankan peran Jacob dalam ‘New Moon‘, di luar sejarah dirinya yang juga pernah jadi juara turnamen karate anak-anak. Namun kenyataannya, tak perduli seberapa kesalnya Lautner-haters itu, filmnya selalu dipenuhi teriakan histeris para penonton cewek-cewek belia. Sejumlah award berbasis viewers’ choices pun diraihnya dengan cepat, belum lagi gelar-gelar ‘most amazing bodies’ dari majalah People dan beberapa list sexiest man. So when you gained that level of popularities, body bagus dan punya kemampuan martial arts yang tak sekedar baru coba-coba, there are no better reasons than to push it to the top. Tahun ini, Lautner bersama ayahnya, Dan Lautner, juga mendirikan Tailor Made Entertainment, sebuah rumah produksi miliknya yang turut memproduksi debutnya sebagai calon bintang aksi baru. The young Bourne, some said. Kritik pedas yang menenggelamkannya ke rating terendah situs-situs film internasional? Ah, rasanya mereka tak bakal perduli. Penonton-penonton cewek itu tetap histeris melihat tampilan Lautner di depan layar, dan itu berarti kans besar bagi sebuah perolehan box office. Let’s bet. Selain dwilogi akhir Twilight yang masih bakal muncul dalam waktu dekat, tak perduli dengan pukulan kritikus ke film ini, Lautner pasti bakal terus muncul lagi dalam sejumlah film aksi atau bahkan franchise-franchise superhero. ‘X-Men:First Class’ awalnya sudah mengkastingnya biarpun akhirnya batal. Ain’t it right?
Abduction pun dibuka dengan hingar-bingar dunia remaja menuju sebuah pesta. One of those boys, Nathan Harper (Lautner) lantas ditonjolkan ke depan mata kita sebagai karakter utamanya. Ia punya ayah, Kevin (Jason Isaacs), yang kerap melatihnya beladiri dengan full contact, serta ibunya, Mara (Maria Bello) yang selalu jadi penengah. Then comes the oh. Nathan ternyata kerap berkonsultasi dengan psikiater dr. Geraldine Bennett (Sigourney Weaver) atas mimpi-mimpi buruknya yang berulang dengan visi sama, seorang wanita yang dibunuh lelaki bertopeng. Comes another oh, Nathan’s highschool crush, Karen Murphy (Lily Collins ; daughter of Phil Collins), yang suka ribut dengan pacarnya dipasangkan gurunya dengan Nathan dalam sebuah tugas kelompok, dan oh lagi, ternyata Karen adalah tetangga Nathan sejak kecil. Pengerjaan tugas itu lantas mengantarkan lagi oh lainnya, sebuah website anak hilang dimana mereka membuka sebuah gambar yang oh, mirip dengan Nathan kecil. Bocah itu bernama Steven Price. Nathan kemudian menyadari bahwa Steven dan dirinya memang sama oleh oh-oh yang lain, sebuah kaos bernoda yang oh, masih disimpan di basement rumahnya, dan Kevin dan Mara bukan orangtua kandungnya. Tepat saat ia meminta pengakuan, sekelompok teroris Rusia menyambangi rumahnya. Kevin dan Mara dibunuh, dan oh, Karen ternyata baru hendak memasuki rumah yang kemudian meledak. Nathan pun segera melarikan diri bersama Karen dibantu dr. Bennett yang menyadarkannya dengan oh-oh yang lain, sementara pimpinan teroris Rusia, Viktor Kozlow (Michael Nyqvist) serta agen-agen CIA dibawah komando Frank Burton (Alfred Molina) terus melacak jejak mereka. And another oh keeps coming their way.
Tentu tak ada yang salah dalam premis missing identity dalam sebuah film action. Ratusan bahkan ribuan film sudah berhasil menggunakan formula ini. Namun ‘Abduction’, oh, mind me for that sort of (might be) spoilers tapi trailernya yang terus terang, cukup seru itu, sudah membeberkan lebih dari 50% isi filmnya. Yang kemudian kita saksikan dari skenario karya seorang frontman band Stellastarr, Shawn Christensen, yang kabarnya dibeli dengan harga mahal oleh pihak produksi, adalah kisah dengan plothole lumayan berantakan di sana-sini. Sekilas tampak sebuah puzzle yang menarik, namun caranya membeberkan hint seperti pendongeng yang seketika membuka oh-oh dan ternyata-ternyata-nya dengan ketololan tingkat tinggi lebih ke penggalan-penggalan dialog ketimbang gelaran adegan penuh twist yang membiarkan penontonnya menyusun satu demi satu potongan. Dan tak hanya itu, beberapa karakter yang muncul di sela oh-oh tadi pun suka pupus entah kemana. Entah mengapa produser-produsernya termasuk sutradara yang sudah punya nama besar John Singleton bisa terlihat percaya sekali dengan kekuatannya sampai merencanakan Abduction menjadi sebuah trilogi ala Bourne dengan gembar-gembor mereka di beberapa press release. So it’s broken already, masih ada faktor jualan yang lain.
Of course it’s Lautner’s persona of an upcoming Hollywood’s action hero. Sayang ini juga hadir dengan ketololan cukup tinggi. Otot gede dan tampilan Lautner yang ngotot melakukan banyak stunt-nya sendirian memang cukup meyakinkan, termasuk koreografi aksi pertarungan yang bagus. Tapi ia tak punya ekspresi yang salahnya paling dibutuhkan dalam film-film berfondasi twist seperti ini. Boro-boro mau menyaingi Matt Damon atau Daniel Craig yang menomorsatukan akting dalam membangun intensitas imej mereka secara seimbang sebagai action hero, bahkan action hero lain yang lebih menonjolkan otot tanpa akting bagus, apa yang kita lihat kemudian jauh lebih parah dari itu. Lautner terus muncul seperti seorang coverboy yang tengah berpose merem-melek untuk tak sekalipun kelihatan jelek difoto. Oh ya, Lautner mungkin tahu sekali saja ia membuka kancing lebih, berbaju super ketat sampai bertelanjang dada seperti senjatanya dalam Twilight, semuanya sudah beres. But he’s wrong. Bahkan soundtrack serba emo yang mengesankan ini adalah film remaja tak bisa kelihatan sinergis dengan style mati-nya itu. Lily Collins pun kurang lebih sama. Ketimbang mencoba menyamai karakter yang sebenarnya digelar dengan potensi lebih, ia lebih memilih jadi boneka barbie yang seakan terus berekspresi ‘what?’, ‘what?’, di sepanjang durasinya. Komponen antagonisnya yang terlihat seseram instalmen ‘Die Hard ’pun ikut tersisih jadi terlihat tak penting. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan Abduction, meski tak terlalu banyak, justru adalah banyaknya bintang senior yang mau-maunya tampil disini. Dari Jason Isaacs, Maria Bello, Alfred Molina, Sigourney Weaver sampai Michael Niqvist, aktor Swedia yang tampaknya bakal menyaingi Stellan Skarsgard atas kesukesan fenomenal ‘The Millenium Trilogy’ itu, plus Dermot Mulroney, yang meski hanya tampil sekilas dengan shot sebagian wajah, ekspresi dan intonasi dialognya benar-benar bagai langit dan bumi dengan Lautner. Ya begitulah. Bak-bik-buk-nya cukup lumayan walau klimaksnya tak dibesut lebih eksplosif. Tapi selebihnya, well, this might works for some young ladies, tapi harusnya mereka sadar, bahwa lebih dari 50% pemirsa film aksi bukan datang dari fanbase Twilight. A lesson to learn. (dan)
THE SORCERER AND THE WHITE SNAKE : A CHINESE CLASSIC GOES MISCONDUCT
Berita yang sudah datang jauh-jauh bahwa Jet Li akan membintangi sebuah remake (ah, it’s not actually a remake tapi tepatnya re-telling) dari sebuah legenda klasik Cina, Legends of the White Snake, sudah melahirkan dua sisi ekspektasi yang berbeda. Pertama, bahwa sutradaranya adalah Tony Ching Siu-tung, sutradara dan koreografer laga terkenal yang sudah malang-melintang dari perfilman Hongkong, Cina hingga Bollywood (oh ya, kiprahnya di perfilman Amerika dengan film straight to dvd Steven Seagal, Belly Of The Beast, mari dilupakan saja). Di Hongkong dan Cina, Tony sudah menghasilkan sebaris film legendaris sebagai sutradara (diantaranya dua trilogi klasik A Chinese Ghost Story dan Swordsman) dan penata laga (this includes Hero, House Of Flying Daggers dan Shaolin Soccer). Aksi superhero Bollywood, ‘Krrish‘-nya Hrithik Roshan juga merupakan hasil koreografinya. Retelling baru ini kabarnya akan menampilkan porsi CGI gede-gedean bahkan dibesut dalam trend 3D. If that sounds like a highlight, satunya adalah sebaliknya. Bahwa judul yang dipilih adalah ‘It’s Love’, yang OMG, terdengar lebay meskipun pada dasarnya legenda klasik ini memang adalah sebuah lovestory. Untunglah akhirnya mereka memilih maju dengan titel baru, ‘The Sorcerer and the White Snake’, yang semakin menjelaskan bahwa mereka tak mau sia-sia memasang nama besar Jet Li sebagai satu dari empat karakter utama legenda ini, biksu Fahai the demon hunter yang sama legendaris dan pasti sudah dikenal semua yang tahu kisah ini. Selain dua produksi berbeda dari Shaw Brothers, versi terakhirnya tahun 1993 yang disutradarai Tsui Hark, menggunakan sudut pandang satu karakter lagi dan dibandrol judul sesuai itu, ‘Green Snake’, juga cukup punya nilai klasik, baik di barisan cast yang memasang Vincent Zhao, bintang laga yang menggantikan Jet Li di instalmen ‘Once Upon A Time In China’ berikut plot yang sedikit dibelokkan dari legenda aslinya. So then comes the official poster, yang jelas-jelas hanya menonjolkan si biksu. Oke. It’s Jet Li anyway, dan kita pasti paham sekali alasannya. Dalam konteks jualan, mau tak mau ya sah-sah saja.
Iblis-iblis yang dalam legenda ini dipercaya sejak dulu hidup berdampingan dengan manusia sebagai binatang jadi-jadian dan siap menunggu kesempatannya menggoda, harus berhadapan dengan seorang biksu bernama Fahai (Jet Li) bersama murid kepercayaannya, Neng Ren (Wen Zhang) serta sebarisan pasukan yang siap menangkap mereka untuk ditawan ke pagoda suci di atas bukit tengah lautan. Namun dua siluman ular berusia ribuan tahun dengan kekuatan luarbiasa, Bai Suzhen/White Snake (Eva Huang) dan Xing Xing/Green Snake (Charlene Choi) yang hidup mengasingkan diri ke sebuah hutan tersembunyi tak bisa menahan keinginan mereka ketika Suzhen jatuh cinta pada Xu Xian (Raymond Lam), seorang herbalis lugu yang berniat mencari tanaman obat disana. Xing Xing pun mati-matian membantu Suzhen untuk dapat menikah dengan Xu Xian. Sementara Neng Ren yang berubah wujud menjadi siluman kelelawar setelah menjadi korban gigitan juga akhirnya dekat dengan Xing Xing, mau tak mau hubungan terlarang ini memancing Fahai untuk memisahkan mereka. Saat sebuah insiden membuat Xu Xian tertenung di kuil para biksu, Fahai harus menghadapi dua siluman ular dengan amukan Suzhen yang siap menyapu seluruh kota dengan air bah.
Kesuksesannya di genre martial arts selama ini mungkin membuat Tony Ching Siu-tung menjadi over-ambisius untuk menghadirkan retelling legenda klasik ini. Sentuhan koreografi aksi-nya yang hampir selalu remarkable itu masih tetap terlihat di beberapa sekuens yang diterjemahkan dengan silat klasik Jet Li, namun balutan CGI dalam tendensi sebuah fantasi 3D itu justru tampil dalam porsi kelewatan sehingga memberikan efek kanibalisasi bagi kepentingan plot dan bangunan empati penonton terhadap karakterisasinya. Terus terang, sebagian polesan CGI itu memang terasa luarbiasa untuk ukuran film Asia, apalagi treatment 3D-nya dibesut dengan gaya klasik seperti ‘Final Destination 5‘ barusan. Meskipun versi 3Dnya tak dirilis disini, kita bisa merasakan excitementnya kala pecahan batu, hempasan air bah, kepakan sayap kelelawar serta adegan penuh efek lainnya seakan sengaja diarahkan tepat ke muka. Tampilan binatang-binatang mungil CGI-nya juga diset dengan atmosfer dongeng penuh kemegahan bak sebuah animasi Disney. Sebagian cast-nya pun terasa pas bersama cameo-cameo bintang terkenal mulai dari Vivian Hsu, Miriam Yeung, Lam Suet dan Chapman To yang sama menariknya.
But noted too, efek ular raksasanya kadang seperti unfinalized CGI yang tak jauh beda dengan sinetron-sinetron legenda lokal kita, dan kesalahan ‘A Chinese Ghost Story’ versi baru (A Chinese Fairy Tale) yang belum lama ini hadir kembali terulang di tangan Raymond Lam yang sama sekali tak punya kharisma untuk jadi the leading man dalam part romance-nya. Chemistrynya dengan Eva Huang yang sangat ekspresif malah diterjemahkan Raymond seperti orang tolol. Kembali ke plot dan karakterisasinya, legenda klasik yang seharusnya punya pesan bijak di batas tipis kebaikan dan keburukan oleh nafsu itu pun jadi mentah bukan dengan gambaran abu-abu, namun hitam putih yang berubah-ubah secara cepat dan kelewat ekstrim dalam tendensi membangun keberpihakan pemirsa pada karakternya yang serba tak jelas. Chemistry White Snake dan Green Snake yang harusnya jadi bagian terpenting itu juga lenyap entah kemana. Belum lagi ketika skenario Charcoal Tan yang dipenuhi dialog ekstra cheesy itu seketika berpanjang-panjang menggelar preach-nya terlalu terus-terang seakan mendengarkan kuliah relijius, dan lantas meninggalkan kita dengan romance mendayu-dayu yang sempat terpenggal-penggal sebelumnya demi sederet adegan aksi. Bahkan themesong bagus berjudul ‘Promise’ gubahan komposer Choi Jun Young yang dinyanyikan sendiri oleh Eva Huang dan Raymond Lam tak lagi bisa berbuat banyak. Ini mungkin masih sedikit lebih baik dari ‘A Chinese Fairy Tale’ namun secara keseluruhan, semua sisi lebihnya benar-benar diluluh-lantakkan oleh ambisi overblown yang serba tak sinkron. Too bad. (dan)
No, this is not Sam Peckinpah-James Caan-Robert Duvall’s same titled remake. Bukan juga action vehicle ala Jason Statham biasanya. Di luar sebagian cemoohan terhadap karirnya yang makin solid sebagai action hero, Statham cukup pintar memilih peran variatif walau pada dasarnya tetap tak jauh-jauh dari action. Meski bukan produksi UK seperti film terakhirnya, ‘Blitz’, ‘Killer Elite’ yang banyak menggamit sineas Inggris dan diproduksi di Inggris dan Australia ini punya pakem sedikit sama dalam hal nostalgiknya. Setnya di tahun ‘80an yang berangkat dari novel ‘The Feather Men’ besutan Sir Ranulph Fiennes, seorang mantan SAS (Special Air Service), salah satu pasukan elit Inggris paling terkenal di dunia dengan semboyan ‘Who Dares Wins’ dibalik logo Excalibur-nya, sekalian menekankan style old fashioned-nya. Sebuah film aksi berlatar intrik politik dengan cast gede yang banyak sekali mampir di era ’70 –‘80an dulu. So you’re not in the right seat, bila datang dengan ekspektasi serba hi-tech ala ‘Transporter’. Don’t dream karena satu ponsel pun tak terlihat disini. Tapi bila Anda menggemari kisah-kisah intrik spionase pasukan-pasukan elit, atau sudah kangen dengan tampilan Robert DeNiro yang belum tentu sekali setahun muncul dengan senjata gede di tangannya dalam sebuah film aksi, this is your treat.
Sebuah misi para pembunuh elit di Mexico yang berujung kekacauan membuat seorang mercenary, Danny Bryce (Jason Statham) membulatkan niatnya untuk pensiun. Namun kehidupan damainya kembali terganggu saat agensinya kembali dengan sebuah misi yang tak bisa ditolaknya. Pasalnya, sang mentor, Hunter (Robert DeNiro) tertangkap di Oman atas pelariannya setelah menerima uang sebesar 6 juta dollar AS. Bryce pun kemudian mengetahui kalau misi Hunter adalah untuk menghabisi tiga orang mantan agen SAS atas permintaan seorang Sheik yang dendam karena tiga putranya jadi korban dalam sebuah pemberontakan. Bryce harus menuntaskan misi itu, atau Hunter akan dieksekusi. Dua rekan lamanya, Davies (Dominic Purcell) dan Meier (Aden Young), plus Jake (Michael Dorman), agen pemula, direkrut untuk membantunya. Bryce akhirnya menyadari dasar penolakan Hunter bahwa misi yang bakal melibatkan organisasi bayangan bernama ‘The Feather Men’, mantan elit SAS yang bersumpah saling melindungi merupakan jalan buntu bagi keselamatan mereka, termasuk kekasih Bryce, Anne Frazier (Yvonne Strahovski). Sekarang, mereka harus menuntaskan misi itu sambil terus dibayang-bayangi oleh mantan agen SAS yang tak kalah tangguh dalam menjalankan tugasnya, Spike Logan (Clive Owen). Sementara segudang intrik siap menghadang. And nothing is what it seems.
Meski tetap menggunakan style action gaya Statham yang serba keras, ‘Killer Elite’ dibangun dengan fondasi mantap dari sebuah true story penuh intrik politik dan spionase. Bedanya dalah minus teknologi dan efek serta durasi yang tak sampai dibuat menonjolkan adegan full contact-nya secara berlebihan, namun lebih ke intensitas yang terbangun dari kejar-mengejar antar karakternya. Sebuah old fashioned action yang elit dan tak sekedar bak-bik-buk tanpa juntrungan. Dan Gary McKendry, sutradara nominator Oscar 2005 untuk sebuah film pendeknya berikut sejumlah iklan yang baru memulai debut layar lebarnya disini, memanfaatkan semuanya dengan baik. Plot penuh intrik spionase hingga politik namun tak sampai bergulir non-linear dipaparkan secara rapat dalam bangunan ketegangan yang cukup efektif. Set-nya yang banyak menggunakan lokasi-lokasi nostalgik di Inggris bersama mobil-mobil jadul juga tampil cukup akurat sesuai zamannya. Namun tentu yang muncul paling ke depan, terlebih bagi kebanyakan penonton awam, justru bukan hal-hal filmis diatas, tapi susunan cast-nya yang serba killer itu. Tak hanya trio Statham-Owen-DeNiro yang muncul dengan chemistry dibalik intensitas aksi mereka yang terbagi rapi, Dominic Purcell dan Aden Young sebagai Davies dan Meier juga mampu mencuri layar lewat karakter sidekick-nya. Selagi para penonton pria akan menyukai adrenalin dari intrik dan tampilan para tough guy yang saling berseteru ini, I believe, penonton wanita pun akan sulit melewatkan nama Statham dan Owen dalam barisan castnya. A truly killer combination, dan sekeren tagline-nya, ‘May The Best Man Live’. (dan)
THE THREE MUSKETEERS : BRAINLESSLY ENJOYABLE NEW PACK
Coba tanyakan ke anak-anak sekarang. Kenal atau tidak mereka dengan ‘The Three Musketeers’ atau authornya, Alexandre Dumas. Dalam line-up literatur klasik dunia yang dulu sempat jadi bacaan wajib orang-orang yang sempat tumbuh besar di tahun ’70an ke ‘80an dengan sebuah seri komik terbitan Gramedia Pustaka bernama ‘Album Cerita Ternama’, yang merupakan kombinasi terjemahan dari komik-komik serial Eropa, ‘Classics Illustrated’, ‘American Westerns’ karya Karl May serta legenda klasik India, Three Musketeers ini adalah salah satu yang paling terkenal. Istilah literatur dunia itu memang bukan sekedar gaya-gayaan, karena hampir ke belahan dunia manapun Anda pergi, termasuk Jepang yang kemudian menggusur popular knowledge itu dengan serbuan komiknya ke Indonesia, semua orang pasti tahu kisahnya. Bahkan ‘Slumdog Millionaire’ sudah menjelaskannya. Sekolah paling darurat di kawasan kumuh India sana pun mempelajari kisah ini dalam kurikulum formal, yang kemudian menjadi pengetahuan umum wajib yang ditanyakan di kuis ‘Who Wants To Be A Millionaire’-nya. Bukan mau cerewet, but trust me. Ketika anak sekarang lebih tahu karakter komik Jepang ketimbang literatur dunia dengan ratusan nama-nama penulis terkenal, that’s something we should be ashamed of.
‘The Three Musketeers’ lahir dari negaranya, Perancis, lewat sebuah novel berjudul ‘Les Trois Mousquetaires’ karya Alexandre Dumas di tahun 1844. Kisah para pengawal raja yang menggunakan pistol panjang beramunisi mesiu jaman kuno (musket) itu mencampur fiksi dibalik timeline sejarah asli mereka, dengan empat karakter legendaris, Athos, Porthos dan Aramis, tiga musketri (yup, ini bahasa baku Indonesia untuk musketeers), dan d’Artagnan, bocah muda yang akhirnya bergabung bersama mereka menyelamatkan kudeta penuh intrik terhadap raja. Motto para musketeer itu, ‘All For One, One For All’, juga muncul jadi istilah sama legendaris dengan kisahnya. Versi filmnya pun sudah berulang kali muncul, mulai dari film bisu, hitam putih sampai serial televisi, animasi dan ripoff-ripoff-nya. Namun ada tiga instalmen yang paling dikenal. Yang pertama, versi semi musikal yang dibintangi aktor musikal Gene Kelly (1948), dwilogi Three dan Four Musketeers yang dibintangi Richard Chamberlain, Michael York bersama sebarisan bintang terkenal di jamannya (1974), plus tentunya, versi back to basic family adventure Disney 1993 yang dibintangi Kiefer Sutherland-Charlie Sheen-Chris O’Donnell, yang semakin klasik dengan kolaborasi Bryan Adams-Sting-Rod Stewart di themesong ‘All For Love’. Setelah itu masih ada unofficial sequel ‘The Man In The Iron Mask’-nya Leonardo diCaprio, serta ‘The Musketeers’ yang menggabungkannya dengan kungfu ala Asia-nya Tsui Hark. Bukan hanya plot yang setia ke novelnya, tapi ada satu pakem yang kerap jadi typical image ke adaptasinya. Selain ensemble cast para musketeer ini yang perlu dijagokan, namun lineup para villainnya, Kardinal Richelieu dan algojonya Rochefort, plus cewek manipulatif Milady De Winter, justru harus lebih atau sama dengan pemeran Three Musketeers.
Sekarang adalah gilirannya Paul W.S. Anderson, sineas yang terkenal lewat franchise ‘Resident Evil’ dan tentu saja, Mr.-nya Milla Jovovich. Tetap berjalan di jalur hi-tech ala videogame, Anderson ternyata tak mau ikut arus dengan trend reboot dengan prekuel fiktif untuk menuju aslinya. Ia melangkah ke wilayah yang jauh lebih gila dengan garis besar plot asli yang tetap dipertahankan. No, bukan berarti musketeers itu akan melawan zombie atau alien, tapi dengan kreatif Anderson memasukkan unsur steampunk yang serba modern diatas timeline klasik yang sedikit direka ulang namun tak sampai mengobok-obok keseluruhannya. Ada swashbuckling dalam tradisi pirates movie, acrobatic walkthrough ala ‘Tomb Raider’, infiltrating act ala ‘Mission:Impossible’ sampai sky raids air balloon yang eksplosif luarbiasa dalam balutan 3D. Dan desingan mesiu musket-musket sebagai unsur dasar term musketeer yang biasa tertinggal oleh pedang-pedangan kini tampil seimbang ke depan. Whoa!
Setelah dikhianati oleh Milady De Winter (Milla Jovovich) yang bekerja sama dengan Duke of Buckingham (Orlando Bloom) dalam sebuah usaha pencurian cetak biru proyek rahasia dari museum Leonardo da Vinci di Venesia, tiga musketeer, Athos (Matthew Macfayden), Porthos (Ray Stevenson) dan Aramis (Luke Evans) harus menghadapi keputusan kerajaan Perancis yang tahtanya jatuh ke Louis XIII (Freddie Fox) yang masih ingusan, untuk membebastugaskan kesatuan ini. Ternyata, kekacauan pemerintahan itu digagas oleh Kardinal Richelieu (Christoph Waltz) yang punya rencana licik untuk mengkudeta sang raja muda dengan bantuan Duke of Buckingham. Seluruh musketeer diperintahkan Richelieu untuk dihabisi di bawah komando anak buahnya, Kapten Rochefort (Mads Mikkelsen). Athos, Porthos dan Aramis kemudian secara tak sengaja bertemu dengan d’Artagnan (Logan Lerman), putra seorang mantan musketeer yang ambisius ingin melanjutkan karir ayahnya dan menantang mereka. Namun keadaan berbalik begitu d’Artagnan mendapati dirinya berada di tengah perlawanan para musketeer terhadap Rochefort. Didorong oleh Ratu Anne (Juno Temple) yang tengah menjajaki perjodohannya dengan Louis XIII yang juga terkesan dengan perlawanan mereka, empat musketeer ini kembali diangkat menjadi pengawalnya. Bersama kecurigaan Ratu Anne yang mengirim Constance (Gabriella Wilde), pengawalnya yang menarik perhatian d’Artagnan, mereka kemudian mencium rencana busuk Richelieu yang ternyata juga bekerja sama dengan Milady yang ingin mengambil keuntungan lain atas rencana Richelieu memfitnah Louis XIII dengan pemindahan perhiasan Ratu ke istana Buckingham di Inggris. Namun Duke of Buckingham yang sudah berhasil membangun armada perang modern diatas balon udara juga tak tinggal diam.
Oke, line up pemeran d’Artagnan, Athos, Porthos dan Aramis (Macfayden, Stevenson dan Evans) mungkin tak terlihat se-wah dan berkualitas big stars versi 1993. Theme song ‘When We Were Young’ yang dibawakan Take That juga bukan tak bagus, namun masih jauh dari kehebatan trio Bryan Adams-Sting dan Rod Stewart di versi 1993. Tapi Jovovich’s Milady yang jadi menyeruak paling ke depan setangguh superhero dibalik kostum ala victorian-nya, duet Christoph Waltz-Mads Mikkelsen sebagai Richelieu-Rochefort dan Duke of Buckingham-nya Orlando Bloom yang kini diplot lebih jadi villain utama yang sejajar dengan karakter Richelieu dan bergaya swashbuckling ala Jack Sparrow, really are something. Gelaran action bersama efek spesial serba modern-nya juga tampil sangat menarik dibalik highlight 3Dnya yang meski tak terlalu mewah tapi tak jatuh ke kelas film-film konversi. Anderson memang kelihatan asyik sekali membuat racikan baru atas kisah aslinya sampai menggamit teknologi Da Vinci serta menyindir culture gap bahasa para musketeer yang dalam film-filmnya tak pernah berbahasa Perancis dengan karakter-karakter Inggrisnya. Begitu juga pemeran-pemeran yang di-set buat tampil ke depan tadi. Semuanya kelihatan terlalu asyik bermain-main dengan karakternya, baik Jovovich maupun Bloom yang sepertinya sudah lama menginginkan perannya di franchise ‘Pirates Of The Caribbean’ bisa muncul sekuat nyelenehnya Jack Sparrow. Fun it might be, kita semua mengerti, apalagi jualan Jovovich sebagai primadona yang notabene istrinya sendiri. Tapi ada satu efek kanibalisme terpenting yang justru menimpa karakter terpenting yang harusnya tanpa kompromi boleh dibiarkan mundur selangkahpun. So begitulah, di barisan para musketeers, hanya Lerman yang karakternya sedikit mendapat ruang untuk digali lebih. Selebihnya, memang lebih menonjol buat ber-action ria tanpa pendalaman karakter, dan parahnya, tertinggal pula di adegan-adegan aksi menuju klimaks yang seharusnya menghadirkan empat tokoh paling utama dalam kisahnya bersanding bersama tak hanya buat menyatukan pedang menyerukan ‘All For One, One For All’. Yup, Anderson memang sedikit kelewatan melepaskan fantasi gilanya bak anak-anak yang sesuka hati menyusun action figure pujaannya, hingga lupa yang dibesutnya adalah kisah klasik yang begitu melegenda mengusung judul karakter-karakter penting tadi. Dan sepertinya, kegilaan itu bakal semakin naik lagi di sekuel yang kemungkinannya sudah jelas-jelas tergambar disini. This is The Three Musketeers comes in a whole new Anderson’s pack. Brainless, but fun. (dan)
Here’s a little story. Being in a music school when I was a kid, I joined the students ensemble in a program called Bina Musika. Tak hanya dari sekolah musik itu, ensembel yang seperti orkestra mini ini juga berkolaborasi dengan mahasiswa sebuah universitas musik negeri sampai murid-murid asing dari Belgia, negara asal pemilik sekolahnya. Selain kompetisi, sesekali kami juga mengadakan konser persahabatan ke sekolah-sekolah musik di daerah lain. Until once, konser persahabatan itu diadakan di sebuah SLB (Sekolah Luar Biasa) di Padang Panjang. There I asked my late mom, yang juga aktif bersama yayasan sekolah musik itu di tugas-tugas sosial, salah satunya di YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat), yang sekarang lebih diperhalus dengan sebutan kebutuhan khusus (special needs), setelah menyaksikan konser yang digelar oleh SLB tadi. Tak hanya penderita retardasi mental yang sekarang dibedakan dengan penderita autisme, tapi juga penderita cacat fisik dari tunanetra, tunarungu bahkan anak-anak tanpa kelengkapan organ tubuh, mereka memainkan partitur musiknya dengan begitu indah. Bahkan tanpa cacat. It was her answer that I kept in my heart until now. That you might not need skills or else. As music is the most universal language, you just need sense to create its harmony. So then it hit me back when I saw a movie trailer. Film berjudul ‘Simfoni Luar Biasa’, yang kabarnya muncul dari inspirasi seorang Delon Tio setelah menyaksikan seorang konduktor dari sebuah ensembel musik di Cina, yang pemainnya semua adalah orang-orang dengan kebutuhan khusus ini. Bahwa disabilitas bukan halangan untuk sebuah persembahan. I might love Christian Bautista’s music dari budaya pop Filipina yang mendewakan sekali lovesongs tahun 80-90an, but most of all, these brought the memory of mom, when we watched that beauty of harmony together. Now let’s go to the movie.
Kegagalan demi kegagalan usahanya menjadi musisi terkenal di negara asalnya membuat Jayden (Christian Bautista) menyerah pada keinginan bibinya (Maribeth in her guest appearance) mengirimkan Jayden ke Jakarta untuk tinggal bersama sang ibu (Ira Wibowo) yang tak lagi dikenal Jayden sejak ia kecil atas permasalahan di keluarga mereka. Disana, ia harus beradaptasi dengan keluarga barunya termasuk adik tirinya, Carissa (Valerie Thomas), dan sekolah untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus yang dikelola ibunya. Jayden yang mengundang perhatian saat menyanyikan lagunya di sebuah kelas membuat kepala sekolah, ibu Rinjani (Ira Maya Sopha) meminta pertolongannya mengajar musik disana. Awalnya tak mudah. Meski didukung oleh guru olahraga (Stanly Saklil) dan Laras (Gista Putri) yang menarik perhatian Jayden, pertentangan dari seorang guru yang juga mantan penderita disabilitas, Pak Dimas (Verdi Soelaiman) membuatnya menyerah. Namun saat melihat anak-anak paduan suara bernyanyi di sebuah taman, niat Jayden berubah. Ia kembali ke anak-anak itu dan melatih mereka menjadi ensembel choir untuk diikutsertakan dalam kompetisi regional. Keinginannya awalnya ditentang ibu Rinjani yang tak mau memberi tekanan pada murid-murid, tapi ketika Jayden berhasil menemukan bakat luarbiasa pada dua leadnya, Zaky (Octavian K Putra), anak dari sebuah keluarga yang kurang memberinya perhatian, dan Amelia (Paramitha Pradestina), putri seorang ibu single parent (Sophie Navita) yang justru memberi perhatian berlebih, panitia kompetisi secara resmi mengundang mereka atas video yang diunggah Laras ke youtube. Menjelang kompetisi, sebuah masalah kembali datang dari orangtua Zaky yang membuat ibu Rinjani harus memilih antara Jayden dengan Zaky. Di saat kalah atau menang tak lagi jadi berarti, Jayden yang terlanjur mencintai anak-anak dengan bakat tersembunyi ini akhirnya memutuskan untuk kembali mengejar impiannya menjadi musisi di negaranya, tapi hatinya bukan berarti sama.
Sama dengan themesong dengan alunan indah yang ditulis Satrio Alexa dan menjadi hit single Bautista di Filipina, dimana filmnya juga diputar duluan dengan hasil cukup meyakinkan disana, ‘I’m Already King’, sebuah niat baik dari para pembesutnya juga sudah mencuri hati sejak trailer itu diluncurkan. An uplifting story yang sangat menggugah hati terhadap anak-anak dengan special needs dalam membangun suatu harmoni dibalik bahasa universal musik. Oke, Octavian yang memerankan Zaky mungkin memang sudah punya bakat musik dari grupnya yang bernama SuperKidz dan sudah punya basis fans di Jakarta, begitu juga Paramitha yang memerankan Amelia. Namun sebagian dari pemeran anak-anak ini memang diaudisi dari penderita disabilitas itu sendiri, berikut syuting yang dilakukan di sekolah asli YPAC. Dramatisasinya berjalan baik tanpa harus merengek-rengek seperti banyak film sejenis. As cliché-ness bukan harus jadi sesuatu yang ditakuti tapi disiasati, sutradara Awi Suryadi yang menulis skenario bersama Maggie Tiojakin plus editing Yoga Krispratama juga terlihat sekali berusaha menghindari klise-klise yang biasanya mengakhiri genre sama di sebuah konser dengan kemenangan gemilang dan berpanjang-panjang. Sempalan komedi cultural gap yang disempalkan ke tengah-tengah dramatisasi dan dialog tiga bahasanya juga cukup berhasil bersama pemilihan lagu yang kabarnya tak mudah mendapatkan izin termasuk lagu ‘Imagine‘ yang harus meminta langsung persetujuan jarak jauh Yoko Ono, juga dibesut dengan aransemen ala anak-anak yang cukup juara. Dan pastinya, barisan cast yang rata-rata bermain baik dengan notifikasi lebih ke Ira Maya Sopha, Gista Putri dan Verdi Soelaiman. Sophie Navita dan Stanly Saklil juga lumayan dalam part komikalnya. Christian Bautista yang baru memulai debut layar lebarnya di produksi kita ini mungkin masih terlihat canggung di beberapa adegan tapi penerjemahan emosinya sebagai seorang superstar debutan dalam dunia film tak lantas jadi over.
Namun bukan berarti Simfoni Luar Biasa/A Special Symphony ini tak punya kekurangan, bahkan diantaranya ada yang sangat mengganjal. Kita mungkin harus mengerti bahwa tetap, dalam sisi komersial jualannya sebagai sebuah produk, nama Christian Bautista yang diimpor jauh-jauh dari Filipina tak mungkin tersia-sia begitu saja. Namun pembagian dramatisasinya justru jadi sedikit blur antara konflik pribadi karakter Jayden dengan plot disabilitas anak-anak dengan special needs yang seharusnya bisa jauh lebih diselami lebih dalam ini, sama seperti saat kita ingin lebih tahu siapa pemeran semua anak-anak yang hebat ini dan latar belakang masing-masing dari search engine, yang kita dapat justru nama-nama artis terkenal pendukungnya plus Bautista sebagai titik nilai jualnya. Akibatnya, sebagian konflik yang sudah dimulai tak semua bisa terselesaikan dengan baik, beberapa turnover karakternya juga jadi sulit menghindari tampilan klise yang secepat kilat dan proses pembentukan ensembel serta penelusuran bakat musik mereka juga jadi serba terburu-buru. Sebagian emosi yang harusnya terbangun lebih baik juga sering hilang dengan skor yang terputus-putus di editingnya. But however, mari tak usah bicara jauh-jauh ke pesan moral ini dan itu. Sebuah disabilitas yang tetap bisa menciptakan harmoni, itu cukup. Along with its ups and downs, niat baik untuk mengangkat tema anak-anak dengan special needs dan usaha mereka yang tak berhenti untuk menggugah hati saja is already a king, dan patut mendapat apresiasi lebih. So let’s have a heart and watch it with the one you hold dear. May we all can be king in our own empire. (dan)
CONAN THE BARBARIAN : A SHOW OF RAGE WITHOUT EMOTIONS
Pernah dengar genre swords and sandals? Atau sebagian lagi menyebutnya sword and sorcery? Ini sebenarnya genre yang belakangan secara filmis lebih sering digolongkan sebagai adventure atau action dalam kotak besarnya. Ada juga yang memasukkannya ke genre fantasi. But mainly, ini seperti myths and legends, yang memang bisa luas sekali rentang timeline-nya. Dari perang antar kerajaan seperti Romawi, gladiator, vikings hingga ke kisah-kisah mitos Yunani seperti Hercules, sihir-sihiran, bahkan suku-suku dalam timeline fiktif yang cukup banyak mendominasi genrenya dan tak jarang saling di crossover-kan seenaknya. Dulunya, di era 50-60an, genre swords and sandals ini sempat menjadi trend di perfilman AS sebelum akhirnya marak di Eropa dan produk kelas B hingga awal-awal tahun 80an. Nama-nama karakternya sering menjadi titel yang kedengaran bombastis seperti Ator, Hundra, Red Sonja, Kull sampai yang paling terkenal dalam genrenya, Conan. Karakternya sendiri merupakan ciptaan penulis Robert E. Howard di awal tahun 30an berjudul Conan The Barbarian yang belakangan muncul dalam format beragam mulai dari novel, strip sampai komik yang sempat juga dirilis Marvel serta Dark Horse dalam perkembangan ke depan yang tak lagi ditulis langsung oleh Howard. Dari sekian banyaknya variasi kisah-kisah Conan tadi, ada ciri khas berbeda yang justru terbangun oleh format komik-komiknya yang begitu melegenda di era 70an ke awal 80an, dimana kebanyakan komik menjadi konsumsi anak-anak. Komik-komik Conan dipenuhi kesadisan dan tampilan cewek-cewek seksi sebagai pendampingnya, bahkan sering menyiratkan sexual intercourse yang masih dalam batas komik dan tak eksplisit, namun sedikit lebih berani.
And so, dua adaptasi filmnya berturut-turut di tahun 1982 (Conan The Barbarian) dan 1984 (Conan The Destroyer) sempat terkenal sekali karena selain melambungkan nama binaragawan Arnold Schwarzenegger dan dipenuhi bintang besar seperti Max Von Sydow dan James Earl Jones, pembuatannya juga dimotori sineas-sineas terkenal seperti sutradara John Milius, Oliver Stone yang ikut menulis skenarionya serta produser Dino DeLaurentiis yang terkenal dengan blockbuster-blockbusternya. Namun ada satu yang hilang dalam arus trend genre fantasi masa itu. Tampilan cewek-cewek pendamping yang serba seksi dengan kostum minimnya tetap, tapi dua instalmen itu sama sekali menghilangkan kesadisan yang jadi salah satu bangunan komiknya. Instalmen ketiganya sempat ingin dilanjutkan oleh berbagai pihak lain namun kembali kandas. Satunya dialihkan menjadi adaptasi lain karya Howard, Kull The Conqueror yang dibintangi Kevin Sorbo, dan satunya gagal total karena Schwarzenegger keburu terpilih sebagai gubernur California. Proyek yang sempat berpindah-pindah dari Wachowski Brothers, Robert Rodriguez hingga Brett Ratner itu akhirnya jatuh ke tangan NuImage seiring copyrights kebanyakan karya Howard yang beralih menjadi public domain karena kegagalan claim. Sutradara Marcus Nispel, yang sudah lama malang-melintang di iklan dan videoklip akhirnya dipercaya karena kesuksesannya me-remake film-film horor klasik (The Texas Chainsaw Massacre dan Friday The 13th). Terpilihnya aktor teve Jason Momoa (Baywatch, Game Of Thrones) yang punya darah asli Hawaii bertampang eksotis dengan sorot mata tajam, tinggi besar dan berotot, semakin mengesankan bahwa Conan akan dikembalikan ke pakem yang selama ini diharapkan fansnya. Sadis dan tanpa ampun. So here comes the movie.
Bersetting awal di timeline fiktif karya Howard dengan narasi oleh Morgan Freeman, Hyborean Age, masa sebelum terbentuknya peradaban kuno, sekelompok penyihir dari Acheron membuat sebuah topeng dari tengkorak raja-raja yang diberikan darah putri-putri mereka yang dikorbankan demi kekuatan topeng itu menguasai dunia. Suku Barbar yang dipimpin oleh Corin (Ron Perlman) kemudian berhasil membunuh para penyihir Acheron, mengubur pecahan-pecahan topeng tersebut dan menyimpan satu potongannya agar tak ada yang bisa mendapatkannya kembali. Putranya, Conan kecil (Leo Howard), yang lahir langsung dari perut sang ibu yang terbunuh ketika diserang suku musuh, juga berkembang jadi bocah tangguh. Namun penyerangan yang dilakukan Khalar Zym (Stephen Lang), panglima perang ambisius yang berniat memiliki bagian terakhir topeng itu untuk menguasai Hyborea mengakhiri semuanya. Seluruh suku Corin dibunuh dengan sadis. Conan kecil dipaksa menyaksikan Corin mengorbankan diri demi dirinya.
20 tahun kemudian, Conan dewasa (Jason Momoa) yang masih menyimpan dendam terus menelusuri jejak Khalar Zym bersama sahabatnya Artus (Nonso Anozie). Dari Lucius (Steven O’Donnell), seorang penguasa Messantia mantan serdadu Zym yang ditaklukkannya bersama seorang pencuri, Ela-Shan (Said Taghmaoui), Conan akhirnya mengetahui bahwa Zym merencanakan penyerangan ke sebuah biara demi mendapatkan darah keturunan murni Acheron dari seorang biarawati, Tamara (Rachel Nichols). Sebelum Zym dan putrinya yang seorang penyihir kejam, Marique (Rose McGowan) menangkap Tamara yang melarikan diri, Conan lebih dahulu menyelamatkannya dan menawan kaki tangan Zym, Remo (Milton Welsh) yang juga ikut membunuh ayahnya dulu. Conan akhirnya mengetahui bahwa Zym memerlukan kekuatan topeng itu demi membangkitkan istrinya yang dibunuh oleh para biarawan. Dalam penyerangannya, Conan berhasil dilukai Marique dan Tamara yang mulai terlibat hubungan dengannya tertangkap. Dengan bantuan Ela-Shan, Conan kemudian menerobos kastil Zym untuk menyelamatkan Tamara sekaligus menuntaskan dendamnya. Namun Zym juga sudah berhasil memperoleh kekuatan topeng itu dari darah Tamara.
Seperti sebuah resep masakan modifikasi, Conan versi terbaru ini memang masih belum terasa punya racikan yang benar-benar pas. Di satu sisi, duo penulis Thomas Dean Donnelly dan Joshua Oppenheimer yang baru saja menghadirkan Dylan Dog yang serba tanggung itu tampak cukup berhasil mengembalikan Conan ke tampilan asalnya yang kasar dan kejam. Meski memunculkan banyak karakter baru termasuk Khalar Zym dan Marique, sebagian bangunan plotnya juga membawa feel yang sama ke komik-komiknya, lengkap dengan love interest cantik tapi tak lemah (dalam Conan-nya Schwarzenegger, Sandahl Bergman muncul dengan ketangguhan penuh namun melupakan tampilan cewek cantiknya), part para budak, pencuri, biarawan kuno serta penyihir. Dari 15 menit opening sequence yang sangat menggebrak, adegan aksinya dipenuhi darah bermuncratan yang mengesankan sisi dewasanya bersama adegan nudity dan sex scene antara Conan-Tamara yang sebagian dibabat LSF (meski nudity dengan tampilan nipples para budak itu lepas dengan mulus). Sosok Jason Momoa dengan tubuh kekar dan sorot matanya juga pas sekali menerjemahkan gambar-gambar dalam komiknya, plus Rachel Nichols yang punya wajah klasik inosen yang mirip sekali dengan bomseks Eropa tahun 70an, Sydne Rome.
Namun di sisi lainnya, kekurangan lain juga agaknya hadir hampir sama banyak. Selain subplot yang terlalu padat meninggalkan karakter potensial seperti Ela-Shan dan Artus jadi sekedar lewat dan intensitas fight sequencenya dibesut dengan emosi naik turun, beberapa efek spesialnya juga tak kelewat spesial. Dialognya? Ah, terdengar terlalu modern untuk setnya yang kuno, yang juga Cuma sebatas lumayan. Parahnya lagi, Stephen Lang sebagai main villain yang digambarkan menyeramkan kelihatan melembek sampai ke bagian-bagian akhir. Milton Welsh sebagai Remo yang makeupnya lebih mengerikan dari Lang pun begitu. Jauh dari Rose McGowan yang masih cukup lumayan dipoles sebagai Marique namun sayangnya tak dimaksimalkan oleh skenarionya. Dan ini yang terpenting. Di luar sosok tegap dan sorot matanya, Momoa juga kelihatan belum bisa menyiratkan kharisma yang benar-benar penuh terhadap karakter legendaris ini. Arnold Schwarzenegger mungkin punya ekspresi dan intonasi tak pas dibalik otot gedenya yang cocok, tapi kharismanya sebagai tokoh utama berjalan dengan baik. However, if you do read and love the comics, ini jauh lebih mendekati aslinya ketimbang Conan-nya John Milius. Sama sekali bukan adaptasi yang mengecewakan secara keseluruhan dengan kelebihan dan kekurangan yang hampir berimbang. Sayang pihak Parkit sebagai pemegang hak impornya di Indonesia enggan membeli versi 3D-nya. Meski lagi-lagi produk konversi, fighting sequences dengan darah bermuncratan itu pasti akan terasa lebih wah dalam format 3D. (dan)
Charlie Chaplin memang seorang legenda, kita semua tahu itu. Tapi apa reaksinya menyaksikan perkembangan film komedi sekarang, kita tak akan pernah tahu. Judd Apatow mungkin jadi pionir di film-film komedi dewasa yang banyak dianggap cerdas dan dipuji-puji, tapi sesekali, pameran ketololan justru sangat enak buat ditertawakan. Toh ada racikan yang sama disana. Sickjokes, meski dalam porsi sedikit berbeda. Yang jelas, komedi adalah komedi. Mau white, black, warna lain atau apapun Anda menyebutnya, hanya ada satu tujuan utama di luar sempalan yang lain termasuk pesan moral sekalipun. Memancing tawa. Sekarang terserah Anda, hal macam apa yang bisa mengocok perut Anda. But I believe, lebih dari separuh penonton di seluruh dunia masih akan akrab sekali ke racikan primitif yang serba kasar. Kalau perlu dengan porno-pornoan sekalian. Dan The Hangover yang membuat gebrakan di tahun 2009 sudah menunjukkan itu dengan rekornya sebagai komedi ber-rating R terlaris sepanjang masa. Biar kadang suka aneh, piala bergengsi Golden Globe untuk film terbaik kategori musikal-komedi pun disabetnya. Dengan racikan yang serba aneh di barisan castnya, dimana Bradley Cooper dan Justin Bartha yang lebih ke face-actor ketimbang komedian, Ed Helms dari The Office yang bukan juga komedian yang populer-populer sekali, bisa berinteraksi luarbiasa dengan dua makhluk konyol Zach Galifianakis dan Ken Jeong yang langsung melambung. Oh ya, sutradaranya memang punya catatan bagus dari Road Trip yang hampir sama kasar serta Old School yang lebih mild tapi sama gilanya. So there goes a sequel, dalam wilayah paling aman. Mengulang kembali racikan powerful yang mencetak rekor tadi. Sah-sah saja, apalagi dengan resepsi pasar yang lagi-lagi mengantarkannya ke rekor komedi rated R terlaris sepanjang masa mengalahkan predesesornya. But anyway, please, ini jangan dijadikan pembelaan terhadap komedi kita, ya. Itu beda lagi kasusnya.
Dua tahun kegilaan Vegas memang sudah berakhir. Namun rencana pernikahan si dokter gigi Stu (Ed Helms) dengan gadis Thailand, Lauren (Jamie Chung) di sebuah resor disana adalah sinyal yang sudahlama dinantikan sahabatnya, Phil (Bradley Cooper) dan Doug (Justin Bartha). Batas yang ditarik tegas oleh Stu agar tak lagi mengulang kesalahan mereka toh akhirnya luntur juga, tak perduli meski Phil dan Doug didampingi keluarga serta adik Lauren, geek lugu Teddy (Mason Lee ; putra sutradara Ang Lee dalam peran debutnya) yang tengah mengambil gelar dokternya di AS. Apalagi, Alan (Zach Galifianakis) yang sekarang sudah jadi adik ipar Doug akhirnya diajak walau Stu sudah wanti-wanti atas tingkahnya yang sering jadi biangkerok. Maka terbangunlah Stu, Phil, Alan dengan hangover parah di sebuah motel kumuh tak dikenal di tengah keramaian Bangkok tanpa ingatan jelas. Satu-satunya yang diingat mereka hanya hangout kecil di pinggir pantai malam sebelumnya bersama Teddy, yang kini hilang entah kemana. Yang ada, seekor simpanse serta gangster Leslie Chow (Ken Jeong) yang mendadak sontak juga ada disana bersama potongan jari manis Teddy. Alan kehilangan rambutnya dan sebuah tato asli bertengger di pelipis Stu. Doug pun ternyata tak ikut-ikutan karena kembali lebih cepat ke kamarnya di malam sebelumnya. Chow sebagai satu-satunya yang bisa dimintai keterangan malah tumbang. Tak ada jalan lain bagi Stu, Phil dan Alan untuk menelusuri lagi satu-persatu ingatannya sambil melacak keberadaan Teddy dengan kegilaan mereka, kalau perlu berurusan dengan para mafia Rusia, bhiksu-bhiksu sampai dunia prostitusi ladyboy Thailand. Sementara, pesta pernikahan sudah hampir digelar dengan calon mertua (Nirut Sirijanya) yang sejak awal sudah tak menyukai Stu.
Count them all. The wedding party going berserk, ada. Karakter-karakter gila yang kembali terbangun dengan hangover dan kehilangan ingatan, ada. Karakter yang mendadak raib entah kemana, ada. Petualangan gila yang melibatkan para mafia di tengah hiruk-pikuk sebuah sin city, hewan, cameo Mike Tyson, sampai biang kerok-biang kerok yang sama, vulgar nudity lagi-lagi dengan Ken Jeong yang gemar sekali memamerkan anunya, semuanya ada. Yup, pengulangan itu memang lebih banyak daripada hal baru yang ditawarkan. Paling cuma ada tambahan car chase seru sebagai penekanan ke sisi blockbuster-nya. Selebihnya, kurang lebih sama saja. Namun set sin city yang kali ini dipindahkan dari Las Vegas ke Thailand yang serba eksotis, jelas sudah membangun sebuah adventurous trip yang berbeda. Tapi tak mengapa. Karena Todd Phillips sudah begitu yakin dengan senjata di balik gelaran plot yang serba repetitif tadi. Malah, intensitas kegilaan dalam tendensi memancing tawa itu justru semakin meningkat. Batalnya cameo Mel Gibson yang ditentang banyak crew serta Liam Neeson yang juga dicut Phillips dan akhirnya diganti Nick Cassavettes pun tak lagi jadi masalah ketika sickjokes yang dibangun Phillips dengan porsi berlebih itu benar-benar bisa sekali lagi jadi highlight yang sangat ultimate mengocok syaraf tawa penontonnya.
Sekarang, mau menggelar dunia mafia, prostitusi ladyboy, bar-bar striptis, biksu teler sampai monastery para biksu yang cenderung penuh pelecehan, ternyata pemerintah dan badan turisme Thailand mendukung sekali semua yang ada di draft skenarionya dan dengan senang hati memberikan mereka izin syuting resmi. Jadi kenapa masih ada yang protes tentang ini-itu yang tak ditunjukkan dengan pas disana? Dan tentang serba-serbi ketidakwajaran di setiap guliran plotnya, kenapa begini dan kenapa begitu? Oh, c’mon, ini adalah sebuah komedi yang dari sananya memang digagas dengan tendensi serba ngaco. The point is, if you like sickjokes, terlebih yang serba terus-terang, then go get stoned once again! Menggerakkan otot muka dengan tertawa itu katanya jauh lebih baik ketimbang ber-cemberut ria. Tapi jaga rahang pegal-pegal dan perut kram dari tawa terlalu gila yang bisa menjadi efeknya. Now that’s a warning! (dan)
MASIH BUKAN CINTA BIASA : SEKUEL POTENSIAL YANG TAK MAKSIMAL
Sama seperti judul film pertamanya, Bukan Cinta Biasa, film besutan Benni Setiawan ini memang bukan drama komedi biasa. Ada feel yang beda dari penggabungan drama, komedi, musik sampai sentuhan-sentuhan reliji yang biasanya dibawa Benni dalam skenario tulisannya, dalam mengisi sub genre-nya sebagai sebuah family rom-com. Klise-klise dalam genre ini memang sulit dihindari secara ratusan bahkan ribuan film baik dari dalam sampai luar mengemasnya dalam packing mirip. Permasalahannya, karya Benni masih sering terasa tak konsisten dalam usaha menghindari tipikalisme skenario kebanyakan film kita. Konflik dalam premisnya boleh jadi menarik dan wajar-wajar saja, namun gelarannya ke dalam skenario masih sering tampil serba pincang dengan kesinambungan yang jauh lari dari kewajaran. Tapi begitulah. Ketika Anda cukup sukses membuat film dengan amunisi yang sangat bisa diandalkan, apalagi hasilnya secara komersial tak mengecewakan, sebuah sekuel tentu tak sepenuhnya salah. Toh semua kekuatan itu masih bersedia kembali, minus themesong Afgan yang terakhir punya masalah dengan Wanna B sebagai salah satu power utama di film pendahulunya.
Setelah bersatu kembali dengan Lintang (Wulan Guritno) dan putri cantiknya Nikita (Olivia Lubis Jensen), rocker insyaf Tommy (Ferdy Taher) ternyata masih juga tersandung masalah. Kali ini bukan anak perempuan, namun anak cowok urakan bergaya rocker, Vino (Axel Andaviar ; putra Ovy /rif) yang mendadak hadir ke dalam kehidupan mereka. Lintang dan Nikita yang awalnya menentang kemudian membiarkan Vino tinggal di rumah mereka sampai Tommy mendapat kejelasan dari ibunya, Voni (Aline Adita), yang dulu juga sempat punya hubungan dengan Tommy. Dibantu rekan-rekan se-band-nya di The Boxis (Joe P Project, Budi Dalton & Budi Arab), Tommy berusaha menaklukkan Vino yang beringas dan penuh masalah. Kalau perlu dengan kembali meminta pertolongan Ustad Jepret (Mucle) yang dulu memberinya pencerahan. Tapi masalah makin berkembang, apalagi Tommy yang merasa kedudukannya sebagai suami kian terancam di bawah bayang-bayang kesuksesan Lintang yang otoriter, sementara keinginannya untuk kembali sebagai vokalis The Boxis juga sama besarnya.
Meski mengulang konflik utama dalam film pendahulunya, awal-awal penyajian sekuel ini masih bisa tampil cukup fresh, dan justru semakin membuka banyak peluang ke bangunan komediknya. Selain Benni yang bisa menghandle feel yang tak jauh berbeda, amunisi andalannya dalam film pertama juga tetap tertata dengan baik. Ferdy Taher masih berakting santai membangun chemistry-nya bersama Olivia dan Wulan, serta tentunya Joe dan dua Budi yang celetukan-celetukannya makin jenaka itu. Porsi Joe P Project yang dibanding dulu sekarang makin mendominasi film-film komedi kita juga dilebarkan, dan ini bagus. Spontanitas komedinya yang juara hampir selalu bisa menyelamatkan sedikit film-film yang memasang namanya. Namun skenario yang juga ditulis Benni kelihatannya kelewat bertele-tele secara repetitif meneruskan konfliknya. Satu yang paling fatal dalam tendensi ini malah menekan jauh porsi karakter Olivia demi menampilkan Axel yang jadi tokoh baru namun kelewat annoying dan sulit memancing empati penonton ini. Axel mungkin mampu berakting secara wajar, namun adalah kesalahan skenario yang kemudian mengekspos konflik karakternya secara over sampai chemistry-nya ke Ferdi jadi berantakan. Salahnya lagi, ini tak hanya jadi miliknya sendiri, tapi juga merembet ke karakter Ferdy dan Wulan yang tampaknya kian keterusan dibumbui konflik demi konflik sampai reaksi-reaksinya terasa tak lagi wajar. Ini seperti kebanyakan film kita dimana sebentar karakternya bisa teriak-teriak tak karuan, sebentar lagi tanpa kewajaran jelas bisa melunak bukan main. Ketika Benni akhirnya bisa beranjak dari bagian-bagian yang berjalan kelewat melelahkan ini, Masih Bukan Cinta Biasa sebenarnya sudah bisa cukup bagus menggelar part dramatiknya yang kembali ke koridor awal dengan cukup menyentuh, termasuk juga sempalan reliji-relijian yang tetap dikemas dengan komedi. Namun lagi-lagi ia keterusan mempush-nya secara overly melodramatic hingga ke ending yang mungkin maunya tampil beda, with a little twist, tapi malah terasa janggal dengan adegan-adegan repetitif yang semakin berpanjang-panjang seperti menyalami satu-persatu banyak orang di sebuah barisan, sampai departemen editing pun tampaknya kehabisan nafas merangkainya satu demi satu. Dan tak juga bisa dipungkiri, kekuatan themesong Afgan di Bukan Cinta Biasa yang memang kelewat meresap di gambaran karakter-karakternya sulit terulang kembali disini lewat theme song baru yang dibawakan oleh Anya. Apa boleh buat, premis yang diawali secara menarik dengan power film pertama itu akhirnya tersisih oleh kelewat banyaknya konflik dan reaksi tak wajar dari apa yang digelar Benni ke keseluruhan plotnya. Sebuah sekuel dengan potensi besar yang sayang sekali tak dimanfaatkan secara maksimal. (dan)
CAPTAIN AMERICA : THE FIRST AVENGER : HEART OF A HERO
Sama seperti salah satu slot komiknya, DC Versus Marvel, dua raja penerbit komik ini sebenarnya secara halus berseteru dalam persaingan mereka. But noted. DC bisajadi sangat bangga dengan Superman dan Batman yang jadi ikon teratas ketika kita menyebut ‘superhero’, tapi sejarah mencatat naik turun kesuksesan mereka jauh lebih sering terombang-ambing dari sang saingan. Sementara Marvel, dengan lineup utamanya yang kalau mau dihitung satu-satu lebih banyak menelurkan karakter legendaris ketimbang DC, mulai menapak semakin mantap di era milenium baru setelah status kebangkrutannya. Yeah, right. DC boleh menorehkan sejarah lewat Superman Christopher Reeve meski kendur di film ketiga dan keempatnya, pernah punya Batman Tim Burton sampai melahirkan trend baru pendewasaan genre superhero di Batman-nya Christopher Nolan yang lantas kepingin ditiru semua produser, termasuk franchise baru Superman yang belum apa-apa sudah jadi kontroversi. But face it. Asal Anda menganggap X-Men : The Last Stand sebagai sebuah mimpi buruk yang tak pernah ada, serta Hulk-nya Ang Lee cuma hype keterusan dari kejayaan Crouching Tiger, Hidden Dragon di Oscar, Stan Lee dan tim Marvel punya satu celah kekuatan yang tak dimiliki DC. Mereka tak sedang terus mencari-cari konsep dan mengekor-ngekor kesuksesan yang satu. Produknya juga hampir seratus persen tetap berkutat di komik klasik, ketimbang DC yang sudah lari ke konsep-konsep lain seperti novel grafis untuk mencari diversifikasi baru. Stands with each differences, visi Marvel membawa satu persatu karakter superhero-nya ke layar lebar dalam sebuah proyek impian yang sudah hampir sepenuhnya jadi nyata ke hadapan kita, The Avengers, tak perlu mengekor kesana kemari. Poin serta tendensi terhadap karakterisasinya tergelar dengan mantap, dalam benang merah sama namun style berbeda satu dengan yang lain. Whether you like it or not, inilah universe superhero sesungguhnya. Tanpa kompromi, dan mereka bangga dengan itu. Bahkan Kenneth Branagh yang membawa Thor ke wilayah baru tanpa pernah terbayangkan sebelumnya. Dan pastinya, termasuk Captain America : The First Avenger sebagai klimaks sebelum fusi para karakternya di The Avengers. Ini juga merupakan konsep yang benar-benar jempolan. Why be the last? Oh yeah. Mereka tak sedang sekedar mengadaptasi komik-komiknya yang lahir di era pencarian jatidiri rakyat Amerika di masa perang dunia kedua. Note this. Mereka sedang membeberkan pada kita, para pembaca, penggemar komik serta film-filmnya, bahkan orang-orang yang baru mengikuti franchisenya, kenapa Captain America layak menjadi pemimpin para superhero itu nantinya.
Penemuan sebuah pesawat di tengah reruntuhan salju di New York oleh para agen S.H.I.E.L.D. membawa kita ke era perang dunia tahun 1942. Dominasi Nazi dengan pimpinan divisi paranormalnya yang setengah sinting, Johann Schmidt (Hugo Weaving), dengan ambisius merebut sebuah kubus berkekuatan ajaib dari dimensi lain dan mengembangkannya dengan bantuan ilmuwan Dr. Armin Zola (Toby Jones). Sementara seorang pemuda ceking dan sakit-sakitan, Steve Rogers (Chris Evans) begitu berambisi diterima dalam pasukan militer AS seperti sahabatnya, James ‘Bucky’ Barnes (Sebastian Stan), kalau perlu dengan terus memalsukan identitasnya. Usaha Rogers akhirnya terdengar oleh Dr. Abraham Erskine (Stanley Tucci), ilmuwan pengembang serum ‘super soldier’ yang sebelumnya membelot dari Schmidt dan sekarang didanai multimilyuner Howard Stark (Dominic Cooper) untuk tentara AS. Walau ditentang pelaksananya, Kolonel Chester Phillips (Tommy Lee Jones) bersama agen Inggris Peggy Carter (Hayley Atwell), Erskine bersikeras bahwa ia menemukan sebuah kualitas lain dibalik ambisi Rogers. A big heart, yang bisa jadi makin baik dengan serum super itu. Fisik Rogers pun seketika berubah menjadi tinggi besar-berotot dan berkekuatan super, namun di saat yang sama Schmidt yang sudah melacak keberadaan Erskine mengirimkan agennya untuk menghabisi Schmidt. Alih-alih ikut dalam perang, Rogers malah ditugasi Senator Brandt (Michael Brandon) menjadi duta obligasi untuk dana perang AS dibalik kostum ketat dengan atribut superhero bernama Captain America. Rogers yang awalnya yakin dengan misi kebaikannya dengan cara apapun lama-lama jengah. Apalagi ketika mengetahui Bucky tengah ditawan oleh Schmidt. Dengan bantuan Carter dan Stark, ia menerobos masuk ke sarang HYDRA, organisasi teroris yang didirikan Schmidt untuk menyelamatkan Bucky serta ratusan tawanan lain. Misi ini berhasil dan Rogers menemukan kenyataan bahwa dengan serum yang sama sebelumnya, Schmidt telah beralih rupa menjadi monster yang menamakan dirinya Red Skull. Misi lain Rogers sebagai the real ‘Captain America’ yang telah berkembang menjadi ikon komik bagi rakyat Amerika berlanjut untuk sepenuhnya menghancurkan Red Skull bersama serdadu dan persenjataan kreasi Dr. Zola dari energi kubik ajaib itu. Stark dengan setia membantunya dengan inovasi persenjataan baru termasuk perisai vibranium, metal indestruktibel serta kostum baru, sementara Phillips dan Carter yang kian terlibat hubungan asmara dengan Rogers tetap mengatur strateginya. Dr. Zola pun berhasil ditangkap, namun sebuah misi finalnya terhadap Red Skull mengakhiri semuanya. Rogers tak punya pilihan selain menjatuhkan pesawat Red Skull ke tengah salju demi menjaga kehancuran umat manusia. For this is a summer blockbuster sekaligus part of pieces ke instalmen The Avengers, stay after the credits rolled. Ada hint dalam bangunan benang merahnya, dan this ain’t a spoiler but a highlight which everyone should be awared. Silahkan minta ke manajer bioskop untuk membiarkannya bergulir, biarpun Anda jadi penonton satu-satunya diantara penonton tipikal kita yang langsung beranjak keluar. You’ll watch the teaser trailer of that giant project!
Here’s the hint dari konsep cemerlang Marvel dalam penyatuan para superhero itu. Bahwa masing-masing tokohnya hadir dengan gambaran karakterisasi yang batasannya sangat jelas. Semua punya ciri khas sampai ke style filmnya sendiri, dan akan sangat menarik melihatnya senyawa jadi satu. Pemilihan sutradara tiap-tiap franchise terpisahnya pun digagas dengan perencanaan matang. Jon Favreau yang penuh konsep komedik dipasang buat Iron Man sampai Kenneth Branagh untuk membangun atmosfer kedewaan Thor dari sisi science. Now enter Joe Johnston, sebagai salahsatu keuntungan penggabungan Marvel dengan Walt Disney. Set superhero berlatar Perang Dunia II yang sebelumnya hadir di The Rocketeer-nya Disney yang underrated itu, kiprahnya di departemen efek spesial Star Wars sampai Indiana Jones, sampai family fantasy yang begitu melambung dalam Jumanji, Honey, I Shrunk The Kids dan tentunya Jurassic Park III, tentu membuat Johnston jadi pilihan pas yang sangat bersinergi dengan konsep Marvel membesut Captain America. Dari tiap adegan penting seperti never back down, holds a bomb dan line-line uplifting yang sangat ‘superhero’ untuk penekanan poinnya, kalau perlu menghadirkan sebuah icon-mocking dalam plotnya dimana kiprah Captain America di dunia nyata-lah yang melahirkan komik sampai merchandise lainnya, just like Disney’s Hercules, Johnston bisa menyampaikan maksudnya dengan jitu. Multiple shot plus CGI yang menampilkan Chris Evans mini itu tampil nyaris tanpa cacat, gelaran efek di adegan-adegan aksinya muncul dengan feel nostalgik ke film-film perang klasik, pilihan castnya pun tepat. Tak hanya Chris Evans yang bisa membuang jauh imej nakalnya sebagai Human Torch di franchise Marvel lain, Fantastic Four, Sebastian Stan sebagai sidekick abadi Captain America yang hidup mati terus di komiknya, Tommy Lee Jones, Toby Jones dan Dominic Cooper yang berlomba jadi scene stealer sampai sosok british Hayley Atwell yang tampilannya klasik sekali, semuanya juara. Skor yang dibesut Alan Silvestri juga terasa paling sakti dan catchy di semua instalmen The Avengers bahkan film-film Marvel lainnya, hingga feel lovestory seperti Thor yang kembali disempalkan dengan pas menjadi quote dialog di endingnya. Paling hanya cast The Invaders (dalam komiknya disebut The Howling Commandos), serdadu tim Rogers yang multi-ras yang sayangnya tak bisa tampil begitu menonjol di tengah durasinya yang memang sudah sedikit over dan Hugo Weaving sebagai Red Skull yang masih kurang maksimal di final showdownnya. Namun yang jelas, ini jauh dari Captain America versi teve-nya Reb Brown tahun 80an (bagian keduanya, Death Too Soon, dulu diputar untuk konsumsi bioskop kita) atau buatan low budget di tahun 90an yang meski setia pada komiknya tapi terasa kurang darah itu. Konversi 3D-nya? Ah, tak usah susah payah. Kecuali Anda tak tumbuh besar dengan device bernama ‘View-Master’, tambahan kocek itu memang tak akan banyak artinya. Sekali lagi, racikannya memang menunjukkan Marvel tak sekedar sedang mengadaptasi komik Captain America. Seolah sebuah election, mereka hanya sedang meyakinkan kita seberapa pantas karakter ini memegang leadership The Avengers. Rogers bukanlah seorang multimilyuner pongah, superhero dengan segudang masalah atau anak dewa pembangkang yang terusir. Ia hanya seorang manusia goyah dengan satu tujuan. And believe me, you’ll agree with it. This is their hero with a bigger heart! (dan)
Film anak-anak sudah semakin langka di Indonesia, itu ada benarnya. Namun sama sekali mati tidak juga. Sesekali kita masih punya sineas yang masih memiliki hati mau membuat film-film yang pasarnya memang tergolong susah ini, kecuali adaptasi novel atau memasang superstar anak-anak yang tengah bersinar. Di luar nama besar sutradara Rudi Soedjarwo dan mungkin bagi yang lebih mendetil memperhatikan kredit film, penulis Salman Aristo, Lima Elang tak punya kekuatan itu. Namun ia digagas dari sebuah niat baik yang didukung sepenuhnya oleh Kwarnas Gerakan Pramuka. Sebuah film anak-anak untuk menyambut ultah ke-50 Pramuka. Sebuah ekstrakurikuler SD dan SMP yang sangat mendidik, yang sayangnya jarang-jarang diangkat ke film kita. Terakhir, hanya Lima Sahabat (1981) yang dibintangi Septian Dwicahyo dan Benyamin S. Yang menyorot anak-anak Pramuka secara sedikit detil. Meski resepnya masih tak jauh-jauh dari trend Home Alone yang tak pernah padam, anak-anak menghadapi sekumpulan penjahat sebagai highlightnya, pemaparan tentang Pramuka dan pesan-pesan moral lainnya tak ditinggalkan begitu saja. Ini adalah film liburan yang pas sekali disaksikan bersama seluruh keluarga, apalagi yang pernah atau masih mengikuti pelatihannya semasa sekolah.
Kepindahan kedua orangtuanya ke Balikpapan dari kehidupan mereka di Jakarta membuat Baron (Christopher Nelwan) kecewa. Masalahnya, bersama-sama teman-temannya disana, ia memiliki klub mobil RC sebagai hobi yang sulit ia tinggalkan, apalagi sebuah kompetisi menanti mereka. Akibatnya, Baron jadi sedikit sinis dan introvert dalam beradaptasi di sekolah barunya. Tapi Rusdi (Iqbaal Dhiafkari Ramadhan), penggalang pramuka yang berambisi sekali menjadi pramuka terbaik yang ikut ke Jambore Nasional menganggap Baron adalah kandidat yang pas untuk direkrut ke dalam regunya dalam mengikuti perkemahan Pramuka tingkat daerah. Baron awalnya jengkel karena perkemahan ini berarti memupuskan niatnya liburan ke Jakarta untuk mengikuti kompetisi RC. Toh keinginan kedua orangtua dan gurunya atas siasat Rusdi tetap diikutinya dengan satu rencana dibalik itu. Bersama Anton (Teuku Rizky Muhammad), si gembul yang ahli api dan Aldi (Bastian Bintang Simbolon), si kecil temperamental yang diam-diam punya kemampuan renang), mereka mengikuti perkemahan itu. Tapi perbedaan tujuan akhirnya memisahkan mereka, berikut Sindai (Monica Sayangbati), pramuka perempuan yang juga kesal dengan kelompoknya. Saat Rusdi dan Anton yang berniat meneruskan usaha mereka menjadi korban penyekapan para penebang hutan liar, Baron baru tersadar atas niat tulus Rusdi menjadikannya seorang sahabat. Mengetahui dua temannya sedang dalam bahaya, Baron pun merancang usaha penyelamatan bersama Aldi dan Sindai. Kalah menang tak lagi jadi sasaran, tapi yang penting adalah sebuah persahabatan, dan kalau bisa, siap di saat kapanpun ada bahaya menghadang.
Usaha dari ketua kwartir Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH yang langsung turun sebagai produser eksekutif dengan tim khusus dalam supervisi teknis ke produksinya benar-benar membuat gambaran perkemahan Pramuka dengan games-games-nya terlihat cukup hidup sebagai balutan tema baru di film-film anak kita. Pilihan cast anak-anaknya juga pas membangun sebuah syarat mutlak di sebuah film anak yang baik, yang mampu memunculkan kepolosan anak ketimbang memaksa mereka berperan selayaknya orang dewasa seperti yang kebanyakan terjadi dalam sinetron kita. Mau di sisi menyebalkan atau menarik, masing-masing punya kualitas scenestealing dibalik tampilan polos yang sangat anak-anak. Ini adalah salah satu spesialisasi Rudy sebagai sutradara, dimana sekedar pemeran pendukung sampai figuran tak penting pun bisa tampil dengan wajar. Sebuah knowledge tentang makhluk hutan yang disebut Batutut (Bigfoot-nya Asia), sebagai salahsatu mitos yang ditakuti di hutan Kalimantan dan Sumatera, juga diselipkan secara cukup informatif dan menambah konfliknya jadi semakin menarik. Hanya ada satu kekurangan di storytelling yang agak terbata-bata membangun chemistry dan konflik dengan turnover karakter yang masih terasa kurang believable. Begitupun, dalam kemasannya sebagai kids adventure, intensitasnya sudah cukup menarik dengan kelucuan yang juga polos serta terjaga. Dan saat Rudy menghadirkan satu lagi kemampuan ekstranya dalam membesut ending yang cheerly, ia lagi-lagi membawa kita ke sebuah penutup yang jauh lebih besar dari filmnya sendiri. Apapun hasil perolehannya, semoga mereka tetap punya niat melanjutkan kiprah lima elang ini dalam petualangan selanjutnya yang lebih seru lagi, seperti masa kecil kita membaca novel-novel Lima Sekawan atau Sapta Siaga. Oh c’mon. Tak harus pernah jadi Pramuka seperti Rudy sendiri, Let’s have a heart, dan mari hargai niat baik untuk terus membawa pesan-pesan itu kembali ke masa kanak-kanak kita semua! (dan)
Kalau ada yang bilang komedi slapstick itu menyepelekan logika, saya tak akan membantah. Memang seperti itu adanya. Komedi slapstick itu klise, itu juga benar. Orang ketabrak pintu kaca, orang terpeleset kulit pisang, kepala ketimpuk bola, ditampar sampai melayang dan muter-muter, mimik yang ditolol-tololkan, intip-intipan sampai komedi buang air, those are slapsticks. Plotnya juga biasa sama klisenya? Nah itu juga benar. Bahkan mau bicara yang legendaris sekali pun, pakem-pakem cerita orang kampung datang ke kota serta gap-gap yang sama seperti si jelek naksir si cantik, si kampung naksir si kota, dari jaman baheulak juga sudah begitu terus. Formula lain adalah menjual kekurangan. Orang jelek, orang kampung, orang aneh, kelewat gemuk atau kelewat kurus, banci-bancian dan sejuta kekurangan lain akan mendapat porsi eksploitatif paling gede. Jadi bulan-bulanan dengan satu tujuan. Memancing tawa. Tapi ingat satu. Bahwa slapstick tak harus berarti kacrut, kalau fondasi dan bangunannya benar. Menyepelekan logika boleh saja dalam sebuah komedi, tapi konteks memaksa orang yang tidak bodoh harus berpikir bodoh, itu tolol. Semua ada batasnya untuk bisa jadi believable. Inilah yang selalu jadi sandungan dalam banyak komedi slapstick kita, sama seperti tema-tema lain yang suka konflik dan reaksinya serba over. Maunya diramu dengan sempalan dramatis dengan skor musik yang entah apa maksudnya, atau dibesut dengan pesan-pesan dengan cara yang sama sekali tak masuk akal. Kalau setnya di dunia antah berantah dengan unsur fantasi, monggo, silahkan. Tapi ketika berhadapan dengan realita,ah, yang benar-benar saja. Silahkan membangun komedinya tanpa logika. Itu akan mengundang tawa. Tapi ketika seluruh plot dan pengadeganannya pun dibangun tanpa logika, that’s a meh! Kalau masih perlu contoh, tengok kembali Si Kabayan versi Kang Ibing atau Didi Petet. Atau komedi-komedinya Jim Carrey dan Adam Sandler. Atau Sex And Zero-nya Korea, yang lebih berhasil lagi meramu dramatisasi pas di tengah slapstick kacau-balau.
Tak ada jalan lain yang harus ditempuh Asep (Andhika Pratama), anak juragan kaya di Desa Endah Pisan selain melarikan diri saat dijodohkan ibunya (Lydia Kandou) dengan Enok (Pretty Asmara) yang bertubuh bomber. Bersama pamannya yang mengejar (Joe P-Project, credited as Drs. Joehana Sutisna), mereka kemudian bertemu dengan sekumpulan model yang kena protes warga desa di lokasi pemotretan. Asep yang menyelamatkan mereka dari kemarahan warga lantas jatuh cinta pada pandangan pertama pada Farah (Donita), salah satu model itu dan menawarkan pertolongan kala mobil mereka mogok. Perasaannya pun jadi kian dalam, sampai memberanikan diri merantau ke Jakarta untuk menyusul Farah. Gap yang muncul antara Asep yang udik dan taat agama dengan Farah yang menjalani kehidupan metropolisnya pun saling bertubrukan, namun usaha Asep yang tak kenal menyerah lama-lama meluluhkan juga hati Farah serta ibunya sendiri. Tapi masih ada satu halangan dari Brandon (Bertrand Antolin), mantan Farah yang terus mencoba kembali sementara Asep, meski sudah dibantu supir taksi (Polo) dan seorang nazir mesjid (Mucle) dan sang paman, tetap tak berani mengutarakan perasaan sebenarnya. Sementara Farah juga menyimpan sebuah rahasia dibalik kehidupannya yang serba glamour.
Kalau dalam sebuah modul blok kurikulum universitas, kata kunci dalam permasalahan konflik yang dihadirkan ini adalah ‘believable’. Seperti kebanyakan film-film kita yang tak pernah bisa beranjak dari plot serta karakter yang wajar, seperti itulah Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap ini sejak awal adegannya bergulir. Not believable. Keinginan Benni Setiawan sebagai penulis untuk membombastiskan celah konflik-konfliknya justru semakin ngaco seiring film berjalan, meskipun dialek serta bahasa Sunda yang muncul itu jadi nilai plus untuk membangun nuansa komedinya. Selain Andhika Pratama yang mau menggerakkan sejuta otot mukanya untuk kelihatan goblok dan udik bagaimana seriusnya pun tetap terasa terlalu ganteng sebagai ‘Si Kabayan wanna-be’, sempalan dramatisasi dalam penyampaian pesan reliji sebagai perwujudan produk film Lebaran pun jadi tak sinkron dengan skor musik yang (sok) bermellow-mellow dengan akting Donita yang terus merengek-rengek. Mau karakter Asep diganti dengan pelawak berwajah aneh sekali pun, ramuannya tak akan bisa bekerja membangun sebuah gap komedi yang baik. Lagi, ini adalah bukti dimana sineas penuh bakat, termasuk Lydia Kandou yang berdialek Sunda, tentunya, plus sutradara Indrayanto Kurniawan yang sebelumnya membesut Saus Kacang sebagai romcom yang terasa fresh dalam tema, mau-maunya berusaha mati-matian berinteraksi ke plot yang dari sananya sudah serba ‘not believable’ itu. Bakat-bakat ini memang sedikit mampu menyelamatkan beberapa sisi komedinya yang masih bisa mengundang tawa lebar bersama kiprah Joe, Polo dan Mucle, tapi keseluruhannya masih menunjukkan kecenderungan film komedi kita yang suka seenaknya saja memaksa penontonnya jadi ikut-ikutan berpikir setolol karakter-karakternya. Dan mencatut judul yang sedikit dipelesetkan dari salah satu film komedi situasi paling dibanggakan dari sejarah perfilman kita, ‘Kejarlah Daku Kau Kutangkap’ yang unggul di semua sisinya hanya karena ada nama besar Lydia disana? Well guys, that’s not wise at all. Not wise at all. (dan)
Ketika kita disuguhkan sebuah family movie di masa-masa liburan, akan naif sekali kalau apa yang ada di harapan adalah kisah berbelit dengan twist yang njelimet. Cuma ada satu hal penting disini mau apapun yang menjadi plotnya, seberapa baik buruk pun penggarapannya secara filmis. Simply lovable. Seperti lagu yang catchy, seperti penganan yang lezat, satu kontak saja sudah bisa membuat kita dengan gampang menyukainya. Faktor cast, pembangunan karakter, tema yang membumi, itu hanya jadi faktor sampingan. Yang terpenting adalah komunikasinya ke penonton dalam membangun chemistry yang kuat dengan apa yang terpampang di layar. Ini memang wilayahnya seorang Hanung Bramantyo. Meski film-filmnya tetap mementingkan sinematografi yang artistik, ia tak pernah berandai-andai. Tak pernah lari kesana kemari agar penonton memutar otak memikirkan maksudnya. Seperti tipikal guru yang paling disukai muridnya, ia menyampaikan pesan dengan sebuah keakraban visual. Bukan merepet dan bukan diam, tapi berbuat. And so, sinema kita boleh punya segudang film tentang sepakbola, tentang mimpi yang dengan banyak usaha menjadi nyata, plot zero to hero, apapun. Namun klise-klise itu menjadi fresh ketika ditangani dengan komunikasi yang baik. Bersama produk-produk Hanung yang lain, ini adalah contoh sebuah produk pop yang baik. Penuh pesan, kalau perlu sedikit bombastis dalam pengadeganan, tapi bisa diterima semua lapisan dengan semangat inspiratif tapi tendensi hiburannya tetap mencuat. Dan ah, keberhasilan produser menggamit Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan yang dipampang gede-gedean di poster itu memang sebuah selling point, yang justru membuat tanggung jawabnya makin besar. Here it is, saat sebuah visual bisa menggugah, kita tak akan ribut-ribut lagi soal kekurangan lainnya.
Jauh di kaki gunung Bromo yang gersang dan penuh debu, kita dikenalkan ke karakter Wahyu (Yosie Kristanto dalam peran debutnya). Seorang remaja biasa yang punya bakat alam di dunia sepakbola amatir. Bakatnya dimanfaatkan oleh Hasan (Agus Kuncoro), makelar sepakbola amatiran di tiap pertandingan untuk mencari nafkah. Namun ayah Wahyu (Sujiwo Tedjo) menentang keras bakat putra satu-satunya ini atas sebuah trauma masa lalu yang belum pernah diketahui Wahyu sendiri. Ibunya (Yati Surachman) pun tak bisa berbuat apa-apa melihat Wahyu yang kerap dihajar ayahnya setiap ketahuan bermain bola. Sebuah lomba debat di kabupaten yang diikuti oleh gadis gebetannya, Indah (Maudy Ayunda) yang juga lebih menyukai Wahyu ketimbang Hendro (Giorgino Abraham) yang lebih dalam segala-galanya, membawa Wahyu pada pelatih tim Persema, Timo (Timo Scheunemann) yang lantas menyadari bakat alamnya dan mengajaknya ikutserta dalam tryout untuk masuk ke dalam tim. Lagi, sebuah insiden atas kesehatan lutut Wahyu menjadi penghalang, namun Wahyu akhirnya harus menetapkan pilihannya. Tak hanya antara Hasan dengan Persema, namun juga antara kecintaannya antara sepakbola dan Indah.
Zero to hero. Klise? Sudah jelas. Bukan hanya di part sepakbola, namun juga di konflik pertentangan dengan orangtua, sosok ayah yang kejam, trauma-trauma masa lalu, dan teen love story-nya, sampai pada kebetulan demi kebetulan dan akhirnya-akhirnya yang jadi syarat bangunan plot yang sulit dihindari untuk genre-genre seperti ini. Jadi dimana letak spesialnya? Rasanya tak berlebihan untuk menyebut semua faktornya untuk membangun suatu sinergisme dalam membangun ‘Tendangan Dari Langit’ jadi tontonan yang sangat lovable. Selain spesialisasi Hanung dalam komunikasi itu, skenario yang ditulis Fajar Nugroho menyajikan pemaparan konflik yang cukup padat dengan beragam karakter dan dialog-dialog yang menarik untuk penyampaian pesan plus kritik sosial dan persepakbolaan negeri ini, lengkap dengan warna kedaerahan yang down to earth dengan dialek-dialek pemerannya, tak seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah yang mengabaikan kepentingan latar ini. Ulasan singkat tentang gambaran medisnya pun sesuai porsi dan bukan lagi-lagi omongkosong penuh mitos. Selanjutnya, sinematografi Faozan Rizal yang tak ketinggalan membesut panorama Bromo yang eksotis dan masuk ke sebagian besar adegan pentingnya. Debu-debu gunung itu seakan ikut berbicara memberi kesan ke tiap penyampaiannya. Ini bukan Bromo yang diam, misterius dan mengerikan dengan segelintir karakter ayah penjual anak seperti di Pasir Berbisik, tapi sebuah gambaran keindahan alam yang membuat kita sesekali ingin ikut merasakan suasananya. Atmosfer pertandingan sepakbolanya juga tertangkap dengan detil yang cukup baik. Atau lihat adegan Wahyu berlatih dengan sang ayah sambil menunggang kuda di tengah debu-debu Bromo itu. Skor yang lagi, dibesut oleh Tya Subiyakto juga ikut membangun chemistry yang baik di setiap adegannya.
Terakhir adalah cast yang menerjemahkan karakter-karakter unik yang ada dalam skenario Fajar dengan Mrs Hanung, Zaskia Adya Mecca sebagai casting directornya. Sebagai debut, Yosie sama sekali tak tampil mengecewakan dalam menggambarkan semangat yang berkobar dalam karakternya. Chemistrynya dengan Indah (Maudy Ayunda) yang diletakkan di dasar perbedaan jauh pun sangat believable. Sampai karakter-karakter sampingan seperti tiga sahabatnya, Meli (Natasha Chairani), Mitro (Jordi Onsu) dan Purnomo (Joshua Suherman) yang menyempil dengan puisi-puisi lucu pun terasa begitu hidup bersama penjual warung yang berkonyol-konyol tapi memancing tawa. Karakter-karakter aslinya seperti Timo, Irfan, Kim dan Matias sang pelatih? Juga tampil apa adanya biarpun hanya dengan sepenggal ekspresi yang terasa jadi berarti. Namun ada tiga yang paling bersinar disini. Agus Kuncoro sebagai Hasan yang aji mumpung tapi tak menghalangi empati penonton terhadap sosok eksentrik dibalik kaki pincang dan topi baret-jaket militernya, serta dua aktor yang biasanya tampil over dengan gaya teatrikal, Torro Margens dan Sujiwo Tedjo namun disini bisa menggunakan style itu untuk karakter yang luarbiasa jadi highlight di tiap penampilan mereka. Kalaupun ada sedikit kekurangan adalah pemilihan lagu soundtrack dari Kotak yang tak terdengar terlalu bersemangat mengantarkan klimaks kemenangan Wahyu, namun tak juga terlalu mengganggu karena semua unsur yang menyatu dalam sinergi luarbiasa itu sudah bisa membuat semua penonton bersorak di adegan klimaks pertandingan singkatnya seolah benar-benar menyaksikan pertandingan bola bareng-bareng. This is a simply lovable family movie for this holiday, bahkan mungkin yang terbaik dalam gelaran film-film lebaran tahun ini. It’s simple and clear, fun and cheer, and goal! Bola itu pun masuk dengan gemilang ke gawang hati Anda. (dan)
DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH : 'LOVE STORY' GOES TIME MACHINE
Semoga Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang sudah tenang di alam sana tak murka dengan adaptasi terbaru dari novelnya di tahun 1936 ini. Dibesut dengan biaya, kabar-kabarnya, entah benar atau tidak, 25 M, dengan barisan bintang-bintang senior sampai junior dan pembangunan set Ka’bah lifesize, Di Bawah Lindungan Ka’bah tak hanya mengkhianati esensi novel aslinya yang jadi literatur wajib Sastra Indonesia, namun juga dengan seenaknya menggubah adaptasi yang dicantukmkan jelas-jelas ‘based on’ itu dengan timeline asal-asalan. Apa yang hadir kemudian adalah seperti film terakhir Hanny R. Saputra, ‘Love Story’, tentang sebuah kasih tak sampai lengkap dengan kincir angin kayu raksasanya itu yang dipindah set saja. Kalau memang begitu kenapa susah-susah mencatut nama harta karun kesusasteraan kita itu? Tak hanya menodai karya aslinya, versi terbaru ini juga merusak adaptasi pertamanya yang dulu bermasalah di era pemerintahan Soeharto hingga diganti judul menjadi ‘Para Perintis Kemerdekaan’, yang cukup setia pada novelnya, dan baik pula secara filmis. Tolong jangan bela novel akan beda ketika diadaptasi ke film karena ada satu kata kunci yang harus ada dengan pencatutan nama ‘based on’ tersebut. Bukan hanya sekedar meminjam dialog, namun bahwa esensinya harus tertuang walau plotnya diubah sedemikian rupa. Ini tak lebih dari jualan kisah cinta Hamid dan Zainab sebagai bagian dari karya asli HAMKA yang dipoles dengan segala klise-klise bumbu lovestory terlarang akibat beda status sosial yang mengharu biru ala Indonesia (dan memang, catat, disukai penonton kita), ditambah sedikit bumbu dakwah untuk tendensi peredarannya di momen lebaran. Padahal, rencana awalnya banyak dianggap baik karena ada niat untuk memperkenalkan kembali karya-karya sastra kita yang sudah makin luntur ditelan zaman. Apalagi, masih tersisa sedikit keseriusan penggarapan dan ini yang selalu jadi masalah. Bagaimana aktor-aktris senior dan yang punya bakat akting luarbiasa bagus itu bisa diyakinkan untuk tampil superserius atas skenario yang sesungguhnya tak serius? Wallahualam. Allah knows best.
Berset di Padang tahun 1920an, oleh pasangan Haji Ja’far (Didi Petet) dan istrinya (credited as Widyawati Sophiaan), tempat ibunya (Jenny Rachman) bekerja, anak yatim Hamid (Herjunot Ali) sejak kecil disekolahkan hingga melanjutkan pendidikan agama. Otaknya yang cerdas dan pintar mengaji membuatnya jadi salah satu dari tiga lulusan Thawalib (sekolah agama) yang disegani disana. Namun ia tak bisa menahan hatinya untuk mencintai putri majikannya, Zainab (Laudya Cynthia Bella) yang tengah dijodohkan dengan Arifin (Ajun Perwira), putra Haji Rustam (Leroy Osmani). Zainab pun memiliki perasaan sama dengannya, namun keduanya sadar, status berbeda itu akan menyulitkan mereka. Hamid dan Zainab sama-sama memendam perasaan sampai akhirnya sebuah kecelakaan membuat Hamid seketika mendapat ilmu dari masa datang. Zainab yang nyaris tenggelam diresusitasinya dengan mouth to mouth ventilation sehingga selamat (Oh ya, silahkan bongkar semua sejarah medis bangsa ini dan tunjukkan satu bukti bahwa mouth to mouth ventilation yang di luar saja baru populer di era Perang Dunia sudah sampai ke Indonesia, di kampung kecil pula). Berteriaklah semua tetua agama dan penduduk kampung, walaupun Haji Ja’far mengaku Allah menjawab doanya untuk menyelamatkan Zainab melalui Hamid. Hamid yang memegang teguh agamanya terpaksa menerima hukuman. Ia diusir dari desanya, terpisah dengan sang ibu, dan kemudian bekerja di logistik stasiun kereta api. Beberapa kejadian mulai dari meninggalnya Haji Ja’far dalam perjalanan haji sampai ibunya yang meninggal setelah digambarkan batuk darah (yang ini boleh-boleh saja meskipun klise mengingat setnya memang di tahun 1920an dimana TBC masih jadi momok menakutkan yang sulit disembuhkan) membuat Hamid kembali ke desa itu namun belum lagi diterima. Hubungan terpendamnya dengan Zainab makin kompleks, apalagi istri Ja’far membujuknya mendekati Zainab agar mau dijodohkan dengan Arifin. Mereka berpisah lagi, dan kali ini Hamid berangkat ke Mekkah. Hanya ada satu surat di ambang keputusasaan Zainab yang dititipkannya pada sahabat Hamid yang berangkat haji tanpa tahu Hamid ada disana, dengan harapan bahwa Allah akan kembali menyatukan mereka.
Now I’m gonna tell you what’s not in the novel yang seharusnya menuangkan esensi Islami di tengah perjuangan para pemuda di daerah Minangkabau itu melawan penjajahan, lengkap dengan pandangan gender dan kesetaraan status. Jawabannya adalah hampir semua. Hanya ada nama-nama karakter, sebagian line dialog dan perbedaan status sebagai ganjalan sempalan kisah cinta tadi. Gambaran gender dari pandangan Islam hanya disiratkan lewat sebuah adegan singkat lomba debat yang entah iya atau tidak sudah disebut itu di tahun 1920an, dan penjajahan Belanda cuma ditunjukkan dari satu bos bule dengan tentara-tentara pengantar surat di daerah mereka. Aura relijius yang dalam novel digambarkan dari keteguhan mereka memandang Islam sebagai resepsi konflik-konflik yang ada hanya tertuang lewat kisah cinta yang dangkal. Selebihnya adalah cerita berbeda yang terasa sekali mengulang esensi kisah cinta terlarang dalam film Hanny terakhir, Love Story. Kalau Love Story terasa wajar karena setnya memang fiktif, apa yang ada disini justru jadi bombastis tanpa arah, kalau perlu dengan seenaknya melakukan turnover tanpa survei, salah satunya ya di adegan ‘mouth to mouth ventilation’ yang justru jadi pemicu konflik utamanya itu. This is that ‘Love Story’ goes on a time machine to 1920s. Masih ada yang lebih parah?
Jawabannya, ada. Dan itu terletak di dialog yang dipilih para penulis skenario bersama Hanny disini. Jangan lupa, bahwa set ini adalah Padang. Satu daerah dimana adat istiadat termasuk dialeknya termasuk unik karena masih dipegang teguh sampai sekarang. Menggunakan bahasa-bahasa Minang seperti wa’ang (kamu), duo (dua), dan lainnya, tanpa sama sekali ada dialek Minang, dan memilih bahasa baku ala novel menjadi pengantarnya, itu adalah suatu kekonyolan yang sangat-sangat mengganggu. Ini seperti bila Anda menutup mata dan hanya mendengar suara, apa yang kemudian terdengar tak lebih seperti film asing yang didubbing. Melewati batas 20 menit film bergulir, entah mengapa, sebagian pendukungnya termasuk Widyawati tapi bukan Junot dan Bella sebagai pemeran utamanya, mulai mencoba-coba menggunakan dialek meskipun tidak pas. Ini jadi tak konsisten secara, silahkan tanya ke orang Minang manapun yang masih merasakan hidup di zaman itu di kampungnya, apakah ada yang berbicara tanpa dialek tapi menggunakan bahasa daerahnya. Film aksi seperti Merantau saja lebih tahu perlunya dialek ini untuk menggambarkan latarnya. Saya jadi berpikir mungkin dalam syuting mereka disyut dua kali dengan dialek dan tidak kemudian dicampuradukkan dalam editing yang tak juga tampil rapi karena seringkali menghilangkan ekspresi dalam sambung-sambungan adegannya. Dan ini juga mengkaburkan karakterisasi dan aura relijiusnya sekaligus dengan sangat sukses. Kadang mereka terlihat seperti orang tangguh, tiba-tiba jadi bodoh tanpa alasan. Masih ada lagi yang lebih parah?
Jawabannya, ada, yaitu di pencitraan iklan sebagai sponsornya. Berkali-kali, bahkan belum lagi film memasuki masa putar 5 menit, sudah tampil kotak cerutu dengan merk Chocolatos terpampang jelas. Itu pun ternyata bukan cerutu, tapi sama dengan snack coklat yang kita konsumsi sekarang. Kasar tak kepalang. Setelah itu, ada adegan Hamid membeli kacang dengan mengatakan, ‘Kacang Garuda, duo’ dan belakangan muncul pula bungkus kacang Garuda yang sama dengan sekarang, namun dengan ejaan lama bertuliskan ‘Garuda Katjang Koelit’. Belum lagi obat nyamuk yang dibakar diatas bungkus Baygon yang lagi-lagi, sama dengan zaman sekarang. Saya tak tahu cuci otak macam apa yang dipaksakan pihak sponsor untuk pencitraan produknya ke pembuat film ini sampai mereka mau-maunya membuat iklan itu tidak lagi tampil terselubung. Astaghfirullah!
And so, Di Bawah Lindungan Ka’bah versi baru ini, saya malu menyebut karya besar itu sebenarnya dalam review ini, hanya menyisakan set yang lumayan cantik meski dengan dejavu kincir angin kayu di Love Story (mungkin ini propertinya Hanny), skor yang megah dari Tya Subiyakto meski strings latarnya sedikit plagiat, plus beberapa adegan yang memang sangat catchy. Salah satunya adalah tempat rendezvouz Hamid dan Zainab yang saling berbicara terhalang sebuah tembok kayu. Ini indah untuk menggambarkan hubungan terlarang secara puitis, paling tidak. Kalaupun mau menyebut satu lagi, adalah akting cemerlang dari para pendukungnya yang bisa menyelamatkan sedikit bagian pertengahan untuk mengalir dengan cukup runtut. Adegan Hamid melepas ibunya yang tengah sekarat dengan Junot yang menangis begitu lepas, itu hebat, kalau saja tak dirusak sedikit dengan editing yang tak rapi. Lagi-lagi, saya kembali bingung. Bagaimana bakat-bakat luarbiasa ini bisa dipaksa untuk menampilkan akting begitu baik di tengah skenario Titien Watimena dan Armantono yang terkesan asal jadi dan seenaknya itu. Forgive me for being this rude, tapi mencatut karya sebesar itu untuk jadi roman yang akhirnya jadi se-picisan ini, rasanya tak ada yang lebih tepat ketimbang mengusir Anda dari sebuah desa. (dan)
I’ll bet, tak ada yang menyangka, bahkan Neal H.Moritz dan petinggi-petinggi Universal Pictures sendiri, bahwa The Fast And The Furious yang digagas buat sebuah cult beraroma drive-in movie dulunya akan berakhir menjadi franchise besar setelah gonjang-ganjing perseteruan Paul Walker dan Vin Diesel pasca kesuksesan film pertamanya. Keputusan mereka untuk maju terus tanpa Diesel dengan pengumpulan kocek tak main-main akhirnya menyadarkan Diesel atas kekeliruannya lebih mengejar franchise lain yang ternyata tak se-berharga ini. Puncaknya, film keempat dimana Diesel pulang kampung secara penuh, Fast And Furious, semakin meledakkan spirit franchise ini untuk berjalan terus dan terus. Karakter-karakternya pun terus bersemangat untuk kembali, dengan tambahan yang tak kalah dahsyat juga. Jadi tak usah heran, saat kekuatan itu sudah melambung sedemikian tinggi, ide-ide baru untuk melanjutkannya ke tahapan berikutnya tentu muncul dengan sendirinya. Kalau perlu, dengan memutar balik timeline kesinambungannya bahkan dengan memunculkan kembali karakter lamanya secara bertahap. Sounds so soap opera? Nanti dulu. Sampai ke film kelima dengan sedikit bonus scene after end credits yang tak boleh terlewat, boleh saja Anda merasa plot demi plot itu dipaksakan, tapi kadar menariknya, tampaknya jauh lebih dari itu. Ini adalah sajian summer blockbusters yang benar-benar eksplosif dengan segala resep racikannya!
Yang namanya perampokan, dengan skill mengemudi luarbiasa yang dimiliki Brian O’Conner (Paul Walker) dan Dom Toretto (Vin Diesel) plus Mia Toretto (Jordana Brewster), jelas tak pernah cukup. Kali ini, usaha mereka membebaskan Dom yang secara tak sengaja menempatkan jagoan-jagoan ini ke jalan buntu atas kedigdayaan kingpin obat bius di Rio de Janeiro, Brazil, Hernan Reyes (Joaquim deAlmeida), terpaksa membuat mereka merancang rencana lebih lagi. Satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan mengumpulkan dreamteam yang terdiri dari Han Seoul-Oh (Sung Kang), Roman Pearce (Tyrese Gibson), Tej Parker (Ludacris), Gisele Harabo (Gal Gadot), Tego Leo (Leo Calderon), Rico Santos (Don Omar) bahkan Vince (Matt Schulze), mantan rekan Dom yang awalnya sempat mengkhianati mereka. Tujuannya adalah mempecundangi Reyes, keluar hidup-hidup sambil mengantongi target 100 juta USD. Namun selain Reyes, ada sandungan tangguh lain yang harus mereka hadapi, agen DSS Luke Hobbs (Dwayne ‘The Rock’ Johnson) bersama petugas lokal Elena Neves (Elsa Pataky), yang mati-matian berjanji meringkus mereka sekali buat selamanya.
Masih dengan resep sama, gebrakan aksi eksplosif sejak menit awal film bergulir diikuti aksi demi aksi yang lebih lagi menuju klimaksnya, franchise ini seakan mendapat semangat dan kekuatan baru dari The Rock yang diikutsertakan sebagai lawan para jago tadi. Tampil berimbang dengan postur, tampang dan ketangguhan serba mirip, perseteruan The Rock dan Vin Diesel tampil ke depan sebagai highlight utama pengembangan Fast & Furious, dan skenario besutan Chris Morgan serta sutradara Justin Lin benar-benar tak menyia-nyiakan amunisi ini. Tak heran, Morgan sebelumnya sudah menulis franchise ketiga dan keempat Fast & Furious, mengantarkannya ke kesuksesan berlanjut hingga terlihat tahu jelas dimana harus meledakkan bagian-bagiannya. Di luar adegan duo yang rasanya pantas meraih nominasi best fight MTV Movie Awards tahun depan ini, semua tetap berjalan di jalur biasanya. Adegan aksi yang menggelegar, chemistry yang semakin, semakin padu dari karakter-karakternya, score dan musik menghentak, pameran canggih-canggihan sekaligus hancur-hancuran mobil serta tentu saja dialog-dialog cheesy yang bukan kelihatan tolol namun justru terasa begitu padu dengan bangunan plotnya. Ini adalah racikan yang pas, tapi kalau saya dipaksa harus menyerahkan satu saja piala untuk petualangan Dom dan Paul yang kelima ini, saya akan dengan mudah menyerahkannya bagi siapapun yang memberi lampu hijau untuk mengkolaborasikan dua kepala botak temperamental dengan otot besar itu. With five times the fast and five times the furious, it’s as Rock as a Diesel can be, and they’re both ROCKS!! (danieldokter.wordpress.com)
Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah luar tentang kecenderungan film-film luar memakai bintang yang tak begitu punya tampang, tapi mengutamakan akting mereka. Oh, ini dari zamannya Robert DeNiro kita sudah tahu. Tapi ada satu poin penting buat jualan disana. Sebutlah, when they put actress like Maggie Gyllenhall atau aktor siapalah, yang penampilan fisiknya bukan ala Keira Knightley atau Keanu Reeves, sebatas mediocre kalo tak mau dibilang buruk, dalam sebuah komedi romantis, yang justru punya salah satu selling point menjual fisik. Bintang dengan fisik tak terlalu bersinar ini, justru bisa menciptakan suatu kedekatan pada penonton, sehingga akhirnya mereka masuk ke dalam kategori ganteng seperti dewa, atau cantik seperti malaikat. Dipuja-puja. However, how they act, counts. Now enter Ginnifer Goodwin. Rasa-rasanya, lebih banyak yang setuju kalau secara fisik ia adalah ugly duckling. Tapi peran sentralnya sebagai karakter yang sama, underdog, di tengah begitu banyak tampilan bintang-bintang cantik di He’s Just Not That Into You, membuat film itu jadi menarik sekaligus dirinya menjadi pusat perhatian penonton. And so, tak ada alasan untuk tak membawanya lagi ke genre yang sama.
Something Borrowed yang diangkat dari novel best seller karya Emily Giffin ini pun punya pakem rom-com klise yang rata-rata sudah kita lihat dalam sejumlah wedding rom-com. My Best Friend’s Wedding adalah satu diantaranya. Poin novelnya tentang sebuah pencarian cinta, jati diri dan etika persahabatan, bisa jadi memang selalu memberikan pesan berharga buat hidup. But then again, sebuah adaptasi bisa berhasil, atau bisa juga tidak. Apalagi kalau diwarnai trend sekarang, dimana sebuah produk harus bisa kelihatan berbeda dengan pendahulu-pendahulunya, biarpun unsur-unsur pembangunnya sama saja. Ah, kelihatannya tim produksi plus sutradara Luke Greenfield yang pernah membesut The Animal, tak bagus, dan The Girl Next Door, bagus, itu tak begitu perduli sejauh nama-nama seperti Ginnifer Goodwin dan Kate Hudson sudah ada di barisan pendukungnya, plus John Krasinski sebagai sidekick highlight pengisi karakter yang seakan wajib ada di chick flick, can be a gay or everyone thought he’s gay. Seperti Rupert Everett di My Best Friend’s Wedding, kira-kira.
Bersahabat sejak kecil dengan Darcy (Kate Hudson) yang seorang dominatrix, Rachel White (Ginnifer Goodwin) melakukan kesalahan besar di pesta kejutan ultah ke-30 nya. Ia tidur dengan Dex (Colin Egglesfield), tunangan Darcy yang siap menuju pernikahan. Ini memang bom waktu yang siap untuk meledak, karena Dex dan Rachel merupakan sahabat masa kuliah yang sama-sama menyimpan rasa suka, namun sebuah pertemuan 6 tahun lalu dengan Darcy yang disalahsangka Dex sebagai blind date atas prakarsa Rachel merusak semaunya. So everyone can guess where they went after, terutama bagi Rachel. Diantara menyimpan perasaannya rapat-rapat untuk tak menyakiti Darcy, atau justru berjuang mengejar pilihan hatinya di tengah minggu-minggu yang penuh kesibukan bersama rekan kerjanya, Ethan (John Krasinksi) dan dua kerabat mereka, Marcus si free-spirit (Steve Howey) dan Claire (Ashley Williams), dalam membantu Darcy mempersiapkan pernikahannya. Sementara Dex juga dilanda kebimbangan besar sejak peristiwa itu.
And bang, there u go. Ini adalah pakem plot yang hanya punya dua kemungkinan, antara disukai atau dibenci penontonnya. Apalagi ini dari novel, yang jelas-jelas membelitkan konfliknya secara lebih njelimet. This is like real life dimana tak perduli Anda adalah si karakter atau sahabatnya, bagaikan simalakama, tak ada penyelesaian mudah untuk masalahnya. The result, adalah tergantung bagaimana pembuat film bisa memberi gambaran karakter itu menyelamatkan konsekuensi pilihannya, dan gambaran abu-abu biasanya akan bisa lebih diterima untuk tendensi kenyamanannya sebagai sebuah rom-com.
Ginnifer Goodwin, tanpa harus diragukan lagi, menghandle karakter Rachel sesuai spesialisasinya. Kate Hudson sebagai seorang wanita dominatrix? Oh, dari wajahnya saja sudah mewakili. Fits perfectly. Colin sebagai the handsome prince in between, juga pilihan yang tepat, dan Krasinksi sebagai pelengkap yang harus bisa menonjol dengan dialog-dialognya, pastinya. Ini juga kemampuan spesialnya dalam mencuri perhatian penonton di tiap film yang menjual bakatnya berceloteh. Yang lain hanya pelengkap saja, termasuk Jill Eikenberry dari serial L.A. Law. Sekarang masalahnya ada di skenario dan sutradara yang meraciknya dengan porsi tepat agar apapun pilihannya, pemirsanya bisa menerima itu di tengah-tengah dua keinginan. Sayangnya, belit-membelit konflik yang sudah secara natural sekali berjalan dari awal hingga ke tengah mulai dieksekusi dengan porsi yang kurang seimbang. Durasi yang sedikit kelewat panjang untuk film-film sejenis salahnya terlihat lebih fokus menggempur masalah ketimbang mulai mencoba menyelesaikannya. Hanya di perempat akhir karakter-karakter ini akhirnya diarahkan dengan turnover yang jelas-jelas menjadi hitam putih secara total. The one who lose akhirnya punya kesalahan lebih yang seakan tak termaafkan untuk menggampangkan pilihannya, sementara plotnya masih sibuk mempersiapkan turnover lain untuk masuk ke tengah-tengah. Akibatnya, feel heartwarming-nya pupus seketika begitu saja, seakan memaksa penonton untuk sebuah keberpihakan. Dan ini adalah kelemahan terbesar untuk membuat ‘Something Borrowed’ jadi sebuah rom-com abadi seperti, oh ya, lagi-lagi, ‘My Best Friend’s Wedding’, yang di tengah pilihan-pilihan itu bisa membuat karakternya berjalan bebas dengan tetap lovable bagi pemirsanya. However, rom-com ini masih menyisakan ensembel akting yang menarik dan soundtrack yang keren. And at last, Ginny, I think you should put more eye cream untuk menutupi kantong mata yang menghitam itu. (danieldokter.wordpress.com)
TRANSFORMERS : DARK OF THE MOON : LOUD, BANG AND BOOM!
Say anything. Tapi dalam visual fantastik, Michael Bay is one of the gods. Mau melangkah kemana pun, kita seolah melihat Bruce Willis dkk berjalan slow motion siap menghadapi tantangan dengan orkestrasi skor megah yang senada. Selebihnya adalah gempuran efek visual yang membuat kita semua terdiam. Forget the rest. Yup, ini adalah amunisi yang sebagian coba ditinggalkannya dalam The Island. Hasilnya jeblok. So Bay kembali ke pakem dimana dia bisa beraksi dengan kedewa-annya itu. Admit it. Kita sudah dibuat takjub setengah mati, tak pernah membayangkan transformasi para Autobots dan Decepticons mainan yang dilipat kesana kemari bisa terlihat seindah itu saat diadaptasi ke layar lebar dalam taraf jauh lebih raksasa ketimbang animasinya. Sekuelnya membosankan? Itu karena Bay sudah jauh-jauh membeberkan semua adegan highlightnya di teaser sampai official trailer, plus bagi sebagian yang masih mau berekspektasi dengan plot di film-filmnya. Kini Bay makin memperjelas semuanya. Inilah dunianya. Dimana fantasi tak terkira bisa diwujudkan jadi nyata tanpa mau berkompromi dengan hujatan orang ke tetek-bengek filmis lainnya termasuk plot dan dialog yang serba cheesy. Ia hanya perlu satu hal. Membangun sebuah fantasi jadi nyata, dan membiarkan penontonnya terbengong di kursi mereka. Apalagi dewa-dewa lain di universe hi-technya ikut membantu. Selain Spielberg, kamera yang digunakan membesut Dark Of The Moon adalah murni kontribusi seorang James Cameron seperti yang kita lihat hasilnya dalam Avatar. Ini adalah dunia Bay. Takes you heavy to something loud, then Bang, and Boom!
Dengan latar yang mencampur fiksi Cybertron dengan sejarah pendaratan pertama awak Apollo 11 di bulan, kita diperkenalkan pada sosok Autobots baru bernama Sentinel Prime (disuarakan Leonard ‘Mr Spock’ Nimoy), yang lama terkubur disana setelah misi menyelamatkan Cybertron dari serangan Decepticons gagal. Optimus Prime (disuarakan Peter Cullen) yang bersama para Autobots sudah membangun aliansi militer untuk menjaga keamanan bumi sebagai tempat baru mereka pun membawa Sentinel kembali untuk diaktifkan. Namun Direktur badan intelijen AS, Charlotte Mearing (Frances McDormand) khawatir hubungan ini akan menempatkan bumi dalam keadaan bahaya. Bersamaan dengan itu, Sam Witwicky (Shia LaBeouf) mulai mencium adanya sinyal serangan kembali Decepticons lewat teori ‘Dark Of The Moon’ yang disampaikan rekan kerjanya, Jerry Wang (Ken Jeong) yang lantas dibunuh oleh utusan Decepticons. Ternyata kejadian itu sudah sejak lama dimanipiulasi Megatron (disuarakan Hugo Weaving) dan pasukan Decepticons untuk kembali melancarkan serangan balasan yang difasilitasi oleh atasan Carly, taipan Dylan Gould (Patrick Dempsey). Bersama agen Simmons (John Torturro) yang telah pensiun, Sam dan kekasih barunya, Carly Spencer (Rosie Huntington-Whiteley) pun memulai gerilya mereka menggagalkan serangan ini. Kalau perlu dengan menerobos badan intelijen, untuk sekali lagi bergabung dengan para Autobots menyelamatkan bumi.
Tak lagi menggelar hingar-bingar clang metal Autobots dan Decepticons sejak awal seperti Revenge Of The Fallen, Bay kali ini memilih kembali ke pakem awal Transformers. Menyimpannya hingga titik balik dimana penonton akan ditempatkannya ke atas roller coaster yang sangat hip dalam durasi kenikmatan visual (atau justru kegilaan) yang panjang. Tapi tunggu dulu. Penceritaan latar yang bisajadi menjenuhkan penonton yang menunggu-nunggu highlight ala Bay ternyata tak dihandle dengan karakter inti sekuat sebelumnya. Megan Fox yang hengkang karena berseteru dengannya kini digantikan oleh Rosie Huntington-Whiteley, aktris yang digosipkan sebagai kekasih Jason Statham di luar film, yang sayangnya tak bisa memancarkan kharisma berlebih seperti Fox. Plus balutan karakternya yang baru meningkat di bagian-bagian akhir, Carly jadi terlihat sebagai sosok blonde yang sangat annoying di sela intens-nya petualangan Sam dan Simmons. Penempatan aktor sekelas John Malkovich berikut Frances McDormand sebagai barisan nama-nama yang berhasil ditarik Bay dari dunia film indie mereka setelah John Torturro, pun tak banyak bisa membantu. Begitu juga dengan Patrick Dempsey. Paling parah adalah komedian Ken Jeong yang sudah mulai terlihat lebih menyebalkan ketimbang lucu dengan gaya yang itu-itu saja, dan memplesetkan plotnya ke sempalan komedi yang lebih terasa ngaco ketimbang fresh. Hanya ada satu yang bisa memanfaatkan karakternya terlihat benar-benar fresh, Alan Tudyk sebagai asisten Simmons yang porsi komedi dan aksinya cukup seimbang, sementara aksi dua jagoan lain di franchisenya, Josh Duhamel dan Tyrese tampaknya sengaja disimpan ke bagian-bagian klimaks.
But however, Transformers memang bukan diperuntukkan bagi mereka. Sosok para Autobots dan Decepticons-nya justru muncul makin kontras ketimbang banyaknya robot baru yang disempalkan di Revenge Of The Fallen, dan itu bagus. Fokus ke Sentinel Prime dengan kharisma suara Leonard Nimoy benar-benar muncul sebagai highlight baru yang menyenangkan. Dan ketika Bay akhirnya memulai menembakkan simpanan amunisinya, rasanya kita tak perlu lagi banyak omong. Lebih dari 45 menit terakhir, apa yang ditampilkan Dark Of The Moon, sudah cukup untuk menerbangkan Anda dari tempat duduk, apalagi dengan efek 3D yang mungkin tak secantik Pandora, tapi adegan rumblenya, percayalah, lebih intens dari itu. Yes, kegilaan Bay semakin memuncak tanpa logika tapi tetap asyik melepaskan imajinasi liar dan ketakjuban kita ke pameran hi-tech yang digelarnya. Saya tak tahu Anda, namun saya masih bakal merindukan Optimus dan rekan-rekannya kembali ke layar lebar dengan teknologi yang semakin menggila nantinya, biarpun isu-isu tentang penggantian LaBeouf dengan Jason Statham boleh jadi terasa aneh. Anyway, now forget the rest. Just sitback and enjoy this wild ride! (dan)
HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2 : BATTLE:HOGWARTS
Good news. At last, kita bisa menyaksikan blockbuster musim panas paling ditunggu-tunggu sebagai pertanda berakhirnya krisis film di Indonesia. Bad news, welcome to the finale dari sebuah franchise paling melegenda abad ini. Yup, seperti tagline-nya, It All Ends. Selesai sudah penantian dari sekuel ke sekuel dengan mantra demi mantra yang akhirnya mengantarkan kita ke penghujung petualangan Harry Potter-nya J.K. Rowling. Entah nanti ada racikan lain yang membawanya kembali, seperti bisa-bisanya Hollywood biasanya, yang jelas untuk franchise seukurannya, it’s hard to let go. Just like the hype di banyak media, ini adalah finale yang dirancang dengan strategi jitu. Jauh sudah melewati tipikal holiday fantasy movie di dua film pertamanya dan meninggalkan paparan adaptasi selanjutnya yang makin mengeksplorasi kegelapan plot serta karakternya, The Deathly Hallows Part 2 beranjak ke wilayah baru dengan kemegahan efek dan set yang membalut adegan-adegan aksi secara intens dari awal sampai akhir. How about the 3D? Ini juga produk konversi, itu benar, tapi heavy CGI yang porsinya melambung, paling tidak membuatnya cukup layak untuk disaksikan dalam format 3D. Reruntuhan Hogwarts yang diluluhlantakkan final showdown para penyihir baik dan jahat ini, benar-benar hadir dengan visual yang terlalu cantik untuk dinikmati dengan cara biasa. Apapun kekurangannya, go with the 3D. It is, indeed, Battle : Hogwarts.
Bagian kedua dari instalmen terakhir ini masih melanjutkan petualangan Harry Potter, Ron Weasley dan Hermione Granger (Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson) menemukan sisa horcrux yang membawa mereka kembali ke Hogwarts. Usaha untuk menemukan horcrux terakhir setelah Lord Voldemort (Ralph Fiennes) terus melancarkan serangan setelah mendapatkan elder wand, juga membuka rahasia masa lalu keluarga Harry yang belum pernah diketahuinya dari seorang Severus Snape (Alan Rickman) yang misterius. Namun ini sekaligus menjadi jalan ampuh untuk menghadapi Voldemort dalam sebuah penentuan akhir di tengah-tengah medan perang reruntuhan Hogwarts.
Pilihan Yates, yang sudah terbukti menjadi penerjemah petualangan Harry Potter dengan kedalaman visi paling sempurna diantara semua sutradara yang pernah membesut franchise filmnya, untuk membagi instalmen terakhirnya ke dalam dua film, benar-benar menciptakan sebuah kekuatan finale yang begitu terasa. Dengan tone yang tetap sama, detil-detil yang dipilih Yates untuk merangkai kesimpulan akhir kisah Harry hadir secara efektif tanpa harus mengorbankan intensitas aksi penuh efek CGI yang dihadirkan secara beruntun sejak awal hingga akhir nyaris tanpa jeda. Dominasi antar karakter-karakternya pun semakin berwarna tanpa percuma, dari peran kunci Alan Rickman sebagai Severus Snape ditambah Matthew Lewis sebagai Neville Longbottom dan aktris senior Inggris Maggie Smith dalam sisi heroik Profesor McGonagall bak ksatria Jedi dengan keanggunan aristokrat ala Inggris, yang bergantian mencuri layar bersama karakter-karakter utamanya.
But above all, instalmen terakhir ini merupakan sebuah pencapaian visual yang sempurna dari tim teknikalnya, Stuart Craig di production design, Tim Burke dan timnya di departemen efek, sinematografi cantik dari Eduardo Serra dan editing Mark Day yang membuat gelaran adegan demi adegan jadi terasa semakin intens. Oh yeah, this ain’t no Michael Bay, namun dalam kehebatan gempuran yang berbeda dengan pesaing utamanya dalam hingar-bingar summer movies tahun ini, Transformers : Dark Of The Moon, ini tak kalah seperti menyaksikan perang antar creatures dibalik latar kuno Hogwarts yang porak-poranda, with more dignity. What a glorious finale, and we should be glad to end that 10 years adventure in this visual greatness. (danieldokter.wordpress.com)
Bersamaan dengan Larry Crowne yang menggabungkan dua bintang besar, Tom Hanks dan Julia Roberts dengan sebuah reuni, The Beaver membawa Mel Gibson kembali dengan Jodie Foster. Juga sebuah reuni setelah kesuksesan Maverick di tahun 1994 dulu. Tapi ini bukan film pop. Hadir dari visi Foster yang duduk di kursi sutradara atas skenario besutan Kyle Killen, arahnya sudah bisa ditebak. Dalam karirnya sebagai sutradara, Foster memang luarbiasa pemilih, seolah sineas yang pantang berurusan dengan nada komersial. ‘Little Man Tate’ (1991) jelas bukan film pop. ‘Home For The Holidays’ (1995) yang sekilas tampak sebagai holiday movie penuh bintang juga tak seringan film-film holiday lainnya. Dalam The Beaver, eksplorasi Foster memang tak segila plot dan karakternya, but yes. Everything in it adalah sebuah premis dengan filosofi aneh yang susah untuk ditelusuri kemana arah tujuannya.
Walter Black (Gibson), CEO sebuah perusahaan mainan terkenal mendadak dilanda depresi panjang yang meluluhlantakkan semua kehidupannya. Tak hanya bisnis yang jadi kacau, dirinya juga didepak dari keluarganya; sang istri, Meredith Black (Foster), putranya Porter yang tengah beranjak remaja (Anton Yelchin) serta bocah kecil Henry (Riley Thomas Stewart). Puncaknya, ketika Walter ingin mengakhiri hidupnya, sebuah boneka tangan berbentuk berang-berang yang ditemukannya di tempat sampah justru mengembalikan semua semangatnya secara perlahan. Boneka yang lantas menggantikan aktifitas tangan kiri dan jadi juru bicaranya itu memang membuat Walter terlihat seperti orang gila. Bisnisnya kembali menanjak, Meredith mencoba kembali menerimanya, bahkan Henry jadi begitu sayang pada Walter. Hanya Porter, yang sedang dilanda masalah hubungannya dengan bintang cheerleader Norah (Jennifer Lawrence) yang tetap menjaga jarak. Namun bukannya bertambah baik, kegilaan Walter malah semakin memuncak dan memupuskan semua harapan orang-orang terdekatnya.
Sebagian kritikus luar melayangkan kritikan mereka atas premis yang sulit dipercaya. Namun rasanya bukan disitu intinya. Plot yang mengetengahkan sosok depresif yang tengah mencari jalan untuk bisa keluar dari masalahnya sah-sah saja, tapi skenario Killen dan penerjemahan Foster benar-benar membuat pemirsanya mengalami depresi yang hampir sama dengan karakter utamanya. Ditambah semua karakter pendukung punya masalah serius dengan trauma psikologis secara cukup mendetil yang digelar Foster, plus jalan buntu berbalut filosofi-filosofi yang terasa sama anehnya, lengkaplah sudah penderitaan itu.
Mel Gibson bermain sangat baik dalam menggerakkan boneka tangan dengan gerakan mulut yang benar-benar terlihat pas bersama logat asli negara asalnya, Australia. Tapi ekspresinya memerankan Walter yang dilanda stress berat, tetap menunjukkan Gibson biasanya. Ia memang lebih mirip Harrison Ford atau Tommy Lee Jones ketimbang Robert DeNiro. Tak bisa jadi bunglon dalam perwatakan yang berbeda. Di film apapun, gestur depresif cenderung gila-nya selalu tak bisa lepas dari salah satu karakter paling memorable dalam karirnya, Martin Riggs dalam ‘Lethal Weapon’. Entah memang Gibson cepat sekali berkerut-kerut atau anti botox, tapi bahkan kerutan yang makin banyak itu tetap tak bisa membedakan ekspresinya. Jodie Foster sendiri, seperti biasa, tampil dengan sangat meyakinkan. Bitterly touching dengan ekspresi gerakan rahang kokohnya yang terlihat sangat mantap, bersama dua bintang muda Anton Yelchin dan Jennifer Lawrence yang semakin menunjukkan karakter akting mereka yang sedang naik daun. Bintang cilik Riley Thomas Stewart pun tak kalah menarik melengkapi feel yang membuat penonton bisa tersenyum kecut di tengah penderitaan karakter-karakternya.
Tapi memang ini adalah sebuah filosofi aneh yang sama aneh dengan filmnya keseluruhan. Entah Killen memang ingin menunjukkan self-demonic dalam diri manusia yang sedang dilanda depresi berat dengan metafora berang-berang yang tak juga jelas, tapi yang tampil jelas justru gambaran psikologis yang kenyataanya memang sering membuat penderitanya melarikan masalah mereka ke jurang kegilaan yang lebih dalam lagi. It’s like they’re pushing us over and over sampai ke batas kewarasan yang membuat kita tak perduli lagi apa yang ada dibalik absurditas yang jadi makin gila menuju penyelesaian yang dipilih karakter-karakternya. Ini adalah film yang aneh, dan memang, sangat-sangat aneh. (dan)
Kualitas keaktoran Tom Hanks dan Julia Roberts, ah, semuanya sudah tahu. They’re not just stars. They’re megastars, dengan deretan film-film yang banyak bertengger di kategori klasik. Tapi menyatukan dua bintang dengan kualitas itu, juga bukan hal mudah. Pertemuan keduanya dalam Charlie Wilson’s War tempo hari sudah membuktikannya. Film itu bagus, namun selain plot yang juga tak terlalu banyak menginteraksikan keduanya ke dalam dayatarik sentralnya dari sebuah semibiografi, dua nama ini justru terkesan saling menenggelamkan kebesarannya masing-masing. Hanks memang lebih dikenal sebagai pasangan abadi Meg Ryan dengan kesuksesan ‘Sleepless In Seatlle’ diikuti ‘You’ve Got Mail’, sementara Roberts ke Richard Gere dengan booming maha dahsyat dari ‘Pretty Woman’, yang tak diikuti sama dengan ‘Runaway Bride’ di tengah gonjang-ganjing kehidupan personalnya waktu itu. So seharusnya, duet kedua orang ini sudah digagas sejak dulu, di masa mereka sedang tengah bersinar-bersinarnya. However, faktor usia yang mungkin membuat Hanks dan Roberts bisa terlihat lebih bisa menemukan perpaduan yang pas seperti yang kita saksikan dalam Larry Crowne.
Oh no, ini bukan rom-com bombastis yang diharapkan banyak orang sebagai pengikut judul-judul klasik tadi. Tak juga se-pop trailernya yang sangat menarik perhatian itu. Larry Crowne yang merupakan kolaborasi Hanks dengan Nia Vardalos, penulis yang jadi bintang dadakan lewat ‘My Big Fat Greek Wedding’, juga sebuah rom-com berkualitas Oscar, lebih memilih gambaran down-to-earth nya untuk menyampaikan romantisme canggung yang diterpa usia dan masalah-masalah middle age dan middle class people di atmosfernya. Dialog dan konfliknya tampak gampang-gampang saja, tapi punya kedalaman yang penuh makna menyentil setiap masalah yang dihadirkan. Dan tampilan serba canggung seperti yang ada dalam plotnya, membuat chemistry Hanks dan Roberts, sesuai usia mereka, justru tampil sangat bersinar. A hilarious one!
Hidup penuh kebanggaan sejak karirnya di Navy sebagai koki dan sekarang pegawai supermarket sukses, langsung membuat Larry Crowne (Tom Hanks) kelimpungan kala dipecat dengan hanya satu alasan dibalik rencana penipisan tenaga kerja. Bahwa ia tak punya gelar pendidikan formal dibanding tenaga-tenaga muda lain yang lebih tak berpengalaman. Impian yang sebenarnya sudah lama pupus sejak bercerai dengan istrinya tanpa seorang anak pun membuat Crowne semakin stress. Sebagai pembuktian diri atas dorongan tetangganya, Lamar (Cedric The Entertainer), Crowne lantas mendaftar ke community college untuk memperoleh gelar edukatif. Ia memilih kelas ekonomi dan satunya, bernama ‘Speech 217’ yang memperdalam komunikasi sosial yang mereka sebut sebagai ‘The Art of Informal Remarks’ bersama sekelompok anak muda penuh masalah komunikasi. Sang guru, Mercedes Tainot (Julia Roberts) yang serba sinis, ternyata juga punya masalah pribadi dalam rumahtangganya. Dengan kehidupan baru yang mengharuskannya beradaptasi dengan sebuah skuter di komunitas muda, Crowne mulai membangun kembali mimpinya satu-persatu. Mengejar gelar, dan kalau perlu, bahkan dengan memenangkan hati Mercedes sekaligus.
Sebuah rom-com, itu benar. Namun sekedar rom-com, itu salah. Larry Crowne menyelam lebih dalam dari sekedar hura-hura reuni keduanya dibalik tampilan Hanks yang kembali menunjukkan sisi komediannya walaupun jauh lebih halus. Atmosfer yang dibangunnya dengan terjun langsung sebagai sutradara juga sejalan dengan plot yang mengusung banyak sentilan terhadap isu-isu sosial masyarakat kelas menengah di negaranya, mulai dari sistem pendidikan, ekonomi hingga gap antar generasi bahkan pencarian jatidiri yang berbeda dari tiap lapisan usia.
Gaya Nia Vardalos yang setelah ‘My Big Fat Greek Wedding’ terlihat seolah sineas yang tak mampu menyingkirkan one hit wondernya, juga kembali dengan sangat kuat lewat dialog yang sekilas terasa simpel, namun penuh makna. Apalagi istilah ‘The Art of Informal Remarks’ dengan nilai edukatif ke masalah komunikasi yang digelar. Ini sekaligus ampuh sekali menjelaskan tahap demi tahap bangunan rom-com sebagai unsur utama yang memadukan chemistry Hanks dan Roberts dari kecanggungan yang sangat relevan ke plotnya. It might looks bitterly awkward, but hilariously relevant at once. Oke, penonton boleh saja lebih menyukai tampilan serba hangat yang terbangun dari chemistry-chemistry pendukungnya, termasuk kecantikan aktris yang lebih sering tampil di serial teve, Gugu Mbatha- Raw sebagai Talia bersama the underrated Wilmer Valderrama yang sangat mencuri perhatian, skuter-skuter antik, themesong lawas ‘Calling America’-nya ELO atau bagi fans film-film blaxploitation, kembalinya salah seorang ikon bomseksnya dulu, Pam Grier. Sebagian lagi, bisa jadi menganggapnya menjemukan karena terlihat terlalu ‘American-segmented’ dengan isu-isu sosialnya atau mengetengahkan lovestory dengan konflik yang lebih dewasa ketimbang hip-hip hura. Itu juga mungkin yang membuat resepsinya sangat beragam di banyak review yang ada. But overall, ini adalah sebuah rom-com dengan penyampaian dalam tapi tetap terasa asyik jika mau diselami lebih. Sebagian dari kita mungkin benar, hanya melihat Hanks dan Roberts, but if you’re a mid 40s with relationship issues, trust me, Larry Crowne might be a standing applause! (dan)
Ah, lagi-lagi generation gap. Belum lama Satu Jam Saja menunjukkan kalau formula 80an itu tak bisa relevan lagi buat film sekarang, muncul pula True Love yang sejatinya diangkat dari novel Mira W., novelis yang begitu populer menghiasi adaptasi novel ke film kita di era itu, berjudul Cinta Sepanjang Amazon. Ini adalah novel ke-75 Mira, yang bukan produk tahun 80an. Tapi pakemnya masih bergerak disitu-situ saja. Dibalik banyaknya titel-titel best seller yang dicapainya, konfliknya ya begitu-begitu saja. Dua orang pacaran, lantas timbul masalah. Entah dilarang orangtua atau hal lain, mereka tetap memaksa. Masalah lagi. Si perempuan biasanya diperkosa, entah oleh orang atau si kekasih yang ternyata tak sebaik yang digambarkan di awal. Oh, ya, hubungan ini selalu membuat hamil. Lahirlah anak. Lalu muncul keributan besar. Kemudian hampir selalu ada sosok laki-laki lain yang tampil sebagai pahlawan. Si perempuan pun terlempar ke dalam dilema antara menerima yang baru atau kembali karena masih mencintai yang lama. Cerita terbelit-belit lagi ala soap opera entah sampai kemana, tapi tetap ada jalan keluar. Kalau mentok, matikan satunya. Maka berakhirlah semua dengan bahagia.
Plot seperti ini, terus terang, bisa menarik di zaman dulu. Tapi sekarang, percayalah. Yang ada justru rasa hambar, mau sebaik apapun novel itu mengembangkan plotnya. Tapi secara filmis biasanya ada daya tarik lain di lokasi. Seperti banyak novel-novelnya termasuk Arini yang berset luar negeri, seperti itu juga film ini. Lokasi Amazon dan Australia kemudian dipindahkan ke Raja Ampat, lokasi pariwisata yang tengah populer-populernya itu, serta Swedia. Maka judul pun jadi berganti. True Love, untuk menggambarkan proses panjang yang berakhir menyatukan kembali dua tokohnya.
Let’s take a look at the director. Dedi Setiadi ini adalah sineas senior yang dulu terkenal sekali dengan serial Siti Nurbaya, Jendela Rumah Kita, dan banyak lagi. Sekarang pun ia masih produktif di sinetron-sinetron produksi Deddy Mizwar. Jelas bukan sutradara kacangan, paling tidak untuk ukuran 80an dulu. Tapi lagi-lagi, generation gap. Sineas-sineas ini mungkin masih terus ingin mempertahankan gaya mereka yang dulu, sementara zaman terus berubah. Sesekali, ada tampak usaha untuk sedikit bermain-main dengan inovasi baru ala sekarang. Tapi kenyataannya, ya begitulah. Di saat paparan sumber aslinya sudah terdengar seperti itu, sutradara juga membawanya ke ruang lingkup yang sama, plus skenario Viva Westi yang (saya tak tahu bentuk aslinya) nyatanya semakin memperparah keseluruhannya, ada satu yang membuat saya masih bingung sampai sekarang. Kenapa barisan cast yang, oh, terus terang, menjanjikan itu (kecuali Mario Lawalata), bisa-bisanya berusaha menampilkan akting mereka yang terbaik memasuki karakter-karakter tolol yang ada di plotnya? Don’t blame me. Tapi film ini, memang keterlaluan. Benar-benar keterlaluan.
So inilah gelaran cerita itu. Vania (Fanny Fabriana) adalah seorang anak haram. Ya, anak haram. Tipikal karakter film-film kita dulu. Ia tak pernah kenal ayahnya, dan ibunya pun meninggal ketika ia masih belia. Berusaha mandiri, Vania survive menjadi sarjana dengan beasiswa dan mengurus warnet miliknya sendiri. Then enter Aries (Mario Lawalata), putra keluarga kaya yang tak pernah kekurangan. Tanpa bekerja, ia hidup senang, dengan selalu didampingi Guntur (Edo Borne) yang seolah pelayan pribadinya. Keduanya jatuh cinta, dan berniat menikah. Dalam film-film kita, ini selalu jadi masalah. Orang kaya, tidak akan pernah diizinkan dengan orang miskin. Maka murkalah sang ayah. Aries dibuang dari keluarga, dengan Guntur yang tetap ia bawa. Mereka pun menikah, pindah ke rumah kontrakan Vania. Sudah bisa dipastikan, perbedaan keduanya membuat masalah klise, masih ala film kita, muncul. Dalam sebuah keributan akhirnya Guntur tak sengaja (ya, tak sengaja) memperkosa Vania. Vania pun hamil, sementara keributan yang sudah memuncak membuat Aries bertekad menceraikannya begitu si anak lahir. Apalagi Guntur langsung meninggal oleh ulah sekelompok preman setelah kasus itu tanpa sempat menjelaskan apa-apa. Vania yang tetap menyimpan rahasia ini lantas kabur begitu tahu Aries tetap ingin merebut anaknya yang baru lahir. Ia lari ke Swedia, mengganti namanya, bertemu dengan seorang pria paruh baya bernama Rudy (Alex Komang) yang mau menerima keberadaannya. Lantas, Rudy ternyata menderita kanker hati stadium lanjut. Ia pulang ke Indonesia untuk menuntut pembagian sahamnya, namun ternyata pemilik saham adalah ipar Aries. Aries yang jadi tahu keberadaan Vania kemudian menyusul ke Swedia. Dan cerita masih belum berakhir disini.
Saya tak tahu lagi mau meletakkan kesalahan utama film yang sudah terlalu banyak salahnya ini, namun yang jelas, di luar klise-klise plot tadi, ini yang pertama. Entah novel dan skenarionya, tapi karakter Aries yang dibawakan Mario Lawalata, yang dari salah satu wawancara Dedi disebutnya sebagai aktor pekerja keras, malah tampil tak jelas. Entah maunya temperamental, tapi yang kita saksikan adalah sosok sakit jiwa ’stadium lanjut’ yang semenit bisa berteriak-teriak tak tentu arah, semenit kemudian bisa lembut luarbiasa. Kemauan yang digambarkan pun sama. Sebentar niat buat bercerai, sebentar lagi melawan orangtuanya untuk kembali pada Vania. Selama durasi lebih sedikit dari dua jam, ketidakjelasan karakter itu terus muncul. Walau terlihat pantas menjadi penghuni kerangkeng, saya percaya, disamping akting Mario yang payah dan cuma mengandalkan teriakan, karakter asli baik di novel dan skenarionya pun tak mungkin bisa merebut simpati siapapun yang menonton atau membacanya.
Kedua, saya tak tahu kemana arahnya storytelling berbelit itu dihadirkan Dedi ke kita. Lagi-lagi, entah di skenarionya memang begitu, tapi yang kita saksikan disini adalah plot yang melompat-lompat tak karuan. Kadang bisa melompat beberapa jam, beberapa minggu bahkan beberapa tahun tanpa adanya kesinambungan. Satu adegan (entah maunya teaser atau puzzling model trend sekarang) bisa tampil beberapa menit tanpa kejelasan sebagai flashback, kemudian adegan lain yang tak nyambung langsung menimpalinya. Percayalah, Anda bisa menyusunnya dengan baik, tapi ini bukan cara yang benar. Seperti penderita ’flight of ideas’ yang tiba-tiba bisa melayang kesana kemari dengan cerita yang keluar dari mulutnya.
Ketiga, entah apa tujuannya produser dari salah satu universitas terkenal di ibukota itu mengeluarkan dana hingga ke Papua dan ke Swedia, tapi set luar negeri itu sama sekali tak mendukung ceritanya. Set yang tak juga tertangkap dengan kecantikan sinematis ini hanya hadir seolah background yang disempal-sempal dengan karakter-karakter tak jelasnya yang sedang berseliweran tak tentu arah. Malah, sempat pula disempalkan adegan Aries berwisata ke Raja Ampat di tengah kegalauannya kemudian menyaksikan suku setempat menari dan membayangkan Vania ada di tengah mereka.
Keempat, tak ada satupun feel yang bisa sampai ke penontonnya, yang justru tertawa di tengah-tengah adegan yang harusnya tampil sedih atau menyentuh, seakan ikut merasakan penggarapannya yang serba tak masuk akal itu. Ketika penyampaian seperti ini muncul dengan persepsi yang salah ke penonton, maka seharusnya sebagai sineas, mereka tahu, usahanya gagal total.
Dan ini yang terakhir, yang bukan merupakan kesalahan sinematis yang meliputi filmnya, tapi ada pada aktor-aktris berbakat seperti Fanny Fabriana atau Edo Borne, yang sepertinya mati-matian mencoba menampilkan akting bagus untuk masuk ke karakter-karakter gila itu. Sementara Happy Salma, seperti biasa. Cengangas-cengenges ala sinetron, dalam karakter antagonis yang paling gampang diterjemahkan aktris-aktris kita kebanyakan. Saya lebih memilih Alex Komang yang justru kali ini adem ayem saja memerankan Rudy seakan tanpa rasa dan emosi sama sekali. Meski gap 80-an dengan sekarang itu tetap terasa sedikit tak sinkron, mungkin ia sudah tahu hasilnya akan jadi berantakan sehingga tak berusaha perduli, dan ini agaknya patut dinilai sebagai suatu kewarasan.
Oke, Dedi boleh saja mengumbar kata bahwa ini adalah usaha untuk tak menempatkan film kita ke tema yang itu-itu saja (baca:horor dan seks), tapi terus terang, sebuah film paling kacrut sekalipun yang jelas tujuannya untuk jualan akan terlihat lebih baik ketimbang ambisi gagal total macam ini. Sekali lagi, tak perlu berpikir jauh-jauh. Ketika Anda menggambarkan adegan dengan feel yang dimaksud tapi ditangkap dengan reaksi berlawanan oleh penonton, hanya ada satu dan satu saja kemungkinan. Anda sudah gagal total. (dan)
WU XIA : A FASCINATING CHINESE RECIPE ... AND A REMAKE!
What is Wu Xia? Sebutan yang merujuk pada seni bela diri Cina dari kata Wu (武) dan Xia (俠), masing-masing berarti ‘martial’ dan ‘heroes’ hingga sering diidentikkan dengan kata ‘swordsmen’ (meski sang jagoan belum tentu bersenjatakan pedang) di literatur-literatur kunonya, sekaligus merupakan genre yang paling kita kenal dalam perfilman mereka. Cersil atau Cerita Silat, sebutannya disini. Peredaran internasionalnya yang diawali dengan sukses ketika di-premiere-kan di Cannes barusan, mengusung judul ‘Dragon’, semakin menapakkan citra Donnie Yen sebagai jaminan keberhasilan di genre itu. Namun selain Donnie, ada satu nama lagi yang perlu mendapat perhatian disini. Bahwa ini adalah filmnya Peter Ho-Sun Chan/Peter Chan. Sutradara yang tak hanya menjual adegan baku hantam, tapi selalu hadir dengan kedalaman plot yang penuh filsuf ala Cina. Di film-filmnya, termasuk juga yang paling dikenal, ‘Warlords’, yang sekedar diproduserinya seperti ‘Bodyguards And Assassins’ bahkan ‘Perhaps Love’ yang bergenre musical lovestory dengan kemegahan set ala Moulin Rouge itu, Chan tak pernah menampilkan komersialitas omong kosong tanpa isi.
Wu Xia kembali mencatat style uniknya selangkah makin maju, dengan gaya storytelling yang mencampuradukkan oldfashioned martial arts ala Shaw Brothers, deskripsi noir detective ala Sherlock Holmes, dengan racikan warisan Cina dalam dunia medis kuno yang lebih dikenal sebagai TCM (Traditional Chinese Medicine). Ada forensik, akupunktur, meridian dan homeostasis tubuh, anatomi kuno sampai ke qigong yang dipaparkan dengan sangat, sangat mendetil. Sesekali, Chan juga membawa kita ke feel western klasik yang sering tak jauh beda dengan film-film silat konvensional, terlebih pada karakter utamanya. Ini seperti menikmati masakan bercitarasa Cina yang kelezatannya campur aduk, namun tetap terasa berbeda, walaupun dengan satu catatan. Penggemar Donnie Yen yang mendambakan aksi pertarungan nonstopnya berpanjang-panjang seperti di Ip-Man, boleh jadi kembali gigit jari.
Dua perampok yang hendak beraksi di sebuah pabrik kertas desa kecil, tewas secara mengenaskan. Padahal sekilas, Liu Jinxi (Donnie Yen) yang berjibaku menghadapi mereka tak punya keahlian apa-apa. Bertahun-tahun terakhir, Jinxi memang hanya dikenal sebagai kepala keluarga biasa, suami dari Ayu (Tang Wei) dengan dua anak laki-laki yang masih kecil. Investigasi detektif Xu Baijiu (Takeshi Kaneshiro) yang menemukan bahwa seorang korban adalah satu dari 10 most wanted yang tak pernah bisa dikalahkan membawanya mencurigai asal-usul Jinxi. Apalagi tanda-tanda yang didapatnya dari pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa bandit itu dihabisi dengan cara tak sembarangan. Kecurigaan Baijiu mulai memancing kemarahan penduduk, sementara komplotan penjahat tangguh yang dijuluki 72 Demons dibawah pimpinannya yang kejam (Jimmy Wang Yu) tengah mencari keberadaan Tang Long, sang putra pewaris yang melarikan diri.
Sejak awal, Peter sudah membuka Wu Xia dengan storytelling yang unik. Tak hanya dari pengenalan karakternya dimana satu-persatu tokoh sentral mulai membangun chemistry mereka dengan baik, termasuk Tang Wei (Lust, Caution) yang pas sekali memerankan karakternya. Donnie Yen yang seperti biasa menyuguhkan koreografi aksi tak main-main seakan berlomba mencuri scene dengan Takeshi Kaneshiro (salah satu langganan Peter Chan belakangan ini) dengan gaya Sherlock Holmes kuno-nya. Balutan deskripsi yang dihadirkan dengan ilmu kesehatan tradisional Cina secara detil tadi juga muncul sebagai highlight yang sangat menarik bersama plot detektif-detektif-an ala Baratnya. Di satu sisi informatif, terkadang komikal, namun tetap menjaga kedalaman penyampaiannya nyaris sempurna. Sinematografi oleh Jake Pollock dengan score Peter Kam dan Chan Kok Wing yang juga membesut score ‘Bodyguards And Assassins’ pun semakin mewarnai atmosfer itu.
Sayang menuju pertengahan masa putar dimana Peter memilih lebih lagi mengeksplor latar belakang karakter-karakternya, Wu Xia jadi kehilangan pace yang sudah dibangun baik sejak awal, sampai akhirnya klimaks assault-nya kembali membawa Donnie Yen ke akar yang paling ditunggu-tunggu penonton, salah satunya pertarungannya dengan Kara Hui, aktris senior yang belum lama ini comeback, memenangkan aktris terbaik salah satu festival dan baru muncul di A Chinese Ghost Story. Pukulan demi pukulan yang hadir dengan detil dan sinematografi luarbiasa cantik, namun sayangnya tak dibiarkan Peter berjalan terlalu panjang. Ia malah menurunkan lagi pace-nya sebelum kita sampai ke adegan klimaks yang paling ditunggu dari comeback seorang legenda film-film Wu Xia angkatan 60an, Jimmy ‘One Armed Swordsman’ Wang Yu. Oke, full contact-nya bersama Donnie Yen mungkin tak seintens yang diharapkan, tapi disinilah Peter menyelipkan feel eerie yang dulu selalu muncul di film-film Shaw Brothers saat sang jagoan menghadapi musuhnya untuk terakhir kali, sementara penonton menahan nafas menunggu nasibnya. Ini krusial. Dan pencinta film-film Shaw Brothers pasti bisa tahu pada akhirnya, seperti James Bond dan Robin Hood versi terbaru, bahwa Wu Xia, memang adalah remake lepas dari karakter legendaris yang dulu dipopulerkan Jimmy Wang Yu. Yes, this is ‘One Armed Swordsman’ returning to the big screens. Excited? Oh, you should.(dan)
Produksi : CJ Entertainment, Next Entertainment World, 2010
Did you ever watch ‘Heart And Souls (1993)’? Pencinta romcom fantasy dan Robert Downey, Jr pasti sudah bisa menebak alur film laris yang hadir di penghujung tahun lalu di negaranya, Korea Selatan ini. 4 hantu yang mendadak muncul dalam kehidupan seorang lelaki yang tengah kebingungan mencari jatidirinya, dengan sebuah twist pula. Semenjak prestasi box office itu, Hello Ghost semakin berkibar atas kepincutnya sutradara Chris Columbus dengan pernyataan resmi ingin meremake-nya ke produk Hollywood dalam sebuah festival film di Berlin. Alasannya, Columbus begitu terkesan dengan cara mereka meramu komedi, drama dan sejuta racikannya. Begitulah sinema Korea, hingga source aslinya, Heart And Souls tadi pun tak bergaung lagi bahkan oleh Columbus, sekalipun. Kehebatan mereka meracik ulang produk-produk terinspirasi hingga segan disebut orang sebagai plagiat memang sudah teruji sejak sinemanya menanjak ke pengakuan internasional tempo hari. Sebut diantaranya. Taegukgi yang terinspirasi Saving Private Ryan hingga Cast Away On The Moon yang terinspirasi Cast Away. Di tangan sineas-sineasnya yang, err.. superkreatif ini, semua film-film itu hadir dengan sentuhan melodramatis khas mereka yang jauh lebih menyentuh dari film-film aslinya. Hello Ghost pun seperti itu. Twist yang ada di kisah aslinya dipelintir lagi sedemikian rupa hingga terasa lebih menusuk hati. But as ever, Anda akan butuh sebuah fokus penuh ke 30-40 menit jalinan awal kisahnya untuk mendapat esensi luarbiasa itu. Hang on, and trust me, you’ll ended up wet-eyed at the end of the movie. I mean it. Wet-eyed.
Lelah dengan semua masalahnya yang harus dihadapi dalam hidupnya yang sebatang kara, Sang-Man (Cha Tae-Hyun) pun mencoba mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara, tapi malangnya, selalu gagal. Sebuah usaha terakhir akhirnya membawa Sang-Man pada 4 sosok hantu yang mengekorinya kemana-mana, seorang kakek peminum (Lee Moon-Su), supir taksi perokok (Ko Chang-Seok), wanita yang terus-terusan menangis (Jang Yeong-Nam) dan bocah penyuka permen (Cheon Bo-Keun). Sang-Man awalnya tak tahu apa yang harus diperbuat namun perlahan, ia mulai mengerti bahwa dirinya harus membantu ke-4 hantu ini memenuhi keinginan mereka yang belum terwujud dengan menggunakan fisiknya, sekaligus membawanya pada Yun-Soo (Kang Hye-Won), perawat yang dengan cepat membuatnya jatuh hati. Tapi masalah Sang-Man ternyata tak hanya sampai disitu, ketika 4 hantu tadi tak juga pergi dan hubungannya dengan Yun-Soo malah jadi semakin rumit.
Saya akan merekomendasikan Indonesia sebagai negara pertama bila sineas-sineas Korsel ini mau berbaik hati membimbing mereka menemukan sebuah ide yang tak harus 100% fresh namun boleh saja terinspirasi dari karya yang sudah beranjak besar. Of course Indonesia, karena India dan Hongkong yang doyan memplagiasi film-film Hollywood saja sudah bisa beranjak jauh dari pola biasanya. Di negara yang tak pernah mau perduli dengan copyright internasional ini, sebuah insepsi terhadap kreatifitas daya pikir memang adalah hal yang mutlak sebelum kita terus-menerus dicerca sinema negara lain. Begitulah adanya. Hello Ghost, meski diawali dengan pakem yang sangat mirip dengan Heart And Souls termasuk karakter hantu yang berjumlah 4 itu ternyata mampu diracik ulang sedemikian rupa hingga melangkah lebih jauh dari Heart And Souls dalam mencuri hati penontonnya. Masih ada lawakan garing dan kebiasaan mengekspos wajah/postur lucu ala Asia yang muncul di sela-sela bangunan plot komediknya, namun melewati separuh masa putarnya, sentuhan melodramatis itu mulai digelar dengan sangat meyakinkan. Rasa tersentuh di tengah tawa yang terbangun dari adegan-adegan konyol, yang sejak lama jadi spesialisasi sinema mereka pun menyeruak dengan sangat leluasa pada setiap penontonnya. Dan itu akan berjalan terus hingga Anda terhenyak menyaksikan eksekusi dari sebuah twist yang dibangun berbeda dengan source aslinya. Saat Anda menyadari sebuah pesan moral yang dibangun begitu berharga tentang keluarga, Anda mungkin sudah menghabiskan beberapa tisu dengan nafas tertahan. Oke, tak perduli Heart And Souls adalah salah satu film favorit saya sepanjang masa, kali ini saya akan membiarkan mereka tak mencatutnya dalam remake Hollywood nanti atas racikan baru yang begitu special disini. Inilah superioritas sinema Korsel dibalik jalur kesuksesannya mendobrak sinema Internasional, dalam sebuah term bernama ‘Rasa’. Something you’ll eager for more. And more. (dan)
Did you ever watch ‘Heart And Souls (1993)’? Pencinta romcom fantasy dan Robert Downey, Jr pasti sudah bisa menebak alur film laris yang hadir di penghujung tahun lalu di negaranya, Korea Selatan ini. 4 hantu yang mendadak muncul dalam kehidupan seorang lelaki yang tengah kebingungan mencari jatidirinya, dengan sebuah twist pula. Semenjak prestasi box office itu, Hello Ghost semakin berkibar atas kepincutnya sutradara Chris Columbus dengan pernyataan resmi ingin meremake-nya ke produk Hollywood dalam sebuah festival film di Berlin. Alasannya, Columbus begitu terkesan dengan cara mereka meramu komedi, drama dan sejuta racikannya. Begitulah sinema Korea, hingga source aslinya, Heart And Souls tadi pun tak bergaung lagi bahkan oleh Columbus, sekalipun. Kehebatan mereka meracik ulang produk-produk terinspirasi hingga segan disebut orang sebagai plagiat memang sudah teruji sejak sinemanya menanjak ke pengakuan internasional tempo hari. Sebut diantaranya. Taegukgi yang terinspirasi Saving Private Ryan hingga Cast Away On The Moon yang terinspirasi Cast Away. Di tangan sineas-sineasnya yang, err.. superkreatif ini, semua film-film itu hadir dengan sentuhan melodramatis khas mereka yang jauh lebih menyentuh dari film-film aslinya. Hello Ghost pun seperti itu. Twist yang ada di kisah aslinya dipelintir lagi sedemikian rupa hingga terasa lebih menusuk hati. But as ever, Anda akan butuh sebuah fokus penuh ke 30-40 menit jalinan awal kisahnya untuk mendapat esensi luarbiasa itu. Hang on, and trust me, you’ll ended up wet-eyed at the end of the movie. I mean it. Wet-eyed.
Lelah dengan semua masalahnya yang harus dihadapi dalam hidupnya yang sebatang kara, Sang-Man (Cha Tae-Hyun) pun mencoba mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara, tapi malangnya, selalu gagal. Sebuah usaha terakhir akhirnya membawa Sang-Man pada 4 sosok hantu yang mengekorinya kemana-mana, seorang kakek peminum (Lee Moon-Su), supir taksi perokok (Ko Chang-Seok), wanita yang terus-terusan menangis (Jang Yeong-Nam) dan bocah penyuka permen (Cheon Bo-Keun). Sang-Man awalnya tak tahu apa yang harus diperbuat namun perlahan, ia mulai mengerti bahwa dirinya harus membantu ke-4 hantu ini memenuhi keinginan mereka yang belum terwujud dengan menggunakan fisiknya, sekaligus membawanya pada Yun-Soo (Kang Hye-Won), perawat yang dengan cepat membuatnya jatuh hati. Tapi masalah Sang-Man ternyata tak hanya sampai disitu, ketika 4 hantu tadi tak juga pergi dan hubungannya dengan Yun-Soo malah jadi semakin rumit.
Saya akan merekomendasikan Indonesia sebagai negara pertama bila sineas-sineas Korsel ini mau berbaik hati membimbing mereka menemukan sebuah ide yang tak harus 100% fresh namun boleh saja terinspirasi dari karya yang sudah beranjak besar. Of course Indonesia, karena India dan Hongkong yang doyan memplagiasi film-film Hollywood saja sudah bisa beranjak jauh dari pola biasanya. Di negara yang tak pernah mau perduli dengan copyright internasional ini, sebuah insepsi terhadap kreatifitas daya pikir memang adalah hal yang mutlak sebelum kita terus-menerus dicerca sinema negara lain. Begitulah adanya. Hello Ghost, meski diawali dengan pakem yang sangat mirip dengan Heart And Souls termasuk karakter hantu yang berjumlah 4 itu ternyata mampu diracik ulang sedemikian rupa hingga melangkah lebih jauh dari Heart And Souls dalam mencuri hati penontonnya. Masih ada lawakan garing dan kebiasaan mengekspos wajah/postur lucu ala Asia yang muncul di sela-sela bangunan plot komediknya, namun melewati separuh masa putarnya, sentuhan melodramatis itu mulai digelar dengan sangat meyakinkan. Rasa tersentuh di tengah tawa yang terbangun dari adegan-adegan konyol, yang sejak lama jadi spesialisasi sinema mereka pun menyeruak dengan sangat leluasa pada setiap penontonnya. Dan itu akan berjalan terus hingga Anda terhenyak menyaksikan eksekusi dari sebuah twist yang dibangun berbeda dengan source aslinya. Saat Anda menyadari sebuah pesan moral yang dibangun begitu berharga tentang keluarga, Anda mungkin sudah menghabiskan beberapa tisu dengan nafas tertahan. Oke, tak perduli Heart And Souls adalah salah satu film favorit saya sepanjang masa, kali ini saya akan membiarkan mereka tak mencatutnya dalam remake Hollywood nanti atas racikan baru yang begitu special disini. Inilah superioritas sinema Korsel dibalik jalur kesuksesannya mendobrak sinema Internasional, dalam sebuah term bernama ‘Rasa’. Something you’ll eager for more. And more. (dan)
Walau sudah demikian melegenda dari sandiwara radio yang booming di era 80an dan berlanjut ke franchise layar lebar yang sama gedenya, generasi sekarang mungkin tak semuanya mengenal sosok ‘Si Boy’. Idola remaja yang punya segalanya. Anak orang kaya, ganteng, jagoan, pereli handal, ladykiller, tapi juga tak ketinggalan beribadah. Hampir semua unsur yang ada dalam sosok Onky Alexander yang juga pemeran debutan waktu itu. Menciptakan sebuah karakter yang bisa melekat sehebat itu di benak pemirsanya, bukan masalah gampang. Memvisualisasikannya ke film, ke sebuah rolemodel yang membuat semua orang ingin jadi dirinya, itu hal lain lagi, dan tak semuanya bisa berhasil. Lupus, yang punya gaung mirip di era yang sama, gagal total. Bukan sekali, namun berkali-kali. Kenyataannya, Catatan Si Boy versi film juga bukanlah film prestisius yang diakui berkualitas festival film kita. Bukan seperti film-filmnya Teguh Karya, Arifin C.Noer dan sejenisnya. Ia hanya besar dari sebuah mimpi banyak orang, yang digelar dengan kesempurnaan berbeda. Dari cast, karakter dan chemistry yang hadir sebagai paduan yang luarbiasa uniknya. Pakem yang terus dipertahankan meski sempat terjatuh sedikit di film keempat dengan kesalahan fatal tak menampilkan satu karakter penting yang ikut membuatnya jadi besar, termasuk mengangkat karir pemerannya ke puncak, Didi Petet sebagai Emon.
Tapi yang jelas, ada banyak pakem khas yang muncul disana selain karakter si Boy. Dua sahabat setianya yang selalu saling iseng, Andi/Kendi (dalam film pertama diperankan Dede Yusuf) dan Emon yang feminin, dua wanita yang saling bergantian merebut hati Boy (Meriam Bellina dan Paramitha Rusady) sepeninggal cinta pertama Boy, Nuke (tampil sekilas di film pertama diperankan Ayu Azhari), berikut karakter-karakter lain yang sama memorablenya, termasuk adik perempuan Boy, Ina (Btari Karlinda). Ini ikonik, penuh dengan quote dan bahasa yang jadi umum, dan bangunan konflik yang selalu bisa dihandle dengan bijaksana oleh sang jagoan. Soundtrack-soundtracknya pun punya kekuatan magis yang sama.
Then comes a new movie, yang sejak lama sudah menggoda kita lewat halaman situsnya. Boy will return. Penundaannya selama beberapa saat, perombakan kru, cast dan sutradara, semakin naik turun membuat banyak orang penasaran. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, rencana itu benar-benar established ke sebuah karya regenerasi yang sama sekali bukan sebuah remake maupun lanjutan. Ini adalah sebuah cerita baru yang digagas dengan benang merah terjalin kuat pada franchise aslinya, penuh dengan unsur yang menjanjikan termasuk sebagian cast lamanya yang kembali, dan really, really, fascinating trailer. Putrama Tuta, penggagasnya, langsung mengambil alih kursi sutradara. Boy really returns.
Natasha (Carissa Puteri) yang datang dari London menyambangi sang ibu, Nuke, yang tengah dirawat dalam keadaan kritis, terpaksa berurusan dengan polisi atas ulah pacarnya, Nico (Paul Foster) yang terlibat hutang. Disana, ia berkenalan dengan Satrio (Ario Bayu), cowok penuh masalah yang bekerja sebagai montir di bengkel milik Nina (Poppy Sovia) bersama dua rekan dekatnya, Andi (Abimana Arya ; a reborn name of Robertino) yang cuek dan Herry (Albert Halim) yang feminin. Satrio kemudian mengetahui bahwa Natasha tengah berusaha menemukan Boy (Onky Alexander), pria pemilik diary yang tak bisa lepas dari tangan ibunya, dan membantunya. Kedekatan mereka membuat Nico panas dan berniat menjauhkan keduanya dengan segala cara, namun Satrio tetap tak mundur dari niatnya. Perseteruan Satrio dan Nico semakin memanas hingga hampir mengorbankan persahabatannya, termasuk dengan Nina yang juga memendam perasaan terhadap Satrio. Satrio kini harus memilih, sementara dari penelusurannya ke orang-orang terdekat Boy, Emon (Didi Petet) dan Ina (Btari Karlinda), jalan untuk menemukan Boy kian terasa makin jauh.
Meski menggagas sebuah cerita baru dalam benang merah itu, Catatan Harian Si Boy nyaris datang dengan kemasan yang sama dengan franchise sebelumnya. Tetap ada sosok jagoan, namun kali ini datang dari comfort zone yang berbeda, gambaran persahabatan dengan chemistry yang sempurna, dua sisi cinta segitiga, balap-balapan mobil dengan sedikit pameran hi-tech, sampai ke eksplorasi karakter yang serba mirip, terutama Kendi-Emon dengan Andi-Herry yang seperti Tom & Jerry. Hanya pencapaian visualnya secara sinematis yang jauh berbeda. CHSB tak lagi memerlukan set luar negeri untuk menyampaikan atmosfer modernnya, tapi cukup dengan visual keren seperti yang kita saksikan dalam trailernya. Namun kemasan mirip untuk menghadirkan feel nostalgik yang akrab sekaligus mempertahankan pakem kesuksesan film-film Si Boy dulu itu justru menjadi poin sekaligus highlight penting untuk bisa menggelar esensinya. Cast, bangunan karakter dan chemistry sangat kuat yang benar-benar dibuang sayang. Bahwa ini adalah sosok Boy di era sekarang, yang tak lagi perlu seratus persen jualan mimpi tapi lebih mengedepankan realita yang ada .
Dan skrip yang ditulis oleh Priesnanda Dwisatria-Ilya Sigma luarbiasa sukses menyajikan dialog-dialog serta quote yang bukan hanya memorable tapi juga ikut menghantam emosi kita. Sama dengan chemistry tadi, barisan castnya juga hadir dengan akting nyaris sama sempurnanya. Santai, tapi cukup berisi, mulai dari Abimana yang beruntung terus kebagian dialog-dialog memorable itu, Albert Halim, Poppy Sovia, Ario Bayu dan Carissa Puteri sampai aktor Singapura Paul Foster yang saling berlomba mencuri scene yang ada. Cast lamanya yang hadir bak cameo singkat pun begitu, termasuk Didi Petet dibalik tampilan penuh wibawanya sekarang tetap menyiratkan cipratan-cipratan Emon yang kita kenal, plus Onky dalam kharisma masih sekuat dulu meski lafal narasinya terdengar agak terbata-bata (lupakan Leroy Osmani karena tampilannya benar-benar kelewat singkat). So here’s the point, bahwa ini adalah mimpi yang terasa jauh lebih dekat ketimbang karakter serba sempurna yang dulu membuat banyak orang tergila-gila. Saya jadi teringat pendapat seorang teman yang mengatakan bahwa the ultimate power of the movie adalah kita begitu menginginkan persahabatan yang tergambar disini saat keluar dari bioskop. I agree to that, tapi lebih dari itu, meski dalam gambaran comfort zone berbeda, kita tetap ingin menjadi sosok Boy sebagaimana hype-nya dulu. Tanpa perlu lagi memikirkan tetek bengek lain yang terasa tak pas bagi sebagian orang, entah di beberapa gambaran medis hingga karakter Natasha yang masih bisa tertawa lebar di tengah penderitaannya menanti perawatan sang ibu. That’s life after all. Kita tak selamanya bisa sempurna. Namun ini adalah pencapaian yang sempurna untuk ukuran karya debut, dan in the end, What makes you ‘Boy’? You fall. You bumped. But YOU FINISH WHAT YOU STARTED. (dan)
If you’ve ever lived in the 70s/ early 80s, dimana pakem-pakem film aksi bertema polisi masih belum beranjak ke sajian hip penuh gegap gempita ala Lethal Weapon atau Die Hard dan mulai meninggalkan pola lamanya tinggal satu-dua, Anda pasti tak bakal menggerutu dengan aksi Statham yang cukup minim di Blitz. Ini memang bukan produk Hollywood dengan feel eksplosif sebagaimana film-film Statham biasanya, tak pula butuh twist pintar di sana-sini untuk membangun plotnya. Blitz lebih merujuk ke pakem konservatif di era itu, salah satunya, film-filmnya seorang Abel Ferrara, dengan penggambaran karakter yang tipikal. Dimana polisi-polisi cuma punya dua kemungkinan, bergaya perlente dengan jas panjang dan kemeja bodyfit bak Alain Delon di film-film kriminal Eropa, atau sosok liar slenge’an yang mengenakan jaket kulit dan jeans kemana-mana. Dan sebuah kombinasi akan selalu jadi hal yang bagus untuk membangun konflik partner-partener-annya. Lawannya? Oh, cukup satu, ini adalah psikopat maniak sekelas serial killer yang bertindak sejauh mana ia bisa. Berkostum hoodie, dan suka telanjang. Setnya juga penuh dengan lingkungan kotor. Hangout di bar-bar temaram, obat bius, pelacur, dan polisi korup dan pesakitan-pesakitan lain. Linear, bisa jadi. Tapi bukan juga berarti kehilangan intensitasnya. Ketimbang pukulan dan tendangan-tendangan keras, sebuah pakem kejar-kejaran antara karakter jagoan versus bajingan lebih menyeruak ke depan. So jangan harapkan Transporter atau Crank yang serba nyeleneh di balik tampilan serunya. Ini adalah gambaran klasik copkiller thriller yang diracik sebagaimana tampilan aslinya. Sama-sama seru, tapi dalam jalur yang berbeda.
Dibalik sosok seorang Barry Weiss (Aidan Gillen) yang penuh dengan rekor kejahatan kecil, pembunuh ini menamakan dirinya Blitz, dengan target sebarisan perwira polisi yang diincarnya dengan kecermatan tinggi. Melalui publisitas yang dibangunnya lewat wartawan kriminal Dunlop (David Morrissey), Blitz pun memulai aksi ini, namun di sisi yang berseberangan, polisi liar Tom Brant (Jason Statham) juga siap buat menghentikannya, walau harus berpasangan bersama partner sekaligus atasannya yang perlente, Porter Nash (Paddy Considine). Apalagi Brant sudah lama menyimpan kekesalan terhadap Dunlop yang kerap mempublikasikan kekerasannya menangani kasus. Identitas Blitz mulai terbuka saat rencananya menyerang Elizabeth Falls (Zawe Ashton), polwan penuh masalah yang tengah bernegosiasi dengan Craig Stokes (Luke Evans), rekan Brant, untuk melenyapkan sebuah bukti kejahatan. Pasalnya, Brant yang dekat dengan Falls sudah mencium adanya riwayat masa lalu pribadinya dengan Blitz. Sekarang, dengan atau tanpa izin Nash, bukti atau tanpa bukti, Brant hanya punya satu tujuan. Meringkus Blitz alias Barry untuk selamanya.
Blitz yang diangkat dari novel kriminal berjudul sama karya Ken Bruen, yang harusnya berupa satu dari beberapa serial petualangan duet Sersan detektif Tom Brant dan Chief Inspector James Roberts, dalam adaptasi ini sedikit dibelokkan ke paduan karakter berbeda. Tak lagi dengan Roberts yang disini ikut tergambar bukan sebagai karakter utama, Brant berduet dengan detektif Porter Nash yang metroseksual dan kerap dituding seorang gay. Pembelokan yang digagas Nathan Parker sebagai penulis skripnya menjadi buddy movie dalam atmosfer crime thriller Eropa yang kental, sedikit banyaknya juga mengacu pada pakem film-film bertema polisi era 70-80 itu, namun harus diakui berhasil menciptakan kombinasi karakter yang unik dan terasa kembali fresh di era sekarang. Paddy Considine, aktor Inggris yang lebih dikenal dalam deretan peran antagonisnya justru menjadi highlight yang sangat kuat dalam mengimbangi keberingasan Statham dalam role tipikalnya. Ini kira-kira mirip sekali dengan salah satu cop thriller cult-nya Abel Ferrara, ‘Fear City’, yang dulu memasang Tom Berenger dan Jack Scalia dengan chemistry yang juga nyaris sama. Di luar duet utama itu, adalah Aidan Gillen, juga aktor Inggris yang punya cap tipikal antagonis di beberapa produk Hollywood yang well-known (Shanghai Knights dan 12 Rounds-nya John Cena barusan), yang sangat berhasil memerankan bajingan dengan tingkah memuakkan. Selebihnya, meski Luke Evans yang sebentar lagi bakal tampil di Three Musketeers baru, bisa sedikit mencuri layar bersama Zawe Ashton yang juga bermain bagus sebagai Falls, tampaknya mentok sebagai pernak-pernik tak penting. Kredit Elliott Roberts sebagai sutradara mungkin belum banyak, malah mungkin sama sekali belum dikenal, namun visinya membawa kembali nuansa euro crime thriller kuno ke industri modern sekarang agaknya patut mendapat catatan penting, apalagi trio jualan utama yang terpampang gede di barisan cast poster promosinya bisa membangun chemistry mereka dengan bagus. Intensitas thrilling-nya juga terjaga rapi. Tapi apa boleh buat, lari dari kebutuhan trend yang masih marak juga butuh perjuangan lebih. Blitz mungkin bisa mendapat resepsi yang baik di negara asalnya sebagai produksi pertama Lionsgate UK, termasuk di Asia dimana nama Statham selalu dibandrol sebagai action hero pemikat penonton. Belum lagi buat penggemar euro crime thriller yang banyak berstatus cult, yang pasti akan mengapresiasinya lebih . Namun di AS, ia harus puas sebagai sajian straight to video bersama film-film aksi kelas B, tanpa satupun kesempatan lebih dari itu. (dan)
PUPUS / MILLI & NATHAN : SAME EVENTS, DIFFERENT PACKAGE
Curi mencuri ide dalam film yang rilis berdekatan atau bersamaan ternyata bukan hanya ada di Hollywood. Indonesia juga pernah begitu. Sangkuriang dan Tangkuban Perahu di tahun 1982, lantas belum lama ini Pijat Atas, Tekan Bawah dan SMS (Suka Sama Suka) yang celakanya, sama-sama produk plagiat tak bertanggung jawab dari Bollywood. Pupus dan Milli & Nathan agaknya juga punya kasus mirip. Biar wrappingnya sedikit berbeda, sulit untuk menghindari kesamaan dari plot sentralnya secara keseluruhan. Bahwa ada banyak juga melodrama Asia punya pakem yang sama dari waktu ke waktu, itu benar. Namun waktu rilis yang dekat, let’s admit it, mau tak mau, membuat kecenderungan pikiran ke arah sana makin kuat. Yang penting adalah mana yang lebih baik, atau justru sebelas-duabelas dari segi kualitas, baik atau jelek. Jelasnya, dua film ini sama-sama bergenre tragic love story dengan naik turun plot yang mirip. Don’t be mad. I don’t think that’s a spoiler nor an answer to a twist.
Dalam Pupus, yang teaser trailernya sudah sejak lama tampil sebagai promo tiket online jaringan sinema kita, love story itu bergulir antara Cindy (Donita), gadis asal Lampung yang baru saja memulai perkuliahannya di ibukota dengan seniornya yang bernama Panji (Marcel Chandrawinata). Sebuah peristiwa yang membuka perkenalan dua orang dengan tanggal kelahiran sama ini kemudian membuat Cindy penasaran akan sikap Panji yang jinak-jinak merpati. Sesaat, Panji seperti punya perasaan yang sama terhadap Cindy, namun tak jarang juga ia mengecewakan Cindy tanpa ampun, bahkan akhirnya, menarik diri sama sekali dari kehidupan Cindy dengan sebuah alasan bahwa ia bakal menikah dengan wanita lain. Cindy akhirnya mengetahui apa yang ada dibalik alasan Panji bersikap seperti ini, di saat waktu mereka untuk bersama hampir tak lagi banyak tersisa. You’ll know where it goes, trust me.
Then Milli & Nathan tells another love story. Tentang dua remaja yang saling suka sejak masa SMU mereka di Bandung. Nathan (Chris Laurent) yang merupakan sosok anak pintar sering menyambangi Milli (Olivia Jensen Lubis) untuk mengajarnya bak seorang guru les. Mereka pun akhirnya jadian. Namun menjelang kelulusan, Nathan yang berniat serius ke kuliah memutuskan hubungan mereka, meski tetap mencintai Milli. Milli yang lantas meninggalkan bangku kuliah untuk mengejar mimpinya juga berhasil menjadi penulis novel sukses. Di sela perjuangannya masing-masing, mereka tetap saling bertemu sesekali. Melepas rindu, pacaran lagi, namun Nathan selalu meninggalkan ketidakjelasan bagi hati Milli yang juga tengah menjalin hubungan baru dengan Oscar (Fendy Chow), rekan sahabat dekatnya, Asti (Sabai Morscheck). Kekecewaan Milli mencapai puncaknya ketika Nathan akhirnya mengaku hendak menikah dengan teman kuliahnya. Life goes on, dan tepat menjelang pernikahan Milli dengan lelaki pilihannya (Dimas Beck), Asti datang dengan sebuah surat yang membuat Milli menyadari ketulusan Nathan padanya selama ini. Trust me again, you’ll know where it goes.
Konsep sama, paket berbeda. Selagi Pupus yang seperti biasa, diwarnai gaya Rizal Mantovani, apalagi lagu tema yang aslinya sebuah hit single karya Ahmad Dhani sebelum ‘went berserk’ itu sudah lama tertanam di telinga kita, hadir bak sebuah videoklip dengan visual colorful yang cantik, Milli & Nathan tak kalah menarik. Hanny R. Saputra memang tak pernah punya konsep yang jelas sepanjang karir naik turunnya, namun belakangan ini konsep visualnya mulai membaik. Bersama tim sinematografi disini, Milli & Nathan jadi pencapaian terbaiknya dalam hal visual. Ini seolah membolak-balik sebuah album pre-wed ala sekarang, dengan teknik fotografi yang sekilas kelihatan polos namun artistik. Skor dan lagu-lagu dari Winda Idol yang lebih baru juga memberikan sinergi yang baik dengan visual ala album foto itu. Dari sisi visual, dua-duanya baik, namun punya sisi art yang berbeda.
Then let’s go to the cast. Dua film ini agaknya menemukan juaranya pada pemeran utama wanita. Donita dan Olivia Jensen, dua-duanya mampu mencuri perhatian kita untuk terus melahirkan sosok karakter yang lovable. Bukan soal tangis-tangisan dan skenario yang menempatkan mereka jadi objek penderita dalam hal perasaan sehingga mengundang rasa kasihan, namun mereka bisa memaksimalkan persona yang ada tak hanya sekedar jual tampang, tapi diimbangi dengan akting yang wajar serta sepenuhnya lepas. Penampilan yang tak berimbang dengan sang arjuna yang dua-duanya kedodoran dalam kelas yang berbeda. Selagi Marcel tak cukup meyakinkan dalam scene-scene akhir walaupun sudah dipoles sedemikian rupa sebagai penderita penyakit terminal, dengan penggambaran medis yang juga seperti biasa, kurang pas namun tak sampai salah kaprah, Chris Laurent agaknya masih perlu jam terbang lebih tinggi untuk bisa menunjukkan turnover karakternya dengan lebih meyakinkan. Tapi Chris masih lebih baik daripada Fendy yang ekspresinya ada di tingkat sinetron itu. Satu catatan buat Milli & Nathan, Sabai Morscheck yang muncul sebagai pelengkap justru memberikan chemistry yang jauh lebih baik dengan Olivia Jensen.
The last thing, adalah segi pengembangan dari plot dasar tergolong klise untuk segudang film dengan genre yang sama. Ini agaknya sudah menjadi ciri khas banyak skenario kita dalam membangun konflik yang jarang sekali bisa tampil wajar, begitu pula dengan reaksi yang dihadirkan dalam konflik-konflik itu. Let’s compare both of them. Pupus mungkin muncul dengan pemaparan karakter lebih wajar, no matter how stupid that girl came into your thoughts, karena karakter-karakter ini, believe it or not, sekali waktu kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun rentang lima tahunan yang digelar dalam bangunan ceritanya membuat gambarannya jadi terlihat terpotong-potong tanpa bisa menampilkan detil-detil penting, dan ini cukup berpengaruh pada feel keseluruhannya. Milli & Nathan, awalnya justru kedodoran, dengan alasan yang terasa kelewat dipaksakan untuk memisahkan dua karakter utamanya. Namun selanjutnya, skenario Titien membawanya pada sebuah batasan baru sinema love story remaja kita, dimana serangkaian konsep pendewasaan mulai dari ciuman-ciuman bibir (yang kabarnya dire-cut oleh LSF), ML, sampai pernak-pernik lainnya (no, saya tak akan menyebutnya kumpul kebo atau segala macam anggapan konservatif yang selama ini ada) yang tak lagi digambarkan begitu tabu dengan pengadeganan klise seperti kenyataan yang ada sekarang. That’s life after all, dimana ML pertama kali tak harus digambarkan dengan menggenggam sprei, wajah kesakitan sambil menangis sesenggukan, langsung terlambat haid dua bulan and so on, bukan pula sebagai bumbu klise yang harus ada di film cinta-cintaan. Apa yang kita saksikan dalam bagian-bagian ini sebagai pengembangan plotnya tampil apa adanya tanpa harus dipaksakan, sekaligus relevan, dan itu bagus. Sayang, next step dimana konfliknya terus diulur-ulur membuat kita tak lagi perduli dengan dialog-dialog puitis serta ending yang harusnya bisa tampil lebih menyentuh. Yang kita saksikan justru klimaks penutup album prewed yang jadinya terasa lebih meriah dari seharusnya. Oke, tak ada yang salah dengan keduanya meski punya ide dasar yang sama di tengah klise-klise yang ada di sebuah genre. However, Pupus itu lebih pas jika dibandrol judul ‘Happy Birthday’ ketimbang menjual lagu bagus yang tak juga relevan sekali dengan plotnya.
Dominasi Hollywood di genre horor yang sejak lama sudah tergeser Asia sepertinya sesekali masih mencoba menggebrak. Oke, some might be close, tapi belum ada yang benar-benar bisa membuktikan kehebatannya. Terakhir, Drag Me To Hell yang muncul dengan inovatif masih juga menyisakan banyak pro dan kontra. Let’s get back to its roots. Bahwa sebuah sajian horor, punya satu persyaratan mutlak untuk jadi besar di luar tetek bengek lain termasuk twist ini dan itu. Cukup satu. Menyeramkan, dan Anda berarti sudah berhasil. Dan seorang James Wan, yang inovasinya sudah begitu membekas di thriller slasher Saw yang berkembang menjadi franchise besar dan kabarnya masih bakal terus dilanjutkan, agaknya tahu benar itu. Nope, Wan bukan seorang sineas yang sekedar menakut-nakuti atau membuang-buang darah di filmnya. Pikirannya penuh inovasi, tapi dia tahu, inovasi saja tak akan bekerja banyak membangun sebuah horor klasik. Ada senjata rahasia yang harus dibombardir dulu ke penonton untuk bisa nyaman menerima inovasi-inovasinya lebih lanjut, seperti pikiran yang sudah tersihir. So here comes Insidious, horor Amerika yang beberapa waktu belakangan banyak dibicarakan orang. Oh ya, masih ada pro dan kontra memang, tapi percayalah, lebih dari 80% akan memujanya begitu hebat sebagai gebrakan yang bisa menyaingi seram-seram ala horor Asia lainnya. Apalagi, kreator Paranormal Activity, horor gaya baru yang hadir belakangan, ikut duduk di kursi produser.
Pasangan Renai (Rose Byrne) dan Josh Lambert (Patrick Wilson) yang punya tiga anak baru saja pindah ke rumah baru ketika Dalton (Ty Simpkins), putra sulung mereka, mulai merasa terganggu. Sebuah kecelakaan kemudian mengantarkan Dalton ke kondisi koma keesokan harinya. Renai pun mulai menyaksikan dan mendengar visi-visi menakutkan yang mengganggu putri bungsunya yang masih bayi, sementara pihak medis tak juga bisa menemukan problem yang ada pada Dalton. Ketika Renai mulai diserang secara langsung, ia pun memutuskan pindah rumah lagi bersama Josh. Namun teror ini tak juga berakhir, bahkan berlangsung semakin masif di rumah baru mereka. Ibu Josh, Lorraine (Barbara Hershey) kemudian memanggil Elise Reiner (Lin Shaye), paranormal kenalannya. Bersama dua ghostbusters ahli supranatural modern Tucker (Angus Sampson) dan Specs (Leigh Whannell), mereka mulai menelusuri energi-energi negatif yang ada disana. Sampai Elise membuka kesimpulannya bahwa Dalton ternyata memiliki kemampuan astral project, yang bisa memisahkan rohnya ke dunia paralel dan menyebabkannya tersesat disana atas keinginan jahat roh lain. Sementara jasadnya yang kosong juga memancing roh-roh lain untuk mengambil alih. Josh yang awalnya tak percaya kemudian mulai mendapati keanehan pada lukisan-lukisan Dalton, dan lantas dikejutkan Lorraine oleh sebuah sejarah yang sudah lama dilupakannya.And the game to get Dalton back begins.
Mock up hantu? Ah. Insidious jelas jauh dari inovasi horor Asia yang meski tipikal dengan rambut panjang berjubah putih ngesot kesana kemari tapi selalu kelihatan menakutkan. Style James Wan yang sangat old fashioned dengan topeng-topeng badut dan boneka marionette (boneka tali) kembali disempalkannya disini, dan sebenarnya, juga kalah menyeramkan. Soal topeng-topengan, sineas se-kacrut KK Dheeraj pun pernah mencoba menirunya di Genderuwo, tapi, gagal total. Lantas skor musik ala horor kuno yang menyeruak tiba-tiba seperti sepuluh tuts piano yang ditekan bersamaan dengan keras? Oh-ow. Bukan zamannya lagi sepertinya. Ratusan film horornya Nayato bermain-main di wilayah ini dan kita semua lebih merasa terganggu ketimbang takut. Pemunculan hantu yang cukup sering berseliweran dimana-mana? Hey, sekarang orang banyak bilang, semakin jarang hantunya muncul, semakin seramlah filmnya. Alur klimaksnya? Sudah banyak juga film horor yang bermain di wilayah jemput-menjemput ke dunia lain, bahkan 'The Real Pocong' nya Indonesia pun punya itu. Hanya ada satu modal yang dari sananya sangat horor, dan sengaja tak dipoles make-up berlebih. Tampang klasik Rose Byrne yang bagaikan wanita-wanita pemeran film horor era 70an.
Jadi mengapa semua elemen old fashioned itu bisa terasa begitu menakutkan disini, bahkan topeng yang jelas-jelas kelihatan seperti topeng itu bisa membuat penonton terperanjat ketika dimunculkan sekilas? Ini justru jadi inovasi yang sangat mengagumkan dari James Wan. Dia tahu kalau style-style old fashioned ini sebenarnya masih bisa menakutkan penonton bila eksekusinya dilakukan dengan benar. Dan semua elemen old fashioned itu hanya digunakan Wan untuk memberikan jalan merusak pikiran penontonnya di bagian-bagian awal, sebelum ia melancarkan serangan lanjut dengan inovasinya yang lebih gila. Gambaran paranormal dengan peralatan modern, teori-teori klenik tentang energi negatif, astral projection, gambaran foto dan elektromagnetik, menyempilkan tawa di tengah ketakutan, sampai twist ini dan itu pun kemudian bisa masuk dengan mulus membangun plotnya. Sama dengan proses yang digambarkannya di bagian-bagian klimaks, seperti itu pula Wan menenung penontonnya. Bagaikan sebuah sihir yang terlebih dahulu menghipnotis kita semua (Oh ya, dan sebuah hipnotis pasti tak akan berhasil sepenuhnya bila perhatian Anda distracted kesana-sini ; therefore, don’t missed the details and do watch it in theatres). Pacuan adrenalin itu akan terus naik lagi dan lagi, dan saat kita sadar, kita sudah tahu bahwa satu teriakan di tengah beberapa tawa keras pun tak akan cukup untuk bisa mengikuti alurnya sampai selesai. Seperti gebrakan awal Saw tempo hari, James Wan sudah berhasil menyuguhkan kita satu lagi karya dengan kualitas inovasi yang sebanding. Yes, this is damn scary and fun altogether, and I’m sure, for any of you who missed his ’Dead Silence’ yang gaung dan hasilnya memang tak sedahsyat ini, you’ll ended up craving the movie at the nearest stores or rentals. (dan)
Let’s be a little fairer, bahwa sebuah chick flick, bahkan Twilight sekali pun, tak selamanya seburuk itu (oh, but New Moon, is another case, really). Mau tampil se-unyu apapun, dalam koridor film sebagai hiburan, Beastly sebenarnya tak terlalu salah. Mereka memang mengarahkannya pada sebuah chick flick, and we’ve definitely got one. Tak ada yang salah dengan chemistrynya, dan visual-visualnya juga tampil menarik disamping keanehan visual tampang Kyle yang penuh tato tak kalah aneh itu. However, daripada dibuat klise jadi monster berbulu, ya, bolehlah. Sah-sah saja. Visual pergantian musimnya hadir dengan cantik bersama alunan soundtrack emo yang terus terang, sangat catchy itu. Karakter Neil Patrick Harris juga bisa jadi highlight tersendiri. So you might hate Beastly kalau merasa anti dengan film yang unyu-unyu, tapi dalam bentuk aslinya sebagai sebuah tontonan yang berada di genre chick flick, Beastly sudah menembak tepat ke sasarannya. Sangat tepat, malah.
UN adalah sebuah kesalahan sistem, kita semua tahu itu. Tapi menciptakan suatu standar, juga adalah hal yang tak kalah penting. Time is the answer, maybe. Terhadap ambisi terburu-buru untuk mengejar sebuah standar. Lah, kok bicara tentang UN? Oh yeah. Karena ini juga adalah sebuah ambisi. Ambisi yang penuh dengan niat baik, niat edukatif, pengenalan budaya, dan overall, sebuah cerita dengan pengharapan. Pencapaian yang juga dulu berhasil dibangun Alenia Pictures lewat film indah yang berjudul Denias : Senandung Di Balik Awan, serta, ya, Tanah Air Beta, yang meski tak sebesar Denias tapi masih cukup informatif dan setia di koridornya. Pendidikan formal dengan UN yang jadi momok bagi banyak orang itu, ternyata mengambil porsi kelewat besar untuk memberangus cerita uplifting metafora mimpi seorang anak dengan kecacatan bibir sumbing dari Sumbawa dalam sebentuk kumbang, yang seharusnya, saya percaya, bisa tampil jauh lebih baik dari ini. Dan tak hanya UN, ide dasar itu juga nyatanya semakin diperkeruh dengan banyaknya isu-isu lain yang disempalkan, mulai dari pilihan atas pendidikan formal vs non-formal, kekerasan di sekolah, mitos-mitos mistis hingga problema TKI negara tetangga. Bukan cuma pemikiran utama itu yang jadi blur, namun begitu juga isu budaya setempat yang seharusnya bisa memperkaya khazanah tentang belahan lain Indonesia yang selama ini luput dari perhatian kita. Dan oh, tentang beberapa press release yang menyebutkan ini adalah kisah dari tiga anak sumbawa mengejar mimpi mereka, selayaknya Laskar Pelangi yang berhasil membagi porsi dengan jauh lebih baik? Lupakan. Dua anak lainnya cuma tampil sebagai polesan untuk berkonyol-konyol. Yes, it is indeed, Overloaded.
Di Desa Mantar, di puncak bukit pedalaman Sumbawa yang masih jauh dari jangkauan kemajuan pembangunan, Amek (Yudi Miftahudin) hidup bersama kakanya, Minun (Monica Sayangbati) dan ibunya, Siti (Titi Sjuman) yang hidup dari berjualan jajanan kecil-kecilan. Sang ayah, Zakaria (Asrul Dahlan) sudah tiga tahun merantau, mengaku sebagai TKI di negeri tetangga, hanya dengan kabar sepucuk surat. Amek yang bersekolah di SDN 08 berlawanan dengan kakaknya yang selalu menjadi juara kelas di SMP yang sama. Kekurangannya dari bibir sumbing yang dimilikinya sejak lahir membuat Amek jadi sedikit introvert namun nakal, sama seperti teman dekatnya, Acan (Fachri Azhari) dan Umbe (Aji Santosa). Guru-gurunya pun beragam. Selagi Bu Imbok (Ririn Ekawati) dan Pak Openg (Leroy Osmani) menerapkan kelembutan, Pak Alim (Lukman Sardi) selalu menempa mereka dengan disiplin kaku dan keras, namun didukung oleh Kepala Sekolah, Pak Jabuk (Dorman Borisman). Setiap mimpi akan cita-cita anak-anak ini digantungkan mereka dalam botol di sebuah pohon yang mereka namakan pohon cita-cita. Di luar sekolah, mereka belajar mengaji di musholla pada sesepuh desa, Papin (Putu Wijaya) yang juga kakek Umbe. Konflik berkembang kala kenakalan Amek dkk mengintip rok Ibu Rukiah (Melly Zamri). Hukuman Alim dan Jabuk yang dianggap Imbok terlalu keras membuatnya mengundurkan diri dan mulai mengajar anak-anak ini berikut penduduk desa yang belum pernah bersekolah bersama Papin yang juga tak setuju dengan kekerasan itu. Zakaria yang pulang dengan sejuta dongeng pun mewarnai konflik itu, hingga memupuskan mimpi Amek yang ingin mengikuti pacuan kuda atas dorongan Papin. Semua konflik ini mencapai puncaknya ketika murid-murid SMP termasuk Minun tak lulus UN, padahal sebagian penduduk desa sudah berusaha dengan cara mereka masing-masing demi kelulusan anaknya. Ya, saya tahu, meski sudah dipersingkat dalam sinopsis pendek pun Anda-Anda yang membacanya sudah bisa merasa bangunan plotnya serba tak fokus.
Itu juga yang terjadi dalam penerjemahannya sebagai sebuah karya bernama film yang dibesut dengan ambisi besar dibalik sebuah niat baik untuk persembahan yang bisa terasa edukatif di semua sisinya. Saya tak menampik bahwa semua, termasuk Jeremias Nyangoen, yang lebih dikenal lewat perannya dalam adaptasi kisah Sumanto tempo hari, sebenarnya sudah berusaha menyampaikan kombinasi itu dengan keras. Akting para pendukungnya pun tak main-main termasuk bakat-bakat baru yang sebagian asli dari daerah settingnya tadi. Paduan aktor senior mulai dari Lukman Sardi, Dorman Borisman, Leroy Osmani, Titi Syuman, Asrul Dahlan sampai Putu Wijaya, dengan aktor-aktor juniornya memang menyuguhkan kita sebuah chemistry yang penuh sinergi. Begitu juga score yang digagas pasangan Aksan dan Titi Sjuman dengan nuansa orchestra yang menyayat sekaligus megah, plus themesong dari Ipang yang meski diulang-ulang tapi cukup catchy. Namun semua ini masih belum bisa menutupi tumpang tindih naskahnya yang overloaded itu, dimana beberapa karakter yang harusnya bisa jadi penting pun seringkali lewat percuma. Apalagi, penggambaran konfliknya penuh dengan hal-hal klise. Mulai dari anak kampung yang selalu kehilangan sosok ayah, gambaran manusia perantau yang tak pernah lurus, sampai, lagi-lagi, masalah intip-mengintip di sebuah film anak yang seharusnya tampil penuh pesan dan uplifting. Edukasi seksual mungkin bukan sesuatu yang perlu ditutup-tutupi, namun dalam pakem film kita, visualisasinya kerap jadi salah kaprah dan sama sekali tak mendidik, namun hampir selalu muncul di benak penulis-penulis kita sebagai bumbu yang tak perlu. Di satu sisi mungkin kita bisa menangkap keinginan Ari Sihasale bersama timnya secara begitu bersemangat sampai meninggalkan kisah utama tentang mimpi Amek berikut juga metafora Kumbang yang akhirnya hanya tampil di awal dan akhir sebagai pelengkap, untuk memberikan pandangan pada suatu isu tanpa sebuah judgment. Tapi gelarannya yang tampil kelewat hitam putih malah membuat kesan pendidikan formal dengan UN itu adalah sebuah momok menakutkan yang bisa menghancurkan siapa saja. Yang menyeruak ke depan justru bentuk persetujuan absolut pada pendidikan non formal yang justru kenyataannya membuat otak bangsa kita dipenuhi mitos-mitos tak benar dari such people called sesepuh, pak haji, atau apapun, di kampung kecil yang juga mengaku tak pernah kenal bangku sekolah. Dialognya pun jelas memperdengarkan itu. Oh, c’mon. Pendidikan formal bukanlah hanya untuk tujuan sebuah gelar, namun kita semua perlu itu, di luar sistem kacau balau yang ada di banyak belahan dunia, bahkan negara maju sekali pun. Toh beberapa adegan termasuk sejarah Waterloo sudah menunjukkan dimana batas perbedaan dua sistem pendidikan tadi, termasuk juga anggapan musyrik yang membunuh impian manusia-manusia belia ini tapi ditampik Imbok dan Papin. Anda mungkin berusaha untuk memberi jalan tengah, namun pesan yang sampai justru bukan menengahinya secara bijak dan justru membenarkan secara picik satu yang tak juga sepenuhnya benar. Dan apa boleh buat, ketika penyelesaian konflik seabrek itu akhirnya dikembalikan ke koridor yang benar tentang Amek dan pacuan kuda, kelulusan UN serta operasi bibir sumbingnya, sebuah tragedi yang membekas justru membuatnya semakin terasa digampang-gampangkan dengan durasi seadanya. Seperti paragraf, film juga seharusnya memiliki pikiran utama yang mengharuskan bangunan plotnya setia mengarah kesana. Apalagi dalam gambaran realis yang mengikutsertakan informasi dan pengenalan budaya. This is not the right one, dan dengan niat baik tadi, kesimpulannya adalah ’sayang sekali’. (dan)
Di luar Bukan Malin Kundang dan 3 Pejantan Tanggung yang agak tanggung-tanggung, selalu menarik menyaksikan film-film Iqbal Rais. Bukan karena inovasi ini dan itu, tapi dalam batasan sinema sebagai hiburan murni, kalau tak ingin menyebutnya komersil, Iqbal adalah seorang storyteller yang lancar. Skenario boleh saja penuh dengan bolong-bolong di sana-sini bagi pemirsa yang menonton dengan kecermatan tinggi dan masih memikirkan kewajaran di tiap sisi plotnya. Tapi ini adalah hiburan. Tontonan komersil yang bukan hadir dengan tujuan muluk-muluk. Cukup dengan kelancaran bercerita, komedi yang bisa memancing tawa dan diletakkan di bagian-bagian yang tepat, chemistry yang enak di karakter-karakternya dimana film-film Iqbal biasanya tak hanya punya satu karakter sentral, dan dramatisasi seperlunya, Iqbal sudah bisa membangun filmnya dengan baik. The Tarix Jabrix yang membawa band nyentrik dan tematik The Changcuters ke layar lebar sekaligus adalah debut kesuksesan pertamanya, begitu pula dengan sekuelnya yang masih tetap dibesut Iqbal. Dengan keluwesan The Changcuters yang bisa meracik ensembel komedian dengan karakter-karakter yang berisi, seolah menyaksikan kembali kejayaan grup-grup seperti PSP atau Sersan Prambors dulu, ini seharusnya jadi proyek paling personal bagi Iqbal Rais yang punya sejuta alasan buat dilanjutkan.
Masih menyambung petualangan The Tarix Jabrix, geng motor lain dari yang lain ; Cacing (Tria Changcut), Dadang (Erick Changcut), Mulder (Dipa Changcut), serta Ciko dan Coki (Alda & Qibil Changcut), film ketiga ini mengisahkan sepak terjang mereka menghadapi geng motor Road Devils yang terkenal sebagai perusuh di seantero Bandung. Atas permintaan atasannya di perusahaan asuransi tempat Cacing bekerja (Denny Chandra), Cacing ditugaskan melakukan negosiasi karena banyaknya klaim asuransi dari kerusakan yang diakibatkan ulah Road Devils. Cacing tentu saja mengajak rekan setianya, Mulder yang tengah berseteru dengan sang ayah (Joe P Project), Dadang serta Ciko & Coki yang juga lagi bermasalah dengan pekerjaannya. Kepulangan mereka ke Bandung ternyata langsung disambut oleh Road Devils dengan Jendral barunya, cewek galak bernama Melly (Olivia Lubis Jensen). Saat mobil dan uang kantor Cacing dirampas, Cacing pun mengajak Road Devils balapan dengan sebuah taruhan. Cacing berhasil dipecundangi Melly, bahkan emaknya (Inggrid Widjanarko) pun diancam. Atas saran Barokah (Eddi Brokoli), mantan Jendral Road Devils yang tersisih, The Tarix Jabrix dipertemukan dengan Laksamana Roda Gila (Budi Dalton) yang mau melatih mereka demi sebuah re-match. Dan Cacing kali ini punya senjata lain, dengan mendekati Melly secara pribadi yang diam-diam juga mengaguminya. Saat balapan ulang berlangsung, sebuah konspirasi dalam tubuh Road Devils terbuka, namun bersamaan, sebuah kejadian longsor juga membuat ayah Mulder yang tengah mencoba proyek air bersihnya di kampung itu terperangkap bersama emak Cacing. Sekarang Tarix Jabrix dan Road Devils harus menentukan pilihannya. Terus bertanding atau bahu membahu menyelamatkan penduduk yang ditimpa bencana.
Selain kekuatan Iqbal dalam storytelling yang lancar serta tampilan The Changcuters yang selalu sukses dengan chemistry dan humor-humor mereka yang mengalir sama lancarnya tanpa terjebak menjadi garing, franchise ini punya satu daya tarik lagi. Duo pemeran wanita yang kali ini menampilkan Olivia Jensen dan Kamidia Radisti. Pendukung-pendukung lainnya juga bisa menampilkan sisi komedik yang bersinergi dengan lawakan mereka yang selalu fresh. Ada Eddi Brokoli, Candil, Budi Dalton dan tentu saja Joe P Project yang selalu tampil remarkably funny di peran-peran kecilnya. Barry Prima, Fathir Muchtar dan Wagub Jabar, Dede Yusuf yang muncul sebagai cameo juga mampu menghadirkan highlight cukup asyik, plus pastinya lagu-lagu The Changcuters yang tampil sebagai penghias. Menanamkan karakter memorable dalam sebuah franchise musikal (sah saja rasanya disebut ini karena latar belakang The Changcuters meski disini mereka tak tampil sebagai anak band) komedi bukan suatu hal yang gampang, namun The Tarix Jabrix sudah berhasil sejak film pertamanya, dan selebihnya pasti bisa mengalir dengan sendirinya. Instalmen ketiga dari Iqbal ini memang seperti biasa, sangat menghibur, bahkan lebih baik dari film sebelumnya. Dan seperti yang diberitakan, ini mungkin saja benar-benar jadi petualangan The Tarix Jabrix yang terakhir. But somehow I’m sure, anak-anak Changcut ini bakal bisa terus bertahan di sinema komedi Indonesia dengan keunikan yang mereka punyai. When you have those powers, resep yang sama kadang memang perlu terus dipertahankan. (dan)
Ada yang bilang, Trilogi Merdeka yang mengusung judul Merah Putih ini adalah film perang Indonesia dengan gaya Hollywood. Ah, tak seperti itu juga, namun kalau krunya yang diimpor memang orang-orang yang malang-melintang di film-film Hollywood, blockbuster pula, itu memang benar. Sayangnya, rekord gede di film-film seperti Gladiator, Saving Private Ryan, Black Hawk Down dan seabrek lagi yang dipromokan besar-besaran, tak membuahkan hasil yang memadai di gebrakan pertamanya. Merah Putih I tampil bahkan tak lebih dari sejumlah film-film perang Indonesia tahun 80an yang remarkable dari Kereta Api Terakhir, Janur Kuning bahkan Pasukan Berani Mati yang punya kemiripan premis dari interaksi antar sukunya. Saya tak mempermasalahkan bahasa baku dalam kepentingan translated scriptnya, tentunya, karena timelinenya mengambil sejarah, sejauh sedikit kepeleset menggunakan bahasa-bahasa modern disana, ini sah saja. Namun di sekuelnya, Darah Garuda, beberapa kesalahan itu berhasil diperbaiki. Tak hanya adegan perang yang lebih realistis, beberapa adegan ledakannya juga cukup eksplosif. Feel adventurous karakter-karakternya juga lebih terasa dengan chemistry yang makin membaik. Toh sejarah hanya mengambil tempat sebagai latar, sedangkan karakter-karakternya fiktif. So, Hati Merdeka sebagai penutup sudah seharusnya mengundang ekspektasi yang lebih lagi. Tapi...
Dibuka dengan opening scene bak film-film James Bond, dimana tokoh-tokoh kita ini sedang menjalankan sebuah misi di sebuah klub Belanda, sebagian bersiap dengan senjata dari jauh dan sebagian lagi menyamar sebagai pelayan, Hati Merdeka sudah dimulai dengan sangat menarik. Konflik awalnya pun digelar dengan meyakinkan, dimana Kapten Amir (Lukman Sardi) harus mengambil keputusan terberat saat Budi (Aldy Zulfikar), sniper kecilnya tertangkap oleh Belanda. Perseteruannya dengan Tomas (Donny Alamsyah) pun makin meruncing, apalagi dengan keributan yang ditimbulkan Tomas dkk dengan Kapten Sofwan (Arifin Putra) di luar pengetahuan Amir. Saat misi berikutnya menugaskan pasukan elit ini ke Bali untuk membunuh Kolonel Raymer (Michael Bell, RIP last April), komandan Belanda yang terkenal kejam dan pernah membunuh keluarga Tomas, Amir pun mengundurkan diri karena misi membunuh secara pribadi dan didasari dendam dianggapnya bertentangan dengan prinsipnya. Maka dibawah komando baru Tomas, Marius (Darius Sinathrya), Dayan (T. Rifnu Wikana) dan Senja (Rahayu Saraswati) melanjutkan perjuangan mereka tanpa Amir. Setelah menghadapi serbuan Belanda ke kapal yang mereka tumpangi, di Bali mereka bergabung dengan tentara rakyat dibawah pimpinan Wayan Suta (Nugie) bersama Dayu (Ranggani Puspandya) yang keluarganya baru dibantai Raymer serta membuat Marius terluka parah. Amir ternyata juga akhirnya menyusul kesana setelah menyadari kekeliruannya meninggalkan rekan-rekannya. Misi menghadapi Raymer pun berlanjut, namun Amir tetap mempunyai misi untuk menghentikan kekejaman dengan tetap setia di jalan perjuangan revolusi mereka.
Menempatkan penutup trilogi yang seharusnya tampil sebagai klimaks yang lebih dari film-film sebelumnya, sayangnya tak dihandle dengan plot dan skenario yang serba mendukung. Alih-alih menonjolkan revolusi mengusir penjajah dari tanah Indonesia, duet penulis ayah dan anak Rob dan Conor Allyn justru menyorot tokoh villain-nya secara personal, yang justru semakin menyusutkan tema revolusinya. Sudah begitu, Hati Merdeka dengan terang-terangan memasukkan resep gampang ala Hollywood yang serba unlikely dan ridiculous tanpa kewajaran yang pas demi mempertahankan karakternya dengan cara seenaknya. Di saat karakter penting langsung mampus dan hangus saat terkena pecahan ledakan bom, karakter utamanya justru tetap aman-aman saja tanpa kurang suatu apa. Luka yang luarbiasa ditunjukkan dengan parah pun bisa dihandle dengan sebuah keyakinan. Ah, ini sedikit keterlaluan. Fiktif boleh saja fiktif, bahkan dengan tujuan pesan moral konflik antar suku dan agama, tapi sedikit keseimbangan akan terlihat jauh lebih wajar, apalagi ada kewajiban timeline yang sesuai dengan sejarah disana.
Belum lagi dengan bongkar pasang kepentingan karakter yang mungkin tujuannya menciptakan sedikit keadilan ke karakter-karakter yang ada, namun salah kaprah, serta memilih hanya satu daerah yang disorot dalam kepentingan sebuah finale. Sempalan kisah traumatik Raymer yang karakternya digambarkan kelewat komikal seperti villain film-film action murahan juga lewat dengan sia-sia. Hati Merdeka pun semakin kehilangan tujuannya menuju bagian-bagian akhir yang tak juga bisa diperbaiki sebagaimana harusnya. Konflik yang disempalkan diantara karakternya juga sedikit banyak malah mengurangi chemistry yang di Darah Garuda sudah terbangun hampir sempurna. Mungkin mereka lebih baik menukar urutan antara Darah Garuda dengan Hati Merdeka atas pencapaian feel keseluruhannya. Hanya akting yang masih konsisten dari para pendukung utamanya, plus Nugie yang tampil cukup menarik sebagai pendatang baru dalam akting layar lebar, yang bisa sedikit menyelamatkan Hati Merdeka, berikut adegan perang yang hadir semakin intens, termasuk adegan perang di laut yang terus terang, jarang-jarang bisa kita saksikan di film-film perang kita. Tujuannya untuk sebentuk rasa nasionalisme bisa jadi cukup kuat disamping tetap sebagai sebuah breakthrough dalam genre perang yang semakin jarang menghiasi sinema kita. Tapi selebihnya, sebagai sebuah finale yang seharusnya tampil paling klimaks, Hati Merdeka tak bisa tampil sehebat judulnya. (dan)
Film horor memang trend yang tak pernah bisa mati. Namun yang langsung melonjak menjadi franchise besar, dalam skup sinema layar lebar dan bertahan dengan predikat legendaris, itu jarang-jarang. Scream adalah salah satunya. Film yang kerap digolongkan ke genre horor namun sebenarnya lebih ke slasher thriller sebagai batas tipisnya ini punya banyak amunisi sejak awal. Selain plot yang inovatif dan menyentil resep-resep baku genre sejenis, tema yang sangat meng-anak muda di era 90an, twist pelaku unpredictable yang terjaga dengan baik, diatas semuanya, ada chemistry yang asyik sekali dari tiga pemeran intinya, Neve Campbell, serta Courteney Cox dan David Arquette yang akhirnya resmi menjadi Mr & Mrs. di luar film. O, ya. Tak lupa juga menyebutkan, bak James Bond atau Mission:Impossible yang resep saktinya ada di scene pembuka yang biasanya penuh gebrakan, Scream juga punya ini, dimana nama terkenal dibiarkan menjadi korban slasher secara mengenaskan di scene pembuka itu. So when we think it was all over dengan konsep trilogi lebih dari satu dekade lalu, Craven kini melanjutkannya dengan sebuah awal dari trilogi baru. Kembalinya penulis skenario Kevin Williamson meskipun akhirnya kembali digantikan oleh Ehren Kruger dengan sedikit perombakan di saat-saat terakhir, sedikit banyaknya bisa jadi jaminan tersendiri untuk tendensi mempertahankan orisinalitasnya. Apalagi mengingat instalmen akhir trilogi awalnya sudah banyak dinilai mengalami penurunan di sana-sini, dengan satu kesalahan membiarkan karakter yang kurang mengena baik dari segi keaktoran maupun karakter dalam film, menjadi pelakunya.
Instalmen ke-4 yang di-stylized menjadi Scre4m ini pun mengembalikan Sidney Prescott (Neve Campbell) ke Woodsboro, kampungnya, dimana semua teror berkepanjangan tadi bermula. Tentu, sebelum itu, tetap ada opening scene yang kali ini lebih berpanjang-panjang mengelabui penonton dengan resep lamanya. Ghostface ternyata masih berkeliaran disana, dengan terbunuhnya dua siswi SMU secara brutal seperti biasanya. Sidney yang masih diselimuti trauma dan kembali untuk mempromosikan bukunya langsung menjadi tersangka ketika sebuah bukti ditemukan di mobil rentalnya. Dewey Riley (David Arquette), rekan lamanya yang kini menjadi sheriff terpaksa menahan Sidney di Woodsboro sampai ada petunjuk selanjutnya, selagi ia tinggal di rumah bibinya, Kate (Mary McDonnell) dengan sepupu mudanya, Jill (Emma Roberts). Sidney menemukan banyak kesamaan dirinya di dalam sosok Jill yang juga tengah bermasalah dengan mantannya, Trevor Sheldon (Nico Tortorella). Sementara itu, Gale Weathers (Courteney Cox) ternyata tak pernah mau meninggalkan atribut kewartawatiannya dalam menyelidiki kembalinya Ghostface meskipun sudah ditentang oleh sang suami, Dewey, bersama partnernya, Judy Hicks (Marley Shelton). Muda-mudi Woodsboro juga masih saja memuja peristiwa berdarah yang sudah diabadikan bersekuel-sekuel dalam film berjudul Stab itu, dan di tengah perayaan ke -15 tahun-nya, dimana siswa-siswa penggila horor, Robbie Mercer (Erik Knudsen) dan Charlie Walker (Rory Culkin) tampil sebagai penggagasnya, teror ini pun kembali memuncak. Sekarang trio Sidney-Dewey-Gale bersama Jill dan rekannya, Kirby Reed (Hayden Panettiere) harus berusaha menemukan siapa sebenarnya yang ada dibalik topeng Ghostface terbaru. Don’t worry, as ever, it’s unpredictable, and this time, it’s unpredictably good!
Tak ada yang lebih menyenangkan saat sebuah sekuel yang lama ditunggu-tunggu dan terlihat mustahil ternyata bisa menempatkan dirinya kembali di resep awal dengan modifikasi-modifikasi penuh gebrakan. Wes Craven bersama timnya ternyata membuktikan itu, setelah film terakhirnya, My Soul To Take, berakhir menjadi sampah yang sama sekali tak berarti di tahun lalu. Craven belum lagi kehilangan sentuhannya meracik teror di Woodsboro, apalagi ensembel intinya bersedia hadir kembali. Di usia mereka yang semakin menua, Campbell, Cox dan Arquette ternyata masih setia untuk bisa masuk ke karakter memorable dalam sejarah karir mereka ini. Semua masih sama seperti dulu tanpa perubahan berarti, namun atmosfer barunya diwarnai dengan pemilihan cast yang jitu dari bintang-bintang muda yang tengah naik daun mulai dari Hayden Panettiere, Rory Culkin sampai Emma Roberts, duo yang lebih senior Anna Paquin dan Kristen Bell sebagai pengisi porsi Drew Barrymore yang legendaris itu, plus Adam Brody dan Anthony Anderson yang berperan sebagai deputy dalam porsi black humor-nya. Skenario Williamson yang dirombak Kruger juga dengan efektif berhasil membangun misterinya dengan tak tertebak, penuh kejutan, namun juga tak kehilangan unsur seru dan tentu saja kesadisannya dalam jiwa film slasher yang diusung franchise ini. Masih tak cukup? Selain opening scene yang diulur-ulur tapi asyik itu, bagian klimaksnya pun dibesut dengan resep yang sama. You’ll scream out loud, and trust me, ask for even more. Semoga instalmen kedua dan ketiga dari trilogi barunya tetap bisa mempertahankan eksistensi mereka, seperti rahasia jitu yang digelar di sebuah dialognya. ‘Don’t fuck with the original.’, And when you’re not, you know it’ll worked as well! (dan)
Dibanding negara lain, bahkan Singapura dan Malaysia sekalipun, perfilman Indonesia adalah perfilman yang kurang menghargai dedikasi para pendukung serta krunya. Tak heran guliran end credits-nya hanya memerlukan 1-2 menit saja tanpa mengikutsertakan semua nama yang terlibat dalam produksinya. Penghematan? Ah, entahlah dengan petugas transportasi, pemegang kunci sampai catering, tapi kala cast nya saja tak pernah dipublikasikan dengan lengkap, apa sedikitpun pernah terbayang di benak produsernya betapa si pemeran penting yang walaupun bukan ensembel utama tadi jadi tak kunjung dikenal orang lain? Sementara, mungkin, paras cantik yang tampil tanpa peran penting malah sibuk diwawancara media. Well, this is Indonesia. Whether you like it or not. Dimana sebuah penghargaan bisa jadi hal yang sangat berharga karena jarang-jarang kita dapatkan.
And so, di produksi ketiganya, Creative Motion Pictures yang digagas seorang Asun Mawardi, sineas jebolan New York Film Academy, US, had made their marks at last. Dari film ini, namanya mulai banyak dibicarakan. Padahal sebelumnya, siapa sih yang pernah mendengar ‘Black Magic’? Film horor bercitarasa (maunya) internasional yang hadir di masa-masa awal kebangkitan film Indonesia dan sekarang VCD nya susah didapat, serta ‘Untukmu’, highschool love drama yang dibintangi Okan Kornelius – Asty Ananta yang juga hanya numpang lewat itu? Begitupun, saya tetap mengatakan ada yang salah dengan divisi marketing mereka. Selain poster yang dirancang seadanya saja, kalau tak mau menyebutnya asal-asalan, promosinya juga sama seperti ‘Black Magic’ dan ‘Untukmu’, yang notabene bukan film sampah. Tapi promosi itu teramat sangat minim, untuk ukuran ambisi, dan mungkin, hasil yang cukup layak ini.
Krunya yang lintas bangsa juga tak main-main. Di skenario, ada Matthew Ryan Fischer yang menulis ‘King Of Fighters’ tahun lalu. Meski hasil secara filmisnya parah, kelasnya harus diakui, internasional. Di departemen musik, ada Nathan Wang, juga komposer internasional yang pernah bekerja di film-film Jackie Chan seperti ‘Rumble In The Bronx’, ‘First Strike’ dan ‘Who Am I’. Lagi? Di Director of Photography, ada nama Ardy Lam yang dari Hongkong (Once Upon A Time In China V, Supercop 2) lantas hijrah ke sinema Singapura (Just Follow Law, I Not Stupid, dll). And above all, bintang utamanya adalah bintang impor bertaraf internasional, aktor kelahiran HK Robin Shou yang memulai karir dari film-film action HK sebelum go international. Satu dari perannya yang paling diingat, jelas sebagai Liu Kang dalam dua film ‘Mortal Kombat’. Robin disini disandingkan dengan I Made Verdy Bhawanta, bakat lokal dari Bali yang sudah terkenal kepiawaiannya dalam bidang seni bela diri capoeira dan parkour, serta Marcio Fernando Da Silva, model ibukota asal Brazil yang sudah sering muncul di iklan dan majalah, dan juga punya kemampuan sport choreography. Semua tak sekedar pasang nama, tapi didasari potensi. Sayang sekali, dengan segala potensi dibalik niat dan ambisi itu, Pirate Brothers tak mendapat treatment promosi yang bahkan tak sampai setengahnya dari ‘Merantau’ yang kini dikenal sebagai pionir film aksi Indonesia ke negara-negara luar. Coba saja googling segala informasinya. Minim. Too bad, Mr Asun. Too bad. You better start hiring some good publicists for your upcoming movie. Now let’s go to the premise.
Verdy, anak yatim piatu yang hidup di sebuah panti asuhan tanpa ingat latar belakang keluarganya, berikrar menjadi saudara dengan Sunny, penghuni tempat itu juga, yang selalu menjaganya. Sunny memang menyimpan sebuah trauma dari kehidupan keras yang merenggut kakak angkatnya di tangan sekelompok gang tato di daerah pelabuhan tempat ia hidup dulu. Namun dua saudara angkat ini terpaksa berpisah ketika sebuah keluarga kaya datang untuk mengadopsi Sunny. Dengan tegas Sunny menolak dan merekomendasikan Verdy agar hidup lebih layak, di luar sepengetahuan Verdy. 20 tahun kemudian, Verdy dewasa (IMD Verdy Bhawanta) yang sudah mewarisi perusahaan orangtua angkatnya, masih terus mencari keberadaan Sunny. Liburannya bersama sang kekasih , Melanie (Karina Nadila) di sebuah kapal pesiar mendadak dirusak oleh sekelompok perompak/bajak laut yang menyandera Melanie. Disinilah Verdy bertemu lagi dengan Sunny (Robin Shou) yang ternyata salah satu dari perompak itu. Sunny ternyata tetap berusaha melindungi Verdy, namun Verdy juga tak lantas begitu saja mempercayainya demi menyelamatkan Melanie hidup-hidup. Sejumlah rahasia pun terkuak. Dari masa lalu dan jati diri mereka, sampai rahasia perusahaan orangtua angkat yang selama ini sudah dianggap Verdy sebagai bagian dari hidupnya sendiri.
Yes, Pirate Brothers, pada dasarnya memang adalah sebuah sajian penuh aksi yang tak menempatkan plot dan tetek-bengek filmis lain sebagai poin jualannya. Jadi tak perlu terlalu meributkan plot klise yang sudah muncul di ribuan film sejenis meskipun sedikit adegan pembuka yang berpanjang-panjang namun set jadulnya tergarap cukup baik itu dibesut dengan penekanan penting untuk pengenalan karakternya. Begitu pula dengan dialog yang penuh bahasa buku, yang diucapkan dengan intonasi dan ekspresi yang kaku oleh para pemerannya. Like other translated script, itu biasa di film dan tata bahasa kita yang gap slang/bahasa sehari-harinya terlalu jauh dengan bahasa resminya. Meski kerap terasa lumayan mengganggu, tapi dalam pakem film action agaknya bisa lebih dimaklumi, dan skor Nathan Wang yang sama klisenya ala melodrama Asia beruntung bisa sedikit membangun emosi yang tak tercapai dengan kekakuan akting tadi. But wait. When it comes to fighting sequence, dengan koreografi dan shot serta angle kamera yang bisa menangkap kecantikan gerakannya dengan cukup handal, meski belum serapi Merantau, Pirate Brothers sama sekali tak tampil kaku. Adegan baku hantam ini secara frekuentif justru tampil jauh lebih padat, nyaris tanpa jeda, intensitasnya meningkat meski koreografi sama kerap diulang-ulang, dan begitu pula dengan chemistry Robin dan Verdy. Semakin meningkat ke bagian-bagian akhir. Figuran-figuran pelengkap penderitanya juga layak mendapat pujian dengan reaksi yang cukup realistis, tak dibuat-buat dan mengaduh-aduh dulu seperti film aksi kacrut kita pada umumnya. As for Karina Nadila yang kecantikan parasnya diekspos cukup luarbiasa, harus dimengerti cuma berakhir sebagai pajangan yang tak bakal jadi terlalu penting seperti perannya dalam plot keseluruhan, dan Marcel yang hanya perlu memasang tampang bajingannya, kecuali tentunya, ia juga cukup handal dalam adegan aksi.
Hanya ada satu part yang paling dan paling mengganggu. Saya tak tahu apakah pria paruh baya yang saya tak mendapatkan informasi tentang namanya namun sering juga muncul di beberapa film sebagai peran sampingan, yang berperan sebagai mitra bisnis biang kerok kerusuhan disini, punya hubungan apa dengan Asun sampai bisa-bisanya terpilih. Tapi ia tampil dengan akting begitu memuakkan bak sebuah sinetron, tanpa konsistensi jelas, lengkap dengan ekspresi otot muka yang digerakkan secara maksimal, dan intonasi dialog yang sama teatrikalnya. Semua kekurangan tadi pupus seketika dengan kemunculannya yang menawarkan kekurangan secara jauh lebih fatal. But however, sajian aksi yang tergarap dengan baik tadi tetap merupakan petulangan sinematis yang baru dalam sinema kita, and let’s all cheer for that. Itu sudah cukup bagi Pirate Brothers untuk mendapat apresiasi lebih, andai saja Asun bisa sedikit lebih berjuang menghargai sepak terjang seluruh pendukung dan krunya yang tak sekedar main-main, dengan promosi yang sedikit lebih layak. (dan)
Di tengah pro dan kontra dihentikannya film impor studio besar kesini, seorang Deddy Mizwar pernah menyampaikan opininya tentang itu, dimana kita tak butuh film impor dan ada banyak film alternatif yang bisa menjadi pilihan. Sebagai salah satu tokoh senior yang banyak dijadikan patokan, mungkin Deddy terlalu bangga dengan harga diri bangsa ini. Namun kiprahnya belakangan, justru menunjukkan bahwa ia adalah salah satu sineas yang suka tampil vokal dalam karya-karya bernada sindiran terhadap carut-marut negeri ini. Okelah, mungkin Deddy tak terlibat dalam penulisan skenario ’Kentut’, begitu juga ’Bebek Belur’ dimana dirinya tampil sekelebat dan tak kalah vokal, namun kiprahnya bersama Musfar Yasin dalam ’Ketika’ dan ’(Alangkah Lucunya) Negeri Ini’ sudah menunjukkan itu. Dibalik nafas ulama yang kuat di setiap penampilannya, bagi saya ini adalah suatu kontradiksi. Bagaimana Deddy bisa menyindir dan menertawakan kehidupan (ah, saya segan juga menyebutnya begitu) bangsa ini begitu keras namun sekaligus menjunjung harga diri bangsanya sedemikian tinggi? You decide for yourself. Tapi bagi saya, kualitas keaktoran Deddy Mizwar yang luarbiasa itu jauh lebih asyik disaksikan seperti dalam iklan salah satu produk sosis kemasan, Ramadhan atau Nagabonar. Lepas, bebas, dan jauh dari kemunafikan dibalik gelar H di depan namanya.
Anyway, film berjudul singkat sekaligus kurangajar karena padanan kata yang dipilih buat ’buang angin’ yang terdengar jauh lebih sopan itu, rasanya jadi proyek yang personal sekali dari seorang Aria Kusumadewa. Ini tak seperti ’Identitas’, dan jauh dari ’Beth’ atau ’Novel Tanpa Huruf R’ yang surealis dan penuh simbol. Simbol Aria disini dituangkannya melalui satir yang kerasnya tak kepalang lewat dialog-dialog dan bangunan karakternya, dan apapun itu caranya, selalu terasa menarik menyaksikan sebuah protes yang bernada jenaka ketimbang anarkis, walau sering berarti menertawakan diri sendiri. ’Kentut’ pun hadir sebagai sebuah metafora gambaran kontradiktif terhadap kemunafikan yang seharusnya bisa disadari sebagai anugerah pemberian Tuhan, tapi nyatanya sering dipandang tabu. Kira-kira begitu.
Persaingan calon Bupati dalam pilkada di Kabupaten Kuncup Mekar sejak awal sudah berlangsung panas. Dari dua calon yang muncul ke depan, Patiwa (Keke Suryo), yang menawarkan kesejahteraan bagi pertanian secara lurus, sementara Jasmera (Deddy Mizwar), secara kontras justru ingin melegalkan judi dan pelacuran demi melawan kemunafikan. Dengan warna seragam merah mencolok dan menggaet bintang dangdut seksi Delarosa (Iis Dahlia), Jasmera berkampanye tak kalah nyeleneh. Saat Patiwa tertembak, masalah pun merebak. Pasalnya, tim sukses Patiwa yang dipimpin seorang perempuan cerdas bernama Irma (Ira Wibowo) terus berusaha agar keadaan tak sampai ditunggangi oleh Jasmera di putaran kedua karena Patiwa tak kunjung kentut setelah tindakan operasinya. Rumahsakit tempat Patiwa dirawat, dengan pimpinannya dr. Ferry (Cok Simbara) pun menjadi kacau balau saat sekelompok umat beragama dari beragam kalangan datang bersama untuk mendoakan, tapi sekaligus mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saat semua kepentingan berubah menjadi ajang politik, hanya ada satu solusi. Kentut.
Plot simpel dalam penggambaran metafora yang luarbiasa mengena itu sebenarnya sejak awal sudah dimulai dengan sangat baik oleh Aria. Kelucuan demi kelucuan yang digelarnya dari dialog, penggambaran karakter sampai kostum-kostum yang dipilih juga terbangun cukup rapi, seolah ini jadi wadah tak berbatas tempat Aria menyampaikan unek-uneknya, kalau perlu sambil memaki keras sekali pun.Namun saat eksplorasinya berkembang lagi lebih jauh hingga ke isu-isu kesehatan, arogansi anak-anak bangsa ini, kontradiksi kaum kecil tanpa seragam dengan kaum kecil berseragam hingga borok lain termasuk ulah manusia yang mencari keuntungan atas nama agama, penyampaiannya terasa sedikit overloaded dan memblurkan metafora tadi. Untung tak sampai ada anak-anak jalanan lagi. Namun mungkin ini adalah pilihan Aria untuk tak membiarkan penontonnya memihak secara hitam putih, dimana di tengah kekacau-balauan yang tak kalah dengan negeri yang sedang dilanda perang itu, terkadang sebuah opini bisa tampil sangat beragam. Informasi medisnya mungkin hadir sedikit nyeleneh, tapi sah saja dalam tendensi sebenar-benarnya. Soal akting, ada banyak aktor senior disini yang tampil sesuai porsinya, juga para pendukung yang rata-rata tampil baik, termasuk Cok Simbara dan Hengky Tarnando yang sudah jarang-jarang kelihatan di layar lebar. Dan itu juga yang lantas mendorong eksekusi penyelesaiannya dibuat seperti itu, agar semakin menegaskan, bahwa ini adalah sebuah satir. Protes terhadap masalah yang belum tentu berabad-abad lagi bisa terselesaikan dari sebuah negara bernama Indonesia. Dan Aria tengah mengajak kita semua untuk larut di dalamnya dengan tawa. Menertawakan diri, oops, sorry, bangsa sendiri, maksudnya, di saat-saat seperti ini, itu jauh lebih bagus daripada merepet kesana-kemari tanpa arah jelas. (dan)
Saya jadi teringat ke sebuah diskusi dengan seorang senior yang sudah sangat berpengalaman dalam industri film kita. Tentang penggunaan kamera handheld untuk menyampaikan suatu style dalam membuat film. Salah satu yang masuk ke dalam obrolan itu adalah Rudi Soedjarwo. Singkatnya, gaya yang sekarang berkembang jadi trend di banyak film mulai dari luar sampai nasional, tak sepenuhnya bisa diterima oleh para senior tadi. Ada banyak alasan mulai dari kenyamanan penonton sampai kriteria teknis konvensional lainnya, walaupun argumen untuk menyukainya juga cukup banyak, mulai dari penyampaian cerita, intensitas konflik dan masih banyak lagi.
Tapi terus terang, bukan itu yang membuat saya mengagumi Rudi sejak AADC dan sebaris film berikutnya, lepas dari beberapa film horornya yang sebenarnya juga bukan jelek. Pertama, adalah kritik sosial dan pesan moralnya. Seperti seorang Sjumandjaja, Rudi jarang sekali berpijak pada pola tipikal pandangan sosial rata-rata film kita, walaupun karakter-karakternya banyak dibangun dari sana. Dimana si miskin selalu jadi korban si kaya yang selalu mengeksploitasi seenaknya, dan pembenaran-pembenaran sejenis. Sebaliknya, dalam banyak filmnya, yang selalu ditampilkan adalah borok-borok yang bersarang membatasi kemajuan mereka sendiri, dan sebagian besar adalah kenyataan yang harus dibenahi ketimbang terus menyalahkan orang lain. Kedua, ada koridor lain dalam karya-karyanya, yang tak pernah membuat kita jengah terhadap penggunaan bahasa buku ala film Indonesia yang kerap terdengar tak wajar. Dalam AADC, misalnya, Rudi menyiasatinya dengan poetic felt yang dikembangkan begitu kuat dari skenarionya, dan disini, ada kewajaran yang memang bisa terdengar seperti itu ketika dua pihak dari latar belakang berbeda mencoba berinteraksi. Tak hanya di bahasa, tapi juga pada bangunan karakternya. Ketiga, ini yang paling saya suka. Di film-filmnya yang kerap melibatkan cukup banyak figuran dari karakter-karakter lapisan bawah masyarakat kita tadi, Rudi hampir selalu sukses menghandle-nya dengan sempurna. Bahkan yang hanya numpang lewat pun, istilahnya, bisa berakting dengan wajar dengan detil-detil yang terjaga. Now let’s go to the main sets.
‘Batas’, yang skenarionya diracik oleh seorang Slamet Rahardjo Djarot bersama Lintang Sugiarto, jauh lebih dalam lagi membahas sebuah filosofi penuh metafora yang dibangun dari sebuah kenyataan di perbatasan negara kita dengan negara tetangga, yang hampir selalu dipenuhi ribut-ribut kecil padahal masih serumpun itu. Entikong, sebuah kecamatan di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Serawak, hanya dengan beberapa pancang pendek di tengah hutan, memang tergolong unik. Unik karena meski dijaga oleh polisi-polisi pos perbatasan, masyarakatnya hampir tak pernah perduli karena masih menganggap latar belakang serumpun, namun ini yang paling penting. Ada pandangan dan kebutuhan lain atas jarak yang begitu jauh untuk mendapatkan kebutuhan dari produk bangsa sendiri, sementara jarak dekat itu membuat aliran ekonomi dan kebutuhan tadi sering dipasok dari negara tetangga.
Dibalik perbatasan tetangga, meski mungkin tak sepenuhnya benar, rakyat kita melihat sebuah Utopia yang jauh berbeda dengan daerah di belakangnya. Status mereka pun terhenti di sebuah daerah terpencil penuh ketertutupan termasuk dalam pendidikan, dan hampir selalu mentok di konflik kepentingan oranglain, termasuk pemerintah sendiri. So these are critics. A protest. Namun disampaikan dalam sebuah misi informatif yang sangat, sangat, jelas punya tujuan bijak tentang pendidikan anak-anak dan kemajuan masyarakat disana. Film kita jarang sekali bisa memaparkan sesuatu pengetahuan populer yang mungkin terlewatkan oleh kita, dengan kadar informasi tinggi. Dulu ada Lari Dari Blora, Laskar Pelangi, dan kalaupun ada, segelintir lainnya. Ini juga salah satunya. Sebuah usaha buat membuka mata, dan itu bagus!
Metafora terhadap perbatasan itu dituangkan pada karakter-karakter disini. Jaleswari (Marcella Zalianty), yang diserahi tugas dari LSM tempatnya bekerja untuk menelusuri program pendidikan yang selalu bermasalah disana. Didorong oleh sebuah masalah traumatis, ia menerima tugas itu, dan kemudian jadi terombang-ambing begitu menemukan kenyataan miris pada pola pikir masyarakat disana, terutama oleh Otig (Otig Pakis) yang kerap mengancam Adeus (Marcell Domits), sarjana keguruan yang bertugas sebagai kontak Jaleswari. Sementara kepala suku panglima Adayak (Piet Pagau;untuk kesekian kalinya jadi tetua suku pedalaman Kalimantan) menyuruhnya tinggal di rumah sang istri, Nawara (Jajang C.Noer), yang tengah merawat seorang gadis korban perkosaan, Ubuh (Ardina Rasti) yang dilanda stress berat. Lantas ada pula Arif (Arifin Putra), polisi penjaga pos perbatasan yang menyimpan rasa pada Jaleswari, dan tentunya, bocah Borneo (Alifyandra), cucu Adayak-Nawara yang menyimpan keinginan besar untuk bisa bersekolah. Semua karakter ini memiliki masa lalu, keinginan dan motivasi yang tertuang dalam subplot berlapis untuk mendobrak batas dalam diri mereka. Seperti perbatasan itu sendiri, yang kadang bisa menghalangi sebuah niat baik demi penghidupan yang layak.
Usaha untuk menyematkan banyak metafora dalam bangunan filosofi tentang sebuah ‘batas’ itu mungkin sedikit banyak membuat beberapa bagian penceritaannya menjadi blur, dan di sisi lainnya, justru berjalan kelewat lamban. Berulang-ulang demi sebuah penekanan yang informatif. Semuanya benar. Seperti review yang saya bicarakan berpanjang-panjang untuk penekanan itu, Tapi perjalanan plotnya toh memang dieksekusi secara linear dalam wilayah konvensional tanpa harus berpola puzzling ala trend yang ada sekarang. Jadi yang akhirnya tertinggal untuk mencuat ke depan memang yang paling menarik juga secara konvensional bagi penonton ; sebuah konflik antara dua kelompok yang ada.
Begitupun, fokus yang terasa terlalu mengedepankan itu, bukan lantas merusak tendensinya untuk berbicara lantang soal pendidikan, kehidupan, pola pikir masyarakat dan borok-borok lain yang ada disana. Apapun itu, Rudi sudah mengemasnya dalam koridornya yang biasa, sekalipun dengan kamera handheld yang tak disepakati sebagian orang tadi. Malah, sinematografi garapan Edi Michael berhasil menampilkan visualisasi yang indah dibalik filosofi pahitnya. Akting para pendukung dari senior sampai debut junior juga terhandle dengan baik kecuali, err.. Ardina Rasti yang dipuji-puji banyak kritikus namun terlihat kerap tampil dengan eskpresi ‘copy paste’ di tiap kemunculannya disini.
Dan menuju bagian-bagian akhir, ya, saya agaknya lupa menyebutkan alasan keempat diatas. Meski dengan dialog dan detil gambar yang (lagi-lagi) terasa berulang-ulang, namun dengan penempatan score yang pas (and so with the Iwan Fals’ themesong, Batas Tak Berbatas), Rudi memang handal membungkus finalenya dengan feel yang cukup menyentuh. Entahlah buat yang merasa film ini terlalu banyak kekurangannya, namun semua unsur utama yang kuat tadi, informatif plus sebuah niat baik yang sampai dengan baik pula, ini sudah cukup buat dikategorikan sebagai film bagus. Dan harusnya kita tak perlu punya batas untuk itu.
Apa sih ‘unyu’? Ada pengertian umum bahwa bahasa gaul yang banyak digunakan di jejaring sosial sekarang ini merupakan suatu frase yang mencerminkan suatu ekspresi menggemaskan, imut abis, lucu banget, atau apalah. Ada yang mengidentikkannya dengan para alay. Ada yang bilang itu gerakan mulut abege-abege sekarang kalau lagi beraksi di depan kamera. Memonyongkan bibir, kalau bersuara, bakal keluar kata itu. Ada juga yang bilang, maaf, anjing, yang lantas banyak dimaki-maki kembali oleh yang sering menggunakannya. Ah, terserahlah. Kalau saya rasanya lebih setuju buat menginterpretasikannya sebagai sekedar bahasa gaul bagi abege-abege terhadap ekspresi yang bisa berbeda-beda. Bisa gemas, bisa mengejek, tapi bukan ‘anjing’ ya. Ya terserah saja. Bagi saya, film ini Purple Love ini begitu juga. Unyu. Terserah mengartikannya :).
Ok, sama seperti Wali di ‘Baik-Baik Sayang’ tempo hari, sejak Ungu sering jatuh ke nada-nada dan cengkok band-band Melayu di lagu mereka (tentu tak termasuk ‘Saat Bahagia’, duet mereka bersama Andien yang jadi pengiring penting disini), I’m not their fans nor lover. Tapi kita harus mengakui juga, dalam kaitan bisnis, tentu tak ada salahnya mengangkat grup band atau penyanyi terkenal selangkah lebih maju ke layar lebar. Meski rata-rata resepnya klise sekalipun, mau mereka berperan sebagai anak band atau diplesetkan ke entertainer bidang lain, sama saja. Rhoma Irama dan Soneta pun dari dulu begitu. Di luar dakwah, rata-rata film-film tadi dibuat memang untuk senang-senang saja. Kisah cinta sebagai bumbunya? Oh itu wajib dan hampir selalu ada. Musiknya, ya lagu-lagu mereka. Komplit sebagai pop culture yang pasti jadi dayatarik buat penggemarnya. Dan percayalah, sekali dua kali atau bahkan lebih banyak tampil di videoklip, pasti tak susah lagi mengarahkan mereka dalam dunia akting. Apalagi chemistry masing-masing personilnya, pasti sudah terbangun dengan baik dengan sendirinya. Grogi-grogi sedikit, itu biasa. Namanya juga debut.
Pasha yang bergerak di bidang advertising agency bersama empat sahabatnya, Makki, Onci, Rowman dan Enda, tengah dirundung kegalauan karena di hari spesialnya melamar sang kekasih, Lisa (Qory Sandioriva), Pasha justru diputuskan demi seorang lelaki lain. Demi persahabatan mereka, Makki dkk. merancang sebuah rencana untuk menghibur Pasha. Sebuah agensi pengobat patah hati bernama Purple Hearts yang dijalankan Talita (Nirina Zubir) pun masuk ke dalam kehidupan mereka. Dengan segala cara, Talita berusaha mengembalikan keceriaan Pasha hingga berniat menjodohkannya dengan klien lain, Shelly (Kirana Larasati). But the cupid acts different. Shelly malah salah sasaran ke Onci, dan Pasha-Talita yang sebenarnya saling menaruh hati terpaksa berhadapan dengan sebuah kenyataan lain yang menyimpan rahasia terhadap penyakit yang diderita Talita sejak lama. Belum lagi Lisa yang ternyata mau melakukan apa pun untuk kembali ke Pasha.
Yup, it’s all cliche, tapi juga sulit menampik nuansa keceriaan yang mengalir dari kombinasi jualan penuh hiburan ini. Tak hanya para personil Ungu yang awalnya masih canggung namun bergerak semakin lepas sejalan masa putarnya, karakter Nirina sebagai Talita juga bisa membangun chemistrynya dengan lekat ke mereka semua terutama part-part romantisnya dengan Pasha. Satu hal lagi, part Onci dan Kirana Larasati yang bermain begitu luwes serta komikal, juga jadi highlight yang sangat menyenangkan. But wait. Ini sudah jadi pola yang jarang bisa terhindarkan di banyak film-film kita. Saat penulis sudah seakan kehilangan ide membangun konfliknya dalam skenario, film kita sering sekali jatuh ke ‘unlikely’-‘unlikely’ biasanya, dan satu yang merusak bangunan baik yang sudah berjalan dari awal itu kali ini adalah turnover dramatis yang jadi terlihat dipaksakan.
Cassandra Massardi, yang sebenarnya sudah sering berkiprah sebagai scriptwriter namun tak punya catatan yang benar-benar wah , begitupun sang sutradara Guntur Soeharjanto yang sejak awal karir layar lebarnya lebih dikenal lewat film-film komedi ngocolnya, kemudian memilih memelintir filmnya ke dalam pesan moral yang melankolis tentang pengorbanan, sampai-sampai harus melibatkan anak-anak kurang mampu pengidap penyakit-penyakit serius di sebuah rumahsakit amal. Seakan belum cukup, Cassandra justru melangkah lebih jauh lagi agar terlihat bombastis dengan tipe penyakit yang dipilihnya, namun jadi salah kaprah dalam penyampaian dan penggambarannya hingga terlihat konyol (Miss Cassandra and the assistants, please be aware bahwa googling saja tak cukup baik untuk menggambarkan suatu hal yang bukan bidang Anda dengan terjemahan lepas nonmedis ‘Kanker Jantung’ yang terlepas dengan bodohnya dari mulut si dokter disini, belum lagi gambaran penderitanya yang enak-enakan bersepeda dan bergalau-galau ditimpa stress kesana kemari).
Dari bagian-bagian ini, ‘Purple Love’ yang terasa dipanjang-panjangkan pun semakin kedodoran menuju konflik akhirnya dengan kehadiran Lisa yang tak juga di-handle secara wajar. Dramatisasi dan sedikit bumbu bombastis yang seringkali worked as well di film-film Asia memang sah-sah saja tapi berjalan di jalur yang benar, itu jauh lebih penting lagi. Sayang sekali, though however, Saya yakin seyakin-yakinnya kalau yang namanya fans Ungu tak akan keberatan dengan semua ini, dan tetap bakal menikmati sambil ber-‘unyu-unyu’ dengan idolanya yang tampil tak kalah ‘unyu’ itu. After all, mari kembali ke tujuan semula, bahwa menggabungkan pemusik terkenal dengan visual layar lebar, toh tujuannya hanya buat senang-senang saja. And in that case, sasaran sebuah hiburan seperti ini tak pernah salah juga kan? Ya, ya, mudah-mudahan saja begitu. (dan)
No, it’s not the ‘source code’ as in programming terms. Source Code disini adalah sebuah proyek yang dirancang untuk mencegah kekacauan di masa depan, berdasar visi mekanika kuantum untuk menemukan targetnya. Now let’s talk about movies based on these unique theories. Quantum Physics, Quantum Mechanics, Linear Algebra, Parabolic Calculus, atau apapun itu, yang pengimplementasiannya beragam mulai dari gambaran multidimensional, alternate universe, butterfly effect hingga time travel, adalah basis yang sangat menarik untuk sebuah sci-fi dalam berbagai subgenre. Ada banyak celah fantasi serta emosi yang bisa digali dari sini. Mulai dari Groundhog Day yang bergenre romcom, Frequency sebagai sci-fi thriller yang sangat pop, Butterfly Effect yang sedikit berhorror-horror, trilogi Back To The Future yang legendaris hingga A Sound Of Thunder yang ambisius tapi kurang bujet itu sekalipun, semuanya menyajikan kombinasi yang serbamenarik, baik dari visual efek maupun penelusuran plot yang unik. Dan tak jarang, hampir selalu ada satu sisi menyentuh dalam kaitan komunikatif sebuah karya sinematis dimana penonton yang menempatkan diri mereka pada karakter utama memicu suatu pengharapan atas kegagalan dalam memori mereka.
And so, seorang Duncan Jones, known as the only son of famous singer, David Bowie, yang sukses membesut sebuah sci-fi kecil dengan kejeniusan tinggi sehingga menjadi film segmental yang dipenuhi fanatisme penggemar sci-fi, ‘Moon’, cerdik sekali membaca ini. Film keduanya, Source Code, dari skenario besutan Ben Ripley yang baru punya catatan karir di dua sekuel straight-to-vidz ‘Species’ dan Billy Ray dari ‘Shattered Glass’ dan ‘Breach’ (uncredited), sudah mengumpulkan resepsi kredit yang mengagumkan sejak peredarannya. Summer movie wars mungkin baru saja bergulir, tapi kita agaknya sudah punya kandidat ‘Inception’ tahun ini. Sebuah sci-fi mindbending penuh twist, yang tangguh di semua sisi sinematisnya.
Seorang pilot US Army, Kapten Colter Stevens (Jake Gyllenhall), seketika mendapati dirinya terbangun di sebuah keretaapi menuju Chicago dengan visi dejavu yang sangat kuat. Di depannya, duduk seorang wanita bernama Christina Warren (Michelle Monaghan) yang seolah kenal dekat dan memanggilnya dengan nama Sean Fentress dengan profesi guru. Stevens yang kebingungan mendapati identitas ID nya bernama Fentress dan penglihatan berbeda di kaca lantas mulai menelusuri misteri ini hingga sebuah ledakan mengantarkannya ke ruang simulasi terisolasi dibawah komando Kapten Goodwin (Vera Farmiga) dari US Air Force bersama seorang ilmuwan, Dr. Rutledge (Jeffrey Wright). Dari sini, Stevens kemudian menemukan kenyataan mengerikan yang terus mengembalikannya ke peristiwa 8 menit sebelum ledakan itu, dan berusaha keluar hidup-hidup adalah satu-satunya pilihan sambil pelan-pelan menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidupnya.
Sejak awal, Jones sudah mengeksekusi plot penuh twist ini dengan benar-benar rapat dan membawa penontonnya ke rasa keingintahuan penuh mengikuti tiap adegan yang digelarnya. Ketegangan yang terbangun secara intens dengan sendirinya pun dipenuhi dialog-dialog yang dengan rapi menyimpan dan membuka satu-persatu twist demi twistnya. Tanpa perlu menggeber visual efek berlebihan, Jones sudah mampu menampilkan nafas sci-fi yang luarbiasa kuat dari puzzling plot tadi, dan seperti ‘Moon’ juga, keunggulan khasnya terlihat semakin teruji disini. Dengan dua list film di karirnya, Jones sudah menunjukkan dirinya sebagai sineas yang sangat memperhatikan detil hingga ke selera personalnya, termasuk penggunaan lagu kesayangannya lagi-lagi disini, The One And Only-nya Chesney Hawkes yang bakal dikenal oleh pemirsa yang merasakan pop-culture di tahun 90an, namun tak lantas keluar jalur menjadi sajian yang segmental.
Jake Gyllenhall bermain intens sebagai Stevens, dengan chemistry yang juga sama baik dengan dua primadonanya, Monaghan dan Farmiga. Penampilan Jeffrey Wright, aktor berpotensi besar yang tak kebagian porsi kelewat banyak pun cukup mendukung bangunan twist tadi. Rasanya tak perlu lagi membahas kelewat banyak secara ‘Source Code’ memang ada di kotak genre film-film ‘the less you know, the more you enjoy’ yang akan membuat Anda terhenyak mengikuti adegan demi adegan dimana pikiran terus menerus digedor dengan twist berlapis hingga ke bagian paling akhir. Dan Anda lagi-lagi akan terkecoh kalau menyangka Jones akan menyimpulkan endingnya dengan sebuah pesan berharga yang begitu menyentuh dimensi kehidupan kita. Tak tahu nanti, tapi hingga dua debut fenomenalnya ini, Jones himself is a sci-fi, dan ia dengan setia terus bergerak lebih jauh menjajal otak kita dengan konsep itu. Source Code adalah sebuah very well-crafted sci-fi yang sangat wajib masuk ke dalam daftar tontonan Anda. Bukan hanya untuk melepas kerinduan ke bioskop karena penonton Indonesia sudah dua bulan tak disuguhi blockbuster impor yang kaya segalanya akibat kebodohan pemerintahnya, namun karena ini memang film bagus. Quantum physics ain’t never missed. The rest is how your brains create the equations, and then, BANG !! (dan)
Indonesia itu punya kekayaan alam luarbiasa. Ah, kita sudah sering mendengar itu, tapi sedikit sekali rasanya yang bisa menarik perhatian kita dalam kaitan wisatanya. So, ketika sebuah karya bernama film bisa memaparkan hidden treasure itu dengan sinematografi ala Discovery Channel, atau katakanlah, dokumenter-dokumenter cantik pemenang Eagle Awards dan sejenisnya, kita perlu perhatian lebih ke arah itu. Datang dari riset mendalam yang dilakukan seorang suksesor berbakat dari Garin Nugroho bernama Kamila Andini, yang notabene putri sulungnya sendiri, The Mirror Never Lies adalah sebuah ensiklopedia singkat tentang Wakatobi, kabupaten di Sulawesi Tenggara yang menyimpan segudang keanekaragaman hayati laut dibalik Taman Nasional dan prioritas konservatif sebesar satu sekian juta hektar itu. Suku terbesar disana, yang dinamakan suku bajo, pun punya keunikan mendalam dari akar budaya melayu yang kuat. Pantun seakan mengalir seperti air dari mulut mereka, dengan langgam melayu yang sama rancaknya, itu adalah sebuah realita. Jadi siap-siaplah. Ketika Kamila membesut film ini bersama seorang Ipung Rachmat Syaiful, sinematografer yang punya catatan karir di film-film Joko Anwar, dengan dukungan penuh Sony yang menghadirkan tiga kamera high definition-nya untuk merekam keindahan lanskap sebuah surga bernama Wakatobi, I’d assure you one more time. Ini adalah surga bagi visual Anda.
Premisnya simpel. Diangkat dari pola kehidupan suku Bajo yang memang hidup dari melaut, banyak istri yang ditinggal hilang suami mereka di tengah laut. Itulah yang terjadi pada Tayung (Atiqah Hasiholan), yang memendam kepedihan mendalam hingga kerap menanamkan pada putri satu-satunya, Pakis (Gita Novalista), untuk tak lagi mengingat-ingat sang ayah. Ia selalu memakai bedak putih yang menjadi tradisi atas penyangkalannya. Namun Pakis, punya pengharapan sendiri. Tiap hari ia menunggu kepulangan ayahnya, berbekal sebuah cermin peninggalan yang dibawanya kemana-mana. Bersama sahabatnya, Lumo (Eko), Pakis terus menelusuri eksistensi ayahnya di tengah luasnya laut Wakatobi. Sampai seorang peneliti lumba-lumba, Tudo (Reza Rahadian) kemudian masuk ke kehidupan mereka, konflik Tayung dan Pakis pun semakin meruncing.
Seperti Jermal yang juga bermain-main di kehidupan laut namun tampil sepahit air hitamnya, The Mirror Never Lies membangun filsuf lebih dalam lewat sebuah keindahan visual. Laut yang luarbiasa biru, jernih, dijadikannya senjata untuk membangun sebuah premis penuh pengharapan namun disampaikan dengan pahit. Sebuah sinematografi top notch yang mungkin lebih hebat dari dokumenter-dokumenter wisata pemenang festival. Oke, saya tak akan menampik bahwa sesekali, bahkan lebih, Kamila tampak blur memfokuskan arah kombinasi ini, antara keinginan menggambarkan suku Bajo secara detil termasuk dialek hingga adapt setempatnya, keindahan lanskap laut Wakatobi, dengan pendalaman karakternya. Masa putar panjang itu sebenarnya bisa saja jauh dipersingkat atas cukup banyaknya scene-scene yang tak sepenuhnya memperkuat plot yang disampaikan, mengingat bangunan beberapa konflik yang berpotensi dieksplorasi lebih juga lewat begitu saja, mungkin demi menghindari klise-klise ala film kita untuk terus-terusan berulang. Dan saya jadi sedikit jengah lagi-lagi melihat film seindah dan sekuat ini harus kembali dikacaukan oleh tampilan ‘intip-mengintip’ ala film Indonesia yang kurang relevan dengan penyampaian keseluruhannya. Seperti Jermal yang harus sekali melatarkan ditinggal selingkuh dalam background tokoh utamanya. No wonder, sang ayah, maestro bernama Garin Nugroho memang duduk sebagai produsernya, dan menggambarkan sebuah erotisisme pikiran memang sudah kerap jadi spesialisasi yang diselipkan di film-filmnya yang remarkable sampai ke hati kritikus-kritikus internasional. Namun selain kekuatan sinematografi tadi, ada satu penyelamat lagi yang akhirnya membuat kita bisa betah mengikuti benang merah kisah serta pameran keindahan visualnya, dan kemudian menghilangkan kekurangan-kekurangan kecil tadi. Adalah akting yang sangat membumi dari seluruh pendukungnya, especially di ketiga pemeran sentral anak-anak yang semuanya asli penduduk Wakatobi; pemeran Pakis, Lumo serta Zainal sebagai Kutta yang gemar berpantun dan berlanggam melayu itu. Kepolosan dan kewajaran akting ketiga anak ini yang membuat kita bisa trenyuh hingga begitu tergelitik sampai tertawa keras, bahkan menenggelamkan akting Atiqah Hasiholan yang terlihat bersusah-payah menyelami dialek Bajo yang unik meski terkadang mengucapkannya kelewat hati-hati, serta Reza Rahadian dengan akting santainya yang sayangnya tak dieksplorasi lebih sebagai pemicu konflik. Anyway, satu yang terpenting dari The Mirror Never Lies memang ada di keindahan sinematografinya, dan mari fokus kesana. Ini adalah sebuah film dengan nilai informatif luarbiasa kuatnya, yang memberi pengetahuan luas pada kita sebagai bagian dari keindahan alam sendiri, dan usaha untuk menyampaikan informasi dan misi pariwisata itu sudah seharusnya mendapat apresiasi lebih. Yang jelas, saya jadi tak sabar untuk merasakan sendiri mengayuh sampan nelayan diantara pancang-pancang rumah Bajo di tengah laut Wakatobi itu. Yup, The Mirror Never Lies, dan percayalah, hampir dua jam barusan Anda memang tengah menyaksikan sebuah cermin akan betapa indahnya alam di sekitar kita. They don’t lie, and never will. (dan)
Saya jadi teringat pada topik di sebuah forum yang sering terbaca atas retweet seorang teman di twitter. “Apa Alasan Utama Kamu Menonton Film Indonesia”? Kira-kira seperti itu. Saya yakin, pada kenyataan sebenarnya, paling tidak 79-89% penonton kita masih memilih bintang dan genrenya. Nah, kalo genre juaranya ada di horor plus bumbu buka-bukaan, bintang yang dipilih pastilah yang ‘eye-friendly’ atau ‘eye-catching’. Cantik-cantik dan ganteng-ganteng, sehingga ramah bagi kesehatan mata Anda. Tapi jangan salah, ‘cantik’ dan ‘ganteng’ ini juga bukan seperti modalnya film-film Nayato, tapi lebih ke popularitas yang sudah sering muncul di berbagai media, sinetron, sampai film. Cowok Bikin Pusing, yang akhirnya dipilih sebagai judul menggantikan titel aslinya, ‘Selingkuh’ untuk merilis film yang lama tertahan (tahun produksinya 2008) ini, meski tak cukup cocok buat plotnya sendiri (mungkin lebih pas ‘Cewek-Cewek Bikin Pusing’ karena karakter cowoknya kelihatan jauh lebih pusing disini, sementara ‘Selingkuh’ sudah pernah dipakai film esek-eseknya Reynaldi dan Febby Lawrence dulu) , punya modal kuat untuk itu. Ada Julie Estelle, Laudya Chintya Bella, Marissa Nasution, Nino Fernandez dan Marcell Chandrawinata. Aming? Ah, lain masalahnya. Dia lucu. Jadi itu modal juga.
Sekarang, dengan ramainya bakat-bakat terpendam di remaja-remaja kita (kalau tak percaya, tanya saja agen-agen casting), coba tarik dua untuk berdiri menunjukkan bakat akting mereka dengan bebas. Pasti yang keluar pertama adalah konflik antar pasangan sebagai dialognya. Bukan orang gila, orang stress dan sebagainya. Karena cinta, memang adalah tema paling universal. Jadi tak salah juga kalau seorang Sekar Ayu Asmara, yang meski lebih dikenal dari penelusuran psikologis yang kuat di karya-karyanya, berdiri sebagai penulis skrip komedi romantis ini. Toh sebelum memantapkan karirnya di film, Sekar kerap menulis lirik-lirik lovesong yang bagus di era 90an, zaman-zamannya Rita Effendy. Dalam tendensi mendasarnya sebagai hiburan, rom-com juga seperti popcorn yang sering sangat dibutuhkan penonton. So there’s nothing wrong with that. Mau dangkal atau tidak, tujuannya memang cukup satu. Menghibur. Jadi lengkaplah sudah modal yang dimiliki film ini, apalagi, set yang dipilih sebagai latarnya adalah Bali dengan semua keindahannya, meski bukan fokus kesana seperti ‘The Mirror Never Lies’. Ini seperti Only You-nya Helen Hunt, Kelly Preston dan Andrew McCarthy, kalau pernah menyaksikannya di tahun 90an dulu. Forgettable rom-com dengan atmosfir set wonderland yang cukup cantik, dan barisan dua pemeran wanita yang tak sekedar ‘cantik’ namun juga punya potensi akting yang baik. Julie dan Bella juga begitu, ain’t we all agree? Bersama Marissa, they’re like Alice’s’ in Wonderland.
Cecile (Julie Estelle) yang mengelola sebuah chocolate bakery di pulau Dewata bersama sahabat setianya, Tasha (Laudya Chintya Bella) dan Justin (Aming) seketika menjadi galau saat putus dari Marco (Marcell Chandrawinata), sang tunangan karena selingkuh. Maka Tasha pun merancang rencana untuk mengacaukan hidup Marco. Sementara Dino (Nino Fernandez), seorang surfer disana, juga dirundung masalah mirip karena baru saja memergoki kekasihnya Angela (Marissa Nasution) di ranjang bersama pria bule. Dua orang yang sama-sama diselingkuhi pasangannya ini akhirnya jadi dekat, namun selain harus menghadapi masa lalu masing-masing plus Angela yang masih terus mendekati Oka, masih ada Tasha yang overprotektif dengan persahabatannya pada Cecile.
Totally cliche plot itu sebenarnya tak pernah salah. Sah-sah saja. Seribu film bisa dibuat dengan plot macam ini namun tak pernah kita bisa menuduhnya bahkan terinspirasi sekali pun, seperti lawakan menabrak pintu atau terpeleset pisang. Semua adalah hal yang sangat, sangat lazim. Namun bagaimana mengemasnya menjadi tontonan yang enak, terutama dengan cerita yang runtut, itu adalah masalah penting. ‘Cowok Bikin Pusing’ ini sebenarnya sudah memulai semuanya dengan baik sebelum menjadi tak fokus dengan banyaknya bumbu-bumbu yang ingin diselipkan namun tak tertata dengan baik, termasuk subplot Aming dan Alex Abbad sebagai pasangan gay yang dieksplor cuma buat sekedar banyolan tempelan, atau minimnya dialog yang lebih menjelaskan karakter Tasha sebagai sidekick utama yang ditempel pula sebagai konflik yang akhirnya terlihat terburu-buru diselesaikan. Chemistry terpenting antara Nino dan Julie pun tak lagi jadi fokus penting. ‘Cowok Bikin Pusing’ akhirnya lebih terlihat sebagai FTV yang melaju terus tanpa juntrungan dengan pengadeganan yang melompat kesana kemari secara tak runtut. Tapi terus terang, beberapa shot yang menyajikan keindahan Bali dan latar beberapa lokasi setnya, plus modal utama barisan pendukungnya itu memang sulit untuk dihindari. Seperti puzzle yang salah susun namun tetap terlihat cantik, kira-kira. Ya, mungkin ini juga yang membuat MVP mengundur-undur jadwal rilisnya (this supposed to be Julie Estelle’s first big screen feature), karena secara keseluruhan, ‘Cowok Bikin Pusing’ tampil seperti barisan kue coklat yang kelihatan ‘wah’ namun rasanya hambar ketika disantap. Seperti display mannequin dengan interior yang elegan namun cukup hanya untuk menyenangkan mata. Tak lebih dari itu, dan setelahnya, lewat begitu saja. (dan)
Produksi : Ma’arif Production & Damien Dematra Production, 2011
Oke. Sebuah tema biopik, biografi dari seorang tokoh, tentulah harus memiliki daya tarik sebagai unsur terpentingnya. Setelah itu, adalah pesan moral edukatif dan inspiratif dibalik kisah hidup itu yang harus muncul ke depan. Hanung Bramantyo baru saja menyajikan ‘Sang Pencerah’ sebagai biopik pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, yang dikenal semua orang karena gelarnya sebagai Pahlawan Nasional yang dipelajari dalam sejarah, dan kini, ada tokoh lagi yang diangkat dari tendensi dakwah organisasi itu. Kisah dari seorang Ahmad Syafi’i Ma’arif, yang lebih dikenal dengan Buya Syafi’i. But wait. Disana, Syafi’i yang pernah duduk sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah 1998-2000 dan 2000-2005, dan digelari banyak sebutan mulai dari guru bangsa, sejarawan sampai pejuang pluralisme yang memang menjadi nafas Muhammadiyah dalam menebarkan nafas Islami-nya, mungkin punya arti sebesar gelarnya. Namun bagi masyarakat lain, belum tentu begitu. Ini adalah pertanyaan pertama yang muncul di benak banyak pemirsa sebelum mengikuti gelaran kisah yang diangkat dari otobiografinya, ‘Titik-Titik Kisar di Perjalananku’ (2006-2009). Namun baiklah. Seorang Damien Dematra, yang agaknya gemar sekali ke tema-tema biopik setelah kiprahnya di ‘Obama Anak Menteng’ tempo hari, mungkin menangkap suatu spirit inspiratif dari kisah hidup Syafi’i. Usahanya mengangkat biografi yang awalnya tak begitu disetujui oleh Syafi’i akhirnya berhasil setelah melewati sederet tahapan melalui Ma’arif Institute. Tak hanya menerbitkan juga novel biografi sebagai companion ke film yang direncanakan sebagai trilogi ini, Damien juga bekerja rangkap sebagai produser, penulis naskah, sutradara, director of photography, editor sampai komposer score dan lagu-lagunya. Oh, yeah. Seperti sebaris cerita dibalik lahirnya ‘Obama Anak Menteng’, Damien memang penuh ambisi. So let’s not be too skeptical terhadap pilihan itu. Paling tidak, pesan moral yang tertuang dalam biografi itu memang sangat inspiratif. Membuka mata kita yang belum pernah tahu siapa Buya Syafi’i dengan semangat ‘anak kampung’-nya mengejar pendidikan sampai ke negeri orang, paham pluralisme Muhammadiyah dan ranah Minang tempo doeloe hingga lahir sebagai salahsatu belahan Indonesia paling damai dimana semua suku disana bisa berbaur selayaknya penduduk setempat termasuk budaya dan dialeknya. Ya, ini semangat yang sangat menarik.
Syafi’i kecil yang dipanggil Pi’i (Radith Syam), hanyalah seorang anak kampung dari keluarga Ma’rifah Rauf (Lucky Moniaga) di Nagari Sumpur Kudus, Sumatera Barat, yang bersosialisasi dengan kehidupan disana sepeninggal sang ibu, Fathiyah (Virda Anggraini) di kala ia masih bayi. Sehari-hari ia bermain bersama tiga sahabatnya dan diasuh oleh paman dan bibinya. Namun dibalik kesederhanaan itu, ada ambisinya untuk mengejar pendidikan, yang didapatnya dari sekolah rakyat sampai ke madrasah kecil dengan gurunya, Rahman (Pong Hardjatmo). Niat ini semakin besar kala keyakinan Rahman membawa Pi’i melanjutkan pendidikannya ke Lintau dan dibimbing oleh ustadz idolanya, Onga Sanusi (Mohammad Firman), pengajar Muhammadiyah yang disegani. Namun niat Pi’i untuk merantau ke tanah Jawa terbentur pada keinginan sang ayah dan sebuah peristiwa yang membuat Pi’i harus bisa memilih jalan terbaik bagi hidupnya.
Benar, kisah hidup itu memang sangat inspiratif dengan segala suka dukanya. Namun kita sudah melihat style dalam kiprah Damien di ‘Obama Anak Menteng’ tempo hari, yang kian tergelar jelas disini. Ambisi Damien, sayangnya, seperti tak sinkron dengan kemampuannya sebagai seorang storyteller di layar lebar. Kita tak bisa menampik, seperti ‘Obama Anak Menteng’ juga, ada usaha yang mungkin terlihat sangat, sangat serius dalam membangun detil-detil yang meliputi set, kostum, dialog sampai dialek-dialek yang sebagian besar bisa tampil dengan cukup baik, dalam hal ini, dialek Minang dan penggunaan bahasanya yang cukup proporsional meskipun tak seluruhnya sempurna. Pemilihan castnya pun tak perlu menggunakan aktor-aktris terkenal, meski ada Ayu Azhari disini. Damien, seperti pengakuannya, senang memberi ruang bagi bakat-bakat baru yang lebih bisa menyesuaikan diri dengan karakter yang dibangunnya dalam skenario. Dalam standarnya, wajah-wajah baru termasuk pemeran Pi’i kecil, Radith Syam, di banyak bagian juga tak bisa dibilang mengecewakan. Selain Pong Hardjatmo yang memang sudah senior, pendukung lain juga pada dasarnya tampil cukup baik. Tapi ada satu problem mendasar yang selalu merusak bangunan ambisi besar Damien dari style-nya sendiri. Bukan pada tamaknya ia mengambil alih peran rangkap, tapi selain ambisi untuk menuangkan penerjemahan yang kadang overdetail hingga terasa tak penting dan membosankan, adalah kompromisme pasar terhadap tampilnya bombastisme dan dramatisasi yang rasanya selalu kelewat dipaksakan, sama seperti ‘Obama Anak Menteng’ yang dirusak oleh fokus terlalu dominan ke peran bencong dan gaya teatrikal pemeran ayah Obama, kembali terulang dalam porsi berbeda disini. Reaksi-reaksi terhadap konflik utama yang dituangkan Damien dalam skenarionya terlihat dipoles dengan dramatisasi berlebih, salah satunya adegan kematian Fathiyah yang teatrikal sekali dengan jeritan ‘tidaaaaakk’ dari Lucky yang kelewat panjang dengan ekspresi sinetron itu. Kumis Hitler/Charlie Chaplin Pak Rahman (entah aslinya seperti itu atau tidak, Syafi’i asli lah yang tahu) memang tak sampai diekspos kelewatan disini, namun sebagai gantinya, seperempat bagian terakhir yang menggambarkan kekecewaan Pi’i bukan lagi tergelar menyentuh, tapi berlebihan dengan ekspresi yang jatuh jadi depresif seperti orang sakit jiwa lengkap dengan make-up pucat dan bibir kering yang (maunya) kelewat didramatisir. Seperti zombie. Setelah pembuka yang terlalu bertele-tele, pace yang sudah membaik di pertengahan jadi sama sekali mentah di dramatisasi over di bagian-bagian akhir ini, dan ternyata, masih berlanjut ke end credits yang menunjukkan Pi’i beranjak besar dan berjalan tak henti-henti menyusuri pantai. Sebuah bombastisme salah arah yang justru meluluh-lantakkan ambisi besar itu. Sayang sekali. Dan kembali lagi ke penting tidaknya kebesaran nama tokoh yang diangkat menjadi sebuah biopik, sambutan penonton yang sepertinya adem-ayem saja tampaknya membuat rencana trilogi itu jadi terlihat agak dipaksakan. Begitupun, mari tak mengesampingkan pesan moralnya yang edukatif dan inspiratif itu. Ada terms pendidikan yang kuat, latar belakang kultural yang informatif, hingga pesan kedamaian dibalik paham pluralisme yang dituangkan. Paling tidak, ini lebih baik daripada tendensi tak jelas dari film-film horor sampah lainnya yang sedang beredar bersamaan. (dan)
Ada seorang ayah yang tengah dirundung kegundahan bertanya pada anak bungsunya. Tentang apa yang harus dilakukannya ketika si anak tertuanya mengaku berpindah kepercayaan dari reliji yang sama dengannya dalam sebuah pernikahan. Padahal, mendiang istrinya, juga berbeda kepercayaan dengannya. Si anak bungsu menjawab dengan singkat, “Kalau Papa betul-betul yakin dengan agama kita, sekarang aku akan berdiri sebagai penentang pertama di depan semuanya”. Si ayah kemudian menarik nafas panjang, berpikir sebentar, kemudian memeluknya sambil berkata. “Keluarga ini hanya kita. Dia tak punya siapa-siapa lagi selain kita. Apapun pilihannya, kalian tetap anak Papa”. Dalam hatinya, ia sebenarnya bukan tak yakin dengan apa yang selama ini dipercayainya. Tapi ia tak mau mempertaruhkan keselamatan anak yang begitu disayanginya nanti. He walked the eldest son down to the isle of his marriage. Di sebuah rumah ibadah yang bukan rumah ibadahnya. At whatever it takes. Dengan sebuah senyum bahagia dan janji bahwa ia akan tetap jadi ayah yang akan selalu melindungi dan menyayangi sang anak. Begitu banyak jalan. Tapi hanya ada satu tujuan dibalik semua jalan dan cara yang berbeda. Di saat istilah agama disatukan dari dua kata yang berarti ‘tidak kacau’, beribu kekacauan justru berlatar belakang istilah itu. Dan saya tak tahu orang gila mana yang menciptakan istilah ‘Sepilis’ yang terdengar mirip sebuah penyakit kelamin sebagai singkatan dari Sekularisme, Pluralis dan Liberalisme, lengkap dengan konotasi yang begitu tabu untuk menggantikan kata ‘Toleransi’ yang terdengar arif. Begitu negatif. Begitu sesat mereka anggap. Padahal sebagai bagian dari dunia manusia, kita juga dituntut untuk masuk ke dalam pluralisme itu demi penciptaan sebuah kedamaian di wadah besar tempat kita hidup dan bernafas. Reliji, memang harus dijalankan secara vertikal dengan hati dan sepenuh jiwa, karena mencampuradukkannya dengan otak bisa membawa sejuta logika salah terhadap tafsir ayat-ayatnya.
Ah, let’s not be too preachy. Karena apa yang dituangkan seorang Hanung Bramantyo, dalam karya ke-sekian-nya yang lagi-lagi menyentil persoalan yang sama, juga bukanlah sebuah khotbah yang menggurui. Hanung cuma memperlihatkan visual yang mewakili kejadian sehari-hari (termasuk restoran multietnis dengan batasan itu, yang sebenarnya ada banyak di sekitar kita kalau Anda mau membuka mata) dalam satu ajakan dan tujuan humanis untuk membaur. Tolerate to each kind of differences, serta sebuah penghargaan untuk pilihan-pilihan yang bisajadi berbeda. Hanung memang suka menyentil. Bahkan ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang begitu Islami saja dipenuhi sindiran kasar tentang poligami dalam penerjemahannya, dan protes-protes terhadap fanatisme buta itu semakin berkembang dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Sang Pencerah’ yang juga menuai kontroversi. ? (Tanda Tanya, jika Anda ingin menyebutnya begitu), pun tak jauh dari itu. Walau diprotes keras oleh sebagian petinggi NU, film ini diinspirasi dari sebuah kisah nyata seorang Banser NU yang tewas bersama bom meledak dalam sebuah usaha pemboman jemaat gereja di satu daerah. Sama dengan status pluralisme agama di negara kita, judul singkat itu memang mewakili pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul dalam persepsi perbedaannya. Bagi saya, simpel saja. Hanung hanya mau memberi pesan betapa indahnya sebuah perdamaian walau harus melalui proses kelewat panjang, dan obviously, membela kepercayaannya yang kenyataannya banyak menimbulkan fobia dimana-mana atas ulah pemeluknya yang keterlaluan.
Crossover antar reliji itu digulirkan melalui penokohan multikarakter, sebuah keluarga keturunan Cina yang menjalankan restoran multietnisnya, Tan Kat Sun bersama istrinya (Hengky-Edmay Soelaiman), yang punya aturan jelas untuk memisahkan peralatan yang dipakai untuk makanan halal dan tak halal. Kemudian pelayan setia mereka, Menuk (Revalina S.Temat), seorang wanita berjilbab yang soleha, istri Soleh (Reza Rahadian), kepala keluarga yang dilanda krisis kepercayaan diri oleh ketidakmapanannya hingga bergabung dengan Banser NU, serta seorang janda, Rika (Endhita) yang dicerca banyak orang termasuk putra kecilnya karena pindah agama. Lantas ada pula Surya (Agus Kuncoro), figuran galau yang terpaksa meniti karirnya di operet gereja atas ajakan Rika, ustad bijaksana (David Chalik) serta Ping Hen/Hendra (Rio Dewanto), anak Tan Kat Sun yang kerap berseteru dengan Soleh atas latar hubungan masa lalunya dengan Menuk. Semua karakter ini harus berhadapan dengan konsekuensi pilihan mereka ke sebuah klimaks yang meluluhlantakkan kehidupan masing-masing di tengah isu perbedaan antar etnis dan reliji dalam takdir yang ada.
Since this is a movie review, let’s not talk on any other pluralism issue. Secara sinematis, Hanung sudah menampilkan sekali lagi karya fenomenalnya dibalik skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena dengan detil-detil konflik yang terbangun rapi dari multikarakter itu. Sentilan demi sentilan yang termuat di dalamnya dipenuhi dialog yang wajar namun tersaji dengan lapisan kedalaman yang cukup inspiratif menuangkan tendensinya tanpa harus berpreachy ria. Sayang hanya dua reliji yang ditampilkan kontras, namun masing-masing penggambarannya mampu menunjukkan penelusuran tujuan kebaikannya secara seimbang. Terhadap karakterisasi yang bertumpuk itu juga, Titien tak perlu menampilkannya secara hitam putih. Semua karakter yang ada bisa hadir dengan detil cukup untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang manusiawi. Sinematografinya yang dibesut Yadi Sugandi juga tampil rapi, dipenuhi shot-shot cantik dalam standar filmis non sinetron tanpa harus berlebihan di sisi artistiknya. Dan dengan ensembel cast yang ada, termasuk Glenn Fredly yang tampil agak kaku dalam debut layar lebarnya, karakter-karakter tadi bisa bergulir dengan penjiwaan yang sesuai terutama Agus Kuncoro yang muncul begitu menarik sebagai highlight disini. Kalaupun mau menyebut kelebihan lainnya, skor Tya Subiakto boleh dibilang sangat masuk membangun kemegahan pengadeganannya. Tentang pilihan ending yang banyak diprotes? Ah, rasanya masih cukup relevan dengan apa yang ingin disampaikan secara keseluruhan, apalagi dalam kaitannya ke inspirasi dari kisah nyata itu. Apapun alasannya, ‘?’ sudah menyajikan sebuah usaha dan pesan yang sangat berharga terhadap carut-marut yang terus berlangsung di sekitar kita. Buka mata dan hati Anda lebar-lebar untuk bisa menyerap itu, seperti sebuah kepercayaan yang dibangun secara vertikal dengan hati dan jiwa yang tulus. Bahwa dalam hantaman-hantaman sosial yang ada, hidup memang sesekali seperti komedi yang menyentil. Anda bisa tertawa, menertawakan diri sendiri, tersinggung sampai marah bahkan menangis ketika sentilan itu berhasil memukul jiwa Anda. Dan Hanung sudah sangat sukses mengemas semua itu dengan sempurna. (dan)
“Semua perselingkuhan berakibat bencana. Jika Ingin Keluarga Harmonis... jauhi X (dalam kurung: mantan)”. Saya ingin menggetok kepala orang yang menciptakan tagline ini di tengah poster, yang... ya.. kalau mau dimirip-miripkan ke beberapa film luar ya bisa-bisa saja, namun punya sisi fotografi B&W yang menarik sekali diatas latar hitam yang terasa sangat kontras itu. Nah, kalau martil jadi senjata buat diatas, yang kedua cukup dengan besi silang empat pembuka ban mobil. Ini akan saya alamatkan untuk pemberi judul ‘Skandal’ yang terus terang, murahan sekali buat tema-tema yang sudah terbangun sangat obvious dari tagline kampungan itu. However, membuat film seks, ‘istilah genre yang hanya ada satu-satunya di negara kita yang ajaib ini dan kadang-kadang diucapkan tanpa ‘s’ di belakang oleh penduduk pedalaman’, yang baik itu, harus diakui, susah. Dalam tema dan genre eroticism cuma ada dua kemungkinan. Lupakan film-film kita di era ‘90an karena saya merasa itu sama sekali bukan film, bahkan produk JAV saja bisa digelar dengan jauh lebih baik dari mereka. Lupakan juga ini-itu ala kritikus dan sinema cult-retro yang belakangan mengangkat status murahan jadi ikut-ikutan artistik. Pertama, besutan yang membalut sinematografi dan adegan-adegan seksnya dengan artistik akan jadi tontonan berkelas, seperti halnya nama-nama Zalman King, Adrian Lyne atau sineas-sineas European arthouse. Yang kedua, akan berakhir di film-film kelas C-nya Shannon Tweed, Gabriella Hall atau Shauna O’Brien. Toh trend yang marak di era 90an dan meredup ketika sebaris film sejenis tak mampu menyaingi kehebatan Basic Instinct, meski The Resident-nya Hillary Swank sudah mencoba dengan kegagalan lagi-lagi, cukup banyak film-film bagus di barisan genre yang sama. Usaha Jose Poernomo, yang jasanya terukir manis menghidupkan kembali film kita bersama Rizal Mantovani lewat Jelangkung, jelas jauh dari horor atau komedi-komedi murahan Maxima atau KKD. Seks dalam kemasan Jose benar-benar tampil dengan warna baru perfilman Indonesia, apalagi LSF membiarkan sebagiannya tampil cukup proporsional. Sensual, erotis dan yup, artistik. Tapi itu bila Anda mematikan volume suaranya yang rata-rata diisi dengan lagu-lagu poprock dan romantisme ala Afgan di themesongnya. Produser yang mau meraup untung mungkin tak memikirkan bahwa lagu-lagu itu adalah ‘turnoff’ yang sangat ultimate terhadap adegan yang sudah dibesut sedemikian rupa oleh Jose. Dan kredit terbesar akan saya persembahkan pada pemeran utamanya, Uli Auliani, yang memang masih punya tampang dan bakat seimbang meskipun suka tampil di film-film kacrut. Bakat itu sangat terbentang leluasa sekali disini, dimana Uli dengan ekspresinya yang benar-benar meyakinkan tanpa harus cengengesan ala Jupe, Depe dan seabrek aktris lain, mampu membawa adegan-adegannya ke atmosfer yang sangat, sangat dan sangat sensual. Ingat. Matikan volumenya.
Perselingkuhan membawa bencana itu diawali dari Mischa (Uli Auliani), yang merasa kesepian dengan kesibukan sang suami, Aron (Mike Lucock/VJ Mike) di tengah kehidupan mereka yang serba mapan dengan seorang anak. Merasa hasrat seksualnya tak terpenuhi ditimpali kecurigaan bahwa Aron berselingkuh dengan sekretarisnya (Laras Monca), Mischa melarikan diri ke pelukan sang mantan yang seketika muncul lagi di hadapannya. Vincent (Mario Lawalata), si ‘X’ itu pun kemudian mengisi lagi hari-hari Mischa yang kembali berbahagia, namun pastinya, ini tak berlangsung lama. Kesadaran Mischa untuk mengakhiri semuanya, disikapi Vincent dengan posesif. Mischa diteror, dan kemudian sebuah tragedi mengakhiri semuanya.
Kesalahan yang dari zaman dahulu kala tak terbenahi dalam film-film kita sebenarnya paling besar terletak pada skenario. Oke, despite of some writers yang benar-benar born-writers, faktor inilah yang selalu meluluhlantakkan semuanya. Film dulu, semuanya tampil dengan penceritaan yang runtut meski temanya itu ke itu saja. Masalahnya? Bahasa buku dengan konflik serta reaksi yang jarang sekali terasa masuk akal. Masih lumayan. Film-film sekarang? Saya tak meng-include segelintir yang bagus, tapi rata-rata keseluruhan? Meski faktor bahasanya pelan-pelan sudah semakin wajar, kesalahan atas guliran bercerita yang lompat dari lompat kodok sampai bungee jumping itu masih saja dialiri konflik klise yang ditimpali dengan reaksi-reaksi over tanpa meninggalkan faktor make sense tadi. Dan penulis-penulis ini agaknya harus sadar betul, meniru, atau terinspirasi itu, sah-sah saja, tapi ada cara yang benar seperti paling tidak film Asia lainnya seperti Korea. Sayang sekali Jose harus menggelar pembaharuan sex scene dengan sensualitas berbeda itu diatas skenario besutannya yang nyata-nyata jadi kombinasi dua film erotis terkenal Adrian Lyne, Unfaithful dan Fatal Attraction, ditambah resep comot-mencomot dari pakem film thriller erotis lengkap dengan investigasi polisi yang menampilkan Gary Iskak dalam pencitraan karakterisasi polisi secara sangat film Indonesia, kalau tak mau menyebut dialog-dialognya mengalir dengan ketololan tingkat tinggi. Dan tak hanya itu, latar belakangnya, lengkap diinspirasi dari pakem film tipikal film Indonesia yang tak bisa jauh dari masalah ranjang. Kombinasi yang overloaded. Meski sebagian bisajadi terasa relevan (untung tak ada embel-embel true story), tapi kebanyakan adalah lagi-lagi mengulang dan mengulang. Twist dengan pesan cinta ‘love forgives’nya pun tak bisa berperan banyak akibat kerusakan skenario seperti film-film yang menjadi sourcenya. Lantas, mari bicara tentang pemilihan castnya yang juga serba unlikely, pastinya di luar Uli Auliani. Mike Lucock boleh jadi tampil lumayan di beberapa scene terutama di bagian-bagian akhir, tapi Mario yang maunya menyamai Olivier Martinez di Unfaithful? Oh, tato dan wajah tampan sungguh tak selamanya bisa berhasil, apalagi suaranya yang cempreng dan sangat tak meyakinkan itu. Set apartemennya pun masih kelewat mewah buat karakterisasi antikemapanan yang dimaksud. Somehow saya yakin seorang Reza Rahadian akan jadi kandidat yang lebih masuk ke peran tersebut. Pemeran pendukung lain, mulai dari sekretaris, pengacara dan Michael, si anak, juga tampil sama sekali tanpa jiwa. Kelewat kejam mungkin kalau harus menyamakan Skandal dengan film-film sampah kita era 90an dan horor-komedi seks sekarang karena visual yang dihadirkan Jose bisa memberikan feel yang beda dengan sensualisme yang sangat stylish termasuk fade out-fade in yang cantik serta scene bathtub masturbating orgasm pembuka yang meski kebanyakan lilin namun dihadirkan Uli dengan gestur dan ekspresi sempurna itu. Namun semua unsur pendukungnya? Walah... (dan)
LOST IN PAPUA : GUILTY AS CHARGED (SPOILER WARNING!) Sutradara : Irham Acho Bachtiar Produksi : Nayacom Mediatama, Merauke Enterprice (yak, bukan enterprise, memang sengaja begitu) Production, 2011
Terus terang. Selama ini mengikuti thread dari sebuah situs yang menjadi media partner dari karya ambisius, yang saking ambisiusnya melibatkan sang sutradara jebolan IKJ ini sendiri dalam berlapis-lapis promosi dan ‘pembelaan diri’ di thread tersebut, antusiasme untuk menyaksikan Lost In Papua sudah terbangun sedemikian menarik. Apalagi, introduksi di thread tadi dimuat begitu lengkap dengan sebuah pesan cerita diatas sinopsis dan trailernya, yang belum pernah ada selama ini, dimana pemirsa bukan diserahkan mencari pesannya sendiri, namun diarahkan sedemikian rupa. Demikianlah pesan itu tertera : “Papua memiliki banyak kekayaan alam dan budaya yang masih banyak menyimpan sejuta misteri yang dapat membuat orang tertarik untuk kesana”. Dan lebih lagi, Irham, sang sutradara itu, memberikan introduksi panjang lebar juga tentang pemahaman yang, saya yakin, sungguh dalam, bahkan melalui survei, mungkin, tentang Papua Selatan yang selama ini jarang diekspos karena keindahan alamnya tak semanis belahan Papua yang lain. Namun ada yang menarik disana. Suku Korowai, yang berkali-kali menjadi latar dan dideskripsikan secara visual disini, menurut mitos-mitosnya adalah suku kanibal primitif terakhir disana. Lantas, ada pula deskripsi lain tentang RKT 2000, jalur yang dianggap sebagai daerah terlarang dan tabu untuk didatangi. Wah, wah… selintas, saya berpikir, selepas peredarannya, Papua Selatan ini mungkin bakal jadi booming Bangka Belitung yang marak setelah Laskar Pelangi. Namun mendadak, keluarlah isu atas penundaan previewnya yang kemudian ditampik Irham dengan alasan yang juga jelas. Bahwa Bupati Merauke/Boven Digoel yang kabarnya juga kota kelahiran Irham, berikut Kepala Dinas Kebudayaan dan seluruh jajaran pemerintah disana sejak awal mendukung pembuatan film ini. Jadi semuanya atas ulah LSF yang memotong banyak adegan yang dinilai tak pantas, dan meminta bukti tanda tangan tertulis. Sama sekali bukan adanya pertentangan dari pemerintah setempat seperti Arwah Goyang Karawang yang memicu protes orang-orangnya sendiri. Lost In Papua pun kemudian melaju mulus meski lagi-lagi, disertai keluhan Irham yang menyatakan kurang puas terhadap hasil akhirnya atas kegagalan berbagai unsur di proses produksinya, termasuk kesalahan beberapa cast yang dinilainya tak bisa menampilkan emosi yang diinginkan. Dan untuk pertama kali pula, seorang sutradara me-review langsung filmnya dengan sejuta uneg-uneg. Let’s give a clap for that, Oh My God! Di satu sisi, lagi-lagi terus terang, sejuta rasa tak enak merayapi hati saya ketika harus menulis review film ini. Tapi bagaimanapun itu, se-subjektif apapun, a review is a review, seperti ‘pembelaan’ yang ditulis Irham sendiri. Sekalipun ia menyilahkan kaum yang disebutnya ‘tukang review’ untuk membantai filmnya, ada metafora film-film Quentin Tarantino atau film-film nyeleneh lainnya di thread tadi, bahwa penonton, tak harus mengikuti review jelek karena bakal ada 10 review bagus setiap 1 review jelek yang muncul. Let’s take a deep look at the movie, then.
Dimulai dengan scene yang sangat menjanjikan atas janji Irham ke kombinasi segala macam genre, romantis, drama, komedi, slasher sampai ke ending yang tertebak, Lost In Papua dimulai dengan hilangnya sebuah tim survei tambang emas yang melibatkan Rangga (Edo Borne) di kawasan misterius itu. Tiga tahun kemudian kita dibawa ke karakter Nadia (Fanny Fabriana), tunangan Rangga yang mendadak ditugaskan ke Papua oleh bosnya (Didi Petet). Awalnya ragu, Nadia kemudian menerimanya dengan alasan tak jelas. Entah karena sekalian ingin mencari keberadaan Rangga, atau karena langsung diberi izin oleh sang kakek (Piet Pagau) yang juga punya koneksi masa lalu disana. Namun muncul David (Fauzi Baadilla), sang anak bos yang lewat sepenggal dialog dikisahkan pernah memiliki hubungan ‘intim’ dengan Nadia, dan berniat terus merayu Nadia agar jadi miliknya. Ini peran yang mungkin bagi seorang Fauzi Baadilla dirasakan bakal membuahkan Oscar dengan penerjemahan ekspresinya yang biasa, teatrikal, komikal atau apalah namanya. Lengkap dengan mata melotot, lidah bermain dan alis yang terangkat-angkat serta hal-hal mesum lainnya, tampilan oom-oom ala film Indonesia jadul itu dibawakan Fauzi dengan sangat-sangat sumringah. Supaya kelihatan bajingan? Yeah right. Sebagian ‘tukang review’ bolehjadi menganggapnya sempurna, tapi bagi saya, seperti akting Fauzi lainnya, that’s an overacting piece of crap. So, berangkatlah Nadia ke Merauke untuk menunaikan tugas survei titik tambang itu. Ditemani oleh beberapa kontak lokal, Nadia kemudian menemukan bahwa satu dari mereka, Merry, ternyata ayahnya ikutan hilang dalam tim Rangga. Nadia pun membelokkan niatnya. Bersama krunya dan seorang guide tangguh, sepupu Merry bernama Eby, mereka menelusuri jejak tim itu. Disini plot Lost in Papua terasa semakin berantakan dengan motivasi karakter tak jelas yang sering kita lihat di film-film Indonesia. Nadia dan Merry yang sebentar terlihat mati-matian ingin menemukan Rangga serta sang ayah, di adegan lain terlihat seperti turis yang ingin berlibur ke pedalaman, dan dualisme ini berlangsung terus, lengkap juga dengan pameran wisata dan tempat bersejarah Papua yang diceritakan dengan detail bak seorang pemandu wisata. Lantas muncul David yang menyusul Nadia kesana dan membuat keonaran di tengah suku Korowai. Mereka pun dikejar, kemudian tersesat ke RKT 2000 yang terlarang itu. Menyeruak seketika subplot Eby yang menaruh hati pada Nadia sehingga terus berseteru dengan David, dan terjebaklah mereka semua ke sebuah suku kanibal primitif yang semuanya wanita. Dari sini, cerita menjadi semakin absurd dan penuh kekotoran otak sineas kita. Para wanita disekap, dan prianya diperkosa meladeni 15 wanita primitif itu dalam sehari sampai lemas. Nadia sampai harus rela berhubungan lesbian dengan sang kepala suku, bukan untuk menyelamatkan diri, namun hanya untuk merebut liontinnya dan liontin Rangga yang ternyata dipegang kepala suku. Di sela kesusahan itu, tampil pula dialog-dialog aneh dari motivasi yang semakin tak jelas. Merry menyuruh Nadia menahan emosi mengharapkan David berubah, lalu David yang sudah membuat kerusuhan sedemikian rupa meminta maaf dan langsung ditimpali Nadia dengan ‘sorry back’. Seakan masih kurang, di klimaksnya muncullah penyelamat dari Korowai, putra kepala suku yang sebelumnya asyik mengintip Nadia mandi di sungai lengkap dengan jilatan lidah mesumnya. Oh My God! A big, big sorry for the spoiler, but what’s this, really?
Sebelum mengkritik kombinasi genre secara berantakan serta dalih menampilkan keindahan alam Papua yang ternyata dieksekusi dengan fantasi kotor itu, kelemahan terbesar Lost In Papua adalah tipikal kerusakan skenario ala film kita, yang dalam film ini ditulis oleh Ace Arca dan Augit Prima. Motivasi tiap karakter yang dituangkan dengan turnover berlogika anak SD itu sungguh menyia-nyiakan bakat akting Fanny Fabriana yang ekspresinya begitu luwes tapi tetap wajar, tak seperti Fauzi yang memang tipikal aktingnya over cengangas-cengenges itu. Aktor-aktor asli Papua-nya juga sebenarnya sudah cukup lumayan kalau tak dituntut skenario tadi seperti orang-orang kebingungan. Akting suku-suku asli berikut wanita-wanita primitif itu yang justru sangat layak dipuji mengingat sebagian dari mereka bukan aktor/aktris yang melek kamera. Di luar itu, sebagian penempatan jualan soundtracknya, diantaranya dari Anima, juga sedikit tak sinkron dengan pengadeganannya. Ok, saya sedikit bisa mengerti ambisi Irham untuk menghadirkan kengerian ala Cannibal Holocaust dan film-film cult sejenis ke dalam Lost In Papua dalam rangka menghadirkan genre baru dalam perfilman kita, tapi, tanpa bermaksud provokatif seperti yang diingatkannya di thread tadi, memanfaatkan nama Papua untuk eksekusi yang malah menakutkan wisatawan buat kesana tentu sangat tak bijak, apalagi tujuan pengenalan wisata itu disempalkan pula di bagian-bagian awal. Saya tak tahu apa yang ada di benak jajaran pemerintahan di Papua untuk tak mengambil reaksi atas penggambaran akhir ini meski menyelamatkan martabat Suku Korowai, namun niat Irham untuk berinteraksi dengan argumen pribadinya secara begitu antusias tetap harus diacungi jempol. Dan saya juga berharap seperti yang dikatakan Irham, semoga kritikan, sepedas apapun, tetap bisa menjadi cambuk untuk karya yang lebih baik. Tapi untuk Lost In Papua, apa boleh buat, ini adalah kesalahan yang sejelas-jelasnya Guilty As Charged. Sayang sekali. (dan)
RUMAH TANPA JENDELA : A WONDERFUL TALE OF SHARE Sutradara : Aditya Gumay Produksi : Smaradhana Pro & Sanggar Ananda, 2011
Punya perhatian besar terhadap film anak adalah sesuatu yang besar. Kita boleh saja berkutat di film-film hi-tech penuh efek atau begitu menikmati kepintaran plot yang mengeksplorasi kedalaman psikologis, bertabur darah, adegan sadis, full of twist atau apapun dalam terms modernisasi sinematis. Produser pun boleh saja pergi kesana kemari mencari untung dengan film-film sampah. Namun, jangan pernah beranjak ketika sesekali kita diingatkan kembali ke sebuah mimpi-mimpi masa kecil sesosok manusia bernama 'anak'. Ketika di satu belahan dunia mungkin ada yang lebih tak beruntung dari kita. Ketika kita dibawa ke satu sisi yang mungkin selalu terlewat dari kesibukan sehari-hari. Pesan moral uplifting yang manusiawi dan mengingatkan kita lebih dari sekedar sebuah dakwah itu memang perlu terus-menerus disampaikan agar kita bisa saling berbagi. Seorang Aditya Gumay, yang dalam perjalanan karirnya punya semangat besar dalam hal ini, baru saja menyajikan 'Emak Ingin Naik Haji' bersama penulis Asma Nadia yang rata-rata karyanya penuh berisi semangat kesana. Aditya bahkan mendirikan Sanggar Ananda dan Teater Kawula Muda untuk mengangkat bakat-bakat anak dan remaja sejak 1988 dengan salah satu karya legendarisnya, Lenong Bocah. Kini, kembali berkolaborasi bersama Adenin Adlan dengan tim yang sama, ia mengadaptasi cerpen Asma yang berjudul 'Jendela Rara'. 'Rumah Tanpa Jendela', judul film terbarunya ini pun dibesut dengan semangat yang sama. Tentang Rara, seorang anak jalanan yang mendambakan jendela di gubuk kecilnya yang kumuh. Premis simpel yang mungkin membuat kita semua jatuh hati ketika mendengar sejuta kepolosan anak-anak yang terkandung di dalamnya, termasuk saya. Dan tak hanya itu, ada sisi sosial disabilitas anak dengan special needs juga yang dibicarakannya disini, untuk membangun pesan moral itu dalam sebuah term bernama 'film anak', satu genre yang mungkin membuat banyak produser bertipikal komersil sudah mundur duluan sebelum disodori naskahnya. Lebih lagi, keuntungan film ini kabarnya akan menjadi sebuah donasi bagi kaum tak mampu. Yup, punya perhatian besar terhadap film anak, adalah sesuatu yang besar.
Dibalik kehidupannya bersama anak-anak jalanan pemulung lain di lingkungan kumuh di tengah belantara ibukota, Rara (Dwi Tasya) punya sebuah mimpi. Ia menginginkan sebuah rumah dengan jendela, agar bisa menikmati sinar matahari dan cahaya bulan. Namun Raga (Raffi Ahmad), ayahnya, hanya seorang penjual ikan hias disana. Di rumah berdinding tripleks itu, Rara tinggal bersama Raga dan neneknya, Si Mbok (Inggit Wijanarko) yang sakit-sakitan, dan belajar di sekolah singgah yang diasuh guru sukarelawan, Bu Alya (Varissa Camelia). Perkenalannya dengan Aldo (Emir Mahira), anak terbelakang dari keluarga Syahri (Aswin Fabanyo)-Ratna (Alicia Djohar) yang pengusaha besar, kemudian membuat keduanya dekat. Aldo pun seakan mendapat pencerahan dalam kehidupan sosialnya dan semakin sering mengundang Rara dan teman-temannya ke rumah besarnya. Walau disambut baik oleh Nek Aisyah (Atie Kanser), nenek Aldo dan abangnya (Ouzan Ruz), sebuah peristiwa di pesta ultah ke-17 kakaknya, Andini (Maudy Ayunda) membuat semuanya berantakan. Selain Andini yang merasa malu dengan keadaan Aldo dengan teman-temannya, tempat tinggal Rara pun habis dilalap api dan menyebabkan kehilangan yang sangat besar. Selagi Si Mbok terbaring koma di rumahsakit, Aldo yang sedih atas kemarahan Andini kemudian melarikan diri bersama Rara hingga semuanya dilanda kepanikan.
Dengan premis utama begitu simpel dan mengangkat esensi kepolosan anak-anak yang hadir sangat kuat, Rumah Tanpa Jendela awalnya sudah digelar dengan sangat baik. Nuansa drama musikalnya juga tak sekedar asal-asalan dengan tampilan lagu-lagu anak yang terdengar sangat melodius. Kekurangan koreografinya juga berhasil ditutupi oleh shot-shot yang cukup baik. Paduan isu kehidupan kumuh anak jalanan bersama disabilitas anak itu juga hadir dengan sinergisme kuat atas akting bintang cilik Emir Mahira (Garuda Di Dadaku, Melodi) yang sangat meyakinkan dengan cara berdialog dan gerakan tangannya, bahkan melindas semua pendukung yang tampil bagus termasuk Dwi Tasya dalam peran debutnya, Atie Kanser dengan logat Medan (bukan ber-Batak ria seperti biasanya) yang kental dan Raffi Ahmad yang sedikit masih kelewat rapi untuk karakternya. Bahkan Yuni Shara yang tampil sekilas dengan karakter film Indonesia tipikal, seorang pelacur, bisa terlihat relevan. Sayang, berjalan ke tengah, seabrek subplot lain dan banyaknya karakter seakan menjadikan fokusnya semakin tumpang tindih dengan pesan moral utamanya, apalagi dengan banyaknya sempalan adegan-adegan klise seperti penyakit wajib film Indonesia, batuk darah, penuh kebetulan dan sisipan komedi berikut sekilas sejarah edukasi Obama yang tak penting, diantaranya. Adegan-adegan musikal yang sudah dimulai awalnya pun seakan terlupakan entah kemana. Namun begitu, sulit rasanya untuk menampik kehadiran emosi yang berhasil dibangun lewat akting wajar semua pendukung serta score Adam S. Permana yang cukup menyentuh itu. Beberapa kemiripan dengan plot film anak yang baru saja hadir, 'Rindu Purnama' membuat saya mau tak mau jadi membandingkan keduanya, dan dalam hal membangun emosi yang gagal muncul serta melenceng di karya Mathias Muchus itu, Rumah Tanpa Jendela, terus terang, jauh lebih pantas jadi juara. Ah, sudahlah. Paling tidak semua rangkaian adegan termasuk yang klise-klise itu punya tujuan jelas dalam penyampaian pesan moral saling berbagi dan bisa hidup selaras dalam garisan takdir yang kadang bisa terasa tak adil bagi sebagian orang. It's how to give, dalam cakupan yang sangat luas, and to be loved in return. And here I assured you one more time. Punya perhatian besar terhadap film anak adalah sesuatu yang besar. This is a wonderful tale of share, dan kita beruntung memiliki orang-orang seperti Aditya, Adenin dan Asma yang masih mau terus mengingatkan kita kesana. (dan)
Indonesia, sekali waktu pernah bangga sekali memiliki seorang Rizal Mantovani. Tak hanya dari inovasinya di videoklip lokal generasi MTV, film Indonesia yang sudah lama mati suri dulu pun digebraknya kembali lewat Jelangkung. Namun entah usia yang semakin memangsa otaknya atau kenaikan drastis harga barang-barang kebutuhan di negara ini, sementara sineas-sineas muda bermunculan silih berganti, Rizal pun sudah beralih rupa menjadi penghasil film-film asal yang kerap hanya menjual belahan dada, bikini dan bunuh-bunuhan. Boobs everywhere. Kredit bagusnya sebenarnya masih tersisa di beberapa film, namun rusaknya dua film terakhirnya, Air Terjun Pengantin dan Taring, produk kacrut yang memakai jasanya itu, agaknya sudah berjasa membuat pupus semua kredibilitasnya. Yes, even if God was there, He wont do much, too. So then, enter the Indonesia’s mystical creature named Jenglot. Oh ya, makhluk yang berukuran mini bak monster bonsai ini memang dipercaya benar-benar eksis di negara kita, meski sebagian penemuannya selalu berakhir melemparkan publishernya ke penjara karena menipu. Bentuknya? Kira-kira seperti Ki ini dan Ki itu, atau Sujiwo Tejo, setelah melalui sinar pengecil yang distel di ukuran maksimal. Mitos-mitos mengatakan bahwa Jenglot adalah piaraan orang-orang sakti, which I supposed is an animal, karena jelas-jelas bukan cewek sebagai salah satu kemungkinan lain dari term ‘piaraan’. Ada juga yang bilang kalau dulunya Jenglot-Jenglot ini asalnya manusia biasa yang terkena kutukan. Seperti Gollum yang mencari cincin, Jenglot ini kurang jelas apa maunya. Dibilang mencuri seperti tuyul pun bukan. Yang jelas, mereka carnivora dan vampir sejati. Memakan daging mentah, minumnya darah. Disini, Rizal menambahkan lagi keahliannya yang belum pernah terekspos. Mungkin ada proses silang, hybrid breeding dengan seafood, maka Jenglot masa depan ini sekarang menjadi amphibi super. Bisa berenang-renang, menyelam, tak hanya di air asin tapi juga air sabun dalam bathtub, bahkan handal juga kejar-kejaran di darat. Tujuannya? Melahirkan Piranha ala Indonesia, yang saya yakin bahwa Rizal itu terkesan sekali dengan pameran boobs dan organ bertaburan di versi Hollywood-nya. Trailernya sudah jelas sekali menggambarkan itu. Tak perlu sebesar Jaws atau bertaring segede Piranha. Ini adalah makhluk mini yang kecil-kecil cabe rawit. Yang digigit? Sebarisan pemeran berwajah ‘fuckfaced’ dengan slipping boobs kemana-mana. Termasuklah di dalamnya, sang pemeran utama, Debby Ayu, yang kiprahnya sudah sebesar model-model Exotic Azza di dunia perfilman kita. And a bunch of other model’s boobs, of course.
If that was meant to be a plot, seperti yang tertulis di kredit dengan nama Alim Sudio yang sepertinya ahli sekali membuat plot seperti buang angin tanpa bekas, I really didn’t see one. Hanya ada serombongan remaja yang punya nama-nama ‘sok asyik’ berlibur ke sebuah pantai, yang dari sinopsis resminya disebut Perawan, tak seperti karakter-karakternya sendiri, dan kemudian satu-persatu diserang jenglot dengan cara-cara yang ajaib. Responnya juga ajaib. Ada yang pingsan hanya oleh gigitan Jenglot di lengan, dan lebih dari tujuh keajaiban yang lain. Bagaimana bisa jenglot itu ada di laut? Ternyata ada makhluk gondrong yang melepasnya, karena dianggap keramat sebagai penjaga pantai Selatan. Semoga kalau benar, arwah Nyi Roro Kidul tak merasa terganggu dengan nafsu makannya yang berlebihan, ganjil dan pervert itu.
Entah boneka yang (sepertinya) digerakkan secara manual, menyewa tuyul jadi-jadian, iguana, ayam potong atau simpanse topeng monyet yang dimake-up menjadi Jenglot, tetapi bentuknya rasanya berubah-ubah. Yang jelas, tampilan Jenglot dengan warna pinky dark dan berekor naga itu lumayan mirip dengan baby donkey di Shrek 3, cuma yang ini punya rambut ala Sujiwo Tejo dan wajahnya, kalau pernah menonton serial Creepshow, ya kira-kira sama seperti si tengkorak naratornya. Selebihnya, Rizal memang hanya membuat kita seperti membolak-balik majalah pria dewasa penuh adegan bikini dan boobs yang sembul-menyembul menjadi satu itu, dilengkapi dengan sedikit adegan berdarah-darah dari cabik-cabikan organ tubuh yang tak juga meyakinkan. Sinematografi ala Rizal, mungkin? 10 tahun yang lalu, barangkali. Sekarang toh Nayato juga sama canggihnya kalau soal panoramic shots, apalagi dengan pameran swimsuits itu. Dialog? Saya malah tak yakin itu dialog. Oke, posternya yang sok cult dengan font ala film-film monster Hollywood tahun 50an, salah satunya Creature From The Black Lagoon itu, harus diakui, cukup lucu. Namun sudahlah. Ini yang paling menarik. Seakan kebodohan demi kebodohan tadi belum cukup, tak ada yang lebih spesial dari cara Alim dan Rizal mengakhiri filmnya dengan sejuta kesempatan ke sebuah sekuel secara begitu dahsyat sampai melibatkan peralatan rumahtangga. Ah! Pasti mereka sudah punya sepuluh bahkan lebih judul di kepalanya, entah Pengantin Jenglot, Kuntiljenglot, Jenglotkung, Drakulot atau JengLon. Meanwhile, kita hanya bisa menarik nafas. Paling tidak, dengan segala informasi seputar dunia Jenglot yang sekali lagi, saya yakini sebagai binatang, ini adalah rekomendasi yang tepat bagi penyuka Animal Planet ‘sejati, alami dan tanpa rekayasa’.
Movie Reviews
FINAL DESTINATION 5 : MORE PAIN, MORE FUN
Let me ask you a simple question. Apa sih yang Anda harapkan ketika menonton sekuel-sekuel Final Destination selama ini, sejak instalmen pertamanya jadi trend baru di tahun 2000 dulu? Say anything, dari cara penggambaran kematian yang nyeleneh tapi sering hi-tech, atau bahkan pemerannya yang selalu harus manis-manis sekalipun. Tapi kalau alasannya untuk melihat akting bagus atau plot yang serba mencerahkan secara sinematis, itu berarti kesalahannya pada diri Anda sendiri. ‘Final Destination’ (2000) memang melahirkan trend di saat teenage slasher yang melambung dari ‘Scream’ sudah mulai jadi membosankan dengan twist-twist ‘whodunit’. Dengan pintar, skenario yang dimotori James Wong, seorang sineas yang lama melintang di sci-fi teve termasuk ‘The X-Files‘ dan ‘Millenium‘ memberi penokohan baru pada sosok pembunuhnya yang bukan manusia atau hantu. Ini berjalan hingga ke sekuel-sekuelnya dengan desain premis yang terus sama. Highlight yang ditunggu-tunggu penonton bukan lagi tetek-bengek lain kecuali satu. Bagaimana cara satu-persatu karakternya menemui ajalnya. A painful one. Tapi pengulangan selalu ada batasnya. Untunglah kebosanan yang mulai mewarnai komentar penonton lantas bertabrakan dengan teknologi 3D di instalmen keempatnya yang cukup dibandrol judul ‘The Final Destination’. Aha. Satu celah yang bisa membuat gambaran ajal itu jadi semakin menarik, dan jelas pantas buat dilanjutkan dengan teknologi 3D yang semakin membaik serta bukan konversi. So now comes the 5th installment. Mari tak menggerutu mempersoalkan plot sampai aktingnya. Ini masih sama kok, dan para penggagasnya tetap setia mengakomodir kemauan para penontonnya, yang seakan belum puas memicu adrenalin dengan 1001 cara mati menyakitkan itu digelar lagi dan lagi.
Sebuah insiden di jembatan kali ini menyelamatkan delapan orang karyawan atas visi Sam Lawton (Nicholas D’Agosto) dalam bus yang bertolak untuk sebuah gathering perusahaan. Ada Molly (Emma Bell), kekasih Sam yang baru saja memutuskannya, sahabatnya Peter (Miles Fisher) dan pacarnya, Candice (Ellen Wroe), sekretaris seksi Olivia (Jacqueline MacInnes Wood), staf pabrik Isaac (P.J. Byrne) dan Nathan (Arlen Escarpeta) serta pimpinan mereka Dennis (David Koechner). Setelah selamat dari insiden itu, satu-persatu pun menemui ajalnya dengan mengerikan. Survivor-survivor ini kembali harus mencari pola dari visi awal Sam dan menghindari maut sejauh mana mereka bisa dengan cara masing-masing. Bumped in, bumped out, it’s still a same concept.
Now enter step one. Silahkan pilih adegan pembuka favorit Anda dari kelima instalmennya. Kalau selama ini banyak yang memilih film kedua yang mengejutkan serta rollercoaster ride di film ketiga yang seru lebih dari opening scene lintasan sirkuit di film keempat, face this ultimate one. Don’t know about you, tapi saya akan dengan mudah memilih opening scene instalmen kelima ini untuk jadi santapan paling lezat dari semua sekuelnya. Then step two, silahkan pilih WTF death scene dari semua yang ada. Ah, ini susah sepertinya, karena tiap instalmennya masih terus terasa fresh mencari inovasi baru yang bakal memaku penontonnya sambil menahan adrenalin mereka. Bukan hanya karena darah yang memuncrat kemana-mana, tapi lebih ke adu intrik para korban dengan maut yang siap mengincar mereka dibalik sosok misterius Bludworth yang diperankan oleh Tony ’Candyman’ Todd, yang selalu seliweran di tempat kejadian. Todd yang absen di instalmen keempat kini muncul lagi sebagai trademarknya. Step three, adalah sebuah keunggulan teknologi 3D yang tak lagi membuat Anda berpikir kesana-kemari. Dalam konsep paling primitif, tak perlu jauh-jauh ke ‘Avatar‘ atau ‘Transformers 3‘ yang super canggih, kalau akrab dengan teknologi 3D era jadul, instalmen kelima ini sudah melakukan semuanya dengan efektif. 3D-nya bukan sekedar jualan tapi memang disiapkan untuk menambah pacuan adrenalin itu dengan absurditas yang pas. Satu yang sering terlupa dalam film-film 3D sekarang, mereka memanfaatkannya dengan konsep klasik. Banyak sekali gerakan-gerakan yang sengaja diarahkan ke depan muka penonton untuk memicu excitement penonton, sampai-sampai banyak kritikus super serius yang biasa menganggap remeh balutan 3D tak mampu lagi menampik kesenangan mereka. And right, konsep klasik ini adalah salah satu tujuan kita rela mengeluarkan kocek lebih untuk menonton versi 3D-nya.
Oke, mungkin ada beberapa logika yang tak sesuai dengan gambaran kenyataan yang bisa mengusik beberapa profesi seperti beberapa spesialisasi kedokteran di instalmen kelima ini, berikut akting yang kurang pas dari pendukungnya. Salah satunya adalah Miles Fisher yang punya tampang serta gestur yang diakui sangat mirip dengan Tom Cruise sampai muncul di ‘Superhero Movies‘ sebagai dirinya, yang seharusnya jadi penekanan di bagian konfliknya. Ketimbang masuk ke karakter Peter, Fisher malah terlihat sama seperti tengah memparodikan akting Tom Cruise. But then again, ini adalah Final Destination. Just skip those thoughts dan nikmati sajiannya. Rancangan tipu-menipu karakternya dengan maut tetap asyik buat dinikmati, apalagi dengan sebuah twist yang bisa membuka kemungkinan lebih besar lagi kelanjutannya ke depan atau justru sebaliknya. Ah, sudahlah. Right before the end credits rolled, masih ada remix death scenes dari instalmen-instalmen sebelumnya. Yup, more pain, more fun, ain’t it just right? (dan)
danieldokter.wordpress.com
COLOMBIANA : TOUT SIMPLEMENT MAGNIFIQUE!
No, Luc Besson, meskipun tampilan banyak film di awal-awal karirnya dan sedikit masih tersisa sampai sekarang, terkesan beda dari mainstream blockbusters Hollywood, bukanlah seorang sutradara arthouse. Awal karirnya sebagai pionir dalam gerakan new wave sinema Perancis medio 80an yang dikenal sebagai ‘cinema du look’, yang lebih meng-Amerika dan banyak mengadopsi gaya videoklip dalam visualisasinya, justru banyak dicerca kritikus negaranya. However, Besson sudah menghadirkan budaya pop baru yang membuka jalan bagi sinema Perancis yang cenderung absurd itu untuk lebih mendunia. Style Eropa-nya sebenarnya tak sepenuhnya ditinggalkan, namun kombinasi yang diracik Besson dengan budaya Hollywood menghasilkan sesuatu yang beda. Salah satunya adalah narasi film noir dalam karya monumentalnya, ‘La Femme Nikita’ (1990). Selain jadi salah satu awal baru, walau sebelumnya bukan tak ada, Nikita jadi salah satu dedengkotnya tema-tema lady assassins. Remake Hollywood-nya pun terus masih berlanjut dengan serial teve yang dibintangi Maggie Q tahun lalu. Lonjakan karir seorang Jean Reno juga salah satu yang lahir dari sana. Lantas, Besson mulai merambah Hollywood. Kesuksesannya dalam ‘The Fifth Element’ mendorong Besson untuk mendirikan Europa Corp, sebuah media untuk melebarkan ekspansinya membesut film-film Eropa bercitarasa Hollywood, tapi tetap tak melupakan akarnya dari negara asal Besson, Perancis. Name it. ‘Kiss Of The Dragon’, ‘The Transporter’, ‘Taken’, sampai ‘From Paris With Love’, adalah beberapa diantaranya. Dan kekuatan lain di sebagian besar karya Besson adalah penulis Robert Mark Kamen, kreator ‘The Karate Kid’ yang sudah berkolaborasi dengan Besson sejak di ‘The Professional’ dan ‘The Fifth Element’. Persepsi banyak orang terhadap Besson memang bisa terpecah dua. Di saat sebagian menganggap karya-karyanya di bawah bendera Europa Corp, baik yang semi Hollywood maupun yang asli Perancis tak lebih dari jualan komersil yang hampir melulu menjual aksi, sebagian masih mendewakannya dengan racikan inovatif yang selalu muncul dalam filmnya. So now, it’s time for ‘Colombiana’, lagi sebuah lady assassin dengan judul sangat catchy itu.
Cataleya kecil (Amandla Stenberg) sudah dipersiapkan ayah ibunya atas keterlibatan mereka dengan Don Luis (Beto Benites), seorang druglord di Kolombia. Ketika waktunya tiba, Cataleya yang sudah dibekali data yang diinginkan CIA sebagai paspornya di-eksodus-kan ke AS pun melarikan diri setelah menyaksikan Marco (Jordi Molla), tangan kanan Don Luis, membunuh orangtuanya. Sampai di AS sebagai saksi mata yang dilindungi, Cataleya kembali raib menuju kediaman nenek serta pamannya, Emilio (Cliff Curtis). Sia-sia Emilio mencoba mengirimkan Cataleya ke sekolah public untuk menjauhi traumanya. Cataleya pun beranjak dewasa (Zoe Saldana) menjadi seorang pembunuh bayaran atas order yang diterima Emilio. Namun dendamnya tak bisa membuat Cataleya bekerja sesuai dengan profesionalisme dan keahliannya yang luarbiasa. Sambil menjalani kehidupan dobelnya menjadi kekasih misterius seorang pelukis, Danny Delanay (Michael Vartan), korban-korbannya ditandainya dengan lukisan anggrek serupa namanya untuk memancing Marco dan Don Luis. Emilio yang mencoba mengingatkan pun tak bisa berbuat apa-apa ketika agen-agen FBI dibawah pimpinan Ross (Lennie James) mulai melacak jejaknya, sementara pancingannya juga mulai membawa Marco kembali untuk melenyapkan sang pembunuh misterius itu. Bagi Cataleya cuma ada satu tujuan, walau harus menyerang atau diserang dua pihak ini. Menuntaskan dendam atas kematian kedua orangtuanya.
Lady assassin atau undercover heroine yang licin tak kepalang namun masih punya hati, itu sudah kita saksikan berkali-kali sejak ‘La Femme Nikita’ sampai yang masih melekat di gelaran summer blockbuster tahun lalu, ‘Salt’nya Angelina Jolie. Sekilas, meski penelusuran plotnya tak sama, Colombiana memang kelihatan tak jauh berbeda. Ada intrik, twist-twist ringan, pameran device, love interest, agen baik dan jahat, sampai cat and mouse chase serta adegan-adegan aksi untuk menggambarkan keahlian taktis sang jagoan. Dalam konteks jualan, seperti lagu yang catchy dan bisa cepat lengket di benak banyak orang, resepnya pun rata-rata sama. Colombiana juga tak perlu berjalan jauh bait demi bait untuk menggelar reff-nya. The boom-bang action sudah muncul dalam beberapa menit film berjalan dengan peningkatan intensitas terjaga rapi sampai ke klimaks, dalam genre ‘girls with guns’ ini, one-woman-show. Namun pilihan Besson yang lagi-lagi menulis ceritanya bersama Mark Kamen pada sosok karakter utamanya yang afroamerika inilah yang jadi inovasi mereka untuk menghadirkan sesuatu yang beda.
Ada sedikit tribute ke trend blaxploitation yang dulu sempat marak di era ‘70an, namun tak harus tergelincir jauh dari style Besson biasanya. Ini jadi tugas Olivier Megaton, sutradara yang dua karyanya sebelum ini, ‘Red Siren’ dan ‘The Transporter 3’ sudah menyiratkan erotisme yang padu dengan gelaran action-nya. Tanpa perlu set-set vintage atau bersadis ria, Besson bersama Megaton melakukannya cukup dengan mengeksploitasi black beauty-nya Zoe Saldana sama dengan intensitas adegan-adegan aksinya yang membuat penontonnya sama-sama menahan nafas. Body language-nya di tiap adegan muncul dengan pas, begitu juga koreografi aksi-aksian yang diterjemahkan dengan cantik olehnya. Oh yeah. Saldana adalah pilihan tepat dengan postur tinggi semampainya dibandingkan dua aktris afroamerika sekelasnya, Rosario Dawson yang bakal susah jumpalitan dengan onderdil depannya atau Thandie Newton yang kelewat mini dan bertampang melankolis. Dan lagi, karakter-karakter sampingannya, semua ikut menyumbangkan scenestealing potensial yang nyaris sama dengan La Femme Nikita dulu. Lennie James bermain menarik sekali sebagai agen Ross, Jordi Molla sebagai Marco yang beringas, sementara Cliff Curtis juga cukup intens sebagai Emilio yang keras namun protektif terhadap Cataleya. Dan pemeran Cataleya kecil, Amandla Stenberg juga patut diberikan kredit dengan ekspresinya yang sempurna mengantarkan bait-bait awal Colombiana, walau dengan durasi sebatas hitungan menit itu. Ok, don’t get me wrong. I wouldn’t put you in any suggestions bahwa ini sama bagusnya dengan ‘La Femme Nikita’ yang fenomenal itu, namun seperti karya-karya Besson lainnya, let’s say ‘Taken’ atau ‘From Paris With Love’, ini adalah sajian seru sekaligus lezat untuk disantap sebagai hiburan dengan bombastisme cukup eksplosif namun tetap pakai otak. In French, I shall say, ‘Tout Simplement Magnifique!’. Just beautiful. (dan)
danieldokter.wordpress.com
THE SMURFS : SMURF THESE SMURFS!
Everybody might know Smurf as a charming little blue creatures. Cara mereka mengganti kata-kata dengan istilah ‘smurf’, juga. Bahkan arch-nemesis mereka, penyihir mbalelo bernama Gargamel dengan kucing siriknya, Azrael. Tapi baca semua komik, tahu karakter-karakter dan semua yang ada di Smurf universenya, itu belum tentu. Apalagi setelah trend komik Eropa dihajar habis oleh komik Jepang disini. Smurf yang di Perancis dikenal dengan ‘Les Schtroumpfs‘, adalah kreasi komikus Pierre Culliford yang populer dengan nama Peyo di komik-komik legendarisnya termasuk ‘Johan & Pirlouit‘ (dimana Smurf lahir dari salah satu serialnya, ‘The Six Smurfed Flutes‘), ‘Steven Sterk‘ dan ‘Spirou & Fantasio‘ yang dulu juga beredar di Indonesia medio 80an. Belakangan, serial animasi tevenya semakin meneruskan keberhasilan smurf-smurf ini menjadi karakter animasi legendaris yang dikenal anak-anak seluruh dunia. So now comes the movie, silahkan kembali membolak-balik lembaran kanak-kanak Anda. Ini adalah pure children stuffs, jadi jangan harapkan adaptasinya tampil dengan bergelap-gelap ala trend sekarang. Dan karena itu juga, pemilihan Raja Gosnell, sutradara mantan editor (termasuk di ‘Home Alone‘ 1-2 dan ‘Pretty Woman‘) yang memulai debutnya di ‘Home Alone 3‘ kemudian sukses mengadaptasi ‘Scooby Doo‘ live action, rasanya cukup tepat karena visi family movie dan comics universe-nya memang kental sekali. Once again, ini sajian semua umur Smurf dengan semua universe-nya, yang dibesut dengan CGI dan tambahan penggabungan ke karakter-karakter live action. Bidikannya adalah penonton belia atau belahan hati penonton dewasa yang pernah menyukainya dulu atau sekarang. Mau cara berbahasa ala smurf sampai ke themesong serial animasinya, boleh-boleh saja dianggap garing atau serba annoying. Tapi itu justru sekaligus highlightnya. If you don’t like a thing about it, then just back off. Ada karakter smurf baru, namun pastinya bukan smurf psycho.
Visi yang didapat Papa Smurf (Jonathan Winters, pengisi suara asli serial animasinya) di Blue Moon festival, salah satu perayaan paling penting di tempat asal para Smurf, akhirnya terbukti kala Clumsy Smurf (Anton Yelchin) tak sengaja membuka jalan bagi penyihir Gargamel (Hank Azaria) ke dimensi mereka. Di tengah kerusuhan itu, Papa Smurf, Smurfette (satu-satunya Smurf cewek hasil kreasi Gargamel yang dulu di Indonesia dinamakan Smurfin, disuarakan penyanyi Katy Perry), Grouchy (George Lopez), Brainy (Fred Armisen), Gutsy (Alan Cummings) dan Clumsy Smurf terjebak ke sebuah gua rahasia yang mengharuskan mereka melompat ke pusaran raksasa yang kemudian mengantarkan mereka ke hiruk-pikuk New York. Gargamel dan kucingnya Azrael (Frank Welker, juga pengisi suara asli animasinya) lantas mengikuti para Smurf yang melarikan diri ke apartemen pasangan muda Patrick (Neil Patrick Harris) dan Grace (Jayma Mays). Patrick, pegawai sebuah perusahaan kosmetik pimpinan Odile (Sofia Vergara) yang tengah dikejar deadline iklan kemudian membantu Papa Smurf menemukan mantera untuk mendatangkan bulan biru agar mereka bisa kembali ke asal mereka, sementara Gargamel justru mendapatkan tongkat sihir bernama dragonwand sebagai jalan untuk menghabisi makhluk-makhluk kecil seterunya ini.
To some and mostly serious critics, Raja Gosnell boleh saja dianggap sutradara kacangan untuk sekedar urusan komersil-komersil belaka. Namun penelusuran penulis ‘Shrek’ 2 dan 3, David Stern dan David Weiss, bersama penulis ‘The Zookeeper‘ Jay Scherick dan David Ronn di bawah CEO Sony, Michael Lynton, yang merupakan penggemar Smurf sejak kecil jelas tak membawa karakternya jauh dari yang ada di komik. Gosnell yang sudah membuktikan visinya ke genre family movies juga membesut petualangan ini se-simpel komik yang memang jadi konsumsi anak-anak ini. Jadi naif sekali kalau penilaiannya harus memakai standar film-film serius yang mengutamakan plot, akting dan segala tetek-bengek filmis lainnya karena source aslinya toh bukan seperti itu. Dibalik semua kritikan pedas ala dewasa itu, mereka dengan efektif sudah bisa menuangkan penjelasan tentang smurf universe bagi pemirsa yang belum pernah menelusuri benar-benar komik atau animasinya, hanya dalam beberapa adegan dan line dialog, sampai ke asal-usul Smurfette. Cukup sekilas namun jelas. Overly childish, annoying dan slapstick-slapstick itu? Ya memang begitulah kreasi Peyo menggelar hiburan untuk pembacanya. Dan poin terpenting adalah bagaimana hasil tim CGI yang katanya bekerja keras selama 350 ribu jam lebih untuk menghidupkan para smurf ini ke layar lebar dengan treatment 3D yang lebih dijual ketimbang 2D-nya, which is very charming, trust me, serta, note this, how this could brighten your smile just like the comics did. Kedengaran kelewat segmental? Yes, it might be, tapi juga adalah suatu kenyataan bahwa sejak kita semua pasti sudah tahu bisa sejauh mana adaptasi karakter komik anak-anak terkenal ini dibawa. Just unlock that childhood side of yours kalaupun sudah merasa kelewat dewasa untuk mencintai smurf-smurf yang sekali waktu dulu pernah menghias masa kecil Anda, and you’re going to love it. As for me, I smurf these smurfs and this is Smurf! (dan)
danieldokter.wordpress.com
DON'T BE AFRAID OF THE DARK : JENGLOTS IN THE BASEMENT
Bersama ‘The Debt’-nya Sam Worthington, horor terbaru produksi Guillermo del Toro ini sempat mengalami penundaan rilis atas status akuisisi Miramax dari Disney ke perusahaan investor baru bernama Filmyard Holdings. Padahal, trailernya yang hadir menjelang penghujung tahun lalu sudah banyak mengundang ekspektasi, apalagi, remake dari film teve berjudul sama di tahun 1973 ini merupakan ambisi pribadi del Toro yang begitu menyukai kengerian yang ada di film aslinya, meski ia menyerahkan kursi penyutradaraan pada Troy Nixey, pelukis komik ‘The Matrix’ yang baru menghasilkan satu film pendek, ‘Latchkey’s Lament’ (2007). However, ini adalah horor-nya del Toro, yang punya atmosfer beda dengan horor biasanya. Persepsi seram ke sebuah horor kuno mungkin sekarang sudah bergeser dengan trend horor Asia yang merebak sampai ke Hollywood. Rumah ala kastil kuno, makhluk menyeramkan dengan karakter ala film-film horor Vincent Price zaman dulu boleh jadi tak terasa se-menakutkan seperti era -70an dulu, tapi siapa tahu. Deretan sukses del Toro termasuk di ‘The Devil’s Backbone’, ‘Julia’s Eyes’, sampai ‘Pan’s Labyrinth’ yang lebih ke fantasi ketimbang horor itu, sudah membawa kembali suasana eerie yang mengedepankan set-set beratmosfer horor kuno rumah-rumah dengan basement, taman rindang, ornamen klasik dan efek spesial creatures-nya yang sangat berkesan gothic. So welcome to Guillermo del Toro’s world of horror.
Sebuah flashback tentang pelukis Emerson Blackwood (Garry McDonald) yang tengah diliputi ketakutan akan makhluk-makhluk kecil mengerikan di basement rumahnya dan mengorbankan pengurus rumah Miss Winter (Edwina Ritchard) untuk diambil giginya demi mendapatkan kembali anaknya yang ditawan makhluk-makhluk itu, mengantarkan kita ke karakter Alex Hirst (Guy Pearce), seorang duda pialang restorasi rumah kuno di zaman sekarang. Bersama Kim (Katie Holmes), desainer interior yang dipacarinya, Alex yang baru kedatangan putrinya, Sally (Bailee Madison), tengah merenovasi rumah Blackwood yang telah disegel puluhan tahun setelah insiden itu. Sally yang baru memulai adaptasi bersama Alex dan Kim dengan trauma karena merasa dicampakkan sang ibu mulai mendengar suara-suara aneh seiring ditemukannya basement rumah yang tersegel itu. Keingintahuan Sally akhirnya membawa kembali makhluk-makhluk mengerikan itu, yang telah menunggu lama dengan satu tujuan tersembunyi. Setelah mandor bangunan Harris (Jack Thompson) yang mengetahui insiden dulu menjadi korban, Kim akhirnya mati-matian berusaha melindungi Sally, sementara Alex menganggap semuanya hanya fantasi dari keadaan psikologis Sally.
Dimulai dengan opening scene yang gory, versi baru horor ini sudah dengan mantap menancapkan tajinya, tetap dalam koridor style del Toro yang seperti biasa, selalu remarkable. Bahkan nama Troy Nixey pun tenggelam seakan film ini dibesut oleh del Toro sendiri. Sebagian desain set-nya yang menggunakan properti ‘Pan’s Labyrinth’ ditambah sedikit polesan beda seakan ikut bicara membangun atmosfer gothicnya yang serba eerie bersama sinematografi Oliver Stapleton yang sudah berpengalaman membesut film-film berset kuno serta isolated (karya Stapleton diantaranya ‘Casanova’, ‘Ned Kelly’, dan ‘The Cider House Rules’). Iringan skor oleh Marco Beltrami juga terdengar semakin sinergis membangun suasana menyeramkan dibalik set itu. Namun adalah Bailee Madison, aktris cilik yang belum lama ini kita lihat dalam ‘Just Go With It’-nya Adam Sandler serta ‘Letters To God’ yang sangat berjasa membawa kengeriannya ke puncak. Madison yang punya wajah depresif dibalik gestur dan potongan poninya yang menggemaskan ini dengan sukses memerankan Sally yang penuh masalah, lengkap dengan kepolosan childish yang diwarnai gaya sok dewasa-nya. Katie Holmes juga menghadirkan akting cukup berbeda dari sederetan film-film kecilnya selama ini, sementara Guy Pearce, sayangnya dibatasi skenario untuk akting tipikal seorang ayah yang mencoba selalu terlihat realistis. Sinergisme ini bekerja dengan baik untuk menyelamatkan plot yang sekilas seperti punya plothole krusial namun sebenarnya terjelaskan meski kelewat singkat. So how about the CGI effects? Pastinya, del Toro tak akan meninggalkan kebiasaannya membesut makhluk-makhluk fantasi yang menyeramkan. The goblin-like creatures which they described as fairies, yang tersimpan cukup lama itu, menampilkan teknik CGI yang cantik dengan pergerakan dinamis, walau kesannya kelewat modern dan menurunkan tensi seram yang dibangun dengan meyakinkan sejak awal. Tapi bagaimanapun, seperti restorasi rumah kuno yang penuh perhitungan, Don’t Be Afraid Of The Dark sudah membuktikan sekali lagi visi fantastis seorang Guillermo del Toro. Some may called those hairy little creatures as fairies, while kids who just watched smurf may called it bad smurf. But with almost the same description, here in Indonesia, we named it Jenglot. Tapi tak usah khawatir, tak seperti ‘Jenglot Pantai Selatan‘ yang kebablasan dengan pameran paha dan dada, ini film Jenglot yang bagus. (dan)
danieldokter.wordpress.com
ABDUCTION : A LESSON TO LEARN
Let’s talk about Taylor Lautner. He’s one of the highest paid teenage actor in Hollywood now. Mengawali karir sebagai bintang cilik diantaranya dalam ‘Cheaper By The Dozen‘ (oh yes, look at that dvd cover again and you’ll find him) dan ‘The Adventures of Sharkboy and Lavagirl‘-nya Robert Rodriguez, Lautner meraih puncak ketenarannya sebagai werewolf hunk, Jacob Black, dalam Twilight Saga. Sebagian boleh-boleh saja menganggapnya overrated dengan tampang eksotis dan postur sixpack penuh otot yang diperjuangkannya demi mempertahankan peran Jacob dalam ‘New Moon‘, di luar sejarah dirinya yang juga pernah jadi juara turnamen karate anak-anak. Namun kenyataannya, tak perduli seberapa kesalnya Lautner-haters itu, filmnya selalu dipenuhi teriakan histeris para penonton cewek-cewek belia. Sejumlah award berbasis viewers’ choices pun diraihnya dengan cepat, belum lagi gelar-gelar ‘most amazing bodies’ dari majalah People dan beberapa list sexiest man. So when you gained that level of popularities, body bagus dan punya kemampuan martial arts yang tak sekedar baru coba-coba, there are no better reasons than to push it to the top. Tahun ini, Lautner bersama ayahnya, Dan Lautner, juga mendirikan Tailor Made Entertainment, sebuah rumah produksi miliknya yang turut memproduksi debutnya sebagai calon bintang aksi baru. The young Bourne, some said. Kritik pedas yang menenggelamkannya ke rating terendah situs-situs film internasional? Ah, rasanya mereka tak bakal perduli. Penonton-penonton cewek itu tetap histeris melihat tampilan Lautner di depan layar, dan itu berarti kans besar bagi sebuah perolehan box office. Let’s bet. Selain dwilogi akhir Twilight yang masih bakal muncul dalam waktu dekat, tak perduli dengan pukulan kritikus ke film ini, Lautner pasti bakal terus muncul lagi dalam sejumlah film aksi atau bahkan franchise-franchise superhero. ‘X-Men:First Class’ awalnya sudah mengkastingnya biarpun akhirnya batal. Ain’t it right?
Abduction pun dibuka dengan hingar-bingar dunia remaja menuju sebuah pesta. One of those boys, Nathan Harper (Lautner) lantas ditonjolkan ke depan mata kita sebagai karakter utamanya. Ia punya ayah, Kevin (Jason Isaacs), yang kerap melatihnya beladiri dengan full contact, serta ibunya, Mara (Maria Bello) yang selalu jadi penengah. Then comes the oh. Nathan ternyata kerap berkonsultasi dengan psikiater dr. Geraldine Bennett (Sigourney Weaver) atas mimpi-mimpi buruknya yang berulang dengan visi sama, seorang wanita yang dibunuh lelaki bertopeng. Comes another oh, Nathan’s highschool crush, Karen Murphy (Lily Collins ; daughter of Phil Collins), yang suka ribut dengan pacarnya dipasangkan gurunya dengan Nathan dalam sebuah tugas kelompok, dan oh lagi, ternyata Karen adalah tetangga Nathan sejak kecil. Pengerjaan tugas itu lantas mengantarkan lagi oh lainnya, sebuah website anak hilang dimana mereka membuka sebuah gambar yang oh, mirip dengan Nathan kecil. Bocah itu bernama Steven Price. Nathan kemudian menyadari bahwa Steven dan dirinya memang sama oleh oh-oh yang lain, sebuah kaos bernoda yang oh, masih disimpan di basement rumahnya, dan Kevin dan Mara bukan orangtua kandungnya. Tepat saat ia meminta pengakuan, sekelompok teroris Rusia menyambangi rumahnya. Kevin dan Mara dibunuh, dan oh, Karen ternyata baru hendak memasuki rumah yang kemudian meledak. Nathan pun segera melarikan diri bersama Karen dibantu dr. Bennett yang menyadarkannya dengan oh-oh yang lain, sementara pimpinan teroris Rusia, Viktor Kozlow (Michael Nyqvist) serta agen-agen CIA dibawah komando Frank Burton (Alfred Molina) terus melacak jejak mereka. And another oh keeps coming their way.
Tentu tak ada yang salah dalam premis missing identity dalam sebuah film action. Ratusan bahkan ribuan film sudah berhasil menggunakan formula ini. Namun ‘Abduction’, oh, mind me for that sort of (might be) spoilers tapi trailernya yang terus terang, cukup seru itu, sudah membeberkan lebih dari 50% isi filmnya. Yang kemudian kita saksikan dari skenario karya seorang frontman band Stellastarr, Shawn Christensen, yang kabarnya dibeli dengan harga mahal oleh pihak produksi, adalah kisah dengan plothole lumayan berantakan di sana-sini. Sekilas tampak sebuah puzzle yang menarik, namun caranya membeberkan hint seperti pendongeng yang seketika membuka oh-oh dan ternyata-ternyata-nya dengan ketololan tingkat tinggi lebih ke penggalan-penggalan dialog ketimbang gelaran adegan penuh twist yang membiarkan penontonnya menyusun satu demi satu potongan. Dan tak hanya itu, beberapa karakter yang muncul di sela oh-oh tadi pun suka pupus entah kemana. Entah mengapa produser-produsernya termasuk sutradara yang sudah punya nama besar John Singleton bisa terlihat percaya sekali dengan kekuatannya sampai merencanakan Abduction menjadi sebuah trilogi ala Bourne dengan gembar-gembor mereka di beberapa press release. So it’s broken already, masih ada faktor jualan yang lain.
Of course it’s Lautner’s persona of an upcoming Hollywood’s action hero. Sayang ini juga hadir dengan ketololan cukup tinggi. Otot gede dan tampilan Lautner yang ngotot melakukan banyak stunt-nya sendirian memang cukup meyakinkan, termasuk koreografi aksi pertarungan yang bagus. Tapi ia tak punya ekspresi yang salahnya paling dibutuhkan dalam film-film berfondasi twist seperti ini. Boro-boro mau menyaingi Matt Damon atau Daniel Craig yang menomorsatukan akting dalam membangun intensitas imej mereka secara seimbang sebagai action hero, bahkan action hero lain yang lebih menonjolkan otot tanpa akting bagus, apa yang kita lihat kemudian jauh lebih parah dari itu. Lautner terus muncul seperti seorang coverboy yang tengah berpose merem-melek untuk tak sekalipun kelihatan jelek difoto. Oh ya, Lautner mungkin tahu sekali saja ia membuka kancing lebih, berbaju super ketat sampai bertelanjang dada seperti senjatanya dalam Twilight, semuanya sudah beres. But he’s wrong. Bahkan soundtrack serba emo yang mengesankan ini adalah film remaja tak bisa kelihatan sinergis dengan style mati-nya itu. Lily Collins pun kurang lebih sama. Ketimbang mencoba menyamai karakter yang sebenarnya digelar dengan potensi lebih, ia lebih memilih jadi boneka barbie yang seakan terus berekspresi ‘what?’, ‘what?’, di sepanjang durasinya. Komponen antagonisnya yang terlihat seseram instalmen ‘Die Hard ’pun ikut tersisih jadi terlihat tak penting. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan Abduction, meski tak terlalu banyak, justru adalah banyaknya bintang senior yang mau-maunya tampil disini. Dari Jason Isaacs, Maria Bello, Alfred Molina, Sigourney Weaver sampai Michael Niqvist, aktor Swedia yang tampaknya bakal menyaingi Stellan Skarsgard atas kesukesan fenomenal ‘The Millenium Trilogy’ itu, plus Dermot Mulroney, yang meski hanya tampil sekilas dengan shot sebagian wajah, ekspresi dan intonasi dialognya benar-benar bagai langit dan bumi dengan Lautner. Ya begitulah. Bak-bik-buk-nya cukup lumayan walau klimaksnya tak dibesut lebih eksplosif. Tapi selebihnya, well, this might works for some young ladies, tapi harusnya mereka sadar, bahwa lebih dari 50% pemirsa film aksi bukan datang dari fanbase Twilight. A lesson to learn. (dan)
danieldokter.wordpress.com
THE SORCERER AND THE WHITE SNAKE : A CHINESE CLASSIC GOES MISCONDUCT
Berita yang sudah datang jauh-jauh bahwa Jet Li akan membintangi sebuah remake (ah, it’s not actually a remake tapi tepatnya re-telling) dari sebuah legenda klasik Cina, Legends of the White Snake, sudah melahirkan dua sisi ekspektasi yang berbeda. Pertama, bahwa sutradaranya adalah Tony Ching Siu-tung, sutradara dan koreografer laga terkenal yang sudah malang-melintang dari perfilman Hongkong, Cina hingga Bollywood (oh ya, kiprahnya di perfilman Amerika dengan film straight to dvd Steven Seagal, Belly Of The Beast, mari dilupakan saja). Di Hongkong dan Cina, Tony sudah menghasilkan sebaris film legendaris sebagai sutradara (diantaranya dua trilogi klasik A Chinese Ghost Story dan Swordsman) dan penata laga (this includes Hero, House Of Flying Daggers dan Shaolin Soccer). Aksi superhero Bollywood, ‘Krrish‘-nya Hrithik Roshan juga merupakan hasil koreografinya. Retelling baru ini kabarnya akan menampilkan porsi CGI gede-gedean bahkan dibesut dalam trend 3D. If that sounds like a highlight, satunya adalah sebaliknya. Bahwa judul yang dipilih adalah ‘It’s Love’, yang OMG, terdengar lebay meskipun pada dasarnya legenda klasik ini memang adalah sebuah lovestory. Untunglah akhirnya mereka memilih maju dengan titel baru, ‘The Sorcerer and the White Snake’, yang semakin menjelaskan bahwa mereka tak mau sia-sia memasang nama besar Jet Li sebagai satu dari empat karakter utama legenda ini, biksu Fahai the demon hunter yang sama legendaris dan pasti sudah dikenal semua yang tahu kisah ini. Selain dua produksi berbeda dari Shaw Brothers, versi terakhirnya tahun 1993 yang disutradarai Tsui Hark, menggunakan sudut pandang satu karakter lagi dan dibandrol judul sesuai itu, ‘Green Snake’, juga cukup punya nilai klasik, baik di barisan cast yang memasang Vincent Zhao, bintang laga yang menggantikan Jet Li di instalmen ‘Once Upon A Time In China’ berikut plot yang sedikit dibelokkan dari legenda aslinya. So then comes the official poster, yang jelas-jelas hanya menonjolkan si biksu. Oke. It’s Jet Li anyway, dan kita pasti paham sekali alasannya. Dalam konteks jualan, mau tak mau ya sah-sah saja.
Iblis-iblis yang dalam legenda ini dipercaya sejak dulu hidup berdampingan dengan manusia sebagai binatang jadi-jadian dan siap menunggu kesempatannya menggoda, harus berhadapan dengan seorang biksu bernama Fahai (Jet Li) bersama murid kepercayaannya, Neng Ren (Wen Zhang) serta sebarisan pasukan yang siap menangkap mereka untuk ditawan ke pagoda suci di atas bukit tengah lautan. Namun dua siluman ular berusia ribuan tahun dengan kekuatan luarbiasa, Bai Suzhen/White Snake (Eva Huang) dan Xing Xing/Green Snake (Charlene Choi) yang hidup mengasingkan diri ke sebuah hutan tersembunyi tak bisa menahan keinginan mereka ketika Suzhen jatuh cinta pada Xu Xian (Raymond Lam), seorang herbalis lugu yang berniat mencari tanaman obat disana. Xing Xing pun mati-matian membantu Suzhen untuk dapat menikah dengan Xu Xian. Sementara Neng Ren yang berubah wujud menjadi siluman kelelawar setelah menjadi korban gigitan juga akhirnya dekat dengan Xing Xing, mau tak mau hubungan terlarang ini memancing Fahai untuk memisahkan mereka. Saat sebuah insiden membuat Xu Xian tertenung di kuil para biksu, Fahai harus menghadapi dua siluman ular dengan amukan Suzhen yang siap menyapu seluruh kota dengan air bah.
Kesuksesannya di genre martial arts selama ini mungkin membuat Tony Ching Siu-tung menjadi over-ambisius untuk menghadirkan retelling legenda klasik ini. Sentuhan koreografi aksi-nya yang hampir selalu remarkable itu masih tetap terlihat di beberapa sekuens yang diterjemahkan dengan silat klasik Jet Li, namun balutan CGI dalam tendensi sebuah fantasi 3D itu justru tampil dalam porsi kelewatan sehingga memberikan efek kanibalisasi bagi kepentingan plot dan bangunan empati penonton terhadap karakterisasinya. Terus terang, sebagian polesan CGI itu memang terasa luarbiasa untuk ukuran film Asia, apalagi treatment 3D-nya dibesut dengan gaya klasik seperti ‘Final Destination 5‘ barusan. Meskipun versi 3Dnya tak dirilis disini, kita bisa merasakan excitementnya kala pecahan batu, hempasan air bah, kepakan sayap kelelawar serta adegan penuh efek lainnya seakan sengaja diarahkan tepat ke muka. Tampilan binatang-binatang mungil CGI-nya juga diset dengan atmosfer dongeng penuh kemegahan bak sebuah animasi Disney. Sebagian cast-nya pun terasa pas bersama cameo-cameo bintang terkenal mulai dari Vivian Hsu, Miriam Yeung, Lam Suet dan Chapman To yang sama menariknya.
But noted too, efek ular raksasanya kadang seperti unfinalized CGI yang tak jauh beda dengan sinetron-sinetron legenda lokal kita, dan kesalahan ‘A Chinese Ghost Story’ versi baru (A Chinese Fairy Tale) yang belum lama ini hadir kembali terulang di tangan Raymond Lam yang sama sekali tak punya kharisma untuk jadi the leading man dalam part romance-nya. Chemistrynya dengan Eva Huang yang sangat ekspresif malah diterjemahkan Raymond seperti orang tolol. Kembali ke plot dan karakterisasinya, legenda klasik yang seharusnya punya pesan bijak di batas tipis kebaikan dan keburukan oleh nafsu itu pun jadi mentah bukan dengan gambaran abu-abu, namun hitam putih yang berubah-ubah secara cepat dan kelewat ekstrim dalam tendensi membangun keberpihakan pemirsa pada karakternya yang serba tak jelas. Chemistry White Snake dan Green Snake yang harusnya jadi bagian terpenting itu juga lenyap entah kemana. Belum lagi ketika skenario Charcoal Tan yang dipenuhi dialog ekstra cheesy itu seketika berpanjang-panjang menggelar preach-nya terlalu terus-terang seakan mendengarkan kuliah relijius, dan lantas meninggalkan kita dengan romance mendayu-dayu yang sempat terpenggal-penggal sebelumnya demi sederet adegan aksi. Bahkan themesong bagus berjudul ‘Promise’ gubahan komposer Choi Jun Young yang dinyanyikan sendiri oleh Eva Huang dan Raymond Lam tak lagi bisa berbuat banyak. Ini mungkin masih sedikit lebih baik dari ‘A Chinese Fairy Tale’ namun secara keseluruhan, semua sisi lebihnya benar-benar diluluh-lantakkan oleh ambisi overblown yang serba tak sinkron. Too bad. (dan)
danieldokter.wordpress.com
KILLER ELITE : KILLER CAST, ELITE ACTION
No, this is not Sam Peckinpah-James Caan-Robert Duvall’s same titled remake. Bukan juga action vehicle ala Jason Statham biasanya. Di luar sebagian cemoohan terhadap karirnya yang makin solid sebagai action hero, Statham cukup pintar memilih peran variatif walau pada dasarnya tetap tak jauh-jauh dari action. Meski bukan produksi UK seperti film terakhirnya, ‘Blitz’, ‘Killer Elite’ yang banyak menggamit sineas Inggris dan diproduksi di Inggris dan Australia ini punya pakem sedikit sama dalam hal nostalgiknya. Setnya di tahun ‘80an yang berangkat dari novel ‘The Feather Men’ besutan Sir Ranulph Fiennes, seorang mantan SAS (Special Air Service), salah satu pasukan elit Inggris paling terkenal di dunia dengan semboyan ‘Who Dares Wins’ dibalik logo Excalibur-nya, sekalian menekankan style old fashioned-nya. Sebuah film aksi berlatar intrik politik dengan cast gede yang banyak sekali mampir di era ’70 –‘80an dulu. So you’re not in the right seat, bila datang dengan ekspektasi serba hi-tech ala ‘Transporter’. Don’t dream karena satu ponsel pun tak terlihat disini. Tapi bila Anda menggemari kisah-kisah intrik spionase pasukan-pasukan elit, atau sudah kangen dengan tampilan Robert DeNiro yang belum tentu sekali setahun muncul dengan senjata gede di tangannya dalam sebuah film aksi, this is your treat.
Sebuah misi para pembunuh elit di Mexico yang berujung kekacauan membuat seorang mercenary, Danny Bryce (Jason Statham) membulatkan niatnya untuk pensiun. Namun kehidupan damainya kembali terganggu saat agensinya kembali dengan sebuah misi yang tak bisa ditolaknya. Pasalnya, sang mentor, Hunter (Robert DeNiro) tertangkap di Oman atas pelariannya setelah menerima uang sebesar 6 juta dollar AS. Bryce pun kemudian mengetahui kalau misi Hunter adalah untuk menghabisi tiga orang mantan agen SAS atas permintaan seorang Sheik yang dendam karena tiga putranya jadi korban dalam sebuah pemberontakan. Bryce harus menuntaskan misi itu, atau Hunter akan dieksekusi. Dua rekan lamanya, Davies (Dominic Purcell) dan Meier (Aden Young), plus Jake (Michael Dorman), agen pemula, direkrut untuk membantunya. Bryce akhirnya menyadari dasar penolakan Hunter bahwa misi yang bakal melibatkan organisasi bayangan bernama ‘The Feather Men’, mantan elit SAS yang bersumpah saling melindungi merupakan jalan buntu bagi keselamatan mereka, termasuk kekasih Bryce, Anne Frazier (Yvonne Strahovski). Sekarang, mereka harus menuntaskan misi itu sambil terus dibayang-bayangi oleh mantan agen SAS yang tak kalah tangguh dalam menjalankan tugasnya, Spike Logan (Clive Owen). Sementara segudang intrik siap menghadang. And nothing is what it seems.
Meski tetap menggunakan style action gaya Statham yang serba keras, ‘Killer Elite’ dibangun dengan fondasi mantap dari sebuah true story penuh intrik politik dan spionase. Bedanya dalah minus teknologi dan efek serta durasi yang tak sampai dibuat menonjolkan adegan full contact-nya secara berlebihan, namun lebih ke intensitas yang terbangun dari kejar-mengejar antar karakternya. Sebuah old fashioned action yang elit dan tak sekedar bak-bik-buk tanpa juntrungan. Dan Gary McKendry, sutradara nominator Oscar 2005 untuk sebuah film pendeknya berikut sejumlah iklan yang baru memulai debut layar lebarnya disini, memanfaatkan semuanya dengan baik. Plot penuh intrik spionase hingga politik namun tak sampai bergulir non-linear dipaparkan secara rapat dalam bangunan ketegangan yang cukup efektif. Set-nya yang banyak menggunakan lokasi-lokasi nostalgik di Inggris bersama mobil-mobil jadul juga tampil cukup akurat sesuai zamannya. Namun tentu yang muncul paling ke depan, terlebih bagi kebanyakan penonton awam, justru bukan hal-hal filmis diatas, tapi susunan cast-nya yang serba killer itu. Tak hanya trio Statham-Owen-DeNiro yang muncul dengan chemistry dibalik intensitas aksi mereka yang terbagi rapi, Dominic Purcell dan Aden Young sebagai Davies dan Meier juga mampu mencuri layar lewat karakter sidekick-nya. Selagi para penonton pria akan menyukai adrenalin dari intrik dan tampilan para tough guy yang saling berseteru ini, I believe, penonton wanita pun akan sulit melewatkan nama Statham dan Owen dalam barisan castnya. A truly killer combination, dan sekeren tagline-nya, ‘May The Best Man Live’. (dan)
danieldokter.wordpress.com
THE THREE MUSKETEERS : BRAINLESSLY ENJOYABLE NEW PACK
Coba tanyakan ke anak-anak sekarang. Kenal atau tidak mereka dengan ‘The Three Musketeers’ atau authornya, Alexandre Dumas. Dalam line-up literatur klasik dunia yang dulu sempat jadi bacaan wajib orang-orang yang sempat tumbuh besar di tahun ’70an ke ‘80an dengan sebuah seri komik terbitan Gramedia Pustaka bernama ‘Album Cerita Ternama’, yang merupakan kombinasi terjemahan dari komik-komik serial Eropa, ‘Classics Illustrated’, ‘American Westerns’ karya Karl May serta legenda klasik India, Three Musketeers ini adalah salah satu yang paling terkenal. Istilah literatur dunia itu memang bukan sekedar gaya-gayaan, karena hampir ke belahan dunia manapun Anda pergi, termasuk Jepang yang kemudian menggusur popular knowledge itu dengan serbuan komiknya ke Indonesia, semua orang pasti tahu kisahnya. Bahkan ‘Slumdog Millionaire’ sudah menjelaskannya. Sekolah paling darurat di kawasan kumuh India sana pun mempelajari kisah ini dalam kurikulum formal, yang kemudian menjadi pengetahuan umum wajib yang ditanyakan di kuis ‘Who Wants To Be A Millionaire’-nya. Bukan mau cerewet, but trust me. Ketika anak sekarang lebih tahu karakter komik Jepang ketimbang literatur dunia dengan ratusan nama-nama penulis terkenal, that’s something we should be ashamed of.
‘The Three Musketeers’ lahir dari negaranya, Perancis, lewat sebuah novel berjudul ‘Les Trois Mousquetaires’ karya Alexandre Dumas di tahun 1844. Kisah para pengawal raja yang menggunakan pistol panjang beramunisi mesiu jaman kuno (musket) itu mencampur fiksi dibalik timeline sejarah asli mereka, dengan empat karakter legendaris, Athos, Porthos dan Aramis, tiga musketri (yup, ini bahasa baku Indonesia untuk musketeers), dan d’Artagnan, bocah muda yang akhirnya bergabung bersama mereka menyelamatkan kudeta penuh intrik terhadap raja. Motto para musketeer itu, ‘All For One, One For All’, juga muncul jadi istilah sama legendaris dengan kisahnya. Versi filmnya pun sudah berulang kali muncul, mulai dari film bisu, hitam putih sampai serial televisi, animasi dan ripoff-ripoff-nya. Namun ada tiga instalmen yang paling dikenal. Yang pertama, versi semi musikal yang dibintangi aktor musikal Gene Kelly (1948), dwilogi Three dan Four Musketeers yang dibintangi Richard Chamberlain, Michael York bersama sebarisan bintang terkenal di jamannya (1974), plus tentunya, versi back to basic family adventure Disney 1993 yang dibintangi Kiefer Sutherland-Charlie Sheen-Chris O’Donnell, yang semakin klasik dengan kolaborasi Bryan Adams-Sting-Rod Stewart di themesong ‘All For Love’. Setelah itu masih ada unofficial sequel ‘The Man In The Iron Mask’-nya Leonardo diCaprio, serta ‘The Musketeers’ yang menggabungkannya dengan kungfu ala Asia-nya Tsui Hark. Bukan hanya plot yang setia ke novelnya, tapi ada satu pakem yang kerap jadi typical image ke adaptasinya. Selain ensemble cast para musketeer ini yang perlu dijagokan, namun lineup para villainnya, Kardinal Richelieu dan algojonya Rochefort, plus cewek manipulatif Milady De Winter, justru harus lebih atau sama dengan pemeran Three Musketeers.
Sekarang adalah gilirannya Paul W.S. Anderson, sineas yang terkenal lewat franchise ‘Resident Evil’ dan tentu saja, Mr.-nya Milla Jovovich. Tetap berjalan di jalur hi-tech ala videogame, Anderson ternyata tak mau ikut arus dengan trend reboot dengan prekuel fiktif untuk menuju aslinya. Ia melangkah ke wilayah yang jauh lebih gila dengan garis besar plot asli yang tetap dipertahankan. No, bukan berarti musketeers itu akan melawan zombie atau alien, tapi dengan kreatif Anderson memasukkan unsur steampunk yang serba modern diatas timeline klasik yang sedikit direka ulang namun tak sampai mengobok-obok keseluruhannya. Ada swashbuckling dalam tradisi pirates movie, acrobatic walkthrough ala ‘Tomb Raider’, infiltrating act ala ‘Mission:Impossible’ sampai sky raids air balloon yang eksplosif luarbiasa dalam balutan 3D. Dan desingan mesiu musket-musket sebagai unsur dasar term musketeer yang biasa tertinggal oleh pedang-pedangan kini tampil seimbang ke depan. Whoa!
Setelah dikhianati oleh Milady De Winter (Milla Jovovich) yang bekerja sama dengan Duke of Buckingham (Orlando Bloom) dalam sebuah usaha pencurian cetak biru proyek rahasia dari museum Leonardo da Vinci di Venesia, tiga musketeer, Athos (Matthew Macfayden), Porthos (Ray Stevenson) dan Aramis (Luke Evans) harus menghadapi keputusan kerajaan Perancis yang tahtanya jatuh ke Louis XIII (Freddie Fox) yang masih ingusan, untuk membebastugaskan kesatuan ini. Ternyata, kekacauan pemerintahan itu digagas oleh Kardinal Richelieu (Christoph Waltz) yang punya rencana licik untuk mengkudeta sang raja muda dengan bantuan Duke of Buckingham. Seluruh musketeer diperintahkan Richelieu untuk dihabisi di bawah komando anak buahnya, Kapten Rochefort (Mads Mikkelsen). Athos, Porthos dan Aramis kemudian secara tak sengaja bertemu dengan d’Artagnan (Logan Lerman), putra seorang mantan musketeer yang ambisius ingin melanjutkan karir ayahnya dan menantang mereka. Namun keadaan berbalik begitu d’Artagnan mendapati dirinya berada di tengah perlawanan para musketeer terhadap Rochefort. Didorong oleh Ratu Anne (Juno Temple) yang tengah menjajaki perjodohannya dengan Louis XIII yang juga terkesan dengan perlawanan mereka, empat musketeer ini kembali diangkat menjadi pengawalnya. Bersama kecurigaan Ratu Anne yang mengirim Constance (Gabriella Wilde), pengawalnya yang menarik perhatian d’Artagnan, mereka kemudian mencium rencana busuk Richelieu yang ternyata juga bekerja sama dengan Milady yang ingin mengambil keuntungan lain atas rencana Richelieu memfitnah Louis XIII dengan pemindahan perhiasan Ratu ke istana Buckingham di Inggris. Namun Duke of Buckingham yang sudah berhasil membangun armada perang modern diatas balon udara juga tak tinggal diam.
Oke, line up pemeran d’Artagnan, Athos, Porthos dan Aramis (Macfayden, Stevenson dan Evans) mungkin tak terlihat se-wah dan berkualitas big stars versi 1993. Theme song ‘When We Were Young’ yang dibawakan Take That juga bukan tak bagus, namun masih jauh dari kehebatan trio Bryan Adams-Sting dan Rod Stewart di versi 1993. Tapi Jovovich’s Milady yang jadi menyeruak paling ke depan setangguh superhero dibalik kostum ala victorian-nya, duet Christoph Waltz-Mads Mikkelsen sebagai Richelieu-Rochefort dan Duke of Buckingham-nya Orlando Bloom yang kini diplot lebih jadi villain utama yang sejajar dengan karakter Richelieu dan bergaya swashbuckling ala Jack Sparrow, really are something. Gelaran action bersama efek spesial serba modern-nya juga tampil sangat menarik dibalik highlight 3Dnya yang meski tak terlalu mewah tapi tak jatuh ke kelas film-film konversi. Anderson memang kelihatan asyik sekali membuat racikan baru atas kisah aslinya sampai menggamit teknologi Da Vinci serta menyindir culture gap bahasa para musketeer yang dalam film-filmnya tak pernah berbahasa Perancis dengan karakter-karakter Inggrisnya. Begitu juga pemeran-pemeran yang di-set buat tampil ke depan tadi. Semuanya kelihatan terlalu asyik bermain-main dengan karakternya, baik Jovovich maupun Bloom yang sepertinya sudah lama menginginkan perannya di franchise ‘Pirates Of The Caribbean’ bisa muncul sekuat nyelenehnya Jack Sparrow. Fun it might be, kita semua mengerti, apalagi jualan Jovovich sebagai primadona yang notabene istrinya sendiri. Tapi ada satu efek kanibalisme terpenting yang justru menimpa karakter terpenting yang harusnya tanpa kompromi boleh dibiarkan mundur selangkahpun. So begitulah, di barisan para musketeers, hanya Lerman yang karakternya sedikit mendapat ruang untuk digali lebih. Selebihnya, memang lebih menonjol buat ber-action ria tanpa pendalaman karakter, dan parahnya, tertinggal pula di adegan-adegan aksi menuju klimaks yang seharusnya menghadirkan empat tokoh paling utama dalam kisahnya bersanding bersama tak hanya buat menyatukan pedang menyerukan ‘All For One, One For All’. Yup, Anderson memang sedikit kelewatan melepaskan fantasi gilanya bak anak-anak yang sesuka hati menyusun action figure pujaannya, hingga lupa yang dibesutnya adalah kisah klasik yang begitu melegenda mengusung judul karakter-karakter penting tadi. Dan sepertinya, kegilaan itu bakal semakin naik lagi di sekuel yang kemungkinannya sudah jelas-jelas tergambar disini. This is The Three Musketeers comes in a whole new Anderson’s pack. Brainless, but fun. (dan)
danieldokter.wordpress.com
SIMFONI LUAR BIASA : HEARTS THAT CREATE A HARMONY
Here’s a little story. Being in a music school when I was a kid, I joined the students ensemble in a program called Bina Musika. Tak hanya dari sekolah musik itu, ensembel yang seperti orkestra mini ini juga berkolaborasi dengan mahasiswa sebuah universitas musik negeri sampai murid-murid asing dari Belgia, negara asal pemilik sekolahnya. Selain kompetisi, sesekali kami juga mengadakan konser persahabatan ke sekolah-sekolah musik di daerah lain. Until once, konser persahabatan itu diadakan di sebuah SLB (Sekolah Luar Biasa) di Padang Panjang. There I asked my late mom, yang juga aktif bersama yayasan sekolah musik itu di tugas-tugas sosial, salah satunya di YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat), yang sekarang lebih diperhalus dengan sebutan kebutuhan khusus (special needs), setelah menyaksikan konser yang digelar oleh SLB tadi. Tak hanya penderita retardasi mental yang sekarang dibedakan dengan penderita autisme, tapi juga penderita cacat fisik dari tunanetra, tunarungu bahkan anak-anak tanpa kelengkapan organ tubuh, mereka memainkan partitur musiknya dengan begitu indah. Bahkan tanpa cacat. It was her answer that I kept in my heart until now. That you might not need skills or else. As music is the most universal language, you just need sense to create its harmony. So then it hit me back when I saw a movie trailer. Film berjudul ‘Simfoni Luar Biasa’, yang kabarnya muncul dari inspirasi seorang Delon Tio setelah menyaksikan seorang konduktor dari sebuah ensembel musik di Cina, yang pemainnya semua adalah orang-orang dengan kebutuhan khusus ini. Bahwa disabilitas bukan halangan untuk sebuah persembahan. I might love Christian Bautista’s music dari budaya pop Filipina yang mendewakan sekali lovesongs tahun 80-90an, but most of all, these brought the memory of mom, when we watched that beauty of harmony together. Now let’s go to the movie.
Kegagalan demi kegagalan usahanya menjadi musisi terkenal di negara asalnya membuat Jayden (Christian Bautista) menyerah pada keinginan bibinya (Maribeth in her guest appearance) mengirimkan Jayden ke Jakarta untuk tinggal bersama sang ibu (Ira Wibowo) yang tak lagi dikenal Jayden sejak ia kecil atas permasalahan di keluarga mereka. Disana, ia harus beradaptasi dengan keluarga barunya termasuk adik tirinya, Carissa (Valerie Thomas), dan sekolah untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus yang dikelola ibunya. Jayden yang mengundang perhatian saat menyanyikan lagunya di sebuah kelas membuat kepala sekolah, ibu Rinjani (Ira Maya Sopha) meminta pertolongannya mengajar musik disana. Awalnya tak mudah. Meski didukung oleh guru olahraga (Stanly Saklil) dan Laras (Gista Putri) yang menarik perhatian Jayden, pertentangan dari seorang guru yang juga mantan penderita disabilitas, Pak Dimas (Verdi Soelaiman) membuatnya menyerah. Namun saat melihat anak-anak paduan suara bernyanyi di sebuah taman, niat Jayden berubah. Ia kembali ke anak-anak itu dan melatih mereka menjadi ensembel choir untuk diikutsertakan dalam kompetisi regional. Keinginannya awalnya ditentang ibu Rinjani yang tak mau memberi tekanan pada murid-murid, tapi ketika Jayden berhasil menemukan bakat luarbiasa pada dua leadnya, Zaky (Octavian K Putra), anak dari sebuah keluarga yang kurang memberinya perhatian, dan Amelia (Paramitha Pradestina), putri seorang ibu single parent (Sophie Navita) yang justru memberi perhatian berlebih, panitia kompetisi secara resmi mengundang mereka atas video yang diunggah Laras ke youtube. Menjelang kompetisi, sebuah masalah kembali datang dari orangtua Zaky yang membuat ibu Rinjani harus memilih antara Jayden dengan Zaky. Di saat kalah atau menang tak lagi jadi berarti, Jayden yang terlanjur mencintai anak-anak dengan bakat tersembunyi ini akhirnya memutuskan untuk kembali mengejar impiannya menjadi musisi di negaranya, tapi hatinya bukan berarti sama.
Sama dengan themesong dengan alunan indah yang ditulis Satrio Alexa dan menjadi hit single Bautista di Filipina, dimana filmnya juga diputar duluan dengan hasil cukup meyakinkan disana, ‘I’m Already King’, sebuah niat baik dari para pembesutnya juga sudah mencuri hati sejak trailer itu diluncurkan. An uplifting story yang sangat menggugah hati terhadap anak-anak dengan special needs dalam membangun suatu harmoni dibalik bahasa universal musik. Oke, Octavian yang memerankan Zaky mungkin memang sudah punya bakat musik dari grupnya yang bernama SuperKidz dan sudah punya basis fans di Jakarta, begitu juga Paramitha yang memerankan Amelia. Namun sebagian dari pemeran anak-anak ini memang diaudisi dari penderita disabilitas itu sendiri, berikut syuting yang dilakukan di sekolah asli YPAC. Dramatisasinya berjalan baik tanpa harus merengek-rengek seperti banyak film sejenis. As cliché-ness bukan harus jadi sesuatu yang ditakuti tapi disiasati, sutradara Awi Suryadi yang menulis skenario bersama Maggie Tiojakin plus editing Yoga Krispratama juga terlihat sekali berusaha menghindari klise-klise yang biasanya mengakhiri genre sama di sebuah konser dengan kemenangan gemilang dan berpanjang-panjang. Sempalan komedi cultural gap yang disempalkan ke tengah-tengah dramatisasi dan dialog tiga bahasanya juga cukup berhasil bersama pemilihan lagu yang kabarnya tak mudah mendapatkan izin termasuk lagu ‘Imagine‘ yang harus meminta langsung persetujuan jarak jauh Yoko Ono, juga dibesut dengan aransemen ala anak-anak yang cukup juara. Dan pastinya, barisan cast yang rata-rata bermain baik dengan notifikasi lebih ke Ira Maya Sopha, Gista Putri dan Verdi Soelaiman. Sophie Navita dan Stanly Saklil juga lumayan dalam part komikalnya. Christian Bautista yang baru memulai debut layar lebarnya di produksi kita ini mungkin masih terlihat canggung di beberapa adegan tapi penerjemahan emosinya sebagai seorang superstar debutan dalam dunia film tak lantas jadi over.
Namun bukan berarti Simfoni Luar Biasa/A Special Symphony ini tak punya kekurangan, bahkan diantaranya ada yang sangat mengganjal. Kita mungkin harus mengerti bahwa tetap, dalam sisi komersial jualannya sebagai sebuah produk, nama Christian Bautista yang diimpor jauh-jauh dari Filipina tak mungkin tersia-sia begitu saja. Namun pembagian dramatisasinya justru jadi sedikit blur antara konflik pribadi karakter Jayden dengan plot disabilitas anak-anak dengan special needs yang seharusnya bisa jauh lebih diselami lebih dalam ini, sama seperti saat kita ingin lebih tahu siapa pemeran semua anak-anak yang hebat ini dan latar belakang masing-masing dari search engine, yang kita dapat justru nama-nama artis terkenal pendukungnya plus Bautista sebagai titik nilai jualnya. Akibatnya, sebagian konflik yang sudah dimulai tak semua bisa terselesaikan dengan baik, beberapa turnover karakternya juga jadi sulit menghindari tampilan klise yang secepat kilat dan proses pembentukan ensembel serta penelusuran bakat musik mereka juga jadi serba terburu-buru. Sebagian emosi yang harusnya terbangun lebih baik juga sering hilang dengan skor yang terputus-putus di editingnya. But however, mari tak usah bicara jauh-jauh ke pesan moral ini dan itu. Sebuah disabilitas yang tetap bisa menciptakan harmoni, itu cukup. Along with its ups and downs, niat baik untuk mengangkat tema anak-anak dengan special needs dan usaha mereka yang tak berhenti untuk menggugah hati saja is already a king, dan patut mendapat apresiasi lebih. So let’s have a heart and watch it with the one you hold dear. May we all can be king in our own empire. (dan)
danieldokter.wordpress.com
CONAN THE BARBARIAN : A SHOW OF RAGE WITHOUT EMOTIONS
Pernah dengar genre swords and sandals? Atau sebagian lagi menyebutnya sword and sorcery? Ini sebenarnya genre yang belakangan secara filmis lebih sering digolongkan sebagai adventure atau action dalam kotak besarnya. Ada juga yang memasukkannya ke genre fantasi. But mainly, ini seperti myths and legends, yang memang bisa luas sekali rentang timeline-nya. Dari perang antar kerajaan seperti Romawi, gladiator, vikings hingga ke kisah-kisah mitos Yunani seperti Hercules, sihir-sihiran, bahkan suku-suku dalam timeline fiktif yang cukup banyak mendominasi genrenya dan tak jarang saling di crossover-kan seenaknya. Dulunya, di era 50-60an, genre swords and sandals ini sempat menjadi trend di perfilman AS sebelum akhirnya marak di Eropa dan produk kelas B hingga awal-awal tahun 80an. Nama-nama karakternya sering menjadi titel yang kedengaran bombastis seperti Ator, Hundra, Red Sonja, Kull sampai yang paling terkenal dalam genrenya, Conan. Karakternya sendiri merupakan ciptaan penulis Robert E. Howard di awal tahun 30an berjudul Conan The Barbarian yang belakangan muncul dalam format beragam mulai dari novel, strip sampai komik yang sempat juga dirilis Marvel serta Dark Horse dalam perkembangan ke depan yang tak lagi ditulis langsung oleh Howard. Dari sekian banyaknya variasi kisah-kisah Conan tadi, ada ciri khas berbeda yang justru terbangun oleh format komik-komiknya yang begitu melegenda di era 70an ke awal 80an, dimana kebanyakan komik menjadi konsumsi anak-anak. Komik-komik Conan dipenuhi kesadisan dan tampilan cewek-cewek seksi sebagai pendampingnya, bahkan sering menyiratkan sexual intercourse yang masih dalam batas komik dan tak eksplisit, namun sedikit lebih berani.
And so, dua adaptasi filmnya berturut-turut di tahun 1982 (Conan The Barbarian) dan 1984 (Conan The Destroyer) sempat terkenal sekali karena selain melambungkan nama binaragawan Arnold Schwarzenegger dan dipenuhi bintang besar seperti Max Von Sydow dan James Earl Jones, pembuatannya juga dimotori sineas-sineas terkenal seperti sutradara John Milius, Oliver Stone yang ikut menulis skenarionya serta produser Dino DeLaurentiis yang terkenal dengan blockbuster-blockbusternya. Namun ada satu yang hilang dalam arus trend genre fantasi masa itu. Tampilan cewek-cewek pendamping yang serba seksi dengan kostum minimnya tetap, tapi dua instalmen itu sama sekali menghilangkan kesadisan yang jadi salah satu bangunan komiknya. Instalmen ketiganya sempat ingin dilanjutkan oleh berbagai pihak lain namun kembali kandas. Satunya dialihkan menjadi adaptasi lain karya Howard, Kull The Conqueror yang dibintangi Kevin Sorbo, dan satunya gagal total karena Schwarzenegger keburu terpilih sebagai gubernur California. Proyek yang sempat berpindah-pindah dari Wachowski Brothers, Robert Rodriguez hingga Brett Ratner itu akhirnya jatuh ke tangan NuImage seiring copyrights kebanyakan karya Howard yang beralih menjadi public domain karena kegagalan claim. Sutradara Marcus Nispel, yang sudah lama malang-melintang di iklan dan videoklip akhirnya dipercaya karena kesuksesannya me-remake film-film horor klasik (The Texas Chainsaw Massacre dan Friday The 13th). Terpilihnya aktor teve Jason Momoa (Baywatch, Game Of Thrones) yang punya darah asli Hawaii bertampang eksotis dengan sorot mata tajam, tinggi besar dan berotot, semakin mengesankan bahwa Conan akan dikembalikan ke pakem yang selama ini diharapkan fansnya. Sadis dan tanpa ampun. So here comes the movie.
Bersetting awal di timeline fiktif karya Howard dengan narasi oleh Morgan Freeman, Hyborean Age, masa sebelum terbentuknya peradaban kuno, sekelompok penyihir dari Acheron membuat sebuah topeng dari tengkorak raja-raja yang diberikan darah putri-putri mereka yang dikorbankan demi kekuatan topeng itu menguasai dunia. Suku Barbar yang dipimpin oleh Corin (Ron Perlman) kemudian berhasil membunuh para penyihir Acheron, mengubur pecahan-pecahan topeng tersebut dan menyimpan satu potongannya agar tak ada yang bisa mendapatkannya kembali. Putranya, Conan kecil (Leo Howard), yang lahir langsung dari perut sang ibu yang terbunuh ketika diserang suku musuh, juga berkembang jadi bocah tangguh. Namun penyerangan yang dilakukan Khalar Zym (Stephen Lang), panglima perang ambisius yang berniat memiliki bagian terakhir topeng itu untuk menguasai Hyborea mengakhiri semuanya. Seluruh suku Corin dibunuh dengan sadis. Conan kecil dipaksa menyaksikan Corin mengorbankan diri demi dirinya.
20 tahun kemudian, Conan dewasa (Jason Momoa) yang masih menyimpan dendam terus menelusuri jejak Khalar Zym bersama sahabatnya Artus (Nonso Anozie). Dari Lucius (Steven O’Donnell), seorang penguasa Messantia mantan serdadu Zym yang ditaklukkannya bersama seorang pencuri, Ela-Shan (Said Taghmaoui), Conan akhirnya mengetahui bahwa Zym merencanakan penyerangan ke sebuah biara demi mendapatkan darah keturunan murni Acheron dari seorang biarawati, Tamara (Rachel Nichols). Sebelum Zym dan putrinya yang seorang penyihir kejam, Marique (Rose McGowan) menangkap Tamara yang melarikan diri, Conan lebih dahulu menyelamatkannya dan menawan kaki tangan Zym, Remo (Milton Welsh) yang juga ikut membunuh ayahnya dulu. Conan akhirnya mengetahui bahwa Zym memerlukan kekuatan topeng itu demi membangkitkan istrinya yang dibunuh oleh para biarawan. Dalam penyerangannya, Conan berhasil dilukai Marique dan Tamara yang mulai terlibat hubungan dengannya tertangkap. Dengan bantuan Ela-Shan, Conan kemudian menerobos kastil Zym untuk menyelamatkan Tamara sekaligus menuntaskan dendamnya. Namun Zym juga sudah berhasil memperoleh kekuatan topeng itu dari darah Tamara.
Seperti sebuah resep masakan modifikasi, Conan versi terbaru ini memang masih belum terasa punya racikan yang benar-benar pas. Di satu sisi, duo penulis Thomas Dean Donnelly dan Joshua Oppenheimer yang baru saja menghadirkan Dylan Dog yang serba tanggung itu tampak cukup berhasil mengembalikan Conan ke tampilan asalnya yang kasar dan kejam. Meski memunculkan banyak karakter baru termasuk Khalar Zym dan Marique, sebagian bangunan plotnya juga membawa feel yang sama ke komik-komiknya, lengkap dengan love interest cantik tapi tak lemah (dalam Conan-nya Schwarzenegger, Sandahl Bergman muncul dengan ketangguhan penuh namun melupakan tampilan cewek cantiknya), part para budak, pencuri, biarawan kuno serta penyihir. Dari 15 menit opening sequence yang sangat menggebrak, adegan aksinya dipenuhi darah bermuncratan yang mengesankan sisi dewasanya bersama adegan nudity dan sex scene antara Conan-Tamara yang sebagian dibabat LSF (meski nudity dengan tampilan nipples para budak itu lepas dengan mulus). Sosok Jason Momoa dengan tubuh kekar dan sorot matanya juga pas sekali menerjemahkan gambar-gambar dalam komiknya, plus Rachel Nichols yang punya wajah klasik inosen yang mirip sekali dengan bomseks Eropa tahun 70an, Sydne Rome.
Namun di sisi lainnya, kekurangan lain juga agaknya hadir hampir sama banyak. Selain subplot yang terlalu padat meninggalkan karakter potensial seperti Ela-Shan dan Artus jadi sekedar lewat dan intensitas fight sequencenya dibesut dengan emosi naik turun, beberapa efek spesialnya juga tak kelewat spesial. Dialognya? Ah, terdengar terlalu modern untuk setnya yang kuno, yang juga Cuma sebatas lumayan. Parahnya lagi, Stephen Lang sebagai main villain yang digambarkan menyeramkan kelihatan melembek sampai ke bagian-bagian akhir. Milton Welsh sebagai Remo yang makeupnya lebih mengerikan dari Lang pun begitu. Jauh dari Rose McGowan yang masih cukup lumayan dipoles sebagai Marique namun sayangnya tak dimaksimalkan oleh skenarionya. Dan ini yang terpenting. Di luar sosok tegap dan sorot matanya, Momoa juga kelihatan belum bisa menyiratkan kharisma yang benar-benar penuh terhadap karakter legendaris ini. Arnold Schwarzenegger mungkin punya ekspresi dan intonasi tak pas dibalik otot gedenya yang cocok, tapi kharismanya sebagai tokoh utama berjalan dengan baik. However, if you do read and love the comics, ini jauh lebih mendekati aslinya ketimbang Conan-nya John Milius. Sama sekali bukan adaptasi yang mengecewakan secara keseluruhan dengan kelebihan dan kekurangan yang hampir berimbang. Sayang pihak Parkit sebagai pemegang hak impornya di Indonesia enggan membeli versi 3D-nya. Meski lagi-lagi produk konversi, fighting sequences dengan darah bermuncratan itu pasti akan terasa lebih wah dalam format 3D. (dan)
THE HANGOVER PART 2 : GET STONED ONCE AGAIN!
Charlie Chaplin memang seorang legenda, kita semua tahu itu. Tapi apa reaksinya menyaksikan perkembangan film komedi sekarang, kita tak akan pernah tahu. Judd Apatow mungkin jadi pionir di film-film komedi dewasa yang banyak dianggap cerdas dan dipuji-puji, tapi sesekali, pameran ketololan justru sangat enak buat ditertawakan. Toh ada racikan yang sama disana. Sickjokes, meski dalam porsi sedikit berbeda. Yang jelas, komedi adalah komedi. Mau white, black, warna lain atau apapun Anda menyebutnya, hanya ada satu tujuan utama di luar sempalan yang lain termasuk pesan moral sekalipun. Memancing tawa. Sekarang terserah Anda, hal macam apa yang bisa mengocok perut Anda. But I believe, lebih dari separuh penonton di seluruh dunia masih akan akrab sekali ke racikan primitif yang serba kasar. Kalau perlu dengan porno-pornoan sekalian. Dan The Hangover yang membuat gebrakan di tahun 2009 sudah menunjukkan itu dengan rekornya sebagai komedi ber-rating R terlaris sepanjang masa. Biar kadang suka aneh, piala bergengsi Golden Globe untuk film terbaik kategori musikal-komedi pun disabetnya. Dengan racikan yang serba aneh di barisan castnya, dimana Bradley Cooper dan Justin Bartha yang lebih ke face-actor ketimbang komedian, Ed Helms dari The Office yang bukan juga komedian yang populer-populer sekali, bisa berinteraksi luarbiasa dengan dua makhluk konyol Zach Galifianakis dan Ken Jeong yang langsung melambung. Oh ya, sutradaranya memang punya catatan bagus dari Road Trip yang hampir sama kasar serta Old School yang lebih mild tapi sama gilanya. So there goes a sequel, dalam wilayah paling aman. Mengulang kembali racikan powerful yang mencetak rekor tadi. Sah-sah saja, apalagi dengan resepsi pasar yang lagi-lagi mengantarkannya ke rekor komedi rated R terlaris sepanjang masa mengalahkan predesesornya. But anyway, please, ini jangan dijadikan pembelaan terhadap komedi kita, ya. Itu beda lagi kasusnya.
Dua tahun kegilaan Vegas memang sudah berakhir. Namun rencana pernikahan si dokter gigi Stu (Ed Helms) dengan gadis Thailand, Lauren (Jamie Chung) di sebuah resor disana adalah sinyal yang sudahlama dinantikan sahabatnya, Phil (Bradley Cooper) dan Doug (Justin Bartha). Batas yang ditarik tegas oleh Stu agar tak lagi mengulang kesalahan mereka toh akhirnya luntur juga, tak perduli meski Phil dan Doug didampingi keluarga serta adik Lauren, geek lugu Teddy (Mason Lee ; putra sutradara Ang Lee dalam peran debutnya) yang tengah mengambil gelar dokternya di AS. Apalagi, Alan (Zach Galifianakis) yang sekarang sudah jadi adik ipar Doug akhirnya diajak walau Stu sudah wanti-wanti atas tingkahnya yang sering jadi biangkerok. Maka terbangunlah Stu, Phil, Alan dengan hangover parah di sebuah motel kumuh tak dikenal di tengah keramaian Bangkok tanpa ingatan jelas. Satu-satunya yang diingat mereka hanya hangout kecil di pinggir pantai malam sebelumnya bersama Teddy, yang kini hilang entah kemana. Yang ada, seekor simpanse serta gangster Leslie Chow (Ken Jeong) yang mendadak sontak juga ada disana bersama potongan jari manis Teddy. Alan kehilangan rambutnya dan sebuah tato asli bertengger di pelipis Stu. Doug pun ternyata tak ikut-ikutan karena kembali lebih cepat ke kamarnya di malam sebelumnya. Chow sebagai satu-satunya yang bisa dimintai keterangan malah tumbang. Tak ada jalan lain bagi Stu, Phil dan Alan untuk menelusuri lagi satu-persatu ingatannya sambil melacak keberadaan Teddy dengan kegilaan mereka, kalau perlu berurusan dengan para mafia Rusia, bhiksu-bhiksu sampai dunia prostitusi ladyboy Thailand. Sementara, pesta pernikahan sudah hampir digelar dengan calon mertua (Nirut Sirijanya) yang sejak awal sudah tak menyukai Stu.
Count them all. The wedding party going berserk, ada. Karakter-karakter gila yang kembali terbangun dengan hangover dan kehilangan ingatan, ada. Karakter yang mendadak raib entah kemana, ada. Petualangan gila yang melibatkan para mafia di tengah hiruk-pikuk sebuah sin city, hewan, cameo Mike Tyson, sampai biang kerok-biang kerok yang sama, vulgar nudity lagi-lagi dengan Ken Jeong yang gemar sekali memamerkan anunya, semuanya ada. Yup, pengulangan itu memang lebih banyak daripada hal baru yang ditawarkan. Paling cuma ada tambahan car chase seru sebagai penekanan ke sisi blockbuster-nya. Selebihnya, kurang lebih sama saja. Namun set sin city yang kali ini dipindahkan dari Las Vegas ke Thailand yang serba eksotis, jelas sudah membangun sebuah adventurous trip yang berbeda. Tapi tak mengapa. Karena Todd Phillips sudah begitu yakin dengan senjata di balik gelaran plot yang serba repetitif tadi. Malah, intensitas kegilaan dalam tendensi memancing tawa itu justru semakin meningkat. Batalnya cameo Mel Gibson yang ditentang banyak crew serta Liam Neeson yang juga dicut Phillips dan akhirnya diganti Nick Cassavettes pun tak lagi jadi masalah ketika sickjokes yang dibangun Phillips dengan porsi berlebih itu benar-benar bisa sekali lagi jadi highlight yang sangat ultimate mengocok syaraf tawa penontonnya.
Sekarang, mau menggelar dunia mafia, prostitusi ladyboy, bar-bar striptis, biksu teler sampai monastery para biksu yang cenderung penuh pelecehan, ternyata pemerintah dan badan turisme Thailand mendukung sekali semua yang ada di draft skenarionya dan dengan senang hati memberikan mereka izin syuting resmi. Jadi kenapa masih ada yang protes tentang ini-itu yang tak ditunjukkan dengan pas disana? Dan tentang serba-serbi ketidakwajaran di setiap guliran plotnya, kenapa begini dan kenapa begitu? Oh, c’mon, ini adalah sebuah komedi yang dari sananya memang digagas dengan tendensi serba ngaco. The point is, if you like sickjokes, terlebih yang serba terus-terang, then go get stoned once again! Menggerakkan otot muka dengan tertawa itu katanya jauh lebih baik ketimbang ber-cemberut ria. Tapi jaga rahang pegal-pegal dan perut kram dari tawa terlalu gila yang bisa menjadi efeknya. Now that’s a warning! (dan)
danieldokter.wordpress.com
MASIH BUKAN CINTA BIASA : SEKUEL POTENSIAL YANG TAK MAKSIMAL
Sama seperti judul film pertamanya, Bukan Cinta Biasa, film besutan Benni Setiawan ini memang bukan drama komedi biasa. Ada feel yang beda dari penggabungan drama, komedi, musik sampai sentuhan-sentuhan reliji yang biasanya dibawa Benni dalam skenario tulisannya, dalam mengisi sub genre-nya sebagai sebuah family rom-com. Klise-klise dalam genre ini memang sulit dihindari secara ratusan bahkan ribuan film baik dari dalam sampai luar mengemasnya dalam packing mirip. Permasalahannya, karya Benni masih sering terasa tak konsisten dalam usaha menghindari tipikalisme skenario kebanyakan film kita. Konflik dalam premisnya boleh jadi menarik dan wajar-wajar saja, namun gelarannya ke dalam skenario masih sering tampil serba pincang dengan kesinambungan yang jauh lari dari kewajaran. Tapi begitulah. Ketika Anda cukup sukses membuat film dengan amunisi yang sangat bisa diandalkan, apalagi hasilnya secara komersial tak mengecewakan, sebuah sekuel tentu tak sepenuhnya salah. Toh semua kekuatan itu masih bersedia kembali, minus themesong Afgan yang terakhir punya masalah dengan Wanna B sebagai salah satu power utama di film pendahulunya.
Setelah bersatu kembali dengan Lintang (Wulan Guritno) dan putri cantiknya Nikita (Olivia Lubis Jensen), rocker insyaf Tommy (Ferdy Taher) ternyata masih juga tersandung masalah. Kali ini bukan anak perempuan, namun anak cowok urakan bergaya rocker, Vino (Axel Andaviar ; putra Ovy /rif) yang mendadak hadir ke dalam kehidupan mereka. Lintang dan Nikita yang awalnya menentang kemudian membiarkan Vino tinggal di rumah mereka sampai Tommy mendapat kejelasan dari ibunya, Voni (Aline Adita), yang dulu juga sempat punya hubungan dengan Tommy. Dibantu rekan-rekan se-band-nya di The Boxis (Joe P Project, Budi Dalton & Budi Arab), Tommy berusaha menaklukkan Vino yang beringas dan penuh masalah. Kalau perlu dengan kembali meminta pertolongan Ustad Jepret (Mucle) yang dulu memberinya pencerahan. Tapi masalah makin berkembang, apalagi Tommy yang merasa kedudukannya sebagai suami kian terancam di bawah bayang-bayang kesuksesan Lintang yang otoriter, sementara keinginannya untuk kembali sebagai vokalis The Boxis juga sama besarnya.
Meski mengulang konflik utama dalam film pendahulunya, awal-awal penyajian sekuel ini masih bisa tampil cukup fresh, dan justru semakin membuka banyak peluang ke bangunan komediknya. Selain Benni yang bisa menghandle feel yang tak jauh berbeda, amunisi andalannya dalam film pertama juga tetap tertata dengan baik. Ferdy Taher masih berakting santai membangun chemistry-nya bersama Olivia dan Wulan, serta tentunya Joe dan dua Budi yang celetukan-celetukannya makin jenaka itu. Porsi Joe P Project yang dibanding dulu sekarang makin mendominasi film-film komedi kita juga dilebarkan, dan ini bagus. Spontanitas komedinya yang juara hampir selalu bisa menyelamatkan sedikit film-film yang memasang namanya. Namun skenario yang juga ditulis Benni kelihatannya kelewat bertele-tele secara repetitif meneruskan konfliknya. Satu yang paling fatal dalam tendensi ini malah menekan jauh porsi karakter Olivia demi menampilkan Axel yang jadi tokoh baru namun kelewat annoying dan sulit memancing empati penonton ini. Axel mungkin mampu berakting secara wajar, namun adalah kesalahan skenario yang kemudian mengekspos konflik karakternya secara over sampai chemistry-nya ke Ferdi jadi berantakan. Salahnya lagi, ini tak hanya jadi miliknya sendiri, tapi juga merembet ke karakter Ferdy dan Wulan yang tampaknya kian keterusan dibumbui konflik demi konflik sampai reaksi-reaksinya terasa tak lagi wajar. Ini seperti kebanyakan film kita dimana sebentar karakternya bisa teriak-teriak tak karuan, sebentar lagi tanpa kewajaran jelas bisa melunak bukan main. Ketika Benni akhirnya bisa beranjak dari bagian-bagian yang berjalan kelewat melelahkan ini, Masih Bukan Cinta Biasa sebenarnya sudah bisa cukup bagus menggelar part dramatiknya yang kembali ke koridor awal dengan cukup menyentuh, termasuk juga sempalan reliji-relijian yang tetap dikemas dengan komedi. Namun lagi-lagi ia keterusan mempush-nya secara overly melodramatic hingga ke ending yang mungkin maunya tampil beda, with a little twist, tapi malah terasa janggal dengan adegan-adegan repetitif yang semakin berpanjang-panjang seperti menyalami satu-persatu banyak orang di sebuah barisan, sampai departemen editing pun tampaknya kehabisan nafas merangkainya satu demi satu. Dan tak juga bisa dipungkiri, kekuatan themesong Afgan di Bukan Cinta Biasa yang memang kelewat meresap di gambaran karakter-karakternya sulit terulang kembali disini lewat theme song baru yang dibawakan oleh Anya. Apa boleh buat, premis yang diawali secara menarik dengan power film pertama itu akhirnya tersisih oleh kelewat banyaknya konflik dan reaksi tak wajar dari apa yang digelar Benni ke keseluruhan plotnya. Sebuah sekuel dengan potensi besar yang sayang sekali tak dimanfaatkan secara maksimal. (dan)
danieldokter.wordpress.com
CAPTAIN AMERICA : THE FIRST AVENGER : HEART OF A HERO
Sama seperti salah satu slot komiknya, DC Versus Marvel, dua raja penerbit komik ini sebenarnya secara halus berseteru dalam persaingan mereka. But noted. DC bisajadi sangat bangga dengan Superman dan Batman yang jadi ikon teratas ketika kita menyebut ‘superhero’, tapi sejarah mencatat naik turun kesuksesan mereka jauh lebih sering terombang-ambing dari sang saingan. Sementara Marvel, dengan lineup utamanya yang kalau mau dihitung satu-satu lebih banyak menelurkan karakter legendaris ketimbang DC, mulai menapak semakin mantap di era milenium baru setelah status kebangkrutannya. Yeah, right. DC boleh menorehkan sejarah lewat Superman Christopher Reeve meski kendur di film ketiga dan keempatnya, pernah punya Batman Tim Burton sampai melahirkan trend baru pendewasaan genre superhero di Batman-nya Christopher Nolan yang lantas kepingin ditiru semua produser, termasuk franchise baru Superman yang belum apa-apa sudah jadi kontroversi. But face it. Asal Anda menganggap X-Men : The Last Stand sebagai sebuah mimpi buruk yang tak pernah ada, serta Hulk-nya Ang Lee cuma hype keterusan dari kejayaan Crouching Tiger, Hidden Dragon di Oscar, Stan Lee dan tim Marvel punya satu celah kekuatan yang tak dimiliki DC. Mereka tak sedang terus mencari-cari konsep dan mengekor-ngekor kesuksesan yang satu. Produknya juga hampir seratus persen tetap berkutat di komik klasik, ketimbang DC yang sudah lari ke konsep-konsep lain seperti novel grafis untuk mencari diversifikasi baru. Stands with each differences, visi Marvel membawa satu persatu karakter superhero-nya ke layar lebar dalam sebuah proyek impian yang sudah hampir sepenuhnya jadi nyata ke hadapan kita, The Avengers, tak perlu mengekor kesana kemari. Poin serta tendensi terhadap karakterisasinya tergelar dengan mantap, dalam benang merah sama namun style berbeda satu dengan yang lain. Whether you like it or not, inilah universe superhero sesungguhnya. Tanpa kompromi, dan mereka bangga dengan itu. Bahkan Kenneth Branagh yang membawa Thor ke wilayah baru tanpa pernah terbayangkan sebelumnya. Dan pastinya, termasuk Captain America : The First Avenger sebagai klimaks sebelum fusi para karakternya di The Avengers. Ini juga merupakan konsep yang benar-benar jempolan. Why be the last? Oh yeah. Mereka tak sedang sekedar mengadaptasi komik-komiknya yang lahir di era pencarian jatidiri rakyat Amerika di masa perang dunia kedua. Note this. Mereka sedang membeberkan pada kita, para pembaca, penggemar komik serta film-filmnya, bahkan orang-orang yang baru mengikuti franchisenya, kenapa Captain America layak menjadi pemimpin para superhero itu nantinya.
Penemuan sebuah pesawat di tengah reruntuhan salju di New York oleh para agen S.H.I.E.L.D. membawa kita ke era perang dunia tahun 1942. Dominasi Nazi dengan pimpinan divisi paranormalnya yang setengah sinting, Johann Schmidt (Hugo Weaving), dengan ambisius merebut sebuah kubus berkekuatan ajaib dari dimensi lain dan mengembangkannya dengan bantuan ilmuwan Dr. Armin Zola (Toby Jones). Sementara seorang pemuda ceking dan sakit-sakitan, Steve Rogers (Chris Evans) begitu berambisi diterima dalam pasukan militer AS seperti sahabatnya, James ‘Bucky’ Barnes (Sebastian Stan), kalau perlu dengan terus memalsukan identitasnya. Usaha Rogers akhirnya terdengar oleh Dr. Abraham Erskine (Stanley Tucci), ilmuwan pengembang serum ‘super soldier’ yang sebelumnya membelot dari Schmidt dan sekarang didanai multimilyuner Howard Stark (Dominic Cooper) untuk tentara AS. Walau ditentang pelaksananya, Kolonel Chester Phillips (Tommy Lee Jones) bersama agen Inggris Peggy Carter (Hayley Atwell), Erskine bersikeras bahwa ia menemukan sebuah kualitas lain dibalik ambisi Rogers. A big heart, yang bisa jadi makin baik dengan serum super itu. Fisik Rogers pun seketika berubah menjadi tinggi besar-berotot dan berkekuatan super, namun di saat yang sama Schmidt yang sudah melacak keberadaan Erskine mengirimkan agennya untuk menghabisi Schmidt. Alih-alih ikut dalam perang, Rogers malah ditugasi Senator Brandt (Michael Brandon) menjadi duta obligasi untuk dana perang AS dibalik kostum ketat dengan atribut superhero bernama Captain America. Rogers yang awalnya yakin dengan misi kebaikannya dengan cara apapun lama-lama jengah. Apalagi ketika mengetahui Bucky tengah ditawan oleh Schmidt. Dengan bantuan Carter dan Stark, ia menerobos masuk ke sarang HYDRA, organisasi teroris yang didirikan Schmidt untuk menyelamatkan Bucky serta ratusan tawanan lain. Misi ini berhasil dan Rogers menemukan kenyataan bahwa dengan serum yang sama sebelumnya, Schmidt telah beralih rupa menjadi monster yang menamakan dirinya Red Skull. Misi lain Rogers sebagai the real ‘Captain America’ yang telah berkembang menjadi ikon komik bagi rakyat Amerika berlanjut untuk sepenuhnya menghancurkan Red Skull bersama serdadu dan persenjataan kreasi Dr. Zola dari energi kubik ajaib itu. Stark dengan setia membantunya dengan inovasi persenjataan baru termasuk perisai vibranium, metal indestruktibel serta kostum baru, sementara Phillips dan Carter yang kian terlibat hubungan asmara dengan Rogers tetap mengatur strateginya. Dr. Zola pun berhasil ditangkap, namun sebuah misi finalnya terhadap Red Skull mengakhiri semuanya. Rogers tak punya pilihan selain menjatuhkan pesawat Red Skull ke tengah salju demi menjaga kehancuran umat manusia. For this is a summer blockbuster sekaligus part of pieces ke instalmen The Avengers, stay after the credits rolled. Ada hint dalam bangunan benang merahnya, dan this ain’t a spoiler but a highlight which everyone should be awared. Silahkan minta ke manajer bioskop untuk membiarkannya bergulir, biarpun Anda jadi penonton satu-satunya diantara penonton tipikal kita yang langsung beranjak keluar. You’ll watch the teaser trailer of that giant project!
Here’s the hint dari konsep cemerlang Marvel dalam penyatuan para superhero itu. Bahwa masing-masing tokohnya hadir dengan gambaran karakterisasi yang batasannya sangat jelas. Semua punya ciri khas sampai ke style filmnya sendiri, dan akan sangat menarik melihatnya senyawa jadi satu. Pemilihan sutradara tiap-tiap franchise terpisahnya pun digagas dengan perencanaan matang. Jon Favreau yang penuh konsep komedik dipasang buat Iron Man sampai Kenneth Branagh untuk membangun atmosfer kedewaan Thor dari sisi science. Now enter Joe Johnston, sebagai salahsatu keuntungan penggabungan Marvel dengan Walt Disney. Set superhero berlatar Perang Dunia II yang sebelumnya hadir di The Rocketeer-nya Disney yang underrated itu, kiprahnya di departemen efek spesial Star Wars sampai Indiana Jones, sampai family fantasy yang begitu melambung dalam Jumanji, Honey, I Shrunk The Kids dan tentunya Jurassic Park III, tentu membuat Johnston jadi pilihan pas yang sangat bersinergi dengan konsep Marvel membesut Captain America. Dari tiap adegan penting seperti never back down, holds a bomb dan line-line uplifting yang sangat ‘superhero’ untuk penekanan poinnya, kalau perlu menghadirkan sebuah icon-mocking dalam plotnya dimana kiprah Captain America di dunia nyata-lah yang melahirkan komik sampai merchandise lainnya, just like Disney’s Hercules, Johnston bisa menyampaikan maksudnya dengan jitu. Multiple shot plus CGI yang menampilkan Chris Evans mini itu tampil nyaris tanpa cacat, gelaran efek di adegan-adegan aksinya muncul dengan feel nostalgik ke film-film perang klasik, pilihan castnya pun tepat. Tak hanya Chris Evans yang bisa membuang jauh imej nakalnya sebagai Human Torch di franchise Marvel lain, Fantastic Four, Sebastian Stan sebagai sidekick abadi Captain America yang hidup mati terus di komiknya, Tommy Lee Jones, Toby Jones dan Dominic Cooper yang berlomba jadi scene stealer sampai sosok british Hayley Atwell yang tampilannya klasik sekali, semuanya juara. Skor yang dibesut Alan Silvestri juga terasa paling sakti dan catchy di semua instalmen The Avengers bahkan film-film Marvel lainnya, hingga feel lovestory seperti Thor yang kembali disempalkan dengan pas menjadi quote dialog di endingnya. Paling hanya cast The Invaders (dalam komiknya disebut The Howling Commandos), serdadu tim Rogers yang multi-ras yang sayangnya tak bisa tampil begitu menonjol di tengah durasinya yang memang sudah sedikit over dan Hugo Weaving sebagai Red Skull yang masih kurang maksimal di final showdownnya. Namun yang jelas, ini jauh dari Captain America versi teve-nya Reb Brown tahun 80an (bagian keduanya, Death Too Soon, dulu diputar untuk konsumsi bioskop kita) atau buatan low budget di tahun 90an yang meski setia pada komiknya tapi terasa kurang darah itu. Konversi 3D-nya? Ah, tak usah susah payah. Kecuali Anda tak tumbuh besar dengan device bernama ‘View-Master’, tambahan kocek itu memang tak akan banyak artinya. Sekali lagi, racikannya memang menunjukkan Marvel tak sekedar sedang mengadaptasi komik Captain America. Seolah sebuah election, mereka hanya sedang meyakinkan kita seberapa pantas karakter ini memegang leadership The Avengers. Rogers bukanlah seorang multimilyuner pongah, superhero dengan segudang masalah atau anak dewa pembangkang yang terusir. Ia hanya seorang manusia goyah dengan satu tujuan. And believe me, you’ll agree with it. This is their hero with a bigger heart! (dan)
danieldokter.wordpress.com
LIMA ELANG : A BEGINNING OF A KIDS ADVENTURE
Film anak-anak sudah semakin langka di Indonesia, itu ada benarnya. Namun sama sekali mati tidak juga. Sesekali kita masih punya sineas yang masih memiliki hati mau membuat film-film yang pasarnya memang tergolong susah ini, kecuali adaptasi novel atau memasang superstar anak-anak yang tengah bersinar. Di luar nama besar sutradara Rudi Soedjarwo dan mungkin bagi yang lebih mendetil memperhatikan kredit film, penulis Salman Aristo, Lima Elang tak punya kekuatan itu. Namun ia digagas dari sebuah niat baik yang didukung sepenuhnya oleh Kwarnas Gerakan Pramuka. Sebuah film anak-anak untuk menyambut ultah ke-50 Pramuka. Sebuah ekstrakurikuler SD dan SMP yang sangat mendidik, yang sayangnya jarang-jarang diangkat ke film kita. Terakhir, hanya Lima Sahabat (1981) yang dibintangi Septian Dwicahyo dan Benyamin S. Yang menyorot anak-anak Pramuka secara sedikit detil. Meski resepnya masih tak jauh-jauh dari trend Home Alone yang tak pernah padam, anak-anak menghadapi sekumpulan penjahat sebagai highlightnya, pemaparan tentang Pramuka dan pesan-pesan moral lainnya tak ditinggalkan begitu saja. Ini adalah film liburan yang pas sekali disaksikan bersama seluruh keluarga, apalagi yang pernah atau masih mengikuti pelatihannya semasa sekolah.
Kepindahan kedua orangtuanya ke Balikpapan dari kehidupan mereka di Jakarta membuat Baron (Christopher Nelwan) kecewa. Masalahnya, bersama-sama teman-temannya disana, ia memiliki klub mobil RC sebagai hobi yang sulit ia tinggalkan, apalagi sebuah kompetisi menanti mereka. Akibatnya, Baron jadi sedikit sinis dan introvert dalam beradaptasi di sekolah barunya. Tapi Rusdi (Iqbaal Dhiafkari Ramadhan), penggalang pramuka yang berambisi sekali menjadi pramuka terbaik yang ikut ke Jambore Nasional menganggap Baron adalah kandidat yang pas untuk direkrut ke dalam regunya dalam mengikuti perkemahan Pramuka tingkat daerah. Baron awalnya jengkel karena perkemahan ini berarti memupuskan niatnya liburan ke Jakarta untuk mengikuti kompetisi RC. Toh keinginan kedua orangtua dan gurunya atas siasat Rusdi tetap diikutinya dengan satu rencana dibalik itu. Bersama Anton (Teuku Rizky Muhammad), si gembul yang ahli api dan Aldi (Bastian Bintang Simbolon), si kecil temperamental yang diam-diam punya kemampuan renang), mereka mengikuti perkemahan itu. Tapi perbedaan tujuan akhirnya memisahkan mereka, berikut Sindai (Monica Sayangbati), pramuka perempuan yang juga kesal dengan kelompoknya. Saat Rusdi dan Anton yang berniat meneruskan usaha mereka menjadi korban penyekapan para penebang hutan liar, Baron baru tersadar atas niat tulus Rusdi menjadikannya seorang sahabat. Mengetahui dua temannya sedang dalam bahaya, Baron pun merancang usaha penyelamatan bersama Aldi dan Sindai. Kalah menang tak lagi jadi sasaran, tapi yang penting adalah sebuah persahabatan, dan kalau bisa, siap di saat kapanpun ada bahaya menghadang.
Usaha dari ketua kwartir Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH yang langsung turun sebagai produser eksekutif dengan tim khusus dalam supervisi teknis ke produksinya benar-benar membuat gambaran perkemahan Pramuka dengan games-games-nya terlihat cukup hidup sebagai balutan tema baru di film-film anak kita. Pilihan cast anak-anaknya juga pas membangun sebuah syarat mutlak di sebuah film anak yang baik, yang mampu memunculkan kepolosan anak ketimbang memaksa mereka berperan selayaknya orang dewasa seperti yang kebanyakan terjadi dalam sinetron kita. Mau di sisi menyebalkan atau menarik, masing-masing punya kualitas scenestealing dibalik tampilan polos yang sangat anak-anak. Ini adalah salah satu spesialisasi Rudy sebagai sutradara, dimana sekedar pemeran pendukung sampai figuran tak penting pun bisa tampil dengan wajar. Sebuah knowledge tentang makhluk hutan yang disebut Batutut (Bigfoot-nya Asia), sebagai salahsatu mitos yang ditakuti di hutan Kalimantan dan Sumatera, juga diselipkan secara cukup informatif dan menambah konfliknya jadi semakin menarik. Hanya ada satu kekurangan di storytelling yang agak terbata-bata membangun chemistry dan konflik dengan turnover karakter yang masih terasa kurang believable. Begitupun, dalam kemasannya sebagai kids adventure, intensitasnya sudah cukup menarik dengan kelucuan yang juga polos serta terjaga. Dan saat Rudy menghadirkan satu lagi kemampuan ekstranya dalam membesut ending yang cheerly, ia lagi-lagi membawa kita ke sebuah penutup yang jauh lebih besar dari filmnya sendiri. Apapun hasil perolehannya, semoga mereka tetap punya niat melanjutkan kiprah lima elang ini dalam petualangan selanjutnya yang lebih seru lagi, seperti masa kecil kita membaca novel-novel Lima Sekawan atau Sapta Siaga. Oh c’mon. Tak harus pernah jadi Pramuka seperti Rudy sendiri, Let’s have a heart, dan mari hargai niat baik untuk terus membawa pesan-pesan itu kembali ke masa kanak-kanak kita semua! (dan)
danieldokter.wordpress.com
KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP : SI KABAYAN KW2
Kalau ada yang bilang komedi slapstick itu menyepelekan logika, saya tak akan membantah. Memang seperti itu adanya. Komedi slapstick itu klise, itu juga benar. Orang ketabrak pintu kaca, orang terpeleset kulit pisang, kepala ketimpuk bola, ditampar sampai melayang dan muter-muter, mimik yang ditolol-tololkan, intip-intipan sampai komedi buang air, those are slapsticks. Plotnya juga biasa sama klisenya? Nah itu juga benar. Bahkan mau bicara yang legendaris sekali pun, pakem-pakem cerita orang kampung datang ke kota serta gap-gap yang sama seperti si jelek naksir si cantik, si kampung naksir si kota, dari jaman baheulak juga sudah begitu terus. Formula lain adalah menjual kekurangan. Orang jelek, orang kampung, orang aneh, kelewat gemuk atau kelewat kurus, banci-bancian dan sejuta kekurangan lain akan mendapat porsi eksploitatif paling gede. Jadi bulan-bulanan dengan satu tujuan. Memancing tawa. Tapi ingat satu. Bahwa slapstick tak harus berarti kacrut, kalau fondasi dan bangunannya benar. Menyepelekan logika boleh saja dalam sebuah komedi, tapi konteks memaksa orang yang tidak bodoh harus berpikir bodoh, itu tolol. Semua ada batasnya untuk bisa jadi believable. Inilah yang selalu jadi sandungan dalam banyak komedi slapstick kita, sama seperti tema-tema lain yang suka konflik dan reaksinya serba over. Maunya diramu dengan sempalan dramatis dengan skor musik yang entah apa maksudnya, atau dibesut dengan pesan-pesan dengan cara yang sama sekali tak masuk akal. Kalau setnya di dunia antah berantah dengan unsur fantasi, monggo, silahkan. Tapi ketika berhadapan dengan realita,ah, yang benar-benar saja. Silahkan membangun komedinya tanpa logika. Itu akan mengundang tawa. Tapi ketika seluruh plot dan pengadeganannya pun dibangun tanpa logika, that’s a meh! Kalau masih perlu contoh, tengok kembali Si Kabayan versi Kang Ibing atau Didi Petet. Atau komedi-komedinya Jim Carrey dan Adam Sandler. Atau Sex And Zero-nya Korea, yang lebih berhasil lagi meramu dramatisasi pas di tengah slapstick kacau-balau.
Tak ada jalan lain yang harus ditempuh Asep (Andhika Pratama), anak juragan kaya di Desa Endah Pisan selain melarikan diri saat dijodohkan ibunya (Lydia Kandou) dengan Enok (Pretty Asmara) yang bertubuh bomber. Bersama pamannya yang mengejar (Joe P-Project, credited as Drs. Joehana Sutisna), mereka kemudian bertemu dengan sekumpulan model yang kena protes warga desa di lokasi pemotretan. Asep yang menyelamatkan mereka dari kemarahan warga lantas jatuh cinta pada pandangan pertama pada Farah (Donita), salah satu model itu dan menawarkan pertolongan kala mobil mereka mogok. Perasaannya pun jadi kian dalam, sampai memberanikan diri merantau ke Jakarta untuk menyusul Farah. Gap yang muncul antara Asep yang udik dan taat agama dengan Farah yang menjalani kehidupan metropolisnya pun saling bertubrukan, namun usaha Asep yang tak kenal menyerah lama-lama meluluhkan juga hati Farah serta ibunya sendiri. Tapi masih ada satu halangan dari Brandon (Bertrand Antolin), mantan Farah yang terus mencoba kembali sementara Asep, meski sudah dibantu supir taksi (Polo) dan seorang nazir mesjid (Mucle) dan sang paman, tetap tak berani mengutarakan perasaan sebenarnya. Sementara Farah juga menyimpan sebuah rahasia dibalik kehidupannya yang serba glamour.
Kalau dalam sebuah modul blok kurikulum universitas, kata kunci dalam permasalahan konflik yang dihadirkan ini adalah ‘believable’. Seperti kebanyakan film-film kita yang tak pernah bisa beranjak dari plot serta karakter yang wajar, seperti itulah Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap ini sejak awal adegannya bergulir. Not believable. Keinginan Benni Setiawan sebagai penulis untuk membombastiskan celah konflik-konfliknya justru semakin ngaco seiring film berjalan, meskipun dialek serta bahasa Sunda yang muncul itu jadi nilai plus untuk membangun nuansa komedinya. Selain Andhika Pratama yang mau menggerakkan sejuta otot mukanya untuk kelihatan goblok dan udik bagaimana seriusnya pun tetap terasa terlalu ganteng sebagai ‘Si Kabayan wanna-be’, sempalan dramatisasi dalam penyampaian pesan reliji sebagai perwujudan produk film Lebaran pun jadi tak sinkron dengan skor musik yang (sok) bermellow-mellow dengan akting Donita yang terus merengek-rengek. Mau karakter Asep diganti dengan pelawak berwajah aneh sekali pun, ramuannya tak akan bisa bekerja membangun sebuah gap komedi yang baik. Lagi, ini adalah bukti dimana sineas penuh bakat, termasuk Lydia Kandou yang berdialek Sunda, tentunya, plus sutradara Indrayanto Kurniawan yang sebelumnya membesut Saus Kacang sebagai romcom yang terasa fresh dalam tema, mau-maunya berusaha mati-matian berinteraksi ke plot yang dari sananya sudah serba ‘not believable’ itu. Bakat-bakat ini memang sedikit mampu menyelamatkan beberapa sisi komedinya yang masih bisa mengundang tawa lebar bersama kiprah Joe, Polo dan Mucle, tapi keseluruhannya masih menunjukkan kecenderungan film komedi kita yang suka seenaknya saja memaksa penontonnya jadi ikut-ikutan berpikir setolol karakter-karakternya. Dan mencatut judul yang sedikit dipelesetkan dari salah satu film komedi situasi paling dibanggakan dari sejarah perfilman kita, ‘Kejarlah Daku Kau Kutangkap’ yang unggul di semua sisinya hanya karena ada nama besar Lydia disana? Well guys, that’s not wise at all. Not wise at all. (dan)
danieldokter.wordpress.com
TENDANGAN DARI LANGIT : A GOAL FOR THE HEART
Ketika kita disuguhkan sebuah family movie di masa-masa liburan, akan naif sekali kalau apa yang ada di harapan adalah kisah berbelit dengan twist yang njelimet. Cuma ada satu hal penting disini mau apapun yang menjadi plotnya, seberapa baik buruk pun penggarapannya secara filmis. Simply lovable. Seperti lagu yang catchy, seperti penganan yang lezat, satu kontak saja sudah bisa membuat kita dengan gampang menyukainya. Faktor cast, pembangunan karakter, tema yang membumi, itu hanya jadi faktor sampingan. Yang terpenting adalah komunikasinya ke penonton dalam membangun chemistry yang kuat dengan apa yang terpampang di layar. Ini memang wilayahnya seorang Hanung Bramantyo. Meski film-filmnya tetap mementingkan sinematografi yang artistik, ia tak pernah berandai-andai. Tak pernah lari kesana kemari agar penonton memutar otak memikirkan maksudnya. Seperti tipikal guru yang paling disukai muridnya, ia menyampaikan pesan dengan sebuah keakraban visual. Bukan merepet dan bukan diam, tapi berbuat. And so, sinema kita boleh punya segudang film tentang sepakbola, tentang mimpi yang dengan banyak usaha menjadi nyata, plot zero to hero, apapun. Namun klise-klise itu menjadi fresh ketika ditangani dengan komunikasi yang baik. Bersama produk-produk Hanung yang lain, ini adalah contoh sebuah produk pop yang baik. Penuh pesan, kalau perlu sedikit bombastis dalam pengadeganan, tapi bisa diterima semua lapisan dengan semangat inspiratif tapi tendensi hiburannya tetap mencuat. Dan ah, keberhasilan produser menggamit Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan yang dipampang gede-gedean di poster itu memang sebuah selling point, yang justru membuat tanggung jawabnya makin besar. Here it is, saat sebuah visual bisa menggugah, kita tak akan ribut-ribut lagi soal kekurangan lainnya.
Jauh di kaki gunung Bromo yang gersang dan penuh debu, kita dikenalkan ke karakter Wahyu (Yosie Kristanto dalam peran debutnya). Seorang remaja biasa yang punya bakat alam di dunia sepakbola amatir. Bakatnya dimanfaatkan oleh Hasan (Agus Kuncoro), makelar sepakbola amatiran di tiap pertandingan untuk mencari nafkah. Namun ayah Wahyu (Sujiwo Tedjo) menentang keras bakat putra satu-satunya ini atas sebuah trauma masa lalu yang belum pernah diketahui Wahyu sendiri. Ibunya (Yati Surachman) pun tak bisa berbuat apa-apa melihat Wahyu yang kerap dihajar ayahnya setiap ketahuan bermain bola. Sebuah lomba debat di kabupaten yang diikuti oleh gadis gebetannya, Indah (Maudy Ayunda) yang juga lebih menyukai Wahyu ketimbang Hendro (Giorgino Abraham) yang lebih dalam segala-galanya, membawa Wahyu pada pelatih tim Persema, Timo (Timo Scheunemann) yang lantas menyadari bakat alamnya dan mengajaknya ikutserta dalam tryout untuk masuk ke dalam tim. Lagi, sebuah insiden atas kesehatan lutut Wahyu menjadi penghalang, namun Wahyu akhirnya harus menetapkan pilihannya. Tak hanya antara Hasan dengan Persema, namun juga antara kecintaannya antara sepakbola dan Indah.
Zero to hero. Klise? Sudah jelas. Bukan hanya di part sepakbola, namun juga di konflik pertentangan dengan orangtua, sosok ayah yang kejam, trauma-trauma masa lalu, dan teen love story-nya, sampai pada kebetulan demi kebetulan dan akhirnya-akhirnya yang jadi syarat bangunan plot yang sulit dihindari untuk genre-genre seperti ini. Jadi dimana letak spesialnya? Rasanya tak berlebihan untuk menyebut semua faktornya untuk membangun suatu sinergisme dalam membangun ‘Tendangan Dari Langit’ jadi tontonan yang sangat lovable. Selain spesialisasi Hanung dalam komunikasi itu, skenario yang ditulis Fajar Nugroho menyajikan pemaparan konflik yang cukup padat dengan beragam karakter dan dialog-dialog yang menarik untuk penyampaian pesan plus kritik sosial dan persepakbolaan negeri ini, lengkap dengan warna kedaerahan yang down to earth dengan dialek-dialek pemerannya, tak seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah yang mengabaikan kepentingan latar ini. Ulasan singkat tentang gambaran medisnya pun sesuai porsi dan bukan lagi-lagi omongkosong penuh mitos. Selanjutnya, sinematografi Faozan Rizal yang tak ketinggalan membesut panorama Bromo yang eksotis dan masuk ke sebagian besar adegan pentingnya. Debu-debu gunung itu seakan ikut berbicara memberi kesan ke tiap penyampaiannya. Ini bukan Bromo yang diam, misterius dan mengerikan dengan segelintir karakter ayah penjual anak seperti di Pasir Berbisik, tapi sebuah gambaran keindahan alam yang membuat kita sesekali ingin ikut merasakan suasananya. Atmosfer pertandingan sepakbolanya juga tertangkap dengan detil yang cukup baik. Atau lihat adegan Wahyu berlatih dengan sang ayah sambil menunggang kuda di tengah debu-debu Bromo itu. Skor yang lagi, dibesut oleh Tya Subiyakto juga ikut membangun chemistry yang baik di setiap adegannya.
Terakhir adalah cast yang menerjemahkan karakter-karakter unik yang ada dalam skenario Fajar dengan Mrs Hanung, Zaskia Adya Mecca sebagai casting directornya. Sebagai debut, Yosie sama sekali tak tampil mengecewakan dalam menggambarkan semangat yang berkobar dalam karakternya. Chemistrynya dengan Indah (Maudy Ayunda) yang diletakkan di dasar perbedaan jauh pun sangat believable. Sampai karakter-karakter sampingan seperti tiga sahabatnya, Meli (Natasha Chairani), Mitro (Jordi Onsu) dan Purnomo (Joshua Suherman) yang menyempil dengan puisi-puisi lucu pun terasa begitu hidup bersama penjual warung yang berkonyol-konyol tapi memancing tawa. Karakter-karakter aslinya seperti Timo, Irfan, Kim dan Matias sang pelatih? Juga tampil apa adanya biarpun hanya dengan sepenggal ekspresi yang terasa jadi berarti. Namun ada tiga yang paling bersinar disini. Agus Kuncoro sebagai Hasan yang aji mumpung tapi tak menghalangi empati penonton terhadap sosok eksentrik dibalik kaki pincang dan topi baret-jaket militernya, serta dua aktor yang biasanya tampil over dengan gaya teatrikal, Torro Margens dan Sujiwo Tedjo namun disini bisa menggunakan style itu untuk karakter yang luarbiasa jadi highlight di tiap penampilan mereka. Kalaupun ada sedikit kekurangan adalah pemilihan lagu soundtrack dari Kotak yang tak terdengar terlalu bersemangat mengantarkan klimaks kemenangan Wahyu, namun tak juga terlalu mengganggu karena semua unsur yang menyatu dalam sinergi luarbiasa itu sudah bisa membuat semua penonton bersorak di adegan klimaks pertandingan singkatnya seolah benar-benar menyaksikan pertandingan bola bareng-bareng. This is a simply lovable family movie for this holiday, bahkan mungkin yang terbaik dalam gelaran film-film lebaran tahun ini. It’s simple and clear, fun and cheer, and goal! Bola itu pun masuk dengan gemilang ke gawang hati Anda. (dan)
danieldokter.wordpress.com
DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH : 'LOVE STORY' GOES TIME MACHINE
Semoga Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang sudah tenang di alam sana tak murka dengan adaptasi terbaru dari novelnya di tahun 1936 ini. Dibesut dengan biaya, kabar-kabarnya, entah benar atau tidak, 25 M, dengan barisan bintang-bintang senior sampai junior dan pembangunan set Ka’bah lifesize, Di Bawah Lindungan Ka’bah tak hanya mengkhianati esensi novel aslinya yang jadi literatur wajib Sastra Indonesia, namun juga dengan seenaknya menggubah adaptasi yang dicantukmkan jelas-jelas ‘based on’ itu dengan timeline asal-asalan. Apa yang hadir kemudian adalah seperti film terakhir Hanny R. Saputra, ‘Love Story’, tentang sebuah kasih tak sampai lengkap dengan kincir angin kayu raksasanya itu yang dipindah set saja. Kalau memang begitu kenapa susah-susah mencatut nama harta karun kesusasteraan kita itu? Tak hanya menodai karya aslinya, versi terbaru ini juga merusak adaptasi pertamanya yang dulu bermasalah di era pemerintahan Soeharto hingga diganti judul menjadi ‘Para Perintis Kemerdekaan’, yang cukup setia pada novelnya, dan baik pula secara filmis. Tolong jangan bela novel akan beda ketika diadaptasi ke film karena ada satu kata kunci yang harus ada dengan pencatutan nama ‘based on’ tersebut. Bukan hanya sekedar meminjam dialog, namun bahwa esensinya harus tertuang walau plotnya diubah sedemikian rupa. Ini tak lebih dari jualan kisah cinta Hamid dan Zainab sebagai bagian dari karya asli HAMKA yang dipoles dengan segala klise-klise bumbu lovestory terlarang akibat beda status sosial yang mengharu biru ala Indonesia (dan memang, catat, disukai penonton kita), ditambah sedikit bumbu dakwah untuk tendensi peredarannya di momen lebaran. Padahal, rencana awalnya banyak dianggap baik karena ada niat untuk memperkenalkan kembali karya-karya sastra kita yang sudah makin luntur ditelan zaman. Apalagi, masih tersisa sedikit keseriusan penggarapan dan ini yang selalu jadi masalah. Bagaimana aktor-aktris senior dan yang punya bakat akting luarbiasa bagus itu bisa diyakinkan untuk tampil superserius atas skenario yang sesungguhnya tak serius? Wallahualam. Allah knows best.
Berset di Padang tahun 1920an, oleh pasangan Haji Ja’far (Didi Petet) dan istrinya (credited as Widyawati Sophiaan), tempat ibunya (Jenny Rachman) bekerja, anak yatim Hamid (Herjunot Ali) sejak kecil disekolahkan hingga melanjutkan pendidikan agama. Otaknya yang cerdas dan pintar mengaji membuatnya jadi salah satu dari tiga lulusan Thawalib (sekolah agama) yang disegani disana. Namun ia tak bisa menahan hatinya untuk mencintai putri majikannya, Zainab (Laudya Cynthia Bella) yang tengah dijodohkan dengan Arifin (Ajun Perwira), putra Haji Rustam (Leroy Osmani). Zainab pun memiliki perasaan sama dengannya, namun keduanya sadar, status berbeda itu akan menyulitkan mereka. Hamid dan Zainab sama-sama memendam perasaan sampai akhirnya sebuah kecelakaan membuat Hamid seketika mendapat ilmu dari masa datang. Zainab yang nyaris tenggelam diresusitasinya dengan mouth to mouth ventilation sehingga selamat (Oh ya, silahkan bongkar semua sejarah medis bangsa ini dan tunjukkan satu bukti bahwa mouth to mouth ventilation yang di luar saja baru populer di era Perang Dunia sudah sampai ke Indonesia, di kampung kecil pula). Berteriaklah semua tetua agama dan penduduk kampung, walaupun Haji Ja’far mengaku Allah menjawab doanya untuk menyelamatkan Zainab melalui Hamid. Hamid yang memegang teguh agamanya terpaksa menerima hukuman. Ia diusir dari desanya, terpisah dengan sang ibu, dan kemudian bekerja di logistik stasiun kereta api. Beberapa kejadian mulai dari meninggalnya Haji Ja’far dalam perjalanan haji sampai ibunya yang meninggal setelah digambarkan batuk darah (yang ini boleh-boleh saja meskipun klise mengingat setnya memang di tahun 1920an dimana TBC masih jadi momok menakutkan yang sulit disembuhkan) membuat Hamid kembali ke desa itu namun belum lagi diterima. Hubungan terpendamnya dengan Zainab makin kompleks, apalagi istri Ja’far membujuknya mendekati Zainab agar mau dijodohkan dengan Arifin. Mereka berpisah lagi, dan kali ini Hamid berangkat ke Mekkah. Hanya ada satu surat di ambang keputusasaan Zainab yang dititipkannya pada sahabat Hamid yang berangkat haji tanpa tahu Hamid ada disana, dengan harapan bahwa Allah akan kembali menyatukan mereka.
Now I’m gonna tell you what’s not in the novel yang seharusnya menuangkan esensi Islami di tengah perjuangan para pemuda di daerah Minangkabau itu melawan penjajahan, lengkap dengan pandangan gender dan kesetaraan status. Jawabannya adalah hampir semua. Hanya ada nama-nama karakter, sebagian line dialog dan perbedaan status sebagai ganjalan sempalan kisah cinta tadi. Gambaran gender dari pandangan Islam hanya disiratkan lewat sebuah adegan singkat lomba debat yang entah iya atau tidak sudah disebut itu di tahun 1920an, dan penjajahan Belanda cuma ditunjukkan dari satu bos bule dengan tentara-tentara pengantar surat di daerah mereka. Aura relijius yang dalam novel digambarkan dari keteguhan mereka memandang Islam sebagai resepsi konflik-konflik yang ada hanya tertuang lewat kisah cinta yang dangkal. Selebihnya adalah cerita berbeda yang terasa sekali mengulang esensi kisah cinta terlarang dalam film Hanny terakhir, Love Story. Kalau Love Story terasa wajar karena setnya memang fiktif, apa yang ada disini justru jadi bombastis tanpa arah, kalau perlu dengan seenaknya melakukan turnover tanpa survei, salah satunya ya di adegan ‘mouth to mouth ventilation’ yang justru jadi pemicu konflik utamanya itu. This is that ‘Love Story’ goes on a time machine to 1920s. Masih ada yang lebih parah?
Jawabannya, ada. Dan itu terletak di dialog yang dipilih para penulis skenario bersama Hanny disini. Jangan lupa, bahwa set ini adalah Padang. Satu daerah dimana adat istiadat termasuk dialeknya termasuk unik karena masih dipegang teguh sampai sekarang. Menggunakan bahasa-bahasa Minang seperti wa’ang (kamu), duo (dua), dan lainnya, tanpa sama sekali ada dialek Minang, dan memilih bahasa baku ala novel menjadi pengantarnya, itu adalah suatu kekonyolan yang sangat-sangat mengganggu. Ini seperti bila Anda menutup mata dan hanya mendengar suara, apa yang kemudian terdengar tak lebih seperti film asing yang didubbing. Melewati batas 20 menit film bergulir, entah mengapa, sebagian pendukungnya termasuk Widyawati tapi bukan Junot dan Bella sebagai pemeran utamanya, mulai mencoba-coba menggunakan dialek meskipun tidak pas. Ini jadi tak konsisten secara, silahkan tanya ke orang Minang manapun yang masih merasakan hidup di zaman itu di kampungnya, apakah ada yang berbicara tanpa dialek tapi menggunakan bahasa daerahnya. Film aksi seperti Merantau saja lebih tahu perlunya dialek ini untuk menggambarkan latarnya. Saya jadi berpikir mungkin dalam syuting mereka disyut dua kali dengan dialek dan tidak kemudian dicampuradukkan dalam editing yang tak juga tampil rapi karena seringkali menghilangkan ekspresi dalam sambung-sambungan adegannya. Dan ini juga mengkaburkan karakterisasi dan aura relijiusnya sekaligus dengan sangat sukses. Kadang mereka terlihat seperti orang tangguh, tiba-tiba jadi bodoh tanpa alasan. Masih ada lagi yang lebih parah?
Jawabannya, ada, yaitu di pencitraan iklan sebagai sponsornya. Berkali-kali, bahkan belum lagi film memasuki masa putar 5 menit, sudah tampil kotak cerutu dengan merk Chocolatos terpampang jelas. Itu pun ternyata bukan cerutu, tapi sama dengan snack coklat yang kita konsumsi sekarang. Kasar tak kepalang. Setelah itu, ada adegan Hamid membeli kacang dengan mengatakan, ‘Kacang Garuda, duo’ dan belakangan muncul pula bungkus kacang Garuda yang sama dengan sekarang, namun dengan ejaan lama bertuliskan ‘Garuda Katjang Koelit’. Belum lagi obat nyamuk yang dibakar diatas bungkus Baygon yang lagi-lagi, sama dengan zaman sekarang. Saya tak tahu cuci otak macam apa yang dipaksakan pihak sponsor untuk pencitraan produknya ke pembuat film ini sampai mereka mau-maunya membuat iklan itu tidak lagi tampil terselubung. Astaghfirullah!
And so, Di Bawah Lindungan Ka’bah versi baru ini, saya malu menyebut karya besar itu sebenarnya dalam review ini, hanya menyisakan set yang lumayan cantik meski dengan dejavu kincir angin kayu di Love Story (mungkin ini propertinya Hanny), skor yang megah dari Tya Subiyakto meski strings latarnya sedikit plagiat, plus beberapa adegan yang memang sangat catchy. Salah satunya adalah tempat rendezvouz Hamid dan Zainab yang saling berbicara terhalang sebuah tembok kayu. Ini indah untuk menggambarkan hubungan terlarang secara puitis, paling tidak. Kalaupun mau menyebut satu lagi, adalah akting cemerlang dari para pendukungnya yang bisa menyelamatkan sedikit bagian pertengahan untuk mengalir dengan cukup runtut. Adegan Hamid melepas ibunya yang tengah sekarat dengan Junot yang menangis begitu lepas, itu hebat, kalau saja tak dirusak sedikit dengan editing yang tak rapi. Lagi-lagi, saya kembali bingung. Bagaimana bakat-bakat luarbiasa ini bisa dipaksa untuk menampilkan akting begitu baik di tengah skenario Titien Watimena dan Armantono yang terkesan asal jadi dan seenaknya itu. Forgive me for being this rude, tapi mencatut karya sebesar itu untuk jadi roman yang akhirnya jadi se-picisan ini, rasanya tak ada yang lebih tepat ketimbang mengusir Anda dari sebuah desa. (dan)
danieldokter.wordpress.com
FAST FIVE : AS ROCK AS A DIESEL CAN BE
I’ll bet, tak ada yang menyangka, bahkan Neal H.Moritz dan petinggi-petinggi Universal Pictures sendiri, bahwa The Fast And The Furious yang digagas buat sebuah cult beraroma drive-in movie dulunya akan berakhir menjadi franchise besar setelah gonjang-ganjing perseteruan Paul Walker dan Vin Diesel pasca kesuksesan film pertamanya. Keputusan mereka untuk maju terus tanpa Diesel dengan pengumpulan kocek tak main-main akhirnya menyadarkan Diesel atas kekeliruannya lebih mengejar franchise lain yang ternyata tak se-berharga ini. Puncaknya, film keempat dimana Diesel pulang kampung secara penuh, Fast And Furious, semakin meledakkan spirit franchise ini untuk berjalan terus dan terus. Karakter-karakternya pun terus bersemangat untuk kembali, dengan tambahan yang tak kalah dahsyat juga. Jadi tak usah heran, saat kekuatan itu sudah melambung sedemikian tinggi, ide-ide baru untuk melanjutkannya ke tahapan berikutnya tentu muncul dengan sendirinya. Kalau perlu, dengan memutar balik timeline kesinambungannya bahkan dengan memunculkan kembali karakter lamanya secara bertahap. Sounds so soap opera? Nanti dulu. Sampai ke film kelima dengan sedikit bonus scene after end credits yang tak boleh terlewat, boleh saja Anda merasa plot demi plot itu dipaksakan, tapi kadar menariknya, tampaknya jauh lebih dari itu. Ini adalah sajian summer blockbusters yang benar-benar eksplosif dengan segala resep racikannya!
Yang namanya perampokan, dengan skill mengemudi luarbiasa yang dimiliki Brian O’Conner (Paul Walker) dan Dom Toretto (Vin Diesel) plus Mia Toretto (Jordana Brewster), jelas tak pernah cukup. Kali ini, usaha mereka membebaskan Dom yang secara tak sengaja menempatkan jagoan-jagoan ini ke jalan buntu atas kedigdayaan kingpin obat bius di Rio de Janeiro, Brazil, Hernan Reyes (Joaquim deAlmeida), terpaksa membuat mereka merancang rencana lebih lagi. Satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan mengumpulkan dreamteam yang terdiri dari Han Seoul-Oh (Sung Kang), Roman Pearce (Tyrese Gibson), Tej Parker (Ludacris), Gisele Harabo (Gal Gadot), Tego Leo (Leo Calderon), Rico Santos (Don Omar) bahkan Vince (Matt Schulze), mantan rekan Dom yang awalnya sempat mengkhianati mereka. Tujuannya adalah mempecundangi Reyes, keluar hidup-hidup sambil mengantongi target 100 juta USD. Namun selain Reyes, ada sandungan tangguh lain yang harus mereka hadapi, agen DSS Luke Hobbs (Dwayne ‘The Rock’ Johnson) bersama petugas lokal Elena Neves (Elsa Pataky), yang mati-matian berjanji meringkus mereka sekali buat selamanya.
Masih dengan resep sama, gebrakan aksi eksplosif sejak menit awal film bergulir diikuti aksi demi aksi yang lebih lagi menuju klimaksnya, franchise ini seakan mendapat semangat dan kekuatan baru dari The Rock yang diikutsertakan sebagai lawan para jago tadi. Tampil berimbang dengan postur, tampang dan ketangguhan serba mirip, perseteruan The Rock dan Vin Diesel tampil ke depan sebagai highlight utama pengembangan Fast & Furious, dan skenario besutan Chris Morgan serta sutradara Justin Lin benar-benar tak menyia-nyiakan amunisi ini. Tak heran, Morgan sebelumnya sudah menulis franchise ketiga dan keempat Fast & Furious, mengantarkannya ke kesuksesan berlanjut hingga terlihat tahu jelas dimana harus meledakkan bagian-bagiannya. Di luar adegan duo yang rasanya pantas meraih nominasi best fight MTV Movie Awards tahun depan ini, semua tetap berjalan di jalur biasanya. Adegan aksi yang menggelegar, chemistry yang semakin, semakin padu dari karakter-karakternya, score dan musik menghentak, pameran canggih-canggihan sekaligus hancur-hancuran mobil serta tentu saja dialog-dialog cheesy yang bukan kelihatan tolol namun justru terasa begitu padu dengan bangunan plotnya. Ini adalah racikan yang pas, tapi kalau saya dipaksa harus menyerahkan satu saja piala untuk petualangan Dom dan Paul yang kelima ini, saya akan dengan mudah menyerahkannya bagi siapapun yang memberi lampu hijau untuk mengkolaborasikan dua kepala botak temperamental dengan otot besar itu. With five times the fast and five times the furious, it’s as Rock as a Diesel can be, and they’re both ROCKS!! (danieldokter.wordpress.com)
SOMETHING BORROWED : UNEXPECTED MISFITS
Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah luar tentang kecenderungan film-film luar memakai bintang yang tak begitu punya tampang, tapi mengutamakan akting mereka. Oh, ini dari zamannya Robert DeNiro kita sudah tahu. Tapi ada satu poin penting buat jualan disana. Sebutlah, when they put actress like Maggie Gyllenhall atau aktor siapalah, yang penampilan fisiknya bukan ala Keira Knightley atau Keanu Reeves, sebatas mediocre kalo tak mau dibilang buruk, dalam sebuah komedi romantis, yang justru punya salah satu selling point menjual fisik. Bintang dengan fisik tak terlalu bersinar ini, justru bisa menciptakan suatu kedekatan pada penonton, sehingga akhirnya mereka masuk ke dalam kategori ganteng seperti dewa, atau cantik seperti malaikat. Dipuja-puja. However, how they act, counts. Now enter Ginnifer Goodwin. Rasa-rasanya, lebih banyak yang setuju kalau secara fisik ia adalah ugly duckling. Tapi peran sentralnya sebagai karakter yang sama, underdog, di tengah begitu banyak tampilan bintang-bintang cantik di He’s Just Not That Into You, membuat film itu jadi menarik sekaligus dirinya menjadi pusat perhatian penonton. And so, tak ada alasan untuk tak membawanya lagi ke genre yang sama.
Something Borrowed yang diangkat dari novel best seller karya Emily Giffin ini pun punya pakem rom-com klise yang rata-rata sudah kita lihat dalam sejumlah wedding rom-com. My Best Friend’s Wedding adalah satu diantaranya. Poin novelnya tentang sebuah pencarian cinta, jati diri dan etika persahabatan, bisa jadi memang selalu memberikan pesan berharga buat hidup. But then again, sebuah adaptasi bisa berhasil, atau bisa juga tidak. Apalagi kalau diwarnai trend sekarang, dimana sebuah produk harus bisa kelihatan berbeda dengan pendahulu-pendahulunya, biarpun unsur-unsur pembangunnya sama saja. Ah, kelihatannya tim produksi plus sutradara Luke Greenfield yang pernah membesut The Animal, tak bagus, dan The Girl Next Door, bagus, itu tak begitu perduli sejauh nama-nama seperti Ginnifer Goodwin dan Kate Hudson sudah ada di barisan pendukungnya, plus John Krasinski sebagai sidekick highlight pengisi karakter yang seakan wajib ada di chick flick, can be a gay or everyone thought he’s gay. Seperti Rupert Everett di My Best Friend’s Wedding, kira-kira.
Bersahabat sejak kecil dengan Darcy (Kate Hudson) yang seorang dominatrix, Rachel White (Ginnifer Goodwin) melakukan kesalahan besar di pesta kejutan ultah ke-30 nya. Ia tidur dengan Dex (Colin Egglesfield), tunangan Darcy yang siap menuju pernikahan. Ini memang bom waktu yang siap untuk meledak, karena Dex dan Rachel merupakan sahabat masa kuliah yang sama-sama menyimpan rasa suka, namun sebuah pertemuan 6 tahun lalu dengan Darcy yang disalahsangka Dex sebagai blind date atas prakarsa Rachel merusak semaunya. So everyone can guess where they went after, terutama bagi Rachel. Diantara menyimpan perasaannya rapat-rapat untuk tak menyakiti Darcy, atau justru berjuang mengejar pilihan hatinya di tengah minggu-minggu yang penuh kesibukan bersama rekan kerjanya, Ethan (John Krasinksi) dan dua kerabat mereka, Marcus si free-spirit (Steve Howey) dan Claire (Ashley Williams), dalam membantu Darcy mempersiapkan pernikahannya. Sementara Dex juga dilanda kebimbangan besar sejak peristiwa itu.
And bang, there u go. Ini adalah pakem plot yang hanya punya dua kemungkinan, antara disukai atau dibenci penontonnya. Apalagi ini dari novel, yang jelas-jelas membelitkan konfliknya secara lebih njelimet. This is like real life dimana tak perduli Anda adalah si karakter atau sahabatnya, bagaikan simalakama, tak ada penyelesaian mudah untuk masalahnya. The result, adalah tergantung bagaimana pembuat film bisa memberi gambaran karakter itu menyelamatkan konsekuensi pilihannya, dan gambaran abu-abu biasanya akan bisa lebih diterima untuk tendensi kenyamanannya sebagai sebuah rom-com.
Ginnifer Goodwin, tanpa harus diragukan lagi, menghandle karakter Rachel sesuai spesialisasinya. Kate Hudson sebagai seorang wanita dominatrix? Oh, dari wajahnya saja sudah mewakili. Fits perfectly. Colin sebagai the handsome prince in between, juga pilihan yang tepat, dan Krasinksi sebagai pelengkap yang harus bisa menonjol dengan dialog-dialognya, pastinya. Ini juga kemampuan spesialnya dalam mencuri perhatian penonton di tiap film yang menjual bakatnya berceloteh. Yang lain hanya pelengkap saja, termasuk Jill Eikenberry dari serial L.A. Law. Sekarang masalahnya ada di skenario dan sutradara yang meraciknya dengan porsi tepat agar apapun pilihannya, pemirsanya bisa menerima itu di tengah-tengah dua keinginan. Sayangnya, belit-membelit konflik yang sudah secara natural sekali berjalan dari awal hingga ke tengah mulai dieksekusi dengan porsi yang kurang seimbang. Durasi yang sedikit kelewat panjang untuk film-film sejenis salahnya terlihat lebih fokus menggempur masalah ketimbang mulai mencoba menyelesaikannya. Hanya di perempat akhir karakter-karakter ini akhirnya diarahkan dengan turnover yang jelas-jelas menjadi hitam putih secara total. The one who lose akhirnya punya kesalahan lebih yang seakan tak termaafkan untuk menggampangkan pilihannya, sementara plotnya masih sibuk mempersiapkan turnover lain untuk masuk ke tengah-tengah. Akibatnya, feel heartwarming-nya pupus seketika begitu saja, seakan memaksa penonton untuk sebuah keberpihakan. Dan ini adalah kelemahan terbesar untuk membuat ‘Something Borrowed’ jadi sebuah rom-com abadi seperti, oh ya, lagi-lagi, ‘My Best Friend’s Wedding’, yang di tengah pilihan-pilihan itu bisa membuat karakternya berjalan bebas dengan tetap lovable bagi pemirsanya. However, rom-com ini masih menyisakan ensembel akting yang menarik dan soundtrack yang keren. And at last, Ginny, I think you should put more eye cream untuk menutupi kantong mata yang menghitam itu. (danieldokter.wordpress.com)
TRANSFORMERS : DARK OF THE MOON : LOUD, BANG AND BOOM!
Say anything. Tapi dalam visual fantastik, Michael Bay is one of the gods. Mau melangkah kemana pun, kita seolah melihat Bruce Willis dkk berjalan slow motion siap menghadapi tantangan dengan orkestrasi skor megah yang senada. Selebihnya adalah gempuran efek visual yang membuat kita semua terdiam. Forget the rest. Yup, ini adalah amunisi yang sebagian coba ditinggalkannya dalam The Island. Hasilnya jeblok. So Bay kembali ke pakem dimana dia bisa beraksi dengan kedewa-annya itu. Admit it. Kita sudah dibuat takjub setengah mati, tak pernah membayangkan transformasi para Autobots dan Decepticons mainan yang dilipat kesana kemari bisa terlihat seindah itu saat diadaptasi ke layar lebar dalam taraf jauh lebih raksasa ketimbang animasinya. Sekuelnya membosankan? Itu karena Bay sudah jauh-jauh membeberkan semua adegan highlightnya di teaser sampai official trailer, plus bagi sebagian yang masih mau berekspektasi dengan plot di film-filmnya. Kini Bay makin memperjelas semuanya. Inilah dunianya. Dimana fantasi tak terkira bisa diwujudkan jadi nyata tanpa mau berkompromi dengan hujatan orang ke tetek-bengek filmis lainnya termasuk plot dan dialog yang serba cheesy. Ia hanya perlu satu hal. Membangun sebuah fantasi jadi nyata, dan membiarkan penontonnya terbengong di kursi mereka. Apalagi dewa-dewa lain di universe hi-technya ikut membantu. Selain Spielberg, kamera yang digunakan membesut Dark Of The Moon adalah murni kontribusi seorang James Cameron seperti yang kita lihat hasilnya dalam Avatar. Ini adalah dunia Bay. Takes you heavy to something loud, then Bang, and Boom!
Dengan latar yang mencampur fiksi Cybertron dengan sejarah pendaratan pertama awak Apollo 11 di bulan, kita diperkenalkan pada sosok Autobots baru bernama Sentinel Prime (disuarakan Leonard ‘Mr Spock’ Nimoy), yang lama terkubur disana setelah misi menyelamatkan Cybertron dari serangan Decepticons gagal. Optimus Prime (disuarakan Peter Cullen) yang bersama para Autobots sudah membangun aliansi militer untuk menjaga keamanan bumi sebagai tempat baru mereka pun membawa Sentinel kembali untuk diaktifkan. Namun Direktur badan intelijen AS, Charlotte Mearing (Frances McDormand) khawatir hubungan ini akan menempatkan bumi dalam keadaan bahaya. Bersamaan dengan itu, Sam Witwicky (Shia LaBeouf) mulai mencium adanya sinyal serangan kembali Decepticons lewat teori ‘Dark Of The Moon’ yang disampaikan rekan kerjanya, Jerry Wang (Ken Jeong) yang lantas dibunuh oleh utusan Decepticons. Ternyata kejadian itu sudah sejak lama dimanipiulasi Megatron (disuarakan Hugo Weaving) dan pasukan Decepticons untuk kembali melancarkan serangan balasan yang difasilitasi oleh atasan Carly, taipan Dylan Gould (Patrick Dempsey). Bersama agen Simmons (John Torturro) yang telah pensiun, Sam dan kekasih barunya, Carly Spencer (Rosie Huntington-Whiteley) pun memulai gerilya mereka menggagalkan serangan ini. Kalau perlu dengan menerobos badan intelijen, untuk sekali lagi bergabung dengan para Autobots menyelamatkan bumi.
Tak lagi menggelar hingar-bingar clang metal Autobots dan Decepticons sejak awal seperti Revenge Of The Fallen, Bay kali ini memilih kembali ke pakem awal Transformers. Menyimpannya hingga titik balik dimana penonton akan ditempatkannya ke atas roller coaster yang sangat hip dalam durasi kenikmatan visual (atau justru kegilaan) yang panjang. Tapi tunggu dulu. Penceritaan latar yang bisajadi menjenuhkan penonton yang menunggu-nunggu highlight ala Bay ternyata tak dihandle dengan karakter inti sekuat sebelumnya. Megan Fox yang hengkang karena berseteru dengannya kini digantikan oleh Rosie Huntington-Whiteley, aktris yang digosipkan sebagai kekasih Jason Statham di luar film, yang sayangnya tak bisa memancarkan kharisma berlebih seperti Fox. Plus balutan karakternya yang baru meningkat di bagian-bagian akhir, Carly jadi terlihat sebagai sosok blonde yang sangat annoying di sela intens-nya petualangan Sam dan Simmons. Penempatan aktor sekelas John Malkovich berikut Frances McDormand sebagai barisan nama-nama yang berhasil ditarik Bay dari dunia film indie mereka setelah John Torturro, pun tak banyak bisa membantu. Begitu juga dengan Patrick Dempsey. Paling parah adalah komedian Ken Jeong yang sudah mulai terlihat lebih menyebalkan ketimbang lucu dengan gaya yang itu-itu saja, dan memplesetkan plotnya ke sempalan komedi yang lebih terasa ngaco ketimbang fresh. Hanya ada satu yang bisa memanfaatkan karakternya terlihat benar-benar fresh, Alan Tudyk sebagai asisten Simmons yang porsi komedi dan aksinya cukup seimbang, sementara aksi dua jagoan lain di franchisenya, Josh Duhamel dan Tyrese tampaknya sengaja disimpan ke bagian-bagian klimaks.
But however, Transformers memang bukan diperuntukkan bagi mereka. Sosok para Autobots dan Decepticons-nya justru muncul makin kontras ketimbang banyaknya robot baru yang disempalkan di Revenge Of The Fallen, dan itu bagus. Fokus ke Sentinel Prime dengan kharisma suara Leonard Nimoy benar-benar muncul sebagai highlight baru yang menyenangkan. Dan ketika Bay akhirnya memulai menembakkan simpanan amunisinya, rasanya kita tak perlu lagi banyak omong. Lebih dari 45 menit terakhir, apa yang ditampilkan Dark Of The Moon, sudah cukup untuk menerbangkan Anda dari tempat duduk, apalagi dengan efek 3D yang mungkin tak secantik Pandora, tapi adegan rumblenya, percayalah, lebih intens dari itu. Yes, kegilaan Bay semakin memuncak tanpa logika tapi tetap asyik melepaskan imajinasi liar dan ketakjuban kita ke pameran hi-tech yang digelarnya. Saya tak tahu Anda, namun saya masih bakal merindukan Optimus dan rekan-rekannya kembali ke layar lebar dengan teknologi yang semakin menggila nantinya, biarpun isu-isu tentang penggantian LaBeouf dengan Jason Statham boleh jadi terasa aneh. Anyway, now forget the rest. Just sitback and enjoy this wild ride! (dan)
danieldokter.wordpress.com
HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2 : BATTLE:HOGWARTS
Good news. At last, kita bisa menyaksikan blockbuster musim panas paling ditunggu-tunggu sebagai pertanda berakhirnya krisis film di Indonesia. Bad news, welcome to the finale dari sebuah franchise paling melegenda abad ini. Yup, seperti tagline-nya, It All Ends. Selesai sudah penantian dari sekuel ke sekuel dengan mantra demi mantra yang akhirnya mengantarkan kita ke penghujung petualangan Harry Potter-nya J.K. Rowling. Entah nanti ada racikan lain yang membawanya kembali, seperti bisa-bisanya Hollywood biasanya, yang jelas untuk franchise seukurannya, it’s hard to let go. Just like the hype di banyak media, ini adalah finale yang dirancang dengan strategi jitu. Jauh sudah melewati tipikal holiday fantasy movie di dua film pertamanya dan meninggalkan paparan adaptasi selanjutnya yang makin mengeksplorasi kegelapan plot serta karakternya, The Deathly Hallows Part 2 beranjak ke wilayah baru dengan kemegahan efek dan set yang membalut adegan-adegan aksi secara intens dari awal sampai akhir. How about the 3D? Ini juga produk konversi, itu benar, tapi heavy CGI yang porsinya melambung, paling tidak membuatnya cukup layak untuk disaksikan dalam format 3D. Reruntuhan Hogwarts yang diluluhlantakkan final showdown para penyihir baik dan jahat ini, benar-benar hadir dengan visual yang terlalu cantik untuk dinikmati dengan cara biasa. Apapun kekurangannya, go with the 3D. It is, indeed, Battle : Hogwarts.
Bagian kedua dari instalmen terakhir ini masih melanjutkan petualangan Harry Potter, Ron Weasley dan Hermione Granger (Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson) menemukan sisa horcrux yang membawa mereka kembali ke Hogwarts. Usaha untuk menemukan horcrux terakhir setelah Lord Voldemort (Ralph Fiennes) terus melancarkan serangan setelah mendapatkan elder wand, juga membuka rahasia masa lalu keluarga Harry yang belum pernah diketahuinya dari seorang Severus Snape (Alan Rickman) yang misterius. Namun ini sekaligus menjadi jalan ampuh untuk menghadapi Voldemort dalam sebuah penentuan akhir di tengah-tengah medan perang reruntuhan Hogwarts.
Pilihan Yates, yang sudah terbukti menjadi penerjemah petualangan Harry Potter dengan kedalaman visi paling sempurna diantara semua sutradara yang pernah membesut franchise filmnya, untuk membagi instalmen terakhirnya ke dalam dua film, benar-benar menciptakan sebuah kekuatan finale yang begitu terasa. Dengan tone yang tetap sama, detil-detil yang dipilih Yates untuk merangkai kesimpulan akhir kisah Harry hadir secara efektif tanpa harus mengorbankan intensitas aksi penuh efek CGI yang dihadirkan secara beruntun sejak awal hingga akhir nyaris tanpa jeda. Dominasi antar karakter-karakternya pun semakin berwarna tanpa percuma, dari peran kunci Alan Rickman sebagai Severus Snape ditambah Matthew Lewis sebagai Neville Longbottom dan aktris senior Inggris Maggie Smith dalam sisi heroik Profesor McGonagall bak ksatria Jedi dengan keanggunan aristokrat ala Inggris, yang bergantian mencuri layar bersama karakter-karakter utamanya.
But above all, instalmen terakhir ini merupakan sebuah pencapaian visual yang sempurna dari tim teknikalnya, Stuart Craig di production design, Tim Burke dan timnya di departemen efek, sinematografi cantik dari Eduardo Serra dan editing Mark Day yang membuat gelaran adegan demi adegan jadi terasa semakin intens. Oh yeah, this ain’t no Michael Bay, namun dalam kehebatan gempuran yang berbeda dengan pesaing utamanya dalam hingar-bingar summer movies tahun ini, Transformers : Dark Of The Moon, ini tak kalah seperti menyaksikan perang antar creatures dibalik latar kuno Hogwarts yang porak-poranda, with more dignity. What a glorious finale, and we should be glad to end that 10 years adventure in this visual greatness. (danieldokter.wordpress.com)
THE BEAVER : STRANGE PHILOSOPHY, STRANGE MOVIE
Bersamaan dengan Larry Crowne yang menggabungkan dua bintang besar, Tom Hanks dan Julia Roberts dengan sebuah reuni, The Beaver membawa Mel Gibson kembali dengan Jodie Foster. Juga sebuah reuni setelah kesuksesan Maverick di tahun 1994 dulu. Tapi ini bukan film pop. Hadir dari visi Foster yang duduk di kursi sutradara atas skenario besutan Kyle Killen, arahnya sudah bisa ditebak. Dalam karirnya sebagai sutradara, Foster memang luarbiasa pemilih, seolah sineas yang pantang berurusan dengan nada komersial. ‘Little Man Tate’ (1991) jelas bukan film pop. ‘Home For The Holidays’ (1995) yang sekilas tampak sebagai holiday movie penuh bintang juga tak seringan film-film holiday lainnya. Dalam The Beaver, eksplorasi Foster memang tak segila plot dan karakternya, but yes. Everything in it adalah sebuah premis dengan filosofi aneh yang susah untuk ditelusuri kemana arah tujuannya.
Walter Black (Gibson), CEO sebuah perusahaan mainan terkenal mendadak dilanda depresi panjang yang meluluhlantakkan semua kehidupannya. Tak hanya bisnis yang jadi kacau, dirinya juga didepak dari keluarganya; sang istri, Meredith Black (Foster), putranya Porter yang tengah beranjak remaja (Anton Yelchin) serta bocah kecil Henry (Riley Thomas Stewart). Puncaknya, ketika Walter ingin mengakhiri hidupnya, sebuah boneka tangan berbentuk berang-berang yang ditemukannya di tempat sampah justru mengembalikan semua semangatnya secara perlahan. Boneka yang lantas menggantikan aktifitas tangan kiri dan jadi juru bicaranya itu memang membuat Walter terlihat seperti orang gila. Bisnisnya kembali menanjak, Meredith mencoba kembali menerimanya, bahkan Henry jadi begitu sayang pada Walter. Hanya Porter, yang sedang dilanda masalah hubungannya dengan bintang cheerleader Norah (Jennifer Lawrence) yang tetap menjaga jarak. Namun bukannya bertambah baik, kegilaan Walter malah semakin memuncak dan memupuskan semua harapan orang-orang terdekatnya.
Sebagian kritikus luar melayangkan kritikan mereka atas premis yang sulit dipercaya. Namun rasanya bukan disitu intinya. Plot yang mengetengahkan sosok depresif yang tengah mencari jalan untuk bisa keluar dari masalahnya sah-sah saja, tapi skenario Killen dan penerjemahan Foster benar-benar membuat pemirsanya mengalami depresi yang hampir sama dengan karakter utamanya. Ditambah semua karakter pendukung punya masalah serius dengan trauma psikologis secara cukup mendetil yang digelar Foster, plus jalan buntu berbalut filosofi-filosofi yang terasa sama anehnya, lengkaplah sudah penderitaan itu.
Mel Gibson bermain sangat baik dalam menggerakkan boneka tangan dengan gerakan mulut yang benar-benar terlihat pas bersama logat asli negara asalnya, Australia. Tapi ekspresinya memerankan Walter yang dilanda stress berat, tetap menunjukkan Gibson biasanya. Ia memang lebih mirip Harrison Ford atau Tommy Lee Jones ketimbang Robert DeNiro. Tak bisa jadi bunglon dalam perwatakan yang berbeda. Di film apapun, gestur depresif cenderung gila-nya selalu tak bisa lepas dari salah satu karakter paling memorable dalam karirnya, Martin Riggs dalam ‘Lethal Weapon’. Entah memang Gibson cepat sekali berkerut-kerut atau anti botox, tapi bahkan kerutan yang makin banyak itu tetap tak bisa membedakan ekspresinya. Jodie Foster sendiri, seperti biasa, tampil dengan sangat meyakinkan. Bitterly touching dengan ekspresi gerakan rahang kokohnya yang terlihat sangat mantap, bersama dua bintang muda Anton Yelchin dan Jennifer Lawrence yang semakin menunjukkan karakter akting mereka yang sedang naik daun. Bintang cilik Riley Thomas Stewart pun tak kalah menarik melengkapi feel yang membuat penonton bisa tersenyum kecut di tengah penderitaan karakter-karakternya.
Tapi memang ini adalah sebuah filosofi aneh yang sama aneh dengan filmnya keseluruhan. Entah Killen memang ingin menunjukkan self-demonic dalam diri manusia yang sedang dilanda depresi berat dengan metafora berang-berang yang tak juga jelas, tapi yang tampil jelas justru gambaran psikologis yang kenyataanya memang sering membuat penderitanya melarikan masalah mereka ke jurang kegilaan yang lebih dalam lagi. It’s like they’re pushing us over and over sampai ke batas kewarasan yang membuat kita tak perduli lagi apa yang ada dibalik absurditas yang jadi makin gila menuju penyelesaian yang dipilih karakter-karakternya. Ini adalah film yang aneh, dan memang, sangat-sangat aneh. (dan)
LARRY CROWNE : THE ART OF INFORMAL REMARKS
Kualitas keaktoran Tom Hanks dan Julia Roberts, ah, semuanya sudah tahu. They’re not just stars. They’re megastars, dengan deretan film-film yang banyak bertengger di kategori klasik. Tapi menyatukan dua bintang dengan kualitas itu, juga bukan hal mudah. Pertemuan keduanya dalam Charlie Wilson’s War tempo hari sudah membuktikannya. Film itu bagus, namun selain plot yang juga tak terlalu banyak menginteraksikan keduanya ke dalam dayatarik sentralnya dari sebuah semibiografi, dua nama ini justru terkesan saling menenggelamkan kebesarannya masing-masing. Hanks memang lebih dikenal sebagai pasangan abadi Meg Ryan dengan kesuksesan ‘Sleepless In Seatlle’ diikuti ‘You’ve Got Mail’, sementara Roberts ke Richard Gere dengan booming maha dahsyat dari ‘Pretty Woman’, yang tak diikuti sama dengan ‘Runaway Bride’ di tengah gonjang-ganjing kehidupan personalnya waktu itu. So seharusnya, duet kedua orang ini sudah digagas sejak dulu, di masa mereka sedang tengah bersinar-bersinarnya. However, faktor usia yang mungkin membuat Hanks dan Roberts bisa terlihat lebih bisa menemukan perpaduan yang pas seperti yang kita saksikan dalam Larry Crowne.
Oh no, ini bukan rom-com bombastis yang diharapkan banyak orang sebagai pengikut judul-judul klasik tadi. Tak juga se-pop trailernya yang sangat menarik perhatian itu. Larry Crowne yang merupakan kolaborasi Hanks dengan Nia Vardalos, penulis yang jadi bintang dadakan lewat ‘My Big Fat Greek Wedding’, juga sebuah rom-com berkualitas Oscar, lebih memilih gambaran down-to-earth nya untuk menyampaikan romantisme canggung yang diterpa usia dan masalah-masalah middle age dan middle class people di atmosfernya. Dialog dan konfliknya tampak gampang-gampang saja, tapi punya kedalaman yang penuh makna menyentil setiap masalah yang dihadirkan. Dan tampilan serba canggung seperti yang ada dalam plotnya, membuat chemistry Hanks dan Roberts, sesuai usia mereka, justru tampil sangat bersinar. A hilarious one!
Hidup penuh kebanggaan sejak karirnya di Navy sebagai koki dan sekarang pegawai supermarket sukses, langsung membuat Larry Crowne (Tom Hanks) kelimpungan kala dipecat dengan hanya satu alasan dibalik rencana penipisan tenaga kerja. Bahwa ia tak punya gelar pendidikan formal dibanding tenaga-tenaga muda lain yang lebih tak berpengalaman. Impian yang sebenarnya sudah lama pupus sejak bercerai dengan istrinya tanpa seorang anak pun membuat Crowne semakin stress. Sebagai pembuktian diri atas dorongan tetangganya, Lamar (Cedric The Entertainer), Crowne lantas mendaftar ke community college untuk memperoleh gelar edukatif. Ia memilih kelas ekonomi dan satunya, bernama ‘Speech 217’ yang memperdalam komunikasi sosial yang mereka sebut sebagai ‘The Art of Informal Remarks’ bersama sekelompok anak muda penuh masalah komunikasi. Sang guru, Mercedes Tainot (Julia Roberts) yang serba sinis, ternyata juga punya masalah pribadi dalam rumahtangganya. Dengan kehidupan baru yang mengharuskannya beradaptasi dengan sebuah skuter di komunitas muda, Crowne mulai membangun kembali mimpinya satu-persatu. Mengejar gelar, dan kalau perlu, bahkan dengan memenangkan hati Mercedes sekaligus.
Sebuah rom-com, itu benar. Namun sekedar rom-com, itu salah. Larry Crowne menyelam lebih dalam dari sekedar hura-hura reuni keduanya dibalik tampilan Hanks yang kembali menunjukkan sisi komediannya walaupun jauh lebih halus. Atmosfer yang dibangunnya dengan terjun langsung sebagai sutradara juga sejalan dengan plot yang mengusung banyak sentilan terhadap isu-isu sosial masyarakat kelas menengah di negaranya, mulai dari sistem pendidikan, ekonomi hingga gap antar generasi bahkan pencarian jatidiri yang berbeda dari tiap lapisan usia.
Gaya Nia Vardalos yang setelah ‘My Big Fat Greek Wedding’ terlihat seolah sineas yang tak mampu menyingkirkan one hit wondernya, juga kembali dengan sangat kuat lewat dialog yang sekilas terasa simpel, namun penuh makna. Apalagi istilah ‘The Art of Informal Remarks’ dengan nilai edukatif ke masalah komunikasi yang digelar. Ini sekaligus ampuh sekali menjelaskan tahap demi tahap bangunan rom-com sebagai unsur utama yang memadukan chemistry Hanks dan Roberts dari kecanggungan yang sangat relevan ke plotnya. It might looks bitterly awkward, but hilariously relevant at once. Oke, penonton boleh saja lebih menyukai tampilan serba hangat yang terbangun dari chemistry-chemistry pendukungnya, termasuk kecantikan aktris yang lebih sering tampil di serial teve, Gugu Mbatha- Raw sebagai Talia bersama the underrated Wilmer Valderrama yang sangat mencuri perhatian, skuter-skuter antik, themesong lawas ‘Calling America’-nya ELO atau bagi fans film-film blaxploitation, kembalinya salah seorang ikon bomseksnya dulu, Pam Grier. Sebagian lagi, bisa jadi menganggapnya menjemukan karena terlihat terlalu ‘American-segmented’ dengan isu-isu sosialnya atau mengetengahkan lovestory dengan konflik yang lebih dewasa ketimbang hip-hip hura. Itu juga mungkin yang membuat resepsinya sangat beragam di banyak review yang ada. But overall, ini adalah sebuah rom-com dengan penyampaian dalam tapi tetap terasa asyik jika mau diselami lebih. Sebagian dari kita mungkin benar, hanya melihat Hanks dan Roberts, but if you’re a mid 40s with relationship issues, trust me, Larry Crowne might be a standing applause! (dan)
danieldokter.wordpress.com
TRUE LOVE : KACAU-BALAUNYA SEBUAH FILM
Ah, lagi-lagi generation gap. Belum lama Satu Jam Saja menunjukkan kalau formula 80an itu tak bisa relevan lagi buat film sekarang, muncul pula True Love yang sejatinya diangkat dari novel Mira W., novelis yang begitu populer menghiasi adaptasi novel ke film kita di era itu, berjudul Cinta Sepanjang Amazon. Ini adalah novel ke-75 Mira, yang bukan produk tahun 80an. Tapi pakemnya masih bergerak disitu-situ saja. Dibalik banyaknya titel-titel best seller yang dicapainya, konfliknya ya begitu-begitu saja. Dua orang pacaran, lantas timbul masalah. Entah dilarang orangtua atau hal lain, mereka tetap memaksa. Masalah lagi. Si perempuan biasanya diperkosa, entah oleh orang atau si kekasih yang ternyata tak sebaik yang digambarkan di awal. Oh, ya, hubungan ini selalu membuat hamil. Lahirlah anak. Lalu muncul keributan besar. Kemudian hampir selalu ada sosok laki-laki lain yang tampil sebagai pahlawan. Si perempuan pun terlempar ke dalam dilema antara menerima yang baru atau kembali karena masih mencintai yang lama. Cerita terbelit-belit lagi ala soap opera entah sampai kemana, tapi tetap ada jalan keluar. Kalau mentok, matikan satunya. Maka berakhirlah semua dengan bahagia.
Plot seperti ini, terus terang, bisa menarik di zaman dulu. Tapi sekarang, percayalah. Yang ada justru rasa hambar, mau sebaik apapun novel itu mengembangkan plotnya. Tapi secara filmis biasanya ada daya tarik lain di lokasi. Seperti banyak novel-novelnya termasuk Arini yang berset luar negeri, seperti itu juga film ini. Lokasi Amazon dan Australia kemudian dipindahkan ke Raja Ampat, lokasi pariwisata yang tengah populer-populernya itu, serta Swedia. Maka judul pun jadi berganti. True Love, untuk menggambarkan proses panjang yang berakhir menyatukan kembali dua tokohnya.
Let’s take a look at the director. Dedi Setiadi ini adalah sineas senior yang dulu terkenal sekali dengan serial Siti Nurbaya, Jendela Rumah Kita, dan banyak lagi. Sekarang pun ia masih produktif di sinetron-sinetron produksi Deddy Mizwar. Jelas bukan sutradara kacangan, paling tidak untuk ukuran 80an dulu. Tapi lagi-lagi, generation gap. Sineas-sineas ini mungkin masih terus ingin mempertahankan gaya mereka yang dulu, sementara zaman terus berubah. Sesekali, ada tampak usaha untuk sedikit bermain-main dengan inovasi baru ala sekarang. Tapi kenyataannya, ya begitulah. Di saat paparan sumber aslinya sudah terdengar seperti itu, sutradara juga membawanya ke ruang lingkup yang sama, plus skenario Viva Westi yang (saya tak tahu bentuk aslinya) nyatanya semakin memperparah keseluruhannya, ada satu yang membuat saya masih bingung sampai sekarang. Kenapa barisan cast yang, oh, terus terang, menjanjikan itu (kecuali Mario Lawalata), bisa-bisanya berusaha menampilkan akting mereka yang terbaik memasuki karakter-karakter tolol yang ada di plotnya? Don’t blame me. Tapi film ini, memang keterlaluan. Benar-benar keterlaluan.
So inilah gelaran cerita itu. Vania (Fanny Fabriana) adalah seorang anak haram. Ya, anak haram. Tipikal karakter film-film kita dulu. Ia tak pernah kenal ayahnya, dan ibunya pun meninggal ketika ia masih belia. Berusaha mandiri, Vania survive menjadi sarjana dengan beasiswa dan mengurus warnet miliknya sendiri. Then enter Aries (Mario Lawalata), putra keluarga kaya yang tak pernah kekurangan. Tanpa bekerja, ia hidup senang, dengan selalu didampingi Guntur (Edo Borne) yang seolah pelayan pribadinya. Keduanya jatuh cinta, dan berniat menikah. Dalam film-film kita, ini selalu jadi masalah. Orang kaya, tidak akan pernah diizinkan dengan orang miskin. Maka murkalah sang ayah. Aries dibuang dari keluarga, dengan Guntur yang tetap ia bawa. Mereka pun menikah, pindah ke rumah kontrakan Vania. Sudah bisa dipastikan, perbedaan keduanya membuat masalah klise, masih ala film kita, muncul. Dalam sebuah keributan akhirnya Guntur tak sengaja (ya, tak sengaja) memperkosa Vania. Vania pun hamil, sementara keributan yang sudah memuncak membuat Aries bertekad menceraikannya begitu si anak lahir. Apalagi Guntur langsung meninggal oleh ulah sekelompok preman setelah kasus itu tanpa sempat menjelaskan apa-apa. Vania yang tetap menyimpan rahasia ini lantas kabur begitu tahu Aries tetap ingin merebut anaknya yang baru lahir. Ia lari ke Swedia, mengganti namanya, bertemu dengan seorang pria paruh baya bernama Rudy (Alex Komang) yang mau menerima keberadaannya. Lantas, Rudy ternyata menderita kanker hati stadium lanjut. Ia pulang ke Indonesia untuk menuntut pembagian sahamnya, namun ternyata pemilik saham adalah ipar Aries. Aries yang jadi tahu keberadaan Vania kemudian menyusul ke Swedia. Dan cerita masih belum berakhir disini.
Saya tak tahu lagi mau meletakkan kesalahan utama film yang sudah terlalu banyak salahnya ini, namun yang jelas, di luar klise-klise plot tadi, ini yang pertama. Entah novel dan skenarionya, tapi karakter Aries yang dibawakan Mario Lawalata, yang dari salah satu wawancara Dedi disebutnya sebagai aktor pekerja keras, malah tampil tak jelas. Entah maunya temperamental, tapi yang kita saksikan adalah sosok sakit jiwa ’stadium lanjut’ yang semenit bisa berteriak-teriak tak tentu arah, semenit kemudian bisa lembut luarbiasa. Kemauan yang digambarkan pun sama. Sebentar niat buat bercerai, sebentar lagi melawan orangtuanya untuk kembali pada Vania. Selama durasi lebih sedikit dari dua jam, ketidakjelasan karakter itu terus muncul. Walau terlihat pantas menjadi penghuni kerangkeng, saya percaya, disamping akting Mario yang payah dan cuma mengandalkan teriakan, karakter asli baik di novel dan skenarionya pun tak mungkin bisa merebut simpati siapapun yang menonton atau membacanya.
Kedua, saya tak tahu kemana arahnya storytelling berbelit itu dihadirkan Dedi ke kita. Lagi-lagi, entah di skenarionya memang begitu, tapi yang kita saksikan disini adalah plot yang melompat-lompat tak karuan. Kadang bisa melompat beberapa jam, beberapa minggu bahkan beberapa tahun tanpa adanya kesinambungan. Satu adegan (entah maunya teaser atau puzzling model trend sekarang) bisa tampil beberapa menit tanpa kejelasan sebagai flashback, kemudian adegan lain yang tak nyambung langsung menimpalinya. Percayalah, Anda bisa menyusunnya dengan baik, tapi ini bukan cara yang benar. Seperti penderita ’flight of ideas’ yang tiba-tiba bisa melayang kesana kemari dengan cerita yang keluar dari mulutnya.
Ketiga, entah apa tujuannya produser dari salah satu universitas terkenal di ibukota itu mengeluarkan dana hingga ke Papua dan ke Swedia, tapi set luar negeri itu sama sekali tak mendukung ceritanya. Set yang tak juga tertangkap dengan kecantikan sinematis ini hanya hadir seolah background yang disempal-sempal dengan karakter-karakter tak jelasnya yang sedang berseliweran tak tentu arah. Malah, sempat pula disempalkan adegan Aries berwisata ke Raja Ampat di tengah kegalauannya kemudian menyaksikan suku setempat menari dan membayangkan Vania ada di tengah mereka.
Keempat, tak ada satupun feel yang bisa sampai ke penontonnya, yang justru tertawa di tengah-tengah adegan yang harusnya tampil sedih atau menyentuh, seakan ikut merasakan penggarapannya yang serba tak masuk akal itu. Ketika penyampaian seperti ini muncul dengan persepsi yang salah ke penonton, maka seharusnya sebagai sineas, mereka tahu, usahanya gagal total.
Dan ini yang terakhir, yang bukan merupakan kesalahan sinematis yang meliputi filmnya, tapi ada pada aktor-aktris berbakat seperti Fanny Fabriana atau Edo Borne, yang sepertinya mati-matian mencoba menampilkan akting bagus untuk masuk ke karakter-karakter gila itu. Sementara Happy Salma, seperti biasa. Cengangas-cengenges ala sinetron, dalam karakter antagonis yang paling gampang diterjemahkan aktris-aktris kita kebanyakan. Saya lebih memilih Alex Komang yang justru kali ini adem ayem saja memerankan Rudy seakan tanpa rasa dan emosi sama sekali. Meski gap 80-an dengan sekarang itu tetap terasa sedikit tak sinkron, mungkin ia sudah tahu hasilnya akan jadi berantakan sehingga tak berusaha perduli, dan ini agaknya patut dinilai sebagai suatu kewarasan.
Oke, Dedi boleh saja mengumbar kata bahwa ini adalah usaha untuk tak menempatkan film kita ke tema yang itu-itu saja (baca:horor dan seks), tapi terus terang, sebuah film paling kacrut sekalipun yang jelas tujuannya untuk jualan akan terlihat lebih baik ketimbang ambisi gagal total macam ini. Sekali lagi, tak perlu berpikir jauh-jauh. Ketika Anda menggambarkan adegan dengan feel yang dimaksud tapi ditangkap dengan reaksi berlawanan oleh penonton, hanya ada satu dan satu saja kemungkinan. Anda sudah gagal total. (dan)
danieldokter.wordpress.com
WU XIA : A FASCINATING CHINESE RECIPE ... AND A REMAKE!
What is Wu Xia? Sebutan yang merujuk pada seni bela diri Cina dari kata Wu (武) dan Xia (俠), masing-masing berarti ‘martial’ dan ‘heroes’ hingga sering diidentikkan dengan kata ‘swordsmen’ (meski sang jagoan belum tentu bersenjatakan pedang) di literatur-literatur kunonya, sekaligus merupakan genre yang paling kita kenal dalam perfilman mereka. Cersil atau Cerita Silat, sebutannya disini. Peredaran internasionalnya yang diawali dengan sukses ketika di-premiere-kan di Cannes barusan, mengusung judul ‘Dragon’, semakin menapakkan citra Donnie Yen sebagai jaminan keberhasilan di genre itu. Namun selain Donnie, ada satu nama lagi yang perlu mendapat perhatian disini. Bahwa ini adalah filmnya Peter Ho-Sun Chan/Peter Chan. Sutradara yang tak hanya menjual adegan baku hantam, tapi selalu hadir dengan kedalaman plot yang penuh filsuf ala Cina. Di film-filmnya, termasuk juga yang paling dikenal, ‘Warlords’, yang sekedar diproduserinya seperti ‘Bodyguards And Assassins’ bahkan ‘Perhaps Love’ yang bergenre musical lovestory dengan kemegahan set ala Moulin Rouge itu, Chan tak pernah menampilkan komersialitas omong kosong tanpa isi.
Wu Xia kembali mencatat style uniknya selangkah makin maju, dengan gaya storytelling yang mencampuradukkan oldfashioned martial arts ala Shaw Brothers, deskripsi noir detective ala Sherlock Holmes, dengan racikan warisan Cina dalam dunia medis kuno yang lebih dikenal sebagai TCM (Traditional Chinese Medicine). Ada forensik, akupunktur, meridian dan homeostasis tubuh, anatomi kuno sampai ke qigong yang dipaparkan dengan sangat, sangat mendetil. Sesekali, Chan juga membawa kita ke feel western klasik yang sering tak jauh beda dengan film-film silat konvensional, terlebih pada karakter utamanya. Ini seperti menikmati masakan bercitarasa Cina yang kelezatannya campur aduk, namun tetap terasa berbeda, walaupun dengan satu catatan. Penggemar Donnie Yen yang mendambakan aksi pertarungan nonstopnya berpanjang-panjang seperti di Ip-Man, boleh jadi kembali gigit jari.
Dua perampok yang hendak beraksi di sebuah pabrik kertas desa kecil, tewas secara mengenaskan. Padahal sekilas, Liu Jinxi (Donnie Yen) yang berjibaku menghadapi mereka tak punya keahlian apa-apa. Bertahun-tahun terakhir, Jinxi memang hanya dikenal sebagai kepala keluarga biasa, suami dari Ayu (Tang Wei) dengan dua anak laki-laki yang masih kecil. Investigasi detektif Xu Baijiu (Takeshi Kaneshiro) yang menemukan bahwa seorang korban adalah satu dari 10 most wanted yang tak pernah bisa dikalahkan membawanya mencurigai asal-usul Jinxi. Apalagi tanda-tanda yang didapatnya dari pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa bandit itu dihabisi dengan cara tak sembarangan. Kecurigaan Baijiu mulai memancing kemarahan penduduk, sementara komplotan penjahat tangguh yang dijuluki 72 Demons dibawah pimpinannya yang kejam (Jimmy Wang Yu) tengah mencari keberadaan Tang Long, sang putra pewaris yang melarikan diri.
Sejak awal, Peter sudah membuka Wu Xia dengan storytelling yang unik. Tak hanya dari pengenalan karakternya dimana satu-persatu tokoh sentral mulai membangun chemistry mereka dengan baik, termasuk Tang Wei (Lust, Caution) yang pas sekali memerankan karakternya. Donnie Yen yang seperti biasa menyuguhkan koreografi aksi tak main-main seakan berlomba mencuri scene dengan Takeshi Kaneshiro (salah satu langganan Peter Chan belakangan ini) dengan gaya Sherlock Holmes kuno-nya. Balutan deskripsi yang dihadirkan dengan ilmu kesehatan tradisional Cina secara detil tadi juga muncul sebagai highlight yang sangat menarik bersama plot detektif-detektif-an ala Baratnya. Di satu sisi informatif, terkadang komikal, namun tetap menjaga kedalaman penyampaiannya nyaris sempurna. Sinematografi oleh Jake Pollock dengan score Peter Kam dan Chan Kok Wing yang juga membesut score ‘Bodyguards And Assassins’ pun semakin mewarnai atmosfer itu.
Sayang menuju pertengahan masa putar dimana Peter memilih lebih lagi mengeksplor latar belakang karakter-karakternya, Wu Xia jadi kehilangan pace yang sudah dibangun baik sejak awal, sampai akhirnya klimaks assault-nya kembali membawa Donnie Yen ke akar yang paling ditunggu-tunggu penonton, salah satunya pertarungannya dengan Kara Hui, aktris senior yang belum lama ini comeback, memenangkan aktris terbaik salah satu festival dan baru muncul di A Chinese Ghost Story. Pukulan demi pukulan yang hadir dengan detil dan sinematografi luarbiasa cantik, namun sayangnya tak dibiarkan Peter berjalan terlalu panjang. Ia malah menurunkan lagi pace-nya sebelum kita sampai ke adegan klimaks yang paling ditunggu dari comeback seorang legenda film-film Wu Xia angkatan 60an, Jimmy ‘One Armed Swordsman’ Wang Yu. Oke, full contact-nya bersama Donnie Yen mungkin tak seintens yang diharapkan, tapi disinilah Peter menyelipkan feel eerie yang dulu selalu muncul di film-film Shaw Brothers saat sang jagoan menghadapi musuhnya untuk terakhir kali, sementara penonton menahan nafas menunggu nasibnya. Ini krusial. Dan pencinta film-film Shaw Brothers pasti bisa tahu pada akhirnya, seperti James Bond dan Robin Hood versi terbaru, bahwa Wu Xia, memang adalah remake lepas dari karakter legendaris yang dulu dipopulerkan Jimmy Wang Yu. Yes, this is ‘One Armed Swordsman’ returning to the big screens. Excited? Oh, you should.(dan)
danieldokter.wordpress.com
HELLO GHOST aka HELLOWOO GOSEUTEU (헬로우 고스트) : CREATIVELY INSPIRED K-CINEMA
Did you ever watch ‘Heart And Souls (1993)’? Pencinta romcom fantasy dan Robert Downey, Jr pasti sudah bisa menebak alur film laris yang hadir di penghujung tahun lalu di negaranya, Korea Selatan ini. 4 hantu yang mendadak muncul dalam kehidupan seorang lelaki yang tengah kebingungan mencari jatidirinya, dengan sebuah twist pula. Semenjak prestasi box office itu, Hello Ghost semakin berkibar atas kepincutnya sutradara Chris Columbus dengan pernyataan resmi ingin meremake-nya ke produk Hollywood dalam sebuah festival film di Berlin. Alasannya, Columbus begitu terkesan dengan cara mereka meramu komedi, drama dan sejuta racikannya. Begitulah sinema Korea, hingga source aslinya, Heart And Souls tadi pun tak bergaung lagi bahkan oleh Columbus, sekalipun. Kehebatan mereka meracik ulang produk-produk terinspirasi hingga segan disebut orang sebagai plagiat memang sudah teruji sejak sinemanya menanjak ke pengakuan internasional tempo hari. Sebut diantaranya. Taegukgi yang terinspirasi Saving Private Ryan hingga Cast Away On The Moon yang terinspirasi Cast Away. Di tangan sineas-sineasnya yang, err.. superkreatif ini, semua film-film itu hadir dengan sentuhan melodramatis khas mereka yang jauh lebih menyentuh dari film-film aslinya. Hello Ghost pun seperti itu. Twist yang ada di kisah aslinya dipelintir lagi sedemikian rupa hingga terasa lebih menusuk hati. But as ever, Anda akan butuh sebuah fokus penuh ke 30-40 menit jalinan awal kisahnya untuk mendapat esensi luarbiasa itu. Hang on, and trust me, you’ll ended up wet-eyed at the end of the movie. I mean it. Wet-eyed.
Lelah dengan semua masalahnya yang harus dihadapi dalam hidupnya yang sebatang kara, Sang-Man (Cha Tae-Hyun) pun mencoba mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara, tapi malangnya, selalu gagal. Sebuah usaha terakhir akhirnya membawa Sang-Man pada 4 sosok hantu yang mengekorinya kemana-mana, seorang kakek peminum (Lee Moon-Su), supir taksi perokok (Ko Chang-Seok), wanita yang terus-terusan menangis (Jang Yeong-Nam) dan bocah penyuka permen (Cheon Bo-Keun). Sang-Man awalnya tak tahu apa yang harus diperbuat namun perlahan, ia mulai mengerti bahwa dirinya harus membantu ke-4 hantu ini memenuhi keinginan mereka yang belum terwujud dengan menggunakan fisiknya, sekaligus membawanya pada Yun-Soo (Kang Hye-Won), perawat yang dengan cepat membuatnya jatuh hati. Tapi masalah Sang-Man ternyata tak hanya sampai disitu, ketika 4 hantu tadi tak juga pergi dan hubungannya dengan Yun-Soo malah jadi semakin rumit.
Saya akan merekomendasikan Indonesia sebagai negara pertama bila sineas-sineas Korsel ini mau berbaik hati membimbing mereka menemukan sebuah ide yang tak harus 100% fresh namun boleh saja terinspirasi dari karya yang sudah beranjak besar. Of course Indonesia, karena India dan Hongkong yang doyan memplagiasi film-film Hollywood saja sudah bisa beranjak jauh dari pola biasanya. Di negara yang tak pernah mau perduli dengan copyright internasional ini, sebuah insepsi terhadap kreatifitas daya pikir memang adalah hal yang mutlak sebelum kita terus-menerus dicerca sinema negara lain. Begitulah adanya. Hello Ghost, meski diawali dengan pakem yang sangat mirip dengan Heart And Souls termasuk karakter hantu yang berjumlah 4 itu ternyata mampu diracik ulang sedemikian rupa hingga melangkah lebih jauh dari Heart And Souls dalam mencuri hati penontonnya. Masih ada lawakan garing dan kebiasaan mengekspos wajah/postur lucu ala Asia yang muncul di sela-sela bangunan plot komediknya, namun melewati separuh masa putarnya, sentuhan melodramatis itu mulai digelar dengan sangat meyakinkan. Rasa tersentuh di tengah tawa yang terbangun dari adegan-adegan konyol, yang sejak lama jadi spesialisasi sinema mereka pun menyeruak dengan sangat leluasa pada setiap penontonnya. Dan itu akan berjalan terus hingga Anda terhenyak menyaksikan eksekusi dari sebuah twist yang dibangun berbeda dengan source aslinya. Saat Anda menyadari sebuah pesan moral yang dibangun begitu berharga tentang keluarga, Anda mungkin sudah menghabiskan beberapa tisu dengan nafas tertahan. Oke, tak perduli Heart And Souls adalah salah satu film favorit saya sepanjang masa, kali ini saya akan membiarkan mereka tak mencatutnya dalam remake Hollywood nanti atas racikan baru yang begitu special disini. Inilah superioritas sinema Korsel dibalik jalur kesuksesannya mendobrak sinema Internasional, dalam sebuah term bernama ‘Rasa’. Something you’ll eager for more. And more. (dan)
CATATAN HARIAN SI BOY : WHAT MAKES YOU ‘BOY’?
Walau sudah demikian melegenda dari sandiwara radio yang booming di era 80an dan berlanjut ke franchise layar lebar yang sama gedenya, generasi sekarang mungkin tak semuanya mengenal sosok ‘Si Boy’. Idola remaja yang punya segalanya. Anak orang kaya, ganteng, jagoan, pereli handal, ladykiller, tapi juga tak ketinggalan beribadah. Hampir semua unsur yang ada dalam sosok Onky Alexander yang juga pemeran debutan waktu itu. Menciptakan sebuah karakter yang bisa melekat sehebat itu di benak pemirsanya, bukan masalah gampang. Memvisualisasikannya ke film, ke sebuah rolemodel yang membuat semua orang ingin jadi dirinya, itu hal lain lagi, dan tak semuanya bisa berhasil. Lupus, yang punya gaung mirip di era yang sama, gagal total. Bukan sekali, namun berkali-kali. Kenyataannya, Catatan Si Boy versi film juga bukanlah film prestisius yang diakui berkualitas festival film kita. Bukan seperti film-filmnya Teguh Karya, Arifin C.Noer dan sejenisnya. Ia hanya besar dari sebuah mimpi banyak orang, yang digelar dengan kesempurnaan berbeda. Dari cast, karakter dan chemistry yang hadir sebagai paduan yang luarbiasa uniknya. Pakem yang terus dipertahankan meski sempat terjatuh sedikit di film keempat dengan kesalahan fatal tak menampilkan satu karakter penting yang ikut membuatnya jadi besar, termasuk mengangkat karir pemerannya ke puncak, Didi Petet sebagai Emon.
Tapi yang jelas, ada banyak pakem khas yang muncul disana selain karakter si Boy. Dua sahabat setianya yang selalu saling iseng, Andi/Kendi (dalam film pertama diperankan Dede Yusuf) dan Emon yang feminin, dua wanita yang saling bergantian merebut hati Boy (Meriam Bellina dan Paramitha Rusady) sepeninggal cinta pertama Boy, Nuke (tampil sekilas di film pertama diperankan Ayu Azhari), berikut karakter-karakter lain yang sama memorablenya, termasuk adik perempuan Boy, Ina (Btari Karlinda). Ini ikonik, penuh dengan quote dan bahasa yang jadi umum, dan bangunan konflik yang selalu bisa dihandle dengan bijaksana oleh sang jagoan. Soundtrack-soundtracknya pun punya kekuatan magis yang sama.
Then comes a new movie, yang sejak lama sudah menggoda kita lewat halaman situsnya. Boy will return. Penundaannya selama beberapa saat, perombakan kru, cast dan sutradara, semakin naik turun membuat banyak orang penasaran. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, rencana itu benar-benar established ke sebuah karya regenerasi yang sama sekali bukan sebuah remake maupun lanjutan. Ini adalah sebuah cerita baru yang digagas dengan benang merah terjalin kuat pada franchise aslinya, penuh dengan unsur yang menjanjikan termasuk sebagian cast lamanya yang kembali, dan really, really, fascinating trailer. Putrama Tuta, penggagasnya, langsung mengambil alih kursi sutradara. Boy really returns.
Natasha (Carissa Puteri) yang datang dari London menyambangi sang ibu, Nuke, yang tengah dirawat dalam keadaan kritis, terpaksa berurusan dengan polisi atas ulah pacarnya, Nico (Paul Foster) yang terlibat hutang. Disana, ia berkenalan dengan Satrio (Ario Bayu), cowok penuh masalah yang bekerja sebagai montir di bengkel milik Nina (Poppy Sovia) bersama dua rekan dekatnya, Andi (Abimana Arya ; a reborn name of Robertino) yang cuek dan Herry (Albert Halim) yang feminin. Satrio kemudian mengetahui bahwa Natasha tengah berusaha menemukan Boy (Onky Alexander), pria pemilik diary yang tak bisa lepas dari tangan ibunya, dan membantunya. Kedekatan mereka membuat Nico panas dan berniat menjauhkan keduanya dengan segala cara, namun Satrio tetap tak mundur dari niatnya. Perseteruan Satrio dan Nico semakin memanas hingga hampir mengorbankan persahabatannya, termasuk dengan Nina yang juga memendam perasaan terhadap Satrio. Satrio kini harus memilih, sementara dari penelusurannya ke orang-orang terdekat Boy, Emon (Didi Petet) dan Ina (Btari Karlinda), jalan untuk menemukan Boy kian terasa makin jauh.
Meski menggagas sebuah cerita baru dalam benang merah itu, Catatan Harian Si Boy nyaris datang dengan kemasan yang sama dengan franchise sebelumnya. Tetap ada sosok jagoan, namun kali ini datang dari comfort zone yang berbeda, gambaran persahabatan dengan chemistry yang sempurna, dua sisi cinta segitiga, balap-balapan mobil dengan sedikit pameran hi-tech, sampai ke eksplorasi karakter yang serba mirip, terutama Kendi-Emon dengan Andi-Herry yang seperti Tom & Jerry. Hanya pencapaian visualnya secara sinematis yang jauh berbeda. CHSB tak lagi memerlukan set luar negeri untuk menyampaikan atmosfer modernnya, tapi cukup dengan visual keren seperti yang kita saksikan dalam trailernya. Namun kemasan mirip untuk menghadirkan feel nostalgik yang akrab sekaligus mempertahankan pakem kesuksesan film-film Si Boy dulu itu justru menjadi poin sekaligus highlight penting untuk bisa menggelar esensinya. Cast, bangunan karakter dan chemistry sangat kuat yang benar-benar dibuang sayang. Bahwa ini adalah sosok Boy di era sekarang, yang tak lagi perlu seratus persen jualan mimpi tapi lebih mengedepankan realita yang ada .
Dan skrip yang ditulis oleh Priesnanda Dwisatria-Ilya Sigma luarbiasa sukses menyajikan dialog-dialog serta quote yang bukan hanya memorable tapi juga ikut menghantam emosi kita. Sama dengan chemistry tadi, barisan castnya juga hadir dengan akting nyaris sama sempurnanya. Santai, tapi cukup berisi, mulai dari Abimana yang beruntung terus kebagian dialog-dialog memorable itu, Albert Halim, Poppy Sovia, Ario Bayu dan Carissa Puteri sampai aktor Singapura Paul Foster yang saling berlomba mencuri scene yang ada. Cast lamanya yang hadir bak cameo singkat pun begitu, termasuk Didi Petet dibalik tampilan penuh wibawanya sekarang tetap menyiratkan cipratan-cipratan Emon yang kita kenal, plus Onky dalam kharisma masih sekuat dulu meski lafal narasinya terdengar agak terbata-bata (lupakan Leroy Osmani karena tampilannya benar-benar kelewat singkat). So here’s the point, bahwa ini adalah mimpi yang terasa jauh lebih dekat ketimbang karakter serba sempurna yang dulu membuat banyak orang tergila-gila. Saya jadi teringat pendapat seorang teman yang mengatakan bahwa the ultimate power of the movie adalah kita begitu menginginkan persahabatan yang tergambar disini saat keluar dari bioskop. I agree to that, tapi lebih dari itu, meski dalam gambaran comfort zone berbeda, kita tetap ingin menjadi sosok Boy sebagaimana hype-nya dulu. Tanpa perlu lagi memikirkan tetek bengek lain yang terasa tak pas bagi sebagian orang, entah di beberapa gambaran medis hingga karakter Natasha yang masih bisa tertawa lebar di tengah penderitaannya menanti perawatan sang ibu. That’s life after all. Kita tak selamanya bisa sempurna. Namun ini adalah pencapaian yang sempurna untuk ukuran karya debut, dan in the end, What makes you ‘Boy’? You fall. You bumped. But YOU FINISH WHAT YOU STARTED. (dan)
If you’ve ever lived in the 70s/ early 80s, dimana pakem-pakem film aksi bertema polisi masih belum beranjak ke sajian hip penuh gegap gempita ala Lethal Weapon atau Die Hard dan mulai meninggalkan pola lamanya tinggal satu-dua, Anda pasti tak bakal menggerutu dengan aksi Statham yang cukup minim di Blitz. Ini memang bukan produk Hollywood dengan feel eksplosif sebagaimana film-film Statham biasanya, tak pula butuh twist pintar di sana-sini untuk membangun plotnya. Blitz lebih merujuk ke pakem konservatif di era itu, salah satunya, film-filmnya seorang Abel Ferrara, dengan penggambaran karakter yang tipikal. Dimana polisi-polisi cuma punya dua kemungkinan, bergaya perlente dengan jas panjang dan kemeja bodyfit bak Alain Delon di film-film kriminal Eropa, atau sosok liar slenge’an yang mengenakan jaket kulit dan jeans kemana-mana. Dan sebuah kombinasi akan selalu jadi hal yang bagus untuk membangun konflik partner-partener-annya. Lawannya? Oh, cukup satu, ini adalah psikopat maniak sekelas serial killer yang bertindak sejauh mana ia bisa. Berkostum hoodie, dan suka telanjang. Setnya juga penuh dengan lingkungan kotor. Hangout di bar-bar temaram, obat bius, pelacur, dan polisi korup dan pesakitan-pesakitan lain. Linear, bisa jadi. Tapi bukan juga berarti kehilangan intensitasnya. Ketimbang pukulan dan tendangan-tendangan keras, sebuah pakem kejar-kejaran antara karakter jagoan versus bajingan lebih menyeruak ke depan. So jangan harapkan Transporter atau Crank yang serba nyeleneh di balik tampilan serunya. Ini adalah gambaran klasik copkiller thriller yang diracik sebagaimana tampilan aslinya. Sama-sama seru, tapi dalam jalur yang berbeda.
Dibalik sosok seorang Barry Weiss (Aidan Gillen) yang penuh dengan rekor kejahatan kecil, pembunuh ini menamakan dirinya Blitz, dengan target sebarisan perwira polisi yang diincarnya dengan kecermatan tinggi. Melalui publisitas yang dibangunnya lewat wartawan kriminal Dunlop (David Morrissey), Blitz pun memulai aksi ini, namun di sisi yang berseberangan, polisi liar Tom Brant (Jason Statham) juga siap buat menghentikannya, walau harus berpasangan bersama partner sekaligus atasannya yang perlente, Porter Nash (Paddy Considine). Apalagi Brant sudah lama menyimpan kekesalan terhadap Dunlop yang kerap mempublikasikan kekerasannya menangani kasus. Identitas Blitz mulai terbuka saat rencananya menyerang Elizabeth Falls (Zawe Ashton), polwan penuh masalah yang tengah bernegosiasi dengan Craig Stokes (Luke Evans), rekan Brant, untuk melenyapkan sebuah bukti kejahatan. Pasalnya, Brant yang dekat dengan Falls sudah mencium adanya riwayat masa lalu pribadinya dengan Blitz. Sekarang, dengan atau tanpa izin Nash, bukti atau tanpa bukti, Brant hanya punya satu tujuan. Meringkus Blitz alias Barry untuk selamanya.
Blitz yang diangkat dari novel kriminal berjudul sama karya Ken Bruen, yang harusnya berupa satu dari beberapa serial petualangan duet Sersan detektif Tom Brant dan Chief Inspector James Roberts, dalam adaptasi ini sedikit dibelokkan ke paduan karakter berbeda. Tak lagi dengan Roberts yang disini ikut tergambar bukan sebagai karakter utama, Brant berduet dengan detektif Porter Nash yang metroseksual dan kerap dituding seorang gay. Pembelokan yang digagas Nathan Parker sebagai penulis skripnya menjadi buddy movie dalam atmosfer crime thriller Eropa yang kental, sedikit banyaknya juga mengacu pada pakem film-film bertema polisi era 70-80 itu, namun harus diakui berhasil menciptakan kombinasi karakter yang unik dan terasa kembali fresh di era sekarang. Paddy Considine, aktor Inggris yang lebih dikenal dalam deretan peran antagonisnya justru menjadi highlight yang sangat kuat dalam mengimbangi keberingasan Statham dalam role tipikalnya. Ini kira-kira mirip sekali dengan salah satu cop thriller cult-nya Abel Ferrara, ‘Fear City’, yang dulu memasang Tom Berenger dan Jack Scalia dengan chemistry yang juga nyaris sama. Di luar duet utama itu, adalah Aidan Gillen, juga aktor Inggris yang punya cap tipikal antagonis di beberapa produk Hollywood yang well-known (Shanghai Knights dan 12 Rounds-nya John Cena barusan), yang sangat berhasil memerankan bajingan dengan tingkah memuakkan. Selebihnya, meski Luke Evans yang sebentar lagi bakal tampil di Three Musketeers baru, bisa sedikit mencuri layar bersama Zawe Ashton yang juga bermain bagus sebagai Falls, tampaknya mentok sebagai pernak-pernik tak penting. Kredit Elliott Roberts sebagai sutradara mungkin belum banyak, malah mungkin sama sekali belum dikenal, namun visinya membawa kembali nuansa euro crime thriller kuno ke industri modern sekarang agaknya patut mendapat catatan penting, apalagi trio jualan utama yang terpampang gede di barisan cast poster promosinya bisa membangun chemistry mereka dengan bagus. Intensitas thrilling-nya juga terjaga rapi. Tapi apa boleh buat, lari dari kebutuhan trend yang masih marak juga butuh perjuangan lebih. Blitz mungkin bisa mendapat resepsi yang baik di negara asalnya sebagai produksi pertama Lionsgate UK, termasuk di Asia dimana nama Statham selalu dibandrol sebagai action hero pemikat penonton. Belum lagi buat penggemar euro crime thriller yang banyak berstatus cult, yang pasti akan mengapresiasinya lebih . Namun di AS, ia harus puas sebagai sajian straight to video bersama film-film aksi kelas B, tanpa satupun kesempatan lebih dari itu. (dan)
PUPUS / MILLI & NATHAN : SAME EVENTS, DIFFERENT PACKAGE
Curi mencuri ide dalam film yang rilis berdekatan atau bersamaan ternyata bukan hanya ada di Hollywood. Indonesia juga pernah begitu. Sangkuriang dan Tangkuban Perahu di tahun 1982, lantas belum lama ini Pijat Atas, Tekan Bawah dan SMS (Suka Sama Suka) yang celakanya, sama-sama produk plagiat tak bertanggung jawab dari Bollywood. Pupus dan Milli & Nathan agaknya juga punya kasus mirip. Biar wrappingnya sedikit berbeda, sulit untuk menghindari kesamaan dari plot sentralnya secara keseluruhan. Bahwa ada banyak juga melodrama Asia punya pakem yang sama dari waktu ke waktu, itu benar. Namun waktu rilis yang dekat, let’s admit it, mau tak mau, membuat kecenderungan pikiran ke arah sana makin kuat. Yang penting adalah mana yang lebih baik, atau justru sebelas-duabelas dari segi kualitas, baik atau jelek. Jelasnya, dua film ini sama-sama bergenre tragic love story dengan naik turun plot yang mirip. Don’t be mad. I don’t think that’s a spoiler nor an answer to a twist.
Dalam Pupus, yang teaser trailernya sudah sejak lama tampil sebagai promo tiket online jaringan sinema kita, love story itu bergulir antara Cindy (Donita), gadis asal Lampung yang baru saja memulai perkuliahannya di ibukota dengan seniornya yang bernama Panji (Marcel Chandrawinata). Sebuah peristiwa yang membuka perkenalan dua orang dengan tanggal kelahiran sama ini kemudian membuat Cindy penasaran akan sikap Panji yang jinak-jinak merpati. Sesaat, Panji seperti punya perasaan yang sama terhadap Cindy, namun tak jarang juga ia mengecewakan Cindy tanpa ampun, bahkan akhirnya, menarik diri sama sekali dari kehidupan Cindy dengan sebuah alasan bahwa ia bakal menikah dengan wanita lain. Cindy akhirnya mengetahui apa yang ada dibalik alasan Panji bersikap seperti ini, di saat waktu mereka untuk bersama hampir tak lagi banyak tersisa. You’ll know where it goes, trust me.
Then Milli & Nathan tells another love story. Tentang dua remaja yang saling suka sejak masa SMU mereka di Bandung. Nathan (Chris Laurent) yang merupakan sosok anak pintar sering menyambangi Milli (Olivia Jensen Lubis) untuk mengajarnya bak seorang guru les. Mereka pun akhirnya jadian. Namun menjelang kelulusan, Nathan yang berniat serius ke kuliah memutuskan hubungan mereka, meski tetap mencintai Milli. Milli yang lantas meninggalkan bangku kuliah untuk mengejar mimpinya juga berhasil menjadi penulis novel sukses. Di sela perjuangannya masing-masing, mereka tetap saling bertemu sesekali. Melepas rindu, pacaran lagi, namun Nathan selalu meninggalkan ketidakjelasan bagi hati Milli yang juga tengah menjalin hubungan baru dengan Oscar (Fendy Chow), rekan sahabat dekatnya, Asti (Sabai Morscheck). Kekecewaan Milli mencapai puncaknya ketika Nathan akhirnya mengaku hendak menikah dengan teman kuliahnya. Life goes on, dan tepat menjelang pernikahan Milli dengan lelaki pilihannya (Dimas Beck), Asti datang dengan sebuah surat yang membuat Milli menyadari ketulusan Nathan padanya selama ini. Trust me again, you’ll know where it goes.
Konsep sama, paket berbeda. Selagi Pupus yang seperti biasa, diwarnai gaya Rizal Mantovani, apalagi lagu tema yang aslinya sebuah hit single karya Ahmad Dhani sebelum ‘went berserk’ itu sudah lama tertanam di telinga kita, hadir bak sebuah videoklip dengan visual colorful yang cantik, Milli & Nathan tak kalah menarik. Hanny R. Saputra memang tak pernah punya konsep yang jelas sepanjang karir naik turunnya, namun belakangan ini konsep visualnya mulai membaik. Bersama tim sinematografi disini, Milli & Nathan jadi pencapaian terbaiknya dalam hal visual. Ini seolah membolak-balik sebuah album pre-wed ala sekarang, dengan teknik fotografi yang sekilas kelihatan polos namun artistik. Skor dan lagu-lagu dari Winda Idol yang lebih baru juga memberikan sinergi yang baik dengan visual ala album foto itu. Dari sisi visual, dua-duanya baik, namun punya sisi art yang berbeda.
Then let’s go to the cast. Dua film ini agaknya menemukan juaranya pada pemeran utama wanita. Donita dan Olivia Jensen, dua-duanya mampu mencuri perhatian kita untuk terus melahirkan sosok karakter yang lovable. Bukan soal tangis-tangisan dan skenario yang menempatkan mereka jadi objek penderita dalam hal perasaan sehingga mengundang rasa kasihan, namun mereka bisa memaksimalkan persona yang ada tak hanya sekedar jual tampang, tapi diimbangi dengan akting yang wajar serta sepenuhnya lepas. Penampilan yang tak berimbang dengan sang arjuna yang dua-duanya kedodoran dalam kelas yang berbeda. Selagi Marcel tak cukup meyakinkan dalam scene-scene akhir walaupun sudah dipoles sedemikian rupa sebagai penderita penyakit terminal, dengan penggambaran medis yang juga seperti biasa, kurang pas namun tak sampai salah kaprah, Chris Laurent agaknya masih perlu jam terbang lebih tinggi untuk bisa menunjukkan turnover karakternya dengan lebih meyakinkan. Tapi Chris masih lebih baik daripada Fendy yang ekspresinya ada di tingkat sinetron itu. Satu catatan buat Milli & Nathan, Sabai Morscheck yang muncul sebagai pelengkap justru memberikan chemistry yang jauh lebih baik dengan Olivia Jensen.
The last thing, adalah segi pengembangan dari plot dasar tergolong klise untuk segudang film dengan genre yang sama. Ini agaknya sudah menjadi ciri khas banyak skenario kita dalam membangun konflik yang jarang sekali bisa tampil wajar, begitu pula dengan reaksi yang dihadirkan dalam konflik-konflik itu. Let’s compare both of them. Pupus mungkin muncul dengan pemaparan karakter lebih wajar, no matter how stupid that girl came into your thoughts, karena karakter-karakter ini, believe it or not, sekali waktu kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun rentang lima tahunan yang digelar dalam bangunan ceritanya membuat gambarannya jadi terlihat terpotong-potong tanpa bisa menampilkan detil-detil penting, dan ini cukup berpengaruh pada feel keseluruhannya. Milli & Nathan, awalnya justru kedodoran, dengan alasan yang terasa kelewat dipaksakan untuk memisahkan dua karakter utamanya. Namun selanjutnya, skenario Titien membawanya pada sebuah batasan baru sinema love story remaja kita, dimana serangkaian konsep pendewasaan mulai dari ciuman-ciuman bibir (yang kabarnya dire-cut oleh LSF), ML, sampai pernak-pernik lainnya (no, saya tak akan menyebutnya kumpul kebo atau segala macam anggapan konservatif yang selama ini ada) yang tak lagi digambarkan begitu tabu dengan pengadeganan klise seperti kenyataan yang ada sekarang. That’s life after all, dimana ML pertama kali tak harus digambarkan dengan menggenggam sprei, wajah kesakitan sambil menangis sesenggukan, langsung terlambat haid dua bulan and so on, bukan pula sebagai bumbu klise yang harus ada di film cinta-cintaan. Apa yang kita saksikan dalam bagian-bagian ini sebagai pengembangan plotnya tampil apa adanya tanpa harus dipaksakan, sekaligus relevan, dan itu bagus. Sayang, next step dimana konfliknya terus diulur-ulur membuat kita tak lagi perduli dengan dialog-dialog puitis serta ending yang harusnya bisa tampil lebih menyentuh. Yang kita saksikan justru klimaks penutup album prewed yang jadinya terasa lebih meriah dari seharusnya. Oke, tak ada yang salah dengan keduanya meski punya ide dasar yang sama di tengah klise-klise yang ada di sebuah genre. However, Pupus itu lebih pas jika dibandrol judul ‘Happy Birthday’ ketimbang menjual lagu bagus yang tak juga relevan sekali dengan plotnya.
Dominasi Hollywood di genre horor yang sejak lama sudah tergeser Asia sepertinya sesekali masih mencoba menggebrak. Oke, some might be close, tapi belum ada yang benar-benar bisa membuktikan kehebatannya. Terakhir, Drag Me To Hell yang muncul dengan inovatif masih juga menyisakan banyak pro dan kontra. Let’s get back to its roots. Bahwa sebuah sajian horor, punya satu persyaratan mutlak untuk jadi besar di luar tetek bengek lain termasuk twist ini dan itu. Cukup satu. Menyeramkan, dan Anda berarti sudah berhasil. Dan seorang James Wan, yang inovasinya sudah begitu membekas di thriller slasher Saw yang berkembang menjadi franchise besar dan kabarnya masih bakal terus dilanjutkan, agaknya tahu benar itu. Nope, Wan bukan seorang sineas yang sekedar menakut-nakuti atau membuang-buang darah di filmnya. Pikirannya penuh inovasi, tapi dia tahu, inovasi saja tak akan bekerja banyak membangun sebuah horor klasik. Ada senjata rahasia yang harus dibombardir dulu ke penonton untuk bisa nyaman menerima inovasi-inovasinya lebih lanjut, seperti pikiran yang sudah tersihir. So here comes Insidious, horor Amerika yang beberapa waktu belakangan banyak dibicarakan orang. Oh ya, masih ada pro dan kontra memang, tapi percayalah, lebih dari 80% akan memujanya begitu hebat sebagai gebrakan yang bisa menyaingi seram-seram ala horor Asia lainnya. Apalagi, kreator Paranormal Activity, horor gaya baru yang hadir belakangan, ikut duduk di kursi produser.
Pasangan Renai (Rose Byrne) dan Josh Lambert (Patrick Wilson) yang punya tiga anak baru saja pindah ke rumah baru ketika Dalton (Ty Simpkins), putra sulung mereka, mulai merasa terganggu. Sebuah kecelakaan kemudian mengantarkan Dalton ke kondisi koma keesokan harinya. Renai pun mulai menyaksikan dan mendengar visi-visi menakutkan yang mengganggu putri bungsunya yang masih bayi, sementara pihak medis tak juga bisa menemukan problem yang ada pada Dalton. Ketika Renai mulai diserang secara langsung, ia pun memutuskan pindah rumah lagi bersama Josh. Namun teror ini tak juga berakhir, bahkan berlangsung semakin masif di rumah baru mereka. Ibu Josh, Lorraine (Barbara Hershey) kemudian memanggil Elise Reiner (Lin Shaye), paranormal kenalannya. Bersama dua ghostbusters ahli supranatural modern Tucker (Angus Sampson) dan Specs (Leigh Whannell), mereka mulai menelusuri energi-energi negatif yang ada disana. Sampai Elise membuka kesimpulannya bahwa Dalton ternyata memiliki kemampuan astral project, yang bisa memisahkan rohnya ke dunia paralel dan menyebabkannya tersesat disana atas keinginan jahat roh lain. Sementara jasadnya yang kosong juga memancing roh-roh lain untuk mengambil alih. Josh yang awalnya tak percaya kemudian mulai mendapati keanehan pada lukisan-lukisan Dalton, dan lantas dikejutkan Lorraine oleh sebuah sejarah yang sudah lama dilupakannya.And the game to get Dalton back begins.
Mock up hantu? Ah. Insidious jelas jauh dari inovasi horor Asia yang meski tipikal dengan rambut panjang berjubah putih ngesot kesana kemari tapi selalu kelihatan menakutkan. Style James Wan yang sangat old fashioned dengan topeng-topeng badut dan boneka marionette (boneka tali) kembali disempalkannya disini, dan sebenarnya, juga kalah menyeramkan. Soal topeng-topengan, sineas se-kacrut KK Dheeraj pun pernah mencoba menirunya di Genderuwo, tapi, gagal total. Lantas skor musik ala horor kuno yang menyeruak tiba-tiba seperti sepuluh tuts piano yang ditekan bersamaan dengan keras? Oh-ow. Bukan zamannya lagi sepertinya. Ratusan film horornya Nayato bermain-main di wilayah ini dan kita semua lebih merasa terganggu ketimbang takut. Pemunculan hantu yang cukup sering berseliweran dimana-mana? Hey, sekarang orang banyak bilang, semakin jarang hantunya muncul, semakin seramlah filmnya. Alur klimaksnya? Sudah banyak juga film horor yang bermain di wilayah jemput-menjemput ke dunia lain, bahkan 'The Real Pocong' nya Indonesia pun punya itu. Hanya ada satu modal yang dari sananya sangat horor, dan sengaja tak dipoles make-up berlebih. Tampang klasik Rose Byrne yang bagaikan wanita-wanita pemeran film horor era 70an.
Jadi mengapa semua elemen old fashioned itu bisa terasa begitu menakutkan disini, bahkan topeng yang jelas-jelas kelihatan seperti topeng itu bisa membuat penonton terperanjat ketika dimunculkan sekilas? Ini justru jadi inovasi yang sangat mengagumkan dari James Wan. Dia tahu kalau style-style old fashioned ini sebenarnya masih bisa menakutkan penonton bila eksekusinya dilakukan dengan benar. Dan semua elemen old fashioned itu hanya digunakan Wan untuk memberikan jalan merusak pikiran penontonnya di bagian-bagian awal, sebelum ia melancarkan serangan lanjut dengan inovasinya yang lebih gila. Gambaran paranormal dengan peralatan modern, teori-teori klenik tentang energi negatif, astral projection, gambaran foto dan elektromagnetik, menyempilkan tawa di tengah ketakutan, sampai twist ini dan itu pun kemudian bisa masuk dengan mulus membangun plotnya. Sama dengan proses yang digambarkannya di bagian-bagian klimaks, seperti itu pula Wan menenung penontonnya. Bagaikan sebuah sihir yang terlebih dahulu menghipnotis kita semua (Oh ya, dan sebuah hipnotis pasti tak akan berhasil sepenuhnya bila perhatian Anda distracted kesana-sini ; therefore, don’t missed the details and do watch it in theatres). Pacuan adrenalin itu akan terus naik lagi dan lagi, dan saat kita sadar, kita sudah tahu bahwa satu teriakan di tengah beberapa tawa keras pun tak akan cukup untuk bisa mengikuti alurnya sampai selesai. Seperti gebrakan awal Saw tempo hari, James Wan sudah berhasil menyuguhkan kita satu lagi karya dengan kualitas inovasi yang sebanding. Yes, this is damn scary and fun altogether, and I’m sure, for any of you who missed his ’Dead Silence’ yang gaung dan hasilnya memang tak sedahsyat ini, you’ll ended up craving the movie at the nearest stores or rentals. (dan)
Let’s be a little fairer, bahwa sebuah chick flick, bahkan Twilight sekali pun, tak selamanya seburuk itu (oh, but New Moon, is another case, really). Mau tampil se-unyu apapun, dalam koridor film sebagai hiburan, Beastly sebenarnya tak terlalu salah. Mereka memang mengarahkannya pada sebuah chick flick, and we’ve definitely got one. Tak ada yang salah dengan chemistrynya, dan visual-visualnya juga tampil menarik disamping keanehan visual tampang Kyle yang penuh tato tak kalah aneh itu. However, daripada dibuat klise jadi monster berbulu, ya, bolehlah. Sah-sah saja. Visual pergantian musimnya hadir dengan cantik bersama alunan soundtrack emo yang terus terang, sangat catchy itu. Karakter Neil Patrick Harris juga bisa jadi highlight tersendiri. So you might hate Beastly kalau merasa anti dengan film yang unyu-unyu, tapi dalam bentuk aslinya sebagai sebuah tontonan yang berada di genre chick flick, Beastly sudah menembak tepat ke sasarannya. Sangat tepat, malah.
OVERLOADED IDEAS & NARROW CONCLUSION
UN adalah sebuah kesalahan sistem, kita semua tahu itu. Tapi menciptakan suatu standar, juga adalah hal yang tak kalah penting. Time is the answer, maybe. Terhadap ambisi terburu-buru untuk mengejar sebuah standar. Lah, kok bicara tentang UN? Oh yeah. Karena ini juga adalah sebuah ambisi. Ambisi yang penuh dengan niat baik, niat edukatif, pengenalan budaya, dan overall, sebuah cerita dengan pengharapan. Pencapaian yang juga dulu berhasil dibangun Alenia Pictures lewat film indah yang berjudul Denias : Senandung Di Balik Awan, serta, ya, Tanah Air Beta, yang meski tak sebesar Denias tapi masih cukup informatif dan setia di koridornya. Pendidikan formal dengan UN yang jadi momok bagi banyak orang itu, ternyata mengambil porsi kelewat besar untuk memberangus cerita uplifting metafora mimpi seorang anak dengan kecacatan bibir sumbing dari Sumbawa dalam sebentuk kumbang, yang seharusnya, saya percaya, bisa tampil jauh lebih baik dari ini. Dan tak hanya UN, ide dasar itu juga nyatanya semakin diperkeruh dengan banyaknya isu-isu lain yang disempalkan, mulai dari pilihan atas pendidikan formal vs non-formal, kekerasan di sekolah, mitos-mitos mistis hingga problema TKI negara tetangga. Bukan cuma pemikiran utama itu yang jadi blur, namun begitu juga isu budaya setempat yang seharusnya bisa memperkaya khazanah tentang belahan lain Indonesia yang selama ini luput dari perhatian kita. Dan oh, tentang beberapa press release yang menyebutkan ini adalah kisah dari tiga anak sumbawa mengejar mimpi mereka, selayaknya Laskar Pelangi yang berhasil membagi porsi dengan jauh lebih baik? Lupakan. Dua anak lainnya cuma tampil sebagai polesan untuk berkonyol-konyol. Yes, it is indeed, Overloaded.
Di Desa Mantar, di puncak bukit pedalaman Sumbawa yang masih jauh dari jangkauan kemajuan pembangunan, Amek (Yudi Miftahudin) hidup bersama kakanya, Minun (Monica Sayangbati) dan ibunya, Siti (Titi Sjuman) yang hidup dari berjualan jajanan kecil-kecilan. Sang ayah, Zakaria (Asrul Dahlan) sudah tiga tahun merantau, mengaku sebagai TKI di negeri tetangga, hanya dengan kabar sepucuk surat. Amek yang bersekolah di SDN 08 berlawanan dengan kakaknya yang selalu menjadi juara kelas di SMP yang sama. Kekurangannya dari bibir sumbing yang dimilikinya sejak lahir membuat Amek jadi sedikit introvert namun nakal, sama seperti teman dekatnya, Acan (Fachri Azhari) dan Umbe (Aji Santosa). Guru-gurunya pun beragam. Selagi Bu Imbok (Ririn Ekawati) dan Pak Openg (Leroy Osmani) menerapkan kelembutan, Pak Alim (Lukman Sardi) selalu menempa mereka dengan disiplin kaku dan keras, namun didukung oleh Kepala Sekolah, Pak Jabuk (Dorman Borisman). Setiap mimpi akan cita-cita anak-anak ini digantungkan mereka dalam botol di sebuah pohon yang mereka namakan pohon cita-cita. Di luar sekolah, mereka belajar mengaji di musholla pada sesepuh desa, Papin (Putu Wijaya) yang juga kakek Umbe. Konflik berkembang kala kenakalan Amek dkk mengintip rok Ibu Rukiah (Melly Zamri). Hukuman Alim dan Jabuk yang dianggap Imbok terlalu keras membuatnya mengundurkan diri dan mulai mengajar anak-anak ini berikut penduduk desa yang belum pernah bersekolah bersama Papin yang juga tak setuju dengan kekerasan itu. Zakaria yang pulang dengan sejuta dongeng pun mewarnai konflik itu, hingga memupuskan mimpi Amek yang ingin mengikuti pacuan kuda atas dorongan Papin. Semua konflik ini mencapai puncaknya ketika murid-murid SMP termasuk Minun tak lulus UN, padahal sebagian penduduk desa sudah berusaha dengan cara mereka masing-masing demi kelulusan anaknya. Ya, saya tahu, meski sudah dipersingkat dalam sinopsis pendek pun Anda-Anda yang membacanya sudah bisa merasa bangunan plotnya serba tak fokus.
Itu juga yang terjadi dalam penerjemahannya sebagai sebuah karya bernama film yang dibesut dengan ambisi besar dibalik sebuah niat baik untuk persembahan yang bisa terasa edukatif di semua sisinya. Saya tak menampik bahwa semua, termasuk Jeremias Nyangoen, yang lebih dikenal lewat perannya dalam adaptasi kisah Sumanto tempo hari, sebenarnya sudah berusaha menyampaikan kombinasi itu dengan keras. Akting para pendukungnya pun tak main-main termasuk bakat-bakat baru yang sebagian asli dari daerah settingnya tadi. Paduan aktor senior mulai dari Lukman Sardi, Dorman Borisman, Leroy Osmani, Titi Syuman, Asrul Dahlan sampai Putu Wijaya, dengan aktor-aktor juniornya memang menyuguhkan kita sebuah chemistry yang penuh sinergi. Begitu juga score yang digagas pasangan Aksan dan Titi Sjuman dengan nuansa orchestra yang menyayat sekaligus megah, plus themesong dari Ipang yang meski diulang-ulang tapi cukup catchy. Namun semua ini masih belum bisa menutupi tumpang tindih naskahnya yang overloaded itu, dimana beberapa karakter yang harusnya bisa jadi penting pun seringkali lewat percuma. Apalagi, penggambaran konfliknya penuh dengan hal-hal klise. Mulai dari anak kampung yang selalu kehilangan sosok ayah, gambaran manusia perantau yang tak pernah lurus, sampai, lagi-lagi, masalah intip-mengintip di sebuah film anak yang seharusnya tampil penuh pesan dan uplifting. Edukasi seksual mungkin bukan sesuatu yang perlu ditutup-tutupi, namun dalam pakem film kita, visualisasinya kerap jadi salah kaprah dan sama sekali tak mendidik, namun hampir selalu muncul di benak penulis-penulis kita sebagai bumbu yang tak perlu. Di satu sisi mungkin kita bisa menangkap keinginan Ari Sihasale bersama timnya secara begitu bersemangat sampai meninggalkan kisah utama tentang mimpi Amek berikut juga metafora Kumbang yang akhirnya hanya tampil di awal dan akhir sebagai pelengkap, untuk memberikan pandangan pada suatu isu tanpa sebuah judgment. Tapi gelarannya yang tampil kelewat hitam putih malah membuat kesan pendidikan formal dengan UN itu adalah sebuah momok menakutkan yang bisa menghancurkan siapa saja. Yang menyeruak ke depan justru bentuk persetujuan absolut pada pendidikan non formal yang justru kenyataannya membuat otak bangsa kita dipenuhi mitos-mitos tak benar dari such people called sesepuh, pak haji, atau apapun, di kampung kecil yang juga mengaku tak pernah kenal bangku sekolah. Dialognya pun jelas memperdengarkan itu. Oh, c’mon. Pendidikan formal bukanlah hanya untuk tujuan sebuah gelar, namun kita semua perlu itu, di luar sistem kacau balau yang ada di banyak belahan dunia, bahkan negara maju sekali pun. Toh beberapa adegan termasuk sejarah Waterloo sudah menunjukkan dimana batas perbedaan dua sistem pendidikan tadi, termasuk juga anggapan musyrik yang membunuh impian manusia-manusia belia ini tapi ditampik Imbok dan Papin. Anda mungkin berusaha untuk memberi jalan tengah, namun pesan yang sampai justru bukan menengahinya secara bijak dan justru membenarkan secara picik satu yang tak juga sepenuhnya benar. Dan apa boleh buat, ketika penyelesaian konflik seabrek itu akhirnya dikembalikan ke koridor yang benar tentang Amek dan pacuan kuda, kelulusan UN serta operasi bibir sumbingnya, sebuah tragedi yang membekas justru membuatnya semakin terasa digampang-gampangkan dengan durasi seadanya. Seperti paragraf, film juga seharusnya memiliki pikiran utama yang mengharuskan bangunan plotnya setia mengarah kesana. Apalagi dalam gambaran realis yang mengikutsertakan informasi dan pengenalan budaya. This is not the right one, dan dengan niat baik tadi, kesimpulannya adalah ’sayang sekali’. (dan)
SAME RECIPE, SAME FUN!
Di luar Bukan Malin Kundang dan 3 Pejantan Tanggung yang agak tanggung-tanggung, selalu menarik menyaksikan film-film Iqbal Rais. Bukan karena inovasi ini dan itu, tapi dalam batasan sinema sebagai hiburan murni, kalau tak ingin menyebutnya komersil, Iqbal adalah seorang storyteller yang lancar. Skenario boleh saja penuh dengan bolong-bolong di sana-sini bagi pemirsa yang menonton dengan kecermatan tinggi dan masih memikirkan kewajaran di tiap sisi plotnya. Tapi ini adalah hiburan. Tontonan komersil yang bukan hadir dengan tujuan muluk-muluk. Cukup dengan kelancaran bercerita, komedi yang bisa memancing tawa dan diletakkan di bagian-bagian yang tepat, chemistry yang enak di karakter-karakternya dimana film-film Iqbal biasanya tak hanya punya satu karakter sentral, dan dramatisasi seperlunya, Iqbal sudah bisa membangun filmnya dengan baik. The Tarix Jabrix yang membawa band nyentrik dan tematik The Changcuters ke layar lebar sekaligus adalah debut kesuksesan pertamanya, begitu pula dengan sekuelnya yang masih tetap dibesut Iqbal. Dengan keluwesan The Changcuters yang bisa meracik ensembel komedian dengan karakter-karakter yang berisi, seolah menyaksikan kembali kejayaan grup-grup seperti PSP atau Sersan Prambors dulu, ini seharusnya jadi proyek paling personal bagi Iqbal Rais yang punya sejuta alasan buat dilanjutkan.
Masih menyambung petualangan The Tarix Jabrix, geng motor lain dari yang lain ; Cacing (Tria Changcut), Dadang (Erick Changcut), Mulder (Dipa Changcut), serta Ciko dan Coki (Alda & Qibil Changcut), film ketiga ini mengisahkan sepak terjang mereka menghadapi geng motor Road Devils yang terkenal sebagai perusuh di seantero Bandung. Atas permintaan atasannya di perusahaan asuransi tempat Cacing bekerja (Denny Chandra), Cacing ditugaskan melakukan negosiasi karena banyaknya klaim asuransi dari kerusakan yang diakibatkan ulah Road Devils. Cacing tentu saja mengajak rekan setianya, Mulder yang tengah berseteru dengan sang ayah (Joe P Project), Dadang serta Ciko & Coki yang juga lagi bermasalah dengan pekerjaannya. Kepulangan mereka ke Bandung ternyata langsung disambut oleh Road Devils dengan Jendral barunya, cewek galak bernama Melly (Olivia Lubis Jensen). Saat mobil dan uang kantor Cacing dirampas, Cacing pun mengajak Road Devils balapan dengan sebuah taruhan. Cacing berhasil dipecundangi Melly, bahkan emaknya (Inggrid Widjanarko) pun diancam. Atas saran Barokah (Eddi Brokoli), mantan Jendral Road Devils yang tersisih, The Tarix Jabrix dipertemukan dengan Laksamana Roda Gila (Budi Dalton) yang mau melatih mereka demi sebuah re-match. Dan Cacing kali ini punya senjata lain, dengan mendekati Melly secara pribadi yang diam-diam juga mengaguminya. Saat balapan ulang berlangsung, sebuah konspirasi dalam tubuh Road Devils terbuka, namun bersamaan, sebuah kejadian longsor juga membuat ayah Mulder yang tengah mencoba proyek air bersihnya di kampung itu terperangkap bersama emak Cacing. Sekarang Tarix Jabrix dan Road Devils harus menentukan pilihannya. Terus bertanding atau bahu membahu menyelamatkan penduduk yang ditimpa bencana.
Selain kekuatan Iqbal dalam storytelling yang lancar serta tampilan The Changcuters yang selalu sukses dengan chemistry dan humor-humor mereka yang mengalir sama lancarnya tanpa terjebak menjadi garing, franchise ini punya satu daya tarik lagi. Duo pemeran wanita yang kali ini menampilkan Olivia Jensen dan Kamidia Radisti. Pendukung-pendukung lainnya juga bisa menampilkan sisi komedik yang bersinergi dengan lawakan mereka yang selalu fresh. Ada Eddi Brokoli, Candil, Budi Dalton dan tentu saja Joe P Project yang selalu tampil remarkably funny di peran-peran kecilnya. Barry Prima, Fathir Muchtar dan Wagub Jabar, Dede Yusuf yang muncul sebagai cameo juga mampu menghadirkan highlight cukup asyik, plus pastinya lagu-lagu The Changcuters yang tampil sebagai penghias. Menanamkan karakter memorable dalam sebuah franchise musikal (sah saja rasanya disebut ini karena latar belakang The Changcuters meski disini mereka tak tampil sebagai anak band) komedi bukan suatu hal yang gampang, namun The Tarix Jabrix sudah berhasil sejak film pertamanya, dan selebihnya pasti bisa mengalir dengan sendirinya. Instalmen ketiga dari Iqbal ini memang seperti biasa, sangat menghibur, bahkan lebih baik dari film sebelumnya. Dan seperti yang diberitakan, ini mungkin saja benar-benar jadi petualangan The Tarix Jabrix yang terakhir. But somehow I’m sure, anak-anak Changcut ini bakal bisa terus bertahan di sinema komedi Indonesia dengan keunikan yang mereka punyai. When you have those powers, resep yang sama kadang memang perlu terus dipertahankan. (dan)
Ada yang bilang, Trilogi Merdeka yang mengusung judul Merah Putih ini adalah film perang Indonesia dengan gaya Hollywood. Ah, tak seperti itu juga, namun kalau krunya yang diimpor memang orang-orang yang malang-melintang di film-film Hollywood, blockbuster pula, itu memang benar. Sayangnya, rekord gede di film-film seperti Gladiator, Saving Private Ryan, Black Hawk Down dan seabrek lagi yang dipromokan besar-besaran, tak membuahkan hasil yang memadai di gebrakan pertamanya. Merah Putih I tampil bahkan tak lebih dari sejumlah film-film perang Indonesia tahun 80an yang remarkable dari Kereta Api Terakhir, Janur Kuning bahkan Pasukan Berani Mati yang punya kemiripan premis dari interaksi antar sukunya. Saya tak mempermasalahkan bahasa baku dalam kepentingan translated scriptnya, tentunya, karena timelinenya mengambil sejarah, sejauh sedikit kepeleset menggunakan bahasa-bahasa modern disana, ini sah saja. Namun di sekuelnya, Darah Garuda, beberapa kesalahan itu berhasil diperbaiki. Tak hanya adegan perang yang lebih realistis, beberapa adegan ledakannya juga cukup eksplosif. Feel adventurous karakter-karakternya juga lebih terasa dengan chemistry yang makin membaik. Toh sejarah hanya mengambil tempat sebagai latar, sedangkan karakter-karakternya fiktif. So, Hati Merdeka sebagai penutup sudah seharusnya mengundang ekspektasi yang lebih lagi. Tapi...
Dibuka dengan opening scene bak film-film James Bond, dimana tokoh-tokoh kita ini sedang menjalankan sebuah misi di sebuah klub Belanda, sebagian bersiap dengan senjata dari jauh dan sebagian lagi menyamar sebagai pelayan, Hati Merdeka sudah dimulai dengan sangat menarik. Konflik awalnya pun digelar dengan meyakinkan, dimana Kapten Amir (Lukman Sardi) harus mengambil keputusan terberat saat Budi (Aldy Zulfikar), sniper kecilnya tertangkap oleh Belanda. Perseteruannya dengan Tomas (Donny Alamsyah) pun makin meruncing, apalagi dengan keributan yang ditimbulkan Tomas dkk dengan Kapten Sofwan (Arifin Putra) di luar pengetahuan Amir. Saat misi berikutnya menugaskan pasukan elit ini ke Bali untuk membunuh Kolonel Raymer (Michael Bell, RIP last April), komandan Belanda yang terkenal kejam dan pernah membunuh keluarga Tomas, Amir pun mengundurkan diri karena misi membunuh secara pribadi dan didasari dendam dianggapnya bertentangan dengan prinsipnya. Maka dibawah komando baru Tomas, Marius (Darius Sinathrya), Dayan (T. Rifnu Wikana) dan Senja (Rahayu Saraswati) melanjutkan perjuangan mereka tanpa Amir. Setelah menghadapi serbuan Belanda ke kapal yang mereka tumpangi, di Bali mereka bergabung dengan tentara rakyat dibawah pimpinan Wayan Suta (Nugie) bersama Dayu (Ranggani Puspandya) yang keluarganya baru dibantai Raymer serta membuat Marius terluka parah. Amir ternyata juga akhirnya menyusul kesana setelah menyadari kekeliruannya meninggalkan rekan-rekannya. Misi menghadapi Raymer pun berlanjut, namun Amir tetap mempunyai misi untuk menghentikan kekejaman dengan tetap setia di jalan perjuangan revolusi mereka.
Menempatkan penutup trilogi yang seharusnya tampil sebagai klimaks yang lebih dari film-film sebelumnya, sayangnya tak dihandle dengan plot dan skenario yang serba mendukung. Alih-alih menonjolkan revolusi mengusir penjajah dari tanah Indonesia, duet penulis ayah dan anak Rob dan Conor Allyn justru menyorot tokoh villain-nya secara personal, yang justru semakin menyusutkan tema revolusinya. Sudah begitu, Hati Merdeka dengan terang-terangan memasukkan resep gampang ala Hollywood yang serba unlikely dan ridiculous tanpa kewajaran yang pas demi mempertahankan karakternya dengan cara seenaknya. Di saat karakter penting langsung mampus dan hangus saat terkena pecahan ledakan bom, karakter utamanya justru tetap aman-aman saja tanpa kurang suatu apa. Luka yang luarbiasa ditunjukkan dengan parah pun bisa dihandle dengan sebuah keyakinan. Ah, ini sedikit keterlaluan. Fiktif boleh saja fiktif, bahkan dengan tujuan pesan moral konflik antar suku dan agama, tapi sedikit keseimbangan akan terlihat jauh lebih wajar, apalagi ada kewajiban timeline yang sesuai dengan sejarah disana.
Belum lagi dengan bongkar pasang kepentingan karakter yang mungkin tujuannya menciptakan sedikit keadilan ke karakter-karakter yang ada, namun salah kaprah, serta memilih hanya satu daerah yang disorot dalam kepentingan sebuah finale. Sempalan kisah traumatik Raymer yang karakternya digambarkan kelewat komikal seperti villain film-film action murahan juga lewat dengan sia-sia. Hati Merdeka pun semakin kehilangan tujuannya menuju bagian-bagian akhir yang tak juga bisa diperbaiki sebagaimana harusnya. Konflik yang disempalkan diantara karakternya juga sedikit banyak malah mengurangi chemistry yang di Darah Garuda sudah terbangun hampir sempurna. Mungkin mereka lebih baik menukar urutan antara Darah Garuda dengan Hati Merdeka atas pencapaian feel keseluruhannya. Hanya akting yang masih konsisten dari para pendukung utamanya, plus Nugie yang tampil cukup menarik sebagai pendatang baru dalam akting layar lebar, yang bisa sedikit menyelamatkan Hati Merdeka, berikut adegan perang yang hadir semakin intens, termasuk adegan perang di laut yang terus terang, jarang-jarang bisa kita saksikan di film-film perang kita. Tujuannya untuk sebentuk rasa nasionalisme bisa jadi cukup kuat disamping tetap sebagai sebuah breakthrough dalam genre perang yang semakin jarang menghiasi sinema kita. Tapi selebihnya, sebagai sebuah finale yang seharusnya tampil paling klimaks, Hati Merdeka tak bisa tampil sehebat judulnya. (dan)
Film horor memang trend yang tak pernah bisa mati. Namun yang langsung melonjak menjadi franchise besar, dalam skup sinema layar lebar dan bertahan dengan predikat legendaris, itu jarang-jarang. Scream adalah salah satunya. Film yang kerap digolongkan ke genre horor namun sebenarnya lebih ke slasher thriller sebagai batas tipisnya ini punya banyak amunisi sejak awal. Selain plot yang inovatif dan menyentil resep-resep baku genre sejenis, tema yang sangat meng-anak muda di era 90an, twist pelaku unpredictable yang terjaga dengan baik, diatas semuanya, ada chemistry yang asyik sekali dari tiga pemeran intinya, Neve Campbell, serta Courteney Cox dan David Arquette yang akhirnya resmi menjadi Mr & Mrs. di luar film. O, ya. Tak lupa juga menyebutkan, bak James Bond atau Mission:Impossible yang resep saktinya ada di scene pembuka yang biasanya penuh gebrakan, Scream juga punya ini, dimana nama terkenal dibiarkan menjadi korban slasher secara mengenaskan di scene pembuka itu. So when we think it was all over dengan konsep trilogi lebih dari satu dekade lalu, Craven kini melanjutkannya dengan sebuah awal dari trilogi baru. Kembalinya penulis skenario Kevin Williamson meskipun akhirnya kembali digantikan oleh Ehren Kruger dengan sedikit perombakan di saat-saat terakhir, sedikit banyaknya bisa jadi jaminan tersendiri untuk tendensi mempertahankan orisinalitasnya. Apalagi mengingat instalmen akhir trilogi awalnya sudah banyak dinilai mengalami penurunan di sana-sini, dengan satu kesalahan membiarkan karakter yang kurang mengena baik dari segi keaktoran maupun karakter dalam film, menjadi pelakunya.
Instalmen ke-4 yang di-stylized menjadi Scre4m ini pun mengembalikan Sidney Prescott (Neve Campbell) ke Woodsboro, kampungnya, dimana semua teror berkepanjangan tadi bermula. Tentu, sebelum itu, tetap ada opening scene yang kali ini lebih berpanjang-panjang mengelabui penonton dengan resep lamanya. Ghostface ternyata masih berkeliaran disana, dengan terbunuhnya dua siswi SMU secara brutal seperti biasanya. Sidney yang masih diselimuti trauma dan kembali untuk mempromosikan bukunya langsung menjadi tersangka ketika sebuah bukti ditemukan di mobil rentalnya. Dewey Riley (David Arquette), rekan lamanya yang kini menjadi sheriff terpaksa menahan Sidney di Woodsboro sampai ada petunjuk selanjutnya, selagi ia tinggal di rumah bibinya, Kate (Mary McDonnell) dengan sepupu mudanya, Jill (Emma Roberts). Sidney menemukan banyak kesamaan dirinya di dalam sosok Jill yang juga tengah bermasalah dengan mantannya, Trevor Sheldon (Nico Tortorella). Sementara itu, Gale Weathers (Courteney Cox) ternyata tak pernah mau meninggalkan atribut kewartawatiannya dalam menyelidiki kembalinya Ghostface meskipun sudah ditentang oleh sang suami, Dewey, bersama partnernya, Judy Hicks (Marley Shelton). Muda-mudi Woodsboro juga masih saja memuja peristiwa berdarah yang sudah diabadikan bersekuel-sekuel dalam film berjudul Stab itu, dan di tengah perayaan ke -15 tahun-nya, dimana siswa-siswa penggila horor, Robbie Mercer (Erik Knudsen) dan Charlie Walker (Rory Culkin) tampil sebagai penggagasnya, teror ini pun kembali memuncak. Sekarang trio Sidney-Dewey-Gale bersama Jill dan rekannya, Kirby Reed (Hayden Panettiere) harus berusaha menemukan siapa sebenarnya yang ada dibalik topeng Ghostface terbaru. Don’t worry, as ever, it’s unpredictable, and this time, it’s unpredictably good!
Tak ada yang lebih menyenangkan saat sebuah sekuel yang lama ditunggu-tunggu dan terlihat mustahil ternyata bisa menempatkan dirinya kembali di resep awal dengan modifikasi-modifikasi penuh gebrakan. Wes Craven bersama timnya ternyata membuktikan itu, setelah film terakhirnya, My Soul To Take, berakhir menjadi sampah yang sama sekali tak berarti di tahun lalu. Craven belum lagi kehilangan sentuhannya meracik teror di Woodsboro, apalagi ensembel intinya bersedia hadir kembali. Di usia mereka yang semakin menua, Campbell, Cox dan Arquette ternyata masih setia untuk bisa masuk ke karakter memorable dalam sejarah karir mereka ini. Semua masih sama seperti dulu tanpa perubahan berarti, namun atmosfer barunya diwarnai dengan pemilihan cast yang jitu dari bintang-bintang muda yang tengah naik daun mulai dari Hayden Panettiere, Rory Culkin sampai Emma Roberts, duo yang lebih senior Anna Paquin dan Kristen Bell sebagai pengisi porsi Drew Barrymore yang legendaris itu, plus Adam Brody dan Anthony Anderson yang berperan sebagai deputy dalam porsi black humor-nya. Skenario Williamson yang dirombak Kruger juga dengan efektif berhasil membangun misterinya dengan tak tertebak, penuh kejutan, namun juga tak kehilangan unsur seru dan tentu saja kesadisannya dalam jiwa film slasher yang diusung franchise ini. Masih tak cukup? Selain opening scene yang diulur-ulur tapi asyik itu, bagian klimaksnya pun dibesut dengan resep yang sama. You’ll scream out loud, and trust me, ask for even more. Semoga instalmen kedua dan ketiga dari trilogi barunya tetap bisa mempertahankan eksistensi mereka, seperti rahasia jitu yang digelar di sebuah dialognya. ‘Don’t fuck with the original.’, And when you’re not, you know it’ll worked as well! (dan)
Dibanding negara lain, bahkan Singapura dan Malaysia sekalipun, perfilman Indonesia adalah perfilman yang kurang menghargai dedikasi para pendukung serta krunya. Tak heran guliran end credits-nya hanya memerlukan 1-2 menit saja tanpa mengikutsertakan semua nama yang terlibat dalam produksinya. Penghematan? Ah, entahlah dengan petugas transportasi, pemegang kunci sampai catering, tapi kala cast nya saja tak pernah dipublikasikan dengan lengkap, apa sedikitpun pernah terbayang di benak produsernya betapa si pemeran penting yang walaupun bukan ensembel utama tadi jadi tak kunjung dikenal orang lain? Sementara, mungkin, paras cantik yang tampil tanpa peran penting malah sibuk diwawancara media. Well, this is Indonesia. Whether you like it or not. Dimana sebuah penghargaan bisa jadi hal yang sangat berharga karena jarang-jarang kita dapatkan.
And so, di produksi ketiganya, Creative Motion Pictures yang digagas seorang Asun Mawardi, sineas jebolan New York Film Academy, US, had made their marks at last. Dari film ini, namanya mulai banyak dibicarakan. Padahal sebelumnya, siapa sih yang pernah mendengar ‘Black Magic’? Film horor bercitarasa (maunya) internasional yang hadir di masa-masa awal kebangkitan film Indonesia dan sekarang VCD nya susah didapat, serta ‘Untukmu’, highschool love drama yang dibintangi Okan Kornelius – Asty Ananta yang juga hanya numpang lewat itu? Begitupun, saya tetap mengatakan ada yang salah dengan divisi marketing mereka. Selain poster yang dirancang seadanya saja, kalau tak mau menyebutnya asal-asalan, promosinya juga sama seperti ‘Black Magic’ dan ‘Untukmu’, yang notabene bukan film sampah. Tapi promosi itu teramat sangat minim, untuk ukuran ambisi, dan mungkin, hasil yang cukup layak ini.
Krunya yang lintas bangsa juga tak main-main. Di skenario, ada Matthew Ryan Fischer yang menulis ‘King Of Fighters’ tahun lalu. Meski hasil secara filmisnya parah, kelasnya harus diakui, internasional. Di departemen musik, ada Nathan Wang, juga komposer internasional yang pernah bekerja di film-film Jackie Chan seperti ‘Rumble In The Bronx’, ‘First Strike’ dan ‘Who Am I’. Lagi? Di Director of Photography, ada nama Ardy Lam yang dari Hongkong (Once Upon A Time In China V, Supercop 2) lantas hijrah ke sinema Singapura (Just Follow Law, I Not Stupid, dll). And above all, bintang utamanya adalah bintang impor bertaraf internasional, aktor kelahiran HK Robin Shou yang memulai karir dari film-film action HK sebelum go international. Satu dari perannya yang paling diingat, jelas sebagai Liu Kang dalam dua film ‘Mortal Kombat’. Robin disini disandingkan dengan I Made Verdy Bhawanta, bakat lokal dari Bali yang sudah terkenal kepiawaiannya dalam bidang seni bela diri capoeira dan parkour, serta Marcio Fernando Da Silva, model ibukota asal Brazil yang sudah sering muncul di iklan dan majalah, dan juga punya kemampuan sport choreography. Semua tak sekedar pasang nama, tapi didasari potensi. Sayang sekali, dengan segala potensi dibalik niat dan ambisi itu, Pirate Brothers tak mendapat treatment promosi yang bahkan tak sampai setengahnya dari ‘Merantau’ yang kini dikenal sebagai pionir film aksi Indonesia ke negara-negara luar. Coba saja googling segala informasinya. Minim. Too bad, Mr Asun. Too bad. You better start hiring some good publicists for your upcoming movie. Now let’s go to the premise.
Verdy, anak yatim piatu yang hidup di sebuah panti asuhan tanpa ingat latar belakang keluarganya, berikrar menjadi saudara dengan Sunny, penghuni tempat itu juga, yang selalu menjaganya. Sunny memang menyimpan sebuah trauma dari kehidupan keras yang merenggut kakak angkatnya di tangan sekelompok gang tato di daerah pelabuhan tempat ia hidup dulu. Namun dua saudara angkat ini terpaksa berpisah ketika sebuah keluarga kaya datang untuk mengadopsi Sunny. Dengan tegas Sunny menolak dan merekomendasikan Verdy agar hidup lebih layak, di luar sepengetahuan Verdy. 20 tahun kemudian, Verdy dewasa (IMD Verdy Bhawanta) yang sudah mewarisi perusahaan orangtua angkatnya, masih terus mencari keberadaan Sunny. Liburannya bersama sang kekasih , Melanie (Karina Nadila) di sebuah kapal pesiar mendadak dirusak oleh sekelompok perompak/bajak laut yang menyandera Melanie. Disinilah Verdy bertemu lagi dengan Sunny (Robin Shou) yang ternyata salah satu dari perompak itu. Sunny ternyata tetap berusaha melindungi Verdy, namun Verdy juga tak lantas begitu saja mempercayainya demi menyelamatkan Melanie hidup-hidup. Sejumlah rahasia pun terkuak. Dari masa lalu dan jati diri mereka, sampai rahasia perusahaan orangtua angkat yang selama ini sudah dianggap Verdy sebagai bagian dari hidupnya sendiri.
Yes, Pirate Brothers, pada dasarnya memang adalah sebuah sajian penuh aksi yang tak menempatkan plot dan tetek-bengek filmis lain sebagai poin jualannya. Jadi tak perlu terlalu meributkan plot klise yang sudah muncul di ribuan film sejenis meskipun sedikit adegan pembuka yang berpanjang-panjang namun set jadulnya tergarap cukup baik itu dibesut dengan penekanan penting untuk pengenalan karakternya. Begitu pula dengan dialog yang penuh bahasa buku, yang diucapkan dengan intonasi dan ekspresi yang kaku oleh para pemerannya. Like other translated script, itu biasa di film dan tata bahasa kita yang gap slang/bahasa sehari-harinya terlalu jauh dengan bahasa resminya. Meski kerap terasa lumayan mengganggu, tapi dalam pakem film action agaknya bisa lebih dimaklumi, dan skor Nathan Wang yang sama klisenya ala melodrama Asia beruntung bisa sedikit membangun emosi yang tak tercapai dengan kekakuan akting tadi. But wait. When it comes to fighting sequence, dengan koreografi dan shot serta angle kamera yang bisa menangkap kecantikan gerakannya dengan cukup handal, meski belum serapi Merantau, Pirate Brothers sama sekali tak tampil kaku. Adegan baku hantam ini secara frekuentif justru tampil jauh lebih padat, nyaris tanpa jeda, intensitasnya meningkat meski koreografi sama kerap diulang-ulang, dan begitu pula dengan chemistry Robin dan Verdy. Semakin meningkat ke bagian-bagian akhir. Figuran-figuran pelengkap penderitanya juga layak mendapat pujian dengan reaksi yang cukup realistis, tak dibuat-buat dan mengaduh-aduh dulu seperti film aksi kacrut kita pada umumnya. As for Karina Nadila yang kecantikan parasnya diekspos cukup luarbiasa, harus dimengerti cuma berakhir sebagai pajangan yang tak bakal jadi terlalu penting seperti perannya dalam plot keseluruhan, dan Marcel yang hanya perlu memasang tampang bajingannya, kecuali tentunya, ia juga cukup handal dalam adegan aksi.
Hanya ada satu part yang paling dan paling mengganggu. Saya tak tahu apakah pria paruh baya yang saya tak mendapatkan informasi tentang namanya namun sering juga muncul di beberapa film sebagai peran sampingan, yang berperan sebagai mitra bisnis biang kerok kerusuhan disini, punya hubungan apa dengan Asun sampai bisa-bisanya terpilih. Tapi ia tampil dengan akting begitu memuakkan bak sebuah sinetron, tanpa konsistensi jelas, lengkap dengan ekspresi otot muka yang digerakkan secara maksimal, dan intonasi dialog yang sama teatrikalnya. Semua kekurangan tadi pupus seketika dengan kemunculannya yang menawarkan kekurangan secara jauh lebih fatal. But however, sajian aksi yang tergarap dengan baik tadi tetap merupakan petulangan sinematis yang baru dalam sinema kita, and let’s all cheer for that. Itu sudah cukup bagi Pirate Brothers untuk mendapat apresiasi lebih, andai saja Asun bisa sedikit lebih berjuang menghargai sepak terjang seluruh pendukung dan krunya yang tak sekedar main-main, dengan promosi yang sedikit lebih layak. (dan)
Di tengah pro dan kontra dihentikannya film impor studio besar kesini, seorang Deddy Mizwar pernah menyampaikan opininya tentang itu, dimana kita tak butuh film impor dan ada banyak film alternatif yang bisa menjadi pilihan. Sebagai salah satu tokoh senior yang banyak dijadikan patokan, mungkin Deddy terlalu bangga dengan harga diri bangsa ini. Namun kiprahnya belakangan, justru menunjukkan bahwa ia adalah salah satu sineas yang suka tampil vokal dalam karya-karya bernada sindiran terhadap carut-marut negeri ini. Okelah, mungkin Deddy tak terlibat dalam penulisan skenario ’Kentut’, begitu juga ’Bebek Belur’ dimana dirinya tampil sekelebat dan tak kalah vokal, namun kiprahnya bersama Musfar Yasin dalam ’Ketika’ dan ’(Alangkah Lucunya) Negeri Ini’ sudah menunjukkan itu. Dibalik nafas ulama yang kuat di setiap penampilannya, bagi saya ini adalah suatu kontradiksi. Bagaimana Deddy bisa menyindir dan menertawakan kehidupan (ah, saya segan juga menyebutnya begitu) bangsa ini begitu keras namun sekaligus menjunjung harga diri bangsanya sedemikian tinggi? You decide for yourself. Tapi bagi saya, kualitas keaktoran Deddy Mizwar yang luarbiasa itu jauh lebih asyik disaksikan seperti dalam iklan salah satu produk sosis kemasan, Ramadhan atau Nagabonar. Lepas, bebas, dan jauh dari kemunafikan dibalik gelar H di depan namanya.
Anyway, film berjudul singkat sekaligus kurangajar karena padanan kata yang dipilih buat ’buang angin’ yang terdengar jauh lebih sopan itu, rasanya jadi proyek yang personal sekali dari seorang Aria Kusumadewa. Ini tak seperti ’Identitas’, dan jauh dari ’Beth’ atau ’Novel Tanpa Huruf R’ yang surealis dan penuh simbol. Simbol Aria disini dituangkannya melalui satir yang kerasnya tak kepalang lewat dialog-dialog dan bangunan karakternya, dan apapun itu caranya, selalu terasa menarik menyaksikan sebuah protes yang bernada jenaka ketimbang anarkis, walau sering berarti menertawakan diri sendiri. ’Kentut’ pun hadir sebagai sebuah metafora gambaran kontradiktif terhadap kemunafikan yang seharusnya bisa disadari sebagai anugerah pemberian Tuhan, tapi nyatanya sering dipandang tabu. Kira-kira begitu.
Persaingan calon Bupati dalam pilkada di Kabupaten Kuncup Mekar sejak awal sudah berlangsung panas. Dari dua calon yang muncul ke depan, Patiwa (Keke Suryo), yang menawarkan kesejahteraan bagi pertanian secara lurus, sementara Jasmera (Deddy Mizwar), secara kontras justru ingin melegalkan judi dan pelacuran demi melawan kemunafikan. Dengan warna seragam merah mencolok dan menggaet bintang dangdut seksi Delarosa (Iis Dahlia), Jasmera berkampanye tak kalah nyeleneh. Saat Patiwa tertembak, masalah pun merebak. Pasalnya, tim sukses Patiwa yang dipimpin seorang perempuan cerdas bernama Irma (Ira Wibowo) terus berusaha agar keadaan tak sampai ditunggangi oleh Jasmera di putaran kedua karena Patiwa tak kunjung kentut setelah tindakan operasinya. Rumahsakit tempat Patiwa dirawat, dengan pimpinannya dr. Ferry (Cok Simbara) pun menjadi kacau balau saat sekelompok umat beragama dari beragam kalangan datang bersama untuk mendoakan, tapi sekaligus mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saat semua kepentingan berubah menjadi ajang politik, hanya ada satu solusi. Kentut.
Plot simpel dalam penggambaran metafora yang luarbiasa mengena itu sebenarnya sejak awal sudah dimulai dengan sangat baik oleh Aria. Kelucuan demi kelucuan yang digelarnya dari dialog, penggambaran karakter sampai kostum-kostum yang dipilih juga terbangun cukup rapi, seolah ini jadi wadah tak berbatas tempat Aria menyampaikan unek-uneknya, kalau perlu sambil memaki keras sekali pun.Namun saat eksplorasinya berkembang lagi lebih jauh hingga ke isu-isu kesehatan, arogansi anak-anak bangsa ini, kontradiksi kaum kecil tanpa seragam dengan kaum kecil berseragam hingga borok lain termasuk ulah manusia yang mencari keuntungan atas nama agama, penyampaiannya terasa sedikit overloaded dan memblurkan metafora tadi. Untung tak sampai ada anak-anak jalanan lagi. Namun mungkin ini adalah pilihan Aria untuk tak membiarkan penontonnya memihak secara hitam putih, dimana di tengah kekacau-balauan yang tak kalah dengan negeri yang sedang dilanda perang itu, terkadang sebuah opini bisa tampil sangat beragam. Informasi medisnya mungkin hadir sedikit nyeleneh, tapi sah saja dalam tendensi sebenar-benarnya. Soal akting, ada banyak aktor senior disini yang tampil sesuai porsinya, juga para pendukung yang rata-rata tampil baik, termasuk Cok Simbara dan Hengky Tarnando yang sudah jarang-jarang kelihatan di layar lebar. Dan itu juga yang lantas mendorong eksekusi penyelesaiannya dibuat seperti itu, agar semakin menegaskan, bahwa ini adalah sebuah satir. Protes terhadap masalah yang belum tentu berabad-abad lagi bisa terselesaikan dari sebuah negara bernama Indonesia. Dan Aria tengah mengajak kita semua untuk larut di dalamnya dengan tawa. Menertawakan diri, oops, sorry, bangsa sendiri, maksudnya, di saat-saat seperti ini, itu jauh lebih bagus daripada merepet kesana-kemari tanpa arah jelas. (dan)
Saya jadi teringat ke sebuah diskusi dengan seorang senior yang sudah sangat berpengalaman dalam industri film kita. Tentang penggunaan kamera handheld untuk menyampaikan suatu style dalam membuat film. Salah satu yang masuk ke dalam obrolan itu adalah Rudi Soedjarwo. Singkatnya, gaya yang sekarang berkembang jadi trend di banyak film mulai dari luar sampai nasional, tak sepenuhnya bisa diterima oleh para senior tadi. Ada banyak alasan mulai dari kenyamanan penonton sampai kriteria teknis konvensional lainnya, walaupun argumen untuk menyukainya juga cukup banyak, mulai dari penyampaian cerita, intensitas konflik dan masih banyak lagi.
Tapi terus terang, bukan itu yang membuat saya mengagumi Rudi sejak AADC dan sebaris film berikutnya, lepas dari beberapa film horornya yang sebenarnya juga bukan jelek. Pertama, adalah kritik sosial dan pesan moralnya. Seperti seorang Sjumandjaja, Rudi jarang sekali berpijak pada pola tipikal pandangan sosial rata-rata film kita, walaupun karakter-karakternya banyak dibangun dari sana. Dimana si miskin selalu jadi korban si kaya yang selalu mengeksploitasi seenaknya, dan pembenaran-pembenaran sejenis. Sebaliknya, dalam banyak filmnya, yang selalu ditampilkan adalah borok-borok yang bersarang membatasi kemajuan mereka sendiri, dan sebagian besar adalah kenyataan yang harus dibenahi ketimbang terus menyalahkan orang lain. Kedua, ada koridor lain dalam karya-karyanya, yang tak pernah membuat kita jengah terhadap penggunaan bahasa buku ala film Indonesia yang kerap terdengar tak wajar. Dalam AADC, misalnya, Rudi menyiasatinya dengan poetic felt yang dikembangkan begitu kuat dari skenarionya, dan disini, ada kewajaran yang memang bisa terdengar seperti itu ketika dua pihak dari latar belakang berbeda mencoba berinteraksi. Tak hanya di bahasa, tapi juga pada bangunan karakternya. Ketiga, ini yang paling saya suka. Di film-filmnya yang kerap melibatkan cukup banyak figuran dari karakter-karakter lapisan bawah masyarakat kita tadi, Rudi hampir selalu sukses menghandle-nya dengan sempurna. Bahkan yang hanya numpang lewat pun, istilahnya, bisa berakting dengan wajar dengan detil-detil yang terjaga. Now let’s go to the main sets.
‘Batas’, yang skenarionya diracik oleh seorang Slamet Rahardjo Djarot bersama Lintang Sugiarto, jauh lebih dalam lagi membahas sebuah filosofi penuh metafora yang dibangun dari sebuah kenyataan di perbatasan negara kita dengan negara tetangga, yang hampir selalu dipenuhi ribut-ribut kecil padahal masih serumpun itu. Entikong, sebuah kecamatan di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Serawak, hanya dengan beberapa pancang pendek di tengah hutan, memang tergolong unik. Unik karena meski dijaga oleh polisi-polisi pos perbatasan, masyarakatnya hampir tak pernah perduli karena masih menganggap latar belakang serumpun, namun ini yang paling penting. Ada pandangan dan kebutuhan lain atas jarak yang begitu jauh untuk mendapatkan kebutuhan dari produk bangsa sendiri, sementara jarak dekat itu membuat aliran ekonomi dan kebutuhan tadi sering dipasok dari negara tetangga.
Dibalik perbatasan tetangga, meski mungkin tak sepenuhnya benar, rakyat kita melihat sebuah Utopia yang jauh berbeda dengan daerah di belakangnya. Status mereka pun terhenti di sebuah daerah terpencil penuh ketertutupan termasuk dalam pendidikan, dan hampir selalu mentok di konflik kepentingan oranglain, termasuk pemerintah sendiri. So these are critics. A protest. Namun disampaikan dalam sebuah misi informatif yang sangat, sangat, jelas punya tujuan bijak tentang pendidikan anak-anak dan kemajuan masyarakat disana. Film kita jarang sekali bisa memaparkan sesuatu pengetahuan populer yang mungkin terlewatkan oleh kita, dengan kadar informasi tinggi. Dulu ada Lari Dari Blora, Laskar Pelangi, dan kalaupun ada, segelintir lainnya. Ini juga salah satunya. Sebuah usaha buat membuka mata, dan itu bagus!
Metafora terhadap perbatasan itu dituangkan pada karakter-karakter disini. Jaleswari (Marcella Zalianty), yang diserahi tugas dari LSM tempatnya bekerja untuk menelusuri program pendidikan yang selalu bermasalah disana. Didorong oleh sebuah masalah traumatis, ia menerima tugas itu, dan kemudian jadi terombang-ambing begitu menemukan kenyataan miris pada pola pikir masyarakat disana, terutama oleh Otig (Otig Pakis) yang kerap mengancam Adeus (Marcell Domits), sarjana keguruan yang bertugas sebagai kontak Jaleswari. Sementara kepala suku panglima Adayak (Piet Pagau;untuk kesekian kalinya jadi tetua suku pedalaman Kalimantan) menyuruhnya tinggal di rumah sang istri, Nawara (Jajang C.Noer), yang tengah merawat seorang gadis korban perkosaan, Ubuh (Ardina Rasti) yang dilanda stress berat. Lantas ada pula Arif (Arifin Putra), polisi penjaga pos perbatasan yang menyimpan rasa pada Jaleswari, dan tentunya, bocah Borneo (Alifyandra), cucu Adayak-Nawara yang menyimpan keinginan besar untuk bisa bersekolah. Semua karakter ini memiliki masa lalu, keinginan dan motivasi yang tertuang dalam subplot berlapis untuk mendobrak batas dalam diri mereka. Seperti perbatasan itu sendiri, yang kadang bisa menghalangi sebuah niat baik demi penghidupan yang layak.
Usaha untuk menyematkan banyak metafora dalam bangunan filosofi tentang sebuah ‘batas’ itu mungkin sedikit banyak membuat beberapa bagian penceritaannya menjadi blur, dan di sisi lainnya, justru berjalan kelewat lamban. Berulang-ulang demi sebuah penekanan yang informatif. Semuanya benar. Seperti review yang saya bicarakan berpanjang-panjang untuk penekanan itu, Tapi perjalanan plotnya toh memang dieksekusi secara linear dalam wilayah konvensional tanpa harus berpola puzzling ala trend yang ada sekarang. Jadi yang akhirnya tertinggal untuk mencuat ke depan memang yang paling menarik juga secara konvensional bagi penonton ; sebuah konflik antara dua kelompok yang ada.
Begitupun, fokus yang terasa terlalu mengedepankan itu, bukan lantas merusak tendensinya untuk berbicara lantang soal pendidikan, kehidupan, pola pikir masyarakat dan borok-borok lain yang ada disana. Apapun itu, Rudi sudah mengemasnya dalam koridornya yang biasa, sekalipun dengan kamera handheld yang tak disepakati sebagian orang tadi. Malah, sinematografi garapan Edi Michael berhasil menampilkan visualisasi yang indah dibalik filosofi pahitnya. Akting para pendukung dari senior sampai debut junior juga terhandle dengan baik kecuali, err.. Ardina Rasti yang dipuji-puji banyak kritikus namun terlihat kerap tampil dengan eskpresi ‘copy paste’ di tiap kemunculannya disini.
Dan menuju bagian-bagian akhir, ya, saya agaknya lupa menyebutkan alasan keempat diatas. Meski dengan dialog dan detil gambar yang (lagi-lagi) terasa berulang-ulang, namun dengan penempatan score yang pas (and so with the Iwan Fals’ themesong, Batas Tak Berbatas), Rudi memang handal membungkus finalenya dengan feel yang cukup menyentuh. Entahlah buat yang merasa film ini terlalu banyak kekurangannya, namun semua unsur utama yang kuat tadi, informatif plus sebuah niat baik yang sampai dengan baik pula, ini sudah cukup buat dikategorikan sebagai film bagus. Dan harusnya kita tak perlu punya batas untuk itu.
UNYU-UNYU UNGU
Apa sih ‘unyu’? Ada pengertian umum bahwa bahasa gaul yang banyak digunakan di jejaring sosial sekarang ini merupakan suatu frase yang mencerminkan suatu ekspresi menggemaskan, imut abis, lucu banget, atau apalah. Ada yang mengidentikkannya dengan para alay. Ada yang bilang itu gerakan mulut abege-abege sekarang kalau lagi beraksi di depan kamera. Memonyongkan bibir, kalau bersuara, bakal keluar kata itu. Ada juga yang bilang, maaf, anjing, yang lantas banyak dimaki-maki kembali oleh yang sering menggunakannya. Ah, terserahlah. Kalau saya rasanya lebih setuju buat menginterpretasikannya sebagai sekedar bahasa gaul bagi abege-abege terhadap ekspresi yang bisa berbeda-beda. Bisa gemas, bisa mengejek, tapi bukan ‘anjing’ ya. Ya terserah saja. Bagi saya, film ini Purple Love ini begitu juga. Unyu. Terserah mengartikannya :).
Ok, sama seperti Wali di ‘Baik-Baik Sayang’ tempo hari, sejak Ungu sering jatuh ke nada-nada dan cengkok band-band Melayu di lagu mereka (tentu tak termasuk ‘Saat Bahagia’, duet mereka bersama Andien yang jadi pengiring penting disini), I’m not their fans nor lover. Tapi kita harus mengakui juga, dalam kaitan bisnis, tentu tak ada salahnya mengangkat grup band atau penyanyi terkenal selangkah lebih maju ke layar lebar. Meski rata-rata resepnya klise sekalipun, mau mereka berperan sebagai anak band atau diplesetkan ke entertainer bidang lain, sama saja. Rhoma Irama dan Soneta pun dari dulu begitu. Di luar dakwah, rata-rata film-film tadi dibuat memang untuk senang-senang saja. Kisah cinta sebagai bumbunya? Oh itu wajib dan hampir selalu ada. Musiknya, ya lagu-lagu mereka. Komplit sebagai pop culture yang pasti jadi dayatarik buat penggemarnya. Dan percayalah, sekali dua kali atau bahkan lebih banyak tampil di videoklip, pasti tak susah lagi mengarahkan mereka dalam dunia akting. Apalagi chemistry masing-masing personilnya, pasti sudah terbangun dengan baik dengan sendirinya. Grogi-grogi sedikit, itu biasa. Namanya juga debut.
Pasha yang bergerak di bidang advertising agency bersama empat sahabatnya, Makki, Onci, Rowman dan Enda, tengah dirundung kegalauan karena di hari spesialnya melamar sang kekasih, Lisa (Qory Sandioriva), Pasha justru diputuskan demi seorang lelaki lain. Demi persahabatan mereka, Makki dkk. merancang sebuah rencana untuk menghibur Pasha. Sebuah agensi pengobat patah hati bernama Purple Hearts yang dijalankan Talita (Nirina Zubir) pun masuk ke dalam kehidupan mereka. Dengan segala cara, Talita berusaha mengembalikan keceriaan Pasha hingga berniat menjodohkannya dengan klien lain, Shelly (Kirana Larasati). But the cupid acts different. Shelly malah salah sasaran ke Onci, dan Pasha-Talita yang sebenarnya saling menaruh hati terpaksa berhadapan dengan sebuah kenyataan lain yang menyimpan rahasia terhadap penyakit yang diderita Talita sejak lama. Belum lagi Lisa yang ternyata mau melakukan apa pun untuk kembali ke Pasha.
Yup, it’s all cliche, tapi juga sulit menampik nuansa keceriaan yang mengalir dari kombinasi jualan penuh hiburan ini. Tak hanya para personil Ungu yang awalnya masih canggung namun bergerak semakin lepas sejalan masa putarnya, karakter Nirina sebagai Talita juga bisa membangun chemistrynya dengan lekat ke mereka semua terutama part-part romantisnya dengan Pasha. Satu hal lagi, part Onci dan Kirana Larasati yang bermain begitu luwes serta komikal, juga jadi highlight yang sangat menyenangkan. But wait. Ini sudah jadi pola yang jarang bisa terhindarkan di banyak film-film kita. Saat penulis sudah seakan kehilangan ide membangun konfliknya dalam skenario, film kita sering sekali jatuh ke ‘unlikely’-‘unlikely’ biasanya, dan satu yang merusak bangunan baik yang sudah berjalan dari awal itu kali ini adalah turnover dramatis yang jadi terlihat dipaksakan.
Cassandra Massardi, yang sebenarnya sudah sering berkiprah sebagai scriptwriter namun tak punya catatan yang benar-benar wah , begitupun sang sutradara Guntur Soeharjanto yang sejak awal karir layar lebarnya lebih dikenal lewat film-film komedi ngocolnya, kemudian memilih memelintir filmnya ke dalam pesan moral yang melankolis tentang pengorbanan, sampai-sampai harus melibatkan anak-anak kurang mampu pengidap penyakit-penyakit serius di sebuah rumahsakit amal. Seakan belum cukup, Cassandra justru melangkah lebih jauh lagi agar terlihat bombastis dengan tipe penyakit yang dipilihnya, namun jadi salah kaprah dalam penyampaian dan penggambarannya hingga terlihat konyol (Miss Cassandra and the assistants, please be aware bahwa googling saja tak cukup baik untuk menggambarkan suatu hal yang bukan bidang Anda dengan terjemahan lepas nonmedis ‘Kanker Jantung’ yang terlepas dengan bodohnya dari mulut si dokter disini, belum lagi gambaran penderitanya yang enak-enakan bersepeda dan bergalau-galau ditimpa stress kesana kemari).
Dari bagian-bagian ini, ‘Purple Love’ yang terasa dipanjang-panjangkan pun semakin kedodoran menuju konflik akhirnya dengan kehadiran Lisa yang tak juga di-handle secara wajar. Dramatisasi dan sedikit bumbu bombastis yang seringkali worked as well di film-film Asia memang sah-sah saja tapi berjalan di jalur yang benar, itu jauh lebih penting lagi. Sayang sekali, though however, Saya yakin seyakin-yakinnya kalau yang namanya fans Ungu tak akan keberatan dengan semua ini, dan tetap bakal menikmati sambil ber-‘unyu-unyu’ dengan idolanya yang tampil tak kalah ‘unyu’ itu. After all, mari kembali ke tujuan semula, bahwa menggabungkan pemusik terkenal dengan visual layar lebar, toh tujuannya hanya buat senang-senang saja. And in that case, sasaran sebuah hiburan seperti ini tak pernah salah juga kan? Ya, ya, mudah-mudahan saja begitu. (dan)
No, it’s not the ‘source code’ as in programming terms. Source Code disini adalah sebuah proyek yang dirancang untuk mencegah kekacauan di masa depan, berdasar visi mekanika kuantum untuk menemukan targetnya. Now let’s talk about movies based on these unique theories. Quantum Physics, Quantum Mechanics, Linear Algebra, Parabolic Calculus, atau apapun itu, yang pengimplementasiannya beragam mulai dari gambaran multidimensional, alternate universe, butterfly effect hingga time travel, adalah basis yang sangat menarik untuk sebuah sci-fi dalam berbagai subgenre. Ada banyak celah fantasi serta emosi yang bisa digali dari sini. Mulai dari Groundhog Day yang bergenre romcom, Frequency sebagai sci-fi thriller yang sangat pop, Butterfly Effect yang sedikit berhorror-horror, trilogi Back To The Future yang legendaris hingga A Sound Of Thunder yang ambisius tapi kurang bujet itu sekalipun, semuanya menyajikan kombinasi yang serbamenarik, baik dari visual efek maupun penelusuran plot yang unik. Dan tak jarang, hampir selalu ada satu sisi menyentuh dalam kaitan komunikatif sebuah karya sinematis dimana penonton yang menempatkan diri mereka pada karakter utama memicu suatu pengharapan atas kegagalan dalam memori mereka.
And so, seorang Duncan Jones, known as the only son of famous singer, David Bowie, yang sukses membesut sebuah sci-fi kecil dengan kejeniusan tinggi sehingga menjadi film segmental yang dipenuhi fanatisme penggemar sci-fi, ‘Moon’, cerdik sekali membaca ini. Film keduanya, Source Code, dari skenario besutan Ben Ripley yang baru punya catatan karir di dua sekuel straight-to-vidz ‘Species’ dan Billy Ray dari ‘Shattered Glass’ dan ‘Breach’ (uncredited), sudah mengumpulkan resepsi kredit yang mengagumkan sejak peredarannya. Summer movie wars mungkin baru saja bergulir, tapi kita agaknya sudah punya kandidat ‘Inception’ tahun ini. Sebuah sci-fi mindbending penuh twist, yang tangguh di semua sisi sinematisnya.
Seorang pilot US Army, Kapten Colter Stevens (Jake Gyllenhall), seketika mendapati dirinya terbangun di sebuah keretaapi menuju Chicago dengan visi dejavu yang sangat kuat. Di depannya, duduk seorang wanita bernama Christina Warren (Michelle Monaghan) yang seolah kenal dekat dan memanggilnya dengan nama Sean Fentress dengan profesi guru. Stevens yang kebingungan mendapati identitas ID nya bernama Fentress dan penglihatan berbeda di kaca lantas mulai menelusuri misteri ini hingga sebuah ledakan mengantarkannya ke ruang simulasi terisolasi dibawah komando Kapten Goodwin (Vera Farmiga) dari US Air Force bersama seorang ilmuwan, Dr. Rutledge (Jeffrey Wright). Dari sini, Stevens kemudian menemukan kenyataan mengerikan yang terus mengembalikannya ke peristiwa 8 menit sebelum ledakan itu, dan berusaha keluar hidup-hidup adalah satu-satunya pilihan sambil pelan-pelan menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidupnya.
Sejak awal, Jones sudah mengeksekusi plot penuh twist ini dengan benar-benar rapat dan membawa penontonnya ke rasa keingintahuan penuh mengikuti tiap adegan yang digelarnya. Ketegangan yang terbangun secara intens dengan sendirinya pun dipenuhi dialog-dialog yang dengan rapi menyimpan dan membuka satu-persatu twist demi twistnya. Tanpa perlu menggeber visual efek berlebihan, Jones sudah mampu menampilkan nafas sci-fi yang luarbiasa kuat dari puzzling plot tadi, dan seperti ‘Moon’ juga, keunggulan khasnya terlihat semakin teruji disini. Dengan dua list film di karirnya, Jones sudah menunjukkan dirinya sebagai sineas yang sangat memperhatikan detil hingga ke selera personalnya, termasuk penggunaan lagu kesayangannya lagi-lagi disini, The One And Only-nya Chesney Hawkes yang bakal dikenal oleh pemirsa yang merasakan pop-culture di tahun 90an, namun tak lantas keluar jalur menjadi sajian yang segmental.
Jake Gyllenhall bermain intens sebagai Stevens, dengan chemistry yang juga sama baik dengan dua primadonanya, Monaghan dan Farmiga. Penampilan Jeffrey Wright, aktor berpotensi besar yang tak kebagian porsi kelewat banyak pun cukup mendukung bangunan twist tadi. Rasanya tak perlu lagi membahas kelewat banyak secara ‘Source Code’ memang ada di kotak genre film-film ‘the less you know, the more you enjoy’ yang akan membuat Anda terhenyak mengikuti adegan demi adegan dimana pikiran terus menerus digedor dengan twist berlapis hingga ke bagian paling akhir. Dan Anda lagi-lagi akan terkecoh kalau menyangka Jones akan menyimpulkan endingnya dengan sebuah pesan berharga yang begitu menyentuh dimensi kehidupan kita. Tak tahu nanti, tapi hingga dua debut fenomenalnya ini, Jones himself is a sci-fi, dan ia dengan setia terus bergerak lebih jauh menjajal otak kita dengan konsep itu. Source Code adalah sebuah very well-crafted sci-fi yang sangat wajib masuk ke dalam daftar tontonan Anda. Bukan hanya untuk melepas kerinduan ke bioskop karena penonton Indonesia sudah dua bulan tak disuguhi blockbuster impor yang kaya segalanya akibat kebodohan pemerintahnya, namun karena ini memang film bagus. Quantum physics ain’t never missed. The rest is how your brains create the equations, and then, BANG !! (dan)
Indonesia itu punya kekayaan alam luarbiasa. Ah, kita sudah sering mendengar itu, tapi sedikit sekali rasanya yang bisa menarik perhatian kita dalam kaitan wisatanya. So, ketika sebuah karya bernama film bisa memaparkan hidden treasure itu dengan sinematografi ala Discovery Channel, atau katakanlah, dokumenter-dokumenter cantik pemenang Eagle Awards dan sejenisnya, kita perlu perhatian lebih ke arah itu. Datang dari riset mendalam yang dilakukan seorang suksesor berbakat dari Garin Nugroho bernama Kamila Andini, yang notabene putri sulungnya sendiri, The Mirror Never Lies adalah sebuah ensiklopedia singkat tentang Wakatobi, kabupaten di Sulawesi Tenggara yang menyimpan segudang keanekaragaman hayati laut dibalik Taman Nasional dan prioritas konservatif sebesar satu sekian juta hektar itu. Suku terbesar disana, yang dinamakan suku bajo, pun punya keunikan mendalam dari akar budaya melayu yang kuat. Pantun seakan mengalir seperti air dari mulut mereka, dengan langgam melayu yang sama rancaknya, itu adalah sebuah realita. Jadi siap-siaplah. Ketika Kamila membesut film ini bersama seorang Ipung Rachmat Syaiful, sinematografer yang punya catatan karir di film-film Joko Anwar, dengan dukungan penuh Sony yang menghadirkan tiga kamera high definition-nya untuk merekam keindahan lanskap sebuah surga bernama Wakatobi, I’d assure you one more time. Ini adalah surga bagi visual Anda.
Premisnya simpel. Diangkat dari pola kehidupan suku Bajo yang memang hidup dari melaut, banyak istri yang ditinggal hilang suami mereka di tengah laut. Itulah yang terjadi pada Tayung (Atiqah Hasiholan), yang memendam kepedihan mendalam hingga kerap menanamkan pada putri satu-satunya, Pakis (Gita Novalista), untuk tak lagi mengingat-ingat sang ayah. Ia selalu memakai bedak putih yang menjadi tradisi atas penyangkalannya. Namun Pakis, punya pengharapan sendiri. Tiap hari ia menunggu kepulangan ayahnya, berbekal sebuah cermin peninggalan yang dibawanya kemana-mana. Bersama sahabatnya, Lumo (Eko), Pakis terus menelusuri eksistensi ayahnya di tengah luasnya laut Wakatobi. Sampai seorang peneliti lumba-lumba, Tudo (Reza Rahadian) kemudian masuk ke kehidupan mereka, konflik Tayung dan Pakis pun semakin meruncing.
Seperti Jermal yang juga bermain-main di kehidupan laut namun tampil sepahit air hitamnya, The Mirror Never Lies membangun filsuf lebih dalam lewat sebuah keindahan visual. Laut yang luarbiasa biru, jernih, dijadikannya senjata untuk membangun sebuah premis penuh pengharapan namun disampaikan dengan pahit. Sebuah sinematografi top notch yang mungkin lebih hebat dari dokumenter-dokumenter wisata pemenang festival. Oke, saya tak akan menampik bahwa sesekali, bahkan lebih, Kamila tampak blur memfokuskan arah kombinasi ini, antara keinginan menggambarkan suku Bajo secara detil termasuk dialek hingga adapt setempatnya, keindahan lanskap laut Wakatobi, dengan pendalaman karakternya. Masa putar panjang itu sebenarnya bisa saja jauh dipersingkat atas cukup banyaknya scene-scene yang tak sepenuhnya memperkuat plot yang disampaikan, mengingat bangunan beberapa konflik yang berpotensi dieksplorasi lebih juga lewat begitu saja, mungkin demi menghindari klise-klise ala film kita untuk terus-terusan berulang. Dan saya jadi sedikit jengah lagi-lagi melihat film seindah dan sekuat ini harus kembali dikacaukan oleh tampilan ‘intip-mengintip’ ala film Indonesia yang kurang relevan dengan penyampaian keseluruhannya. Seperti Jermal yang harus sekali melatarkan ditinggal selingkuh dalam background tokoh utamanya. No wonder, sang ayah, maestro bernama Garin Nugroho memang duduk sebagai produsernya, dan menggambarkan sebuah erotisisme pikiran memang sudah kerap jadi spesialisasi yang diselipkan di film-filmnya yang remarkable sampai ke hati kritikus-kritikus internasional. Namun selain kekuatan sinematografi tadi, ada satu penyelamat lagi yang akhirnya membuat kita bisa betah mengikuti benang merah kisah serta pameran keindahan visualnya, dan kemudian menghilangkan kekurangan-kekurangan kecil tadi. Adalah akting yang sangat membumi dari seluruh pendukungnya, especially di ketiga pemeran sentral anak-anak yang semuanya asli penduduk Wakatobi; pemeran Pakis, Lumo serta Zainal sebagai Kutta yang gemar berpantun dan berlanggam melayu itu. Kepolosan dan kewajaran akting ketiga anak ini yang membuat kita bisa trenyuh hingga begitu tergelitik sampai tertawa keras, bahkan menenggelamkan akting Atiqah Hasiholan yang terlihat bersusah-payah menyelami dialek Bajo yang unik meski terkadang mengucapkannya kelewat hati-hati, serta Reza Rahadian dengan akting santainya yang sayangnya tak dieksplorasi lebih sebagai pemicu konflik. Anyway, satu yang terpenting dari The Mirror Never Lies memang ada di keindahan sinematografinya, dan mari fokus kesana. Ini adalah sebuah film dengan nilai informatif luarbiasa kuatnya, yang memberi pengetahuan luas pada kita sebagai bagian dari keindahan alam sendiri, dan usaha untuk menyampaikan informasi dan misi pariwisata itu sudah seharusnya mendapat apresiasi lebih. Yang jelas, saya jadi tak sabar untuk merasakan sendiri mengayuh sampan nelayan diantara pancang-pancang rumah Bajo di tengah laut Wakatobi itu. Yup, The Mirror Never Lies, dan percayalah, hampir dua jam barusan Anda memang tengah menyaksikan sebuah cermin akan betapa indahnya alam di sekitar kita. They don’t lie, and never will. (dan)
Saya jadi teringat pada topik di sebuah forum yang sering terbaca atas retweet seorang teman di twitter. “Apa Alasan Utama Kamu Menonton Film Indonesia”? Kira-kira seperti itu. Saya yakin, pada kenyataan sebenarnya, paling tidak 79-89% penonton kita masih memilih bintang dan genrenya. Nah, kalo genre juaranya ada di horor plus bumbu buka-bukaan, bintang yang dipilih pastilah yang ‘eye-friendly’ atau ‘eye-catching’. Cantik-cantik dan ganteng-ganteng, sehingga ramah bagi kesehatan mata Anda. Tapi jangan salah, ‘cantik’ dan ‘ganteng’ ini juga bukan seperti modalnya film-film Nayato, tapi lebih ke popularitas yang sudah sering muncul di berbagai media, sinetron, sampai film. Cowok Bikin Pusing, yang akhirnya dipilih sebagai judul menggantikan titel aslinya, ‘Selingkuh’ untuk merilis film yang lama tertahan (tahun produksinya 2008) ini, meski tak cukup cocok buat plotnya sendiri (mungkin lebih pas ‘Cewek-Cewek Bikin Pusing’ karena karakter cowoknya kelihatan jauh lebih pusing disini, sementara ‘Selingkuh’ sudah pernah dipakai film esek-eseknya Reynaldi dan Febby Lawrence dulu) , punya modal kuat untuk itu. Ada Julie Estelle, Laudya Chintya Bella, Marissa Nasution, Nino Fernandez dan Marcell Chandrawinata. Aming? Ah, lain masalahnya. Dia lucu. Jadi itu modal juga.
Sekarang, dengan ramainya bakat-bakat terpendam di remaja-remaja kita (kalau tak percaya, tanya saja agen-agen casting), coba tarik dua untuk berdiri menunjukkan bakat akting mereka dengan bebas. Pasti yang keluar pertama adalah konflik antar pasangan sebagai dialognya. Bukan orang gila, orang stress dan sebagainya. Karena cinta, memang adalah tema paling universal. Jadi tak salah juga kalau seorang Sekar Ayu Asmara, yang meski lebih dikenal dari penelusuran psikologis yang kuat di karya-karyanya, berdiri sebagai penulis skrip komedi romantis ini. Toh sebelum memantapkan karirnya di film, Sekar kerap menulis lirik-lirik lovesong yang bagus di era 90an, zaman-zamannya Rita Effendy. Dalam tendensi mendasarnya sebagai hiburan, rom-com juga seperti popcorn yang sering sangat dibutuhkan penonton. So there’s nothing wrong with that. Mau dangkal atau tidak, tujuannya memang cukup satu. Menghibur. Jadi lengkaplah sudah modal yang dimiliki film ini, apalagi, set yang dipilih sebagai latarnya adalah Bali dengan semua keindahannya, meski bukan fokus kesana seperti ‘The Mirror Never Lies’. Ini seperti Only You-nya Helen Hunt, Kelly Preston dan Andrew McCarthy, kalau pernah menyaksikannya di tahun 90an dulu. Forgettable rom-com dengan atmosfir set wonderland yang cukup cantik, dan barisan dua pemeran wanita yang tak sekedar ‘cantik’ namun juga punya potensi akting yang baik. Julie dan Bella juga begitu, ain’t we all agree? Bersama Marissa, they’re like Alice’s’ in Wonderland.
Cecile (Julie Estelle) yang mengelola sebuah chocolate bakery di pulau Dewata bersama sahabat setianya, Tasha (Laudya Chintya Bella) dan Justin (Aming) seketika menjadi galau saat putus dari Marco (Marcell Chandrawinata), sang tunangan karena selingkuh. Maka Tasha pun merancang rencana untuk mengacaukan hidup Marco. Sementara Dino (Nino Fernandez), seorang surfer disana, juga dirundung masalah mirip karena baru saja memergoki kekasihnya Angela (Marissa Nasution) di ranjang bersama pria bule. Dua orang yang sama-sama diselingkuhi pasangannya ini akhirnya jadi dekat, namun selain harus menghadapi masa lalu masing-masing plus Angela yang masih terus mendekati Oka, masih ada Tasha yang overprotektif dengan persahabatannya pada Cecile.
Totally cliche plot itu sebenarnya tak pernah salah. Sah-sah saja. Seribu film bisa dibuat dengan plot macam ini namun tak pernah kita bisa menuduhnya bahkan terinspirasi sekali pun, seperti lawakan menabrak pintu atau terpeleset pisang. Semua adalah hal yang sangat, sangat lazim. Namun bagaimana mengemasnya menjadi tontonan yang enak, terutama dengan cerita yang runtut, itu adalah masalah penting. ‘Cowok Bikin Pusing’ ini sebenarnya sudah memulai semuanya dengan baik sebelum menjadi tak fokus dengan banyaknya bumbu-bumbu yang ingin diselipkan namun tak tertata dengan baik, termasuk subplot Aming dan Alex Abbad sebagai pasangan gay yang dieksplor cuma buat sekedar banyolan tempelan, atau minimnya dialog yang lebih menjelaskan karakter Tasha sebagai sidekick utama yang ditempel pula sebagai konflik yang akhirnya terlihat terburu-buru diselesaikan. Chemistry terpenting antara Nino dan Julie pun tak lagi jadi fokus penting. ‘Cowok Bikin Pusing’ akhirnya lebih terlihat sebagai FTV yang melaju terus tanpa juntrungan dengan pengadeganan yang melompat kesana kemari secara tak runtut. Tapi terus terang, beberapa shot yang menyajikan keindahan Bali dan latar beberapa lokasi setnya, plus modal utama barisan pendukungnya itu memang sulit untuk dihindari. Seperti puzzle yang salah susun namun tetap terlihat cantik, kira-kira. Ya, mungkin ini juga yang membuat MVP mengundur-undur jadwal rilisnya (this supposed to be Julie Estelle’s first big screen feature), karena secara keseluruhan, ‘Cowok Bikin Pusing’ tampil seperti barisan kue coklat yang kelihatan ‘wah’ namun rasanya hambar ketika disantap. Seperti display mannequin dengan interior yang elegan namun cukup hanya untuk menyenangkan mata. Tak lebih dari itu, dan setelahnya, lewat begitu saja. (dan)
SI ANAK KAMPOENG
Sutradara : Damien Dematra
Produksi : Ma’arif Production & Damien Dematra Production, 2011
Oke. Sebuah tema biopik, biografi dari seorang tokoh, tentulah harus memiliki daya tarik sebagai unsur terpentingnya. Setelah itu, adalah pesan moral edukatif dan inspiratif dibalik kisah hidup itu yang harus muncul ke depan. Hanung Bramantyo baru saja menyajikan ‘Sang Pencerah’ sebagai biopik pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, yang dikenal semua orang karena gelarnya sebagai Pahlawan Nasional yang dipelajari dalam sejarah, dan kini, ada tokoh lagi yang diangkat dari tendensi dakwah organisasi itu. Kisah dari seorang Ahmad Syafi’i Ma’arif, yang lebih dikenal dengan Buya Syafi’i. But wait. Disana, Syafi’i yang pernah duduk sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah 1998-2000 dan 2000-2005, dan digelari banyak sebutan mulai dari guru bangsa, sejarawan sampai pejuang pluralisme yang memang menjadi nafas Muhammadiyah dalam menebarkan nafas Islami-nya, mungkin punya arti sebesar gelarnya. Namun bagi masyarakat lain, belum tentu begitu. Ini adalah pertanyaan pertama yang muncul di benak banyak pemirsa sebelum mengikuti gelaran kisah yang diangkat dari otobiografinya, ‘Titik-Titik Kisar di Perjalananku’ (2006-2009). Namun baiklah. Seorang Damien Dematra, yang agaknya gemar sekali ke tema-tema biopik setelah kiprahnya di ‘Obama Anak Menteng’ tempo hari, mungkin menangkap suatu spirit inspiratif dari kisah hidup Syafi’i. Usahanya mengangkat biografi yang awalnya tak begitu disetujui oleh Syafi’i akhirnya berhasil setelah melewati sederet tahapan melalui Ma’arif Institute. Tak hanya menerbitkan juga novel biografi sebagai companion ke film yang direncanakan sebagai trilogi ini, Damien juga bekerja rangkap sebagai produser, penulis naskah, sutradara, director of photography, editor sampai komposer score dan lagu-lagunya. Oh, yeah. Seperti sebaris cerita dibalik lahirnya ‘Obama Anak Menteng’, Damien memang penuh ambisi. So let’s not be too skeptical terhadap pilihan itu. Paling tidak, pesan moral yang tertuang dalam biografi itu memang sangat inspiratif. Membuka mata kita yang belum pernah tahu siapa Buya Syafi’i dengan semangat ‘anak kampung’-nya mengejar pendidikan sampai ke negeri orang, paham pluralisme Muhammadiyah dan ranah Minang tempo doeloe hingga lahir sebagai salahsatu belahan Indonesia paling damai dimana semua suku disana bisa berbaur selayaknya penduduk setempat termasuk budaya dan dialeknya. Ya, ini semangat yang sangat menarik.
Syafi’i kecil yang dipanggil Pi’i (Radith Syam), hanyalah seorang anak kampung dari keluarga Ma’rifah Rauf (Lucky Moniaga) di Nagari Sumpur Kudus, Sumatera Barat, yang bersosialisasi dengan kehidupan disana sepeninggal sang ibu, Fathiyah (Virda Anggraini) di kala ia masih bayi. Sehari-hari ia bermain bersama tiga sahabatnya dan diasuh oleh paman dan bibinya. Namun dibalik kesederhanaan itu, ada ambisinya untuk mengejar pendidikan, yang didapatnya dari sekolah rakyat sampai ke madrasah kecil dengan gurunya, Rahman (Pong Hardjatmo). Niat ini semakin besar kala keyakinan Rahman membawa Pi’i melanjutkan pendidikannya ke Lintau dan dibimbing oleh ustadz idolanya, Onga Sanusi (Mohammad Firman), pengajar Muhammadiyah yang disegani. Namun niat Pi’i untuk merantau ke tanah Jawa terbentur pada keinginan sang ayah dan sebuah peristiwa yang membuat Pi’i harus bisa memilih jalan terbaik bagi hidupnya.
Benar, kisah hidup itu memang sangat inspiratif dengan segala suka dukanya. Namun kita sudah melihat style dalam kiprah Damien di ‘Obama Anak Menteng’ tempo hari, yang kian tergelar jelas disini. Ambisi Damien, sayangnya, seperti tak sinkron dengan kemampuannya sebagai seorang storyteller di layar lebar. Kita tak bisa menampik, seperti ‘Obama Anak Menteng’ juga, ada usaha yang mungkin terlihat sangat, sangat serius dalam membangun detil-detil yang meliputi set, kostum, dialog sampai dialek-dialek yang sebagian besar bisa tampil dengan cukup baik, dalam hal ini, dialek Minang dan penggunaan bahasanya yang cukup proporsional meskipun tak seluruhnya sempurna. Pemilihan castnya pun tak perlu menggunakan aktor-aktris terkenal, meski ada Ayu Azhari disini. Damien, seperti pengakuannya, senang memberi ruang bagi bakat-bakat baru yang lebih bisa menyesuaikan diri dengan karakter yang dibangunnya dalam skenario. Dalam standarnya, wajah-wajah baru termasuk pemeran Pi’i kecil, Radith Syam, di banyak bagian juga tak bisa dibilang mengecewakan. Selain Pong Hardjatmo yang memang sudah senior, pendukung lain juga pada dasarnya tampil cukup baik. Tapi ada satu problem mendasar yang selalu merusak bangunan ambisi besar Damien dari style-nya sendiri. Bukan pada tamaknya ia mengambil alih peran rangkap, tapi selain ambisi untuk menuangkan penerjemahan yang kadang overdetail hingga terasa tak penting dan membosankan, adalah kompromisme pasar terhadap tampilnya bombastisme dan dramatisasi yang rasanya selalu kelewat dipaksakan, sama seperti ‘Obama Anak Menteng’ yang dirusak oleh fokus terlalu dominan ke peran bencong dan gaya teatrikal pemeran ayah Obama, kembali terulang dalam porsi berbeda disini. Reaksi-reaksi terhadap konflik utama yang dituangkan Damien dalam skenarionya terlihat dipoles dengan dramatisasi berlebih, salah satunya adegan kematian Fathiyah yang teatrikal sekali dengan jeritan ‘tidaaaaakk’ dari Lucky yang kelewat panjang dengan ekspresi sinetron itu. Kumis Hitler/Charlie Chaplin Pak Rahman (entah aslinya seperti itu atau tidak, Syafi’i asli lah yang tahu) memang tak sampai diekspos kelewatan disini, namun sebagai gantinya, seperempat bagian terakhir yang menggambarkan kekecewaan Pi’i bukan lagi tergelar menyentuh, tapi berlebihan dengan ekspresi yang jatuh jadi depresif seperti orang sakit jiwa lengkap dengan make-up pucat dan bibir kering yang (maunya) kelewat didramatisir. Seperti zombie. Setelah pembuka yang terlalu bertele-tele, pace yang sudah membaik di pertengahan jadi sama sekali mentah di dramatisasi over di bagian-bagian akhir ini, dan ternyata, masih berlanjut ke end credits yang menunjukkan Pi’i beranjak besar dan berjalan tak henti-henti menyusuri pantai. Sebuah bombastisme salah arah yang justru meluluh-lantakkan ambisi besar itu. Sayang sekali. Dan kembali lagi ke penting tidaknya kebesaran nama tokoh yang diangkat menjadi sebuah biopik, sambutan penonton yang sepertinya adem-ayem saja tampaknya membuat rencana trilogi itu jadi terlihat agak dipaksakan. Begitupun, mari tak mengesampingkan pesan moralnya yang edukatif dan inspiratif itu. Ada terms pendidikan yang kuat, latar belakang kultural yang informatif, hingga pesan kedamaian dibalik paham pluralisme yang dituangkan. Paling tidak, ini lebih baik daripada tendensi tak jelas dari film-film horor sampah lainnya yang sedang beredar bersamaan. (dan)
Ada seorang ayah yang tengah dirundung kegundahan bertanya pada anak bungsunya. Tentang apa yang harus dilakukannya ketika si anak tertuanya mengaku berpindah kepercayaan dari reliji yang sama dengannya dalam sebuah pernikahan. Padahal, mendiang istrinya, juga berbeda kepercayaan dengannya. Si anak bungsu menjawab dengan singkat, “Kalau Papa betul-betul yakin dengan agama kita, sekarang aku akan berdiri sebagai penentang pertama di depan semuanya”. Si ayah kemudian menarik nafas panjang, berpikir sebentar, kemudian memeluknya sambil berkata. “Keluarga ini hanya kita. Dia tak punya siapa-siapa lagi selain kita. Apapun pilihannya, kalian tetap anak Papa”. Dalam hatinya, ia sebenarnya bukan tak yakin dengan apa yang selama ini dipercayainya. Tapi ia tak mau mempertaruhkan keselamatan anak yang begitu disayanginya nanti. He walked the eldest son down to the isle of his marriage. Di sebuah rumah ibadah yang bukan rumah ibadahnya. At whatever it takes. Dengan sebuah senyum bahagia dan janji bahwa ia akan tetap jadi ayah yang akan selalu melindungi dan menyayangi sang anak. Begitu banyak jalan. Tapi hanya ada satu tujuan dibalik semua jalan dan cara yang berbeda. Di saat istilah agama disatukan dari dua kata yang berarti ‘tidak kacau’, beribu kekacauan justru berlatar belakang istilah itu. Dan saya tak tahu orang gila mana yang menciptakan istilah ‘Sepilis’ yang terdengar mirip sebuah penyakit kelamin sebagai singkatan dari Sekularisme, Pluralis dan Liberalisme, lengkap dengan konotasi yang begitu tabu untuk menggantikan kata ‘Toleransi’ yang terdengar arif. Begitu negatif. Begitu sesat mereka anggap. Padahal sebagai bagian dari dunia manusia, kita juga dituntut untuk masuk ke dalam pluralisme itu demi penciptaan sebuah kedamaian di wadah besar tempat kita hidup dan bernafas. Reliji, memang harus dijalankan secara vertikal dengan hati dan sepenuh jiwa, karena mencampuradukkannya dengan otak bisa membawa sejuta logika salah terhadap tafsir ayat-ayatnya.
Ah, let’s not be too preachy. Karena apa yang dituangkan seorang Hanung Bramantyo, dalam karya ke-sekian-nya yang lagi-lagi menyentil persoalan yang sama, juga bukanlah sebuah khotbah yang menggurui. Hanung cuma memperlihatkan visual yang mewakili kejadian sehari-hari (termasuk restoran multietnis dengan batasan itu, yang sebenarnya ada banyak di sekitar kita kalau Anda mau membuka mata) dalam satu ajakan dan tujuan humanis untuk membaur. Tolerate to each kind of differences, serta sebuah penghargaan untuk pilihan-pilihan yang bisajadi berbeda. Hanung memang suka menyentil. Bahkan ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang begitu Islami saja dipenuhi sindiran kasar tentang poligami dalam penerjemahannya, dan protes-protes terhadap fanatisme buta itu semakin berkembang dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Sang Pencerah’ yang juga menuai kontroversi. ? (Tanda Tanya, jika Anda ingin menyebutnya begitu), pun tak jauh dari itu. Walau diprotes keras oleh sebagian petinggi NU, film ini diinspirasi dari sebuah kisah nyata seorang Banser NU yang tewas bersama bom meledak dalam sebuah usaha pemboman jemaat gereja di satu daerah. Sama dengan status pluralisme agama di negara kita, judul singkat itu memang mewakili pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul dalam persepsi perbedaannya. Bagi saya, simpel saja. Hanung hanya mau memberi pesan betapa indahnya sebuah perdamaian walau harus melalui proses kelewat panjang, dan obviously, membela kepercayaannya yang kenyataannya banyak menimbulkan fobia dimana-mana atas ulah pemeluknya yang keterlaluan.
Crossover antar reliji itu digulirkan melalui penokohan multikarakter, sebuah keluarga keturunan Cina yang menjalankan restoran multietnisnya, Tan Kat Sun bersama istrinya (Hengky-Edmay Soelaiman), yang punya aturan jelas untuk memisahkan peralatan yang dipakai untuk makanan halal dan tak halal. Kemudian pelayan setia mereka, Menuk (Revalina S.Temat), seorang wanita berjilbab yang soleha, istri Soleh (Reza Rahadian), kepala keluarga yang dilanda krisis kepercayaan diri oleh ketidakmapanannya hingga bergabung dengan Banser NU, serta seorang janda, Rika (Endhita) yang dicerca banyak orang termasuk putra kecilnya karena pindah agama. Lantas ada pula Surya (Agus Kuncoro), figuran galau yang terpaksa meniti karirnya di operet gereja atas ajakan Rika, ustad bijaksana (David Chalik) serta Ping Hen/Hendra (Rio Dewanto), anak Tan Kat Sun yang kerap berseteru dengan Soleh atas latar hubungan masa lalunya dengan Menuk. Semua karakter ini harus berhadapan dengan konsekuensi pilihan mereka ke sebuah klimaks yang meluluhlantakkan kehidupan masing-masing di tengah isu perbedaan antar etnis dan reliji dalam takdir yang ada.
Since this is a movie review, let’s not talk on any other pluralism issue. Secara sinematis, Hanung sudah menampilkan sekali lagi karya fenomenalnya dibalik skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena dengan detil-detil konflik yang terbangun rapi dari multikarakter itu. Sentilan demi sentilan yang termuat di dalamnya dipenuhi dialog yang wajar namun tersaji dengan lapisan kedalaman yang cukup inspiratif menuangkan tendensinya tanpa harus berpreachy ria. Sayang hanya dua reliji yang ditampilkan kontras, namun masing-masing penggambarannya mampu menunjukkan penelusuran tujuan kebaikannya secara seimbang. Terhadap karakterisasi yang bertumpuk itu juga, Titien tak perlu menampilkannya secara hitam putih. Semua karakter yang ada bisa hadir dengan detil cukup untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang manusiawi. Sinematografinya yang dibesut Yadi Sugandi juga tampil rapi, dipenuhi shot-shot cantik dalam standar filmis non sinetron tanpa harus berlebihan di sisi artistiknya. Dan dengan ensembel cast yang ada, termasuk Glenn Fredly yang tampil agak kaku dalam debut layar lebarnya, karakter-karakter tadi bisa bergulir dengan penjiwaan yang sesuai terutama Agus Kuncoro yang muncul begitu menarik sebagai highlight disini. Kalaupun mau menyebut kelebihan lainnya, skor Tya Subiakto boleh dibilang sangat masuk membangun kemegahan pengadeganannya. Tentang pilihan ending yang banyak diprotes? Ah, rasanya masih cukup relevan dengan apa yang ingin disampaikan secara keseluruhan, apalagi dalam kaitannya ke inspirasi dari kisah nyata itu. Apapun alasannya, ‘?’ sudah menyajikan sebuah usaha dan pesan yang sangat berharga terhadap carut-marut yang terus berlangsung di sekitar kita. Buka mata dan hati Anda lebar-lebar untuk bisa menyerap itu, seperti sebuah kepercayaan yang dibangun secara vertikal dengan hati dan jiwa yang tulus. Bahwa dalam hantaman-hantaman sosial yang ada, hidup memang sesekali seperti komedi yang menyentil. Anda bisa tertawa, menertawakan diri sendiri, tersinggung sampai marah bahkan menangis ketika sentilan itu berhasil memukul jiwa Anda. Dan Hanung sudah sangat sukses mengemas semua itu dengan sempurna. (dan)
“Semua perselingkuhan berakibat bencana. Jika Ingin Keluarga Harmonis... jauhi X (dalam kurung: mantan)”. Saya ingin menggetok kepala orang yang menciptakan tagline ini di tengah poster, yang... ya.. kalau mau dimirip-miripkan ke beberapa film luar ya bisa-bisa saja, namun punya sisi fotografi B&W yang menarik sekali diatas latar hitam yang terasa sangat kontras itu. Nah, kalau martil jadi senjata buat diatas, yang kedua cukup dengan besi silang empat pembuka ban mobil. Ini akan saya alamatkan untuk pemberi judul ‘Skandal’ yang terus terang, murahan sekali buat tema-tema yang sudah terbangun sangat obvious dari tagline kampungan itu. However, membuat film seks, ‘istilah genre yang hanya ada satu-satunya di negara kita yang ajaib ini dan kadang-kadang diucapkan tanpa ‘s’ di belakang oleh penduduk pedalaman’, yang baik itu, harus diakui, susah. Dalam tema dan genre eroticism cuma ada dua kemungkinan. Lupakan film-film kita di era ‘90an karena saya merasa itu sama sekali bukan film, bahkan produk JAV saja bisa digelar dengan jauh lebih baik dari mereka. Lupakan juga ini-itu ala kritikus dan sinema cult-retro yang belakangan mengangkat status murahan jadi ikut-ikutan artistik. Pertama, besutan yang membalut sinematografi dan adegan-adegan seksnya dengan artistik akan jadi tontonan berkelas, seperti halnya nama-nama Zalman King, Adrian Lyne atau sineas-sineas European arthouse. Yang kedua, akan berakhir di film-film kelas C-nya Shannon Tweed, Gabriella Hall atau Shauna O’Brien. Toh trend yang marak di era 90an dan meredup ketika sebaris film sejenis tak mampu menyaingi kehebatan Basic Instinct, meski The Resident-nya Hillary Swank sudah mencoba dengan kegagalan lagi-lagi, cukup banyak film-film bagus di barisan genre yang sama. Usaha Jose Poernomo, yang jasanya terukir manis menghidupkan kembali film kita bersama Rizal Mantovani lewat Jelangkung, jelas jauh dari horor atau komedi-komedi murahan Maxima atau KKD. Seks dalam kemasan Jose benar-benar tampil dengan warna baru perfilman Indonesia, apalagi LSF membiarkan sebagiannya tampil cukup proporsional. Sensual, erotis dan yup, artistik. Tapi itu bila Anda mematikan volume suaranya yang rata-rata diisi dengan lagu-lagu poprock dan romantisme ala Afgan di themesongnya. Produser yang mau meraup untung mungkin tak memikirkan bahwa lagu-lagu itu adalah ‘turnoff’ yang sangat ultimate terhadap adegan yang sudah dibesut sedemikian rupa oleh Jose. Dan kredit terbesar akan saya persembahkan pada pemeran utamanya, Uli Auliani, yang memang masih punya tampang dan bakat seimbang meskipun suka tampil di film-film kacrut. Bakat itu sangat terbentang leluasa sekali disini, dimana Uli dengan ekspresinya yang benar-benar meyakinkan tanpa harus cengengesan ala Jupe, Depe dan seabrek aktris lain, mampu membawa adegan-adegannya ke atmosfer yang sangat, sangat dan sangat sensual. Ingat. Matikan volumenya.
Perselingkuhan membawa bencana itu diawali dari Mischa (Uli Auliani), yang merasa kesepian dengan kesibukan sang suami, Aron (Mike Lucock/VJ Mike) di tengah kehidupan mereka yang serba mapan dengan seorang anak. Merasa hasrat seksualnya tak terpenuhi ditimpali kecurigaan bahwa Aron berselingkuh dengan sekretarisnya (Laras Monca), Mischa melarikan diri ke pelukan sang mantan yang seketika muncul lagi di hadapannya. Vincent (Mario Lawalata), si ‘X’ itu pun kemudian mengisi lagi hari-hari Mischa yang kembali berbahagia, namun pastinya, ini tak berlangsung lama. Kesadaran Mischa untuk mengakhiri semuanya, disikapi Vincent dengan posesif. Mischa diteror, dan kemudian sebuah tragedi mengakhiri semuanya.
Kesalahan yang dari zaman dahulu kala tak terbenahi dalam film-film kita sebenarnya paling besar terletak pada skenario. Oke, despite of some writers yang benar-benar born-writers, faktor inilah yang selalu meluluhlantakkan semuanya. Film dulu, semuanya tampil dengan penceritaan yang runtut meski temanya itu ke itu saja. Masalahnya? Bahasa buku dengan konflik serta reaksi yang jarang sekali terasa masuk akal. Masih lumayan. Film-film sekarang? Saya tak meng-include segelintir yang bagus, tapi rata-rata keseluruhan? Meski faktor bahasanya pelan-pelan sudah semakin wajar, kesalahan atas guliran bercerita yang lompat dari lompat kodok sampai bungee jumping itu masih saja dialiri konflik klise yang ditimpali dengan reaksi-reaksi over tanpa meninggalkan faktor make sense tadi. Dan penulis-penulis ini agaknya harus sadar betul, meniru, atau terinspirasi itu, sah-sah saja, tapi ada cara yang benar seperti paling tidak film Asia lainnya seperti Korea. Sayang sekali Jose harus menggelar pembaharuan sex scene dengan sensualitas berbeda itu diatas skenario besutannya yang nyata-nyata jadi kombinasi dua film erotis terkenal Adrian Lyne, Unfaithful dan Fatal Attraction, ditambah resep comot-mencomot dari pakem film thriller erotis lengkap dengan investigasi polisi yang menampilkan Gary Iskak dalam pencitraan karakterisasi polisi secara sangat film Indonesia, kalau tak mau menyebut dialog-dialognya mengalir dengan ketololan tingkat tinggi. Dan tak hanya itu, latar belakangnya, lengkap diinspirasi dari pakem film tipikal film Indonesia yang tak bisa jauh dari masalah ranjang. Kombinasi yang overloaded. Meski sebagian bisajadi terasa relevan (untung tak ada embel-embel true story), tapi kebanyakan adalah lagi-lagi mengulang dan mengulang. Twist dengan pesan cinta ‘love forgives’nya pun tak bisa berperan banyak akibat kerusakan skenario seperti film-film yang menjadi sourcenya. Lantas, mari bicara tentang pemilihan castnya yang juga serba unlikely, pastinya di luar Uli Auliani. Mike Lucock boleh jadi tampil lumayan di beberapa scene terutama di bagian-bagian akhir, tapi Mario yang maunya menyamai Olivier Martinez di Unfaithful? Oh, tato dan wajah tampan sungguh tak selamanya bisa berhasil, apalagi suaranya yang cempreng dan sangat tak meyakinkan itu. Set apartemennya pun masih kelewat mewah buat karakterisasi antikemapanan yang dimaksud. Somehow saya yakin seorang Reza Rahadian akan jadi kandidat yang lebih masuk ke peran tersebut. Pemeran pendukung lain, mulai dari sekretaris, pengacara dan Michael, si anak, juga tampil sama sekali tanpa jiwa. Kelewat kejam mungkin kalau harus menyamakan Skandal dengan film-film sampah kita era 90an dan horor-komedi seks sekarang karena visual yang dihadirkan Jose bisa memberikan feel yang beda dengan sensualisme yang sangat stylish termasuk fade out-fade in yang cantik serta scene bathtub masturbating orgasm pembuka yang meski kebanyakan lilin namun dihadirkan Uli dengan gestur dan ekspresi sempurna itu. Namun semua unsur pendukungnya? Walah... (dan)
LOST IN PAPUA : GUILTY AS CHARGED (SPOILER WARNING!)
Sutradara : Irham Acho Bachtiar
Produksi : Nayacom Mediatama, Merauke Enterprice (yak, bukan enterprise, memang sengaja begitu) Production, 2011
Terus terang. Selama ini mengikuti thread dari sebuah situs yang menjadi media partner dari karya ambisius, yang saking ambisiusnya melibatkan sang sutradara jebolan IKJ ini sendiri dalam berlapis-lapis promosi dan ‘pembelaan diri’ di thread tersebut, antusiasme untuk menyaksikan Lost In Papua sudah terbangun sedemikian menarik. Apalagi, introduksi di thread tadi dimuat begitu lengkap dengan sebuah pesan cerita diatas sinopsis dan trailernya, yang belum pernah ada selama ini, dimana pemirsa bukan diserahkan mencari pesannya sendiri, namun diarahkan sedemikian rupa. Demikianlah pesan itu tertera : “Papua memiliki banyak kekayaan alam dan budaya yang masih banyak menyimpan sejuta misteri yang dapat membuat orang tertarik untuk kesana”. Dan lebih lagi, Irham, sang sutradara itu, memberikan introduksi panjang lebar juga tentang pemahaman yang, saya yakin, sungguh dalam, bahkan melalui survei, mungkin, tentang Papua Selatan yang selama ini jarang diekspos karena keindahan alamnya tak semanis belahan Papua yang lain. Namun ada yang menarik disana. Suku Korowai, yang berkali-kali menjadi latar dan dideskripsikan secara visual disini, menurut mitos-mitosnya adalah suku kanibal primitif terakhir disana. Lantas, ada pula deskripsi lain tentang RKT 2000, jalur yang dianggap sebagai daerah terlarang dan tabu untuk didatangi. Wah, wah… selintas, saya berpikir, selepas peredarannya, Papua Selatan ini mungkin bakal jadi booming Bangka Belitung yang marak setelah Laskar Pelangi. Namun mendadak, keluarlah isu atas penundaan previewnya yang kemudian ditampik Irham dengan alasan yang juga jelas. Bahwa Bupati Merauke/Boven Digoel yang kabarnya juga kota kelahiran Irham, berikut Kepala Dinas Kebudayaan dan seluruh jajaran pemerintah disana sejak awal mendukung pembuatan film ini. Jadi semuanya atas ulah LSF yang memotong banyak adegan yang dinilai tak pantas, dan meminta bukti tanda tangan tertulis. Sama sekali bukan adanya pertentangan dari pemerintah setempat seperti Arwah Goyang Karawang yang memicu protes orang-orangnya sendiri. Lost In Papua pun kemudian melaju mulus meski lagi-lagi, disertai keluhan Irham yang menyatakan kurang puas terhadap hasil akhirnya atas kegagalan berbagai unsur di proses produksinya, termasuk kesalahan beberapa cast yang dinilainya tak bisa menampilkan emosi yang diinginkan. Dan untuk pertama kali pula, seorang sutradara me-review langsung filmnya dengan sejuta uneg-uneg. Let’s give a clap for that, Oh My God! Di satu sisi, lagi-lagi terus terang, sejuta rasa tak enak merayapi hati saya ketika harus menulis review film ini. Tapi bagaimanapun itu, se-subjektif apapun, a review is a review, seperti ‘pembelaan’ yang ditulis Irham sendiri. Sekalipun ia menyilahkan kaum yang disebutnya ‘tukang review’ untuk membantai filmnya, ada metafora film-film Quentin Tarantino atau film-film nyeleneh lainnya di thread tadi, bahwa penonton, tak harus mengikuti review jelek karena bakal ada 10 review bagus setiap 1 review jelek yang muncul. Let’s take a deep look at the movie, then.
Dimulai dengan scene yang sangat menjanjikan atas janji Irham ke kombinasi segala macam genre, romantis, drama, komedi, slasher sampai ke ending yang tertebak, Lost In Papua dimulai dengan hilangnya sebuah tim survei tambang emas yang melibatkan Rangga (Edo Borne) di kawasan misterius itu. Tiga tahun kemudian kita dibawa ke karakter Nadia (Fanny Fabriana), tunangan Rangga yang mendadak ditugaskan ke Papua oleh bosnya (Didi Petet). Awalnya ragu, Nadia kemudian menerimanya dengan alasan tak jelas. Entah karena sekalian ingin mencari keberadaan Rangga, atau karena langsung diberi izin oleh sang kakek (Piet Pagau) yang juga punya koneksi masa lalu disana. Namun muncul David (Fauzi Baadilla), sang anak bos yang lewat sepenggal dialog dikisahkan pernah memiliki hubungan ‘intim’ dengan Nadia, dan berniat terus merayu Nadia agar jadi miliknya. Ini peran yang mungkin bagi seorang Fauzi Baadilla dirasakan bakal membuahkan Oscar dengan penerjemahan ekspresinya yang biasa, teatrikal, komikal atau apalah namanya. Lengkap dengan mata melotot, lidah bermain dan alis yang terangkat-angkat serta hal-hal mesum lainnya, tampilan oom-oom ala film Indonesia jadul itu dibawakan Fauzi dengan sangat-sangat sumringah. Supaya kelihatan bajingan? Yeah right. Sebagian ‘tukang review’ bolehjadi menganggapnya sempurna, tapi bagi saya, seperti akting Fauzi lainnya, that’s an overacting piece of crap. So, berangkatlah Nadia ke Merauke untuk menunaikan tugas survei titik tambang itu. Ditemani oleh beberapa kontak lokal, Nadia kemudian menemukan bahwa satu dari mereka, Merry, ternyata ayahnya ikutan hilang dalam tim Rangga. Nadia pun membelokkan niatnya. Bersama krunya dan seorang guide tangguh, sepupu Merry bernama Eby, mereka menelusuri jejak tim itu. Disini plot Lost in Papua terasa semakin berantakan dengan motivasi karakter tak jelas yang sering kita lihat di film-film Indonesia. Nadia dan Merry yang sebentar terlihat mati-matian ingin menemukan Rangga serta sang ayah, di adegan lain terlihat seperti turis yang ingin berlibur ke pedalaman, dan dualisme ini berlangsung terus, lengkap juga dengan pameran wisata dan tempat bersejarah Papua yang diceritakan dengan detail bak seorang pemandu wisata. Lantas muncul David yang menyusul Nadia kesana dan membuat keonaran di tengah suku Korowai. Mereka pun dikejar, kemudian tersesat ke RKT 2000 yang terlarang itu. Menyeruak seketika subplot Eby yang menaruh hati pada Nadia sehingga terus berseteru dengan David, dan terjebaklah mereka semua ke sebuah suku kanibal primitif yang semuanya wanita. Dari sini, cerita menjadi semakin absurd dan penuh kekotoran otak sineas kita. Para wanita disekap, dan prianya diperkosa meladeni 15 wanita primitif itu dalam sehari sampai lemas. Nadia sampai harus rela berhubungan lesbian dengan sang kepala suku, bukan untuk menyelamatkan diri, namun hanya untuk merebut liontinnya dan liontin Rangga yang ternyata dipegang kepala suku. Di sela kesusahan itu, tampil pula dialog-dialog aneh dari motivasi yang semakin tak jelas. Merry menyuruh Nadia menahan emosi mengharapkan David berubah, lalu David yang sudah membuat kerusuhan sedemikian rupa meminta maaf dan langsung ditimpali Nadia dengan ‘sorry back’. Seakan masih kurang, di klimaksnya muncullah penyelamat dari Korowai, putra kepala suku yang sebelumnya asyik mengintip Nadia mandi di sungai lengkap dengan jilatan lidah mesumnya. Oh My God! A big, big sorry for the spoiler, but what’s this, really?
Sebelum mengkritik kombinasi genre secara berantakan serta dalih menampilkan keindahan alam Papua yang ternyata dieksekusi dengan fantasi kotor itu, kelemahan terbesar Lost In Papua adalah tipikal kerusakan skenario ala film kita, yang dalam film ini ditulis oleh Ace Arca dan Augit Prima. Motivasi tiap karakter yang dituangkan dengan turnover berlogika anak SD itu sungguh menyia-nyiakan bakat akting Fanny Fabriana yang ekspresinya begitu luwes tapi tetap wajar, tak seperti Fauzi yang memang tipikal aktingnya over cengangas-cengenges itu. Aktor-aktor asli Papua-nya juga sebenarnya sudah cukup lumayan kalau tak dituntut skenario tadi seperti orang-orang kebingungan. Akting suku-suku asli berikut wanita-wanita primitif itu yang justru sangat layak dipuji mengingat sebagian dari mereka bukan aktor/aktris yang melek kamera. Di luar itu, sebagian penempatan jualan soundtracknya, diantaranya dari Anima, juga sedikit tak sinkron dengan pengadeganannya. Ok, saya sedikit bisa mengerti ambisi Irham untuk menghadirkan kengerian ala Cannibal Holocaust dan film-film cult sejenis ke dalam Lost In Papua dalam rangka menghadirkan genre baru dalam perfilman kita, tapi, tanpa bermaksud provokatif seperti yang diingatkannya di thread tadi, memanfaatkan nama Papua untuk eksekusi yang malah menakutkan wisatawan buat kesana tentu sangat tak bijak, apalagi tujuan pengenalan wisata itu disempalkan pula di bagian-bagian awal. Saya tak tahu apa yang ada di benak jajaran pemerintahan di Papua untuk tak mengambil reaksi atas penggambaran akhir ini meski menyelamatkan martabat Suku Korowai, namun niat Irham untuk berinteraksi dengan argumen pribadinya secara begitu antusias tetap harus diacungi jempol. Dan saya juga berharap seperti yang dikatakan Irham, semoga kritikan, sepedas apapun, tetap bisa menjadi cambuk untuk karya yang lebih baik. Tapi untuk Lost In Papua, apa boleh buat, ini adalah kesalahan yang sejelas-jelasnya Guilty As Charged. Sayang sekali. (dan)
RUMAH TANPA JENDELA : A WONDERFUL TALE OF SHARE
Sutradara : Aditya Gumay
Produksi : Smaradhana Pro & Sanggar Ananda, 2011
Punya perhatian besar terhadap film anak adalah sesuatu yang besar. Kita boleh saja berkutat di film-film hi-tech penuh efek atau begitu menikmati kepintaran plot yang mengeksplorasi kedalaman psikologis, bertabur darah, adegan sadis, full of twist atau apapun dalam terms modernisasi sinematis. Produser pun boleh saja pergi kesana kemari mencari untung dengan film-film sampah. Namun, jangan pernah beranjak ketika sesekali kita diingatkan kembali ke sebuah mimpi-mimpi masa kecil sesosok manusia bernama 'anak'. Ketika di satu belahan dunia mungkin ada yang lebih tak beruntung dari kita. Ketika kita dibawa ke satu sisi yang mungkin selalu terlewat dari kesibukan sehari-hari. Pesan moral uplifting yang manusiawi dan mengingatkan kita lebih dari sekedar sebuah dakwah itu memang perlu terus-menerus disampaikan agar kita bisa saling berbagi. Seorang Aditya Gumay, yang dalam perjalanan karirnya punya semangat besar dalam hal ini, baru saja menyajikan 'Emak Ingin Naik Haji' bersama penulis Asma Nadia yang rata-rata karyanya penuh berisi semangat kesana. Aditya bahkan mendirikan Sanggar Ananda dan Teater Kawula Muda untuk mengangkat bakat-bakat anak dan remaja sejak 1988 dengan salah satu karya legendarisnya, Lenong Bocah. Kini, kembali berkolaborasi bersama Adenin Adlan dengan tim yang sama, ia mengadaptasi cerpen Asma yang berjudul 'Jendela Rara'. 'Rumah Tanpa Jendela', judul film terbarunya ini pun dibesut dengan semangat yang sama. Tentang Rara, seorang anak jalanan yang mendambakan jendela di gubuk kecilnya yang kumuh. Premis simpel yang mungkin membuat kita semua jatuh hati ketika mendengar sejuta kepolosan anak-anak yang terkandung di dalamnya, termasuk saya. Dan tak hanya itu, ada sisi sosial disabilitas anak dengan special needs juga yang dibicarakannya disini, untuk membangun pesan moral itu dalam sebuah term bernama 'film anak', satu genre yang mungkin membuat banyak produser bertipikal komersil sudah mundur duluan sebelum disodori naskahnya. Lebih lagi, keuntungan film ini kabarnya akan menjadi sebuah donasi bagi kaum tak mampu. Yup, punya perhatian besar terhadap film anak, adalah sesuatu yang besar.
Dibalik kehidupannya bersama anak-anak jalanan pemulung lain di lingkungan kumuh di tengah belantara ibukota, Rara (Dwi Tasya) punya sebuah mimpi. Ia menginginkan sebuah rumah dengan jendela, agar bisa menikmati sinar matahari dan cahaya bulan. Namun Raga (Raffi Ahmad), ayahnya, hanya seorang penjual ikan hias disana. Di rumah berdinding tripleks itu, Rara tinggal bersama Raga dan neneknya, Si Mbok (Inggit Wijanarko) yang sakit-sakitan, dan belajar di sekolah singgah yang diasuh guru sukarelawan, Bu Alya (Varissa Camelia). Perkenalannya dengan Aldo (Emir Mahira), anak terbelakang dari keluarga Syahri (Aswin Fabanyo)-Ratna (Alicia Djohar) yang pengusaha besar, kemudian membuat keduanya dekat. Aldo pun seakan mendapat pencerahan dalam kehidupan sosialnya dan semakin sering mengundang Rara dan teman-temannya ke rumah besarnya. Walau disambut baik oleh Nek Aisyah (Atie Kanser), nenek Aldo dan abangnya (Ouzan Ruz), sebuah peristiwa di pesta ultah ke-17 kakaknya, Andini (Maudy Ayunda) membuat semuanya berantakan. Selain Andini yang merasa malu dengan keadaan Aldo dengan teman-temannya, tempat tinggal Rara pun habis dilalap api dan menyebabkan kehilangan yang sangat besar. Selagi Si Mbok terbaring koma di rumahsakit, Aldo yang sedih atas kemarahan Andini kemudian melarikan diri bersama Rara hingga semuanya dilanda kepanikan.
Dengan premis utama begitu simpel dan mengangkat esensi kepolosan anak-anak yang hadir sangat kuat, Rumah Tanpa Jendela awalnya sudah digelar dengan sangat baik. Nuansa drama musikalnya juga tak sekedar asal-asalan dengan tampilan lagu-lagu anak yang terdengar sangat melodius. Kekurangan koreografinya juga berhasil ditutupi oleh shot-shot yang cukup baik. Paduan isu kehidupan kumuh anak jalanan bersama disabilitas anak itu juga hadir dengan sinergisme kuat atas akting bintang cilik Emir Mahira (Garuda Di Dadaku, Melodi) yang sangat meyakinkan dengan cara berdialog dan gerakan tangannya, bahkan melindas semua pendukung yang tampil bagus termasuk Dwi Tasya dalam peran debutnya, Atie Kanser dengan logat Medan (bukan ber-Batak ria seperti biasanya) yang kental dan Raffi Ahmad yang sedikit masih kelewat rapi untuk karakternya. Bahkan Yuni Shara yang tampil sekilas dengan karakter film Indonesia tipikal, seorang pelacur, bisa terlihat relevan. Sayang, berjalan ke tengah, seabrek subplot lain dan banyaknya karakter seakan menjadikan fokusnya semakin tumpang tindih dengan pesan moral utamanya, apalagi dengan banyaknya sempalan adegan-adegan klise seperti penyakit wajib film Indonesia, batuk darah, penuh kebetulan dan sisipan komedi berikut sekilas sejarah edukasi Obama yang tak penting, diantaranya. Adegan-adegan musikal yang sudah dimulai awalnya pun seakan terlupakan entah kemana. Namun begitu, sulit rasanya untuk menampik kehadiran emosi yang berhasil dibangun lewat akting wajar semua pendukung serta score Adam S. Permana yang cukup menyentuh itu. Beberapa kemiripan dengan plot film anak yang baru saja hadir, 'Rindu Purnama' membuat saya mau tak mau jadi membandingkan keduanya, dan dalam hal membangun emosi yang gagal muncul serta melenceng di karya Mathias Muchus itu, Rumah Tanpa Jendela, terus terang, jauh lebih pantas jadi juara. Ah, sudahlah. Paling tidak semua rangkaian adegan termasuk yang klise-klise itu punya tujuan jelas dalam penyampaian pesan moral saling berbagi dan bisa hidup selaras dalam garisan takdir yang kadang bisa terasa tak adil bagi sebagian orang. It's how to give, dalam cakupan yang sangat luas, and to be loved in return. And here I assured you one more time. Punya perhatian besar terhadap film anak adalah sesuatu yang besar. This is a wonderful tale of share, dan kita beruntung memiliki orang-orang seperti Aditya, Adenin dan Asma yang masih mau terus mengingatkan kita kesana. (dan)
Indonesia, sekali waktu pernah bangga sekali memiliki seorang Rizal Mantovani. Tak hanya dari inovasinya di videoklip lokal generasi MTV, film Indonesia yang sudah lama mati suri dulu pun digebraknya kembali lewat Jelangkung. Namun entah usia yang semakin memangsa otaknya atau kenaikan drastis harga barang-barang kebutuhan di negara ini, sementara sineas-sineas muda bermunculan silih berganti, Rizal pun sudah beralih rupa menjadi penghasil film-film asal yang kerap hanya menjual belahan dada, bikini dan bunuh-bunuhan. Boobs everywhere. Kredit bagusnya sebenarnya masih tersisa di beberapa film, namun rusaknya dua film terakhirnya, Air Terjun Pengantin dan Taring, produk kacrut yang memakai jasanya itu, agaknya sudah berjasa membuat pupus semua kredibilitasnya. Yes, even if God was there, He wont do much, too. So then, enter the Indonesia’s mystical creature named Jenglot. Oh ya, makhluk yang berukuran mini bak monster bonsai ini memang dipercaya benar-benar eksis di negara kita, meski sebagian penemuannya selalu berakhir melemparkan publishernya ke penjara karena menipu. Bentuknya? Kira-kira seperti Ki ini dan Ki itu, atau Sujiwo Tejo, setelah melalui sinar pengecil yang distel di ukuran maksimal. Mitos-mitos mengatakan bahwa Jenglot adalah piaraan orang-orang sakti, which I supposed is an animal, karena jelas-jelas bukan cewek sebagai salah satu kemungkinan lain dari term ‘piaraan’. Ada juga yang bilang kalau dulunya Jenglot-Jenglot ini asalnya manusia biasa yang terkena kutukan. Seperti Gollum yang mencari cincin, Jenglot ini kurang jelas apa maunya. Dibilang mencuri seperti tuyul pun bukan. Yang jelas, mereka carnivora dan vampir sejati. Memakan daging mentah, minumnya darah. Disini, Rizal menambahkan lagi keahliannya yang belum pernah terekspos. Mungkin ada proses silang, hybrid breeding dengan seafood, maka Jenglot masa depan ini sekarang menjadi amphibi super. Bisa berenang-renang, menyelam, tak hanya di air asin tapi juga air sabun dalam bathtub, bahkan handal juga kejar-kejaran di darat. Tujuannya? Melahirkan Piranha ala Indonesia, yang saya yakin bahwa Rizal itu terkesan sekali dengan pameran boobs dan organ bertaburan di versi Hollywood-nya. Trailernya sudah jelas sekali menggambarkan itu. Tak perlu sebesar Jaws atau bertaring segede Piranha. Ini adalah makhluk mini yang kecil-kecil cabe rawit. Yang digigit? Sebarisan pemeran berwajah ‘fuckfaced’ dengan slipping boobs kemana-mana. Termasuklah di dalamnya, sang pemeran utama, Debby Ayu, yang kiprahnya sudah sebesar model-model Exotic Azza di dunia perfilman kita. And a bunch of other model’s boobs, of course.
If that was meant to be a plot, seperti yang tertulis di kredit dengan nama Alim Sudio yang sepertinya ahli sekali membuat plot seperti buang angin tanpa bekas, I really didn’t see one. Hanya ada serombongan remaja yang punya nama-nama ‘sok asyik’ berlibur ke sebuah pantai, yang dari sinopsis resminya disebut Perawan, tak seperti karakter-karakternya sendiri, dan kemudian satu-persatu diserang jenglot dengan cara-cara yang ajaib. Responnya juga ajaib. Ada yang pingsan hanya oleh gigitan Jenglot di lengan, dan lebih dari tujuh keajaiban yang lain. Bagaimana bisa jenglot itu ada di laut? Ternyata ada makhluk gondrong yang melepasnya, karena dianggap keramat sebagai penjaga pantai Selatan. Semoga kalau benar, arwah Nyi Roro Kidul tak merasa terganggu dengan nafsu makannya yang berlebihan, ganjil dan pervert itu.
Entah boneka yang (sepertinya) digerakkan secara manual, menyewa tuyul jadi-jadian, iguana, ayam potong atau simpanse topeng monyet yang dimake-up menjadi Jenglot, tetapi bentuknya rasanya berubah-ubah. Yang jelas, tampilan Jenglot dengan warna pinky dark dan berekor naga itu lumayan mirip dengan baby donkey di Shrek 3, cuma yang ini punya rambut ala Sujiwo Tejo dan wajahnya, kalau pernah menonton serial Creepshow, ya kira-kira sama seperti si tengkorak naratornya. Selebihnya, Rizal memang hanya membuat kita seperti membolak-balik majalah pria dewasa penuh adegan bikini dan boobs yang sembul-menyembul menjadi satu itu, dilengkapi dengan sedikit adegan berdarah-darah dari cabik-cabikan organ tubuh yang tak juga meyakinkan. Sinematografi ala Rizal, mungkin? 10 tahun yang lalu, barangkali. Sekarang toh Nayato juga sama canggihnya kalau soal panoramic shots, apalagi dengan pameran swimsuits itu. Dialog? Saya malah tak yakin itu dialog. Oke, posternya yang sok cult dengan font ala film-film monster Hollywood tahun 50an, salah satunya Creature From The Black Lagoon itu, harus diakui, cukup lucu. Namun sudahlah. Ini yang paling menarik. Seakan kebodohan demi kebodohan tadi belum cukup, tak ada yang lebih spesial dari cara Alim dan Rizal mengakhiri filmnya dengan sejuta kesempatan ke sebuah sekuel secara begitu dahsyat sampai melibatkan peralatan rumahtangga. Ah! Pasti mereka sudah punya sepuluh bahkan lebih judul di kepalanya, entah Pengantin Jenglot, Kuntiljenglot, Jenglotkung, Drakulot atau JengLon. Meanwhile, kita hanya bisa menarik nafas. Paling tidak, dengan segala informasi seputar dunia Jenglot yang sekali lagi, saya yakini sebagai binatang, ini adalah rekomendasi yang tepat bagi penyuka Animal Planet ‘sejati, alami dan tanpa rekayasa’.