Login

Rangga Adithia

@raditherapy

Bio:
zombie hunter!

Movie Reviews

Cewek Saweran at 18:32 - 10 March 2011.
6

Saya senang ketika melihat “Cewek Saweran” memakai setting kota Yogjakarta sebagai tempat Ayu melangkahkan kakinya untuk menggapai impiannya, bukan melulu kota Jakarta yang digambarkan sebagai kota pengabul impian. Kenyataannya, berapa banyak orang yang bermodalkan impian dan segala macam keahlian yang pada akhirnya justru tidak mendapat apa-apa dan tidak bisa kembali ke kampung. Jakarta oh Jakarta, memang kota yang menyediakan segalanya, termasuk juga pengubur mimpi-mimpi itu. Film ini bagusnya tidak membawa cerita ke Jakarta dan fokus di Yogjakarta, ada upaya dari film ini untuk membangun image, hey di kota selain Jakarta, kita juga bisa sukses, mungkin seperti, apapun tujuannya, saya melihatnya demikian, melalui sepak terjang Ayu dalam menggapai impian menjadi penyanyi dangdut terkenal. Terlepas dari judulnya yang bisa dibilang “kampungan” dan ugh saya benci posternya, “Cewek Saweran” adalah film yang terbukti jauh dari kesan murah tampilan luarnya, cerita seputar penyanyi dangdut yang dikemas oleh Eddie Cahyono dengan kesederhanaan gaya bercerita dan yang terpenting “merakyat”, bisa ditonton siapa saja dan tidak perlu takut di cap kampungan, lupakan saja posternya dan judul film ini, maka dijamin film dengan mudah membuat anda terhibur.

“Cewek Saweran” bukan tanpa cela, ketika fokus cerita ingin menata langkah Ayu untuk menjadi penyanyi dangdut terkenal, terkadang film ini lupa meneruskan konflik-konflik yang awalnya sepertinya dimasukkan untuk membuat cerita makin berwarna, namun pada akhirnya justru seperti adegan yang numpang lewat saja, misalnya saja cerita cinta segitiga yang muncul antara Ayu, Dimas, dan Angga, teman Dimas yang ikut ngamen dengan mereka, konflik tiba-tiba memanas dan seketika pula dilupakan seakan tidak pernah terjadi. Proses yang “tiba-tiba” inilah yang sering membuat film ini terpeleset jadi agak memaksa di beberapa bagian, tiba-tiba orang-orang jadi baik dan tiba-tiba Ayu pun ditawari rekaman, justru bagian Ayu ketika rekaman entah kenapa dibuat bertele-tele dan ditambah konflik kecil antara Ayu dan Dimas yang tidak perlu. “Cewek Saweran” niat awalnya memang baik, ingin memasukkan semua ke dalam cerita, dari Ayu yang bukan siapa-siapa menjadi terkenal, lalu ditampilkan variasi subplot yang menghiasi jalan cerita utamanya, namun film ini akhirnya kewalahan sendiri ketika dipaksa untuk menceritakan semua dalam durasi yang terbatas hanya 80 menitan. Untuk urusan akting, Juwita Bahar secara mengejutkan tidak terlalu mengecewakan, bisa membawakan perannya sebagai Ayu si calon penyanyi dangdut terkenal dengan cukup baik, apalagi tentu saja ketika dia diberikan porsi untuk bernyanyi, dia akan menggoyang penonton dengan lagu-lagu yang cukup asyik, sayangnya memang tidak banyak lagu yang dibawakan Ayu, seingat saya hanya 3 lagu yang dinyanyikan berulang-ulang, tapi cukuplah untuk memanjakan telinga dan lagunya juga tidak membosankan, sama seperti filmnya yang juga menghibur dan tidak membosankan… mari bergoyang!

Drive Angry at 18:27 - 10 March 2011.
7

“Drive Angry” akan mengumbar keseksian Amber Heard?? tentu saja sudah kewajiban (tertawa) film ini, untuk apa menempatkan bintang seksi yang pernah dijadikan zombie di “Zombieland” ini jika bukan untuk membuat mata para lelaki meliriknya. Tapi tunggu dulu dia bukan Megan Fox di dua seri “Transformers” yang hanya menjadi pendamping Shia LaBeouf lari kesana-kemari, bukan tipe bintang “pemanis” yang cakap menggoda saja dan mengganggu dengan setiap saat berteriak minta pertolongan. Amber Heard disini memainkan perempuan tangguh yang tidak sungkan menghajar siapa saja yang berniat mengganggunya atau menolak ajakan dia “bercinta”. Piper yang ditampilkan “galak” tapi juga baik hati diperankan dengan (secara mengejutkan) baik oleh Amber Heard, tidak melulu menghibur penonton prianya dengan tubuhnya tetapi juga dengan setiap aksinya menembak, menghancurkan rahang, menyetir, bahkan ber-sumpah serapah, Amber Heard bisa dibilang hiburan tersendiri untuk film ini. Bonusnya akan berderet adegan seks yang mengantri di “Drive Angry”, salah-satunya menjadi adegan seks terbaik yang pernah saya lihat di layar lebar, bayangkan adegan seks antara Clive Owen dan Monica Bellucci di “Shoot em Up” tetapi lebih brutal. Sayangnya semua adegan “menyenangkan” tersebut harus dirusak oleh yah apalagi jika bukan sensor.

Bagaimana dengan Nicolas Cage? setelah berakting di film “Season of The Witch” dan “Sorcerer’s Apprentice” yang bisa dibilang keduanya bukan film Nicolas Cage-banget, “Drive Angry” tentu saja seperti sebuah film yang menyambut kembalinya Cage ke film aksi kejar-kejaran mobil dan asal tembak, seperti yang biasa dia lakukan di film-film laga sebelumnya—menemani Dwayne “The Rock” Johnson yang juga kembali ke dunia film laga lewat film “Faster”. “Drive Angry” tidak perlu topeng tengkorak berapi agar Cage nantinya terlihat sangar, karakternya disini sudah terbilang badass, dengan senjata khusus yang dicurinya dari neraka dan mobil “muscle” Amerika. Cage berubah dari penyihir dan ksatria abad pertengahan menjadi buronan neraka yang tidak sayang dengan peluru, yang dilakukannya bersama sederet adegan laga di film ini adalah terus-menerus memompa adrenalin kita dengan aksi-aksi tembak sana dan tembak sini, kebut-kebutan, adu jotos, dan juga adegan kaya dengan warna-warni ledakan, “Drive Angry” memang dilahirkan untuk diperankan oleh Nicolas Cage dan dia berhasil memanfaatkan film ini untuk jadi arenanya bersenang-senang sekaligus mengantarkan hiburan bagi penonton.

Namun yang paling mencuri perhatian dari “Drive Angry” justru bukan dari peran yang dimainkan Nicolas Cage maupun Amber Heard, melainkan akuntan dari neraka, yah kita akan membicarakan tentang William Fichtner. Pria kelahiran 27 November 1956 yang pernah muncul sekilas (cameo) sebagai manajer sebuah bank di “The Dark Knight” ini memang selalu bisa memainkan karakternya dengan sangat meyakinkan dan memiliki daya tarik tersendiri, bahkan di “Drive Angry” dia sanggup menutup akting penjahat lain yang diperankan Billy Burke, ketua sekte pemuja setan yang satu ini justru tidak terlalu menonjol memerankan villain yang diburu oleh Milton, mungkin karakternya yang tidak mendukung dengan tampilan ala bintang rock ketimbang pemuja setan, tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya, satu-satunya yang membuat dia menakutkan mungkin karena dia membawa tongkat berjalan yang terbuat dari tulang paha anak Milton yang dia bunuh. Kembali ke Fichtner, setelan jas rapih, rambut tersisir, wajah mulus, dilengkapi dengan gaya bicara yang sopan (walau sering mengendus-ngendus) tidak pelak membuat karakter ini begitu menarik, benar-benar mewakili jabatan yang dibawa-bawa ke bumi, “The Accountant”, mungkin memang seperti inilah penampilan orang-orang yang bekerja di neraka tidak ada bedanya seperti manusia yang pergi ke kantor.

“Drive Angry” sekali lagi akan tampak jelas seperti film “murahan” dengan cerita yang klise dengan efek-efek CGI yang konyol, termasuk adegan akhir yang menentukan nasib Jonah King. Namun kemampuan Patrick Lussier dalam membangun efek hiburan tidak mengecewakan, adegan-adegan laga yang dipersiapkan mampu menciptakan kekonyolan sekaligus chemistry dengan adrenalin penonton. Patrick Lussier terlihat sekali tidak ada niatan untuk menyajikan penonton dengan dialog-dialog panjang, pangkas dialog yang tidak perlu dan membosankan, lalu kita siap untuk kembali ke jalanan, bersama dengan Milton dan Piper, lalu “The Accountant” dan juga Jonah King, kesemuanya melebur menjadi satu bersama setiap adegan demi adegan yang sarat akan kekerasan dan juga seks (yang disensor), menghasilkan film hiburan yang “pure grindhouse”, ditambah lagi dengan 3D (bukan konversi ke 3 dimensi tetapi film ini memang disyut dengan kamera 3D), walau saya bukan penggemar setia 3D, namun “Drive Angry” bisa dibilang film yang mampu memanfaatkan 3D dengan baik, beberapa momen laga dipersiapkan dengan pas untuk terlihat apik di layar bioskop dengan kacamata 3D.

Rumah Tanpa Jendela at 21:17 - 25 February 2011.
7

Benturan takdir yang mempertemukan antara si kaya dan si miskin lagi-lagi menjadi tema yang diangkat sineas Indonesia, kini lewat film keluarga arahan Aditya Gumay berjudul “Rumah Tanpa Jendela”. Tema yang juga baru-baru ini diangkat oleh “Rindu Purnama” sebagai pondasi ceritanya, film debut penyutradaraan Mathias Muchus tersebut sama-sama menghiasi perfilman tanah air di bulan Februari ini. Walau punya tema cerita yang bisa dibilang senyawa, namun di bawah arahan sutradara Aditya Gumay, film “Rumah Tanpa Jendela” akan terkecap berbeda dengan adanya unsur musikal di dalamnya. Musik dan tari-tarian ditambah nyanyian yang kebanyakan ditampilkan oleh anak-anak menjadi visualisasi pas untuk menggambarkan keceriaan anak-anak dan juga mimpi-mimpi mereka. Jika pada film sebelumnya, “Emak Ingin Naik Haji”, Aditya Gumay sukses mengaduk-ngaduk emosi penonton lewat peran yang dimainkan oleh Atie Kanser dan  Reza Rahadian. Sekarang kesederhanaan kisah persahabatan yang terjalin antara kedua malaikat kecil yang dipisah status sosial ini bisa dibilang banyak dibumbui keceriaan dan kehangatan, walau pada akhirnya Aditya Gumay masih akan menyeret penontonnya ke situasi menyentuh dan menyedihkan, tapi dengan takaran yang pas dan tidak berlebihan untuk usahanya mendongkrak sisi drama yang ingin ditonjolkan film ini.

 

Seperti Rara dan juga Aldo yang berbagi kehangatan lewat persahabatan layaknya sebuah sinar matahari pagi, “Rumah Tanpa Jendela” juga mampu membagi rasa hangat tersebut pada penontonnya, selain nantinya juga mengantarkan kita ke adegan demi adegan yang penuh keceriaan anak-anak, yang salutnya mampu disampaikan dan digarap dengan apik, semangat dan kepolosan anak-anak di film ini berhasil mengajak kita untuk sementara waktu melupakan kesibukan kita dibalik kursi bioskop untuk melebur bersama mereka ke sebuah kisah yang diceritakan dengan pola sederhana namun tetap menyenggol dengan pas emosi dan hati penonton. Ketika film-film “ajaib” masih saja ngesot dengan enaknya dan nangkring dengan pe-de-nya di bioskop, film-film sederhana namun penuh makna dan pesan moral macam “Rumah Tanpa Jendela” menjadi begitu berharga dimata saya, karena tidak hanya mengingatkan saya betapa kesederhanaan itu indah dan segala nikmat kehidupan itu patut selalu disyukuri, tetapi juga melalui film-film seperti inilah sampai sekarang saya masih bisa tetap optimis dengan film-film lokal, kemasan film yang serba kurang itu bisa diperbaiki nanti yang terpenting tidak mengurangi kualitas cerita dan film itu sendiri apalagi sampai membuat film asal jadi dan asal taruh judul seperti film-film yang seenaknya ngesot dan menzalimi perfilman nasional.

“Rumah Tanpa Jendela” bukan tanpa cela di tengah cerita simpelnya yang terhantarkan dengan sempurna ke tiap kursi penonton. Yah saya kecewa dengan kemasan visualnya yang bisa dbilang kurang cerah, seperti menonton film ketika baru bangun tidur saja, agak gelap jadi kurang menikmati pada saat film ini berniat memamerkan gambar-gambar yang indah, sayang sekali. Satu lagi dan yang bisa dibilang cukup mengganggu adalah kualitas tata suaranya, ini memang bukan film action yang perlu hingar bingar efek suara yang memanjakan telinga, tapi kedepannya film drama seperti ini saya harap bisa lebih memperhatikan tata suara, karena walau film drama, penonton akan lebih enak dan nyaman ketika suara yang dihasilkan jernih dengan kualitas gambar dan suara yang sinkron, sayangnya film ini terkadang gambar yang disampaikan tidak selaras dengan suara yang sampai ke telinga. Tapi biarlah, seperti yang saya singgung di paragraf diatas, kemasan yang kurang bisa diperbaiki di film berikutnya, sisi teknis yang sekarang cukup mengganggu kenikmatan menonton semoga bisa lebih diperhatikan.

Untungnya semua kekurangan, termasuk cerita yang beberapa kali terpeleset, tidak fokus, musikalnya hilang begitu saja dan menyelipkan beberapa adegan tidak penting, termasuk seperti adegan “sekolah SD Obama” misalnya, yang walaupun sejalan dengan pesan film ini tentang sebuah impian tapi adegan tersebut seperti numpang lewat dan “tidak kena”, kenapa tidak mencoba cari panutan dari negeri sendiri, mungkin akan lebih punya makna tersendiri. Cukuplah bicara melulu soal kekurangan, ketika lubang-lubang tersebut pun sanggup di tambal permainan akting dua tokoh utama anak-anak dalam film ini, Emir Mahira (Garuda di Dadaku) apik melakonkan anak yang terbelakang dengan bahasa tubuh dan penyampaian dialog yang pas. Aktingnya pun berhasil menjalin chemistry yang lumayan kuat dengan lawan main, Rara yang diperankan Dwi Tasya, walaupun debut pertama kalinya di film layar lebar, dia mampu bermain natural, luwes, sesekali masih terlihat kekakuan ketika berdialog, ah tapi kepolosan anak-anak ini pada saat berakting sekali lagi membuat saya lupa dengan kekurangan-kekurangan film ini.

Aditya Gumay sepertinya mengerti sekali bagaimana mengarahkan anak-anak ini dan memperlakukan mereka di depan kamera, menjadi wajar memang karena pengalamannya bertahun-tahun yang dekat dengan dunia anak, apalagi ketika dia mendirikan Sanggar Ananda yang sukses menghasilkan anak-anak yang berbakat, jika ada yang ingat dengan “Lenong Bocah”, itu adalah salah-satu dari karya sanggar ini. “Rumah Tanpa Jendela” pun akhirnya memang akan menjadi film anak-anak, dikemas terkadang juga dengan adegan dan dialog kekanak-kanakan yang polos, lalu apa film ini hanya akan membuat senang anak-anak saja, tidak juga. Saya yang bukan lagi pantas disebut anak-anak justru terhibur dengan apa yang disampaikan Aditya Gumay, dengan segala pesan moral yang dikemas dengan warna-warni kehidupan yang manusiawi dan tidak berlebihan. Letupan-letupan emosi yang dirangkai oleh cerita yang ditulis oleh Aditya Gumay dan Adenin Adlan pun mahir dalam misinya untuk mempermainkan perasaan saya sebagai penonton. “Rumah Tanpa Jendela” pun mampu menjadi film keluarga yang tidak terlalu menggurui dan dengan mudah kita dapat memetik kematangan makna di setiap kisahnya.

127 Hours at 11:38 - 18 February 2011.
9

Kita mungkin tahu apa yang akan terjadi dengan Aron pada akhirnya, namun dengan kolaborasi Danny Boyle yang sanggup menjaga tensi film untuk tetap menegangkan dibalut juga dengan cerita menarik dan menyentuh hasil adaptasi Danny Boyle sendiri bersama dengan Simon Beaufoy dari autobiografi Aron Ralston “Between a Rock and a Hard Place”, ditambah lagi dengan akting juara Franco, akhirnya durasi 94 menit seperti menjadi 127 jam yang sangat berharga. Satu lokasi dan satu orang pemain melawan menit demi menit bergulirnya film ini untuk mencegah penonton untuk tidak bosan adalah ujian yang berat bagi Danny Boyle, tetapi sutradara berumur 54 tahun ini sanggup mengemas semuanya jadi paket tontonan yang jauh dari kata membosankan. “127 Hours” mungkin akan terlihat melelahkan dengan judul seperti itu tetapi percayalah begitu film ini mengajak berpetualang, kita akan lupa dengan segalanya dan begitu kita ikut terjebak bersama Aron, percayalah kita akan tergerak untuk lebih berterima kasih dengan kehidupan ini, mengingat untuk lebih bersyukur.

Rindu Purnama at 12:39 - 12 February 2011.
8

Awalnya saya kira “Rindu Purnama” hanya tentang menemukan Rindu atau Purnama—jadi bingung mau panggil yang mana—tapi tidak mungkin juga karena film baru saja berjalan separuh, ternyata film ini menyisakan separuhnya lagi untuk menceritakan cinta-cinta yang lain, tidak hanya cinta Pak Surya dan Bu Sarah kepada Rindu tetapi juga ada cinta Rindu dengan adiknya Akbar yang terus menangis memanggil nama Kak Rindu. Ada juga cinta yang berubah menjadi obsesi untuk memiliki dengan segala cara, film ini memang perlu karakter “The Evil”, maka pilihan itu jatuh kepada anak bos yang baru datang dari sekolahnya di Amerika, Monik. Terakhir cinta juga yang menemukan Surya dengan Sarah, dari pertemuan di rakit yang menyebrangkan mereka sampai pertemuan canggung demi pertemuan canggung lainnya. Surya dan Sarah memang tidak sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata tetapi mata keduanya tidak pernah mampu untuk berbohong. Mathias Muchus pun mengemas semua kisah cinta ini dengan sederhana, di latar belakangi pekarangan perkampungan kumuh, dibalut dengan masalah-masalah lama tentang orang miskin yang selalu jadi korban penggusuran.

Mathias Muchus tidak perlu taman bunga untuk membuat “Rindu Purnama” jadi romantis, cukup dengan kali kotor dan sebuah rakit, rasa romansa tersebut mampu dia munculkan. Film ini tidak perlu hal-hal dramatis untuk mengungkapkan kehangatan arti sebuah cinta, arti sebuah kepedulian akan sesama, lewat adegan Rindu dan kawannya yang membagi-bagikan makanan pada penghuni kolong jembatan, saya rasa sudah cukup untuk menyampaikan pesan cinta tersebut. Jika dibilang “Rindu Purnama” punya jalan cerita yang klise dan mudah ditebak, saya akan mengiyakan, tapi biarlah film ini nampak lusuh layaknya anak-anak jalanan ini dengan ceritanya yang terkesan itu lagi itu lagi, karena toh apa yang akhirnya patut menjadi catatan adalah bagaimana Mathias Muchus yang juga menuliskan cerita film ini bersama Ifa Isfansyah mampu membalut cerita lama menjadi terkemas baru.

Mathias Muchus mampu menghadirkan pesan-pesan sederhana tentang cinta tersebut dengan apa adanya, sesekali menyisipkan melodrama, namun tak berlama-lama film ini mampu bangkit dengan keceriaan anak-anak. Tampaknya hadirnya Ifa Isfansyah mampu membawa atmosfir menyenangkan yang ia tawarkan di “Garuda di Dadaku” untuk terasa kembali di film yang menghadirkan aktor-aktor cilik yang aslinya memang anak jalanan ini. Ifa Isfansyah memang tidak lagi membawa keceriaan anak-anak di lapangan sepakbola tapi sanggup menggiring keceriaan kembali ke tanah-tanah lapang gersang penuh sampah, kolong-kolong jembatan yang lembab, dan perkampungan kumuh yang padat dan sesak. “Rindu Purnama” sanggup menampilkan wajah-wajah polos malaikat kecil yang tidak tercemar oleh keangkuhan dan ketamakan. Walaupun terpojok, tersudut, terpinggirkan ke bagian paling “kotor” di kota yang menjual mimpi-mimpi ini, anak-anak ini tetap tidak termakan oleh kondisi mereka yang sebenarnya serba kekurangan. Mathias Muchus ingin memperlihatkan film tidak harus selalu mengeksploitasi kekelaman yang terjadi di dunia kumuh jalanan, tetapi bagaimana jika memperlihatkan penonton sesuatu yang menyenangkan, sebuah cerita yang tidak pernah “miskin” kebahagiaan.

Ketika “Rindu Purnama” memaparkan ceritanya dengan nyaman, enak untuk dicerna, dan membuat saya betah menyaring setiap makna demi makna dalam film ini. Tatanan visual pun berhasil memancing mata ini untuk terus terpaku pada layar, potret-potret lingkungan kumuh disulap menjadi layaknya arena wisata ditangan Gunnar Nimpuno. Tak pelak jika “Rindu Purnama” akhirnya memiliki sederet adegan yang disajikan dengan gambar-gambar yang indah, pengambilan gambar yang menyegarkan mata, semua keindahan ini bahkan sudah dimulai sejak adegan pembuka yang cantik itu. Tidak salah jika saya sudah punya jagoan untuk “opening terbaik tahun ini”, karena “Rindu Purnama” telah membuat sebuah adegan kejar-kejaran menjadi begitu menarik dan sangat berkesan. Ditambah kehadiran musik yang ditangani Titi dan Aksan Sjuman, terbilang sangat unik di opening tersebut dan di sepanjang film ini tentunya.

“Rindu Purnama” juga tidak ketinggalan menghadirkan jajaran pemain yang berakting apik, walau di beberapa bagian kadang kurang memaksimalkan letupan-letupan emosi yang diharapkan. Khususnya saya masih merasa canggung dengan chemistry yang dihadirkan aktor Tengku Firmansyah dengan Purnama. Sedangkan untuk Salma Paramitha yang memerankan Rindu/Purnama, walau masih terlihat kaku tapi tetap mencuri perhatian dan kekakuannya tersebut justru malah menambah keluguan karakternya. Saya berharap sekali bisa berjumpa Salma di film-film Indonesia selanjutnya karena bakatnya sangat menjanjikan. Cukuplah sepertinya saya berbasa-basi panjang lebar hanya untuk mengatakan akhirnya ada lagi film Indonesia yang bisa ditonton seluruh keluarga, film yang menyenangkan dan kaya akan pesan sederhana tentang cinta, “Rindu Purnama” adalah film tersebut.

The Fighter at 18:22 - 7 February 2011.
8

“The Fighter” sudah lebih dari cukup dalam menghadirkan drama diluar ring maupun di dalam ring. Di luar ring, saya tidak mengharapkan drama yang berlebihan hanya untuk menghasilkan dramatisasi murahan yang mungkin hanya akan direspon dengan kepalan tinju sesaat. Apa yang disajikan film ini, rangkaian cerita yang ditulis oleh Keith Dorrington, Paul Tamasy dan Eric Johnson, sudah menampilkan drama dengan level pas, konflik demi konfliknya, Dicky vs. Micky, Micky vs. Alice, dan setiap orang versus diri mereka sendiri sudah terbangun dengan arah yang tidak nyasar kemana-mana. Fokus dalam arena yang sudah ditentukan dan sanggup menjaga penonton untuk tetap terhibur dengan atau tanpa sebuah aksi tinju, karena bagi saya Alice yang melempar berbagai macam barang pecah belah termasuk teflon adalah sebuah aksi langka yang kadang lebih menarik dari adegan tinju itu sendiri. Sedangkan di dalam ring, pertandingan tinju demi pertandingan justru terlihat sangat nyata walaupun porsinya bagi saya hanya ditampilkan sebagai pelengkap kehidupan drama Micky dan keluarga. Namun dengan batasan slot yang diberikan pada adegan tinju, Russell masih sanggup mengemas pertandingan tinju terlihat seperti saya melihat pertandingan tinju sesungguhnya. Setiap kombinasi pukulan yang dilepaskan Micky ataupun lawannya benar-benar ikut mengundang saya untuk mengeluarkan respon-respon seperti: “aw”, “ouch”, dan beberapa kata sumpah serapah. Tanpa dramatisasi berlebihan “The Fighter” masih bisa terlihat “ganas” di atas ring.

Tidak adil rasanya jika saya tidak membicarakan peran Mark Wahlberg, Christian Bale, Melissa Leo, dan Amy Adams sebagai nyawa di dalam “The Fighter”, kombinasi akting merekalah yang menghidupkan film ini menjadi sebuah kisah yang lengkap. Wahlberg yang sebelumnya juga pernah memerankan karakter berdasarkan tokoh asli bernama Vince Papale di film bertema american football “Invincible”, kali ini memerankan Micky dengan sangat maksimal baik secara fisik maupun akting. Berbicara soal fisik, Christian Bale pada akhirnya memang jadi pusat perhatian, yah karena dia kembali berbadan kurus kering karena diceritakan karakternya adalah pecandu narkoba akut. Namun tidak hanya dalam urusan menguruskan badan yang lagi-lagi membuat saya terpana (dari seorang batman yang kekar sekarang jadi seperti scarecrow kelaparan), Bale sekali lagi sanggup bertransformasi luar biasa menjadi seorang Dicky. Saya tidak lagi melihat Bale tetapi dari ujung rambut sampai kotoran di kakinya saya hanya bisa melihat sosok Dicky yang nyeleneh, bermulut “busuk”, kelakuan semaunya, dan juga lucu di beberapa momennya.

Saya awalnya mengira Bale membawakan karakter Dicky dengan berlebihan tetapi ketika melihat sosok asli Dicky di footage yang diperlihatkan di credit, Bale betul-betul sudah membuat imitasi terbaik dari seorang Dicky yang sekarang sudah tua. Wahlberg dan Bale, menyatukan kedua orang ini dalam satu film adalah langkah tepat yang dilakukan “The Fighter”, karena tidak hanya mereka menampilkan kualitas akting yang cemerlang tetapi juga menghasilkan chemistry yang kuat, tepat disaat film ini memang sangat butuh kekuatan dari hubungan kakak beradik. Melissa Leo sebagai ibu dari kedua petinju juga tidak boleh diremehkan, aktingnya sebagai seorang perempuan yang lebih “ganas” dari seorang petinju sangat meyakinkan dan luar biasa memukau. Melissa Leo menampilkan sisi kehangatan seorang ibu yang sekaligus juga kerasnya dia ketika berurusan dengan obsesinya dan mempertahankan sikap. Sedangkan Amy Adams, well kita tidak akan melihat Amy sebagai gadis yang biasa kita lihat di film-filmnya sebelumnya, yah dia masih terlihat cantik, manis, dan seksi, namun disini Amy adalah Charlene, seorang mantan juara lompat galah yang tidak sungkan menghajar siapa saja yang merendahkan dirinya, ditambah mulutnya yang mudah mengeluarkan kata-kata kotor. Semudah itu juga saya mencintai “The Fighter”, film yang mengandalkan kombinasi drama yang tidak berlebihan, aksi tinju yang dikemas meyakinkan, dan akting luar biasa.

The Hole at 12:11 - 5 February 2011.
6

Sebagai film yang tujuannya menghibur seluruh keluarga, “The Hole” bisa dibilang akan mampu mencapai tujuannya tersebut dengan kemasannya yang memang pas dibuat untuk tujuan menghibur tadi, termasuk mungkin membuat seorang anak tidak berani sendirian ke kamar mandi, jangankan anak kecil, Dante sempat sukses membuat saya merinding di salah-satu adegan di film ini. “The Hole” memang bisa dibilang horor “anak kecil” tapi jangan salah dengan menganggap film ini dikemas kacangan untuk hanya menakuti anak kecil, Dante kenyataannya mampu mengemas bagian demi bagian filmnya untuk menjadi horor yang terlihat spooky dengan menghadirkan boneka badut yang hidup atau gadis cilik yang menangis darah itu, dan menebarkan misteri yang merangsang rasa penasaran lewat lubang yang dari awal sudah membuat saya ingin tahu apa sebenarnya isi didalam lubang tersebut, saya hanya bisa membayangi sendiri sesosok monster keluar dari dalam dengan cakar-cakarnya yang tajam. Dante dengan baik sanggup menjaga rahasia lubang misterius tersebut untuk tidak terjamah dari awal sampai bermenit-menit kemudian, sayangnya ketika saya menunggu jawaban tentang lubang apa itu? saya tidak mampu menghindar dari rasa bosan karena Dante sepertinya terlalu terlena bermain dengan tiga anak kecil yang ketakutan, tapi kebosanan tersebut tidak berlangsung lama.

Apa yang menarik dari “The Hole” adalah tidak hanya film ini menyenangkan dan juga menghibur secara bersamaan tetapi juga kontennya yang juga terisi dengan pesan yang penyampaiannya tidak langsung menggurui tetapi berhasil mengajak seorang anak untuk mengenal sisi buruk dari rasa takut, melawannya, dan menjadi pemberani setelahnya. Yah menonton film ini sama saja seperti orang tua yang menenangkan anaknya yang terbangun karena mimpi buruk lalu dengan halus berkata “kamu tidak perlu takut, itu hanya mimpi buruk”, si anak pun kembali tidur nyenyak. “The Hole” seperti mewakili ketakutan setiap anak akan sesuatu, saya misalnya takut dengan monster yang tiba-tiba muncul dari bawah tempat tidur, seorang anak wajar untuk merasa takut akan apapun, termasuk boneka badut. “The Hole” memberi sebuah pelajaran untuk melihat ke bawah tempat tidur, berani menengok ke tempat yang sebelumnya saya takuti, sampai akhirnya saya sadar tidak ada apa-apa disana, seperti itulah kemungkinan Dante menginginkan film ini untuk dilihat, jadi tidak hanya sebatas hiburan yang lalu ditinggalkan begitu saja ketika filmnya selesai. Dipandu dengan akting Chris Massoglia dan kawan-kawan yang pas, dengan dialog dan adegan yang mudah dicerna, “The Hole” menjadi sebuah paket horor remaja yang tidak terlalu buruk kok, justru cukup bagus untuk ukuran film keluarga, sebuah horor sopan yang menjadi pilihan alternatif ditengah banyaknya horor berating “dewasa” yang berlomba membanjiri visualnya dengan darah dan penyegaran ketika belakangan kian deras film horor remake dan reboot.

The Mechanic at 12:09 - 5 February 2011.
6

Lupakan saja jika ceritanya memang klise dan mudah ditebak, karena “The Mechanic” punya sajian no-holds-barred-R-rated-action! yup didalamnya akan banyak adegan yang brutal dan Jason Statham sekali lagi membuktikan dia adalah jagoan di filmnya sendiri. Simon West yang bertanggung jawab dengan hiburan blak-blakan ini bukanlah orang baru di dunia film aksi, jika kalian tidak kenal namanya, pasti kalian kenal dengan film yang dibintangi oleh Nic Cage “Con Air” atau “Lara Croft: Tomb Raider” dengan si seksi Angelina Jolie sebagai Lara Croft, yup kedua film ini disutradarai oleh Simon West. Jika pada tahun 2006 dia mendaur-ulang sebuah film horor tahun 70-an berjudul “When A Stranger Calls” yang sayangnya terbilang terpuruk alias gagal, kali ini Simon mencoba kembali me-remake film tahun 70-an, “The Mechanic” yang dahulu dibintangi Charles Bronson. “The Mechanic” memang tidak menyiapkan keseluruhan film untuk menjadi sesuatu hal yang baru, temanya seragam dengan film-film pembunuh bayaran serupa yang memfokuskan cerita pada penghianatan dan balas dendam, itu pun bagi saya tidak masalah karena toh pada akhirnya Simon mampu membangun cerita yang “basi” dengan sajian pukul sana pukul sini, tembak sana tembak sini, yang terkesan tidak basa-basi.

Di film seperti “The Mechanic” ini apalagi yang diharapkan, jika bukan aksi brutal dan Simon menyanggupi harapan saya tersebut dengan loyal dan dengan alurnya yang bang-bang, dalam artian cepat, secepat Arthur membunuh target-targetnya, film ini terkesan berlalu begitu saja dan menjauhkan penontonnya dari rasa bosan tentu saja. Alurnya saya rasa melebur dengan baik dengan aksi yang saya sudah sebutkan di awal tanpa basa-basi. Simon pun mampu menjaga intensitas film ini untuk tetap terasa “mendidih”, kita tidak akan diberi kesempatan untuk melihat jam berapa sekarang, karena Simon dengan baik sanggup mengajak penonton untuk ikut dalam setiap misi yang dikerjakan oleh Arthur dan kelak bersama Steve. Pusat perhatian kita benar-benar sudah diarahkan untuk tertuju di layar, mengamati setiap kebrutalan yang mengasyikkan, perkelahian satu lawan satu yang dikemas sangat jantan, dan aksi-aksi lain yang sudah terinjeksi dengan perangsang adrenalin. Film ini memang sudah terpaket untuk Jason Statham, pria plontos berusia 43 tahun ini tidak pernah main-main jika berurusan dengan otot dan senjata, akting dan bisa dibilang insting binatang menyatu menjadi satu untuk memunculkan karakter Arthur yang dengan mudah bisa meninggalkan korbannya tergeletak tak bernyawa. Ben Foster yang tampik apik di film sci-fi horor “Pandorum”, bisa memberikan akting yang juga menarik, punya level buas yang setingkat dengan Arthur, itu menjadikan chemistry dua orang ini begitu kuat sebagai mentor dan murid, dan sebagai partner in crime ketika menghilangkan nyawa para targetnya. Jika kalian memang butuh aksi cepat tanpa basa-basi dan tidak perlu memikirkan soal cerita, “The Mechanic” adalah paket tontonan yang tepat, menghibur, action menggairahkan dan tanpa kompromi.

The Green Hornet at 12:08 - 5 February 2011.
7

Nama Michel Gondry sendiri sudah menjadi daya tarik film ini, bagaimana sutradara Eternal Sunshine of the Spotless Mind ini nantinya akan menangani sebuah film action, karena selama ini Gondry dikenal dengan tema romantis, drama, dan komedi. “Green Hornet” pun tidak sepenuhnya akan berisi aksi-aksi pemacu adrenalin, menengok siapa nama penulisnya, yaitu Seth Rogen sendiri dan Evan Goldberg, wajar saja jika film ini juga akan dipenuhi oleh komedi yang bisa dibilang  begitu familiar dengan film-film Seth Rogen sebelumnya. Komedi sepertinya bukan masalah bagi Gondry, karena sebelumnya dia juga menyutradarai dan menulis sendiri film yang bertema komedi “Be Kind Rewind” dengan bintang utama Jack Black, tapi pertanyaannya adalah apakah Gondry bisa cocok dengan komedi yang ditulis oleh Seth Rogen dan Evan Goldberg. Kedua orang ini seperti yang kita tahu adalah partner in crime dalam menulis dan juga memproduseri film-film komedi dibawah bendera klan Judd Apatow, seperti contoh “Knocked Up”, “Superbad”, “Pineapple Express” dan “Funny People”. Pertanyaan tersebut tanpa basa-basi dijawab oleh Gondry dan “Green Hornet”-nya, bersiaplah tertawa karena sejak awal film ini akan menawarkan lelucon dan humor yang memang akan mengingatkan kita dengan gaya film produksi Apatow, tapi Gondry sendiri sepertinya mampu membatasi komedinya untuk tidak terlalu “Apatow” dan menjauhkan filmnya dari kesan tersebut.

Menyengat! itulah kata yang tepat ketika berbicara soal kemasan action yang dipadukan dengan komedi di “The Green Hornet”. Ketika komedinya begitu sukses membuat saya terpingkal-pingkal melihat bagaimana Seth Rogen bertingkah, plus dia sekarang tidak hanya akan beraksi dalam membuat orang tertawa tetapi juga bergelayut dalam film aksi superhero, yang jika saya tidak salah ingat memang belum pernah dia lakukan di film-film sebelumnya. Seth Rogen pun sanggup membagi porsi kelucuannya kepada Kato yang dimainkan oleh Jay Chou, yang walau porsi dialognya tidak sebanyak pemain lain tidak mengurangi pesona humornya disini, bahkan ketidakmampuan dia dalam berbahasa Inggris yang baik justru jadi kelucuan tersendiri. Seth Rogen tetaplah menjadi Seth Rogen yang kita kenal, kata-kata lucu yang keluar dari mulutnya, gaya beraktingnya ketika menyampaikan kelucuan tersebut tidak ada yang berubah, di film ini saya melihat Seth Rogen sebagai Seth Rogen, tetap lucu seperti biasanya, yang berbeda adalah dia kini adalah superhero bertopeng di film aksi-komedi yang ditangani oleh seorang Gondry.

Berbicara soal action, tidak adil juga jika dibilang “The Green Hornet” punya sajian aksi yang tidak ada apa-apanya, walau memang tidak ada yang baru kecuali ketika Gondry bermain dengan sesuatu yang spesial bernama “Kato Vision”, jejeran adegan aksinya bisa dibilang masih mampu menghibur mata dan juga adrenalin ini untuk meloncat-loncat bersama Kato dan Green Hornet, kenyataannya Gondry memang tidak membuat film aksi yang seburuk itu. Porsi aksi yang cukup melimpah memang tidak terlalu “menyengat” seperti apa yang dilakukan oleh porsi komedinya, namun semua itu tertutupi dengan apa yang disebut dengan “Kato Vision”, saya tidak akan membeberkan semua kejutan yang dipamerkan oleh Gondry disini, jadi sebaiknya memang tonton sendiri untuk merasakan sensasi “Kato Vision” tersebut. Sayangnya ajang pamer “Kato Vision” sangat langka di munculkan oleh Gondry, begitu pula dengan dukungan cerita yang berbobot. Seth Rogen dan Evan Goldberg betul-betul fokus mengisi ceritanya dengan ledakan humor ketimbang mengajak cerita untuk tidak menjurus klise dan di beberapa bagian cukup membosankan.

Cerita yang berfokus pada duo jagoan kita pun memberi ruang yang sempit pada porsi pemain lain untuk tampil lebih, Cameron Diaz misalnya yang bisa dibilang hanya jadi pemanis yang memberikan info bermanfaat bagi Green Hornet. Sedangkan Christoph Waltz yang bermain sebagai penjahat utama Chudnofsky, masih bisa menampilkan ciri khas aktingnya yang unik lewat aksen Rusianya dan gayanya yang terkadang konyol-konyol menakutkan. Waltz masih bisa memaksimalkan porsinya yang terbatas untuk bisa melebur dengan kelucuan-kelucuan yang ada, dia masih mampu tampil lucu tidak ingin kalah dengan Green Hornet tentunya. Dari segala kekurangan yang muncul, disinilah kerja keras Gondry, Seth Rogen dan Evan Goldberg akan diuji untuk mampu menutupi kekurangannya dan mereka terbukti memang berhasil menjadikan hasil akhir “The Green Hornet” agar tidak terpuruk. Lewat komedi yang menampar dan ledakan aksi yang sekali lagi saya sebut: menghibur! “The Green Hornet” masih layak untuk disaksikan di layar lebar, untuk merasakan sensasi sengatannya dan juga 3D yang bisa terbilang efektif di beberapa bagian aksinya, khususnya ketika Kato Vision mulai beraksi.

Season of the Witch at 18:41 - 26 January 2011.
5

Setelah “Season of The Witch” membuka filmnya dengan cukup meyakinkan, beberapa wanita digantung karena dicurigai sebagai penyihir, lalu salah-satunya berubah menjadi iblis. Apa yang saya saksikan selanjutnya adalah sihir yang tidak mujarab dalam tujuannya untuk tetap menjaga ekspektasi penonton stabil. Karena perang Salib bukan fokus dari film ini dan hanya dijadikan pelengkap, wajar saja jika hasilnya biasa saja, hey ini bukan “Kingdom of Heaven” bukan. Adegan perang paket hemat ini hanya ingin memperkenalkan latar belakang Behmen dan Felson, di tengah perang yang sepertinya tidak berganti tempat, kecuali memang di layar kita akan melihat nama perangnya akan berganti-ganti, “Battle of A, B, C, and D”. Bermodalkan tempat yang itu-itu saja, figuran CGI yang sedang sibuk sendiri dibelakang, kostum yang diubah sedikit, lalu menaburkan salju di sekitar jagoan kita, “Season of The Witch” sudah melakukan tugasnya menghadirkan perang epik yang kolosal. Saya akan menonton “Kingdom of Heaven” setelah ini, hanya untuk memuaskan mata melihat Perang Salib yang sebenarnya.

Jadi saya berharap banyak ketika Behmen dan Felson memulai perjalanannya ke biara “in the middle of nowhere”, mereka akan dihadang banyak adegan-adegan yang menantang, menyuapi adrenalin ini dengan ketegangan dan action-action menghibur. Nyatanya film ini justru asyik menyuapi kita dengan suap demi suap cerita yang dipanjang-panjangkan dan itu membosankan. Dominic Sena yang kita kenal dengan film aksi tingkat tinggi dan biasanya sukses menghibur, seperti yang dicontohkan dalam “Gone in Sixty Seconds” dan “Swodfish”, ternyata tidak mampu melakukan apa-apa ketika ia dihadapkan pada kenyataannya jaman ini belum ada senjata api dan mobil untuk dihancurkan. Sebagai gantinya dia memiliki beberapa kuda dan pedang, untuk dimanfaatkan sebaik mungkin dalam menciptakan adegan menegangkan berbalut fantasi. Dominic memang mampu membuat segelintir action, yang membuat kita gigit jari atau gregetan. Namun kemasan yang dipakai terlalu klise dan kita tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, seperti adegan “jembatan” misalnya atau sekelompok serigala jadi-jadian (darimana Dominic mendapat serigala yang seram-seram ini). Ketika “Season of The Witch” sudah didukung dengan lanskap Eropa yang cukup dipotret dengan kelam, dan beberapa setting yang cukup bisa membuat kita merinding, hutan gelap berkabut misalnya. Sayangnya kelebihan tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, apalagi ketika film ini lebih asyik bercakap-cakap dengan dialog-dialog yang cukup cheesy, yah yang untungnya dialog-dialog tersebut bisa sedikit menghibur ketika seorang Ron Perlman bisa membuatnya menjadi lucu.

Satu lagi yang cukup mengganggu adalah bagaimana “Season of The Witch” membuat mahkluk-mahkluk fantasi yang jumlahnya terbatas jadi tidak sedap dipandang, pada saat hasil akhirnya tidak didukung oleh efek visual yang mumpuni. Serigala jadi-jadian masih bisa dibilang okay, tapi tidak dengan iblis yang seharusnya sanggup meneror dengan rupa dan bentuknya, namun nyatanya hanya membuat saya tergelitik untuk tertawa, betapa kasarnya mereka membuat musuh tandingan Behmen yang sudah tampil meyakinkan dengan rambutnya ini. Dengan tampilan buruk efek visual, “Season of The Witch”, lalu penampilan para pemainnya juga tidak menyelamatkan film ini, yah kecuali Ron Perlman dan Stephen Graham yang mampu menghibur di setiap porsi aktingnya, sedangkan Cage dan sisanya bermain biasa saja. Pengecualian lagi untuk Claire Foy, yang ditakdirkan untuk bermain sebagai penyihir, dia memang tidak diberi kesempatan untuk berakting lebih, tetapi di dalam sangkar burung ternyata dia mampu membuat jengkel dengan muka polosnya, membuat saya bertanya-tanya apakah dia witch atau… completely bitch! Di dunia penuh kegelapan, “Season of The Witch” ternyata tidak mampu berbicara banyak dengan sihirnya, matra-matranya sudah terlebih dahulu terserang wabah membosankan, sebagai hiburan masih bisa ditolerir namun jelas film ini mudah dilupakan.

Yogi Bear at 18:37 - 26 January 2011.
4

Jujur nih! waktu pertama kali melihat poster film “Yogi Bear” ini yang ada dibenak saya adalah “kok seram sekali”. Yogi dan Boo Boo tidak lagi tampak lucu dengan tambahan gigi tajam bertaring, bukannya menarik perhatian anak kecil, tampang mereka justru bisa dibilang menyeramkan. Ditambah mata mereka yang bulat seperti mengisyaratkan Yogi dan Boo Boo akan menerkam anak-anak manapun yang mendekatinya, saya saja ngeri, apalagi anak-anak pasti sudah mimpi buruk lebih dahulu sebelum melihat filmnya. Jika film ini tampak terlalu mengerikan untuk anak-anak, bagaimana dengan sudut pandang orang dewasa yang menontonnya, saya bisa bilang tidak ada yang menarik, kecuali satu hal, yaitu menunggu alat, kejahilan, dan kekacauan apalagi yang akan diciptakan oleh si beruang Yogi ini. Selebihnya, humor-humor yang dimasukkan ke dalam satu keranjang piknik ini terasa sangat hambar, tidak lucu, terlalu kuno, dan sangat berlebihan. Gulungan jalan cerita pun sangat predictable, okay tidak apa-apa saya mungkin akan tahu film ini akan dibawa kemana, tetapi itu jika “Yogi Bear” mampu melepaskan umpan-umpan cerita yang menggiurkan, kenyataannya film ini tidak hanya membosankan dengan cerita yang dipanjang-panjangkan hanya untuk memenuhi durasi tetapi juga membingungkan, sebenarnya siapa target pasar film ini dari awal, anak kecil atau orang dewasa, karena kedua target tersebut sudah gagal dicapai oleh film ini, seperti Yogi yang gagal mendapat target makanan kesukaannya dari orang-orang yang piknik.

Saya berani bilang “Yogi Bear” seharusnya langsung masuk keranjang berlabel “straight to DVD” tetapi apa boleh buat film ini akan lebih menguntungkan jika ditayangkan di bioskop apalagi dengan tambahan beberapa dolar dari tiket 3D yang lebih mahal. Dari bujet $80 juta, “Yogi Bear” sudah mengantongi lebih dari $90 juta, yah untung sedikit daripada tidak sama sekali. Namun yang jelas tidak menguntungkan bagi penonton, karena keluar bioskop saya justru kekurangan banyak huruf-huruf yang membentuk kata M-E-N-G-H-I-B-U-R, sisanya hanya huruf B, yang bisa diartikan B-osan. Jajaran pemain yang menyuarakan Yogi dan Boo Boo memang sudah melakukan tugasnya dengan baik, memberi jiwa pada kedua boneka dufan ini untuk setidaknya memiliki suara yang sama dengan serial kartunnya. Sayangnya peran Dan Aykroyd dan Justin Timberlake dalam menghidupkan tokoh kartun dalam bentuk CGI ini harus mubajir, sekali lagi karena dua beruang ini tidak hanya dipasangkan dengan cerita yang membosankan dan tidak lucu, tetapi juga karena mereka dipasangkan dengan pemain manusia yang berakting buruk. Tom Cavanaugh sebagai Ranger Smith adalah tokoh paling tidak mempunyai pendirian, bahkan ketika dia seharusnya menyelamatkan hutan, sedikit-sedikit putus asa dan tiba-tiba bangkit kembali, itu pun karena bujukan Yogi. Anna Faris, well ditempatkan sebagai pemanis diantara kedua beruang menyeramkan mungkin berhasil, tapi ketika saya harus menyaksikkan dia berlakon, tampaknya lebih seram ketimbang wajah Yogi. Apa boleh buat “Yogi Bear” sepertinya memang tidak cocok dibuat animasi CGI atau film ini sudah salah kaprah dalam mendesain bentuk Yogi yang seharusnya bisa lebih menggemaskan.

Faster at 18:36 - 26 January 2011.
6

“Faster” sepertinya memang fokus pada bagaimana Dwayne Johnson bertransformasi menjadi Driver, seorang yang tak kenal takut, nyali sebesar ototnya, dan tidak pernah pernah berkedip ketika menghamburkan peluru pada targetnya. Driver adalah sebuah mesin yang hanya bergerak untuk balas dendam, mungkin peluru yang pernah menembus kepalanya membuat otaknya sedikit berubah posisi, yang ada dipikirannya sekarang adalah main tembak sana-sini, tanpa peduli dia menembak di tengah kerumunan orang yang sedang pusing mengerjakan tugas kantor, atau menodongkan senjata pada ibunya sendiri, dia jelas tak berotak. Tapi pantaslah jika “Faster” memakai model jagoan yang seperti Driver ini, tidak perlu ambil pusing, nothing to lose, fokus pada misi membunuh semua pelaku yang bertanggung jawab menghancurkan kehidupannya dan membuat dia kehilangan kakaknya. Karena jika tidak dibuat seperti ini, “Faster” mungkin akan lebih terpuruk lagi menjadi sajian action yang tak berpeluru, tak berotot, dan tak bernyali, yang tersisa hanya cerita yang sebenarnya juga klise dan membosankan. Jika “Faster” begitu menggebu-gebu memamerkan aksi Driver, untuk urusan cerita bisa terbilang loyo.

Tunggu dulu, jika dibilang porsi cerita di anak-tirikan dan dilupakan, tidak benar juga sih, karena justru selagi Driver sibuk berjalan dari tempat A ke tempat B, kita akan diajak mengenal lebih jauh siapa sebenarnya algojo yang juga dijuluki “The Ghost” ini lewat serangkaian investigasi yang dilakukan oleh Cop (kenapa film ini malas sekali memberi nama pada karakternya?) yang diperankan oleh Billy Bob Thornton dan Cicero (Carla Gugino). Melalui investigasi mereka berdua, “Faster” seperti ingin menjawab setiap pertanyaan yang ada di benak penonton, selain jati diri Driver, juga siapa yang dibunuh olehnya, salah apa mereka, karena dari mulut Driver sendiri kita jarang menemukan jawaban-jawaban tersebut, dia hanya pandai menjawab dengan peluru. Jadi sekarang kita punya dua plot utama disini, Driver mengantarkan maut pada setiap dalang pembunuhan dan juga duo polisi yang berusaha menangkapnya. Tapi dua plot tersebut tidak cukup untuk mengisi slot durasinya yang hampir 100 menit, jadi disinilah peran duo bersaudara Tony dan Joe Gayton untuk memanjang-manjangkan cerita dengan beberapa subplot, termasuk Cop yang berjibaku dengan kecanduan obat-obatan terlarang dan kehidupan pernikahannya. Lalu selain polisi yang mengejar Driver, ada pembunuh bayaran (Oliver Jackson-Cohen) yang anehnya hanya membunuh untuk hobi, karena dia sendiri adalah milyuner muda yang punya segalanya, termasuk perempuan cantik yang tidak peduli jika pacarnya seorang pembunuh.

Alih-alih membuat cerita menjadi semakin menarik dengan menggali kehidupan pribadi polisi pecandu obat dan menambah lawan bagi Driver, dengan munculnya seorang hitman, kedua poin tersebut justru sangat-sangat lemah dalam usahanya menjadi perekat simpati (yang sebenarnya hanya pengalih perhatian) penonton kepada sang polisi dan sang pembunuh bayaran juga hanya terlihat numpang lewat, jauh dari kata lawan tanding sebenarnya bagi jagoan kita, dan pada akhirnya justru punya agenda sendiri yang sama tidak pentingnya dimasukkan seperti juga karakter dia yang muncul di “Faster”. Ketika ceritanya begitu cetek, sub-plot yang lemah malah makin membuat saya bertanya-tanya kenapa tidak dipakai saja untuk melebihkan porsi kehadiran “The Rock”. Karena anehnya tampang Dwayne Johnson bisa dibilang tidak terlalu banyak mengisi layar, kita hanya akan melihatnya dengan pola pengulangan, membunuh, membunuh, dan membunuh. Nah inilah yang sebenarnya dicari penonton, bukannya hitman ganteng yang punya penyakit egosentrik dan galau, membunuh lagi, tidak membunuh, ah membunuh lagi saja. Lebih baik durasi yang mubajir untuk memunculkan pembunuh bayaran yang satu ini dipakai saja untuk yang lain, lebih banyak baku tembak, atau adu jotos misalnya. “Faster” pada akhirnya menjadikan kekurangannya dua kali lipat lebih banyak, kekurangan adegan-adegan baku hantam serta subplotnya yang mengganggu. Tapi sebagai sebuah hiburan, film ini masih layak tonton dan menyenangkan, “Faster” itu The Rock-banget!

TRON: Legacy at 12:56 - 7 January 2011.
8

Kosinski memperkenalkan dunianya begitu manis dan menghipnotis, semenjak berdiri menginjakkan kaki di The Grid, semua akrobatik visual efek langsung menyambut kita dengan pelukan hangat, menawarkan segala keindahan dunia TRON yang memang sudah terprogram untuk menjadi “AWESOME”. Kosinski sepertinya ingin membuktikan jika dia memang orang yang tepat untuk dipilih Disney duduk di bangku sutradara dan dia melakukan itu tanpa basa-basi di menit pertama kita berada di tengah kerumunan warga Tron yang bersorak-sorai, seperti menyemangati kita para penonton untuk juga bersorak menyambut setiap ke-seksi-an tarian visual efek yang berlomba untuk memuaskan mata para penontonnya. Kosinski ternyata memang menepati janjinya ketika berkata dia akan membuat “something” yang “cool”, kenyataannya film ini memang lebih dari kata-kata keren. Sutradara yang mempunyai “peliharaan” bernama Commodore di tahun 1982 yang dibuatnya dengan program Basic ini (lihat betapa cocoknya Kosinski dengan film ini, dia juga seorang computer nerd) dengan fasih menjabarkan setiap huruf “L-U-A-R B-I-A-S-A” menjadi konsep dunia digital yang fantastis, Kosinski sepertinya paham betul cara untuk membuat penonton mematung tak bergerak ketika “disc war” dimulai dan cakram-cakram yang berterbangan layaknya frisbee tersebut mulai memantul liar mencari mangsa dan menghancurkannya. Tunggu dulu ini baru hidangan pembuka…kan?

Kata-kata luar biasa yang hinggap di mata saya pun segera memudar ketika ternyata Sam mendapati ayahnya terkurung di dunia ciptaannya sendiri selama 20 tahun ini karena ulah Clu, program yang juga ciptaannya yang membelot. Sam dibantu oleh guardian cantik bernama Quorra (Olivia Wilde) akhirnya memutuskan untuk membawa ayahnya kembali ke dunia nyata melewati portal yang hanya bisa dibuka dari dunia luar, tapi tentu saja mereka harus siap menghadapi Clu dan pasukannya. Kita memasuki apa yang dinamakan sesi pertemuan ayah-anak, setelah dihibur-puas dan lezat selama hampir 20 menit dengan appetizer yang diramu dari resep “awesome” arsitektur, kostum, dan permainan maut di dunia Tron, seperti gladiator pada masa romawi namun versi digital, dan futuristik, ada perang frisbee dan adu balap motor super canggih bernama “light cycle”, semua dikemas dengan visual efek gurih yang membuat saya seakan ingin menjilati layar bioskop. Tapi jilatan tersebut mulai hambar saat cerita mulai mengisi porsinya, Edward Kitsis dan Adam Horowitz sepertinya kurang menghadirkan “jiwa” kedalam ceritanya. Entahlah, saya merasakan kekosongan ketika Sam dan ayahnya membicarakan kebebasan mereka, dan saya tidak merasakan kejahatan yang terdigitalisasi dalam diri Clu. Sama seperti para program yang hanya menuruti perintah namun bergerak hampa, jalan cerita di film ini juga bergulir mengalir mengikuti “trek” yang sudah dibuat oleh skrip Edward Kitsis dan Adam Horowitz, menghibur namun tak bernyawa. Ada beberapa momen yang bisa dibilang sanggup berinteraksi dengan penonton namun sisanya nihil, Apa yang tersisa hanya ide untuk menunggu visual-visual efek keren itu untuk kembali.

Sekali lagi ketika jalan cerita dan karakteristik setiap karakternya tidak terbangun dan tergali dengan semestinya, kelemahan ini ditutupi dengan variasi adegan lengkap dengan pernak-pernik visual efek yang lebih menghipnotis daripada apa yang disajikan Kosinski di awal film. Rentetan visual efek tersebut seakan ingin memborbardir mata dan membius pikiran untuk melupakan sejenak plot yang tidak se-complicated rencana kabur yang dibicarakan Sam, Quorra, dan Kevin Flynn atau tidak sehebat rencana besar Clu. Tapi itu adalah kebaikan dari “Tron Legacy” walau tampak “berat” dengan segala dialog-dialog fiksi ilmiah dan filosofis, jalan ceritanya bisa dibilang ringan dan bersahabat untuk diikuti jika kita tidak berusaha keluar dari “trek” yang sudah disiapkan oleh Edward Kitsis dan Adam Horowitz, jadi nikmati saja cerita yang coba disajikan karena toh film ini memang berat condong untuk fokus bagaimana caranya men-digitalisasi mata untuk terhibur oleh visual-visual efek yang menggiurkan itu.

Lucu melihat bagaimana film ini mencoba menciptakan Jeff Bridges versi muda, dengan bantuan CGI tentu saja, seperti melihat Tom Hanks di “The Polar Express” tapi lebih mulus dari itu. Walau tidak memperlihatkan percikan emosi yang natural, karena dia juga program dan memang CGI-nya masih terlihat kaku, tapi karakter Clu tersebut lumayan mencuri perhatian, termasuk Jeff Bridges asli, aktor berusia 61 tahun yang memenangkan Oscar untuk kategori aktor terbaik tahun lalu ini tetap terlihat begitu karismatik dengan akting yang sebenarnya standart saja. Justru Garrett Hedlund yang tampaknya kehilangan karisma sebagai seorang hero, beruntung dia banyak diberi porsi adegan action (tentu saja karena dia pemeran utama), heroik, dan ditemani pendamping cantik Olivia Wilde sebagai Quorra, alhasil kelemahan dia juga ikut tertutupi dengan aksi-aksi menantang maut penuh dengan hingar bingar ramainya efek canggih. Michael Sheen sebagai Castor juga lumayan memberikan warna pada performa keseluruhan akting pemain-pemain di dunia Tron. Namun bintang sebenarnya adalah DAFT PUNK, walaupun hanya kebagian porsi sebagai cameo, duo musisi elektronik asal Perancis ini mampu sekilas mencuri perhatian. Apalagi dengan musik yang seluruhnya dikerjakan oleh mereka (berkolaborasi dengan Joseph Trapanese untuk musik orkestranya), sukses menghentak, berkolaborasi dengan setiap aksi visual efek, menghasilkan sebuah obat bius elektronik yang membius penonton setiap saat nomor demi nomor Daft Punk muncul menemani setiap adegan. “Tron Legacy” adalah sebuah perjalanan luar biasa kedalam dunia digital penuh dengan petualangan menghibur dan memanjakan mata lewat inovasi visual efek yang hebat. Selamat menikmati dunia Tron dan jangan lupa kembali ke dunia nyata…!

The Tourist at 12:55 - 7 January 2011.
5

Jika Frank nantinya kemungkinan bisa selamat dari orang-orang jahat, penonton mungkin tidak akan selamat dari betapa membosankannya film yang disutradarai oleh Florian Henckel von Donnersmarck tersebut. Sebuah penurunan kualitas yang begitu drastis jika melihat film sebelumnya, “The Lives of Others” (Das Leben der Anderen), yang begitu mempesona dengan daya tarik ceritanya yang berlatar belakang Jerman tahun 80an, yang kala itu masih terpisah antara barat dan timur. Film Jerman tersebut banyak dianugrahi penghargaan baik lokal maupun internasional, termasuk menang Oscar untuk kategori film berbahasa asing terbaik di tahun 2007. “The Tourist” yang diadaptasi dari film Perancis “Anthony Zimmer” ini mengawali segalanya dengan baik, memperkenalkan kedua bintang kelas atasnya, Johnny Depp dan Angelina Jolie dengan begitu menarik dengan kemasan komedinya yang lumayan mengundang tawa. Tapi sisi menghibur dari film ini tidak berlangsung lama, berdurasi 103 menit, “The Tourist” lalu menyisakan sekitar satu jam racikan cerita Donnersmarck, Christopher McQuarrie (The Usual Suspects), dan Julian Fellowes, yang kehilangan daya tariknya lagi ketika Angelina Jolie yang berperan sebagai Elise justru makin “panas” dengan segala intrik yang menyelimuti dan rahasia yang dibawanya kemanapun dia pergi.

Menengok sebentar ke belakang, “Knight and Day” (Tom Cruise, Cameron Diaz) atau pun “Date Night” (Steve Carell, Tina Fey) yang memiliki tema serupa action dengan bumbu komedi malah jadi terlihat lebih baik ketimbang keseluruhan cerita “The Tourist” yang selalu terbentur dengan plotnya yang terasa kurang bersahabat, jika tidak ingin dikatakan absurd. Sayang sekali karena membuat segala keindahan lanskap Venice yang dipotret dengan cantik oleh John Seale, lalu tatanan musik yang cukup menarik dari James Newton Howard, serta tidak ketinggalan daya pikat dua pelakon yang sebetulnya tidak bermain jelek-jelek amat, menjadi mubajir, sia-sia, karena tidak didukung oleh tutur cerita yang nyaman untuk diikuti. Donnersmarck seperti seorang turis yang nyasar di filmnya sendiri dan tidak tahu harus membawa jalan ceritanya kemana, okay mungkin dia masih tahu jalan menuju ke ending-nya, tapi lika-liku menuju ke sana dipenuhi intrik, komedi, action, dan juga konflik yang gagal dalam misinya untuk merangsang penonton untuk setidaknya menikmati film ini. Segi action yang mungkin banyak ditunggu oleh penonton, karena jika melihat trailer, film ini menawarkan aksi-aksi yang menarik. Tapi kenyataannya sebuah kejar-kejaran perahu pun terlihat sangat buruk disini.

“The Tourist” pun seakan tenggelam di Venice bersama dengan jalan cerita dan daya tarik yang sudah lebih dahulu tercebur. Ketika komedi tidak lagi begitu lucu, dan action juga tidak lagi bisa diharapkan, sisi drama juga tidak beruntung untuk mengajak kita agar mau kembali duduk manis menunggu film ini berakhir. Memasangkan Johnny Depp dan Angelina Jolie adalah kesalahan paling mencolok ketika seharusnya duet mereka bisa menyelamatkan film ini, namun lagi-lagi terbentur dengan skrip yang telanjur membuat mereka tampak bukan seperti dua orang kekasih. Johnny Depp dan Angelina Jolie justru mampu bermain cukup baik secara individual, tetapi saat dipasangkan, mereka tampak begitu terasing dengan hubungan yang tercipta tanpa adanya sebuah ikatan chemistry yang manis. “The Tourist” seperti terbawa oleh arus yang diciptakan oleh kurangnya chemistry antara bintang utamanya yang secara komersil pasti akan mengundang calon penonton untuk menonton mereka. Chemistry antara “The Tourist” dan penontonnya pun makin terkikis, film makin membosankan dan tidak jelas mendekati akhirnya, kita hanya dipaksa menunggu sampai semuanya berakhir tanpa meninggalkan kesan istimewa pada filmnya, Venice yang indah itu pun mungkin akan terlupakan.

Let Me In at 12:53 - 7 January 2011.
8

“Let Me In” yang seluruhnya di tulis juga oleh Matt Reeves memang jelas menghadirkan nuansa yang berbeda, kesan yang terlalu “dingin” dari “Let The Right One In” tiba-tiba berganti dengan atmosfir sedikit lebih hangat, disana ada jalan cerita yang lebih “cerah” untuk dimengerti, dan balutan kemisteriusan dari film orisinilnya berubah menjadi suatu yang bisa dibilang dibuat untuk lebih menakuti. Ketika “Let The Right One In” lebih asyik bermain dalam ruang gelap yang menantang kita untuk melangkah meraba-raba apa yang ada disekeliling ruangan tersebut, kadang kita juga diajak untuk menabak-nebak apa sebenarnya arti mimik “dingin” Eli dan menengok lebih dalam untuk mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh Oskar. “Let Me In” tampaknya ingin lebih terbuka, kita tidak lagi diajak bermain “petak-umpet” psikologis, mengartikan setiap pergerakan wajah Owen dan Abby, karena ke-innocent-nan mereka dalam mengungkapkan rasa lebih bisa terbaca disini. Dari segi “mentah” cerita, “Let Me In” memang tidak akan jauh berbeda dengan “Let The Right One In”, karena pada dasarnya mereka bersumber pada material yang sama, yaitu novel John Ajvide Lindqvist. Disinilah Matt Reeves dituntut berkerja keras untuk memutar pena dan menuliskan kisah versinya sendiri.

“Let Me In” masih akan bertabur rasa kelam, meninggalkan jejak-jejak kesunyian pada tumpukan salju yang mengubur cerahnya kota Los Alamos, berbeda dengan “Let The Right One In” yang “bersuhu” dingin, Matt Reeves mencoba menurunkan nuansa dingin tersebut menjadi agak lebih hangat. Bermodalkan novel yang sama, Matt Reeves sukses mengerjakan pekerjaan rumahnya untuk menampilkan hasil akhir yang membuat film ini berkesan seperti bukan film remake (karena memang seperti yang saya katakan di awal, Matt Reeves mencoba mengadaptasi dari bukunya langsung). “Let Me In” dirangkai oleh Reeves untuk sanggup berdiri sendiri dengan susunan cerita yang bisa dikatakan berbeda walau nantinya semua berujung ke sudut yang sama. Jadi ketika saya atau mereka yang sudah menonton “Let The Right One In” mungkin akan kelelahan mencoba membanding-bandingkan perbedaan dan kesamaannya. Karena Reeves toh menginjeksi bagian demi bagian ceritanya dengan orisinalitasnya sendiri, caranya sendiri untuk bercerita pada akhirnya justru menantang kita untuk tidak lagi membandingkan mana adegan serupa dan mana adegan yang dihilangkan. Tetapi lebih kepada mencari-cari kelebihan dari masing-masing adegan yang kedua film “Let Me In” dan “Let The Right One In” sudah tawarkan kepada penonton dengan cara terbaik mereka masing-masing pula.

Bagaimana “romantisme” Owen dan Abby diceritakan, bagaimana Reeves juga bercerita tentang kisah ayah Abby, semua terkemas dengan kantong yang baru tetapi masih dengan isi yang sama, inti cerita yang istimewa. Romantisme Owen dan Abby lebih bisa mudah dirasakan, walau misterius tetapi lebih hangat untuk dipeluk. Begitu juga dengan kisah Abby dan ayahnya, hubungan mereka berdua lebih mudah dimengerti dengan adegan-adegan yang memang dibuat untuk menjelaskan kekuatan hubungan ayah-anak. Baiklah, dari kisah yang ditawarkan, sekali lagi “Let The Right One In” juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh “Let Me In”, tapi keduanya berbagi kelebihan yang sama dalam urusan memoles film ini tampil elegan dan berkelas secara sinematografi. Jika Hoyte van Hoytema dalam “Let The Right One In” mampu memanjakan mata dengan gambar nan indah bernuansa kelam dan dingin terbalut dengan cita rasa khas Eropa yang elegan. Greig Fraser melakukan hal yang sama pada “Let Me In”, dia berhasil menyelaraskan setiap adegan dengan gambar-gambar yang elegan nan indah. Greig Fraser tahu betul bagaimana harus menyorot wajah-wajah manis Owen dan Abby untuk menyampaikan pesannya kepada penonton, walau mereka sama sekali tidak berbicara, mereka berhasil berkomunikasi dengan penontonnya. pengambilan gambar dan pergerakan kamera Greig Fraser pada akhirnya berhasil “membekukan” kita untuk terus nyaman menonton, serta “menghangatkan” kita untuk menikmati keindahan lanskap-lanskap sederhana yang ada.

“Let The Right One In” memiliki talenta yang menakjubkan ketika berbicara soal para pemainnya, terutama fokus kita pada Kare Hedebrant (Oskar) dan Lina Leandersson (Eli), keduanya menampilkan performa yang tidak hanya memikat tetapi melekat di hati para penontonnya. Kodi Smit-McPhee dan Chloe Moretz pun tidak kalah memikat dalam memerankan lakon utama di “Let Me In”, keduanya bisa mengaitkan chemistry hangat tersebut dengan penonton, berbagi kasih sayang mereka untuk menyentuh rasa simpatik penonton. Kodi Smit-McPhee bermain apik sebagai bocah penyendiri dan pendendam, dia bisa menyampaikan ketulusan hatinya serta kesedihannya dan menyamarkannya di balik tubuh kurus anak bernama Owen. Chloe Moretz yang sebelumnya berakting “kasar” sekaligus fantastis dalam “Kick-Ass”, kembali menampilkan performa gadis cilik yang tangguh. Chloe berhasil menghadirkan kemisteriusan dalam wajah Abby, mimik wajahnya yang janggal dan dialog-dialog lugu terkadang kasar dapat dengan baik dimainkan olehnya. Keduanya pun akhirnya mampu memanipulasi emosi dan mood kita, dibantu dengan musik yang dialunkan Michael Giacchino. Walau di beberapa momennya Giacchino terasa sedikit berlebihan namun upayanya dalam membangun ketegangan atau sisi romantis film ini bisa terbilang cukup bekerja dengan baik.

John Ajvide Lindqvist tampaknya adalah orang yang beruntung karena novelnya diadaptasi menjadi dua film yang sama-sama menawarkan kehebatan dalam bercerita. “Let Me In” dan juga “Let The Right One In” saling berbagi keistimewaan, keduanya menawarkan sebuah pengalaman sinematik yang unik, sebuah kisah romantis yang manis, seperti permen kesukaan Owen. Walau “Let The Right One In” akhirnya masih saya tempatkan pada posisi terbaik, bukan berarti “Let Me In” lebih buruk, tidak film ini justru adalah sebuah kisah hebat yang mampu berdiri sendiri berkat kemahiran Matt Reeves meracik formulanya. Menjadikan film ini sebuah remake yang langka, karena mampu tampil head-to-head dengan film orisinilnya, memamerkan orisinalitasnya sendiri dan ditangan Matt Reeves, “Let Me In” adalah film yang tidak lupa memberikan respek terhadap film pendahulunya. Ketika genre ini makin diolok-olok, “Let Me In” hadir untuk memberi pesan kepada Hollywood lewat taring, darah, dan kisah yang hebat!

Buried at 0:51 - 18 December 2010.
9

Rodrigo Cortes melakukan tugasnya dengan BRILIAN, memanfaatkan satu orang pemain saja dengan lokasi yang itu-itu aja plus hanya sebuah peti mati sempit dan gelap dengan minimnya cahaya. Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya bagaimana Cortes melakukan itu, mengesekusi cerita yang hanya menyorot seorang yang terjebak dalam peti mati, apa yang akan membuat film ini menarik? pertanyaan tersebut pun akhirnya seperti “diludahi” balik oleh Cortes. Ternyata apa yang ditawarkan film yang premier di festival film Sundance ini adalah sebuah serangkaian cerita yang tidak hanya menarik, tetapi bisa membuat penonton terpaku di bangkunya masing-masing, “menghibur” saya dengan suapan-suapan ketegangan yang maksimal. Minimnya cahaya, sempitnya ruang gerak, sesaknya nafas, diperlakukan sangat istimewa sebagai “teman setia” yang kerjanya menggenjot mood kita untuk tetap sejalan dengan setiap hembusan nafas Paul yang makin terburu-buru memasukkan udara ke paru-paru. Cortes dengan cemerlang sanggup mengisi setiap menit film ini dengan ketegangan demi ketegangan yang dijamin membuat kita juga ikut bersumpah-serapah, berteriak kasar seperti apa yang dilakukan Paul.

“F**k you Cortes!” bagaimana dia bisa membuat film ini begitu emosional, tidak hanya pintar mengarahkan Ryan Reynolds untuk memaksimalkan performanya, tetapi juga dia sanggup membuat setiap emosi Reynolds untuk berinteraksi dengan penontonnya. Paul sukses melempar setiap ketakutan, kebingungan, rasa hopeless-nya, kegelisahan, dan juga termasuk kata-kata kotornya untuk tersampaikan dengan tepat hinggap di bangku para penontonnya. Ketika Paul kesal dengan pihak perusahaan, FBI, dan pihak terkait lainnya, Cortes juga dengan cerdik mampu menyelipkan sebuah pesan anti-perangnya, memberi sebuah gambaran “bodoh”-nya pemerintah Amerika ketika berurusan dengan masalah penyanderaan warganya, semua seakan berbelit-belit dan penuh birokrasi ketika semua menyangkut warga sipil dan bukan seorang jenderal. Ketika saya juga ikut memaki-maki perlakuan mereka kepada nasib hidup Paul, Cortes entah dimana sepertinya tersenyum karena sudah berhasil membuat penonton termasuk saya, untuk ikut melebur ke dalam film, untuk ikut terperangkap dalam peti, untuk ikut terkubur dalam ketegangan.

“Buried” pun tidak hanya pintar memanipulasi emosi, mengingatkan akan sebuah mimpi buruk, tetapi juga sanggup membuat kita senantiasa berada di posisi tersudut, mencekam dengan setiap ketegangan yang dimasukkan Cortes sekop demi sekop sampai akhirnya saya terkubur dengan ketegangannya. Bahkan film ini sanggup mengingatkan betapa satu bar status baterai telepon genggam itu benar-benar penting, siapapun pasti pernah berada pada posisi genting, dimana ketika handphone diperlukan justru tidak bersahabat karena “low-batt” dan kita tidak membawa charger, hidup seperti berakhir begitu saja. Film ini mengajak kita ke momen tersebut namun melipat-gandakan situasinya menjadi berpuluh kali lipat, seakan hidup Paul tidak hanya tergantung pada takdir yang sedang berlomba dengan waktu, tetapi juga bergantung pada baterai telepon genggam.

Pengambilan gambar yang menyorot layar status baterai pun sesekali diperlihatkan untuk menambah ketegangan. Berbicara soal bagaimana film ini bermain kamera, hal ini juga yang jadi kelebihan film ini. Entah apa yang dilakukan Eduard Grau dengan kamera tersebut, yang jelas dia berhasil menangkap momen-momen Paul versus peti mati dengan luar biasa apik. Setiap pergerakan kamera, memutar 360 derajat, meng-close up, dan juga menyorot lambat dari atas telah berhasil menghias visual film ini untuk selaras dengan ketegangan yang ingin dimunculkan. Ketika semua berjalan dengan brilian, sekarang tinggal bagaimana Reynolds mampu mengajak penonton untuk bermain “kubur-kuburan” dengannya, dan dia ternyata sanggup melakukannya juga dengan brilian. Cortes dan satu pemain bernama Ryan Reynolds sudah berhasil menutup rapat-rapat rasa bosan, walau dengan jalan cerita yang lambat. Namun jalan cerita tersebut memang dibuat tidak hanya untuk mengulur waktu tetapi sudah pas dalam usahanya membuat penonton menunggu, karena terkadang menunggu itu lebih buruk dari kematian itu sendiri. “Buried” sudah menyuguhkan 95 menit terbaiknya dengan menawarkan rentetan ketegangan dan juga kejutan demi kejutannya, giliran saya memberikan film ini tempat terbaik di daftar film terbaik 2010 dan memaku film ini dengan label ENDING terbaik tahun ini.

Tangled (Rapunzel) at 11:28 - 16 December 2010.
8

Seperti nasib Flynn yang masuk ke menara dan akhirnya “terjebak” bersama Rapunzel, film yang juga punya judul lain “Tangled” (oh saya benci sekali judul ini) ini juga sudah berhasil “menjebak” saya untuk terikat dengan keindahannya dari awal saya menginjakan kaki di negeri dongeng Disney. Pesona pertamanya tentu saja animasi dalam film ini, walau diciptakan dari komputer tapi para animator handal sukses membuatnya bernuansa animasi tradisional buatan tangan. Yup! menonton “Rapunzel” yang disutradarai oleh Nathan Greno dan Byron Howard ini bisa dibilang seperti melihat lukisan yang terpajang di sebuah galeri namun bedanya dia hidup, bergerak dengan halus, dan terus melambai-lambai, mengajak kita untuk masuk ke dalam lukisan tersebut. Kibasan rambut panjang berwarna emas Rapunzel pun berhasil menghipnotis saya, mencuri perhatian ketika saya melihat begitu sempurnanya rambut itu bergerak. Tiap karakternya pun dibuat menarik dan unik, ada Flynn yang heroik (bercampur dengan kebodohannya), ada Maximus yang lucu (bertubuh kuda tapi kelakuan mirip anjing peliharaan), Gothel yang menyebalkan, dan terakhir favorit saya, Pascal, seekor bunglon yang menggemaskan dengan segala tingkah laku yang imut, walau tidak dibuat untuk berbicara (sama dengan Maximus) tapi lewat gesture-nya dia sanggup berkomunikasi dengan penonton, membuat kita tertawa.

“Rapunzel” juga punya cerita yang menghibur, Dan Fogelman yang sebelumnya juga bekerja sama dengan Byron Howard dalam “Bolt” berhasil memberikan sentuhan kisah klasik yang kerap ada di setiap film-film animasi Disney, memolesnya untuk tidak terlalu terlihat dewasa dan dapat dinikmati orang dewasa dan juga anak-anak, mengisinya juga dengan bumbu kasih sayang dan persahabatan. Digabungkan dengan animasi yang sudah dibuat sedemikian rupa tampil klasik dan menarik, film ini tidak hanya menjadi sebuah hiburan memanjakan mata tapi juga hiburan untuk hati. Semua keindahan cerita, karakter, animasi pun terbalut manis dengan komposer langganan Disney, Alan Menken, yang dengan daya magisnya mampu menemani mood ini untuk sejalan dengan setiap adegan yang bergulir dari menit ke menitnya, bisa dibilang memanjakan telinga juga. Dengan paket lengkap yang ditawarkan “Rapunzel”, tidak salah jika saya menyebut film animasi ini sebagai salah-satu yang terbaik di tahun 2010 ini…klasik!

The Night Chronicles: Devil at 11:27 - 16 December 2010.
7

Terlepas dari buruknya film terakhir M. Night Shyamalan “The Last Airbender”, tidak serta merta membuat saya langsung mengiming-imingi ekspektasi dengan pikiran bahwa film ini juga akan sama buruknya. Walau film tentang sang Avatar tersebut gagal, rasa penasaran saya terhadap film-film Shyamalan tidak pernah gagal membuat saya selalu ingin melihat apa yang bisa dilakukan oleh sutradara yang terkenal dengan “The Sixth Sense” ini. “Devil” didasarkan dari cerita The Night Chronicles yang dibuat oleh Shyamalan, terdiri dari tiga cerita yang nantinya juga akan dibuat menjadi sebuah film trilogi, “Devil” adalah film pertama dari trilogi tersebut. Jika ada yang masih trauma dengan “The Last Airbender”, bersyukurlah karena kali ini Shyamalan hanya duduk di bangku penulis cerita. Sedangkan sutradara film ini adalah John Erick Dowdle yang sebelumnya menyutradarai film horor daur ulang “Quarantine”, yang aslinya berjudul “REC” berasal dari Spanyol.

“Devil” bisa dikatakan cukup berhasil membangun intensitas ketegangannya dari awal lift mulai terjebak hingga misteri demi misteri terungkap, dan sosok jahat yang selama ini bersembunyi berkata “booo!”. Walau memang tidak sempurna karena seringkali film ini terpeleset ketika sudah berada di jalur yang benar untuk mengajak penontonnya untuk ikut ketakutan, tegang, dan ber-klaustrofobik-ria, ketika tiba-tiba Dowdle juga dengan seenaknya menarik kita ke luar lift untuk ikut mencari pecahan puzzle bersama detektif Bowden. Bersama dengan akting para pemainnya yang mumpuni untuk menghadirkan ketakutan yang real dan ditambah pengambilan gambar Tak Fujimoto (sinematographer langganan Shyamalan) yang apik mengurung penonton dalam visual sempit, Dowdle terus menghajar penonton dengan ketegangan demi ketegangan setiap lampu lift padam. Sekaligus menjadi pemicu pusing kepala yang manjur saat Dowdle juga tidak hanya mengajak kita untuk diliputi perasaan mencekam tetapi juga mengajak kita memecahkan kasus misterius ini, berpikir bersama Bowden untuk mencari siapa dalang semua ini.

Yah apa yang dilakukan Dowdle untuk memancing penontonnya untuk “tertipu” bisa dibilang berhasil, karena ketika kita sibuk menunggu apa yang kan terjadi dengan kelima orang yang terjebak dalam lift dan dipikat untuk membuntuti Bowden mencari setiap bukti dan petunjuk, kita justru akan lupa melihat petunjuk kecil yang diperlihatkan oleh masing-masing orang yang kesemuanya tampak tidak bersalah. Pada saat permainan iblis begitu mencekam untuk disaksikan, permainan Dowdle begitu menarik untuk diikuti sampai selesai. Dari awal film ini sudah dibuka dengan begitu mencekam dengan pengambilan gambar yang unik ditemani oleh musik Fernando Velázquez yang juga tidak kalah mencekam, sentuhan musik Fernando adalah “pemanis” yang manjur, membuat mood kita terjaga sepanjang film. Selanjutnya Dowdle langsung mengajak kita bermain dan 80 menit durasinya benar-benar dimaksimalkan olehnya. Dowdle seakan seperti mengangkut semua penonton ke dalam lift dan di setiap lantai Dowdle sudah menyiapkan kejutan-kejutannya lalu pada akhirnya menjebak kita untuk diteror olehnya dan juga sang iblis. Semoga setelah menonton film ini kita tidak takut untuk naik lift, bukan hanya takut jika lift berhenti tetapi siapa tahu diantara mereka yang naik lift, salah-satunya adalah…

Paranormal Activity 2 at 8:56 - 3 December 2010.
6

Di tahun 2009 “Paranormal Activity” membuat aktivitas horor yang sangat mengejutkan, tidak hanya dari kemasannya yang pintar dengan menggabungkan unsur rumah berhantu dengan gaya found footage. Tetapi juga karena film ini berhasil melipat-gandakan modal 15 ribu dolarnya menjadi angka fantastis 190 juta dolar lebih. Jadi ketika saya berhasil dibuat terkejut dengan berbagai penampakan yang ditawarkan film yang disutradarai oleh Oren Peli tersebut, “penampakan” sebuah sekuel tampaknya jadi hal yang wajar. Sebagai sebuah film yang dilabeli film paling menguntungkan yang pernah dibuat, Paramount Pictures tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mengeksploitasi mesin pencetak uangnya. Jadi ketika mereka mengumumkan untuk melanjutkan film ini dengan embel-embel angka 2 dibelakangnya, saya tidak lagi terkejut.

“Paranormal Activity 2” tidak lagi disutradarai oleh Oren Peli, dia lebih memilih duduk di bangku produser sambil menikmati kipasan dolar hasil kesuksesan besar film pertama, kali ini Tod Williams (The Door in the Floor) dipercaya menggantikan Oren, memegang kumpulan benang kusut yang terhubung dengan pintu dan berbagai barang-barang rumah tangga, yup sekarang dialah yang bertanggung jawab membuat film kedua ini menjadi senyata dan sepintar predesesornya. Dengan skenario yang ditulis oleh Oren Peli, Jason Blum dan Akiva Goldsman (Fringe, A Beautiful Mind), apakah PA2 sanggup melakukan hentakan-hentakan adrenalin yang keras, menghadirkan ketakutan yang sama atau bahkan jauh lebih baik dari film pertama? yang jelas langkah Paramount Pictures tidak meleset, karena daya magis film ini masih kuat untuk memancing penonton berduyun-duyun ke bioskop, pendapatan $163 juta dari bujet 3 juta dolar bukanlah hasil yang kecil.

Been there, done that, PA2 tak lebih dari sebuah produk ekstensi film pertama, sekuel ini atau lebih tepatnya disebut prekuel masih terjebak dengan trik serupa yang dimiliki oleh predesesornya, walau tidak dipungkiri trik menakut-nakuti inilah yang sepertinya sangat diinginkan oleh penontonnya. Jika mengubah sudut pandang 180 derajat dan melihat film ini dari sisi film yang berdiri sendiri, PA2 adalah film yang sangat mengerikan, sebuah teror yang membuat bulu kuduk ini berdiri tanpa lelah, kamera-kamera cctv yang tanpa henti memompa adrenalin untuk tetap merinding, film yang tanpa sadar menggerakkan jari-jari ini untuk menutupi wajah yang ketakutan. Tapi tentu saja saya tidak bisa berpura-pura dan menutup sebelah mata dengan kehadiran “Paranormal Activity” dan PA2 masih tetap adalah sebuah sekuel…maksud saya prekuel. Sebagai film yang berakar pada apa yang terjadi dan pernah dilakukan pada film pertama, PA2 jelas hanya anak bebek yang mengekor induknya, Tod hanya mengikuti jejak Oren di film pertama dengan formula teror rumah berhantu yang tidak berubah. Bedanya kali ini “Paranormal Activity 2” diracik dengan takaran dosis yang dilebih-lebihkan.

Dalam “Paranormal Activity 2” kita akan kembali diajak bertamu ke rumah yang sangat tampak normal pada awalnya, berisi keluarga yang terdiri dari Kristi (Sprague Grayden) dan Dan Rey (Brian Boland), Ali (Molly Ephraim) anak perempuan mereka, lalu Hunter, bayi laki-laki yang sepanjang film tak hentinya mencuri perhatian lewat kelucuannya saat saya justru sedang bosan dengan cara film ini menakut-nakuti. Film ini juga tidak lupa memperkenalkan anjing German Shepherd (Herder) bernama Abby. Sebagai penghubung benang merah antara film pertama dan kedua, Kristi diceritakan adalah saudara kandung Katie (Katie Featherston). Jadi prekuel ini punya alasan kuat untuk bermain-main dengan ceritanya lalu nantinya dengan cukup cerdik bisa menghubung-hubungkannya semuanya dengan apa yang nantinya terjadi dengan Katie dan Micah (Micah Sloat) di film pertama. Untuk menghindari spoiler lebih lanjut, saya tidak akan bercerita tentang apa yang akan menimpa Katie dan Micah, jadi ada baiknya sebelum menonton PA2 saya menganjurkan untuk menonton PA. Setidaknya tidak bingung nantinya ketika Katie dan Micah muncul dan apa hubungan mereka dengan kejadian-kejadian aneh di PA2.

Kembali ke PA2, singkat cerita, keluarga Kristi dan Dan awalnya mengira rumah mereka didatangi oleh pencuri karena mendapati seisi rumah berantakan. Tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi, Dan berinisiatif memanggil teknisi sekuriti untuk memasang kamera cctv di berbagai sudut rumah, memastikan rumah tersebut terawasi dan tidak lagi kecolongan dengan masuknya orang asing ke rumah. Namun lambat laun satu-persatu penghuni rumah tesebut menyadari jika bukan pencuri yang seharusnya ditakuti tetapi kekuatan jahat dari dunia lain yang sedang mengawasi mereka, bersiap melancarkan teror demi terornya. Rentetan kejadian gaib pun mulai menghampiri keluarga yang awalnya meremehkan “cerita hantu”, terlebih Dan yang sama sekali tidak percaya dengan kejadian aneh yang terjadi di rumahnya tersebut berhubungan dengan hantu. Kamera-kamera cctv pun sekarang menjadi bukti jika Dan dan keluarga tidak sendirian, dari hanya sekedar bunyi-bunyian sampai berbagai benda yang bergerak sendiri menghiasi malam demi malam yang semakin menakutkan. Siapa sebenarnya “tamu” baru mereka ini?

Apapun sebutannya, prekuel paralel atau sekedar prekuel saja, “Paranormal Activity 2” jelas menurut saya hanya Paranormal Activity dengan tambahan durasi 90 menit lagi, lengkap dengan “aksesoris” teror yang bisa dibilang dilipat-gandakan tapi tidak sanggup menawarkan strategi dan trik horor yang baru. Lihat saja bagaimana langkah-langkah PA 2 memulai menyambangi penonton yang sedang menunggu-nunggu dibuat takut oleh film ini, sama seperti apa yang dilakukan oleh Oren di film pertama. Tod seperti sedang meng-copy template yang ada lalu menambah-nambahkan bunyi-bunyian yang semakin dibuat lebih keras, adegan kaget yang dibuat lebih mengagetkan, hingga adegan khas di film pertama yang sekarang juga dihadirkan dua kali lipat lebih WTF dari predesesornya, bahkan sekarang korbannya pun ditambahkan, bukan lagi 2 orang seperti film pertama tetapi satu keluarga dan anjingnya.

Ketika semua dihadirkan double, hey kamera di film ini juga toh bertambah banyak ketimbang film pertama yang bermodalkan kamera baru Micah, tetap saja rasa istimewa yang tercicip di PA tidak lagi terasa di PA2. Tod Williams mungkin saja bisa bernafas lega karena sudah sanggup memberikan sesuatu yang lebih (entah itu diinginkan fans atau tidak) dan sekaligus bisa mengimbangi kesuksesan film pertama dilihat dari nilai komersil, namun Tod lupa untuk memberikan asupan trik nakut-nakutin yang benar-benar baru. PA 2 beruntung menurut saya tidak terlempar ke daftar horor buruk tapi juga tidak se-istimewa PA. Semoga saya tidak akan melihat bayi kesurupan di Paranormal Activity 3, yang rencananya rilis tahun depan, tepatnya 21 Oktober 2011.

Monsters at 15:18 - 19 November 2010.
8

“Monsters” bisa dibilang adalah kasus istimewa, film ini sukses mematahkan ekspektasi besar saya yang berharap untuk sekali lagi bisa melihat “District 9” kedua. Bukannya larut dalam kekecewaan, saya justru malah bersyukur ternyata filmnya jauh dari apa yang selama ini dibayangkan, penuh adegan yang memborbardir adrenalin, dan aksi-aksi yang meneror rasa nyaman mengubahnya menjadi ketegangan. Jika apa yang kalian bayangkan serupa dengan deskripsi tersebut, lupakan saja, karena film ini punya kejutan yang lebih sweet dari hanya sekedar menghadirkan film tipikal alien yang sudah-sudah. Jika bisa menyimpulkan dengan beberapa kata ini adalah film road movie dengan balutan fiksi ilmiah atau saya lebih suka ide menyebutnya romantic sci-fi, dan Gareth Edwards menyajikannya dengan ide dan kreatifitas yang melampaui batasan-batasan bujetnya, mampu memanipulasi kekurangannya untuk hasil akhir film yang akan terlihat lebih “mahal” dari bujet aslinya.

Kita tidak akan melihat orang-orang ketakutan dan berlarian kesana-kemari dikejar oleh sekelompok alien kelaparan atau monster setinggi gedung layaknya film-film fiksi ilmiah lain, sebaliknya kita akan menjadi saksi momen lebih “mengerikan” ketika melihat manusia bisa hidup berdampingan dalam teror invasi alien selama 6 tahun dan sangat mengejutkan mereka mampu bertahan hidup dalam karantina yang sebenarnya mengurung kehidupan mereka. Seperti jawaban seorang supir taksi, mereka hanya melanjutkan hidup dan masih terus harus bekerja untuk menghidupi keluarga, dan melihat monster-monster berkeliaran sepertinya sudah biasa bagi penduduk Meksiko. Setelah sebuah pesawat yang membawa sampel kehidupan lain di luar angkasa jatuh di daerah Meksiko, wajah negara tersebut berangsur berubah selama 6 tahun ketika alien berbentuk raksasa mulai merampas hidup normal penghuninya.

Sebagian dari Meksiko dikarantina oleh bantuan militer Amerika, dan melabelinya dengan sebutan zona infeksi, sejak saat itu hidup di Meksiko tidak lagi sama, semua orang sekarang dilengkapi dengan gas mask, televisi dipenuhi berita-berita pertempuran alien, untuk ke Amerika harus merogoh kocek 5000 ribu dolar dengan kapal ferry, dan dimana-mana terlihat jejak-jejak “kematian” dan reruntuhan. Tapi cerita baru saja dimulai bagi Andrew Kaulder (Scoot McNairy), seorang jurnalis dan fotographer yang terpaksa mengerjakan tugas “baby sitting”, menjemput putri sang atasan, Samantha Wynden (Whitney Able), yang kebetulan sedang berlibur di Meksiko, lalu membawanya kembali ke Amerika dengan selamat. Menemukan Samantha adalah pekerjaan mudah, tapi tidak dengan menjaganya dan mengantarkannya ke sang ayah.

Melihat judulnya saja,“Monsters”, bayangan kita pasti sudah bergerilya kemana-mana, berharap film ini banyak menawarkan kita adegan-adegan action yang melimpah dengan segala macam visual efek yang bertaburan dimana-mana, tapi sekali lagi lupakan itu jika tidak ingin dikecewakan. Ketika bujet kecil seharusnya mengkarantina kreativitasnya, Gareth Edwards justru sanggup menggiring filmnya untuk tidak terjebak dan menyerah pada batasan-batasan yang mengurungnya. Bujet kecil ternyata tidak menghalangi Gareth Edwards dengan “Monsters”-nya untuk masih memiliki ketegangan ala film-film penyerangan makhluk asing ke bumi, walau porsinya terbatas, Edwards yang juga mengerjakan seluruh visual efek di film ini masih mampu menghadirkan detil-detil tambahan kehancuran yang realistis untuk menemani perjalanan Samantha dan Andrew melewati kota-kota mati dan zona berbahaya.

Segala keterbatasan dana juga tidak membuat kreativitas Edwards terhenti sampai disana, tapi dia sukses untuk membuat efek monster yang realistis, walau dengan porsi yang bisa dibilang serba minimalis, tetapi tingkat efektifitas dalam memberikan kejutan, teror, dan ketakutan dengan apik bisa diatur untuk sampai ke tingkat yang cukup maksimal. Ketika sang “Monsters” yang ditunggu-tunggu muncul dengan wujud disamarkan, pada saat itu Gareth Edwards sukses mengatur tempo penasaran penonton dan ketika tiba saatnya dia memunculkan bentuk monster yang sebenarnya, momen tersebut tidak disia-siakan oleh Gareth Edwards. Seluruh kerja kerasnya di kamar dengan bantuan sebuah laptop (home made visual effects) sepertinya ditumpahkan untuk satu adegan “mewah” tersebut, hmm adegan yang mana? silahkan tonton sendiri ya.

Oke Gareth Edwards sudah sukses membuat saya terpana dengan segala pernak-pernik efek-efek visual yang “sederhana namun mewah” tersebut. Tapi ternyata kejutan yang disiapkan olehnya belum berhenti sampai zona efek visual saja, tetapi dibarengi dengan jalan cerita yang secara mengejutkan sangat menarik. Ketika banyak film fiksi ilmiah dengan bujet lebih besar berlomba-lomba untuk menghadirkan parade efek dan efek tapi justru terkadang lupa untuk membubuhkan jalan cerita yang menarik. Gareth Edwards di lain sisi, memberikan kita film bertipe sejenis tapi dengan isi yang berbeda, tampil lewat efek-efek secukupnya dengan dibubuhkan drama-drama kemanusian yang menarik. Film ini mampu menggiring kita untuk fokus pada bagaimana Kaulder dan Samantha bisa selamat dari perjalanan penuh bahaya ini, sekaligus dengan chemistry yang pas dapat menarik simpati penonton—status pasangan beneran di dunia nyata sepertinya banyak membantu akting mereka berdua—untuk tidak meninggalkan mereka berdua sendirian di daerah zona berbahaya.

Bergerilya ke lokasi-lokasi syutingnya bersama tujuh orang kru termasuk sang sutradara sendiri dan para artisnya, Gareth Edwards juga sukses menangkap lanskap-lanskap indah dari Amerika Tengah. Sinematografi indah yang memanjakan mata tersebut menemani perjalanan Kaulder dan Samantha ketika mereka juga menemukan “keindahan” dalam diri mereka satu sama lain. Gareth Edwards memberikan gambaran ide yang manis dimana dalam lingkungan yang berbahaya sekalipun, hati dapat menemukan jalan pintas-nya sendiri untuk menemukan pena lalu menuliskan kata-kata cinta. Selain memberikan kita potret kehancuran, kematian, dan kondisi manusia ketika mendapati dirinya terpaksa harus berdampingan dengan tamu asing, Gareth Edwards juga menawarkan drama yang bisa bilang sangat romantis dalam situasi yang janggal dan tidak mendukung. Monsters adalah sebuah kisah bagaimana situasi paling berbahaya pun tidak menghalangi sepasang manusia untuk bisa saling mencintai dan sebuah contoh bagaimana sebuah film yang dibuat dengan cinta tidak akan terhalangi hanya karena kekurangan pundi-pundi uang.

Rammbock at 15:15 - 19 November 2010.
7

Film zombie selalu identik dengan gore-nya, usus terburai, daging terkoyak, semburan darah, dan kepala-kepala tertembus peluru. Belakangan ini kesadisan-kesadisan yang di-obral tersebut juga ditampilkan tidak serius, dengan munculnya genre zombie komedi. Jadi sambil meringis melihat manusia-manusia tercabik oleh mayat yang kelaparan, kita juga bisa tertawa melihat kebodohan-kebodohan setiap karakternya atau zombie-zombie itu sendiri, seperti dalam “Shaun of the Dead”, “Doghouse” atau humor kelam di film zombie asal Norwegia “Dead Snow”. Virus zombie itu sendiri juga sekarang tidak lagi terkonsentrasi hanya di Amerika saja, setelah Eropa “terjangkiti” film-film zombie, virus ini juga sudah mulai menginfeksi Asia, termasuk Indonesia, sepertinya sub genre horor yang satu ini memang sudah mendapat perhatiannya kembali, setidaknya bisa menggeser tren film-film vampir yang sudah mulai membosankan. Kembali ke Eropa, Jerman tidak mau ketinggalan, mereka punya “Rammbock” yang diklaim sebagai film ber-genre zombie pertama dari negara yang juga melahirkan “Nosferatu” tersebut.

Debut feature film pertama dari Marvin Kren ini menceritakan Michi (Michael Fuith), yang sedang patah hati setelah putus cinta tapi harus berpergian jauh ke apartemen sang mantan kekasih hanya karena ingin mengembalikan kunci apartemen, sekaligus berharap ketika ketemuan lagi bisa CLKB=Cinta Lama Bersemi Kembali (so sweet). Tapi malang tak bisa ditolak untung tak dapat diraih, tidak menemukan Gabi mantan kekasihnya, dia justru malah menemukan sekumpulan orang yang sudah berubah menjadi zombie-zombie kelaparan, berwajah seram dengan tatapan mata putih kosong. Michi beruntung masih bisa selamat dan tidak tergigit, sekarang dia terjebak bersama seorang remaja bernama Harper (Trebs). Zombie yang berkeliaran di luar apartemen makin membuat Michi makin kebingungan tentang keberadaan Gabi, ditambah kejadian aneh yang tiba-tiba terjadi ini. Di gedung apartemen, Michi dan Harper ternyata bukan satu-satunya orang yang selamat tetapi masih ada beberapa penghuni apartemen yang bernasib sama dengan mereka.

Para survivor ini pun saling berkomunikasi dengan membuka jendela apartemen mereka masing-masing, lalu berteriak memanggil penghuni lainnya melewati lapangan yang memisahkan kamar mereka dan bertukar informasi tentang apa saja, termasuk bagaimana caranya selamat dari tempat tersebut. Menunggu apa yang akan terjadi sepertinya tidak akan membuat situasi membaik, ditambah zombie-zombie diluar yang peka terhadap suara apapun dan akan mendekati sumber suara. Terkurung jam demi jam tidak tahu apa yang harus dilakukan, makin membuat Michi semakin depresi apalagi tidak ada kabar tentang Gabi. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah mengambil telepon genggam yang terus berbunyi di tangga yang berada di luar, yang ternyata adalah hal bodoh pertama yang dilakukannya, karena tindakan bodoh tersebut malah memancing zombie-zombie makin masuk ke dalam apartemen dan menyisakan kamar sempit untuk Michi dan Harper. Bagaimana mereka bisa keluar dari kamar tersebut dan selamat?

Jadi apakah yang ditawarkan oleh “Rammbock”? penuh adegan sadis seperti tipikal film zombie pada umumnya, atau menambahkannya dengan nuansa konyol penuh komedi? “Rammbock”memiliki unsur-unsur khas tersebut tetapi yang jadi poin lebih dari film ini adalah Marvin Kren mengemasnya dengan ide yang sederhana bagaimana seorang biasa seperti kita (benar-benar biasa) bisa selamat dari sebuah “zombie outbreak”. Lihat saja, Michael Fuith yang memerankan karakter Michi, digambarkan sebagai laki-laki labil dan lugu, terus saja cerewet mempertanyakan mantan kekasihnya, terlihat lemah, dan sedikit menyebalkan, tapi toh Marvin Kren dengan jenius dapat mengubahnya menjadi seorang pahlawan. Semakin terpojok dengan situasi yang tidak menentu ternyata menjadi pemacu Michi untuk mengeluarkan kemampuan tersembunyinya bukan malah terjebak dengan rasa takut, oke dia memang ketakutan tapi otaknya terus berjalan untuk membawa dia dan penghuni apartemen lain keluar dari mimpi buruk ini.

Menonton “Rammbock” mengingatkan saya dengan zombie-zombie di 28 days later dan sekuelnya, orang-orang yang tidak beruntung sama-sama terinfeksi semacam virus “gila”, membuat mereka yang berubah ke “dark side” menjadi zombie-zombie yang aktif berlari kencang dan seperti binatang, kemampuan mendengar mereka sepertinya juga meningkat. Kelebihan yang dimiliki para zombie inilah yang senantiasa memberikan teror tersendiri bagi para “survivor” sekaligus ke penontonnya. Marvin Kren pun apik memainkan alur film ini, awalnya penonton diajak mengenal Michi dan penghuni lainnya, membiarkan penonton untuk memilah-milah siapa yang selamat dan dihabisi zombie, lalu terakhir tiba saatnya untuk Marvin Kren memainkan emosi penonton. Lokasi apartemen yang sempit pun dimanfaatkan dengan maksimal oleh Marvin Kren (seperti halnya di “REC”), setiap sudut kamar, setiap celah di apartemen tidak disia-siakan dan dijadikan lokasi “bermain” kucing-kucingan antara Michi dan zombie. Dengan “sempit”-nya durasi, Marvin Kren dengan cerdik bisa mengemas film ini untuk tidak bertele-tele, tanpa basa-basi dan terus menghajar penonton dengan ketegangan-ketegangan yang bisa dibilang menyenangkan.

“Rammbock” merupakan salah-satu contoh film zombie “low-budget” yang hebatnya dan secara mengejutkan bisa memaksimalkan seluruh bagiannya, dari talenta pemainnya hingga lokasi apartemennya itu sendiri. Michael Fuith memainkan porsi lakonnya dengan sangat apik, mengajak kita untuk terjebak bersama dengannya di apartemen lalu bersama-sama dengannya mencari jalan keluar terbaik untuk selamat dari para zombie. Saya pun suka sekali ketika Marvin Kren membuat karakter Michi ini berkembang hari demi hari, tidak selalu terkurung oleh suasana hatinya tapi bisa terus berpikir selangkah lebih maju. Hal yang sama juga berlaku pada filmnya sendiri ketika Marvin Kren membuat film ini selangkah lebih maju dari saya yang menontonnya, karena berhasil mengejutkan dengan cara Marvin Kren mengatasi zombie-zombie tersebut, bisa dibilang orisinil sekali dengan bantuan alat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Tidak puas dengan satu-dua kejutannya, Marvin Kren juga menambahkan cerita “love story” yang luar biasa aneh ke dalam film ini, kisah romansa aneh inilah yang menjadi kekuatan film ini. Saya menyukai bagian ending-nya dengan alunan musik yang benar-benar luar biasa! film wajib tonton!

Heart 2 Heart at 11:56 - 17 November 2010.
2

Dirilisnya “Heart 2 Heart” menandai film ke-12 (koreksi saya jika ada kesalahan dalam penghitungan, itu juga jika anda sudi untuk menghitungnya) dari Nayato Fio Nuala untuk tahun 2010 ini. Mari kita singkirkan dulu sang sutradara paling produktif sebentar (maaf ya bro) dan melirik siapa yang duduk di bangku penulis skenario. Menarik! karena disana tercantum nama Titien Wattimena. Awal karirnya dimulai dengan “Mengejar Matahari” (ini salah-satu film favorit saya ngomong-ngomong) dengan menjadi penulis skenario sekaligus asisten sutradara menemani Rudi Soedjarwo. Lewat film buatan tahun 2004 ini juga nama Titien tercatat sebagai nominator skenario terbaik dalam ajang penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) di tahun yang sama. Sebuah awal yang sangat baik bagi perempuan kelahiran Ujung Pandang ini dan sejak saat itu Titien konsisten terlibat dalam proyek-proyek film layar lebar maupun televisi, baik sebagai penulis skenario—dia kembali dinominasikan sebagai penulis skenario terbaik pada FFI 2005 untuk film “Tentang Dia”—maupun asisten sutradara seperti di film 3 Hari untuk Selamanya, The Photograph, dan Laskar Pelangi.

Tahun 2010 sepertinya menjadi tiket paling berharga untuknya karena setelah menulis skenario untuk banyak film drama romantis remaja, di tahun inilah Titien diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya untuk menuliskan skenario yang benar-benar berbeda, lewat film “Minggu Pagi di Victoria Park”, yang disutradarai oleh Lola Amaria. Mari kita kembali ke “Heart 2 Heart”, setelah MPdVP—film ini terpilih untuk ikut berkompetisi bersama 7 film lainnya di FFI 2010—dan jangan lupakan “Menebus Impian”, film ketiga “Heart 2 Heart”, bisa dibilang levelnya berada jauh di bawah kedua film lainnya yang sama-sama dia tuliskan tahun ini. “Heart 2 Heart” juga tidak hanya menandai 12 film yang disutradarai Nayato, tapi juga ajang “reuni” antara Nayato dengan Titien, karena ini adalah kerjasama ke-3 mereka (Cinta Pertama, The Butterfly).

Tidak ada yang istimewa jika melihat jalinan cerita yang dirangkai menjadi drama cinta remaja berdurasi sekitar satu setengah jam ini. Dua pasang remaja, si laki-laki ganteng dan si perempuan juga cantik, dipertemukan dengan tidak sengaja, mereka adalah Pandu (Aliff Alli) dan Indah (Irish Bella). Butuh waktu tidak lama dan beberapa kali ketemuan di hutan, kebun teh, dan danau sampai akhirnya hati mereka saling mengangguk, mereka pun saling jatuh cinta. Namun kebersamaan mereka terbatas oleh waktu, karena Indah harus kembali bersekolah di Jakarta. Yah namanya juga jodoh, takdir pun sepertinya menyukai mereka berdua dan mengijinkan Pandu dan Indah bertemu kembali di Jakarta, bahkan di satu sekolah yang sama, karena Pandu ternyata entah sengaja atau tidak juga pindah sekolah ke Jakarta. Tunggu dulu, cinta keduanya bukan tanpa rintangan basa-basi, karena di sekolah Indah sudah “diklaim” pacar oleh playboy sekolah, Ramon (Miradz), jodoh pilihan mamanya Indah (Wulan Guritno).

Kompetisi antara Pandu dan Ramon pun mulai memanas untuk mendapatkan cewek yang mereka sukai, sedangkan Indah sudah pasti memilih Pandu, sang jodohnya, ketimbang si Ramon yang suka pamer baru pulang dari Paris lalu membagikan oleh-oleh pada antrian cewek-cewek yang sudah tidak tahu malu meminta-minta untuk mendapat bagian. Cukup dengan pertikaian tak berujung, untuk menambah kadar melodrama sekaligus menguji cinta siapa yang paling tulus, dikorbankanlah Indah yang mengalami kecelakaan. Akibat kecelakaan tersebut, Indah terpaksa harus kuat menjalani hari-harinya dalam kegelapan, dia sekarang buta sekaligus bisu. Apakah Indah bisa sembuh? Bagaimana dengan Pandu? jika semua yang saya tulis diatas terdengar klise, cerita yang mudah ditebak akhirnya, hmm…semua itu memang benar. Terlepas dari ceritanya yang memfokuskan pada drama percintaan remaja yang lagi-lagi tidak menghadirkan sesuatu yang baru, sebenarnya film seperti ini bisa saja berpeluang menjadi tontonan ringan yang cukup menghibur, tapi hal tersebut dikandaskan begitu saja ketika Nayato memainkan perannya sebagai sutradara.

Film ini tak lebih seperti pengulangan apa yang sudah pernah dilakukan Nayato jutaan kali di film-film berjenis sama yang sebelumnya dia buat. Nayato lagi-lagi (Oh bosannya saya..) meleset untuk menghadirkan momen demi momen yang alami, cinta di film ini seharusnya yah bisa dong gitu tidak dibuat penuh visual basa-basi, sebaliknya dia justru terjebak dengan formula drama romantis dari filmnya yang sudah-sudah. Penuhi adegan dengan pengambilan-pengambilan gambar yang “romantis”, memanipulasi tontonan agar penonton betah dengan berbagai macam potret-potret manis yang disebar Nayato dari adegan demi adegan. Namun sekali lagi, Nayato hanya mampu memoles film ini untuk tampak cantik dari luar dengan segala sentuhan dramatisasi mubajir dimana-mana, tetapi tidak berusaha “menyentuh” penonton untuk terkoneksi dengan jalan cerita.

Anehnya saya melihat film ini seperti kumpulan video klip musik yang dikumpulkan jadi satu, belum sempat bercerita panjang lebar, Nayato terus saja mengumpani penonton dengan potongan-potongan gambar “bisu”, dengan diiringi lagu dari Melly Goeslaw. Yah tidak ada salahnya memang, tapi jika adegan ini terus diulang-ulang sampai memenuhi kotak persediaan bertuliskan “kesabaran”, itu namanya sudah keterlaluan. Akhirnya saya bukannya betah melahap kegombalan dan kelebayan yang disajikan Nayato—sudah bro, sudah cukup, saya sudah sangat kekenyangan—tapi tidak sabar untuk secepatnya keluar dari bioskop karena kebosanan ini sudah mendidih. Tidak sempat bercerita dengan baik, Nayato juga tidak mampu mengarahkan pemain-pemain muda-nya untuk tampil menarik, ditambah lagi dialog-dialog yang disumpalkan pada mereka terdengar oh…sangat-sangat penuh gombal murahan, dibuat-buat, dan penyampaian yang aneh, khususnya mendengar Aliff Alli ketika sedang berbicara (salah-satu faktor paling mengganggu dalam film ini). “Heart 2 Heart “ akhirnya hanya menjadi kisah basi yang sulit untuk dinikmati (walau dipaksa), dikemas basi dengan berlabel tulisan kapital “MEMBOSANKAN”.

Megamind at 11:55 - 17 November 2010.
7

DreamWorks Animation akhirnya sampai juga pada persembahan terakhir di tahun 2010, dengan dirilisnya “Megamind”. Setelah meninggalkan jejak manis dengan “How to Train Your Dragon” lalu mengakhiri petualangan ogre berwarna hijau dalam “Shrek Forever After”, kini tanggung jawab besar bertumpu pada lelaki bertubuh ramping, berwarna biru, berkepala besar, berasal dari luar bumi, dan berotak penuh kejahatan ini. Apakah studio animasi yang bermarkas di Glendale, California ini mampu menyelesaikan misinya untuk semakin dekat dengan prestasi yang dimiliki Pixar, lewat “Megamind”? ah sebentar, saya tidak usah bermuluk-muluk lebih dahulu sepertinya, saya akan ubah pertanyaannya kalau begitu, apakah Megamind mampu mengalahkan “pesona” HTTYD yang sukses mendapat respon sangat positif dari para kritikus dan tentu saja di blog ini? walau jika dilihat dari segi komersil film ini masih kalah dengan seri terakhir Shrek yang mengantongi 700 juta dolar lebih.

Namun terlepas dari persaingan para studio animasi besar dan kecil dalam usahanya mengambil hati para penonton, pada akhirnya saya hanya akan melupakan persaingan tersebut, karena yang terpenting tahun 2010 ini saya sudah sangat dimanjakan dengan rilisnya film animasi yang bervariasi dari sisi cerita dan tentu kualitasnya, bisa dibilang tahun ini adalah tahunnya untuk film animasi, apalagi dengan kembalinya Woody dan Buzz. Mari kembali ke “Megamind”, tentu kalian pernah menonton film-film bertema superhero kan? nah jika biasanya yang menjadi bintang utama adalah mereka yang punya hati baik alias jagoan yang punya kekuatan super, entah itu bawaan sejak lahir, terkena sinar radiasi, tergigit binatang, atau hanya karena punya kekayaan berlebihan, intinya yah tetap sama, mereka akan selalu jadi sorotan untuk memamerkan kebaikannya. Apakah Megamind juga punya kekuatan super? bisa dikatakan demikian, otak-nyalah sumber dari kekuatannya. Tapi tunggu dulu, Megamind tidak memiliki kekuatan pikiran, telepati, dan semacam itu untuk menolong orang, sebaliknya otaknya yang besar menghasilkan ide-ide super-jenius untuk kejahatan…yah dia memang bukan superhero tapi supervillain.

Megamind (Will Ferrell) terlahir sangat pintar dari ras alien yang memang punya level intelejensi yang diatas rata-rata alias jenius. Sayangnya planetnya hancur karena sebuah black hole, masih berumur 8 hari, Megamind harus rela kehilangan orang tua dan berkelana sendirian di luar angkasa dalam kapsul penyelamatnya, sampai akhirnya tiba di bumi, lalu ditemukan oleh…bukan…bukan sepasang manusia berhati hangat (melirik superman), tapi berlabuh di penjara dan diasuh oleh penghuninya yang notabennya orang jahat. Megamind pun tumbuh besar dengan lingkungan yang tak mengenal kebaikan, hal tersebut diperparah ketika dia bertemu “pesaing”-nya yang ketika kecil juga sama-sama terlempar dari rumahnya—bertetangga dengan planet Megamind yang hancur—yang tersedot black hole juga. Di sekolah anak-anak berbakat, Megamind pun menempa naluri kejahatannya dan mengikis habis semua kebaikan karena perlakuan yang didapatnya di sekolah tersebut, termasuk rasa cemburunya dengan pesaingnya yang kelak akan menjadi pembela kebenaran bernama Metro Man (Brad Pitt).

Megamind selalu menjadi bahan ledekan, tak ada seorang pun yang ingin mengajaknya bermain, dan apapun yang dia lakukan selalu salah, sepertinya menjadi jahat adalah satu-satunya yang paling benar yang bisa dia lakukan, begitulah yang ada dikepalanya. Tahun demi tahun pun berlalu, persaingan antara Megamind dan Metro Man sekarang bukan lagi soal merebut perhatian teman-teman sekolah, tapi seluruh kota Metro. Megamind akan melakukan apa saja untuk bisa menaklukkan kota dengan segala rencana jahatnya dari A-Z, termasuk mengalah musuh bebuyutannya Metro Man. Sedangkan Metro Man sendiri juga tidak akan diam saja melihat kejahatan merajalela, betapa pun jahatnya, pada akhirnya kebaikan selalu punya jalannya sendiri untuk mengalahkan kejahatan. Metro Man pun dicintai penduduk Metro City, sedangkan Megamind mengulang nasib masa kecilnya, dikucilkan dan dibenci.

Megamind dengan sidekick-nya yang seekor ikan—yah ikan peliharaan lengkap dengan wadah kaca namun bertubuh robot—bernama Minion (David Cross) tidak pernah menyerah, kali ini mereka menculik reporter berita Roxanne Ritchi (Tina Fey) sebagai umpan untuk menjebak Metro Man. Rencana mereka anehnya berhasil mengurung sang pahlawan, Megamind pun mendapat bonus ketika kekuatan Metro Man perlahan hilang karena secara kebetulan observatorium tempat dimana dia terjebak terbuat dari tembaga, kelemahan terbesarnya (Kryptonite bagi superman). Dengan sekali serangan besar, Metro Man pun berhasil dikalahkan kali ini. Megamind tidak percaya bisa menaklukkan musuh besarnya dan sekaligus sukses menguasai kota. Awalnya kehidupan jahat Megamind berjalan normal dan bahagia, namun perlahan Megamind menyadari hidup tanpa lawan itu lebih menyebalkan ketimbang saat dia selalu dikalahkan semasa Metro Man masih hidup. Megamind akhirnya memutuskan untuk melahirkan seorang pahlawan baru, untuk mengembalikan gairah hidupnya, untuk dia lawan. Siapakah yang beruntung?

Seperti sudah menjadi tradisi bagi DreamWorks Animation, untuk memboyong para artis terkenal untuk duduk di depan microphone, meminjamkan suara mereka untuk masing-masing karakter animasi. Tokoh Megamind sendiri akan disuarakan oleh Will Ferrell dan sepertinya pilihan DreamWorks berjalan dengan baik, karena Will berhasil menghadirkan performa yang tidak berlebihan. Kita tahu seperti apa Will jika sudah berakting komedi, tapi kali ini lelucon-lelucon yang keluar dari mulutnya terasa sangat pas dengan tampilan alien berkepala besar. Megamind pun berhasil dalam misinya menjadi karakter yang dibenci sekaligus perlahan mengambil hati penonton untuk bersimpati padanya, setidak-nya tidak terus mengkambing-hitamkan Will jika di beberapa leluconnya dia sama sekali tidak lucu. Beruntung Megamind ditemani oleh Minion, karakter yang disuarakan oleh David Cross ini tidak hanya menjadi pusat perhatian ketika sukses membantu master-nya dalam melakukan kejahatan, tetapi juga sukses mengangkat komedi—bentuk karakternya saja sudah lucu, bayangkan ikan bisa bicara dalam tubuh robot—dalam film ini.

Pemain-pemain lainnya Tina Fey, Jonah Hill, bahkan hadir juga Brad Pitt yang memberi suara pada karakter Metro Man, masing-masing juga punya andil besar melengkapi film ini untuk menjadi tontonan yang menghibur. Suara mereka pada akhirnya berhasil tidak hanya menjadikan karakter-karakternya lebih “hidup” tetapi juga memberikan chemistry yang manis dengan karakter lain sekaligus juga menjalin koneksi dengan penontonnya. Tom McGrath (Madagascar, Madagascar 2) yang duduk di bangku sutradara sepertinya tahu betul bagaimana memainkan boneka-boneka animasinya dalam jalinan cerita yang walau tidak lagi orisinal (melirik The Incredibles, Despicable Me) namun mengejutkan mampu membuat saya “terikat” selama 96 menit tanpa rasa bosan, sepertinya Megamind tidak berniat jahat dengan penonton, tidak ada yang namanya serum jahat yang akan membuat penonton cepat bosan. Dari segi animasi “Megamind” juga tidak mau kalah dan DreamWorks Animation semakin baik saja dalam mengemas kualitas animasinya. Secara keseluruhan “Megamind” tampil tidak mengecewakan sebagai penutup animasi dari DreamWorks Animation, tetapi saya masih lebih menyukai Toothless.

The Crazies at 11:53 - 17 November 2010.
6

Ogden Marsh, awalnya adalah kota yang normal dengan penduduk yang sebagian petani, salah satu hiburan mereka adalah menonton pertandingan baseball liga remaja. Tapi ada yang berbeda pada hari itu, pertandingan terganggu karena ada seorang penduduk lokal bernama Rory Hamill yang tiba-tiba muncul dan berjalan menuju tengah lapangan sambil membawa senjata. Sheriff David Dutton (Timothy Olyphant) segera mengambil tindakan yang justru berakhir dengan penembakan Rory, karena dia berusaha menembak David. Kota tersebut pun mulai mengalami kejadian tragis dan aneh yang sebelumnya tak pernah terjadi, seperti seorang penduduk yang dikenal baik-baik saja, lalu tiba-tiba membunuh seluruh keluarganya dan membakar rumahnya. David akhirnya menemukan sumber dari semua kekacauan yang terjadi di kotanya, setelah menyelidiki kasus penemuan mayat dan sebuah pesawat yang jatuh di sungai. Dia menyimpulkan bahwa air di kota tersebut sudah terkontaminasi sesuatu yang berbahaya, berasal dari apapun yang dibawa pesawat yang jatuh di sungai tersebut. Air yang diminumlah yang membuat dua penduduk “gila”.

Apa yang tidak diketahui oleh David dan penduduk Ogden Marsh, kota mereka sedang diawasi, yang sepertinya adalah orang-orang dari pemerintah. Ketika David sedang sibuk mencari-cari jawaban, dia justru lebih dahulu “dijemput” oleh pasukan militer Amerika. Mereka memang sedang dalam misi mengevakuasi seisi kota dan mengarantina populasi Ogden Marsh dari virus yang membuat manusia menjadi seperti “zombie”, masih hidup namun terkendali oleh kegilaan. Semua masih terkendali, sampai akhirnya sekelompok orang yang terinfeksi memulai kekacauan. Pihak militer yang kewalahan meninggalkan lokasi karantina, beruntung David beserta istrinya bisa selamat dari kekacauan tersebut dan mulai mencari tempat yang aman bersama Russel dan Becca. Orang-orang terinfeksi tidak hanya satu-satunya yang akan mengancam keselamatan mereka, tapi juga pasukan militer yang sekarang mengubah status mereka menjadi: search and destroy, dalam artian temukan manusia yang tersisa dan langsung bunuh ditempat agar infeksi tidak keluar dari kota Ogden Marsh. Apakah David dan yang lain bisa selamat dari kegilaan ini?

Mengontrol diri sendiri untuk tidak jadi gila sepertinya lebih sulit, ketika kita adalah satu-satunya orang normal diantara dunia yang sudah gila, David mungkin bisa menghindar untuk tidak terinfeksi dari orang-orang “gila” di sekelilingnya tapi apakah dia sanggup selamat dari dirinya sendiri. “The Crazies” akan mengajak kita ke situasi dimana normal dan “sakit” sulit untuk dibedakan, kecuali jika si orang yang terinfeksi sudah mendekati stadium tertentu maka lebih mudah dikenali dengan ciri khasnya. Tidak seperti film-film zombie yang gejalanya bisa dikenali, di film ini batas antara kewarasan dan kegilaan bisa dibilang berbeda tipis. Belum lagi jika bertanya apakah dia “sakit” karena infeksi atau memang semata-mata tidak sanggup menanggung beban menjadi orang normal. Melalui David dan orang-orang yang selamat, Breck Eisner kembali akan menyajikan ketegangan yang dia reka ulang dari film berjudul sama di tahun 1973, karya Romero.

Sutradara yang sebelumnya membesut film petualangan ala Indiana Jones, “Sahara” ini sanggup memberikan kejutan-kejutan menarik dibalut dengan ketegangan yang cukup di antara pergulatan-pergulatan karakter utama dengan “mereka”. Adegan-adegan pemacu adrenalin disiapkan dengan baik agar nantinya penonton tidak hanya dimanjakan dengan cerita, tetapi juga merasakan ketegangan yang dirasakan oleh David dan yang lainnya. Setelah dengan cukup baik memberikan teka-teki dengan segala pernak-pernik kejadian aneh diawal, misteri penyebab gilanya beberapa orang, lalu munculnya tim karantina. Breck yang belum memberikan jawaban langsung mengumpankan kita dengan adegan-adegan penuh aksi “survivor” dan drama-drama yang diselipkan konflik-konflik yang memang sudah bisa ditebak dari awal. Namun Breck Eisner sepertinya lupa untuk ikut “mengarantina” penontonnya untuk terus terikat dengan cerita, ada titik dimana kita akan merasa bosan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya pada David, orang-orang yang selamat dan kota tersebut, karena Breck hanya sanggup menempatkan adegan-adegan tanggung dan konflik yang berulang. Beruntung beberapa pemainnya bermain apik disini.

Timothy Olyphant bermain sebagai penegak hukum yang sangat mendukung keseluruhan cerita, dengan baik bisa menuntun kita untuk selamat dari para orang gila yang membawa senjata. Film ini tentu tidak menyediakan ruang banyak untuk karakternya berkembang jauh, seadanya dengan proporsi akting yang cukup, hasilnya tidak berlebihan dan mereka bisa terhindar dari horor-horor klise dengan karakter mengganggu. Sudah cukup hal yang mengganggu di film ini adalah “mereka”, itu pun mengganggu dalam artian positif lewat penampilan yang cukup menyeramkan. Breck menginginkan penampilan orang-orang gila yang berbeda dan tidak terjebak pada tata rias zombie pada umumnya. Hasilnya bisa dilihat, wajah-wajah penuh dengan urat-urat nadi yang menonjol dan terlihat jelas di luar kulit, menggambarkan dengan baik betapa mendidihnya aliran darah sampai ke otak lalu menjadikan orang-orang ini “gila”. “The Crazies” mungkin akan mengubah kita menjadi gila sesaat tetapi film ini terlalu cepat memberikan penyembuhnya, kita terlalu bosan di dalam karantina dan mencoba keluar secepat mungkin tanpa peduli lagi dengan karakter-karakter di dalam film ini. Yah, film ini tidak segila apa yang dibayangkan…

Skyline at 21:35 - 13 November 2010.
4

Meneropong nama Greg dan Colin Strause atau lebih dikenal sebagai Brothers Strause di panggung perfilman Hollywood, pastilah akan membuat kita berdecak kagum, khususnya ketika melihat jejak karir mereka di dunia efek visual. Berawal dari keterlibatan mereka dalam mengerjakan efek-efek spesial untuk film “The X-Files” di tahun 1998, sejak saat itu mereka juga terlibat dalam film-film seperti The Nutty Professor, Volcano, termasuk mengemas efek khusus untuk adegan iceberg di film Titanic. Bersama perusahaan yang mereka dirikan di tahun 2002, Hydraulx, Brothers Strause makin menancapkan taringnya di arena visual efek, dengan terlibat dalam pembuatan efek untuk film-film blockbuster, sebut saja Iron Man 2, 2012, X-Men Origins: Wolverine, Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer, 300, The Day After Tomorrow, dan Terminator 3: Rise of the Machine.

Setelah merambah dunia efek di film, video musik, dan iklan, akhirnya pada tahun 2007, Brothers Strause merilis film debut mereka “Aliens vs. Predator: Requiem”, yang justru mendapat respon negatif dari para kritikus namun secara komersil bisa terbilang sukses dengan pendapatan $157 juta. Berbekal “kesuksesan” film debutnya tersebut dan senjata utama mereka yaitu keahlian mengemas visual efek, Brothers Strause pun kembali merilis film kedua mereka, masih dengan tema fiksi ilmiah, “Skyline”. Brothers Strause di film ini tidak hanya duduk pada bangku sutradara tetapi juga ikut memproduseri dan perusahaan mereka Hydraulx juga terlibat menangani sebagian besar efek visualnya. Filmnya sendiri bercerita tentang beberapa sinar biru yang tiba-tiba jatuh dari langit kota Los Angeles. Sinar tersebut berbentuk bola cahaya yang cukup besar dan menyilaukan, jatuh menyebar di setiap sudut kota, lalu “menarik” siapa saja yang melihatnya. Jarrod (Eric Balfour) dan teman-temannya yang sedang tertidur pulas sehabis pesta semalaman pun akhirnya terbangun dikejutkan dengan cahaya aneh tersebut.

Apa yang mereka tahu soal cahaya tersebut adalah sinar birunya yang menyilaukan sudah berhasil “menculik” salah-satu teman mereka dan hampir saja membuat Jarrod menjadi korban selanjutnya. Dalam keadaan panik, bingung, dan takut bercampur menjadi satu, Jarrod dan Terry (Donald Faison) pun memutuskan untuk ke atap gedung, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sesampainya di atap, mereka langsung disambut kedatangan pesawat-pesawat alien. Belum selesai dikejutkan oleh kemunculan pesawat-pesawat yang berbentuk aneh dan berukuran raksasa tersebut, Jarrod dan Terry pun dipaksa menjadi saksi hidup untuk melihat ribuan manusia terisap ke dalam perut pesawat alien. Layaknya sebuah pembersih debu, pesawat-pesawat ini melayang dengan tenang di atas kota lalu “membersihkan” seisi Los Angeles dari manusia-manusia yang tidak beruntung. Bagi mereka yang beruntung selamat, termasuk Jarrod, Terry, dan temannya yang berada di kamar, mimpi buruk belumlah berakhir. Sebaliknya semua ini baru saja dimulai, mereka yang selamat harus siap untuk bersembunyi dan menyelamatkan diri dari para pemburu. Mereka tidak kenal ampun, memancing manusia untuk keluar dengan sinar biru yang menggoda, dan dengan tentakel-tentakelnya memangsa manusia terakhir yang tersisa.

“Skyline” tidak lebih dari ego Strause bersaudara yang ingin menampilkan film aliennya menjadi lebih hebat dari film-film invasi alien yang sudah pernah ada, dengan “riasan” yang berlebihan film ini berharap bisa menutupi kekurangannya disana-sini. Bujet sekitar 10-20 juta dolar pun dihabiskan untuk memoles kota Los Angeles menjadi arena mainan Strause bersaudara, mengubah kota menjadi zona pertempuran manusia versus para alien, yup dengan segala visual efek yang bertebaran menghiasi birunya langit kota malaikat tersebut. Namun “strategi perang” yang dilancarkan Greg dan Colin Strause sudah salah langkah dari menit awal film ini dimulai dan mereka sudah lebih dahulu teracam kalah perang jika bukan karena bantuan visual efek yang diobral habis-habisan. Terlalu percaya diri dengan kejutan-kejutan alien berselimut rekayasa komputer, Strause bersaudara akan lebih dahulu membuat saya bosan setengah mati, bahkan ketika film ini menginjak menit ke 10. Strause terlalu bertele-tele memperkenalkan karakter-karakternya yang sepanjang film hanya akan menampilkan performa buruk.

Strause bersaudara mungkin berharap bisa mengisi simpati penonton dengan intrik-intrik kecil hubungan antara karakternya lewat tampilan drama, namun terbukti tidak berhasil karena drama yang seharusnya menjadi bagian pelengkap ini dikemas cenderung terlalu lama, dengan dialog yang membuat saya tidak peduli dengan para karakternya. Ketika tiba saatnya Strause bersaudara mengeluarkan pesawat alien, para pemburu, dan monster-monster raksasa yang tampil dengan visual efek yang cukup impresif, film ini melakukan kesalahan berikutnya. Semua visual efek hebat tersebut hanya berhasil mempercantik permukaan saja, namun tidak memberikan efek yang dalam kepada saya untuk merasakan bahwa kota benar-benar sedang berada dalam bahaya karena invasi alien besar-besaran. Beberapa adegan mengerikan “vacuum cleaner” memang sanggup menaikkan intensitas ketegangan dalam film, membuat semua orang merasa terancam dan penonton diajak untuk ikut “terisap kedalam film, namun sisanya hanya adegan-adegan penuh visual efek yang tak bernyawa.

Strause bersaudara salah jika salah satu adegan kedatangan pesawat alien disini dapat membuat saja tercengang, karena adegan kemunculan pesawat alien di “Independence Day”-nya Roland Emmerich masih jauh lebih membuat saya merinding dan rasa kaget melihat pesawat alien nangkring di atas kota Johannesburg dalam film “District 9” masih belum bisa dikalahkan. Strause bersaudara pun semakin “rakus” ketika mencomot satu-persatu unsur-unsur dari film-film fiksi ilmiah sejenis, lalu mendaur ulangnya hingga terlihat serupa tapi tidak sama. Tak heran ketika menonton “Skyline”, saya merasa seperti menonton potongan-potongan film-film fiksi ilmiah terdahulu, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya: District 9, Independence Day, lalu dicampur War of the World. Namun kerakusan Strause bersaudara tersebut berimbas pada film ini yang justru makin terlihat berlebihan, ditambah pada saat mereka justru kehilangan “battleplan” untuk poin paling penting yaitu cerita. Strause bersaudara asyik menyiapkan permainan visual efek, kapal-kapalan, monster-monster, dan takdir para pemainnya namun lupa untuk memberi penonton sebuah alasan kenapa mereka harus betah duduk di bioskop ketika invasi yang paling mengerikan menyambut mereka…diinvasi oleh rasa bosan yang akut.

Senggol Bacok at 0:46 - 13 November 2010.
6

Amarah yang tidak terkendali itu ibarat kita menghujamkan paku di tembok dengan palu, walau nantinya kita berhasil mencabut amarah tersebut tetapi “lubang” itu akan tetap ada membekas. Seperti tembok yang meninggalkan jejak lubang bekas paku, akan ada orang lain yang tersakiti. Bagi seorang Galang (Fathir Muchtar), amarah adalah aksesoris dalam kehidupannya. Apapun masalahnya, termasuk masalah sepele sekalipun, dia tidak segan-segan menyelesaikannya dengan kepalan tinju yang sudah “mendidih” dan tidak jarang berakhir dengan kekerasan yang membuat korbannya babak belur. Okay…okay! Galang memang akan seperti preman yang belum mendapat jatah makan siang jika sedang emosi tapi dia juga bisa seperti malaikat, karena toh dia masih punya sebuah hati untuk berbuat baik dan tentu saja jatuh cinta.

Setelah musibah yang dialaminya di kantor lama di Bandung, Galang memutuskan untuk “melarikan diri” ke Jakarta, mengakhiri hubungan dengan tunangannya yang kedapatan selingkuh dengan sang bos (si bos sendiri dibuat bonyok dipukuli Galang) dan mencoba memperbaiki hidup di tempat baru. Sampailah Galang di kost barunya, dia tidak bertemu dengan para Ratu Kostmopolitan kok, tapi justru bertemu dengan Disko (Aji Idol) dan Ibu Kost yang aneh karena dari hari ke hari bisa berubah dari buta ke tuli. Galang pun dipertemukan dengan Laras (Kinaryosih) lewat sahabat barunya Disko, si seniman yang gagal ikut kontes adu bakat. Namun sayangnya pertemuan awal Galang dan Laras tidak berjalan mulus karena Galang tidak sengaja menghajar ayah Laras yang dikira preman. Sejak saat itu, Galang yang menaruh hati pada putri ketua RT ini, harus rela dirinya terus-menerus tertimpa kesialan, termasuk membuat penyakit alergi kacang yang dimiliki ayah Laras kambuh.

Belum beres satu masalah, masalah lain datang tanpa diundang dalam bentuk Donny (Ringo Agus Rahman), penghuni baru dan teman sekamar Galang di tempat kost. Donny ini punya sejuta akal licik untuk makin menjauhkan Galang dan Laras—yang sudah jelek dimata ayahnya karena dicap sebagai pembawa sial—ditambah Donny juga cerdik dalam urusan “menjilat” di depan ayah Laras untuk menarik perhatiannya. Langkah “kotor” si Donny terbukti lebih ampuh untuk membuat dia semakin dekat engan Laras dan tentunya sang ayah, sedangkan Galang selalu kalah cerdik dan justru jadi bulan-bulanan kelicikan Donny. Walau terus tertimpa sial, ternyata Galang tetap tidak menyerah mendapatkan Laras. Sudah waktunya untuk Galang putar otak untuk bisa bersaing dengan Donny, tidak hanya mengandalkan emosinya saja, apakah dia berhasil?

Menonton tanpa ekspektasi apa-apa ternyata ada hasilnya, malah awalnya saya kira film “Senggol Bacok” ini hanya akan menambah jajaran film komedi basi yang gagal dengan misinya untuk mengocok perut namun berhasil menghiasi wajah dengan senyum datar. Tetapi nyatanya, film yang disutradarai oleh Iqbal Rais (The Tarix Jabrix, Sehidup (tak) Semati) ini secara mengejutkan mampu membuat saya terhibur bahkan tertawa melihat aksi kocak Galang dan Donny dalam upayanya memperebutkan Laras, apalagi ditambah dengan beberapa poin menarik yang ditambahkan Iqbal ke dalam film ini. Pertama, saya bersyukur film yang ditulis oleh Ben Sihombing ini—ngomong-ngomong ini adalah debut film pertamanya—tidak terlalu memaksa saya untuk tertawa. Dengan bumbu-bumbu komedi yang pas dan tidak berlebihan, saya rasa justru menjadi nilai plus tersendiri film ini untuk memancing penontonnya tertawa.

Walau di beberapa momen lucunya tidak berhasil membuat saya tertawa, karena lagi-lagi menampilkan adegan “sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Tapi beruntung film ini tidak terpancing, terlena, dan dikuasai ego untuk akhirnya hanya terjebak dengan komedi-komedi norak yang berlebihan. Puluhan bahkan ratusan film yang sudah lebih dahulu tayang di bioskop sudah mencobanya, saling mengekor formula yang sama dengan hanya bergantung pada permainan bodoh menyiksa para pemainnya untuk terlihat lucu. Namun hasilnya gagal karena komedi-komedi tersebut hanya sebuah proses daur ulang produk televisi yang dilayar-lebarkan, tidak menawarkan sesuatu yang baru dan justru melebih-lebihkan kebodohannya. Jika saya butuh komedi model begitu untuk apa saya membuang uang ke bioskop, lebih baik duduk di depan televisi sampai akhirnya tertidur pulas karena komedi yang membosankan, untuk apa saya ke bioskop jika hanya untuk numpang tidur.

Saya jarang bisa tertawa menonton film komedi yang belakangan muncul meramaikan perfilman tanah air. Tapi “Senggol Bacok” hadir untuk memecah kebisuan tawa saya. Selain tidak berlebihan ketika melepas adegan-adegan lucu ke layar, film ini juga punya beberapa senjata rahasia penampilan singkat tapi sangat konyol, seperti tukang ember yang tiba-tiba muncul tidak terduga dengan gaya uniknya. Momen langka dengan porsi hanya beberapa detik tapi bisa membekas karena menurut saya itu lebih lucu ketimbang harus mengorbankan salah-satu pemain untuk “disiksa” agar lucu, sudah cukuplah saya melihat komedi klise orang kejedut sesuatu karena kebodohannya. Setelah “Bebek Belur” lalu “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” dan “Aku atau Dia” dengan komedi romantisnya, kali ini “Senggol Bacok” berarti jadi film ke-empat yang lumayan sukses menghadirkan tawa disela-sela jalan cerita yang sedang fokus pada pertarungan otak dan otot antara Galang versus Donny.

Kendati menghibur penat saya dengan tawa di paruh awalnya, film ini sayangnya mulai terlihat kehilangan momentumnya di pertengahan durasinya. Makin banyak hal-hal yang berbau dipaksakan untuk hadir sebagai upayanya untuk mempertegas jika Galang itu masih orang baik-baik dan Donny diperlihatkan masih sangat-sangat menyebalkan. Untuk porsi menyebalkan Donny, saya justru tidak terganggu, tapi upaya Galang untuk meminta belas kasihan penonton agar bersimpati kepadanya menjadi kian terlihat jadi berlebihan dengan pernak-pernik kebetulan disana-sini dan momen “tiba-tiba” ini dan itu. Pada saat film ini berubah dari menyenangkan menjadi datar dan mulai membosankan dengan kesialan Galang yang ternyata tiada habis-habisnya, penonton pun dijauhkan dengan kurangnya chemistry antara Galang dan Laras.

“Senggol Bacok” tampaknya terlalu asyik menjadi “badut” ketimbang menyisakan porsi lebih untuk mengumpulkan simpati penonton atau membangun chemistry antara Galang dan Laras. Ketika saya berharap si tukang ember muncul kembali, ternyata yang muncul justru kejutan yang tidak disangka-sangka karena awalnya saya sudah menebak-nebak dengan mudah akhir ceritanya tanpa berpikir akan ada sebuah twist. Namun sekali lagi kejutan ini pun seharusnya bisa tampil lebih menarik lagi, karena tampak terburu-buru membungkus cerita karena durasi yang mendekati akhir, jadinya saya hanya bisa berkomentar “oooh ternyata begitu yah” ketimbang menambahkannya dengan kata “wow!”. Setidaknya kejutan tersebut mampu mengangkat mata saya yang mulai layu dan menyelamatkan film ini dari jalan cerita yang membosankan.

Dari sisi akting, perhatian saya tertuju pada aktor yang makin sering muncul di layar lebar tahun ini, Ringo Agus Rahman, ternyata dia mampu memerankan perannya dengan baik sebagai orang yang menyebalkan. Sedangkan lawan mainnya Fathir Muchtar, performanya bisa dibilang turun naik, kadang kaku tapi di beberapa adegan memang sangat cocok, termasuk ketika dia sedang naik darah. Lalu ada Kinaryosih yang jadi pemanis yang memang bermain manis dan sangat lugu, pas sekali membawakan gadis kuliahan yang belum pernah pacaran (yang saya tangkap sih seperti itu). Aji Idol juga tampil cukup mendukung untuk peran side-kick Galang dengan logat Jawa-nya yang kental, bahkan menurut saya aktingnya natural tidak berlebihan. “Senggol Bacok” tidak sampai “membacok” syaraf tawa saya hingga putus, tetapi senggolan komedinya cukup menghibur dengan beberapa kekurangan yang bisa diperbaiki kedepannya.

Step Up 3D at 11:52 - 22 October 2010.
6

Selamat datang di dunia dimana semua dilakukan dengan tarian, dari meminta maaf pada teman sampai menyelinap masuk ke dalam sebuah pesta, tarian memang akan menjadi kontruksi utama “Step Up 3D” untuk membangun cerita. Bagi yang tidak menonton film pendahulunya pun tak perlu takut tidak mengerti jalan cerita, karena di film ketiga ini tidak ada sangkut pautnya dengan 2 film sebelumnya, kecuali karakter Moose (dari film kedua) dan Camille (dari film pertama) yang dimunculkan kembali hanya sebagai alasan penghubung benang merah. Jon Chu—sutradara Step Up 2: The Streets—masih akan mengandalkan koreografi-koreografinya untuk berdiri di barisan depan sebagai daya jual film ini, tapi tentu saja dia sadar tidak bisa menjual sesuatu yang sudah ada sebelumnya, lalu apa yang ditawarkan film yang melengkapi trilogi tarian “Step Up”? satu perbedaaan yang sangat jelas tentu penggunaan 3D (bukan konversi), untuk menemani variasi tarian unik yang “bergoyang” sepanjang film bergulir dari menit ke menitnya.

Sejak awal “Step Up 3D” sudah mulai memancing penontonnya untuk ikut menari lewat aksi Moose (Adam Sevani), mahasiswa teknik elekto Universitas New York yang tiba-tiba terlibat dalam adu tari dengan Kid Darkness, salah satu penari dari kelompok penari yang menamakan diri mereka House of Samurai. Dari sini Jon Chu terlihat sangat amat percaya diri memperkenalkan Moose dengan segala kelebihannya menari entah itu di atas jalanan ataupun di atas meja sekalipun, memanfaatkan lingkungan sekitarnya dari bulatan gelembung-gelembung sabun sampai menghancurkan dagangan orang lain di taman. Hal ini tentu saja mengundang polisi untuk menangkapnya dan sekaligus mengundang saya untuk masuk ke dunia “orang-orang yang terlahir untuk menari”. Sedikit insiden di taman mempertemukan Moose dengan Luke (Rick Malambri) yang memperkenalkannya pada sebuah tempat bernama “The Vault”, dimana anak-anak yang berbakat menari seperti dia berkumpul, berlatih, dan membentuk ikatan keluarga. Luke dan tim-nya menamakan diri mereka dengan sebutan House of Pirates dan mengundang Moose untuk bergabung.

Selain Moose, Luke juga mengundang Natalie (Sharni Vinson) untuk bergabung dengan House of Pirates. Dengan tambahan 2 orang berbakat ini, Luke dan tim-nya percaya bisa menjadi juara di kontes tari sedunia “World Jam” dan mengalahkan musuh bebuyutan mereka House of Samurai dengan pimpinannya Julien (Joe Slaughter). Kontes ini adalah harapan satu-satunya House of Pirates untuk mempertahankan rumah mereka yang akan disita oleh bank dan dilelang, jika Pirates menang, mereka bisa membayar hutang kepada bank. Disinilah konflik mulai mengisi slotnya bersanding dengan para penari yang asyik memamerkan keahlian cantik dalam menari. Selagi mimpi buruk kehilangan “The Vault” semakin nyata, House of Samurai juga mulai memperlihatkan sisi mata pedangnya yang tajam untuk menghentikan House of Pirates menjadi juara, tapi sisi rivalitas ini memang tidak terlalu menjadi fokus film ini. Justru konflik-konflik internal-lah yang paling sering menyita waktu, Moose diperlihatkan makin renggang dengan sahabat baiknya Camille (Alyson Stoner) dan Luke mendapat pelajran berharga dari gadis yang membuatnya jatuh cinta, Natalie. Akankah semua masalah ini menghambat laju House of Pirates untuk jadi pemenang dan menyelamatkan “rumah” yang mereka cintai?

Apa yang diperlukan untuk menonton “Step Up 3D” adalah nikmati segala bentuk tarian luar biasa yang diperlihatkan oleh penari-penari berbakat ini, lupakan fakta jika ceritanya memang mudah ditebak, datar, klise, miskin plot, dan ditambah dengan para pemainnya yang justru terlihat biasa saja ketika beradu akting, berbeda pada saat hentakan musik mulai bertalu-talu dan mereka mulai berdansa, disini mereka tidak kaku tapi sebaliknya tampil luwes dan sempurna melahap setiap koreografi yang diarahkan Nadine “Hi-Hat” Ruffin, sang koreografer. Tarian-tarian ini pun tervisualisasi dengan daya hipnotis yang kuat ketika dengan pas dipadukan dengan berbagai macam pernak-pernik tambahan yang menarik seperti berdansa di air atau berdansa dengan efek-efek lampu yang memanjakan mata. Film ini juga tidak sekedar menghadirkan tarian jalanan tapi juga turut mengisi slot 100 menit lebih durasinya dengan dansa formal ala pesta-pesta dansa yang dibuat berbeda dan duet Moose dan Camille yang menarikan tarian ala Broadway lalu dikemas layaknya film-film musikal. Film ini memang tidak istimewa secara keseluruhan tapi sudah cukup berhasil menangkap esensi keindahan dari sebuah tarian dan juga mengajarkan bahwa dengan tarian pun (bakat apapun) kita sanggup mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Momen terbaik di film ini adalah ketika melihat anak-anak kecil asyik menari tidak kalah dengan kakak-kakaknya yang lebih senior di House of Pirates.

Red at 11:51 - 22 October 2010.
8

Frank Moses (Bruce Willis), diceritakan adalah mantan seorang agen CIA, dan bukan sembarang agen, dia yang terbaik di masa kejayaannya. Kehidupan pensiunnya sangatlah membosankan, sampai akhirnya Frank memutuskan untuk menjalin hubungan jarak jauh dengan Sarah (Mary-Louise Parker), seorang pegawai customer-service yang bekerja di kantor pelayanan dana pensiun, termasuk juga mengurusi cek pensiun milik Frank. Saat semua berjalan normal, Frank tiba-tiba diserang oleh sekelompok pembunuh bersenjata. Walau rumahnya hancur berantakan diberondong peluru senapan mesin, Frank masih tetap hidup berkat keahlian membela diri yang masih dia miliki dan tidak mau dikalahkan oleh usia dan juga mereka yang hendak membunuhnya. Setelah menghabisi pembunuh-pembunuh tersebut, Frank segera menemui Sarah karena sadar dia juga dalam bahaya. Pertemuan pertama antara Frank dan Sarah pun tidak berjalan mulus, Sarah tentu saja kaget karena tiba-tiba orang yang selama ini hanya dia “temui” di telepon, sekarang hadir di depannya dan berbicara soal pembunuh dan mantan CIA.

Di lain pihak, seorang agen CIA bernama Cooper (Karl Urban) ditugasi untuk melacak keberadaan Frank Moses dengan misi utama membunuhnya. Pertemuan awal Frank dan Cooper pun diramaikan oleh kejar-kejaran dan adu tembak di jalan raya, sayangnya target buruannya lebih pintar dan berhasil “kabur” dari Cooper. Selagi Cooper dan agen CIA sibuk mencari-cari mantan agennya yang sekarang terkenal dengan sebutan “Retired, Extremely Dangerous” tersebut, Frank sendiri juga sibuk reuni dengan teman-temannya sesama agen hebat di masa lalu. Pertama dia mengunjungi Joe (Morgan Freeman), dibalik tubuhnya yang sudah menua, Joe adalah agen rahasia yang tangguh, lalu Marvin (John Malkovich), seorang yang hidupnya terobsesi dengan teori konspirasi, sangat berhati-hati, anti-teknologi, pernah “dicekoki” LSD selama 11 tahun, dan sekarang tinggal di tempat paling tidak terduga, dan terakhir Victoria (Helen Mirren), wanita tua yang elegen namun sangat fasih menggunakan segala macam senjata dan pembunuh paling mematikan dari dulu ketika “aktif” sampai sekarang. Bersama-sama, Frank dan teman-temannya akan saling membantu mengungkap konspirasi di dalam tubuh lembaga intelijen CIA, berbekal keahlian mereka masing-masing yang tidak pernah pudar walau termakan usia.

Mengumpulkan orang-orang tangguh tidak bisa mati dengan berbekal keahlian unik masing-masing dalam satu kelompok “the good guy” dan melawan “the bad guy” adalah tema yang sepertinya menjadi perhatian Hollywood tahun ini, sebelum “Red” kita sudah lebih dahulu disuguhkan film-film berpola serupa, belum lama ini ada The Expendables yang juga menampilkan Bruce Willis sebagai cameo bersama Arnold Schwarzenegger, satu lagi versi layar lebar dari seri televisi terkenal, The A-Team. Film yang disutradarai oleh Robert Schwentke ini berbeda dengan The Expendables yang memang menampilkan aktor-aktor kelas berat yang biasa bermain di film-film laga tersebut atau The A-Team yang memasang wajah-wajah “anak muda” kecuali Liam Neeson tentunya. Film yang diadaptasi dari komik ini justru “memajang” nama-nama tidak terduga dan tentunya tua (termasuk juga Bruce Willis) seperti Morgan Freeman, John Malkovich, dan juga Helen Mirren untuk menemani Willis beraksi baku hantam sana-sini. Namun seperti CIA yang menganggap remah orang-orang tua ini, saya juga terkejut ketika Bruce, dan yang lainnya mampu membuktikan jika usia boleh tua tapi mereka masih sanggup meluncurkan roket tepat ke penontonnya dan meledakkan kepala mereka dengan aksi-aksi yang menghibur.

Film ini dengan aroma “tua”-nya—menyesuaikan dengan komik dan fokus cerita ke para pensiunan agen CIA—sudah menggelitik adrenalin saya untuk tertawa kegirangan ketika Bruce Willis membuka filmnya dengan hamburan peluru dan aksi membabi-buta. Robert Schwentke yang sebelumnya membesut “Flightplan”, dengan terampil sukses membawa mood untuk tersenyum lebar sejak paruh awal film ini dimulai. Dikemas dengan ritme yang pas antara laga dan cerita, film ini tidak dipaksa untuk “tangguh” saja tapi juga ikut memaparkan ceritanya dengan baik. Adegan-adegan action diperlakukan dengan tidak berlebihan dan terbukti tidak mubajir ketika memamerkan keanggunan Willis dan kawan-kawan ketika memuntahkan peluru, menghancurkan rahang, dan meledakkan musuh jadi berkeping-keping (nah justru review ini yang berlebihan). Willis dengan track record di beberapa film laga, khususnya seri “Die Hard” sudah tidak perlu ditanyakan lagi ketika berbicara soal performanya di film ini. Bisa dibilang ini penampilan terbaiknya di film bertema action dalam kurun waktu beberapa tahun ini, ketika dia cenderung banyak main di film-film drama, lebih baik dari Die Hard 4 atau Surrogates. Schwentke berhasil dengan misinya untuk mengembalikan “karisma” ketangguhan Willis yang sebenarnya.

Morgan Freeman yang mendapat porsi lebih sedikit dari teman-temannya yang lain, tidak serta-merta membuat dirinya dikucilkan. Pemeran Nelson Mandela di Invictus ini sangat memaksimalkan lakonnya sebagai agen yang berperawakan tenang. Morgan benar-benar terlihat sangat tua dengan usianya yang sudah menyentuh 73 tahun, tapi hebatnya tidak menghentikan dia untuk menjadi “sidekick” untuk Willis. Kejutan menarik datang dari Hellen Mirren, pernah membayangkan jika pemeran Ratu Inggris, Elizabeth II, di film “The Queen” ini memegang senapan mesin M2 kaliber 50? jika tidak pernah, maka disini saatnya kalian melihat Hellen Mirren tampil “ningrat” sekaligus maskulin dengan variasi senjata di tangannya. Wanita berumur 65 tahun sukses menakuti musuh-musuhnya dan juga saya ketika wajahnya yang karismatik-keibuan berubah garang ketika muntahan peluru membanjiri lantai yang dia pijak.

Jika bertanya siapa yang bertanggung jawab untuk mencuri perhatian saya, John Malkovich-lah orangnya. “Red” lengkap dengan kehadiran Malkovich, sepertinya dia membayar hutangnya ketika bermain biasa saja di “Jonah Hex” yang sama-sama diadaptasi dari komik keluaran DC Comics. Karakternya yang dibuat tidak waras sukses menghadirkan tawa terpingkal-pingkal diantara desingan peluru yang menari dan ledakan yang saling bernyanyi merdu. Daya jual film ini memang berada di tangan karakter-karakternya yang syukurnya dilakonkan dengan baik, termasuk tambahan Mary-Louise Parker, Karl Urban, Richard Dreyfuss, dan Brian Cox sebagai agen Rusia, yang bermain cukup baik mendukung bergulirnya menit ke menit film ini. Walau film ini ditangani dengan baik dalam urusan menjaga intensitas action dan selipan humornya, tidak dipungkiri Schwentke lengah dalam urusan plotnya yang mulai kendur ketika mencapai akhir film, sepertinya semua yang menarik sudah dipamerkan dan menyisakan pelintiran cerita yang tidak istimewa, apalagi ditambah dengan “sumbu” masalah yang tidak diceritakan dengan jelas dari awal. Beruntung saya tidak peduli dengan kekurangan film ini, karena Willis dan kawan-kawannya yang tidak muda lagi sudah memberikan hiburan (di luar ekspektasi) yang ekstrim dari awal film ini memuntahkan peluru pertamanya.

Eat, Pray, Love at 15:47 - 16 October 2010.
5

Bersiaplah untuk berkemas-kemas! karena film ini akan membawa kita untuk “melarikan diri” sesaat ke 3 negara (tidak juga ketika durasinya 2 jam lebih), menelusuri gang-gang berliku di kota Roma, Italia, mengunjungi eksotika India, terakhir menikmati keindahan pulau Dewata, Bali di Indonesia. Bersama dengan Liz Gilbert (Julia Roberts) kita akan diajak menemani dirinya terbang menuju tempat-tempat tersebut dan meninggalkan apa yang dimilikinya di New York. Liz bisa dibilang adalah wanita paling beruntung, dia memiliki apa yang wanita modern dambakan. Tetapi punya seorang suami, rumah, dan karir yang sukses ternyata tidak membuat Liz menikmati hidupnya lagi. Dia kehilangan keseimbangan, bingung dengan dirinya sendiri beserta kehidupan asmaranya. Pada saat sedang meraba-raba apa yang sebenarnya ia cari dalam hidup ini, dia justru kehilangan apa arti cinta dan mencintai, keyakinannya mulai redup, dan kenikmatan hidup tidak lagi terkecap manis, apa yang diharapkannya ketika “selera” hidup itu mulai menjauh.

Pernikahannya dengan Steven (Billy Crudup) pun kandas di tengah persimpangan jalan, diantara lalu lalang problematika hubungan suami-istri dan keinginan-keinginan yang selama ini hanya terpendam di hati. Liz memang pada akhirnya menemukan sosok pria pengganti dalam diri David (James Franco), melupakan sejenak bahwa dia masih terluka dan mencoba menikmati “pelarian”-nya. Tapi pada akhirnya hubungan keduanya gagal, Liz pun lelah berlari di jalan yang sama. Kini tiba waktunya untuk Liz mengambil rute yang berbeda, mengambil keputusan yang mungkin seharusnya dia ambil dari awal. Satu-satunya yang dia inginkan sekarang adalah keliling dunia selama satu tahun dan berharap bisa menemukan potongan “puzzle” dirinya yang hilang. Apakah Liz akan menemukan kembali arti nikmatnya hidup diantara kelezatan pasta Italia terutama menu-menu pizza mozeralla di Napoli? Apakah perjalanannya ke India akan menyalakan lagi cahaya dalam dirinya, mempertemukannya dengan kekuatan sebuah doa sekaligus memaafkan dirinya sendiri? Apakah Liz bisa menyembuhkan “luka” di Bali?

Eat, Pray, Love yang diadaptasi dari memoir laris karya Elizabeth Gilbert ini akan sangat melelahkan, tidak hanya karena perjalanan panjang yang ditempuh Liz ke berbagai kota berbeda untuk menemukan kembali kehidupannya, tapi juga karena ditambah perjalanan tersebut berdurasi 2 jam lebih. Saya tidak akan mempermasalahkan durasi yang panjang ini jika memang filmnya sendiri berhasil mengisi setiap menitnya dengan menarik. Lalu film ini ternyata membawa saya ke rute perjalanan yang bisa dibilang membosankan dan membuat saya merasakan begitu lama berada di bioskop dan menyesali tidak membeli popcorn lebih banyak. Ryan Murphy yang sebelumnya membesut film “Running with Scissors” di tahun 2006 lalu dan sempat terlibat menyutradarai serial televisi “Glee” ini, tampil meyakinkan ketika bersiap bergegas terbang ke Italia, India, dan Indonesia. Saya akan dihadapkan oleh berbagai masalah yang hinggap dalam kehidupan Liz, terutama suasana hatinya dan Ryan sanggup mengemas fase pembuka dengan cukup baik, hingga akhirnya penonton termasuk saya diijinkan untuk menaruh simpati pada “mangkuk kosong” yang sengaja disiapkan untuk Liz.

Oke, kita sampai di Italia, tempat kelahiran pizza, Ryan layaknya seorang pemandu wisata (lebih tepatnya wisata kuliner) masih sanggup mengarahkan penonton ke berbagai momen menarik. Disinilah kata “Eat” (dari judul film) dijabarkan dengan begitu baik, lebih tepatnya sangat menggoda. Disini Liz mengobati rasa rindunya dengan makanan-makanan yang dia sukai, melepas rasa takut melihat angka di timbangan dan menyuapi ambisinya dengan makan banyak dan sekenyangnya. Pada saat Liz mulai menemukan arti dari bagaimana menikmati hidup yang sebenarnya, masih ditemani makanan lezat (yang memang terlihat seperti itu) dan teman-teman baru, saya mulai merasa kelaparan karena film ini pintar sekali memancing lapar dengan pengambilan gambar yang memanjakan lidah (walau kita tidak benar-benar mencicipi makanan-makanan tersebut). Kota Roma pun membuat saya betah dengan lanskap-lanskapnya yang berhasil ditangkap dengan baik di film ini, mengeluarkan aura keindahan yang sesungguhnya, sayangnya saya buru-buru terpaksa meninggalkan Italia karena Liz harus pergi ke India.

India tidak hanya menjadi tempat bagi Liz untuk menemukan keseimbangan dalam hidup dengan memanfaatkan kekuatan berdoa, tapi juga momen pembuktian bagi Ryan apakah dia masih sanggup menjabarkan kata “Pray” semenarik dia mengolah kata sebelumnya. Oh sayangnya disinilah dia mulai terlihat kelelahan ketika Liz mulai memaafkan dirinya dan memperlihatkan kekuatan hidup yang selama ini hilang. Ryan seperti tidak lagi bisa memandu penontonnya untuk menikmati jalan cerita karena terlalu banyak momen yang membosankan. Satu-satunya yang bisa menghindari saya dari bosan adalah akting dari Richard Jenkins, porsinya memang sebentar tetapi justru lebih menyita perhatian, bahkan dari dominasi Julia yang dari awal menampilkan kualitas akting yang turun naik seperti halnya suasana hatinya yang tidak menentu. Ketika James Franco hanya numpang lewat di awal-awal, Richard Jenkins adalah jawaban film ini dari doa saya yang mengharapkan ada pemain yang bisa menghibur dengan aktingnya. Richard sanggup mencairkan hati Liz sekaligus “memecah” kebosanan saya lewat kelucuannya dalam melihat kehidupan.

Chemistry Richard dan Julia disini terjalin dengan baik, mengingatkan saya ketika Julia menjalin “hubungan” dengan makanan di Italia. Sayangnya rasa yang sama tidak terasa pada saat Julia (Liz) tiba di Bali, chemistry tersebut lenyap begitu saja ketika dia bertemu dengan Javier Bardem yang bermain sebagai Felipe. Kata terakhir “Love” pun tidak tersampaikan dengan sempurna, parahnya Javier Bardem berlakon kaku disini. Beruntung ketika akting makin payah dan jalan cerita makin terlunta, Bali masih tetap terlihat indah walau tidak ditangkap kamera semeriah kota Roma. Pulau yang terkenal dengan sebutan pulau Dewata ini pun sanggup memaksa saya dengan lembut untuk tetap betah dalam bioskop. Apalagi rasa betah itu makin terasa ketika Christine Hakim dan Hadi Subiyanto muncul dan menampilkan porsi akting yang maksimal walau hanya sebentar saja. Hadi Subiyanto yang berperan sebagai Ketut, sang “yoda” bagi Liz, tampil sangat lucu dan sukses membuat saya beberapa kali tertawa. Eat, Pray, Love akhirnya hanya menjadi kisah percintaan berujung membosankan tapi pesan-pesan kehidupannya memang sangat positip dan sayang untuk tidak dipetik maknanya.

Going The Distance at 15:45 - 16 October 2010.
6

Ada sebuah kata-kata bijak mengatakan “sakit hati hanya bisa disembuhkan oleh waktu”, itu berlaku juga untuk Garrett (Justin Long) yang selalu bermasalah dengan komitmen dan kesulitan menemukan apa yang pacarnya inginkan. Ketika dia sedang berusaha untuk melakukan segalanya dengan benar, hubungannya justru kandas ditengah jalan. Namun sepertinya Garrett beruntung karena waktu sedang berpihak padanya atau bisa dikatakan sang cupid sedang lembur pada malam dimana Garrett datang ke sebuah bar. Dia tanpa sengaja bertemu dengan Erin (Drew Barrymore), kebersamaan di bar pun berlanjut jadi sarapan pagi keesokan harinya. Sejak saat itu, benih-benih cinta mulai tumbuh diantara Garrett dan Erin, walau keduanya masih belum memberanikan diri untuk menyatakan ini adalah sebuah hubungan serius. Garrett dan Erin pun diberi waktu 6 minggu untuk saling jujur, karena Erin sendiri hanya tinggal di New York selama musim panas untuk magang dan harus kembali melanjutkan studinya di San Fransisco. Namun hubungan tanpa ikatan ini berlanjut hingga sampai akhirnya tiba waktunya Erin untuk meninggalkan Garrett. Apakah cinta mereka akan bertahan dipisah oleh jarak, New York – San Fransisco?

Jika berbicara soal tema komedi romantis, Hollywood sepertinya tidak pernah kehabisan ide untuk melahirkan judul-judul dengan tema tersebut. Formulanya tentu saja tidak akan pernah berubah, harus ada cinta didalamnya, pembicaraan aneh, orang ketiga, sahabat yang pintar melawak, dan terakhir ending-nya harus selalu bahagia. Nanette Burstein pun mencelupkan “Going The Distance” ke dalam formula yang sama, dengan fokus pada cerita dua manusia yang saling mencintai tapi harus rela terpisah jarak ribuan mil. Dalam LDR atau Long Distance Relationship tidak tertutup kemungkinan akan ada konflik yang muncul dan film ini mencoba menghadirkan tidak hanya sisi romantisnya saja tetapi juga konsekuensi hubungan jarak jauh tersebut. Walau sudah tersedia teknologi (internet) yang membuat dunia ini terasa dekat, tapi tetap saja cinta itu dibatasi oleh lapisan kaca bercahaya, dan itu kadang tidaklah cukup. Disinilah Nanette menyelipkan kelucuan film ini, diantara konflik dan romantisme yang terjadi pada Garrett dan Erin.

Sesederhana pertemuan antara Garrett dan Erin, film ini juga mengalir dengan sederhana, dalam artian tidak terlalu memaksa ingin terlihat romantis atau mendramatisasi konflik yang ada. Nanette sepertinya memang ingin menangkap rutinitas percintaan modern yang tidak terlalu kompleks, yah hubungan Garrett dan Erin memang memiliki masalah karena jarak, tetapi Nanette menginginkan karakternya untuk tidak terlalu berlebihan larut dalam setiap kesedihan. Untuk tujuan tersebut, cerita pun akhirnya berjalan dipenuhi dengan pencarian solusi yang dilakukan Garrett dan Erin bukan sebaliknya hanya meratapi masalah yang bermunculan tanpa melakukan apapun. Selagi keduanya mempertahankan hubungan mereka dan penonton disuguhkan sajian lucu dan romantis, secara bersamaan film ini memperlihatkan rapuhnya hubungan tersebut ketika keduanya mulai digoyahkan oleh pilihan-pilihan yang sulit. Setelah kita diajak untuk bersimpati dengan kedua pasang manusia lucu ini, sekali lagi kita diundang masuk ke dalam cerita ketika mereka tampak terlihat akan menyerah dan Nanette pun seperti bertanya kepada penontonnya apakah kita rela melihat Garrett dan Erin terpisah, bukan lagi soal jarak tetapi kini hati yang berpisah.

Film ini menyenangkan walau ketika kita tahu sedang menyaksikkan Garrett dan Erin yang sedang kesulitan mempertahankan cinta mereka. Karena memang seperti itulah Nanette ingin mengemas film ini, menyenangkan, lucu, tapi tidak meninggalkan fokus cerita tentang cinta itu sendiri. Garrett dan Erin boleh saja terlihat sedih tetapi mereka dipaksa untuk tidak lupa menghibur penonton, momen-momen lucu pun tak jarang hadir menemani perjalanan cinta mereka. Lucunya lagi karakter utama di film ini dilakonkan oleh Drew Barrymore dan Justin Long, yang di kehidupan nyata adalah sepasang kekasih. Jadi sepertinya cukup mudah bagi mereka untuk menjalin chemistry yang pas dan mereka memang berhasil melakukannya dengan baik. Nanette pun dengan sigap memanfaatkan chemistry tersebut dan mengaduknya dengan variasi humor dan komedi yang terkadang vulgar. Barrymore dan Long yang sudah sering bermain dalam film yang punya unsur komedi pun tidak punya kesulitan untuk beradaptasi disini, mereka toh sanggup bermain konyol sambil bersamaan berakting serius ketika tiba saatnya berada dalam momen drama yang romantis atau menyentuh.

Porsi Barrymore dan Long memang menyita seluruh durasi tetapi pemain-pemain lain tak kalah menyita perhatian, terlebih Charlie Day dan Jason Sudeikis, yang memerankan dua sahabat Garrett. Seperti film-film komedi romantis pada umumnya, selalu ada karakter yang akan terlihat lebih bodoh, konyol, dan berperan sebagai mesin kelakar dengan aksi dan kata-katanya. Tugas itu dipercayakan kepada mereka berdua, Charlie dan Jason, saat Barrymore dan Long sudah memaksimalkan akting mereka tapi masih belum lucu, tenang saja karena ada dua orang badut ini yang sanggup membuat kita tertawa. Pada akhirnya kita sepertinya hanya akan merasakan senang ketimbang ikut larut dalam hal-hal berbau menyentuh yang disajikan film ini, tujuan Nanette untuk membuat komedi romantis yang menyenangkan pun berhasil. Namun jika disebut komedi romantis yang istimewa, film ini masih jauh dari kesan tersebut, “Going The Distance” masih terjebak dalam koridor standart film-film serupa dan berjalan lurus-lurus saja tanpa konflik yang bisa membuat “greget” penontonnya. Kita tertawa dan terpancing bersimpati dengan romantisme film ini tapi sayangnya cerita bergulir datar dan begitu-begitu saja. Setidaknya film ini masih bisa menghibur, tidak membosankan dan mungkin apa yang terjadi dengan Garrett dan Erin bisa saja menjadi pelajaran bagi siapa saja yang sedang menjalani LDR

Madame X at 11:00 - 3 October 2010.
7

Kehidupan Adam (Amink) awalnya berjalan begitu normal, bisa dibilang cukup bahagia, apalagi ditemani dengan orang-orang yang menyayanginya. Pada hari ulang tahun Adam pun, Ibu angkatnya, dan dua sahabatnya Aline (Joko Anwar) dan Cun Cun (Fitri Tropica) masih sempat memberikan kejutan manis di salon tempat dia bekerja. Ditengah perayaan sederhana tersebut, sebuah ramalan datang dari seorang pelanggan yang datang ke salon. Bunda Lilis (Sarah Sechan) yang sudah berputar-putar dari salon satu ke salon yang lain akhirnya menemukan seseorang yang sedang berulang tahun, siapa lagi jika bukan Adam, dia pun memberitahunya untuk tidak mempelajari sebuah tarian, karena tarian tersebut bisa membunuhnya. Adam pun meresponnya dengan biasa saja, sama seperti saya, dia juga tidak mengerti apa maksud perkataan ibu-ibu yang menaiki mobil mewah berwarna merah ini. Tidak peduli dengan ramalan Bunda Lilis, Adam melanjutkan hari istimewa ini dengan berpesta bersama dengan Aline dan Cun Cun di sebuah klub waria.

Hari bahagia Adam pun berubah menjadi malapetaka, ketika sekelompok orang dengan berseragam hitam-hitam yang menamakan diri Ormas Bogem tiba-tiba mulai menyerang klub waria tersebut dan menciduk Adam, Aline, dan beberapa waria. Mereka semua pun diangkut dengan truk dan entah mau dibawa kemana. Disinilah pertemuan pertama Adam dengan Kanjeng Badai (Marcel), seorang berkedok politikus yang juga memimpin ormas yang seringkali “mengobral” kekerasan terhadap kaum waria. Adam tidak bisa bertindak apa-apa ketika dia melihat Aline dilempar keluar dari truk dan menemui ajalnya. Dalam keadaan marah, Adam berusaha melawan tapi apa daya dia juga bernasib sama terlempar keluar truk. Beruntung Adam masih hidup setelah diselamatkan oleh Om Rudi (Robby Tumewu) dan Tante Yantje (Ria Irawan). Pasangan suami-istri esentrik yang memiliki sanggar tari ini pun meminta Adam untuk belajar tari Lenggok karena Om Rudi melihat bakat terpendam dalam dirinya. Walau awalnya segan karena ingat ramalan Bunda Lilis, Adam akhirnya mau mempelajari tarian tersebut dan tinggal di “rumah” barunya. Lewat tarian inilah takdir Adam ditempa, jati dirinya dirajut, dan seorang pahlawan akan lahir.

Ketika perfilman tanah air seperti dizalimi oleh kehadiran produk-produk horor-mesum, invasi film-film berkualitas dangkal dan asal buat, lalu digempur oleh ketololan produser-produser berotak makanan cepat saji (filmnya yang penting balik modal, tidak peduli tak bergizi, membodohi dan meracuni penontonnya), “Madame X” muncul layaknya seorang pahlawan ditengah-tengah merajalelanya “kejahatan” berkedok hiburan untuk rakyat. Di tengah meningginya level pesimis penonton film terhadap kreasi lokal, Nia Dinata dan Kalyana Shira Films lewat film ini seperti ingin menjawab keragu-raguan penonton kita apakah sinema tanah air masih punya film yang pantas untuk ditonton. Jawabannya tentu saja anggukan tanda harapan itu masih ada. Kalyana Shira Films melanjutkan eksistensi dan konsistesinya dalam melahirkan film-film berkualitas (Ca-bau-kan, Arisan!, Janji Joni, Berbagi Suami), Bersama dengan sutradara Lucky Kuswandi, kali ini kerjasama mereka mengusung tema komedi berbalut action dengan cerita seputar superhero unik.

Berlatar belakang negeri antah berantah, “Madame X” sesekali melempar kritikannya, mengeluarkan cermin dari tas murahan Adam lalu memperlihatkan bayangan dari kondisi yang sedang dialami negara ini. Tidak hanya carut-marutnya situasi politik dan masalah tenaga kerja wanita tetapi juga masalah-masalah sosial lain, bahkan menyentil tayangan infotainment beserta artis-artisnya. Terbalut dengan komedi unik, film ini tak hanya ingin menggelitik rasa humor penontonnya tetapi juga mengajak kita untuk “tergelitik” sejenak melihat kenyataan apa yang sebenarnya terjadi dengan negeri indah ini. Mengingatkan jika sama seperti negeri dimana Adam hidup, negeri kita juga butuh seorang yang tidak perlu berkostum pahlawan seperti Adam tetapi cukup mempunyai hati “pahlawan”, untuk membela rakyat. Orang-orang yang tidak hanya duduk manis setelah dipilih lalu terampil menghabiskan uang rakyat, tapi negara ini butuh pahlawan-pahlawan yang berani menyuarakan suara rakyat bukan semata-mata demi partai dan golongannya.

Sentilan-sentilan itu dikemas dengan komedi yang bisa dibilang tidak berlebihan, dengan pancingan dialog-dialog dan adegan lucu, misi utama film ini untuk menghibur dan membuat penonton tertawa ternyata berhasil. Termasuk saya yang tidak pelit untuk membuka mulut lalu membiarkan penat di pikiran ini terlepas oleh tawa. Manjur sebagai penghilang stress, film ini juga ternyata “fun” untuk dinikmati, bergulir dari menit ke menitnya tanpa saya merasa bosan. Komedi yang tidak terlalu dibuat-buat mungkin itulah senjata rahasia film ini untuk bisa mudah dinikmati oleh saya. Ketika kebanyakan film bertema serupa (melirik film-film action-comedy yang lebih dahulu hadir) terlalu memaksa untuk lucu tapi berakhir tidak lucu sama sekali. Film ini justru tidak hanya mengandalkan adegan-adegan yang memang dipersiapkan untuk lucu dengan segala tingkah “bodoh” pemainnya, tetapi juga berhasil menghadirkan kelucuan yang datang dari dialog-dialog-nya, ditambah kemahiran para pemainnya untuk membawakan porsi dialog-dialog tersebut makin lucu.

Film ini tidak hanya berbeda dari penyajian komedi tetapi unik dari segi visual dimana ditambahkan pernak-pernik efek komputer untuk mendukung berbagai aksi Adam alias Madame X. Efeknya memang akan terlihat menggelikan dan “cheesy”, tapi saya tidak terganggu sama sekali dan justru menambah keasyikan menonton film ini. Karena sekali lagi seperti halnya komedi yang tidak terlalu dipaksa untuk menodongkan rasa humornya, film ini juga tidak memaksa dirinya untuk mengkilat dengan kecanggihan efek visual. Malah justru efeknya yang “cheesy” tersebut seperti memang disengaja untuk terlihat apa adanya, menambah keunikan yang sudah terbangun dari awal lewat cerita, karakter, dan komedinya. Film ini pun semakin tampil beda dengan balutan kostum yang esentrik, kaya warna, dan tidak biasa. Adegan-adegan aksi pun semakin semarak dengan kejutan-kejutan menggelikan yang melibatkan kostum, kapan lagi bisa melihat superhero yang bertarung dengan penjahat yang berpakaian ala ibu-ibu arisan lengkap dengan tas mahal di tangan. Akhirnya “Madame X” pun menyelesaikan misinya dengan baik, yaitu untuk menghibur para penonton dengan keajaiban, keunikan, dan kelucuannya.

Sang Pencerah at 22:19 - 1 October 2010.
8

Film biopik bisa dibilang tema yang jarang diangkat ke layar lebar, terlebih memfilmkan pahlawan nasional atau tokoh yang berpengaruh dari bangsa sendiri. Tercatat hanya ada beberapa film biopik yang pernah menorehkan tinta emasnya dalam sejarah sinema tanah air, diantaranya Raden Ajeng Kartini (1984) karya Sjuman Djaya, Tjoet Nja’ Dhien karya Eros Djarot di tahun 1988, Marsinah (2001) karya Slamet Rahardjo, terakhir Riri Riza sukses mengangkat nama Soe Hok Gie ke layar lebar lewat Gie di tahun 2005. Tahun ini pun sebenarnya kita memiliki film biopik, namun Obama Anak Menteng tidak bercerita tentang tokoh dalam negeri tetapi kisah hidup masa kecil Presiden Obama ketika tinggal di Indonesia (sebentar). Beruntung kita masih punya kisah inspiratif lain, film biopik lain yang akan memperkenalkan kepada kita siapa itu K.H Ahmad Dahlan. “Sang Pencerah” yang ditulis dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo pun mencoba untuk tidak tampil sebagai film yang mewakili agama tertentu, tetapi dengan bijak sanggup merangkul siapa saja yang ingin mengenal sosok K.H Ahmad Dahlan, yah siapa pun anda…

Lahir dengan nama Muhammad Darwis, si kecil Ahmad Dahlan sudah menunjukkan sisi kepeduliannya dan kegelisahannya terhadap pelaksanaan agama Islam di Kauman yang dimatanya sedikit agak melenceng dari apa yang diajarkan. Anak dari Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta dan lahir pada 1 Agustus 1868 ini semakin menunjukkan sikapnya yang kritis terhadap agamanya sendiri ketika beranjak remaja, sampai-sampai Darwis “iseng” mencuri sesajen warga untuk dibagikan kepada fakir miskin. Darwis pun meninggalkan Kauman dan pergi haji ke Mekah sambil menuntut ilmu serta mendalami ajaran Islam. Sekembalinya dari Mekah, Darwis yang kini mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan, melihat Kauman yang ditinggalkan selama 5 tahun ternyata tidak banyak berubah termasuk ajaran Islam yang masih dicampur-adukan dengan kebudayaan mistis. Ditambah para pemuka agama yang masih “kolot” dalam menerima perubahan, menolak semua yang berkaitan dengan Belanda dan melabelinya dengan produk kafir.

Ahmad Dahlan dengan pemikirannya yang lebih luas, bijaksana, namun kadang terucap dengan sederhana ini berniat untuk meluruskan arti ajaran Islam yang sesungguhnya. Dia pun dipercaya menggantikan ayahnya menjadi Khatib Mesjib Besar Kauman dan mulai membangun surau di dekat rumahnya. Surau inilah yang akan menjadi pusat penyebaran pemikiran dan ajaran Dahlan. Mengubah sudut pandang ajaran Islam yang sudah tumbuh selama setengah abad di Kauman memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, langkah kontroversial Dahlan ingin mengubah arah kiblat pun mengundang pertentangan dari penduduk Kauman dan tentu saja penolakan keras dari Kyai-Kyai disana. Ajarannya pun dianggap sesat dan berakhir dengan dirobohkannya surau miliknya. Sempat putus asa dengan reaksi saudaranya sesama muslim (memperlihatkan dia masih manusia biasa), di bantu dengan dukungan keluarga, Dahlan kembali bangkit dan meneruskan ajarannya demi kebaikan umat. Ahmad Dahlan yang sangat mementingkan pendidikan pun segera membangun sekolah, dia pun mengajar di sekolah Belanda dan mulai terlibat organisasi Budi Utomo. Reaksi keras pun kembali bertubi-tubi menghadangnya termasuk “gelar baru” kyai kafir yang diberikan kepada Dahlan.

“Sang Pencerah” bukan soal agama siapa yang benar atau salah tapi berbicara tentang perbaikan terhadap diri sendiri untuk agama. Saya jarang terbawa secara emosional saat menonton film Indonesia dan film ini dengan bijaksana dapat menuntun penontonnya untuk duduk bersama dengan Ahmad Dahlan tanpa terlihat ingin menggurui. Bertemakan film Islam, Hanung dengan cermat dapat menyingkirkan egonya dan melebarkan celah yang sebelumnya dibilang sempit menjadi selebar gerbang Mesjid Besar Kauman, yang akhirnya melahirkan sebuah film yang bisa ditonton semua orang, non-muslim sekalipun. Walau ini film bercirikan Islam tapi Hanung sanggup mengisi durasi 2 jam filmnya untuk seimbang, tidak melulu menangkap potret Islam itu sendiri, tapi berhasil juga memotret sosok Ahmad Dahlan dengan segala pemikiran dan inspirasinya yang terbalut dengan drama kehidupan yang saya kira bisa diterjemahkan dengan keyakinan manapun.

Saya tidak menyangka Hanung sanggup membalik banyak halaman sejarah, lalu dengan caranya berhasil memvisualisasikan rentang perjalanan hidup seorang Ahmad Dahlan dan dia melakukannya dengan baik. Walau sepertinya film ini terlalu banyak menjejalkan kita dengan potongan demi potongan sejarah tentang Ahmad Dahlan, tetapi pada akhirnya saya cukup betah mendengarkan cerita yang dibacakan oleh Hanung. Kejutan lain yang diberikan Hanung selain bagaimana dia sanggup membuat cerita yang mudah dinikmati, dia juga mengemas film ini dengan kualitas yang jarang dimunculkan untuk ukuran film Indonesia. Saya kembali menyebutkan kata “jarang” untuk kedua kalinya, kali ini untuk sebuah kualitas, karena Hanung berhasil memperlihatkan bagaimana film yang dibangun dengan pondasi cerita yang kokoh dapat berdiri cantik dengan sisi teknis yang manis. Lihatlah bagaimana kota Yogyakarta dan sekitarnya termasuk Kauman versi tahun 1800-an sanggup direka-ulang oleh film ini, berhasil menyatu dengan cerita dan penonton bisa seperti diajak kembali ke masa lalu. Tentu saja suasana masa lalu itu juga didukung oleh sinematografi yang apik menangkap setiap potret keadaan 100 tahun yang lalu, bersama dengan memotretkan setiap keindahan dari potongan sejarah Ahmad Dahlan.

Langkah Hanung untuk menyutradarai film yang ditulisnya sendiri merupakan langkah yang tepat, selanjutnya memilih Lukman Sardi untuk memerankan Ahmad Dahlan adalah langkah jitu berikutnya. Sosok pendiri Muhammadiyah tersebut seperti memang telah menunggu lama untuk diperankan oleh Lukman Sardi, dan aktor serba bisa ini berhasil memerankannya dengan meyakinkan. Dengan memikul tanggung jawab besar dan beban tidak ringan melakonkan pendiri Muhammadiyah tersebut, Lukman Sardi semakin memantapkan dirinya sebagai aktor terbaik yang dimiliki negeri ini. Pemain lainnya juga berhasil memaksimalkan porsi akting yang diberikan kepadanya. Termasuk para pemain muda seperti Giring, Dennis Adishwara, dan kawan-kawan, yang sukses memasukkan akting serius mereka divariasikan dengan humor-humor segar. Membawa film ini untuk tidak terus menerus tampil serius atau sedih tetapi juga ada kalanya sanggup memancing tawa penontonnya.

Jika dilihat dari sudut pandang lain “Sang Pencerah” terlihat jelas seperti sebuah cermin bergerak yang memantulkan bayangan atas apa yang tengah terjadi di masa sekarang. Dimana agama yang seharusnya menyatukan justru menjadi korban, dijadikan kambing hitam dan alat pemecah belah perdamaian. Terlepas dari apakah Hanung ingin mencoba mengingatkan bahwa 100 tahun silam “kekacauan” juga pernah terjadi, “Sang Pencerah” jelas lebih terasa seperti pengetuk hati. Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan banyak nilai-nilai moral yang bermanfaat, tetapi lewat film ini kita juga diperkenalkan dengan kisah-kisah inspiratifnya yang mencerahkan. “Sang Pencerah” layaknya seorang guru yang pandai bermain biola (oh iya, iringan musik di film ini sangat indah!!) dan bercerita tetapi tidak memaksa muridnya untuk terasa digurui, serta menjadi panutan bagaimana seharusnya film Indonesia dibuat, yah kita bisa membuat film bagus jika memang mau. Wajib tonton!

Darah Garuda at 22:18 - 1 October 2010.
6

Disandingkan dengan pendahulunya, film kedua dari trilogi Merah Putih yang sekarang diberi judul “Darah Garuda” ini jelas terdengar lebih lantang ketika berteriak “merdeka” dalam artian berjuang lebih keras demi memenuhi harapan penonton akan sebuah sekuel. Berbicara soal “merdeka” saya jadi bertanya-tanya sendiri, sudah berapa lama kita tidak disuguhkan aksi patriotisme lewat film-film bertema perang kemerdekaan? judul-judul seperti “Pasukan Berani Mati” (1982), “Serangan Fajar” (1981), “Soerabaia 45” (1990), “Naga Bonar” (1987), dan “Tjoet Nja’ Dhien” (1988), menyadarkan saya begitu banyaknya kisah perjuangan yang difilmkan bertebaran di era tahun 80-90an. Tapi begitu menginjak milenium baru, tema pengobar semangat cinta tanah air tersebut tampaknya hangus terbakar oleh tema film horor. Alih-alih mengajak “mengheningkan cipta”, film-film lokal yang bermunculan di bioskop mulai dibanjiri suara-suara teriakan ketakutan. “Merah Putih” pun hadir di tahun 2009, menjawab kerinduan kita akan film bernafaskan perjuangan kemerdekaan Indonesia, ironisnya film ini tidak murni buatan bangsa sendiri.

Saya kesampingkan dahulu fakta bahwa “Merah Putih” dan triloginya yang diboncengi nama-nama “bule”, karena film ini toh dikomandani oleh orang Indonesia, Yadi Sugandi, seorang sinematografer handal yang tangkapan gambar terakhirnya bisa kita nikmati di film “Minggu Pagi di Victoria Park”. Jadi setelah film pertama ini “selamat” dari gempuran penonton yang berdatangan untuk menonton dengan beragam opini, kritik, dan juga kekecewaan yang dibawa mereka keluar bioskop—saya termasuk dalam golongan mereka yang kecewa—apakah sekuelnya benar-benar mampu memborbardir rasa kecewa dan membangkitkan rasa patriotik, memanfaatkan momentum hari kemerdekaan republik ini? merdeka atau mati. “Darah Garuda” melanjutkan segerombolan pejuang dari pihak tentara Republik Indonesia yang masih bau kencur dalam urusan perang. Amir (Lukman Sardi), Dayan (Rifnu Wikana), Marius (Darius Sinathrya), Tomas (Donny Alamsyah) yang baru saja lulus dari sekolah tentara beruntung bisa selamat dari serangan Belanda.

Empat pejuang yang dibedakan oleh asal daerah dan keyakinan ini, disatukan hanya oleh satu keinginan: merdeka. Setelah berhasil menyelamatkan teman-teman mereka, Amir dan kawan-kawan sekarang bergerilya di hutan belantara Jawa Barat. Sampai akhirnya kelompok kecil pejuang ini bertemu dengan pasukan Jenderal Sudirman dan diberi tugas untuk menghancurkan lapangan udara milik Belanda. Dengan tambahan pasukan, Amir, Dayan, termasuk orang baru Yanto (Ario Bayu), dan yang lainnya, beranjak menjalankan rencana. Tapi belum apa-apa, jalan menuju target sasaran sudah menyulitkan para laskar merah putih kita, mereka terhadang oleh blokade tentara Belanda dan terpaksa melawan. Pertempuran yang tidak seimbang ini menghabisi satu-persatu nyawa dari pihak pejuang, menyisakan hanya sedikit, tidak ada waktu untuk berduka mereka harus meneruskan tugas yang diembannya. Perjuangan semakin berat ketika penjajah bukanlah satu-satunya musuh mereka, karena penghianatan mengintai dari balik selimut perjuangan.

Berisikan gabungan antara kru-kru dalam negeri sendiri dan “bule”, film ini pun seperti mengawinkan dua gaya yang berbeda, timur dan barat. Hasilnya adalah sebuah cerita dan penggambaran tentang perjuangan bangsa Indonesia yang bercitarasa agak hollywood. Yadi pun sekarang tidak lagi “berjuang” sendiri tetapi dikawal oleh Conor Allyn sebagai sutradara kedua, Conor juga masih menuliskan cerita film ini bersama dengan Rob Allyn. Apa yang saya harapkan untuk muncul di film pertama ternyata memang disiapkan untuk film kedua, yah jika anda juga menunggu adegan perang, semua itu akan hadir di sekuel berjuluk “Darah Garuda” ini. Berbeda dengan pendahulunya yang difokuskan sebagai perkenalan satu-persatu karakternya, film kedua seperti menuliskan lembar demi lembar takdir yang akan diterima setiap karakter. Para karakternya berkembang disini dan semua dilipatgandakan dari drama, romansa, dan action itu sendiri.

Film pertama bukannya tidak ada action sama sekali, ada, tapi telanjur mengecewakan mereka yang berharap bisa menonton film penuh ledakan dan banjir peluru. Trailer dari “Darah Garuda” menjanjikan, sekilas film ini sepertinya punya niat untuk mengobati kekecewaan penonton. Adegan-adegan action memang bertambah tapi kemunculannya masih bisa dibilang kurang memacu adrenalin untuk menari-nari diantara desingan peluru dan dentuman bom. Sebaliknya film ini memberikan sisi drama dengan porsi yang lebih, bisa dibilang terlalu berlebihan. Drama yang dibalut dengan intrik-intrik penghianatan memang sanggup menambah variasi cerita dengan pernak-pernik dramatisasi disana-sini. Beberapa ada yang menarik dengan mengumpankan penonton dengan perseteruan antara tentara dengan milisi berbasis Islam, sekali lagi mengandalkan konflik kepercayaan dan penghianatan. Pihak Belanda juga diberikan porsi lebih untuk bercerita, berbeda dengan film pertama yang didominasi oleh cerita dari sisi para pejuang saja.

Sayangnya dengan persoalan-persoalan yang intensitasnya ditingkatkan, hal ini tentu saja berdampak pada adegan-adegan yang dipaksakan untuk menyelesaikan semua persoalan yang hadir. Beberapa adegan dengan unsur drama berhasil mencuri durasi lebih lama dan hasilnya selain memberi ketegangan lebih antara pihak yang bersiteru, secara bersamaan juga seperti menodongkan penonton dengan kalimat-kalimat membosankan. Skrip yang ditulis oleh duo Allyn sepertinya masih menjadi persoalan ketika diterjemahkan ke dalam bahasa kita, sama seperti film pertama, kita masih akan mendengar dialog-dialog yang cukup menganggu didengar oleh kuping pribumi. Tidak saja karena kalimat-kalimat tersebut jarang diucapkan tapi siapa saja yang mendengarkan dengan baik, pasti langsung sadar dialog tersebut diterjemahkan secara mentah-mentah dari skrip berbahasa Inggris dan dipaksakan untuk cocok dengan bahasa Indonesia. Ketika film kita selalu terbentur dengan masalah bahasa, antara baku dan tidak baku, ada baiknya persoalan bahasa ini tak dianggap remeh. Karena tidak hanya mata yang ingin dimanjakan tetapi juga telinga.

Berkaca pada kekurangan, “Darah Garuda” tentu saja masih punya kelebihan-kelebihan yang sayang untuk dilewatkan. Kedatangan Ario Bayu dan Atiqah Hasiholan (berperan sebagai pejuang wanita) ke dalam barisan pemain makin menambah warna dalam film ini dan merekrut mereka untuk ikut berjuang adalah langkah yang benar. Akting keduanya bahkan dirasa lebih menonjol ketimbang pemain lain yang sudah lebih dahulu terjun ke medan pertempuran. Lukman Sardi dan kawan-kawan sayangnya hanya melanjutkan apa yang sudah ada tanpa diberi kesempatan untuk mengembangkan karakternya, mungkin hanya Rahayu Saraswati sebagai Senja yang diberi variasi lebih daripada sebelumnya. Jika dikatakan minim action, tidak juga, karena adegan aksi memang dilipatgandakan di film ini, dengan dramatisasi ala hollywood yang dikemas apik oleh tim spesial efek yang khusus diimpor dari luar negeri. “Darah Garuda” dengan teriakan “merdeka” yang lebih lantang mampu menghadirkan perjuangan yang lebih bernyawa, dengan iringan alunan musik indah dari Thorsie Argeswara. Namun perjuangannya untuk memompa semangat patriotisme masih perlu dibuktikan lagi, karena pertempuran masih belum usai dan trilogi “Merah Putih” masih memiliki kesempatan untut berjuang lagi di film terakhir yang dijadwalkan rilis bulan Desember. Merdeka!

7

Menyebut nama Zack Snyder tentu saja membuat saya spontan bergerak mundur ke tahun 2004, tahun dimana dia melakukan “dosa” terbesar yang justru membuat namanya dielu-elukan banyak penggemar zombie. Ketika film zombie dipandang sebelah mata, Zack justru memilih untuk mendaur-ulang karya George Romero, mengambil sekop dan mulai menggali pemakaman umum. Membangkitkan “Dawn of The Dead” untuk sekali lagi diberi kesempatan menyebarkan “virus” ketakutan dan menggelar karpet merah kepada penghuni neraka untuk hadir di bumi. Hingga saat ini ketika saya bertanya “apa film zombie terbaik” pada mereka penggila film zombie, film ini pasti selalu ada di salah-satu list mereka. Langkah Zack di Hollywood pun makin bersinar ketika dia dipercaya untuk memimpin ribuan pasukan Sparta maju ke medan perang melawan jutaan pasukan Persia. “300” tidak hanya sukses mereka-ulang kisah kepahlawanan Leonidas dan anak buahnya di Thermopylae yang melegenda itu menjadi perang brutal sekaligus berkelas, tetapi juga sanggup berteriak lantang “This is Sparta!” di singgasana box office.

Setelah terbilang sukses mengadaptasi novel grafis Frank Miller, Zack kembali dengan kisah kepahlawanan berikutnya, sebuah kisah kompleks superhero yang diadaptasi dari 12 seri komik karya Alan Moore, “Watchmen”. Melihat jejak penyutradaraanya yang selalu melibatkan darah dan kebrutalan, menjadi menggelikan ketika melihat namanya terpampang dalam sebuah film yang notabennya diperuntukan bagi keluarga (anak-anak). “Legend of Guardians: The Owls of Ga’Hoole” seperti sebuah pembuktian dan sekaligus tantangan, apakah itu Zack sanggup menghadirkan hiburan yang diharapkan dari debut pertamanya di dunia animasi dan keluar lagi sebagai pemenang. Tantangan itu semakin berat ketika tahun 2010 yang bisa dibilang tahunnya film animasi ini, sudah menelurkan beberapa film animasi terbaiknya sebelum para burung hantu ini mengepakkan sayapnya. How To Train Your Dragon, Toy Story 3, dan bahkan Despicable Me sudah lebih dahulu menorehkan namanya di hati para penggemar animasi, apakah film yang diadaptasi dari buku karya Kathryn Lasky berhasil bergabung dengan mereka?

“Legend of Guardians: The Owls of Ga’Hoole” mengawali kisahnya dengan mimpi anak burung hantu bernama Soren yang terobsesi dengan cerita-cerita ayahnya, Noctus (Hugo Weaving), yang sering mendongengkan kisah heroik para penjaga Ga’Hoole dan perang di masa lalu. Selagi Soren berharap suatu saat bisa bertemu dengan para pahlawannya itu, Kludd (Ryan Kwanten) sang kakak justru membenci dongeng sebelum tidur tersebut. Dia juga cemburu kepada Soren karena adiknya lebih diperhatikan dan pada saat keduanya berlatih terbang, ayah mereka lebih sering memuji Soren. Kecemburuan Kludd akhirnya berbuah kemalangan ketika dua kakak-beradik ini terjatuh dari rumah lalu “diculik” oleh dua burung hantu. Soren dan Kludd dibawa ke tempat dimana burung hantu jahat bernama Metalbeak (Joel Edgerton) “bersembunyi”. Berkedok penampungan anak yatim piatu bernama St. Aggie, dia dan Nyra (Helen Mirren) mengumpulkan anak-anak burung hantu untuk dijadikan budak. Soren pun berniat untuk kabur setelah bertemu dengan Gylfie (Emily Barclay), sedangkan Kludd justru terbujuk rayuan jahat “Pure Ones”.

Minus perut kotak-kotak, burung-burung hantu Ga’Hoole ini ternyata juga mampu tampil mengintimidasi dan sangar. Sayap mereka tak ubahnya tameng yang sanggup menahan segala serangan, saat bertarung helm mereka akan saling beradu menciptakan percikan-percikan api, dan cakar-cakar besi itu akan menjadi senjata mematikan. Jika saja Snyder tidak sedang membuat film untuk anak-anak, mungkin dia akan tergiur untuk membuat film ini menjadi “300” versi burung hantu. Snyder betul-betul mencampurkan gaya khas action-nya ke dalam setiap adegan pertarungan. Animasi yang bisa terbilang memukau berkat tangan-tangan magis Animal Logic ini tidak hanya berhasil menyulap kerajaan para burung hantu menjadi dunia yang indah, tetapi juga mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan baik, mengkonversi apa yang diinginkan Snyder lalu mencetaknya ke dalam kualitas animasi yang punya kelas tersendiri. Adegan-adegan pertarungan disini menjadi “memorable” ketika animasinya sendiri begitu mendukung slow-motion yang sudah jadi ciri Snyder, ditampilkan tidak berlebihan dan ditempatkan dengan pas dalam adegan demi adegan yang memang sangat perlu hal-hal berbau dramatisasi visual.

Kesan kelam memang terasa ketika tiba saatnya saya mengunjungi para “Pure Ones” tapi itu hanya sebatas untuk makin menjelaskan perbedaaan siapa yang jahat dan yang baik. Snyder mengerti batas-batasnya sama seperti dia meramu adegan pertarungan yang saya pikir bisa saja berubah lebih berdarah dan brutal, menjadi lebih “bersahabat” ditonton keluarga dan anak-anak. Visual memang lebih bercerita ketimbang alur ceritanya sendiri, menempatkan posisinya hanya sebagai hiburan dengan cerita yang mudah ditebak lewat kisah-kisah standart “from zero to hero” dan konflik bermoral antara kebaikan melawan kejahatan. Walau mengkhianati potensi ceritanya untuk menjadi lebih berkesan, sajian cerita “ala kadarnya” yang mudah ditebak ini sama sekali tidak mengganggu upaya film ini untuk terus menghibur. Karakter-karakternya lucu dengan pengisi suara yang juga pas meminjamkan suaranya pada masing-masing karakter burung hantu, apalagi ditambah logat Inggris begitu kental disini. “Legend of Guardians: The Owls of Ga’Hoole” pun pada akhirnya menjadi petualangan animasi yang menyenangkan sekaligus menjadi bukti jika Snyder juga sanggup “melatih dan menjinakkan” sekelompok burung hantu menjadi atraksi utama yang menghibur.

Laskar Pemimpi at 22:15 - 1 October 2010.
4

Peringatan kemerdekaan Republik ini memang sudah lebih dari sebulan berlalu tetapi melalui film-film bertema perang kemerdekaan, semangat nasionalisme itu coba dibakar kembali. Setelah sekuel Merah Putih, Darah Garuda, hadir lebih dahulu di awal bulan September, kali ini sebuah film karya Monty Tiwa, “Laskar Pemimpi”, ikut mengangkat senjata dan “bergerilya” di bioskop-bioskop tanah air. Berbeda dengan film-film bertema serupa, pendekatan yang diambil Monty adalah dengan menggabungkan unsur action dengan komedi untuk hadir diantara drama perang yang berlatar belakang agresi militer Belanda di tahun 1948 dan serangan umum 1 Maret 1949. Sutradara yang sebelumnya menyutradarai film horor “Keramat” ini juga membalut film perangnya dengan sentuhan musikal, jadi Tika dan kawan-kawan dari Project Pop tidak hanya akan “berjuang” untuk berakting lucu tapi juga menyuguhkan kepiawaian mereka dalam menghibur lewat lagu.

“Laskar Pemimpi” berkisah tentang sekelompok laskar pejuang amatir berlatar belakang yang beragam, mereka adalah Sri Mulyani (Tika Project Pop), gadis desa Maguwo yang lugu dan gemar tidur, Udjo (Udjo Project Pop) seorang keturunan ningrat yang manja, Tumino (Gugum Project Pop) peternak bebek dan Ahok (Odie Project Pop) seorang pedagang kecil keturunan Tionghoa. Mereka bergabung dalam pasukan gerilya pimpinan Kapten Hadi Sugito (Gading Marten) setelah menjadi korban agresi militer Belanda ke-2 bulan Desember 1948. Dalam pasukan pejuang yang bermarkas di desa Panjen ini, Sri dan kawan-kawan bertemu dengan Toar (Yosi Project Pop) seorang pejuang asal Manado yang bermata rabun, Kopral Jono (Dwi Sasono), playboy kelas teri yang pangkatnya sudah sering diturunkan oleh Kapten Hadi.

Mereka semua ternyata ditakdirkan untuk berjuang bersama-sama, apalagi ketika pasukan Belanda yang dipimpin Letnan Kuyt menyerang desa Panjen lalu menangkap Wiwid (Shanty), pacar Udjo, dan Yayuk (Masayu Anastasia) yang tidak lain adalah kekasih Jono sang kopral playboy. Mengesampingkan perintah atasan mereka untuk bersiap-siap dalam sebuah serangan besar-besaran ke kota Yogjakarta, Kopral Jono dan yang lain terlebih dahulu merencanakan misi penyelamatan Wiwid, Yayuk, dan ayah Sri yang sama-sama ditawan Belanda. Beruntung mereka berhasil menahan salah-satu pasukan Belanda, Once (Oon Project Pop), walau mengalami gegar otak akibat menerima tinju Sri tetapi masih sanggup memberikan informasi berharga keberadaan markasnya. Dari informasi inilah, kelompok pejuang memulai operasi rahasianya, berhadapan dengan segala rintangan dan juga teman-teman lain sesama pejuang. Berhasilkah mereka menyelamatkan orang-orang yang mereka sayangi dan sanggupkah pejuang kita bergabung kembali dengan pasukan Kapten Hadi untuk bergabung dalam serangan umum 1 Maret?

Sinopsis film diatas memang akan terlihat seperti sajian film perang yang serius, namun sebaliknya Monty menyuguhkan sebuah film perang yang bisa dibilang tidak serius. Tentu saja karena tema yang dipilih pun komedi, wajar jika menempatkan porsi lelucon dibarisan depan sebagai daya jual film ini. Langkah tersebut didukung oleh jajaran para pemain, salah-satunya dengan memboyong grup yang sudah terkenal dengan guyonan-guyonannya, yaitu Project Pop. Tapi apakah berhasil mendongkrak tingkat komedi yang diharapkan? saya bisa bilang tidak terlalu. Film ini serba tanggung, ketika fokus film ini memang ingin terlihat lucu (hmm), sepertinya unsur perang dan action-nya sendiri jadi disesuaikan untuk menjadi menggelikan dan konyol. Mau lucu boleh saja, tapi apakah harus memangkas kualitas filmnya sendiri, walau komedi, jika film yang tayang pada 30 September ini punya niat “serius” menyulap setting-nya jadi benar-benar bernuansa tahun 40-an akhir, bukankah itu jadi nilai plus sendiri. Selain penggunaan bahasa yang memang campur aduk (tidak disesuaikan dengan tahunnya), filmnya sendiri “ogah-ogahan” untuk menampilkan aksi perang yang setidaknya terlihat memang sedang perang.

Sebagai gantinya setiap adegan perangnya akan seperti kumpulan anak kecil bermain perang-perangan lengkap dengan pistol air, oke adegan perangnya sudah penuh dengan coretan merah, action-nya juga lagi-lagi dipaksa untuk konyol untuk menyokong rasa humor film ini. Tapi apakah semua elemen tersebut berhasil menjadikan film ini menjadi lucu? saya rasa tidak. Saya malah seperti sedang melihat video Project Pop versi lebih panjang, yah saya tahu mereka lucu tapi sebatas hanya itu-itu aja, saya sering melihat mereka lebih lucu di televisi daripada di film ini. “Laskar Pemimpi” hanya mendaur-ulang humor-humornya, lelucon kadaluarsa yang ditodongkan pada setiap penontonnya, lalu memaksa saya menyerah begitu saja untuk tertawa. Sayangnya “ranjau-ranjau” yang diharapkan dapat menjebak dan meledakkan kelucuan yang menyegarkan itu gagal, film ini pun gagal membuat saya mengibarkan bendera putih karena tidak kuat menahan tawa, karena toh memang tidak ada yang perlu ditertawakan disini. Beruntung saya masih bisa terhibur dengan unsur musikal yang diselipkan diantara komedinya yang tidak lucu, para pejuang ini lebih enak didengar ketika bernyanyi ketimbang berakting lucu. Setidaknya film ini masih punya hiburan yang bisa saya nikmati dan mencegah saya untuk menyerah dan lalu tertidur pulas. Merdeka!

The Last Exorcism at 22:13 - 1 October 2010.
6

Pendeta Cotton Marcus (Patrick Fabian) hidup bersama dengan istri dan anaknya yang cacat di Baton Rouge, Louisiana. Untuk menghidupi keluarganya, Marcus memanfaatkan keahliannya untuk melakukan ritual pengusiran setan dan dia dibayar atas pekerjaan yang dia sendiri sebut sebagai penipuan ini. Namun sejak tragedi yang dia baca di salah-satu artikel surat kabar mengenai anak autis yang tewas akibat prosesi pengusiran setan, dia berniat untuk “tobat” dan berhenti melakukan hal yang sama karena mengingatkan dia dengan anaknya yang cacat. Marcus yang tengah dilanda krisis keimanan pun berencana untuk membongkar praktek pengusiran setan dan mengekspos kepada publik bahwa hal tersebut hanya penipuan belaka, rekayasa yang tidak berhubungan dengan “gaib” tetapi hanya masalah psikologis dan bisa disembuhkan dengan semacam “sugesti”.

Marcus memilih media film dokumenter untuk menjalankan misinya ini bersama dengan seorang produser, Iris Reisen (Iris Bahr) dan kameramen bernama Dave Moskowitz (Adam Grimes). Setelah memilih secara acak lokasi yang akan didatangi melalui surat yang dikirimkan kepada Marcus yang mengundangnya untuk melakukan “pengusiran”, mereka pun memutuskan pergi ke rumah Louis Sweetzer (Louis Herthum). Bapak dari dua orang anak yang sudah ditinggal istrinya ini mengaku bahwa anak perempuannya yang benama Nell (Ashley Bell) telah dirasuki roh jahat. Binatang ternaknya pun mati secara mendadak bukan disebabkan buaya yang memang bebas berkeliaran didaerah itu, tapi Louis menuduh Nell membunuhnya. Dia memberikan bukti pakaian Nell yang penuh darah tapi anaknya tidak pernah ingat apa yang terjadi. Setelah mengetahui situasinya dan sudah siap dengan segala triknya, Marcus pun segera beraksi dan meyakinkan Louis jika anaknya memang kerasukan. Marcus memang tampaknya tahu bagaimana “menipu”, tapi yang tidak dia ketahui adalah Nell bukan hanya jadi pengusiran setan terakhirnya tetapi juga akan menjawab kebingungannya selama ini tentang keberadaan Tuhan sekaligus meyakinkan dirinya bahwa iblis itu memang ada.

“The Last Exorcism” sangat cerdik memancing saya untuk penasaran dengan film ini, tidak hanya dengan temanya yang lagi-lagi membawa “pengusiran setan” (terakhir saya cukup dihantui oleh The Exorcism of Emily Rose (2005) dan tentunya tidak pernah lupa dengan iblis menggemaskan yang merasuki Linda Blair kecil di The Exorcist) tapi juga film yang disutradarai Daniel Stamm ini punya viral marketing yang menarik selain trailernya yang juga menggiurkan. Sedikit berbicara soal viralnya, jadi sudah disiapkan sebuah video dengan model wanita yang berbeda-beda, sudah pasti video ini dikhususkan untuk menjebak para lelaki (termasuk saya). Di video tersebut diperlihatkan bahwa sang model sedang membuka satu-persatu kancing bajunya, tapi bukannya melepas baju (itu yang diharapkan saya) si wanita yang ada di dalam video justru merubah wajahnya jadi menyeramkan dan mendekat dengan cepat ke arah kamera, meninggalkan “kekecewaan” dan juga kejutan secara bersamaan. Begitulah film ini akan berjalan dari menit ke menit-nya, beberapa bagian mengecewakan tetapi masih tertutupi dengan kejutan-kejutan yang makin membuat saya penasaran menunggu apa yang sebenarnya terjadi.

Film ini memilih mockumentary sebagai medium untuk menyampaikan rasa ketakutan, membalut ketegangan yang meyakinkan, dan menangkap dengan natural setiap momen berakting para pemainnya. Ketika melangkahkan kaki di rumah Louis, saya diajak tur keliling rumah sambil berkenalan dengan penghuninya satu persatu, termasuk dengan Caleb, anak laki-laki Louis yang tampaknya tidak suka dengan kehadiran Marcus di rumahnya. Sedangkan Nell sendiri diperlihatkan sangat bersemangat, periang, dan mudah “excited”, termasuk ketika diberi sepatu oleh Iris. Nell memang tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia sedang kerasukan tapi saya bisa merasakan ada yang tidak beres dengan keluarga ini dan juga Nell. Sayangnya Marcus masih fokus untuk dengan misinya mengekspos praktek pengusiran setan palsu, mempersiapkan pertunjukan “sulap”nya dan akhirnya lupa jika tidak semua keanehan yang dia temukan bisa diungkapkan secara logika, medis, dan ilmu pengetahuan. Marcus dan krunya tidak hanya satu-satunya yang menjadi saksi mata jika kekuatan gaib itu memang ada ketika Nell mulai “beraksi”, tetapi saya juga dibuat terkejut ketika gadis yang dipaksa ayahnya untuk sekolah di rumah ini makin memperlihatkan keanehan. Rasa penasaran saya pun semakin memuncak disertai pancingan-pancingan sang sutradara Jerman untuk memberikan ketegangan di filmnya.

Kemasan ala dokumenter disini memang berhasil untuk mendukung atmosfir filmnya, ditambah lagi suasana rumah yang memang sudah menyeramkan dan Stamm mencoba mengarahkannya untuk tidak berlebihan. Bahkan jika ada yang enggan menonton film ini karena masih trauma “pusing” dengan Cloverfield, atau masih percaya dengan mitos jika mockumentary itu selalu erat kaitannya dengan kamera selalu bergoyang. Percayalah film ini menangkap adegan demi adegannya setenang kamera milik Micah di “Paranormal Activity”, jadi tidak perlu takut terganggu dengan pergerakan kameranya. Bahkan bisa dibilang unsur mockumentary digarap dengan apik, mengingatkan saya dengan film horor serupa tapi minus kerasukan “Lake Mungo”. Sayangnya ketika film ini berhasil “menipu” saya untuk percaya semua ini nyata (sama seperti Marcus yang lihai memanipulasi klien-kliennya dengan trik pengusiran setan), dengan segala trik kamera, efek musik minimalis, dan juga jangan lupakan akting pemainnya yang bagus. Bersama bergulirnya rangkaian cerita, film ini tampak terengah-engah untuk menampilkan ketegangan di film yang diproduseri oleh Eli Roth ini.

Ketegangan dan kengerian yang seharusnya mencengkram kuat tidak saya rasakan disini, jika rasa penasaran berhasil “merasuki” dengan sekali serangan, dua unsur tersebut justru terasa hanya menggelitik saya malu-malu. “The Last Exorcism” bukanlah horor yang buruk tapi juga tidak terlalu istimewa dan beruntung bagi mereka yang belum melihat trailer-nya, karena saya bisa bilang terlalu banyak yang diekspos disana. Tapi tenang saja karena film ini masih menyisakan kejutan lain dan ending yang membuat saya tercengang sebentar lalu baru menyadari jika filmnya sudah selesai. Yah ketika saya beranggapan film ini sudah selesai dan berkata “apa hanya begitu saja?!” ternyata itu hanya tipuan klise yang mengantarkan kita pada akhir yang sebenarnya, sebuah “encore” yang sudah dipersiapkan film ini sebagai kado kejutan bagi anda yang masih saja penasaran.

Resident Evil: Afterlife at 22:09 - 1 October 2010.
5

Alice kembali!!…bukan di dunia ajaib bernama wonderland tapi masih di bumi dan masih dengan para zombie. “Resident Evil: Afterlife”, menambah satu seri lagi dalam daftar franchise adaptasi game survival-horror yang dimulai tahun 2002 ini. Bukan suatu kejutan jika pada akhirnya franchise ini akan berlanjut ke film ke-4 tahun ini, bermodal kepercayaan diri karena kesuksesan secara komersil—dengan bujet dibawah $50 juta, film-film “Resident Evil” selalu mencuri perhatian penonton dan meraih untung berlipat ganda—tentu saja zombie-zombie ini akan kembali tergiur wangi uang, walau mendapat kritikan pedas dari para kritikus dan pecinta game-nya. Lalu, selain Alice siapa lagi yang “lolos” dari kejaran mayat hidup dan kembali untuk “survive” di film terbaru? ternyata Paul W. S. Anderson juga kembali turun tangan menyutradarai film yang dimulainya 8 tahun yang lalu. Dia memang tidak duduk di kursi panas sutradara di 2 sekuel berikutnya namun tetap menulis naskahnya merangkap sebagai produser. Jadi apakah dengan nasib Alice dan kawan-kawannya berada di tangan Mr. Anderson (lengkap dengan cara bicara agent Smith di The Matrix), film ini akan jauh lebih baik dari pendahulu-pendahulunya?

Alice diceritakan sudah mengetahui bahwa dirinya dikloning oleh perusahaan Umbrella, musuh bebuyutannya. Dipicu oleh balas dendam, dia pun memanfaatkan saudara-saudara se-DNA-nya untuk ikut bergabung menyerang markas perusahaan berlogo payung merah ini. Alice disini akan mengingatkan kita dengan “Neo”, superior, tak terkalahkan, punya kekuatan super dan ditambah dia juga punya pasukan kloning yang akan membuat agent Smith cemburu. Namun usaha Alice menghabisi perusahaan pencipta T-virus ini tidak sesuai rencana, semua kloningnya terbunuh dan Alice sendiri kehilangan kekuatannya. Sepertinya Anderson belajar dari kesalahannya di Resident Evil: Extinction, menciptakan Alice layaknya superhero ketimbang fokus pada heroine yang berjuang dengan kekuatan manusia biasa. Setelah menjadi normal, Alice terbang dengan pesawatnya menuju tempat bernama Arcadia di Alaska, satu-satunya kota yang dipercaya tidak terjangkit virus. Tapi yang ditemukan oleh Alice hanya pantai kosong tak bertuan, dia justru bertemu dengan teman lamanya dari film sebelumnya Claire Redfield (Ali Larter) yang amnesia. Bersama dengan Claire, mereka terbang menuju Los Angeles, disana mereka menemukan orang-orang yg selamat dan juga ribuan zombie…serta makhluk besar bernama Axeman.

Mr. Anderson (lagi-lagi dengan gaya bicara agent Smith :p) benar-benar memanfaatkan dengan baik “Resident Evil: Afterlife” untuk menumpahkan semua egonya, termasuk mengemasnya dalam bentuk 3D, bukan konversi seperti film-film 3D kebanyakan tapi memanfaatkan teknologi yang dikembangkan oleh sutradara favoritnya, James Cameron, lewat Fusion Camera System (teknologi yang sama yang digunakan Avatar). Tapi ketika Anderson terlalu sibuk mempersiapkan filmnya untuk tampil maksimal dengan kacamata 3-D, hasilnya adalah film ini justru terlihat berlebihan, plotnya terlupakan dan bergantung pada ceritanya yang pintar berbicara lewat adegan action. Dari sekian banyak adegan-adegan aksi yang ditawarkan pun, tidak semua dikemas dengan intensitas hiburan yang maksimal, kadarnya ringan hanya untuk bersorak-sorai sejenak (seperti pemandu sorak yang kelelahan). Anderson hanya cukup menambahkan adegan-adegan action yang sudah kadaluarsa, klise, lalu mendaur-ulangnya dan me-make-overnya sedikit untuk terlihat seperti baru. Formula “basi”nya pun diracik dengan slow motion yang berlebihan.

Adegan-adegan action yang banyak meniru apa yang sudah dilakukan trilogi The Matrix ini memang tidak dipungkiri mampu memukau mata tapi nol besar dalam misi utamanya mengajak adrenalin saya untuk berdecak kagum, kegirangan berlari dari kejaran zombie. Plotnya mudah-ditebak-membosankan-datar-tak-karuan, ditambah dengan barisan adegan gerak lambat yang berlebihan, film ini mengerti sekali untuk membuat saya diam dan sesekali menghela nafas tanda bahwa film ini mulai membawa saya ke titik bosan. Film ini seperti mengajak kita menaiki roller coaster yang tidak pernah berhasil menanjak ke puncak, apalagi mengajak kita terjun bebas dari ketinggian. Momen-momen survival-nya pun hanya sanggup mengajak saya sebentar untuk merasakan “girang” lewat beberapa adegan pertempuran dengan zombie dan monster besar bernama Axeman, tapi sekali lagi gagal untuk mengajak saya untuk sampai ke titik klimaks. Apalagi Anderson senang sekali menyelipkan adegan percakapan dan konflik tidak penting yang parahnya sengaja untuk dipanjang-panjangkankan untuk menghabiskan durasi.

“Resident Evil: Afterlife” yang anehnya seperti film ke-empat The Matrix di awal, makin terlihat seperti film yang berdiri sendiri apalagi ketika Anderson tampaknya lupa dengan apa yang di tuliskannya di film ketiga. Jika pada film ketiga diceritakan T-virus sudah menyebar ke seluruh belahan dunia dan merubah wajah bumi yang biru menjadi gersang, air sungai kering lalu daratan ditutupi oleh padang pasir. Di film ini, lucunya bumi masih hijau, pohon-pohon masih hidup seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan kota Los Angeles, belum tertimbun padang pasir dan justru tampak seperti baru saja terjadi zombie outbreak dengan gedung-gedung yang masih terbakar. Nilai plus disini untuk Anderson dan semua orang dibalik layar yang sanggup menghadirkan dunia post-apocalyptic yang benar-benar memperlihatkan kehancuran total. Walau meng-anaktirikan zombie dengan menjadikan mereka sepasukan figuran tetapi saya mengacungkan jempol dengan kemunculan adanya Axeman (The Executioner), monster yang satu ini cukup didesain menakutkan ketika filmnya sendiri tidak menakutkan sama sekali. Anderson telah berhasil menciptakan virus yang lebih mematikan daripada T-virus sendiri, yaitu virus bosan, menginfeksi 90 menit durasinya tanpa menawarkan sedikitpun obat penawar.

Piranha 3D at 22:26 - 28 August 2010.
8

Piranha mungkin akan terlihat seperti film-film murahan kelas B yang biasanya dianak-tirikan, diselipkan paling bawah atau dijauhkan dari koleksi dvd-dvd favorit, dilupakan, berdebu, dan berjamur. Kesan seperti itulah yang ditinggalkan ketika melihat tampilan luar film yang dengan percaya diri ikut bertarung di arena mematikan blockbuster musim panas. Tapi siapa sangka film ini menyimpan kejutan menarik dalam kemasannya yang tidak terlalu mewah, lalu berhasil menampar bolak-balik ekspektasi saya yang dari awal memang sengaja direndahkan. Saya pikir walaupun ekspektasi saya tinggipun, film ini tetap akan berhasil meludahkan ekspektasi saya tersebut. Alexandre Aja sepertinya akan punya status baru, sebagai sutradara spesialis film horor remake. Setelah mendaur-ulang film klasik 1977 “The Hills Have Eyes” lalu film Korea Selatan “Into The Mirrors” pada tahun 2008 dengan judul baru “Mirrors”, kini sutradara “Splat Pack” tersebut mencoba menghidupkan kembali teror horor bawah air yang dipopulerkan oleh “Jaws”. Namun bukan me-remake film tentang hiu pemakan manusia melainkan ribuan ikan pembunuh bergigi tajam,“Piranha” (1978).

Setelah “Mirrors” yang mengejutkan sekaligus mengecewakan, “Piranha” seperti tiket Alexandre Aja untuk kembali duduk di deretan sutradara horor yang patut diperhitungkan dan ditunggu film-filmnya. Film ini seperti mengembalikan kejutan yang diberikan Aja di adegan bathtub yang mengerikan itu (Mirrors) dan menambahkan berkali-lipat ketakutan yang berasal dari teror orang-orang pesakitan-mutasi-nuklir (The Hills Have Eyes), tidak cukup sampai disitu Aja seperti meraciknya jadi satu bersama bumbu ketakutan orang yang phobia terhadap air. Hasilnya ditempatkan di loyang bertuliskan “Aja membuat film Titanic versi horor”. Saya berlebihan? tentu saja tidak, karena film ini memiliki hiburan yang lebih “berlebihan” dari deskripsi saya yang dangkal tersebut. Hiburan yang benar-benar memanjakan adrenalin dan menyegarkan mata para “grupis” horor.

“Piranha” yang rilis di Indonesia memang jadi seperti pembunuh yang lupa mengasah goloknya, karena guntingan badan sensor yang membuat gigi piranha terlihat lebih rapih. Banyak adegan “pelengkap” yang terpaksa terbuang, tapi beruntung kesadisannya tetap dibiarkan tak terusik dan sepertinya memang tidak dikurangi. Tapi tetap saja menonton film yang penuh guntingan sana-sini mengurangi kenikmatan menonton. Saya singkirkan dahulu kekesalan saya kepada institusi yang satu itu, karena ribuan piranha lebih menarik perhatian saya sebagai atraksi utama di film ini. Kulit yang terkelupas dari kepala, daging yang berceceran, tubuh-tubuh manusia yang terpisah menjadi dua, isi perut dan tulang yang saling tumpang-tindih, belum lagi bergalon-galon darah, adalah hidangan lezat yang akan ditawarkan oleh Aja. Oh Tuhan, piranha-piranha tersebut memang tahu bagaimana menghibur penontonnya, setiap gigitannya saya sambut dengan teriakan, setiap manusia yang dihabisi akan membuat saya ketagihan untuk meminta lebih. Aja seperti mengajak kita menaiki speedboat dengan kecepatan tinggi, dengan tempo ketegangan yang diatur baik, alhasil kita tidak ingin berhenti walaupun wajah ini sudah penuh dengan darah.

Ketika Aja berhasil mengejutkan dengan pesta gore yang melibatkan ribuan orang saling berteriak, kehabisan darah, kehilangan bagian tubuhnya, dan banyak mayat terapung. Dia juga sukses “menceburkan” para pemainnya untuk bermain semaksimal mungkin, kejutan kedua Aja adalah akting pemainnya yang ikut-ikutan tidak murahan. Sebaliknya Sherif Julie yang diperankan oleh Elisabeth Shue tampil gemilang menjadi heroine yang dengan berani menantang piranha-piranha pembunuh ini. Bahkan Adam Scott yang lebih familiar bermain di tema komedi, sekarang harus rela basah dan beraksi setangguh-tangguhnya di film ini. Ving Rhames yang paling bad-ass disini selain piranha-piranha itu tentunya, dia seperti pemandu sorak (minus pom pom) yang mengajak saya untuk bersorak untuknya setiap kali dia berkata kasar atau membunuh piranha. Kelly Brook dan Riley Steele juga bisa “berakting” dengan cara mereka sendiri, Aja pun memberikan mereka berdua porsi istimewa yang sayangnya dirusak oleh sensor (thanks!). Hey jangan lupakan kehadiran Christopher Lloyd sebagai Emmet…maksud saya dokter Goodman sang ahli ikan piranha purba. Richard Dreyfuss yang tampil sebentar memerankan peran yang sama dari “Jaws” lalu tentu saja Eli Roth yang beruntung bisa ditemani wanita-wanita seksi.

“Piranha” sebenarnya adalah film horor yang sangat mudah untuk dinikmati, karena Aja mengemasnya untuk tidak dipaksakan menjadi film kelas A, untuk apa dipaksakan? jika dia bisa membuat film B yang berkelas dan lebih menggigit dari remake Platinum Dunes. Walau dengan spesial efek dari CGI yang kurang mulus, apalagi ketika menyorot banyak ikan piranha yang sedang membunuh dalam air, tapi kekurangan tersebut tidak sedikitpun mengurangi betapa istimewanya film ini. Aja pun menyadari kekurangannya dan adegan pembunuhan massal oleh piranha tidak diberi porsi banyak, jadi dia bisa fokus memberi ketegangan di permukaan air dengan se-efektif mungkin memperlihatkan betapa asyiknya piranha-piranha tersebut sibuk menyantap daging manusia di bawah air. Kekurangan Aja pada segi piranha hasil rekayasa komputer justru menjadi kelebihannya (jika dilihat dari sudut pandang lain) karena berhasil menambah “citarasa” film murahan dan mengajak saya kembali seperti menonton film-film horor klasik. Saya tidak mempermasalahkan 3D yang terbuang dari film ini tapi jika saja film ini tampil “telanjang” tanpa sensor mungkin saya akan memberikannya nilai sempurna.

The Expendables at 7:43 - 16 August 2010.
6

Sebelum saya mendengar soal “The Expendables”, sempat terpikir kapan film Indonesia punya film yang merekrut aktor-aktor laga jaman dahulu dan menggabungkannya dalam satu film non-stop action. Sedikit berkhayal, seru juga bisa melihat nama-nama seperti Barry Prima yang terkenal dengan “Jaka Sembung”, lalu Advent Bangun yang jika tidak salah ingat pemeran si buta dari gua hantu versi klasik, Willy Dozen mungkin? yang dulu menghibur dengan serial laga “Deru Debu”, ditambah George Rudy, Dede Yusuf, dan jika tidak keberatan saya masukkan pemeran sinetron Wiro Sableng yang sayangnya saya lupa siapa namanya. Sambil menunggu impian aktor-aktor laga tersebut beradu jotos dan akting dalam satu film menjadi kenyataan, Sylvester Stallone justru lebih dahulu punya inisiatif mengumpulkan kawan-kawan dari film laga untuk bermain dalam film bertenaga steroid dan multi action, tentu saja dia tidak merekrut pemain dari tanah tropis Indonesia melainkan memboyong dedengkot action-hero dari ranah Hollywood.

Menggiurkan! sekaligus mengajak saya kembali bernostalgia ke masa-masa dimana film action masih berjaya dengan aktor-aktor kekar membawa senjata dan menghabisi ratusan pasukan tanpa sedikitpun terluka. Semua itu ditambah nikmat saat mengetahui idola masa lalu tersebut tergabung dalam satu film, tentu saja saya berharap ditendang di bokong berkali-kali dan lebih keras. Tapi apakah Sylvester Stallone yang duduk di bangku sutradara mampu mengatur teman-temannya yang berotot keras dan mungkin juga keras kepala ini? mungkin Stallone harus mengikat kepalanya dan menuliskan “saya Rambo” untuk mengingatkan mereka untuk tidak main-main dengannya. Siapa saja yang berhasil dirayu oleh Stallone? Jason Statham yang kita kenal di trilogi “The Transporter”, siapa yang tidak kenal dengan aktor legenda kungfu Jet Li, puluhan film laga sudah dibintangi dari perannya menjadi Wong Fei Hung sampai (well) menjadi mumi tanah liat di “The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor”. Stallone juga memboyong lawan tandingnya di film “Rocky IV”, yaitu Dolph “Ivan Drago” Lundgren.

Proyek ambisius ini tentu saja tidak akan membuat Stallone puas jika hanya dimainkan oleh 4 orang, maka dia mengajak juga Mickey Rourke, Steve Austin, dan manusia-manusia berotot lain termasuk menggandeng Bruce Willis dan Arnold Schwarzenegger untuk muncul sebentar menjadi cameo. Setelah mengumpulkan pemain dream team-nya dan Stallone membuat saya bertanya-tanya akan seperti apa film ini jadinya, kini saatnya dia menggiring saya untuk melirik cerita yang ternyata masuk ke daftar film yang jangan-terlalu-hiraukan-segi-ceritanya atau nimati-saja-adegan-laganya-lupakan-plotnya. Sebuah kata luar biasa memang sepertinya menjauhi film ini jika menengok segi cerita, tidak ada sesuatu yang baru, plotnya bisa ditebak walau kita menutup mata sekalipun, konfliknya klise dan terlihat condong ke arah konyol. Stallone yang memerankan Barney Ross, ketua dari kelompok bernama “The Expendables”—kelompok tentara bayaran dengan ciri khas tato burung gagak dan tengkorak—bersama dengan rekan-rekan seperjuangan mendapat misi untuk menjatuhkan seorang diktator di Amerika Selatan (dengan nama negara fiktif). Namun misinya terancam gagal karena adanya penghianatan, Ross kini harus berjuang tidak hanya untuk menyelesaikan misinya tersebut tetapi juga menolong nyawa yang tak bersalah. Bersama dengan pasukan berani matinya, Ross pun menantang kematian.

Sederhana dan tidak muluk-muluk, Stallone yang juga menuliskan cerita untuk film ini sepertinya lebih fokus untuk bagaimana caranya membuat penonton berbinar-binar lewat aksi jagoan berotot meninju siapa saja, menembak apapun, dan meledakkan semuanya. Bukan berarti Stallone dan rekan penulis skenario Dave Callaham (Horsemen, Doom) tidak mau menuliskan cerita yang yang lebih berbobot, tampaknya mereka sudah tahu dan mengerti tidak usah menambah bobot kepada film ini karena toh berat badan dari para pemainnya saja sudah menjadikan film ini “berat”. Stallone sendiri bukan pencerita yang buruk, dia selalu terlibat dalam penulisan cerita di hampir semua filmnya, termasuk Rocky (1976) yang memperoleh 3 Oscar dan 7 nominasi di ajang penghargaan tersebut, salah satunya nominasi skenario terbaik oleh Stallone.

Stallone juga bukan sutradara yang buruk, film-film ambisius terakhirnya Rambo (2008) dan Rocky Balboa (2006) justru menjadi pukulan balik yang telak kepada mereka yang sudah lebih dahulu pesimis dengan comeback-nya dia sebagai aktor dan sekaligus sebagai sutradara. Saya suka dengan kisah John Rambo yang kembali dengan brutal membantai pasukan dengan senjata besar. Stallone juga berhasil membawa Rocky kembali tanding di ring tinju dan mengembalikan masa kejayaannya. Jadi jika “The Expendables” terlihat kurang serius, saya hanya berpikiran positif saja, mungkin Stallone ingin benar-benar mengajak kita bermain di permainan yang tidak membutuhkan otak tetapi cukup dengan otot saja. Stallone hanya ingin menyenangkan kita yang rindu dengan film-film laga yang punya aroma “tua” dan mengabulkan impian para penggemar jagoan film laga untuk bisa melihat jagoan-jagoannya berkumpul dalam satu film saling melempar adrenalin. Walau nantinya film ini akan terlihat seperti kemasan film kelas B atau straight to DVD, saya masih tetap memberikan potongan jempol saya untuk Stallone karena dedikasinya pada film-film laga ketika ketangguhannya termakan oleh umur yang tidak muda lagi.

Mari kita nikmati saja apa yang ditawarkan oleh Stallone di film yang dijamin membuat anda tersentuh dengan kakek-kakek berbadan jagoan tapi ternyata punya hati lembut ini ketika pada saatnya mencurahkan isi hatinya. “The Expendables” adalah aksi laga menegangkan yang memompa darah sampai ke otak dan merangsang adrenalin untuk menari-menari, diantara hujan peluru dan ledakan dimana-mana. Satu-satunya yang saya garis bawahi adalah permainan spesial efek yang tidak rapih, hasilnya adalah adegan yang tidak maksimal karena terlihat jelas palsunya. Tapi entah kenapa justru spesial efek yang terlihat bohongan ini malah menambah keasyikan menonton, walau terganggu tapi “feel” film-film tahun 80-an jadi makin terasa. Stallone juga tidak lupa menambahkan lelucon-lelucon diantara adegan-adegan brutal penuh darah. Untuk urusan berakting, seperti saya yang tidak peduli dengan ceritanya yang “lemah”, saya juga tidak perlu risau dengan akting Stallone dan kawan-kawan kekarnya ini, karena akting mereka adalah menembak dengan jitu atau meledakkan bangunan sampai roboh dan mereka terbaik di bidang “akting” tersebut di film ini. Sekarang mari berharap kita punya film tandingan dengan aktor-aktor laga Indonesia yang tak kalah jauh macho.

The Last Airbender at 0:26 - 3 August 2010.
4

Jalan ceritanya berantakan, pemainnya berakting buruk, semua keajaiban efek sepertinya sudah terungkap di trailer dan film ini hanya menyisakan kebusukannya. Jadi apa yang bisa diharapkan?

Shyamalan sepertinya harus segera berkemas dari negeri para pengendali empat elemen!

The Sorcerer's Apprentice at 8:10 - 1 August 2010.
6

“The Sorcerer’s Apprentice” memang sanggup menyihir saya lewat ragam efek visual yang memanjakan mata. Mantera-mantera yang pastinya mengingatkan kita pada kamehameha-nya Dragon Ball ini, mampu menjebol lapisan dinding kebosanan dan mengubahnya menjadi hiburan berwarna-warni. Segi cerita yang ringan, mudah ditebak alurnya, dengan sentuhan khas Disney yang mengobral keceriaan dan mengutamakan sisi kepahlawanan yang berlebihan, tentunya menjadi nilai plus dan minus untuk film ini.

Jon Turteltaub memang akan sangat bergantung pada sudut pandang penontonnya dalam menilai suguhan atraksi para penyihir yang saling melempar bola api berwarna-warni ini. saya sendiri menilainya sebagai sebuah hiburan “temporary”, karena ketika keluar dari bioskop saya hanya mengingat keceriaannya saja namun tidak dengan ceritanya. Tidak ada poin menarik yang menjadikan film ini istimewa kecuali memang efek hiburan yang didongkrak dengan efek visualnya itu. Jay Baruchel yang lagi-lagi bermain sebagai anak muda yang “cupu” (sepertinya memang takdirnya untuk selalu teraniaya di film) cukup bisa menghadirkan kekonyolan yang tak mengganggu, bersama dengan Cage, mereka mampu menyuguhkan lelucon yang lumayan lucu ketika secara bersamaan harus serius menangkis setiap serangan musuh. Saya rasa hal yang paling mengganggu dari film ini adalah rambut keriting Balthazar yang terlihat “senorak” sepatu lancip untuk orang tua yang dipakainya.

“The Sorcerer’s Apprentice” sepertinya harus belajar lebih banyak lagi dalam lingkaran Merlin untuk bisa menjadi penyihir yang paling hebat.

Inception at 8:07 - 1 August 2010.
10

Nolan adalah sang arsitek layaknya Ariadne, membangun film ini menjadi sebuah labirin daya khayal yang menyesatkan kita. Kontruksi kokoh ceritanya menopang dengan kuat segala imajinasi yang ditumpahkan Nolan. Tidak hanya sebagai arsitek, Nolan juga berperan sebagai konduktor yang menyelaraskan melodi orkestra antara efek visual, plot, dan lakon untuk “bersuara” secara beriringan dengan tempo yang teratur. Nolan sukses bercerita dalam visualnya yang menggoda dan secara bersamaan dengan merdu dapat berkomunikasi dengan penontonnya lewat dialog-dialog pintar, entah itu berupa narasi atau percakapan yang mencerahkan penonton atas pertanyaan yang hinggap tentang dunia mimpi Nolan ini.

Selimut Berdarah at 8:05 - 1 August 2010.
1

Setan-setan KKD itu udah jelek abis, tapi ada yang lebih jelek dari muka-muka target lempar semangkuk penuh bubur basi tersebut? mau tahu apa? yah film ini.

Begitu buruknya seharusnya film ini nga pantes lolos ke bioskop dan ditonton oleh penonton kita. Film ini cuma mencontek ide memento lalu mendaur ulangnya menjadi sampah yang cacing pun tak sudi mengurainya. Seluruh ceritanya nga ada yang jelas, sepertinya menonton film ini tuh harus pake teleskop bintang baru jelas. Filmnya sok pintar dengan plot yang sok kompleks, tapi ujungnya dinarasikan (mereka pikir penonton kita begitu bodoh) dengan pemain yang berakting lengkung sepanjang film.

Film ini adalah mimpi buruk bagi perfilman tanah air...

Lupa Password?